Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag02

 

marah-ini-orang_20150706_103704Ketiga.

Perempuan yang bekerja, yang marah ketika melihat uang yang mereka hasilkan dihambur-hamburkan / digunakan di luar keinginannya, kerap berkata yang pada intinya seperti ini ……,

“ …… Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….”.

Kalau perempuan itu benar-benar faham betapa susahnya cari uang, maka bukankah lebih baik baginya untuk berhenti dan tidak bekerja lagi? Ia sudah faham bahwa kerja mencari uang benar-benar sulit, lantas mengapa ia masih juga bekerja? Faktanya ia masih juga bekerja, namun mengapa kemudian ia komplain mengenai betapa susahnya kerja cari uang? Bukankah tidak ada yang memaksanya untuk bekerja mencari uang? Bukankah ia bekerja seutuh-nya atas dasar inisiatif dan ideologinya saja?

Suaminya adalah pria yang bekerja dan mempunyai penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga sebenarnya sang istri tidak perlu bekerja mencari uang. Bukankah hal tersebut bisa menjadi alasan bagi sang istri untuk menjadi iburumahtangga biasa dan tidak bekerja? Namun faktanya sang istri tetap kukuh ingin bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Dan namun tiba-tiba ia begitu marah ketika melihat bahwa uang yang ia hasilkan diperguna-kan tidak menurut keinginannya, sampai ia mengeluarkan adagium-adagium seperti di atas, seolah keluarganya tidak faham betapa susah-nya banting tulang kerja seharian cari duit. Ada apa dengan perem-puan?

Pertama, suaminya bekerja, yang penghasilannya cukup untuk kebutuhan keluarga. Kedua, dengan demikian sang istri sebenarnya tidak perlu bekerja mencari uang. Ketiga, pun sang istri kukuh tetap ingin bekerja, dan itu atas dasar keinginannya sendiri. Dan aneh, ketika ia melihat bahwa uang yang ia hasilkan digunakan tidak menurut perintahnya, tiba-tiba ia marah sehingga ia mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya bekerja mencari uang. Bukankah fikiran perempuan memang sulit untuk dimengerti?

Mungkin jadi lain ceritanya kalau sang suami tidak bekerja alias penganggu-ran, mungkin karena pekerjaan susah didapat, atau sang suami dipecat dari tempatnya bekerja, sehingga sang istri-lah yang kemudian harus bekerja cari duit menggantikan suami sebagai pencari nafkah.

Penting untuk difahami, mengapa bisa terjadi seorang pria susah mendapat pekerjaan? Faktanya di dalam kehidupan ini banyak dijumpai sarjana mumpuni yang menganggur. Pengangguran menjadi masalah pelik yang dihadapi banyak negara, dan itu HANYA TERJADI pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, sejak tercetusnya Emansipasi Wanita, masalah pengangguran (di kalangan pria) pecah di banyak negara, dan pada sisi lain pengangguran itu pun juga mencetus banyak kriminalitas lainnya. Mengapa hal tersebut tidak pernah menjadi pertanyaan bagi publik?

Kembali ke masalah. Sang istri ngomel-ngomel kepada suaminya yang pengangguran, lantaran sang suami menggunakan gaji sang istri tidak menurut rencana sang istri, sehingga sang istri memarahi suami sedemikian rupa, dan sampai mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya kerja cari uang. Satu hal harus diperhatikan, mengapa bisa terjadi sang suami menjadi pengangguran?

Berarti ada satu masalah, yaitu suaminya adalah pria pengangguran, yang tidak bisa menghasilkan nafkah untuk keluarganya. Dan kemudian, apakah yang menjadi pangkal dari masalah itu sendiri? Apakah masalah suami menganggur datang begitu saja dengan sendirinya?

Jawabannya justru terletak pada sang istri yang terus-terusan mengomel pada suami. Sang istri adalah seorang perempuan, yang bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Harap diperhatikan dengan baik, penyebab mengapa banyak laki-laki yang menganggur, adalah justru karena perempuan melakukan INFILTRASI ke dunia kerja, hal tersebut mengakibatkan banyak laki-laki yang terdepak dari dunia kerja, lantaran setiap pangker (lapangan kerja) sudah keburu direbut dan DIRAMPAS perempuan, melalui apa yang dinamakan Emansipasi Wanita.

Dunia kerja, atau pangker, adalah dunia tempat para lelaki bekerja mencari nafkah, dan nafkah itu adalah untuk keluarganya juga. Sementara itu, tempat dan lebensraum perempuan adalah di rumah, karena perempuan adalah mahluk domestik; di rumah itu kaum perempuan menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka.

Namun karena kecanggihan teknologi (yang mana kecanggihan teknologi tersebut adalah hasil jerih-payah para lelaki juga untuk memudahkan kehidupan), perempuan menjadi terperdaya, keseleo, dan over-acting, yang wujudnya adalah menuntut persamaan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan. Akibat lurus dari kisah pahit ini adalah, perempuan merangsek masuk ke dunia kerja, dan akibatnya TERCAMPAKNYA kaum laki-laki dari pangker, karena pangker telah banyak DISEROBOT kaum perempuan. Maka menjadilah kaum pria pengangguran, tidak bekerja, dan tidak mempunyai penghasilan. Itulah Emansipasi Wanita!

Dengan kata lain, kalau sejak awal tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau sejak awal kaum perempuan tidak over-acting sehingga menuntut persamaan akses ke dunia kerja, maka dipastikan tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Kembali ke masalah ….. kalau kaum perempuan TIDAK DIBERI hak dan akses kepada dunia kerja (alias Emansipasi Wanita), maka ….

  • Tidak ada satu pun pria dan suami yang menganggur di dunia ini, karena mereka pasti beroleh kerja: karena pangker tidak pernah DISEROBOT DAN DIRAMPAS kaum perempuan. Itu sudah jaminan.
  • Dan tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, melainkan tetap tinggal di rumahnya sebagai istri dan Bunda Rumah Tangga (BRT).
  • Dan kalau perempuan tidak bekerja (melainkan menjadi BRT belaka), maka tetaplah mereka menjadi jiwa-jiwa lembut yang manut dan patuh kepada ayah dan suami, dan pada giliriannya maka mustahil mereka menjadi galak dan bengis kepada suami, mustahil!
  • Dan akhirnya, tidak akan pernah terjadi fenomena SUTARI alias Suami Takut Istri.

Singkat kata, kalau tidak ada perempuan yang bekerja, maka tidak akan ada pria / suami yang menganggur. Dan kalau tidak ada Emansipasi Wanita, maka tidak akan ada perempuan yang bekerja, yang berakibat pada tabiat suka memarahi suaminya yang pengangguran ….. Itu juga jelas!!

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-01

Kembali ke masalah istri tadi yang mendominasi dan memarahi suaminya, yang mana suaminya adalah pria pengangguran. Mengapa ia harus marah dan memarahi sang suaminya yang pengangguran, sampai-sampai ia mengeluar-kan adagium mengenai betapa susahnya cari duit? Bukankah seluruh masalah tersebut justru sebenarnya berasal dari dirinya sendiri?

Pertama, ia sebagai perempuan dan istri yang bekerja dan mempunyai penghasilan uang. Bukankah posisi demikian membuatnya menjadi begitu liar dan ganas di dalam keluarganya sendiri? Bekerja telah membuat mental perempuan menjadi begitu kasar dan bengis, kritis dan curam. Tidak jarang posisi, jabatan dan gaji yang dimiliki perempuan membuatnya mudah tersulut emosi, terkhusus kalau uang yang ia peroleh dari kerjanya ternyata digunakan tidak menurut rencananya. Atau, apakah mungkin sang suami untuk selamanya tunduk kepada amarah sang istri? Tentu hal tersebut sangat tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal.

Kalau sang istri tetaplah seorang Bunda rumahtangga, maka tidak mungkin ia menjadi pribadi yang bengis dan kritis terhadap suaminya, apalagi mendominasi sang suami lewat aneka kemarahan dan nada bicara tinggi. Jadi, mengapa tercetus seorang istri yang gigih memarahi sang suami? Tidak lain karena ia merupakan pribadi yang bekerja dan menguasai gaji, pun di kantor ia dikondisikan sebagai superior. Nah apakah mungkin ia sebagai istri akan tetap manut dan takut kepada suaminya di rumah?

Kedua, masalah suami yang merupakan pria pengangguran. Apa sebabnya sehingga suaminya dan banyak pria lain menjadi pengangguran? Tidak lain adalah karena AKSES DAN INFLITRASI sang istri dan perempuan lain ke dunia kerja, yang mana tentu saja membuat kesempatan kerja bagi pria TER-ELIMINASI. Intinya, kalau tidak ada satu pun perempuan yang masuk ke dunia kerja, maka mengapa masih ada pria pengangguran? Kalau tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, maka pasti seluruh pria akan memperoleh pekerjaan, sehingga tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Publik selalu menghayalkan suatu utopia, bahwa pangker (lapangan kerja) selamanya akan melimpah, sehingga seberapa pun banyaknya kaum perem-puan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan meng-eliminasi kesempatan dan hak kaum pria untuk bekerja. Itulah utopia dan hayalan publik. Namun mana fakta dan buktinya? Bukankah pengangguran di kalangan pria mewabah di seluruh dunia? Dan bukankah terjadi paralelitas antara perempuan yang bekerja dengan pecahnya isu pengangguran di kalangan pria? Tidak, jumlah pangker di dalam kehidupan ini sangatlah ter-batas, tidak semelimpah yang dihayalkan publik. Untuk itulah ide perem-puan bekerja merupakan satu-satunya alasan mengapa banyak pria mengang-gur, otomatis perempuan bekerja adalah suatu tirani yang mengerikan.

Jadi, isu pria pengangguran, sebenarnya dosa dan kesalahan siapa? Tidak lain adalah dosanya kaum perempuan, yang begitu lancangnya merampas dan menyerobot pangker, yang mana hal tersebut membuat banyak kaum pria terdepak dari pangker, maka jadilah mereka pengangguran. Karena dosa siapa tercetusnya pengangguran di kalangan pria atau suami? Jawabannya adalah karena dosa Emansipasi Wanita.

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-02

Si istri tadi, harus faham bahwa kemarahannya selama ini kepada suaminya yang pengangguran, adalah karena kesalahan sendiri, yaitu karena ia merebut pangker dari kalangan pria, sehingga pada satu sisinya membuat suaminya menganggur. Ia sendiri yang memantik api, dan justru dia sendiri yang terbakar oleh api itu.

Penutup.

Di bawah ini terdapat beberapa lembaga berwibawa di dalam kehidupan ini,

  • Akal sehat dan kewarasan.
  • Hukum Alam.
  • Hukum fitrah dan nurani.
  • Petuah dan ajaran orang tua-tua.
  • Agama, agama mana saja: Islam, Kristen, Yahudi dsb …

Kesemua lembaga tersebut mengajarkan dan menghendaki, bahwa seluruh perempuan haruslah tetap tinggal di rumah, supaya berteguh diam di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik. Kesemua lembaga berwibawa tersebut mengajarkan bahwa tugas dan kodrat perempuan adalah tinggal di rumah, membesarkan anak-anak dan berbakti kepada suami, bukannya keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kesemua lembaga tersebut sejak awal mengajarkan, bahwa perempuan tidak boleh bekerja, perempuan tidak boleh mendapat pember-dayaan, dan bahwa perempuan harus dipingit di dalam rumah. Terdapat bahaya dan kekejian kalau perempuan keluar rumah, karena dunia luar rumah bukanlah ditujukan kepada kaum perempuan, melainkan ditujukan kepada kaum pria, dan sementara itu kaum perempuan hanya fokus tinggal di dalam rumah.

Namun dikarenakan teknologi (yang mana teknologi tersebut tidak lain adalah hasil jerih-payah kaum pria juga) yang memudahkan segala urusan, perempuan menjadi kehilangan arah, perempuan menjadi terpedaya, mabuk kepayang, dan menjadilah mereka gigih memajukan gigi-gigi mereka untuk menuntut Emansipasi Wanita yang berujung pada penghasilan uang dan gaji, dan berakhir pada khayalan bahwa kaum pria wabil khusus para suami, harus tunduk dan patuh serta tidak melawan kepada para istri, karena sumber uang dan nafkah keluarga ada di tangan mereka ….

Mereka para perempuan dan istri yang ber-emansipasi tidak lagi berpatokan kepada nurani insani, bahwa tidak sepantasnya seorang pria tunduk dan patuh kepada perempuan, karena justru perempuanlah yang harus tunduk dan tidak melawan kepada pria dan suaminya. Kebalikannya, perempuan yang ber-emansipasi hanya ingin berpatokan kepada, bahwa perempuan / istri adalah sumber nafkah keluarga, oleh karena itu suami harus manut dan tidak melawan kepada istrinya. Perempuan sudah terpedaya oleh gaji dan jabatan, sehingga khayalan mereka begitu berani melawan nurani insani ….. bahkan berani melawan dan memarahi para lelaki wabil khusus suami mereka sendiri ….

Islam mengajarkan bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan dengan demikian Islam mengajarkan bahwa Emansipasi Wanita adalah suatu dosa dan kekejian. Fenomena yang menggejala di tengah masyarakat telah membuktikan kekejian Emansipasi Wanita, dan membuktikan bahwa perempuan bekerja telah menjungkirbalikkan ruh kaum perempuan ….

Tidak bisa ditawar-tawar lagi, Emansipasi Wanita harus segera dipadamkan, harus segera ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena pada segala aspeknya faham ini menimbulkan bahaya, chaos dan kekejian yang mengerikan. Benarlah Islam dengan seluruh ajarannya mengenai perempuan dan perannya secara domestik ….

Wallahu a’lam bishawab.

Kembali ke Bagian 01.

Advertisements

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag01

rupa-rupa.marah-709

Perempuan yang bekerja mencari uang (karir dan jabatan), tentulah mau tidak mau harus terlibat di dalam hal penggunaan uangnya di lingkup rumah-tangganya, khususnya di dalam hubungannya dengan anak-anaknya, suaminya dan juga keluarganya. Dan karena si perempuan itu yang mencari uang, maka tampaknya penggunaan uang tersebut di tengah keluarga haruslah menurut kehendak si perempuan tersebut. Artinya, anak dan suaminyalah yang harus taat dan tunduk kepada si perempuan tersebut di dalam cara penggunaan uang.

Ringkasnya, sang suami harus tunduk pada istrinya di dalam hal bagaimana uang tersebut digunakan, karena uang tersebut merupakan hasil pencarian sang istri. Sekali lagi, sang suami harus tunduk kepada sang istri di dalam hal bagaimana uang tersebut dibelanjakan.

Bagaimana kalau sang anak, dan atau juga sang suami, ternyata menghabiskan / menggunakan uang tersebut di dalam cara yang tidak direncanakan sang istri? Bagaimana kalau ternyata untuk suatu alasan uang tersebut habis tiba-tiba? Tentulah sang istri akan marah-marah, ngamuk, ngedumel, ngomel-ngomel tidak karuan ….. dsb. Untuk sekedar dicatat di sini, sang istri pasti ngomel-ngomelnya kepada sang suami, marah-marahnya kepada sang suami. Kalau marah kepada sang anak lantaran penggunaan uang yang tidak sesuai rencana, mungkin masih bisa dibenarkan: marah kepada anak masih dapat dikatakan pantas dan wajar. Namun kalau sang istri marah-marah kepada sang suami?

Sang istri akan marah-marah kepada suami, memarahi sang suami tidak karuan, dan tentulah dari mulut sang istri akan keluar kata-kata yang tidak pantas …. Pada intinya, sang istri akan berkata,

“……… Mamah kerja banting tulang cari uang, ternyata uang itu tidak dihargai dihambur-hamburkan seenaknya saja, seolah uang boleh petik di pohon sepanjang jalan …. Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….eh sekarang uang tersebut dibuang-buang kangmas dan anak-anak seperti tidak ada harganya saja …… Apa gak bisa kangmas sedikit saja menghargai mamah yang sudah capek kerja seharian cari uang di kantor?”.

Mari kita bahas ………..

Potongan cerita di atas, tentulah bukan isapan jempol belaka, pastilah cerita tersebut merupakan cermin dan fakta kehidupan sehari-hari yang dilalui rumahtangga yang istrinya bekerja mencari uang (karir dan jabatan). Tidak semua rumahtangga berakhir dengan cerita seperti itu, tentunya. Namun pastilah cerita tersebut sudah akrab bagi masyarakat mana saja, yang menganut Emansipasi Wanita, di mana perempuan dan istri diberi akses seluas-luasnya untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Pertama.

Sang istri …….,

  • karena bekerja mencari uang (karir dan jabatan),
  • pun karena (merasa) mempunyai posisi formal dan juga otoritas di kantornya,
  • terlebih karena merasa dirinya adalah sumber nafkah keluarga ……,

…… tiba-tiba berubah menjadi sosok yang merasa mempunyai hak untuk memarahi dan memaki-maki sang suami –untuk alasan apa pun. Tidak sampai di situ, justru sang istri menuntut sang suami untuk tunduk kepada sang istri, manut kepada sang istri, tidak melawan kepada istri, dan merasa sudah sepantasnya sang suami manut serta tidak melawan kepada sang istri (kalau dimarahi), karena sang istri bukanlah perempuan sembarangan (bukan ibu rumahtangga thok), melainkan perempuan pejabat formal di kantor, yang mempunyai penghasilan uang untuk nafkah, dsb.

Secara sempit, pastilah sang istri, perempuan yang bekerja mencari dan mempunyai gaji dan jabatan formal itu, mau-tidak-mau akan merasa bahwa dirinya harus dihormati dan dipatuhi, dan di dalam lingkup rumahtangga-nya, sang suamilah yang harus tunduk dan patuh kepada sang istri, karena istrilah yang bekerja dan cari duit. Itu memang sudah logikanya.

Logikanya, dia (siapa saja) yang bekerja dan yang mempunyai uang, maka dialah yang merasa yang harus dipatuhi dan dituruti, dan kalau tidak, kemarahanlah yang akan terjadi. Logikanya, itu uang adalah uang dia, dia yang cari, dia yang kerja, maka dialah yang mengatur bagaimana cara uang tersebut dibelanjakan. Jadi, dia-lah yang mengatur segala-galanya, termasuk yang mengatur suami, karena sumber uang dia yang pegang. Ini artinya: sumber konflik ….. kalau uang tersebut digunakan di luar rencana yang mencari uang, maka pastilah kemarahan yang terjadi, tidak perduli bahwa yang menjadi sasaran kemarahan adalah suaminya sendiri, yang adalah laki-laki dan kepala keluarga.

Analoginya, tidak ada manusia yang ingin terbang ke langit. Namun kalau sepasang sayap diberikan kepada manusia, tiba-tiba manusia tersebut ingin terbang melintasi langit setiap hari …. Begitu jugalah keadaannya dengan perempuan yang bekerja dan mempunyai gaji: sebenarnya tidak ada perempuan yang ingin dan berani memarahi laki-laki, namun kalau perem-puan tersebut diberi akses bekerja mencari uang (karir dan jabatan), maka tiba-tiba perempuan tersebut ‘berubah haluan’, memajukan gigi-giginya supaya laki-laki mana saja patuh dan tunduk kepadanya, apalagi suaminya, dan supaya laki-laki itu tidak melawan kepadanya saat dimarahi, karena sumber uang istri-lah yang pegang.

Dia seorang perempuan, dia seorang wanita. Dia tidak sadar, siapa yang dia lawan, siapa yang dia tuntut untuk tunduk kepadanya. Dia seorang perem- puan biar bagaimana pun, namun dia yang menuntut suaminya yang laki-laki untuk tunduk kepadanya, patuh kepadanya, dan harus diam kalau dia memarahinya …. Apakah pantas seorang perempuan menuntut dan memerintah laki-laki untuk tunduk dan patuh kepadanya, untuk tidak melawan kepadanya kalau sedang memarahinya? Apakah pantas di mata insan mana pun seorang pria tunduk dan manut kepada perempuan, apalagi perempuan tersebut adalah istrinya?

Jelas, Emansipasi Wanita telah membuat psikologi perempuan jungkir-balik, dan karenanya hirarki rumahtangga menjadi jungkir-balik. Sungguh luar biasa efek Emansipasi Wanita terhadap perempuan. Sungguh luar biasa efek yang ditimbulkan oleh karir dan jabatan kalau diserahkan kepada perempuan!!!

Sama-sama diketahui, bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang membuat perempuan jadi ingin dan berani memarahi dan mengatur-atur pria dan suaminya sedemikian rupa, kecuali Emansipasi Wanita! …… kecuali Persamaan Gender! Hanya Emansipasi Wanita-lah satu-satunya kekuatan yang dapat mengubah perempuan dari mahluk yang segan, manut dan tunduk kepada ayah dan suami, menjadi mahluk yang begitu berani dan garang memarahi suami, dan menuntut suami untuk tunduk kepadanya, dan menuntut suami untuk tidak melawan kalau ia memarahinya.

Singkat kata, alam Emansipasi Wanita telah melumrahkan seorang suami atau laki-laki dimarahi dan dibentak-bentak para istri, kendati nurani insani mana pun tidak mensahkannya.

Kedua.

Sudah jamak terjadi di dalam kehidupan ini di mana seorang istri pekerja -berani dan terbiasa- memarahi sang suami lantaran soal uang, karena uang itu adalah hasil pencarian sang istri. Di satu sisi uang tersebut adalah hasil pencarian sang istri, maka itu berarti sang suami harus patuh kepada (cara) sang istri di dalam membelanjakannya. Dan kalau untuk suatu alasan uang tersebut habis di tangan suami, atau uang tersebut digunakan tidak menurut rencana sang istri, maka pastilah sang istri akan marah dan memarahi suami. Namun di sisi lain, suami adalah seorang laki-laki, seorang kepala keluarga, ia mempunyai harga diri seorang laki-laki, harga diri seekor elang penguasa langit. Baiklah sang suami tidak bekerja dan oleh karena itu tidak mempunyai penghasilan, namun toh tetap saja  dia adalah seorang pria.

Jadi, kalau satu sisi (istri mempunyai gaji, dan kemudian marah kepada sang suami) berbenturan dengan sisi lainnya (suami adalah seorang pria dengan harga diri seekor elang), maka pecahlah konflik yang harus dialami sang suami. Kalau ia berdiam diri, itu sulit, karena dirinya adalah seorang laki-laki lengkap dengan harga diri seorang laki-laki: bukan pada tempatnya seorang laki-laki tertunduk kalau dimarahi perempuan atau istrinya sendiri. Namun kalau ia tersulut emosi lantaran dimarahi sang istri, maka itu berarti terjadi cekcok rumahtangga, adu mulut, dan bahkan adu fisik. Latar belakang ini akan memunculkan tiga kondisi yang ironis:

Kondisi pertama, sang suami tersulut emosinya, maka terjadilah KDRT. Kalau hargadiri seorang suami yang adalah laki-laki tersinggung karena kemarahan dan arogansi seorang perempuan, maka pasti bangkitlah amarahnya, dan ini berarti akan terjadi kekerasan. Sang suami secara alamiah akan ‘main tangan’ kepada sang istri, hanya untuk istrinya sadar bahwa ia hanyalah seorang perempuan -supaya jangan lancang dan melampaui batas keperempuanan-nya, supaya perempuan itu tahu diri bahwa emosi dan kesabaran laki-laki ada batasnya, dan tidak mungkin laki-laki akan bersedia tertunduk untuk selama-lamanya kalau dimarahi perempuan. Laki-laki dimarahi laki-laki lain saja tidak mau, apalagi dimarahi perempuan, walau pun perempuan itu adalah istrinya. Dan adalah suatu yang keterlaluan (yang amat sangat) kalau perempuan berkhayal bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang selamanya akan bersedia untuk tertunduk kalau dimarahi perempuan.

Singkat kata, akan terjadi KDRT terhadap istri. Kalau sudah begini, maka urusannya adalah kepada aparat kepolisian, di mana sang istri dan keluarga-nya akan melaporkan suaminya ke pihak yang berwajib. Kalau sudah begini, suami akan berdalih apa? Intinya, publik dan polisi akan tutup mata dan tutup telinga bahwa seluruh kekacauan itu sebenarnya terjadi hanya karena sang istri yang begitu lancang dan ‘gagah berani’ memarahi sang suami begitu rupa, dan itu kembali ke masalah uang sang istri, dan pada gilirannya akan kembali kepada alam emansipasi wanita, karena telah memberi akses pekerjaan kepada kaum perempuan.

Kondisi kedua, sang suami begitu memikirkan resiko pidana dan kekerasan, oleh karena itu sang suami lebih memilih untuk tertunduk dan manut kepada amarah sang istri, untuk selama-lamanya. Dari sini lahirlah fenomena SUTARI alias SUAMI TAKUT ISTRI yang seujung dunia pun tidak akan pernah bersesuaian kepada logika dan nurani insan mana pun. Pada fenomena SUTARI inilah, kaum perempuan sudah merasa menang, karena berhasil melumpuhkan para lelaki. Namun harus diingat, bahwa menang tidak otomatis berarti benar. Di sinilah letak praharanya. Bagi perempuan yang mempunyai gaji dan mengendalikan keuangan keluarga, melumpuhkan suami merupakan bentuk kemenangan egosentrisme-nya. Namun bukankah di pihak lain, adalah tidak bersesuaian dengan fitrah kalau perempuan menuntut laki-laki tunduk kepada perempuan?

Dan egosentrime perempuan itu pun juga tumbuh karena ditumbuhkan oleh alam emansipasi perempuan, di mana perempuan diberdayakan baik secara intelektual dan finansial, yaitu diberi akses untuk bekerja. Dan seluruh egosentrime perempuan itu kembali ke masalah pemberdayaan perempuan sejak semula, alias alam emansipasi wanita. Artinya, kalau sejak semula Emansipasi Wanita tidak pernah menggejala, kalau sejak semula anak-anak perempuan tidak diberdayakan baik secara intelektual mau pun finansial, maka praktis kelak jiwa egosentrisme perempuan untuk memarahi para suami –sehingga menciptakan fenomena SUTARI- tidak akan pernah eksis.

Tidak jarang kita temui di tengah masyarakat di mana para suami yang begitu penurut kepada istri. Ada sesuatu yang harus diperhatikan, bahwa takut penurut-nya sang suami kepada sang istri, benar-benar mengindikasikan dua hal yaitu,

  1. Suami menjadi penurut, karena sebenarnya suami memikirkan implikasi pidana dan kekerasan kalau ia memilih untuk menindak kemarahan sang istri. Baiklah, sang suami hanya memandang satu hal: yang penting rumahtangga tetap damai, walau pun hargadiri-nya harus menjadi tumbal.
  2. Sang istri, karena sudah diperdaya oleh pemberdayaan, oleh emansipasi perempuan, sudah merasa pada tempatnya untuk memarahi suami, untuk menuntut suami patuh kepadanya. Perempuan ini sudah kelewat batas, dan itu semua berkat Emansipasi Wanita, dan itu semua berkat gaji dan keuangan yang ia peroleh dari akses bekerja.

Di dalam kehidupan yang TIDAK mengadopsi Emansipasi Wanita, gejala SUTARI ini tidak pernah menggejala, tidak pernah eksis …. karena keuangan dan sumber nafkah tidak berada di pihak istri, melainkan sang istri tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi sang suami, khususnya di dalam hal keuangan dan nafkah. Dengan istri yang bukan sebagai sumber keuangan dan nafkah (karena tidak bekerja mencari uang), maka hal tersebut membuat psikologi perempuan menjadi datar dan lembut bersahaja – maka jadilah sang istri penurut dan manut kepada sang suami. Memang demikianlah seharusnya. Justru pada alam ini (yang tidak mengadopsi Emansipasi Wanita) kaum perempuan sadar bahwa memarahi laki-laki adalah kelancangan …

Kondisi ketiga, suami, atau istri, akan memilih lebih baik bercerai. Karena setiap hari dipenuhi agenda cekcok, maka pada akhirnya mereka memilih untuk bercerai, baik kehendak bercerai itu berasal dari sang istri mau pun dari suami. Cekcok itu pun di-trigger oleh kelancangan mulut pihak perem-puan, di dalam hal ini istri, dan kelancangan tersebut berkat (gara-gara) dan berpulang kepada akses bekerja yang diberikan kepadanya untuk menguasai gaji, dan pada akhirnya semua ini berpulang pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, dengan kata lain, cekcok itu sendiri bukan digara-garai sang suami, bukan. Justru sang suami adalah korban dari kelancangan mulut si istri, karena menuntut supaya suaminya tunduk kepada sang istri, dan menuntut sang suami terdiam saja kalau dimarahi sang istri. Apa itu masuk akal? Apa hal tersebut fitrah?

Pada level inilah, statistik melaporkan bahwa angka perceraian sangat tinggi terjadi pada masyarakat perkotaan, karena umumnya perempuan di perkota-an mempunyai / diberi akses untuk bekerja. Pun statistik melaporkan bahwa gugat-cerai lebih banyak diajukan pihak istri. Ini benar-benar menunjukan bahwa perempuan yang diberdayakan melalui faham Emansipasi Wanita sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi perempuan yang fitrah dan alamiah, yang benar-benar perempuan. Sekali perempuan diberdayakan, maka selamanya ia melawan hukum ke segala arah, akan melihat bahwa suami harus tunduk pada kemarahannya untuk selama-lamanya, dan itu semua atas dasar uang. Kalau tidak tunduk kepadanya, berarti cekcok dan perceraian.

Itu semua berkat Emansipasi Wanita. Kalau di muka bumi ini tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau di dalam kehidupan ini perempuan tidak diberi akses kepada dunia kerja, maka seluruh kekacauan ini tidak akan pernah terjadi, melainkan kehidupan akan berlangsung harmonis, luhur, agung, sesuai fitrah, dan adem-ayem.

Lanjut ke Bagian 02.

Kesetaraan Gender Dalam Alkitab

ibudankanak

Oleh Ellys Sudarwati., SH, YLPHS.

Dalam tulisan kali ini kita akan membahas keteraan gender dalam Aklitab, tetapi rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan lah yang sering menjadi korban atau mengalami kekerasan baik dalam rumah tangga, lingkungan maupun dalam lingkup organisisasi dan masyarakat. Tulisan ini akan mengarah kepada pandangan Kristen tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Di dalam Alkitab pada Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka“, di sini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta.

Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan “Segambar” dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa.

Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini“. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita.

Kini kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran melihat pejabat di Republik ini diisi kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati, Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30% kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.

Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam “rekan sekerja” dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga.

Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?

Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih dalam kandungan sampai sudah di dunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk menjalankan tugas tersebut.

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Pada masa sekarang menghadapi era informasi di mana kedudukan kaum perempuan di banyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal di mana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan di sinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji.

Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor-duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.

Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak adanya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah tangga akan menurun -dan kerukunan baik di dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia yaitu “KASIH”.

Sumber,

https://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=797

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini telah mengajukan suatu ide yang benar mengenai hakekat dan peran alamiah seorang perempuan. Pertama, artikel ini mengetengahkan isu bahwa ‘perempuan karir’ banyak menimbulkan masalah domestik, seperti bilamana gaji sang istri jauh lebih baik dari pendapatan sang suami, hal mana keadaan tersebut pasti memantik ketidakharmonisan di dalam rumahtangga.

Kedua, yang merupakan inti dari peran dan hakekat seorang perempuan, artikel ini mengusung isu bahwa perempuan diciptakan untuk mengurusi dan membesarkan anak-anaknya di rumah, yang tentunya hal tersebut hanya dapat ditunaikan di rumah, bukan di tempat kerja atau lainnya. Artinya, Gereja mempunyai faham bahwa tempat perempuan yang terbaik dan Illahiah adalah tetap di rumahnya, karena perempuan adalah mahluk domestik, pun agar tugasnya sebagai ibu tetap terjalin dengan baik, yaitu untuk membesar-kan anak-anak.

Di atas segala-galanya, artikel ini telah menegaskan, seperti di dalam paragraf nya,

“ ……. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya …..”.

Inilah pernyataan yang memang harus dinyatakan, dan yang harus diperjuangkan, sekaligus harus disadari setiap orang, khususnya kaum perempuan. Kecendrungan dewasa ini, Emansipasi Wanita maupun Persamaan Gender telah membuat perempuan ingin menempatkan diri mereka sebagai laki-laki, atau perempuan ingin dianggap sebagai laki-laki, atau perempuan ingin diperlakukan sebagai laki-laki. Inilah yang salah dan keliru, karena dengan hal ini, berarti kaum perempuan MENYESALI akan takdir mereka sebagai perempuan, seolah terlahir sebagai perempuan sama sekali bukanlah hal yang mereka inginkan. Dan keseluruhan hal tersebut hanya terdapat di dalam Emansipasi Wanita dan ekstrimisnya, yaitu Persamaan Gender.

Itulah sebabnya, Emansipasi Wanita haruslah ditumpas dari muka bumi, dari di dalam kehidupan ini, karena Emansipasi Wanita dan Persamaan Gender benar-benar bertentangan dengan hukum alam, dan juga bertentangan dengan hukum Tuhan. Terlebih lagi, Emansipasi Wanita telah memicu terjadinya banyak ketidakharmonisan di mana-mana.

Artikel ini yang sebenarnya merupakan artikel kekristenan, telah menyiratkan bahwa penolakan terhadap Emansipasi Wanita tidak saja terjadi di dalam umat Muslim, melainkan juga terjadi pada umat Kristiani, yang sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa. Umat Muslim dan umat Kristiani sama-sama memafahami, bahwa tugas mulia seorang perempuan adalah di rumah, untuk membesarkan anak-anaknya, dan melayani keluarga secara domestik: dan tidak ada yang salah dengan itu, karena keseluruhan hal tersebut merupakan hukum alam dan juga fitrah kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.

Mengapa Perempuan Gemar Menjarahi Kodat Pria?

Pria dan perempuan tentunya adalah dua mahluk yang berbeda, apalagi berbeda di mata Illahi. Dari sisi Illahi, perbedaan antara perempuan dan pria khususnya tampak di dalam hal kodrat: kodrat pria berbeda dari kodrat kaum perempuan, dan perbedaan tersebut berdasar pada perbedaan fisik, mental sprititual, akal fikiran, dan yang terutama, beda berdasar fitrah kemanusiaan, yang akan terus berlaku sepanjang jaman.

Fakta kehidupan masa sekarang memperlihatkan banyaknya kaum wanita yang menjarahi kodrat pria, dan dengan serta-merta perempuan-perempuan tersebut meninggalkan kodrat mereka sendiri. Emansipasi Wanita, atau juga faham persamaan gender, sebenarnya adalah saat di mana kaum perempuan berdiri dengan kokoh untuk menentang kodrat kewanitaan mereka, dan pada saat yang bersamaan menjarahi kodrat kaum pria. Secara visual, hal perempuan menjarahi kodrat pria tampak pada,

  • Keluar rumah untuk pemberdayaan,
  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Menjadi politisi,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Menandatangani perjanjian kerjasama perusahaan,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!). Mereka tidak lagi memikirkan atau berkutat di dalam hal mencuci piring, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dsb, karena seluruh pekerjaan tersebut sudah dilimpahkan kepada pembantu rumahtangga dan babysitter. Intinya, gaya kehidupan ini benar-benar diarahkan oleh kaum perempuan demi bisa menjarahi kodrat pria, yang hanya memikirkan pekerjaan dan karir, pun di rumah tidak memikirkan / berkutat di dalam hal pekerjaan domestik atau pun juga mengasuhi anak.

Timbul pertanyaan. Mengapa perempuan begitu berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, dan pada saat yang bersamaan mengutuki kodrat kewanitaan mereka sendiri? Di bawah ini akan diajukan beberapa faktor penyebab perempuan cenderung menjarahi kodrat kaum pria, bukannya menekuni dan taat-setia kepada kodrat mereka sendiri.

Diberdayakan secara intelektual.

Sistem sosial seluruh Pemerintah di dunia tampaknya meniscayakan pembangunan intelektual bagi kaum perempuan, mulai dari anak hingga setinggi-tingginya, dan keniscayaan ini melahirkan perempuan-perempuan yang diberdayakan secara intelektual. Faktanya, perempuan yang diberdayakan secara intelektual berbanding lurus dengan tingginya ambisi mereka untuk menjarahi kodrat pria –sambil– mengutuki kodrat domestik yang menjadi kealamiahan mereka. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan hanya melahirkan perempuan-perempuan yang engkar terhadap kodrat domestik, kodrat kewanitaan, yang berlanjut kepada tuntutan untuk menjarahi kodrat pria, seolah mereka minta dan menuntut untuk dipandang sebagai pria juga, diperlakukan sebagai pria juga, diberi hak dengan haknya kaum pria, dan diberi kewajiban dengan kewajiban kaum pria juga.

Hanya dengan diberdayakan secara intelektual sajalah, perempuan menjadi ganas untuk merebut dan menjarahi kodrat pria, sementara perempuan-perempuan sederhana, alias perempuan domies, yang tidak mengalami pembangunan intelektual, alias tidak disekolahkan setinggi-tingginya, tetap tinggal sebagai perempuan yang taat-setia kepada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan.

Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ilmu dan kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya ingin kembali ke rumah untuk menjalani peran domestik, buat selama-lamanya. Tidak mungkin bahwa kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya sadar akan kodrat kewanitaannya untuk berteguh kepada peran domestik. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel “Metodologi Pendidikan Yang Tepat Untuk Kaum Wanita”.

Itulah kalau perempuan diberdayakan secara intelektual.

Penting untuk disampaikan, bahwa faktor pemberdayaan perempuan secara intelektual ini, akan terus berperan di dalam faktor-faktor berikutnya. Dengan kata lain, faktor lain yang menyebabkan perempuan menjarahi kodrat pria, tetap berpangkal pada pemberdayaan perempuan secara intelektual ini.

Kaum perempuan memiliki Iman yang lemah.

Perempuan, selain mempunyai akal yang lemah, juga disepakati mempunyai Iman yang lemah. Kelemahan Iman inilah yang membuat perempuan gampang sekali menyimpang jauh dari kodrat alamiahnya setelah mereka mendapat pemberdayaan intelektual. Menyimpang jauh dari kodrat alamiah, maksudnya adalah bahwa perempuan begitu mudahnya mendustai kodrat domestik dan kemudian menjarahi kodrat pria. Mudah sekali perempuan memberontak terhadap tuntutan kodrat demi mendapat-kan akses kepada kodrat pria.

Sungguh pun demikian, patut untuk dikemukakan di sini, bahwa lemahnya Iman yang diderita kaum perempuan, sebenarnya juga merupakan tanda alam, karena secara takdir perempuan memang diciptakan dengan Iman yang lemah. Namun karena intelektual mereka telah terbangun lantaran mereka diberi pendidikan formal nan setinggi-tingginya, maka kelemahan Iman yang mereka derita pun menjadi bumerang, tidak saja bagi diri mereka sendiri, namun juga bagi seluruh umat dan keluarga.

Iri kepada kodrat kaum pria.

Lemahnya mental perempuan, juga ditandai dengan begitu mudahnya perempuan merasa iri terhadap kodrat kaum pria, ketika mereka melihat kaum pria maju sebagai pemimpin yang sukses, raja yang agung, matematikawan yang cerdas, penemu teknologi yang mumpuni, filsuf yang berkharisma, dsb. Mereka melihat kaum pria setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, yang dengan uang dan karir tersebut sang pria menjalani kehidupan yang cerlang-cemerlang …  Akibatnya, kaum perempuan menjadi begitu gigih berjuang untuk mendapatka hal-hal yang didapat kaum pria, untuk menjadi sama dengan kaum pria (padahal kodrat mereka jelas berbeda dari kaum pria).

Sifat iri yang ada pada diri seorang perempuan sudah termaktub di dalam Alquran,

[4:32] Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini mengkonfirmasi bahwa salah satu sifat alami perempuan adalah adanya perasaan iri kepada kaum pria. Dengan demikian sifat iri ini sebenarnya adalah tanda alam yang menyertai penciptaan seorang perem-puan, namun karena intelektualitas seorang perempuan terbangun melalui pemberdayaan, maka efeknya sifat iri ini menjadi bencana dan kesalahan yang menghancurkan sendi kehidupan. Dengan kata lain, kalau seorang perempuan tidak mendapatkan pemberdayaan –khususnya pendidikan formal nan setinggi-tingginya- dapat dipastikan kecil kemungkinannya seorang perempuan dijerumuskan oleh rasa irinya kepada kaum pria.

Pekerjaan pria sudah dipermudah teknologi.

Di jaman dahulu ketika manusia belum menemukan teknologi, kaum pria sebagai pencari nafkah keluarga harus bekerja susah payah demi anak-anaknya. Pada masa tersebut tidak ada satu pun perempuan yang tergerak untuk menjadi seperti pria, yang setiap hari keluar rumah bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan …. Justru kala itu seluruh perempuan teguh dengan kodrat domestik, lantaran ketiadaan teknologi membuat pekerjaan menjadi susah dan berat, sehingga alam fikiran kaum perempuan tidak sampai ke sana, yaitu berfikir ke arah menjarahi kodrat pria, untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Namun jaman berubah, dan perubahan itu tampaknya dominan dipengaruhi kemajuan teknologi yang membuat banyak pekerjaan yang semula sukar dan berat menjadi mudah dan menyenangkan. Pada jaman inilah alam fikiran perempuan terbuka untuk menuntut akses kepada pekerjaan, karena mereka melihat seluruh pekerjaan sudah menjadi mudah dikarenakan teknologi yang serba ajaib. Untuk lebih lanjut mengenai hubungan antara teknologi dan Emansipasi Wanita, silahkan baca Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang.

Hanya karena teknologi yang canggih, kaum perempuan jadi berbalik mengutuki alam domestik, dan juga menghujat kodrat kewanitaan –termasuk di dalamnya menghujat kodrat untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak darah-daging mereka sendiri. Dan hanya karena teknologi, perempuan jadi berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, yaitu keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, menjadi Presiden, Menteri, karyawan, pemimpin agama, direktur, peneliti dsb. Itu semua hanya karena teknologi yang serba memudahkan pekerjaan.

Ketika perempuan mendapat pemberdayaan intelektual, kecanggihan teknologi membuat mereka begitu berambisi untuk menjarahi kodrat pria, karena dengan teknologi seluruh pekerjaan pria menjadi mudah dan menyenangkan, sehingga kaum perempuan juga terkesan untuk turut menikmatinya. Perempuan yang diberdayakan, plus teknologi, adalah resep rumit yang mengakibatkan mengganasnya gerakan Emansipasi Wanita dan juga persamaan gender. Bisa dibayangkan, jika perempuan tidak mengalami pemberdayaan intelektual, maka perempuan akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik, kendati  teknologi canggih telah banyak memudahkan pekerjaan kaum pria: sehebat dan seajaib apa pun teknologi mempermudah pekerjaan pria untuk mencari nafkah, maka tetap kaum perempuan tidak akan terpengaruh, selama kaum perempuan tidak mengalami pemberdayaan, khususnya secara intelektual.

Pekerjaan domestik dianggap terbelakang.

Ketika seorang perempuan telah paripurna mendapatkan kesarjanaan (diberdayakan dan berintelektual), maka dengan sendirinya psikologi sang perempuan akan merasakan aroma ketertinggalan dan keterbelakangan pada kodrat domestik yang hanya berkutat pada pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci baju, merapikan rumah, mengurusi anak dsb. Dengan kata lain, pemberdayaan membuat perempuan berfikir bahwa sudah saatnya perempuan meninggalkan ranah domestik menuju ranah publik untuk mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria. Perempuan yang diberdayakan sudah tidak sudi lagi untuk terus tinggal di rumah dan bekerja di dapur sambil membersihkan cirit sang anak. Singkat kata, pemberdayaan telah menjadikan psikologi kewanitaan ‘terkilir’ (twisted) sedemikian rupa. Pemberdayaan membuat perempuan berfikir, bahwa kodrat domestik adalah kesalahan.

Kebalikannya, perempuan yang dijauhkan dari pemberdayaan, perempuan yang tidak diberi hak dan akses kepada pendidikan formal (setinggi-tingginya) tetap akan menjadi perempuan yang sederhana, yang taat-setia kepada kodrat domestik, untuk terus tinggal di rumah, memasak bagi keluarga, mencuci baju, merapikan rumah, mengasuhi anak-anak, menunggu suami pulang, dsb.

Pada point ini sudah jelas, bahwa bangkitnya kaum perempuan untuk berfikir bahwa peran domestik merupakan ketertinggalan (sehingga harus dilawan dengan cara keluar rumah menuju ranah publik untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria), hanya disebabkan oleh pemberdayaan intelektual. Perempuan tidak mempunyai Iman yang kuat, di mana jiwanya akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik walau pun ia telah mempunyai tingkat kesarjanaan setinggi gunung mahameru: itu tidak mungkin. Begitu seorang perempuan telah menjadi bintang di kelasnya, di kampusnya, maka sontak ia akan memvonis bahwa kodrat domestik merupakan ketertinggalan, sehingga kodrat tersebut harus ditinggalkan, untuk kemudian dapat menyamakan diri dan derajatnya dengan kaum pria, yang setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kemandirian keuangan dianggap kesuksesan.

Ketika seorang perempuan telah mendapatkan pemberdayaan intelektual, maka secara alamiah akan tertanam di dalam psikologinya suatu faham bahwa kehidupan yang sukses adalah ketika seseorang telah mandiri di dalam hal keuangan. Oleh karena itu, perempuan yang diberdayakan mempunyai orientasi berfikir untuk selalu bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya, agar dengan demikian ia akan mempunyai kemandirian keuangan, sebagaimana halnya kaum pria. Terlebih, perempuan yang diberdayakan melihat, bahwa ketergantungan keuangan terhadap kaum pria merupakan suatu ketimpangan dan ketidakadilan.

Perempuan yang diberdayakan (yang beroleh pendidikan setinggi-tingginya) melihat, bahwa sudah saatnya perempuan terbebas dari ketergantungan terhadap pria, dan salah satu aspeknya adalah terbebas dari ketergantungan keuangan terhadap pria. Tidak ada yang ingin dicapai kaum perempuan yang diberdayakan, kecuali mempunyai kemandirian terhadap pria, khususnya kemandirian secara keuangan.

Kebalikannya, perempuan yang sederhana, yang tidak beroleh pendidikan setinggi-tingginya, tidak akan membiarkan alam fikiran sampai kepada faham bahwa mereka harus memandirikan keuangan mereka terhadap kaum pria. Mendapatkan limpahan keuangan dari keluarga, merupakan bentuk kasih-sayang yang dirasakan kaum perempuan dari keluarga.

Untuk lebih jauh mengenai point ini, silahkan baca artikel berikut, Mengapa Perempuan Harus Mandiri Dan Terlepas Dari Lelaki.

Untuk psikologi itulah, perempuan menjadi begitu ganas untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, semua itu mereka lakukan dengan cara menjarahi kodrat kaum pria, dan jelas sekali mereka ingin dan harus melupakan bahwa mereka adalah kaum perempuan, yang seutuhnya berbeda dari lelaki.

Penutup.

Beberapa point di atas menunjukkan pandangan mengapa perempuan begitu ganas untuk menjarahi kodrat pria, dan faktor-faktor penyebab yang membuat perempuan berorientasi untuk menjarahi kodrat pria, sama sekali bukanlah hal yang poisitif secara nurani dan filosofi. Sungguh, kaum perempuan telah terlibat dalam tindakan yang tidak terpuji, sikap yang sembrono dan brutal …..

Intinya, terjerumusnya perempuan kepada sikap yang ingin menjarahi kodrat pria, benar-benar dipicu oleh adanya program pemberdayaan yang ditujukan kepada kaum perempuan, dan sekali lagi, program tersebut adalah suatu kesalahan fatal, karena sama sekali tidak membawa maslahat bagi siapa pun.

Wallahu a’lam bishawab.

Pemberdayaan Perempuan Dan Analogi Ayam

analogi-ayam

Analogi ayam.

Kisah kehidupan ayam tentu menarik untuk diungkap. Seekor ayam yang berada di tali ikatannya, tentu meronta-ronta untuk minta keluar, khususnya di siang hari. Di lain pihak, sang manusia ingin agar ayam tetap berada dalam tali ikatannya, sebagai hewan kesayangan bagi anak dan keluarganya. Satu hal yang patut diingat, bahwa walau pun sang manusia ingin ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh kebutuhan makan, minum dan keamanan sang ayam tetap terjamin, karena hal tersebut merupakan kewajiban sang manusia. Jadi, walau pun ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh sang ayam akan tetap hidup layak dan makmur …., sementara di luar sana, bukankah banyak  terdapat buaya dan srigala?

Apa pilihannya kalau sang manusia bersedia mengeluarkan ayam dari tali ikatan? Pertama, sekali ayam keluar bebas dari tali ikatan, maka untuk selamanya sang ayam tidak akan bersedia untuk kembali masuk ke dalam tali ikatannya. Kedua, di luar sana, banyak buaya, banyak srigala, dan juga banyak pencuri. Jadi, kalau ayam dilepas dari tali ikatannya, maka apakah ada jaminan bahwa sang ayam akan kembali kepada tali ikatannya ketika sore hari? Tentu saja tidak. Itu pun, di luar sana, sang ayam pasti sudah binasa diterkam buaya maupun srigala, terlebih para pencuri sudah siap untuk mencuri sang ayam. Keseluruhan hal tersebut tentu tidak diinginkan oleh sang manusia, dan sang ayam itu sendiri.

Taruh kata sang ayam selamat karena tidak diterkam siapa pun, dan juga tidak dicuri siapa pun. Namun kemudian, apakah sang ayam akan sudi kembali kepada tali ikatannya di kediaman sang manusia? Nonsense! Tidak pernah ada ayam yang sudi pulang ke pautan.

Namun yang jadi pertanyaan adalah, mengapa sang ayam sangat ingin ter-bebas dari tali ikatan? Bukankah makan dan minum, plus keamanan, sudah terjamin di kediaman sang manusia? Apakah hal tersebut masih kurang buat sang ayam? Kalau pun sang ayam ingin terbebas dari tali ikatan, maka bukan-kah yang ingin dicari di dalam kebebasannya adalah makan dan minum juga? Lantas apa bedanya saat sang ayam tetap berada pada tali ikatannya? Buat apa jauh-jauh mengelana hanya untuk mencari makan dan minum, sementara makan dan minum enak sudah terjamin di kediaman manusia?

Begitulah kisah sang ayam.

Pemberdayaan Perempuan.

Perempuan adalah spesies yang hidup berdasar kodrat domestik. Dengan kodrat ini, perempuan dikondisikan untuk senantiasa berada di rumahnya, untuk menyelesaikan tugas domestiknya seperti memasak, mencuci baju, member-sihkan rumah, dan mengasuhi serta mengasihi anak-anak. Dengan menunaikan seluruh tugas tersebut, maka dengan sendirinya sang perempuan terjaga kesucian dan kemurnian fikiran dan dirinya, sebagai perempuan, istri dan sebagai ibu. Penting untuk ditegaskan, bahwa tidak ada yang lebih besar di dalam kehidupan ini kecuali kemurnian dan kesucian seorang perempuan.

Namun dari suatu arah, Emansipasi Wanita menggejala di tengah umat. Kaum perempuan mulai kehilangan orientasi, dan berkeinginan kuat untuk keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, baik di dalam hal akses pendidikan maupun akses pekerjaan mencari uang, karir dan jabatan.

Pada awalnya perempuan menuntut akses pendidikan, pendidikan yang setinggi-tingginya. Perempuan-perempuan senior melantangkan hak remaja perempuan untuk bersekolah, yang mana itu artinya perempuan senior menuntut seluruh keluarga untuk mengkondisikan anak perempuan keluar rumah, keluar dari kodrat domestik, setiap hari. Mengirim anak-anak perempuan ke sekolah diperlihatkan sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh dilanggar, sehingga melarang anak perempuan menuntut Ilmu dapat dianggap kejahatan modern.

Setelah anak perempuan menamatkan sekolah, apa yang mereka inginkan? Bekerja: mencari uang, karir dan jabatan. Dan itu artinya perempuan akan semakin jauh dari alam domestik. Adalah tidak mungkin ketika perempuan menamatkan pendidikan, mereka semakin tersadarkan pada kodrat domestik. Tidak pernah ada data statistik dan pengalaman yang menunjukkan bahwa ketinggian Ilmu yang didapat perempuan di sekolah, membuat mereka semakin menyadari kodrat domestik dan kodrat kewanitaan mereka.

Begitu perempuan keluar rumah (secara permanen, setiap hari) untuk mendapatkan pemberdayaan, maka apakah ada jaminan bahwa perempuan akan kembali kepada tugas dan kodrat domestik mereka? Tidak. Sekali perempuan mendapatkan pemberdayaan (di luar rumah), maka selamanya perempuan tidak akan pernah sudi lagi untuk menggeluti dan menepati kodrat domestik yang sebenarnya merupakan takdir mereka. Dengan diberdayakan, maka perempuan akan sulit memahami tugas memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuhi dan mengasihi anak, dsb.

Semakin mereka berintelektual dan diberdayakan, maka semakin mereka mempunyai posisi untuk menolak alam domestik, sehingga yang mereka inginkan hanya keluar rumah setiap hari untuk …..

  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!).

Para wanita yang diberdayakan yang kemudian dinamakan kaum sophis, sudah tidak ingin tahu-menahu soal …..

  • Dapur,
  • Mengupas dan mengiris bawang,
  • Mencuci baju,
  • Mengurus cirit sang anak,
  • Merawat dan membesarkan anak,
  • Merapikan rumah dan tempat tidur,
  • Menjahit baju,
  • Mencuci piring, dsb.

…….. karena mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria, yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang. Karena mereka terus dikondisikan untuk keluar rumah, yang betujuan untuk pemberdayaan, maka akhirnya mereka berfikir bahwa tidak semestinya mereka masih berkutat pada pekerjaan domestik!! Artinya, untuk selamanya perempuan tidak akan pernah kembali kepada alam domestik: itulah kalau perempuan diijinkan untuk keluar dari alam domestik.

Kehancuran umat dewasa ini, dekadensi moral umat dewasa ini, total tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya program pendidikan formal untuk anak-anak perempuan. Di satu ujung Pemerintah dan umat mulai mengembangkan program pendidikan formal untuk anak perempuan, maka di ujung lain kehancuran umat dan kebengalan wanita telah tercipta. Ketika umat menerangkan visi-visi mensertakan perempuan dalam program pendidikan di dalam suatu gedung, maka di luar gedung itu telah marak terjadi:

•    Pelacuran.
o    Perzinaan.
o    Halalisasi perzinaan.
o    Pornografi.
o    Aborsi.
o    Freesex.
o    Striptis.
o    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
o    Pemerkosaan.
o    Perselingkuhan.
o    Khalwat.
o    Pacaran.
o    Bergonta-ganti pacar.
o    Mayat bayi di tempat sampah.
o    Hamil di luar nikah.
o    Kondomisasi.
o    Kumpul kebo.
o    Perawan tua.
o    Bujang lapuk
o    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
o    Genitisasi / Ganjenisasi.
o    Perceraian pasangan muda.
o    Sutari (Suami Takut Istri).
o    Marak profesi pembantu rumah tangga.
o    Marak profesi babysitter.
o    Marak profesi PSK
o    Pengangguran di kalangan pria yg berimbas pada kriminalitas. Dsb.

Tidak diragukan lagi, bahwa adalah berbahaya untuk mengijinkan atau mengkondisikan perempuan keluar rumah setiap hari secara permanen, untuk tujuan pembedayaan, semisal meraih pendidikan …. karena sekali mereka keluar rumah, maka untuk selamanya mereka tidak akan kembali ke rumah untuk mentaati kodrat domestik, untuk selama-lamanya. Sekali mereka keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, maka untuk selamanya mereka akan membenci Alam domestik, dan membenci kodrat domestik yang telah Tuhan tetapkan atas mereka.

Penutup.

Di satu pihak, kita melihat bahwa melepaskan ayam dari tali ikatan –tidak memberi jaminan bahwa di sore hari ayam akan kembali kepada tali ikatannya. Dan di lain pihak, memberi ijin perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan (seperti bersekolah atau bekerja mencari uang dan jabatan) tidak memberi kemungkinan bahwa perempuan tersebut akan kembali kepada kodrat domestik mereka, bahkan lebih buruk lagi, perempuan akan menjadi begitu membenci dan menghujat kodrat domestik.

Belum selesai sampai di situ. Ayam yang tidak pernah kembali kepada tali ikatan, pun akan menghadapi marabahaya buaya maupun serigala, belum lagi bahaya dicuri penjahat. Begitu juga, perempuan yang tidak pernah kembali kepada alam domestik, di luar rumah pun dijejali fitnah kehidupan seperti perzinahan, pamer aurat, pemerkosaan, gonta-ganti pacar, aborsi, dsb. Dan ungkapan ini adalah fakta kehidupan, bukan fatamorgana.

Akhir kata, semua bencana dan marabahaya ini harus ditumpas. Satu-satunya cara adalah dengan menumpas faham Emansipasi Wanita, dan mengukuhkan perempuan atas takdir domestik. Di sanalah letak maslahat untuk perempuan itu sendiri, dan juga maslahat seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab.

Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos

66siswidiperkosa

RIAUPUBLIK.COM, JAKARTA– Hancur sudah ahlak siswa- siswi jaman sekarang sudah berjiwa tempe, pamer body pampangankan ke media sosial, bukan nya malu tapi bangga akan hal itu, salah satu siswi sekolah di jakarta ini, setelah usai ujian kelulusan, belum tau penguman lulus atau tidak nya, malah mencoret baju seragam nya, dan parah nya lagi seperti menjajahkan diri, berpose alah wanita pesanan, dengan merobek Rok nya memamerkan ke media sosial.

Keritikan siswi dengan di unggah nya Pose alah wanita Pesanan Om..Om, mengecam prilaku, siswa- siswi yang mengunggah Fhoto Merayakan Kelulusan nya, ini salah satu keritikan Netizen pada murid Siswa/ Siswai Dengan merayakan kelulusan nya dengan Fose alah Wanita Panggilan.

Riza Muliani Dari gaya nya bukanlah sebuah kebahagiaan tapi keangkuhan dan kesombongan menyobek rok dan mempertontonkan paha mulus seperti nunggu antrian untuk diboking aja…tak ada tatakrama dan sopan santun dan rasa segan sedikit pun…. maaf klo ada orang tuanya y baca …. apa seperti ini etika dan aklak anak smu ….. dimana penerapan etika dan ilmu agamanya…. dasar gak tau malu…

Lenny IskandarSyah Baruu lulus SMA aja dh gaa punya moral,,gimanaa di dunia kuliah dan kerja,,iman ama moral di jual semua x tuh,,kyk judul lagu dangdut,,gadis tapi bukan perawan

Mega Juliani Hahahaha Dasar pda Soplak yah Jaman Sekarang mah, Mmbri Contaoh yang Gak Moral Bwt Anak2 Remaja Yang Lain y, Msh Mnding yG Remes y Cewe Coba kllo Cowo Haduuhh dwah bkn di Remes lg Tpi Udah Di Ajak Maksiaat tuuhh

oppy Novelia Youvandyni Calon psk

Izzy De Doors

Izzy De Doors Calon ubex ni anak..

Murahan banget…

Paling dkasi 10.000 bsa dapet dkaceng xxx

Raatusan Ribu mengomentari prilaku siswa- Siswi di zaman sekarang, dengan  dengan prilsku murid SMU yang merayakan kelulusan nya ini.

Sumber, http://www.riaupublik.com/2016/05/wweeeiiii-koyak-rok-pamer-paha-siswi.html

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Inilah apa yang harus dialami umat Tuhan kalau Gerakan Emansipasi Wanita terus digelorakan. Sungguh, isme yang ingin memberi akses pendidikan kepada kaum perempuan, merupakan suatu perbuatan sia-sia, yang jelas-jelas menentang hukum alam dan menentang hukum kebajikan ….

Dan akhirnya, inikah yang diinginkan semua pihak dari kebijakan memberdayakan kaum perempuan??? ***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “66 Siswa Hamil Di Luar Nikah“.

66 Siswa Hamil Di Luar Nikah

66siswidiperkosa

Tangerang, Wartakota:

Sebanyak 66 pelajar di Kab. Tangerang hamil di luar nikah sepanjang tahun 2016. Jumlah siswa hamil ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang berjumlah 106 siswa hamil di luar nikah.

“Kami telah melakukan evaluasi data selama tahun 2016 ada sebanyak 66 kasus dari 72 kasus di luar nikah”, kata kepala Seksi Perlindungan Perempuan Dan Anak Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan (DPAP) Kab. Tangerang, Banten, Siti Zahro di Tangerang, seperti dikutip Antara, Selasa (31/1).

Siti mengatakan, kasus tersebut terjadi karena para siswa menganut pola hidup pergaulan bebas. Akibatnya mereka melakukan seks sebelum menikah.

Upaya yang dilakukan agar siswa tidak mengikuti gaya hidup pergaulan bebas dengan melakujan penguatan fungsi keluarga. Ortu, kata Siti, juga harus berperan aktif dalam mengawasi pergaulan anak2nya.

Pergaulan anak di bawah usia 17 tahun sepenuhnya oleh ortu. Misal, tidak membiarkan Sitianak pergi dengan orang lain yang belum dikenal. Upaya tersebut juga untuk mengurangi tindakan kekerasan seksual pada anak maupun  perempuan lainnya.

Pendampingan.

Pelajar yang hamil di luar nikah diberi pendampingan psikologi oleh Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan Kab. Tangerang. Pendampingan psikologi ini dilakukan agar mental anak yang hamil di luar nikah tidak goyah.

Pasalnya, anak yang hamil di luar nikah kerap menghindari keluarga dan lingkungannya. Siti mengatakan, petugas DPAP juga berupaya mendampingi korban dalam pendidikan karena menyangkut hak anak.

“Biasanya korban hamil di luar nikah kami pindahkan sekolah ke tempat lain setelah melahirkan, demi mengurangi beban psikologi”, katanya.

Contohnya, satu siswa sekolah negeri di Siti Mauk, dipindah ke sekolah swasta yang berbeda kecamatan. Biaya pindah sekolah ini berasal dari sekolah asal siswa.

Dia berharap, anak korban kekerasan dan anak yang hamil di luar nikah dapat melapor ke DPAP. Identitas mereka , kata Siti, akan dirahasiakan.

Sumber, Wartakota, Rabu 1 Peb 2017.

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini membahas bencana sosial yang menggejala di jaman modern ini, yaitu maraknya angka perzinahan, khususnya di kalangan anak muda, dan tentunya hal ini menjadi keprihatinan semua kalangan. Dapat dikatakan, bahwa salah satu maksud yang terkandung di dalam paparan ini adalah, adanya usaha dari berbagai pihak, untuk menghilangkan, atau paling tidak meminimalisir, terjadinya perzinahan …., karena biar bagaimana pun, perzinahan tidak dapat diterima secara moral, agama dan akal sehat.

Namun bagaimanakah caranya untuk menghilangkan tindak zina ini? Apakah ada usaha nyata dan efektif untuk menghilangkan terjadinya perzinahan ini? Dan apakah itu berhasil? Sama diketahui bahwa usaha untuk menghilangkan perzinahan sudah dikembangkan sejak jaman dahulu, namun apakah keseluruhan usaha tersebut berhasil secara menggembirakan?

Satu hal yang jelas dan pasti mengenai bencana perzinahan ini. Satu-satunya faktor pencetus terjadinya perzinahan adalah, digalakkannya program pendidikan untuk anak perempuan, di mana (anak) perempuan dikondisikan untuk berangkat ke sekolah (setiap hari), untuk berada di luar rumah, dan sejurus kemudian anak-anak perempuan ini diperbaurkan dengan teman-teman pria. Tak ayal lagi, perbauran bebas telah menjadi faktor pencetus utama terjadinya perzinahan.

Selama (anak-anak) perempuan terus keluar rumah, untuk tujuan pendidikan, sekolah, apalagi kemudian diperbaurkan secara bebas dengan teman-teman pria, maka selama itu perzinahan akan terus terjadi di tengah masyarakat, tidak dapat dielakkan lagi dengan cara apa pun. Oleh karena itu, kalau suatu masyarakat ingin memberantas perzinahan sampai ke akar-akarnya, maka satu-satunya cara adalah mendomestikalisasi seluruh perempuan, khususnya perempuan sejak dari usia remaja hingga dewasa: kebijakan Emansipasi Wanita harus dihentikan.

Pada jaman dulu kala, ketika dengung Emansipasi Wanita belum menggejala, ketika masyarakat masih memegang prinsip bahwa kaum wanita adalah mahluk domestik sehingga perempuan tidak dibenarkan dan tidak diadatkan untuk keluar rumah, praktis angka perzinahan begitu rendah, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Bagaimana mungkin terjadi zina, kalau seluruh perempuan kukuh di dalam rumah mereka sepanjang waktu, sementara kaum pria di siang hari sibuk di tempat kerja, seperti sawah, kebun, kantor Pemerintah dsb. Kaum pria di tempat kerja hanya menemui sesama pria, sementara kaum perempuan di rumah hanya menemui anak-anak mereka, ayah, abang, bahkan suami mereka saja. Bagaimana mungkin ada perzinahan?

Namun ketika Pemerintah / masyarakat mulai membijakkan Emansipasi Wanita di mana kaum perempuan dikondisikan untuk keluar rumah, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja, maka lambat laun perzinahan mulai menggejala, karena perempuan dan pria yang tidak mempunyai hubungan keluarga, dikondisikan untuk terus bertemu. Itulah awal tumbuhnya rasa suka dan nyaman, dan pada akhirnya menyeret mereka kepada perzinahan. Dan itu pun sudah menjadi fakta.

Benarlah kata para tetua, bahwa tempat perempuan adalah di rumah saja, karena kalau perempuan keluar rumah, maka akan terjadi banyak fitnah besar. Bukankah petuah tersebut sekarang menjadi kenyataan? Dengan perempuan terus keluar rumah, maka fitnah mahabesar terus terjadi, yaitu maraknya perzinahan, bahkan perzinahan sudah dianggap biasa dan lumrah, sudah dianggap keniscayaan jaman. Inikah yang diinginkan dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita?

Pernahkah terjadi pada suatu umat, pada suatu masyarakat, di mana perempuan-perempuan bebas berbaur dengan teman-teman pria di luar rumah secara intens, namun perzinahan sama sekali tidak pernah terjadi? Pernahkah? Jawabannya adalah tidak. Di mana kaum perempuan bebas keluar rumah sehingga berbaur dengan teman-teman pria, maka di sana kasus zina sudah menjadi kelumrahan, sudah menjadi kejamakan. Namun kebalikannya, di mana kaum perempuan kukuh diam di dalam rumah, sementara kaum pria bekerja di tempat bekerja, maka perzinahan tidak pernah terjadi, karena kaum pria hanya menemui sesama pria di tempat publik, sementara kaum perempuan hanya menemui anak-anak dan orangtua mereka di tempat domestik.

Kalau pun memang pernah terjadi di mana kaum perempuan keluar rumah dan berbaur bebas dengan teman-teman pria secara intens, namun tidak pernah terjadi perzinahan di antara mereka, maka pastilah itu merupakan keanehan, suatu keganjilan, karena BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALAM. Bagaimana mungkin masuk akal, di mana perempuan dewasa dan pria dewasa terus bertemu secara intens namun di antara mereka tidak pernah tercetus rasa suka dan nyaman yang diparipurnakan dengan berhubungan intim?

Benarlah kata tua-tua pada masa dahulu, bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan tidak pernah izinkan perempuan keluar rumah, karena kalau perempuan keluar rumah maka akan terjadi fitnah besar. Namun sekarang, petuah tua-tua pada masa dahulu begitu lancangnya dilanggar dan dihiraukan, khususnya oleh pemangku Pemerintahan, dan juga para aktifis perempuan. Maka maraklah sudah bencana perzinahan di mana-mana! ***

Bagaimana mungkin masyarakat dapat memberantas perzinahan, sementara anak-anak perempuan terus keluar rumah, khususnya di dalam hal ini ke sekolah? Justru pada dasarnya kebijakan menyekolahkan anak-anak perem-puan pasti berimplikasi pada maraknya perzinahan, tidak bisa tidak. Patut direnungkan, buat apa mendapatkan anak-anak perempuan yang cerdas, intelektual, mempunyai banyak ketrampilan, dsb, kalau toh itu semua membuat anak-anak perempuan kehilangan kesucian dan kemurnian mereka? Buat apa mengusahakan untuk mencerdaskan anak-anak perempuan, kalau itu semua berimplikasi pada maraknya perzinahan, kasus hamil di luar nikah, pergaulan bebas antara pria dan perempuan?

Apakah mencerdaskan generasi perempuan adalah jauh lebih penting dan di atas segala-galanya, sedangkan bencana perzinahan dianggap sepele dan remeh-temeh? Dan apakah demi mencerdaskan generasi perempuan, maka kehormatan dan kesucian umat patut dikorbankan dan ditumbangkan begitu rupa? Apakah kesucian dan keagungan umat tidak lagi penting bagi masyarakat?

Pendidikan perempuan, untuk apa?

Terdapat dua hal yang berparalel di jaman sekarang. Di satu pihak, masyarakat dan Pemerintah giat menggalakkan Emansipasi Wanita, untuk memberdayakan kaum perempuan, yang gelagatnya adalah dengan mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, untuk sekolah maupun bekerja mencari nafkah. Di lain pihak, pecahnya bencana perzinahan yang merajalela di setiap kampung dan kota, yang mana bencana perzinahan tersebut satu-satunya pemicu adalah perempuan yang keluar rumah, baik untuk pendidikan maupun bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Kedua hal tersebut adalah dan selalu berparalel, tepatnya adalah bahwa perempuan keluar rumah akan selalu berimplikasi pada statistik perzinahan dan sexbebas. Dengan kata lain, harga yang harus dibayar oleh kaum perempuan, masyarakat dan Pemerintah, ketika menggalakkan Emansipasi Wanita, adalah terlampau mahal dan tidak masuk akal: yaitu pembumi-rataan perzinahan dan sexbebas.

Patut untuk direnungkan, apakah faedah yang akan diperoleh dengan menggalakkan Emansipasi Wanita? Apakah faedah dan manfaat yang ingin dirasakan masyarakat dan Pemerintah dengan adanya Emansipasi Wanita? Pun juga bagi perempuan itu sendiri, apakah tercerabutnya mereka dari nilai-nilai suci dan agung, merupakan apa yang mereka cari dengan bekerja dan berkarir? Dengan perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan di dalam bingkai Emansipasi Wanita, maka …..,

  1. Setidaknya, akan terjadi perbauran antara pria dan perempuan di sektor publik secara intens dan permanen, hal mana akan memicu terjadinya perzinahan. Dengan perempuan terus bertemu dan berbaur dengan pria-pria kota, maka rasa malu dan enggan yang alaminya tertanam pada mental setiap perempuan, akan tergerus dan terkikis secara sistematis, dan akhirnya akan diganti dengan rasa suka dan nyaman dengan pria-pria tersebut. Harus diingat, bahwa setiap pria asing, biar bagaimana pun adalah pria-pria yang manis, tampan, menggemaskan, lucu dan menghangatkan. Mustahil untuk terus berkeyakinan bahwa perempuan mana pun tidak akan jatuh di dalam perasaan suka dan kangen pada pria-pria tersebut: ini adalah hukum alam, akan selalu ada sensasi indah saat perempuan-perempuan tersebut bersama pria-pria kota, baik di sekolah maupun di tempat kerja. Tanpa disadari perempuan sudah kehilangan rasa malu dan enggannya kepada pria asing: yang semula setiap perempuan diperlengkapi rasa malu dan enggan terhadap pria asing (saat perempuan masih merupakan perempuan rumahan), pada akhirnya rasa / sense tersebut hilang seketika saat perempuan sudah intens berbaur bebas dengan pria-pria asing di luar rumah. Keseluruhan hal tersebut akan berakhir pada tindak zina dan sexbebas.
  2. Dengan perempuan keluar rumah secara intens, maka fenomena PACARAN akan menjadi lumrah, sementara pacaran itu sendiri adalah gerbang utama terjadinya Dengan diberdayakan, maka artinya perempuan akan menuntut untuk menikah setelah adanya pacaran. Dan ini jelas artinya perzinahan.
  3. Dengan perempuan diberdayakan baik di dalam bentuk pendidikan maupun pekerjaan, akan membuat perempuan membenci kodrat dan tugas domestik: mereka akan segera mempekerjakan pembantu rumahtangga dan babysitter untuk membenahi seluruh tetek-bengek urusan domestik, sementara perempuan-perempuan tersebut memilih asyik bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan di luar rumah, sambil berbaurbebas dengan pria asing di tengah kota, yang mana hal tersebut memicu terjadinya perzinahan dan sexbebas, dengan segala turunannya: kondomisasi, perselingkuhan, hamil di luar nikah, mayat bayi buangan di tempat sampah, marak perceraian, pornografi dan pornoaksi, penyakit kelamin, dsb.
  4. Dan akibat dari Emansipasi Wanita, juga pemberdayaan perempuan, akan banyak perempuan yang menuntut pekerjaan, dan ini artinya akan ada infiltrasi perempuan ke dalam pangker (lapangan kerja). Implikasinya, kaum pria akan tercerabut dan akan terdepak dari lapangan kerja. Sejurus kemudian adalah, akan banyak pria pengangguran, karena sumberdaya mereka tidak lagi tertampung di lapangan-kerja, karena lapangan kerja sudah dipenuhi dan diserobot perempuan. Ingat, pengangguran pria akan berimplikasi pada angka kriminalitas, dan pensia-siaan aset bangsa. Ingat juga, bahwa pria adalah tulang punggung keluarga, karena setiap pria berkewajiban untuk menafkahi anak dan keluarga. Artinya, kalau seorang pria menganggur, maka akan ada satu keluarga full yang kelaparan dan tidak mempunyai masa depan. Itu semua jelas, diakibatkan pemberdayaan perempuan, alias Emansipasi Wanita. Secerdas dan sesukses apa pun seorang pria pada studinya, tetap mereka akan menjadi pengangguran dan akan ditolak di lapangan kerja, karena ini bukan masalah kecerdasan dan ijazah cemerlang, namun melainkan seluruh pangker sudah direbut dan diserobot perempuan: begitu banyak pria yang berijazah cemerlang, toh akhirnya menjadi pengangguran alias tidak diterima di tempat kerja, karena banyak posisi pangker sudah dijarah perempuan.
  5. Dengan perempuan diberdayakan, maka mental perempuan akan berubah dramatis: mereka akan kuat dan kritis melawan titah agama, titah moral, titah para tua-tua, titah Nabi saw, titah leluhur, titah kodrat, titah kefitrahan, titah alam, dsb. Mereka akan terus mencibiri dan mengutuki seruan adat dan seruan agama. Yang benar hanya mereka seorang, yaitu perempuan, untuk terus keluar rumah, berbaur bebas dengan pria-pria kota, berangkat pagi pulang malam, berbusana mengumbar aurat, menolak mengurus pekerjaan domestik, menolak mengasuh anak, dsb. Padahal pendirian mereka tersebut sudah berimplikasi pada maraknya perzinahan dan sexbebas, namun tetap mereka tidak perduli, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada hubungan apa pun antara jalan hidup mereka (yaitu Emansipasi Wanita, bekerja, berkarir, berbaur bebas dengan pria asing di tengah kota dsb), dengan pecahnya bencana perzinahan dan sexbebas.
  6. Dengan perempuan diberdayakan, maka bukannya perempuan semakin komit pada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan, mereka malah semakin menjauh dan mengutuki kodrat-kodrat tersebut. Tidak pernah kejadian di mana perempuan yang sudah diberdayakan, membuat mereka semakin mencintai dan mentaati kodrat kewanitaan. Yang tampak adalah sebaliknya, yaitu ketika perempuan sudah diberdayakan (baik berpendidikan tinggi, maupun sudah bekerja dan karir yang mantap), mereka berbalik menjadi begitu menghujat dan mengingkari kodrat-kodrat tersebut. Faktanya di dalam kehidupan ini, tampak berkem-bang profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, karena kehadiran mereka dibutuhkan oleh perempuan-perempuan karir, untuk menggantikan keberadaan perempuan-perempuan tersebut di dapur, di rumah, dan di kamar bayi. Perempuan-perempuan karir sudah tidak ingin faham lagi akan fungsi domestik dan fungsi keibuan untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka. Yang mereka inginkan hanyalah bekerja mencari nafkah dan karir, seperti halnya laki-laki. Maraknya profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, adalah bukti betapa perempuan yang diberdayakan (seperti perempuan karir), begitu membenci dan mengingkari kodrat domestik dan kodrat keibuan mereka sendiri ….. Dengan pemberdayaan perempuan, bukannya kodrat kewanitaan yang mereka taati, justru berbalik, kodrat laki-laki yang mereka tuntut, kodrat laki-laki yang mereka inginkan, kodrat laki-laki yang mereka jarah …..

Keenam  point ini, adalah beberapa point yang akan diderita masyarakat saat mereka mengkondisikan perempuan untuk terus keluar rumah, khususnya untuk pendidikan. Bukti sudah di depan mata, seperti yang dipaparkan pada berita harian Wartakota ini, di mana angka perzinahan terus merebak di tengah kota, yang harus disadari bahwa hal tersebut hanya dipicu dan diakibatkan oleh pemberdayaan perempuan. Tidak ada untungnya memberdayakan perempuan, tidak ada untungnya mensekolahkan perempuan, dan tidak ada untungnya mempekerjakan perempuan di dunia kerja, karena keseluruhan hal tersebut merupakan perbuatan sia-sia. Bukti sudah di depan mata, dan sepanjang tahun, sepanjang kehidupan, perzinahan akan terus merebak sepanjang perempuan dikondisikan untuk keluar rumah.

Penutup.

Satu pertanyaan harus diajukan. Bagaimanakah cara untuk memberantas perzinahan dan sexbebas di tengah masyarakat? Apakah ada satu cara untuk menjauhkan generasi muda dari perbuatan asusila tersebut? Jawabannya hanya satu: dengan kuatnya tekad dan komitmen untuk mendomestikalisasi perempuan. Emansipasi Wanita dan pemberdayaan perempuan (memberi akses pendidikan setinggi-tingginya, dan akses ke dunia kerja) harus dihentikan, dan berganti arah untuk mendomestikalisasi seluruh perempuan. Hanya dengan cara itu, perzinahan dan sexbebas, dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Satu hal yang harus direnungkan adalah, bahwa tidak ada gunanya sama sekali untuk mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan maupun bekerja dan berkarir, seperti halnya laki-laki. Bukti sudah di depan mata: dengan mengkondisikan perempuan keluar rumah, hanya akan berimplikasi pada bencana zina dan sexbebas.***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos“.