Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Exodus Ke Hotel

bandom

Libur Lebaran, Hotel di Kawasan Puncak Cipanas Penuh

CIANJUR, KOMPAS.com — Tingkat hunian hotel di kawasan Puncak Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, meningkat sejak menjelang hari raya Idul Fitri 1435 H. Bahkan, sejumlah hotel di kawasan Cipanas sudah terisi penuh sejak dua hari menjelang Lebaran.

“Hari ini hanya beberapa kamar saja yang tersisa dari ratusan kamar yang kami miliki. Sejak sepekan terakhir, kamar yang ada telah terpesan hingga 70 persen dari ratusan kamar yang ada,” kata Dadeng, salah seorang staf hotel berbintang tiga di Jalan Raya Cipanas, Rabu (30/7/2014), seperti dikutip Antaranews.com.

Dia menjelaskan, tingkat pemesanan mulai meningkat sejak satu bulan sebelum puasa dan terus meningkat satu pekan menjelang hari raya. Sebagian besar merupakan pendatang warga keturunan dari berbagai wilayah di Jabodetabek.

Untuk hari ini, lanjutnya, pihaknya mengarahkan tamu ke hotel lain karena kamar sudah terisi. Kamar yang tersisa adalah beberapa kamar ukuran kecil dengan double bed.

Sementara sejumlah penginap, yang sebagian besar warga keturunan, mengaku sengaja tinggal di hotel selama libur Idul Fitri karena pembantu rumah tangganya pulang kampung selama satu minggu.

Pembantu pulang kampung, kami memilih diam di hotel sambil menikmati libur panjang hari raya,” kata Steven (36), warga Jakarta Timur, penghuni salah satu kamar hotel.

Kondisi yang sama dialami sejumlah hotel kelas melati yang banyak terdapat di sepanjang Jalur Puncak-Cianjur. Sebagian besar pengelola mengaku terpaksa menolak calon penghuni karena sudah tidak memiliki kamar kosong.

“Hari ini dari 58 kamar semua terisi penuh sampai tanggal 2 Agustus. Kami banyak mengarahkan pendatang ke vila yang disewakan karena untuk kamar hotel sudah terisi penuh,” kata Ardi, staf front office hotel melati di Jalan Raya Pasekon.

Sumber, https://regional.kompas.com/read/2014/07/30/15275771/Libur.Lebaran.Hotel.di.Kawasan.Puncak.Cipanas.Penuh

annisanationlogoAnnisanation,

Pada artikel sebelumnya telah dicapai pemahaman, bahwa kekayaan dan harta nan melimpah membuat kaum perempuan berkonflik abadi terhadap kodrat domestik, dan satu-satunya solusi atas konflik tersebut adalah direkrutnya bandom (pembantu domestik) dan juga babysitter. Maka terciptalah pemandangan di mana pada setiap kompleks perumahan mewah bin megah selalu diwarnai kehadiran para bandom dan juga babysitter.

Tidak mungkin dan tidak pernah ada dilaporkan di mana keluarga kayaraya nan menempati rumah mewah yang sama sekali tidak mempekerjakan para bandom. Keniscayaan ini hanya berawal dan berpangkal pada fakta alam bahwa kaum perempuan akan selalu mengutuki dan jijik terhadap kodrat domestik: harta nan melimpah membuat mereka hanya ingin bermalas-malasan dan berleha-leha sepanjang waktu, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, butuh tinggal suruh dsb. Pun mereka sudah tidak mau tahu lagi soal momong si buyung, dan untuk keperluan tersebut telah disediakan babysitter, satu-satunya ‘benda’ yang akan menghalangi seorang buyung untuk mendatangi ibukandung demi mendapat perhatian, karena akan segera dicegah oleh babysitter, dan babysitter-lah yang akan memenuhi semua kebutuhan sang buyung, sehingga ibukandung tinggal berleha-leha saja di depan tivi tanpa ada titik puas, tidak boleh diganggu oleh sang buyung. Untuk itulah tujuan dipekerjakan babysitter, yaitu demi ibukandung, nenek kandung, tante kandung, dsb sama sekali tidak diganggu oleh si buyung saat terus-terusan berleha-leha.

Dan perihal berita dari portal Kompas di atas, Allah Swt beserta para MalaikatNya harus memberi perhatian penuh kepada kaum perempuan kayaraya yang exodus besar-besaran ke seluruh hotel dikarenakan bandom yang bekerja di rumah mereka, pulang kampung saat Iedul Fitri.

Ketika Annisanation membaca berita Kompas di atas (di tahun 2014), keheranan menyeruak. Betapa tidak. Pertama, di berita tersebut ditulis bahwa warga keturunan hendak berlebaran. Berlebaran? Bukankah warga keturunan umumnya adalah nonmuslim? Mengapa warga nonmuslim turut berlebaran? Kedua, pun mereka berlebaran di hotel. Di hotel? Mengapa berlebaran di hotel? Bukankah berlebaran merupakan moment di mana umat berkampung-kampung akan saling mengunjungi untuk salam-salaman? Dan bukankah itu berarti setiap orang yang berlebaran harus tinggal di rumah masing-masing? Kalau tinggal di hotel maka bagaimana kegiatan saling berkunjung dapat terlaksana?

Setelah sekian lama keheranan, akhirnya Annisanation menemukan jawaban. Pertama-tama Annisanation menemukan persamaan. Persamaan tersebut adalah bahwa warga keturunan umumnya merupakan keluarga kayaraya. Membicarakan keluarga kayaraya berarti juga membicarakan perempuan dari keluarga tersebut yang menikmati atau mencecap kekayaan. Dan bagaimanakah lifestyle mereka kalau mencecap hidup penuh kelimpahan materi? Segala macam lifestyle-nya, namun intinya adalah mereka mulai membentuk permusuhan abadi terhadap tugas dan kodrat domestik: mereka jijik terhadap tugas memasak, mencuci piring, mencuci, menjemur dan menerika baju, membersihkan rumah dan kamar tidur, dan wabil khusus momong dan juga membersihkan cirit buyung.

Dengan menjijiki tugas domestik, praktis mereka menuntut dipekerjakan nya bandom dan babysitter. Maka kedua elemen inilah yang akan mengiringi kehidupan mereka nan mewah dan berkelimpahan harta, setiap hari dan sepanjang hidup.

Maka sepanjang hidup itu juga kaum perempuan yang kayaraya BERPANTANG DAN TIADA SUDI untuk menunaikan tugas domestik. Mereka berpantang masak, mencuci, momong anak dsb. Namun kemudian bagaimana kalau sang bandom (dan juga babysitter) pulang kampung hanya seminggu untuk berlebaran? Seperti pada laporan media Kompas, mereka kaum perempuan kayaraya eksodus besar-besaran ke berbagai hotel saat para bandom pulang kampung.

Mereka kaum perempuan kayaraya yang selama hidup nan mewah selalu berleha-leha berpantang menjalankan tugas domestik, maka ketika para bandom pulang kampung satu minggu saja untuk berlebaran, hanya mempunyai dua pilihan:

  1. Karena bandom pulang kampung (hanya seminggu untuk berlebaran), otomatis tidak ada yang masak dan membersihkan rumah, segala tetek-bengek urusan domestik. Maka apakah perempuan kayaraya tersebut yang harus menunaikan tugas domestik, selama bandom berada di kampung? Tampaknya memang begitu: perempuan kayaraya sang empunya rumahlah yang harus masak, mencuci piring, dsb. Siapa lagi? Bukankah mereka adalah perempuan? Dan bukankah masak dan membersihkan rumah merupakan tugas alamiah setiap perempuan?
  2. Atau tetap perempuan kayaraya tersebut PANTANG dan TIADA SUDI untuk menunaikan tugas domestik, tetap mau-nya makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, butuh tinggal suruh. Dan untuk hal tersebut maka eksodus besar-besaran ke hotel-lah satu-satunya pilihan yang mereka ambil. Di hotel, style mereka akan tetap berlanjut, yaitu makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, butuh tinggal suruh –karena sudah ada staff hotel yang akan melayani seluruh keperluan mereka, dari ujung kepala hingga kaki.

Antara (a) dan (b), pilihan mana yang mereka tempuh? Pilihan (b)-lah yang mereka ambil, yaitu eksodus besar-besaran ke hotel dan meninggalkan rumah mereka nan mewah di dalam keadaan kosong, hanya dijaga petugas keamanan. Mereka tinggalkan rumah, karena rumah sudah tidak lagi dilayani bandom, karena bandom pulang kampung selama seminggu untuk berlebaran. Dan kalau perempuan kayaraya tersebut tetap tinggal di rumah (yang ditinggal bandom), maka itu artinya merekalah yang harus kerja domestik. Itulah yang mereka TIADA SUDI. Solusinya hanya satu, yaitu exodus ke hotel. Dan di hotel mereka akan mendapatkan pengalaman lebih enak dan serba dilayani. Maka alhasil, turunlah berita seperti yang dipersembahkan media Kompas di atas.

Identitas ke-perempuan-an sebagai mahluk yang agung, akhirnya dipertanyakan. Untuk apakah sebenarnya kaum perempuan diciptakan oleh Allah Swt? Dari pangkal ke ujung, sedikit pun kaum perempuan, yang kayaraya ini, tiada sudi untuk menjalankan pekerjaan yang merupakan kodrat mereka, yaitu domestik. Dari pangkal ke ujung, yang dihitung kaum perempuan hanyalah peran bandom, dan babysitter. Mereka mengutuki pekerjaan masak, mencuci piring, mencuci baju, menyeduh kopi untuk ayahbunda, dan bahkan untuk membersihkan cirit sang buyung. Mereka enggan membersihkan rumah dan kamar tidur, dan untuk  urusan itu semua mereka lemparkan kepada para bandom.

Entah angin mana yang berbisik ke telinga mereka, bahwa pekerjaan domestik merupakan kehinaan dan kejatuhan gengsi …., bahwa pekerjaan domestik, termasuk momong si buyung, dapat, harus dan boleh dilempar kepada para bandom dan babysitter. Sementara di luar rumah, para ayah, para suami, para opah, para abang, pontang panting bekerja cari uang rupiah demi rupiah untuk seluruh keluarga.

Semestinya, ketika bandom pulang kampung, maka perempuan-perempuan kayaraya itulah yang ganti masak untuk keluarga, yang ganti mencuci baju ayahbunda, yang ganti momong sang buyung, dsb. Namun mereka tetap TIADA SUDI. Para bandom dan babysitter pulang kampung untuk berlebaran, hanya seminggu, paling lama 10 hari. Namun tetap saja kaum perempuan kayaraya ini PANTANG dan TIADA SUDI untuk bekerja di dapur serta mencuci baju, serta membersihkan cirit sang buyung. Inikah cintakasih dan ketulusan jiwa seorang perempuan?

  • Bandom pulang kampung hanya seminggu, dan untuk seminggu saja perempuan kayaraya tetap tiada sudi MASAK untuk ayahbunda dan keluarga di rumah? Hanya seminggu saja MASAK,  tetap tiada sudi? Hotel juga yang mereka tuntut, supaya di hotel perempuan-perempuan kayaraya ini tetap tidak dibebani tugas masak, ketika bandom berada di kampung halaman.
  • Bandom pulang kampung untuk berlebaran hanya seminggu, dan untuk seminggu saja perempuan kayaraya tetap tiada sudi MENCUCI BAJU AYAHBUNDA DAN KELUARGA? Hanya seminggu saja MENCUCI BAJU AYAHBUNDA DAN KELUARGA,  tetap tiada sudi? Mereka tuntut hotel sebagai satu-satunya solusi daripada mereka sendiri yang harus mencuci baju!
  • Bandom pulang kampung untuk berlebaran hanya seminggu, dan untuk seminggu saja perempuan kayaraya tetap tiada sudi MOMONG SI BUAH HATI? Hanya seminggu saja MOMONG SI BUAH HATI,  tetap tiada sudi? Justru mereka menuntut tinggal di hotel.
  • Bandom pulang kampung untuk berlebaran hanya seminggu, dan untuk seminggu saja perempuan kayaraya tetap tiada sudi MEMBERSIHKAN RUMAH DAN KAMAR TIDUR KELUARGA TERCINTA? Hanya seminggu saja MEMBERSIHKAN RUMAH DAN KAMAR TIDUR KELUARGA TERCINTA, tetap mereka tiada sudi? Yang mereka fikirkan hanya hotel, karena di hotel tugas membersihkan kamar sudah ditangani staff hotel, sehingga mereka tiada perlu turun tangan untuk membersihkan kasur, sprei dan tetek bengek nya.
  • Bandom pulang kampung untuk berlebaran hanya seminggu, dan untuk seminggu saja perempuan kayaraya tetap tiada sudi MENCUCI PIRING KELUARGA TERCINTA? Hanya seminggu saja MENCUCI PIRING KELUARGA TERCINTA,  tetap tiada sudi?  Dan daripada mereka yang harus mencuci piring, maka mereka lebih baik tinggal di hotel, karena di hotel tugas membersihkan piring sudah ditangani pesuruh hotel!

Lupakan ketulusan dan keagungan perempuan, lupakan kelembutan hati dan perangai kaum perempuan. Lupakan kehangatan perhatian para istri dan ibunda.

  • Selama setahun penuh mereka tinggal makan enak, ……
  • selama setahun penuh mereka tinggal tidur enak, ……
  • selama setahun penuh mereka dilayani para pembantu dan babysitter, …….
  • selama setahun penuh mereka menikmati rumah nan selalu bersih kinclong karena dirawat oleh bandom ….

….. nah untuk seminggu saja supaya mereka sendiri yang turun langsung untuk masak, mencuci piring, membersihkan kamar dan rumah, hanya selama bandom di kampung, TETAP TIADA SUDI? Dan mereka tetap mau-nya makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, butuh tinggal suruh? Dan untuk hal tersebut hotel lah yang mereka tuntut kepada ayah dan suami? Dan bukankah itu berarti ayah dan suami harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar hotel dengan seluruh service nya selama seminggu?

Inikah ketulusan dan cintakasih kaum perempuan kepada keluarga dan dunia? Mereka pantang dan enggan masak untuk keluarga, mereka pantang dan enggan menyeduh kopi untuk ayahbunda dsb, kemudian yang mereka duat adalah menyuruh para bandom untuk masak dan menyeduh kopi, sementara mereka biar asyik-asyik saja nonton tv berkepan-jangan tanpa ada titik puas. Yang namanya cintakasih kepada keluarga, mereka buktikan dengan merekrut bandom dan babysitter? Yang namanya cintakasih kepada keluarga, mereka tunjukkan hanya dengan berleha-leha di depan tivi, dan bandom-lah yang terus bekerja pontang-panting melayani seisi rumah? Dan ketika bandom pulang kampung untuk berlebaran selama seminggu saja, tetap mereka tiada sudi masak untuk ayahbunda, anak dan suami? Ujungnya mereka tuntut hotel, mereka tuntut villa, mereka tuntut wisma mewah! Bukannya saat ketiadaan bandom merupakan moment untuk buktikan cintakasih kepada ayahbunda dan keluarga HANYA UNTUK SEMINGGU SAJA, justru mereka gunakan untuk membuktikan betapa gigihnya mereka membenci untuk melayani ayahbunda dan keluarga.

Mereka hanya ingin dilayani, bukan untuk melayani keluarga. Untuk apa perempuan diciptakan!!!!

Dan kalau apa yang dipaparkan di atas kurang terlalu buruk, maka di bawah ini ada laporan media yang lebih mewakilkan keperempuanan dengan cara yang lain.

-o0o-

PRT Mudik, Peminat Pembantu Infal Naik 100% Jelang Lebaran

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia.

Jakarta, CNBC Indonesia – Mendekati Hari Raya Idul Fitri biasanya rumah akan ditinggal mudik pembantu rumah tangga (ART). Dalam kondisi ini kebutuhan akan jasa penyedia pembantu infal akan meningkat.

Pembantu infal merupakan pembantu musim antara satu hingga dua pekan untuk mengganti PRT reguler yang sedang pulang kampung.

Verry M. Susanto selaku Penyalur Pembantu dan Ketua Pengurus Yayasan Sugesti mengatakan bahwa selama masa libur Lebaran, permintaan jasa pembantu infal meningkat tajam.

Permintaan tersebut sudah dirasakan sejak awal puasa. Menurutnya para kliennya sudah booking (memesan) jauh-jauh hari atau sebulan sebelum puasa. Tak heran ini permintaannya bisa meningkat 100%.

“Kalau peminat pembantu infal tentu meningkat menjelang Lebaran. Kali ini bisa mencapai 100% dan awal puasa sudah banyak yang booking,” ujar Verry kepada CNBC Indonesia, Senin, 11 Juni 2018.

…. dst

Sumber,

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20180611190309-33-18805/prt-mudik-peminat-pembantu-infal-naik-100-jelang-lebaran

-o0o-

Bagi perempuan Muslim, penting untuk tetap tinggal di rumah saat lebaran Iedul Fitri. Namun kalau bandom pulang kampung selama seminggu untuk berlebaran di sana, perempuan Muslim yang kayaraya tetap berpantang untuk ke dapur dan mencuci baju anak dan seluruh keluarga. Mereka tidak berfikir untuk exodus ke hotel, dan lebih tepatnya mereka memilih pembantu infal, yang gaji nya tentu saja lebih besar dari pembantu reguler.

Untuk seminggu saja perempuan-perempuan kayaraya ini masak untuk anak dan keluarga, tetap tidak mau? Hanya seminggu saja perempuan-perempuan kayaraya ini mencuci piring sehabis keluarga makan, tetap tidak mau? Mau-nya tetap seperti sediakala, yaitu suruh-suruh pembantu? Setahun penuh mereka makan enak, setahun penuh mereka tidur enak, nah hanya untuk seminggu saja mereka diminta masak untuk keluarga tetap mereka tidak bersedia? Maka turunlah laporan seperti yang diturunkan media cnbcindonesia di atas.

Penutup.

Perempuan membenci kodrat perempuan, dan di antara perempuan dengan kebenciannya terhadap kodrat domestik, terdapatlah para bandom dan babysitter. Maka setahun penuh mereka para perempuan kayaraya ini makan enak dan tidur enak di rumah karena semua keperluannya dilayani para bandom. Namun ketika bandom dan babysitter pulang kampung, maka di rumah mereka tidak ada lagi yang melayani, lantas hotel lah yang mereka tuntut …… kebencian mereka terhadap kodrat domestik yang merupakan kodrat mereka sendiri, semakin jelas. Namun tetap perempuan klaim bahwa mereka mempunyai cintakasih terbesar dan setinggi himalaya kepada keluarga dan si mungil buyung. Kalau mereka faham arti cinta kasih nan tulus, maka kejijikan mereka terhadap tugas domestik (dan termasuk tugas momong anak) tetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keperempuanan.

Hanya duit segunung, hanya kelimpahan materi, hanya kehidupan yang bergelimang harta, yang membuat perempuan menjadi begitu menjijiki kodrat domestik: menjadi karyaraya selalu berarti perempuan menganggap masak di dapur dan mencuci baju dsb sebagai kejatuhan gengsi dan ketertinggalan. Mereka anggap masak dan momong anak bukan kodrat dan keindahan dari sebuah keperempuanan, dan mereka tidak pernah menganggap penting kepada aktivitas masak dan menyediakan makan bagi seluruh keluarga. Mereka tidak anggap penting aktivitas merapikan kamar tidur dan rumah, dan mereka tidak anggap penting menyuapi si buyung hingga kenyang. Lebih dari itu, yang mereka anggap penting adalah merekrut bandom dan babysitter, untuk menunjang lifestyle mereka sebagai perempuan kayaraya.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Silahkan lanjut membaca artikel terkait:

  1. Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam
  2. Anomali Perempuan Di Tengah Hukum Alam
  3. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sebuah Paradox
  4. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sejak Jaman Purba
  5. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Model Iklan
  6. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Exodus Ke Hotel
Advertisements

Pembantu Dan Ironi Keperempuanan – Model Iklan

film_strip

Alkisah, terdapat sebuah keluarga kayaraya yang menempati rumah nan megah bin mewah, pun rumah tersebut berlokasi di komplek perumahan mewah pula. Keluarga tersebut terdari atas:

  1. Tono sebagai sang ayah.
  2. Tini sebagai sang ibu.
  3. Dono sebagai anak pertama.
  4. Dini  sebagai anak kedua.
  5. Danu sebagai anak bungsu.
  6. Inem sebagai pembantu I.
  7. Ijah sebagai pembantu II.

Berarti rumah mewah tersebut dihuni 7 orang, di mana 5 di antaranya merupakan majikan, alias pemilik rumah, dan dua lainnya merupakan pembantu alias jongos bayaran.

Kehidupan 5 anggota keluarga tersebut hidup di dalam kelimpahan harta, dan mereka setiap hari dilayani oleh dua bandom (pembantu domestik), masing-masing inem dan ijah. Bagi anggota keluarga yang perempuan khususnya, yaitu tini (ibu) dan dini (anak), mereka berdua tidak pernah merasakan letihnya pekerjaan rumah: mereka tidak pernah masak, mereka tidak pernah mencuci piring, tidak pernah mencuci baju, menjemur baju, menerika baju, membersihkan kamar dan rumah, tidak pernah merapikan meja makan, membersihkan dan merapikan ruang tamu dan pekarangan, dsb. Lebih dari itu pun, mereka PANTANG DAN TIADA SUDI untuk duat pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Sebagai gantinya, mereka serahkan seluruh pekerjaan domestik  kepada bandom, yaitu inem dan ijah. Dan lantaran ada inem dan ijah, maka khususnya tini dan dini setiap hari hanya asyik berleha-leha di rumah, sementara yang laki-laki yaitu ayah beserta dono dan danu bekerja mencari uang untuk nafkah keluarga.

Kalau tini maupun dini menghendaki sesuatu di rumah, mereka tinggal teriak memanggil bandom. Ineeeeeem …… ijaaaaaaa….. ambilkan minum dingin. Ineeeem …. Ijaaaaaah ….. ambilkan sepatu ….. ineeemmm …… ijaaaaahh ….. bikinin kopi untuk bapak. Begitulah seterusnya. Jadi mereka berdua, yaitu dini dan tini, hanya memerintah bandom saja, alias mereka tidak pernah tahu menahu soal dapur, soal mencuci piring dsb. Mereka hanya tinggal terima enak saja, tinggal terima beres saja.

Tini yang merupakan ibu, mempunyai wajah secantik anna tairas, sementara tini dianugrahi wajah secantik najwa shihab. Suatu saat, karena kemurahan rejeki, buk tini dilirik agen model, dan menawarinya untuk bekerja sebagai model iklan lantaran parasnya nan cantik. Honor besar dijanjikan kepada buk tini. Tentu saja buk tini senang bukan kepalang mendapat limpahan rejeki begitu besar.

Singkat kata, buk tini segera berangkat shooting untuk pembuatan iklan produk domestik, dalam hal ini bumbu masakan. Di depan kamera buk tini berakting begitu memukau, dan menghasilkan tayangan iklan nan sempurna, di mana dilukiskan seorang ibu muda nan cantik jelita sedang masak di dapur untuk keluarga tercinta, menggunakan bumbu andalan yang sedang dipromosikan. Manager iklan tampak puas dengan akting buk tini.

Selesai shooting, manager iklan mendatangi buk tini, menyampaikan rasa puasnya bekerja sama dengan buk tini. Tidak lupa, manager iklan memberi uang honor kepada buk tini, sebesar 80 juta rupiah. Betapa gembiranya buk tini. Buk tini segera pulang membawa uang sekarung sebanyak 80 juta rupiah, yang mana honor tersebut merupakan permulaan, karena kelak pasti ia akan kebanjiran order iklan lagi. Ya, karena parasnya begitu cantik, secantik anna tairas.

Sesampai di rumah, buk tini langsung teriak …… ineeeeemm ….. masak apa hari ini? Dijawab sekenanya oleh inem. Kemudian ia teriak kepada ijah, ijaaaaaaahhhh …. Jangan lupa masak sayur lodeh kesukaan bapak yaaaa ….. dijawab oleh ijah sebagaimana mestinya. Maka buk tini masuk ke kamarnya untuk  bermain-main dengan uang segepoknya.

Apa yang harus diteliti dari style tini ini? Di depan kamera ia berakting sedang masak untuk keluarga, dengan penuh cinta dan rona bahagia. Ia perlihatkan, bahwa ia adalah seorang ibu muda cantik nan setia kepada keluarga, ia masak untuk keluarganya, dengan penuh ceria dan sejuta jiwa ….. ia perlihatkan kepada dunia bahwa ia adalah seorang ibu nan sadar dan perduli nian terhadap selera keluarga, dan terhadap citarasa keluarga …

Namun di dunia nyata, bagaimana? Sepulangnya buk tini dari shooting, ia langsung teriak kepada bandom perkara urusan dapur. Ia minta dilayani, ia minta disiapkan makan. Pantang sekali ia ke dapur, pantang sekali ia tengok dapur untuk meracik hidangan untuk keluarga. Padahal ketika shooting, ia menampakkan dirinya di depan kamera seolah dirinya adalah seorang ibu muda nan cinta dapur lantaran begitu besar cintanya kepada keluarga. Namun di kehidupan nyata? Semuanya adalah serba pembantu!

Namun sungguh pun demikian, buk tini mempunyai nafsu terbesar untuk menikmati uang hasil akting kerja domestik di depan kamera sampai tandas tak bersisa, tanpa sungkan sedikit pun. Uang hasil akting domestiknya ia mau, namun kerja domestik sungguhannya, buk tini menjijiki-nya sampai ke ubun-ubun!

Saat berikutnya, buk tini mendapat job untuk memerankan iklan produk cairan pel. Shooting pun dilakukan, di depan kamera ia perlihatkan betapa dirinya merupakan ibu muda cantik nan begitu ceria mengepel lantai rumah ketika anak dan suaminya sudah berangkat sekolah dan kerja. Selesai shooting, manager iklan merasa bangga kepadanya, dan mendatanginya untuk memberinya honor kerja, sejumlah 100 juta rupiah. Betapa gembiranya buk tini, sudah pun bekerja sebagai model iklan lantaran kecantikan parasnya, juga ia menerima uang honor yang begitu besar. Ia segera pulang dengan sekarung uang senilai 100 juta tersebut.

Sesampainya di rumah, ia masuk ke kamar tidurnya untuk meletakkan tas dan uang hasil kerjanya. Sejurus kemudian ia melihat kamar anaknya begitu kotor. Apa yang ia duat? Langsung ia  teriak, ineeeeemmm ….. ini kamar danu cepat di-pell. Ijaaaaaaahhh ….. kok kamar atas masih kotor? Belum di-pell yaaaa?? Cepat pell sekarang juga …..

Padahal ketika shooting, ia menampakkan dirinya di depan kamera seolah dirinya adalah seorang ibu muda nan begitu bangga untuk mengepel lantai seluruh ruang di rumahnya. Namun di kehidupan nyata? Semuanya serba pembantu! Dan pantang sekali dirinya untuk mengepel lantai. Mengapa? Ya, karena dirinya adalah seorang perempuan yang berduit banyak dan mencecap kelimpahan materi.

Ia membenci tugas domestik, khususnya di dalam hal ini mengepel lantai rumah. Namun di pihak lain ia lebih dari bahagia untuk akting di depan kamera sedang mengepel lantai. Dan untuk aktingnya itu ia mendapat uang sekian juta rupiah. Dan uang jutaan rupiah itu ia nikmati sampai tandas tak bersisa, tanpa sungkan sedikit pun. Padahal sebenarnya ia sangat benci tugas mengepel rumah –dan urusan domestik lainnya. Pantang baginya mengepel rumah!

Di lain kisah, dini sang anak, ternyata juga direkrut untuk menjadi model iklan, dikarenakan parasnya nan cantik secantik najwa shihab, kecantikan mana ia dapat dari kecantikan ibunya, buk tini. Ia menerima  untuk mengisi iklan produk sabun cuci pakaian.

Shooting pun dilakukan, dan di depan kamera dini berakting begitu memukau, di mana ia berperan sebagai seorang wanita muda secerah matahari, dengan begitu cerianya mencuci pakaian seluruh keluarga menggunakan sabun yang sedang diiklankan. Bagaimana penonton tidak terpukau oleh kecantikannya dan terinspirasi untuk membeli sabun yang diiklankan olehnya?

Selesai shooting, manager iklan tampak gembira melihat kerja dini, dan sejurus kemudian manager memberi uang honor kepada dini sebesar 70 juta rupiah. Betapa bangganya dini, karena kecantikan parasnya benar-benar dinilai puluhan juta rupiah. Ia segera pulang.

Sedikit info tentang dini. Dini adalah anak perempuan yang lahir di keluarga nan kayaraya dan hidup mewah. Seujung kuku pun dia tidak pernah mencuci baju, dan semua bajunya selalu beres di lemari pakaiannya. Seumur hidup seluruh keperluannya disediakan bandom, seperti makan, merapikan kamar, dan juga urusan cuci mencuci pakaian, berikut menjemur dan menerika. Ia hanya terima beres. Semua baju kotor, hanya ia taruh di keranjang baju di kamar, nanti inem maupun ijah yang akan mengambil baju-baju kotor, dan kemudian mencucinya hingga bersih, kelak akan kembali ke kamarnya di dalam keadaan bersih sudah diterika: dini tinggal mengenakannya saja. Itu seumur hidup.

Dan sekarang dini berkarir sebagai model iklan, untuk mengiklankan sabun cuci, dan di dalam iklan tersebut dini berakting sedang mencuci baju seluruh keluarga dengan wajah nan ceria dan bahagia, bahagia karena mencucikan baju keluarga kesayangannya. Namun ketika ia pulang dari shooting, kembali ia melemparkan baju kotor kepada inem maupun ijah, dan mengambil baju bersih di lemari yang sudah disiapkan bandom. Sedikit pun ia tidak tahu menahu urusan cuci mencuci maupun menerika.

Begitu juga dengan urusan mencuci piring. Dini mendapat job untuk mengiklankan sabun cuci piring, di mana di dalam iklan tersebut dini berakting sebagai seorang putri kesayangan nan bahagia dan secerah matahari tengah mencuci piring keluarga sehabis makan, menggunakan sabun yang diiklankan. Selesai shooting, ia pulang dan langsung makan bersama keluarga di rumah. Sehabis makan tentunya dini (dan buk tini), tidak tahu menahu perkara cuci piring kotor sehabis makan keluarga, karena bandom lah yang akan mencuci semua piring kotor di dapur, sementara dini (dan buk tini) hanya tinggal enak-enakan di depan tv menikmati desau angin malam nan tentram. Padahal tadi siang dini shooting memperagakan seorang putri kesayangan yang dengan penuh kesadaran mencuci piring bekas makan anak, suami dan ayahbunda, dengan penuh ceria dan kebahagiaan.

Seorang perempuan kayaraya yang sungguh memusuhi pekerjaan domestik di rumahnya, tiba-tiba memerankan seorang perempuan yang cinta pekerjaan domestik, di depan kamera untuk produksi sebuah iklan. Dan ketika urusannya dengan kamera selesai, maka kembali ia memusuhi pekerjaan domestik. Dan sedikit pun ia tidak pernah terlibat di dalam pekerjaan domestik di rumahnya, kecuali di iklan yang diganjar uang sekian juta! Mungkinkah kisah ini ada hubungannya dengan aktivitas kadal hijau di rumah mereka?

Kisah marni.

Nun di belahan kota yang lain, terdapat keluarga yang hidup morat-marit, tinggal di rumah yang morat-marit pula. Keluarga tersebut mempunyai anak perempuan remaja bernama marni, parasnya secantik (bahkan lebih cantik dari) ….. dewi perssik. Marni, dan seluruh anggota keluarga yang perempuan,  rajin ke dapur, rajin membersihkan tempat tidur, rajin mencucikan baju seluruh keluarga, rajin mencuci piring, rajin masak dsb. Jelaslah mereka tidak mempunyai bandom, karena uang pun mereka tidak punya, bagaimana menggaji bandom? Karena morat-marit itulah, maka marni dan ibunya begitu rajin dan taat kepada tugas domestik, tanpa mengeluh sedikit pun.

Rejeki menyapa. Marni yang wajahnya begitu cantik, dilirik produser iklan. Produser menawarkan marni untuk menjadi model iklan, dengan honor 60 juta rupiah. Tawaran langsung diterima, dan tidak lama marni pun langsung shooting video iklan.

Di dalam shooting, marni memerankan seorang putri yang begitu bahagia saat menanak nasi dengan penanak nasi yang diiklankan. Marni tampak menguasai materi shooting, dan segera mendapat pujian penuh dari sang produser. Shooting selesai dengan sukses, dan marni pulang dengan membawa uang sekarung senilai 60 juta rupiah.

Begitulah, job demi job iklan dilakoni marni, dan itu artinya kehidupan keluarga marni terangkat dengan signifikan. Sekarang rumahnya berubah menjadi mentereng. Ayahbunda tampak begitu bahagia, begitu juga dengan kakak adik. Dan yang jelas, di rumahnya yang mewah sekarang, sudah ada dua bandom. Ya! Bandom tersebut didatangkan dan digaji oleh marni, karena sekarang marni telah menjadi individu kayaraya dengan uang melimpah di bank. Dan karena menjadi kayaraya itulah, marni menjadi membenci dan menjijiki tugas domestik.

00-Pembantu dan ironi keperempuanan03

Datang lagi satu job untuk pembuatan iklan. Marni memerankan seorang mahasiswi yang begitu bahagia mencuci baju se-keluarga menggunakan mesin cuci yang sedang diiklankan. Shooting sukses, dan marni mendapat bayaran untuk akting tersebut sebesar 200 juta rupiah. Ia pun segera pulang.

Sesampainya di rumah, marni langsung melemparkan baju-bajunya kepada bandom, dan dirinya sendiri langsung duduk manis di meja makan menikmati makan siang yang dimasak bandom. Sedikit pun marni tidak pernah tahu menahu urusan mencuci baju, tidak tahu menahu urusan mengoperasikan mesin cuci, pun marni tidak tahu menahu urusan masak di dapur. Marni tahunya tinggal terima beres, karena seluruh urusan rumah, seluruh urusan domestik telah dilemparkan kepada bandom. Padahal tadi pagi marni baru saja shooting video iklan di mana ia memerankan seorang mahasiswi yang begitu bahagianya mencucikan baju keluarga menggunakan mesin cuci. Namun kenyataannya ketika di rumah? Semuanya ia lemparkan kepada para bandom!!

Pertama, ketika masih morat-marit, marni dan ibunya-lah yang bekerja rajin dan taat menyelesaikan seluruh tugas domestik, dengan ketulusan dan pengabdian yang mulia. Namun itu dulu ketika mereka masih miskin dan hidup morat-marit. Namun ketika mereka berubah menjadi kayaraya lantaran marni telah menjadi model iklan? Tidak ada lagi yang namanya rajin dan taat, tidak ada lagi yang namanya ketulusan dan jiwa pengabdian; tidak ada lagi yang namanya kesadaran akan kodrat. Itu semua adalah nonsense!!! Kayaraya membuat mereka MENJIJIKI tugas domestik. Kayaraya membuat mereka jatuh gengsi untuk mendomestik. Dan kayaraya membuat mereka merasa pantas untuk selalu dilayani bandom, merasa layak untuk menjongosi saudaranya sendiri ….. kayaraya tidak memberi ruang untuk kesadaran akan kodrat Illahi!

Kedua, mereka perempuan kayaraya benci dan menjijiki tugas domestik sampai ke ubun-ubun dan sumsum tulang belulang. Baiklah memang demikian faktanya. Namun sungguh pun demikian mereka lebih dari bahagia untuk memamerkan akting domestik di depan kamera dengan imbalan uang sekian juta rupiah. Dan ketika shooting selesai, ketika kamera dimatikan, maka mereka kembali menjijiki kerja domestik sampai ke ubun-ubun, padahal uang hasil akting domestiknya di dalam video iklan mereka nikmati sampai tandas tanpa sungkan sedikit pun. Mereka benci, mereka jijik kepada tugas domestik, namun mereka sama sekali tidak benci dan tidak jijik untuk menikmati uang hasil ber-akting kerja domestik di depan kamera. Apakah ini satu-satunya cara untuk memahami mental perempuan dengan lebih mudah?

Bahkan, uang banyak yang mereka peroleh dari honor berakting untuk iklan produk domestik, justru sebagiannya mereka gunakan untuk menggaji para bandom dan jongos di rumah, dan itu artinya, pesan kepada para bandom supaya bandom (plus babysitter) bekerja domestik lebih giat lagi supaya mereka para majikan benar-benar dijauhkan dari tetek-bengek urusan dapur dan tugas domestik lainnya.

Perempuan kayaraya dan iklan domestik.

Tidak ada iklan produk domestik yang menampilkan seorang pembantu sedang bekerja menyelesaikan tugas domestik, TIDAK ADA. Yang ada adalah sosok ibu maupun putri kebanggaan sedang mengerjakan tugas domestik seperti masak, mencuci baju, mencuci piring, mengepel lantai, menerika baju, dsb. Namun di dalam kenyataan, dunia perempuan menjongoskan pembantu untuk menger-jakan semua tugas domestik!!!

Perempuanlah (bukan bandom) yang ingin dipuji sebagai sosok yang selalu rajin menyelesaikan tugas domestik, penuh bakti kepada keluarga. Oleh karena itu di dalam setiap iklan, sosok ibu maupun putri kesayanganlah yang tampak sedang mengerjakan tugas domestik sebagai baktinya kepada keluarga. Padahal di dalam kehidupan nyata, perempuan LUAR BIASA bencinya kepada tugas domestik, dan melemparkan seluruh tugas domestik kepada para bandom. Jangankan sehari, sedetik pun perempuan TIDAK PERNAH DAN TIDAK SUDI untuk bekerja domestik. Sekali lagi, perempuanlah yang ingin dipuji sebagai sosok domestik yang penuh bakti kepada ayahbunda dan keluarga, NAMUN SUNGGUH PUN DEMIKIAN kaum perempuan TIADA SUDI untuk duat demikian. Perempuan hanya ingin dipujinya saja, namun tidak ingin keringatnya. Definisi perempuan sudah mencapai finalnya.

Seharusnya, seluruh warga dunia memberi pujian setinggi langit kepada para bandom, karena sebenarnya para bandomlah yang bekerja mati-matian untuk menyamankan rumah para perempuan, sehingga para perempuan makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, butuh tinggal suruh. Namun dunia perempuan TIADA IZINKAN hal tersebut. Perempuan tidak akan biarkan dunia memberi pujian setinggi langit kepada para bandom, karena bandom adalah bandom, mahluk entah kelas keberapa. Bagi dunia perempuan, seharusnya lah warga dunia memuji perempuan, entah sebagai ibu rumahtangga maupun sebagai putri kesayangan, karena perempuanlah yang bekerja di rumah menyelesaikan seluruh tugas domestik, padahal semuanya adalah NOLBESAR, karena bandomlah yang pasang badan di lini domestik.

Seharusnya ada konsistensi di sini. Kalau di kehidupan nyata perempuan benci dan jijik terhadap tugas domestik, maka seharusnya mereka juga jijik dan pantang untuk berakting di iklan produk domestik. Kebalikannya, kalau di dalam iklan produk domestik perempuan tampak (atau menampakkan) begitu bahagia menunaikan tugas domestik, maka seharusnya kebahagiaan tersebut ter-refleksi di kehidupan nyata mereka. Namun faktanya tidaklah demikian: murni berbanding terbalik. Di dalam iklan produk domestik, mereka menjual kepura-puraan (pura-pura bahagia, pura-pura tulus, pura-pura setia dsb), dan untuk kepura-puraan itu mereka mendapat banyak uang, dan kemudian uang itu mereka nikmati habis sampai tandas tidak bersisa sedikit pun.

Kalau mereka benci dan jijik tugas domestik, dan untuk itu mereka rekrut bandom, maka seharusnya mereka utus juga bandom untuk ber-akting di iklan produk domestik. Dengan kata lain, seharusnya dunia perempuan memprotes semua iklan produk domestik yang menampilkan para nyonya yang sedang bekerja domestik, dan menuntut agen iklan domestik untuk hanya menampilkan para bandom yang sedang bekerja domestik, di iklan besutan mereka.

Mereka gengsi, benci dan jijik terhadap tugas domestik di kehidupan nyata, namun mereka tidak keberatan sedikit pun melihat iklan yang menampilkan para nyonya dan putri kesayangan sedang bekerja domestik. Konsistensi tampaknya merupakan kata pertama yang mereka tidak pernah fahami di dalam kamus mereka.

Objektivitas.

Bangsa perempuan, kalau sudah kayaraya, maka pantang baginya untuk menunaikan tugas domestik; jijik baginya mendomestik, gengsi baginya mendomestik: rendah baginya mendomestik. Jangankan kayaraya, kaya sedikit saja, mempunyai uang kelebihan sedikit saja, sudah bernafsu untuk mengambil pembantu.

Lihatlah kompleks perumahan mewah nan elit ….. bukankah pada setiap rumah nan mewah terdapat pembantu, dua atau tiga atau empat? Itu belum lagi babysitter untuk momong sang buyung. Tidak usah rumah mewah di kompleks perumahan elit, rumah sedikit mentereng saja di tengah perkampungan sudah dipasangi jasa pembantu.

Kenafsuan perempuan kayaraya untuk dilayani bandom, itu pun sudah sejak jaman dahulu kala, bahkan sejak jaman para Nabi, sejak jaman Firaun sekali pun. Bukankah istri para Firaun mempunyai pelayan? Dan bukankah pelayan istana di jaman sekarang disebut pembantu rumahtangga? Lihatlah aneka dongeng anak-anak yang istana-sentris, maka bukankah setiap dongeng selalu dihiasi kehadiran dayang-dayang istana, sementara dayang istana itulah yang jaman sekarang disebut pembantu rumahtangga?

Artinya, adalah mutlak dan merupakan hukum alam (hukum alam nan keji) di mana perempuan kalau kayaraya pasti mengambil pembantu, karena kelimpahan materi membuat mereka menjadi jijik dan memandang hina kodrat domestik.

Paparan di atas yang mengisahkan mentalitas perempuan berkaitan iklan produk domestik di dalam kerangka kebencian mereka terhadap tugas domestik, sungguh berdasar pada fakta-fakta keseharian nan tampak di depan mata setiap umat manusia. Pengisahan mental perempuan dalam paparan ini sama sekali bukan berdasar pada syak wasangka terhadap kaum perempuan, melainkan benar-benar berpijak pada realitas kehidupan.

  • Teramat sulit untuk membantah bahwa perumahan elit selalu dilengkapi tenaga pembantu, ……
  • Teramat sulit untuk membantah bahwa perempuan kaya selalu merekrut pembantu, ……
  • Dan sulit untuk membantah bahwa artis-artis perempuan cantik yang notabene kayaraya, yang selalu menjadi model iklan produk domestik, mempunyai beberapa pembantu di rumah, dan bahwa mereka tidak pernah tahu-menahu soal tetek-bengek perkara domestik.
  • Dan lebih dari itu, sulit untuk membantah fakta bahwa seluruh perempuan karir, apalagi nan sukses dengan karir mereka, mempekerjakan pembantu untuk urusan domestik.

Penutup.

Apakah bisa diharapkan, datangnya suatu pengakuan maupun kesaksian, bahwa ada seorang artis perempuan nan cantik, nan kayaraya, yang menjadi model iklan produk domestik, justru perempuan ini di rumahnya dia sendiri yang melakukan semua tugas domestik, seperti mengepel, mencuci baju hingga diterika, memasak, mencuci piring, membersihkan kamar dan rumah, kemudian merapikan meja makan dsb ….?? Diragukan.

Perempuan sulit untuk dapat memahami kodrat yang telah Allah Swt tetapkan atas mereka, yaitu kodrat domestik. Namun sungguh pun demikian tampaknya begitu mudah bagi perempuan untuk melihat perempuan lain, yaitu para pembantu, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik di rumah mereka, termasuk para babysitter untuk momong anak dan membersihkan cirit sang buyung dari hari ke hari. Dan bagi perempuan yang kayaraya, tampaknya jauh lebih mudah untuk menghianati cinta ayahbunda, cinta para suami dan cinta keluarga atas mereka. Kaum perempuan menghianati cintakasih yang mereka dapatkan dari keluarga, dengan cara berpantang untuk melayani ayahbunda dan keluarga di dapur dan di ruang makan. Mereka inginkan cinta dari ayahbunda, cinta dari seluruh keluarga, namun mereka tidak ingin melayani sendiri ayahbunda dan keluarga.

Uniknya, ketika mereka ditawari untuk berakting bagi sebuah iklan produk domestik, mereka tampak begitu antusias, dan segera mereka berakting di depan kamera sedang berbahagia mengepel lantai, padahal sebenarnya mereka amat benci pekerjaan mengepel lantai, sehingga untuk itu mereka pekerjakan bandom untuk mengepel lantai.

Melalui tangan-tangan para bandom dan babysitter yang tidak pernah berhenti bekerja di rumah nan mewah, lifestyle perempuan kayaraya ini ditulis kata per kata, untuk dapat merasakan lelah dan letih para pembantu dan babysitter tersebut …. Karena lelah dan letih para pembantu dan babysitter selalu berarti kebencian berlipat ganda dari kaum perempuan kayaraya  terhadap tugas domestik.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Silahkan lanjut membaca artikel terkait:

  1. Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam
  2. Anomali Perempuan Di Tengah Hukum Alam
  3. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sebuah Paradox
  4. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sejak Jaman Purba
  5. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Model Iklan
  6. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Exodus Ke Hotel

Pembantu Dan Ironi Keperempuanan- Sejak Jaman Purba

dayang_istana

Raja Api dan Putri Sulita

Cerita Rakyat dari Bengkulu,

Pada zaman dahulu kala, di suatu negeri tersebutlah seorang raja bernama Raja Api. Raja Api ini tinggal di istana yang sangat indah. Hidupnya sangat senang karena negerinya aman, makmur, dan sentosa. Di setiap halaman istananya terdapat pengawal bersenjata lengkap.

Tetapi, anehnya, di istana itu tidak tampak seorang wanita pun. Semuanya laki-laki, kecuali permaisuri yang sedang hamil tua dan PARA DAYANG.

Hewan yang amat disenangi oleh Raja adalah seekor burung gagak buta. Raja menyenangi-nya karena burung gagak itu sangat setia, jujur, dan pandai berbicara.

Pada suatu hari, berkatalah Raja Api kepada permaisurinya yang bernama Putri Hijau, “Permaisuriku tercinta, aku akan berangkat ke luar kota melaksanakan kunjungan kerja. Jika engkau sudi, ada tiga hal yang aku minta kepadamu”. …… dst.

Sumber,

http://www.ceritadongenganak.com/2015/02/cerita-rakyat-dari-bengkulu-raja-api.html

annisanationlogoAnnisanation,

Semua kisah dan dongeng yang hidup di dalam budaya umat manusia, pasti bertutur seputar istana, alias istana-sentris. Dan kehidupan istana, pastilah bernuansa kemewahan dan kemakmuran, karena biar bagaimana pun keluarga dan kehidupan seorang Raja di dalam istananya identik dengan upeti dan persembahan dari rakyat, belum lagi pajak yang diambil hulubalang istana dari segala pelabuhan dan pasar, sudah barang tentu membuat kehidupan di istana menjadi makmur dan gemah ripah loh jinawi. Istilah lainnya, keluarga tersebut merupakan keluarga kayaraya dan banyak duit, untuk bahasa sekarang.

Pada artikel terdahulu, telah dibahas bahwa pada semua keluarga kayaraya dan berduit banyak, maka kehadiran bandom, alias pembantu domestik (termasuk babysitter), merupakan komponen dasar yang menggerakkan seluruh dinamika keseharian mereka. Setiap perempuan pada setiap keluarga kayaraya TIADA (LAGI) SUDI untuk menjalani tugas domestik -termasuk momong anak, melainkan mencampakkan seluruh tugas tersebut kepada strata bandom dan babysitter. Kata kuncinya adalah: kayaraya. Dan pada artikel ini, istana Raja bukankah keluarga kayaraya, nan melimpah harta bergelimang materi?

Berbicara soal keluarga, mestilah membicarakan lifestyle sang istri, yaitu permaisuri di dalam hal ini, dan juga sang tuan putri, yang tiada lain adalah anak perempuan nya sang Raja. Dan bagaimanakah gaya kehidupan mereka, menurut semua dongeng ini?

Kalau pada jaman sekarang ini semua keluarga kayaraya pasti diintervensi peran para bandom dan babysitter –lantaran setiap perempuan keluarga kayaraya mengutuk tugas domestik, maka sebenarnya peran tersebut pada jaman dahulu dinamakan dengan istilah DAYANG ISTANA. Para Ratu, para permaisuri, dan para tuanputri, merupakan manusia yang hidup di dalam istana Raja, dan mereka tidak pernah bisa dipisahkan dari kehadiran DAYANG ISTANA. Dan sebenarnya dayang tersebut lah yang sekarang bernama PEMBANTU RUMAHTANGGA plus BABYSITTER.

Bedanya hanya satu, yaitu pada jaman dahulu HANYA KELUARGA RAJA yang dapat meng-afford jasa bandom (yaitu dayang istana), karena keluarga jelata mestilah tidak mempunyai uang lebih untuk menggaji para bandom. Sementara itu, jaman sekarang semua keluarga kayaraya mana saja tentu sudah bisa menyewa jasa bandom, bukan keluarga Raja saja, karena pada jaman sekarang aliran harta dan uang telah cair tidak berputar di kalangan istana saja.

Analisanya adalah, setiap perempuan yang menjadi anggota keluarga Raja-Raja melihat bahwa rumahtangga mereka bergelimang harta. Efek kemistrinya jelas, bahwa gelimang harta menjadikan mereka mengutuki dan menjijiki tugas dan pekerjaan domestik. Mereka enggan ke dapur, enggan mencuci baju, menjemur dan menerika, enggan mencuci piring dan menanak nasi, enggan momong dan membersihkan cirit sang buyung dsb.

Solusinya sederhana saja sebenarnya, yaitu mereka menuntut didatangkan bandom dan babysitter, yang kala itu disebut DAYANG ISTANA. Maka sudah menjadi formulasi universal di seluruh bumi, bahwa pada tataran istana para Raja, dayang merupakan komponen dasar yang menggerakan kehidupan. Dan sementara itu, para Ratu, para permaisuri, dan para tuanputri, hanya asyik bersolek, menikmati hari dan taman bunga nan indah, bersama hewan kesayangan …. Sementara untuk urusan makan sang Raja, ayah sang Raja, urusan cirit sang cucu, kesemua itu sudah ditangani para dayang istana, atau bandom untuk istilah jaman sekarang.

Tidak pernah tersebut di dalam dongeng mana pun, di mana seorang permaisuri maupun seorang Ratu maupun seorang tuanputri, dikisahkan selalu rajin ke dapur saban hari untuk memasak makanan kesukaan ayahanda, atau dikisahkan selalu mencuci baju ibunda di belakang istana. Tidak pernah suatu dongeng mengisahkan istana Raja yang hidup tanpa kehadiran dayang istana. Tidak pernah. Kebalikannya, dongeng hanya mempersembahkan kisah di mana sang permaisuri dan tuanputri selalu dilayani dengan penuh cinta oleh dayang istana yang terampil nan setia penuh hormat. Itu menandakan bahwa pada intinya semua perempuan pada segala jaman membenci dan mengutuki tugas domestik. Dan hal tersebut akan terlihat kalau mereka hidup berkelimpahan harta. Kebalikannnya, kalau seorang perempuan hidup di tengah keluarga morat marit, maka tampaklah seolah mereka tulus bekerja di dapur dan momong anak, seolah mereka sadar bahwa tugas domestik merupakan titah Illahi yang sangat mulia.

Kembali kepada bagian teratas artikel ini yang mecuplik dongeng dari daerah Bengkulu. Pada dongeng tersebut jelas terukir kata DAYANG, yang membuktikan bahwa pada kehidupan istana, alias keluarga kayaraya, setiap perempuan enggan dan membenci dapur dan sumur, alih-alih mereka menuntut didatangkan bandom, yang pada tataran dongeng bandom tersebut dinamakan dayang istana.

Kesimpulan.

Perempuan, pada segala jaman, pada segala suku, pada segala agama, pada segala strata, pada segala ideologi politik, pada segala tingkat pendidikan, merupakan spesies alami yang membenci dan mengutuki kodrat domestik: mereka menjijiki pekerjaan rumah termasuk momong anak, dan memandang pekerjaan domestik sebagai suatu hal yang rendah dan memalukan. Dan sebenarnya pada kenyataannya tidak ada satu suku maupun agama maupun seorang laki-laki yang memandang rendah kepada perempuan yang rajin beraktivitas domestik. Subjektivitas perempuan-lah yang berpandangan bahwa pekerjaan dapur dan domestik merupakan kehinaan dan kerendahan, sekaligus ketertinggalan. Mereka secara alami berkonflik dengan kodrat domestik, dan untuk itu mereka mengusung satu-satunya solusi, yaitu mendatangkan bandom termasuk babyistter. Pada masa dahulu, bandom ini disebut DAYANG ISTANA.

Dengan banyaknya dongeng istana-sentris purba yang selalu melibatkan DAYANG ISTANA, semakin membuktikan bahwa pada segala jaman perempuan yang diberdayakan, yaitu perempuan yang diberdayakan seorang ekonomi, sudah pada puncaknya untuk memusuhi dan mengutuki tugas domestik, sekali dan untuk selama-lamanya. Mereka berapi-api di dalam menyatakan cinta kepada para kekasih: ayah-bunda, suami, anak, dan keluarga, namun sungguh pun demikian mereka ANTI berkorban untuk para kekasih di dapur, mereka enggan untuk berbakti dan melayani orang kesayangan mereka, dan mereka enggan untuk momong bayi-bayi mereka sendiri. Dan justru mereka sendirilah (kaum perempuan yang kayaraya ini) yang menuntut untuk dilayani, yaitu oleh para bandom aka DAYANG ISTANA. Dengan kata lain, mereka enggan melayani ayahbunda dan anak-anak terkasih, justru mereka sendirilah yang menuntut untuk dilayani: makan sudah tersedia, baju bersih sudah tersedia, ranjang rapi sudah tersedia, kopi hangat sudah tersedia; dan keseluruhan tersebut merupakan hasil kerja para bandom aka DAYANG ISTANA.

Perempuan mempunyai permusuhan abadi melawan kodrat domestik hingga kiamat, dan permusuhan tersebut menemui bentuknya pada kehidupan yang berkelimpahan materi. Intinya, perempuan dari keluarga miskin tampak begitu tulus bekerja di dapur dan juga membersihkan cirit buyung, dan ketulusan tersebut hanya bisa diakhiri jika kehidupan memberi mereka kelapangan materi.

……… Dari semua mahluk Illahi, ternyata hanya kaum perempuanlah yang BEGITU BERANI melawan dan memberontaki kodrat yang Illahi tetapkan atas mereka, yaitu kodrat domestik. Pun kalau mereka jalankan kodrat domestik itu (seperti memasak, momong anak, mencuci baju dsb), maka mereka jalankan kodrat tersebut dengan penuh keterpaksaan, yaitu hanya karena ayah dan suami mereka miskin dan tidak berduit banyak. Dan kalau suami atau keluarga mereka telah berduit banyak, praktis bandom-lah yang mereka tuntut, karena mereka enggan bekerja di dapur untuk memasak dan kemudian mencuci baju, termasuk momong anak dan menceboki cirit si buyung. Ya, perempuan itulah dia.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Silahkan lanjut membaca artikel terkait:

  1. Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam
  2. Anomali Perempuan Di Tengah Hukum Alam
  3. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sebuah Paradox
  4. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sejak Jaman Purba
  5. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Model Iklan
  6. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Exodus Ke Hotel

Pembantu Dan Ironi Keperempuanan Sebuah Paradox

paradox

Alkisah, terdapat sebuah keluarga sederhana yang menempati rumah sederhana di pinggir kota. Sang suami bekerja sebagai tenaga kebersihan sebuah kantor mentereng di tengah kota, sementara sang istri hanyalah wanita rumahan. Aktivitas sang istri di rumah tidak jauh dari dapur, sumur, tempat tidur, tempat jemur dan pupur. Dengan kata lain, sang istri begitu rajin dan telaten menjalani tugasnya sebagai istri, yaitu memasak, mencuci baju, menjemur dan menerika baju, membesarkan anak dan seabreg pekerjaan dapur. Tampak sekali sang istri begitu tulus dan sabar di dalam menjalankan tugasnya sebagai istri, wanita dan ibu dari anak-anaknya.

Gaji sang suami, tidak sampai Rp. 3 juta sebulan, paling tinggi yang ia peroleh adalah Rp. 2,6 juta. Uang sebesar itu tentunya ‘ngepres’ untuk warga yang hidup di Jakarta, karena uang segitu harus digunakan untuk sekolah anak, bayar listrik, beli beras, minyak goreng, uang les tambahan untuk sang anak, buku sekolah, seragam sekolah, belanja dapur; dan terakhir biaya transportasi anak dan sang suami ke sekolah dan tempat kerja.

Singkat kata, dengan gaji sang suami yang ngepres, sang istri hidup cukup berbahagia, dengan senantiasa taat kepada tugasnya sebagai seorang wanita. Maksudnya adalah, tidak ada sedikit pun sang istri mengeluh kelelahan, atau sakit pinggang, atau bosan dengan tugasnya, atau apalah. Intinya, sang istri menjalani tugas dan kodratnya secara bersahaja.

Namun suatu saat, tibalah rejeki nomplok: sang suami di tempat kerjanya mendapat promosi jabatan. Ia ditempakan sebagai staff administrasi, dengan gaji hampir Rp. 6 juta. Tidak sampai 6 juta, namun uang segitu sudah lebih dari cukup untuk hidup berkecukupan, bahkan berkelebihan. Sudah dapat dikatakan, bahwa keluarga tersebut kini telah menjadi keluarga kaya, atau keluarga berada.

Hal indah tersebut  tentu saja langsung dikabarkan kepada istrinya. Alangkah gembira sang istri mendengar berita tersebut, bahwa kini suaminya telah bergaji besar, pun telah menjadi staff kantor, bukan lagi sebagai jongos rendahan. Setiap bulan selalu ada saja uang kelebihan dari gajinya, minimal Rp. 3 juta menjadi uang nganggur di kamar tidur.

Menyadari dan selalu mengalami bahwa setiap bulan di kamar tidurnya ada uang nganggur di dalam jumlah yang tidak sedikit, tentunya hal tersebut membawa perubahan psikologis laten kepada keluarga tersebut. Dan perubahan apa yang paling kentara yang akan disajikan pada paparan ini?

Pada bulan ketiga sejak suami naik gaji menjadi Rp. 6 jutaan, sang istri mulai merasakan satu kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Ya, sang istri meminta didatangkan pembantu rumahtangga, yang akan bertugas menyelesaikan seluruh tugas rumah: memasak, cuci mencuci perlengkapan makan dan dapur, mencuci, menjemur, menerika baju, mengepel lantai, membersihkan kamar tidur suami dan anak, merapikan rumah, menjaga kebersihan perabotan rumah, mengantar anak pulang pergi sekolah, menyuapi makan sang anak, dsb.

Alasan sang istri yang ingin mendatangkan pembantu adalah, bahwa sang istri lelah bekerja di rumah, bahwa pekerjaan di rumah begitu banyak, bahwa badan sang istri telah mulai sakit-sakit, dsb. Segala macam alasan ia kemukakan untuk mendatangkan pembantu. Intinya, ia tidak ingin lagi bekerja capek-capek di rumah, dan ingin semua pekerjaan rumah diserahkan kepada pembantu, sehingga dirinya bisa berleha-leha saja di depan tivi, atau ngobrol antah berantah dengan tetangga.

Bagaimana  reaksi sang suami? Yeah mau bagaimana lagi? Namanya juga suami sayang istri, dan toh uang juga ada. Maka direkrutlah pembantu rumahtangga, dengan gaji sebulan Rp. 1 juta, all-in!

Intinya, hanya karena ada uang lebih, karena ada kelebihan, maka roh seorang wanita secara alami membenci kodrat domestik. Ketika sang suami masih bergaji di bawah 3 juta, terbukti bahwa sang istri tidak mengeluh sedikit pun saat menjalankan tugas domestik, tidak capek, tidak sakit-sakit, dsb. Namun ketika sang  suami bergaji besar, tiba-tiba sang istri merasa capek-capek dan sakit-sakit, sehingga minta didatangkan pembantu. Hanya karena ada uang lebih. Hanya karena ada kemakmuran, berpalinglah roh setiap wanita dari kodrat domestik.

Pada level ini, salahkah kalau dikatakan, bahwa tidak ada ketulusan sedikit pun pada jiwa setiap wanita? Mungkin kita melihat banyak istri dan wanita yang setia dengan tugas rumahnya, ketika sang suami di tempat kerja banting tulang cari makan. Namun ingatlah, bahwa kesetiaan wanita dengan tugas domestiknya itu adalah SEMU DAN FATAMORGANA, karena hal itu HANYA LANTARAN suami bergaji kecil, alias tidak besar. Dan bagaimana kalau seorang wanita mempunyai suami yang bergaji besar? Yap, jawabannya mudah: tentu di rumahnya telah bercokol banyak pembantu, karena sang istri TIADA (lagi) SUDI untuk bekerja domestik, lantaran uang di tangan melimpah. Itulah satu-satunya rumus yang dipersembahkan kaum wanita di muka bumi, sepanjang abad dan sepanjang bumi berputar: tiada ketulusan bagi seorang wanita; mereka rajin bekerja di dapur, ternyata hanya karena ekonomi mereka minim, bukan karena mereka sadar bahwa bekerja di dapur merupakan perintah agama -dan pekerjaan mulia untuk keluarga dan anak-anak.

00-Pembantu dan ironi keperempuanan01

Kembali kepada sang suami yang telah bergaji besar ini. Lantaran sang suami telah bergaji besar, maka istrinya menuntut ada pembantu di rumahnya, lantaran istri sudah enggan dengan kodrat domestik. Dan itu artinya sang suami tidak akan lagi bisa menikmati masakan istrinya, karena semua masakan di rumahnya dimasak pembantu. Sang suami tidak lagi bisa menikmati baju licin hasil setrikaan istri, karena semua bajunya kini disetrika pembantu. Sang suami tidak bisa lagi menikmati kopi seduhan istri, karena istri belum-belum sudah menyuruh pembantu untuk membuat kopi untuk bapak. Sementara itu, istri asyik-asyik saja nonton tivi sepanjang waktu, atau brosing internet sambil chatting. Anak pun sudah diurus babyisitter, jadi bagi sang istri buat apalagi susah-susah?

Dengan kata lain, di saat awal sang suami hidupnya adalah bahagia, karena ia selalu makan enak masakan istri, dan mengenakan baju wangi hasil cucian istri. Namun per tanggal ia kabarkan kepada istrinya bahwa gajinya telah membesar, maka sang suami tidak lagi menikmati itu semua, karena semua yang ada di rumahnya adalah hasil pekerjaan pembantu.

Apakah sang suami harus merahasiakan saja jumlah gajinya yang telah meningkat dari sang istri, agar sang istri tidak berpaling minta pembantu, dan dengan demikian agar sang suami tetap bisa menikmati makan enak masakan sang istri? ….. karena kalau sang suami memberitahu istri bahwa gajinya telah meningkat, maka pasti bulan depan sang istri menuntut pembantu, dan itu artinya sang istri tidak lagi sudi masak di dapur, karena dapur sudah menjadi tempat kerjanya pembantu. Dilema berat tentunya bagi sang suami.

00-Pembantu dan ironi keperempuanan02

Buka mata nikmati fakta.

Lingkungan dan komplek perumahan mewah hanya memperlihatkan, bahwa pembantu domestik, alias ‘bandom’ -merupakan komponen primer yang berperan di dalam dinamika kehidupan keseharian. Dapat dikatakan, bahwa semua wanita yang menjadi tuan dan majikan di setiap rumah mewah, merupakan wanita yang kesejatiannya benar-benar membenci dan mengutuk kodrat domestik. Mereka, karena kekayaan dan harta melimpah yang mereka cecap, menjadi wanita-wanita yang berpantang kepada pekerjaan rumah: dapur, sumur, tempat jemur, tempat tidur dan pupur. Kekayaanlah, dan harta nan melimpahlah, yang membuat mereka mengutuki dan menjijiki semua nuansa domestik. Tanpa pandang umur, tanpa pandang suku, etnis, agama, maupun latar pendidikan, mereka semua mencampakkan seluruh tugas domestik kepada para bandom dan babysitter, dan dengan adanya bandom bercokol di rumah, maka mereka sudah tidak tahu menahu lagi soal tetek-bengek di dapur, momong buyung dan bersih-bersih rumah. Itulah wanita.

Apakah ada SATU SAJA rumah mewah, yang tidak mempunyai bandom dan babysitter? Apakah ada satu saja keluarga kayaraya yang tidak mempekerjakan bandom dan babysitter di rumah mereka? Lihatlah seluruh kompleks perumahan mewah yang banyak tersebar khususnya di Jakarta ….. bukankah bandom dan babysitter menjadi komponen primer yang paling berperan pada kehidupan di sana? Lantas kemana perginya majikan-majikan perempuan di setiap rumah mewah tersebut? Apa saja kerja mereka? Yap, banyak sekali pekerjaan mereka, namun intinya BUKAN pekerjaan domestik, karena pekerjaan domestik telah dilemparkan kepada para bandom dan babysitter!!

Namun kebalikannya, lihatlah zona perkampungan yang warganya hidup paspasan, melarat atau miskin … apakah bandom dan babysitter banyak terlihat di sana? Tidak ada. Yang terlihat adalah bahwa setiap perempuan, setiap istiri, setiap ibu,  di perkampungan tersebut aktif dan rajin menunaikan tugas domestik tanpa keluh kesah. Pertanyaannya adalah, mengapa?

  • Apakah karena mereka sadar bahwa pekerjaan domestik merupakan pekerjaan mulia yang berpahala besar di sisi Illahi?
  • Apakah mereka kaum perempuan sangat mencintai kodrat domestik?
  • Apakah karena mereka begitu mencintai keluarga sehingga mereka ingin bekerja nyata di dapur untuk membahagiakan keluarga?
  • Atau apakah karena mereka bencikan profesi dan oknum pembantu rumahtangga, sehingga mereka enggan mempekerjakan pembantu?

Bukan. Bukan itu jawabannya. Lantas karena apa? Yap, karena suami dan kehidupan mereka tidak mempunyai uang lebih, karena hidup mereka tidak berkelimpahan harta, maka dari itu semua perempuan tidak terpikirkan untuk menyewa bandom dan babysitter. Karena toh uang tidak ada, mau menggaji bandom pakai apa? Untuk makan saja morat-marit, maka apalagi buat menggaji bandom dan babysitter?

Memang terlihat bahwa pada zona perkampungan melarat ini setiap wanita, istri dan ibu begitu tulus berbakti dan bekerja di dapur untuk anak dan keluarga. Namun ingatlah, tiada ketulusan dari seorang perempuan, dan bahwa aktifnya mereka bekerja domestik, hanya lantaran suami mereka tidak mempunyai uang berkelebihan. Dan kalau berkelebihan? Yap, bandom-lah yang tercetus di dalam benak fikiran mereka. Perempuan aktif dan rajin bekerja di dapur dan seluruh tetekbengek domestik, ADALAH TERPAKSA, karena suami dan keluarga mereka miskin melarat tidak punya uang untuk sewa bandom dan babysitter. Itu jelas.

Maksudnya begini, kalau wanita setia dan taat bekerja domestik untuk anak dan keluarga, TANPA INTERVENSI BANDOM dan babysitter, baik berlatar ekonomi paspasan maupun ekonomi kayaraya, maka barulah semua dapat berkata bahwa kaum wanita merupakan mahluk yang penuh ketulusan untuk berbakti kepada anak dan keluarga. Namun faktanya tidaklah secemerlang demikian. Kalau ekonomi keluarga morat-marit, para perempuan setia menunaikan tugas domestik (alias terpaksa), dan kalau ekonomi keluarga kayaraya, maka praktis para perempuan menuntut bandom, dan mereka sendiri sudah tidak mau tahu lagi perkara tetekbengek urusan dapur dan pekerjaan rumah lainnya, termasuk momong anak.

Ini adalah fakta kehidupan yang membuktikan bahwa TIADA KESETIAAN kaum perempuan atas tugas domestik. Hal ini mengingatkan umat kepada satu Alhadis Nabi Saw yang paling terkenal, yaitu …..

Sebagian besar penghuni Neraka adalah kaum perempuan.

Illahi mempunyai begitu banyak mahluk, dan keseluruhan mahluk tersebut PATUH DAN TAAT kepada semua kodrat yang Illahi gariskan atas mereka. Tidak ada satu pun mahluk Illahi yang melawan dan memberontaki kodrat Illahi atas mereka, melainkan mereka amalkan kodrat mereka penuh tawakal dan berserah diri kepada Illahi. Namun kaum perempuan?

Dari semua mahluk Illahi, ternyata hanya kaum perempuanlah yang BEGITU BERANI melawan dan memberontaki kodrat yang Illahi tetapkan atas mereka, yaitu kodrat domestik. Pun kalau mereka jalankan kodrat domestik itu (seperti memasak, momong anak, mencuci baju dsb), maka mereka jalankan kodrat tersebut dengan penuh keterpaksaan, yaitu hanya karena ayah dan suami mereka miskin dan tidak berduit banyak. Dan kalau suami atau keluarga mereka telah berduit banyak, praktis bandom-lah yang mereka tuntut, karena mereka enggan bekerja di dapur untuk memasak dan kemudian mencuci baju, termasuk momong anak dan menceboki cirit si buyung. Ya, perempuan itulah dia.

Ironis, perempuan yang dikenal sebagai mahluk lembut, lemah, penuh perasaan, penuh cinta -apalagi kepada anak-anak mereka sendiri, ternyata merupakan mahluk nomor wahid di dalam hal mengutuki kodrat domestik. Begitu paradox apa yang diperlihatkan kaum perempuan, antara apa yang ada di dalam fikiran -dengan apa yang menjadi fakta kehidupan.

Begitu banyak terlihat perempuan muda nan mentereng yang berjalan di sisi kereta bayi, sementara kereta bayi tersebut didorong oleh seorang babysitter, sementara bayi yang ada di dalam kereta bayi itu adalah bayi nya sang perempuan muda tadi. Betapa sang perempuan ini TIADA SUDI menggendong dan mengurus bayinya sendiri, justru menyuruh orang lain yaitu babysitter untuk mengurus bayi tersebut, sementara sang ibu, yaitu perempuan muda tadi -hanya ingin asyik berjalan melenggang dan menikmati hari bersama gadget-nya, di taman nan hijau. Ohh perempuan …… kepada bayi nya sendiri perempuan tetap tidak bersedia untuk merawat? Tiada bersedia mengurus? Tiada bersedia mendorong kereta bayinya? Tiada sudi mengganti popoknya? Itukah yang dinamakan ibu sejati, nan penuh cinta kasih kepada darah dagingnya sendiri nan suci dan belum punya dosa? Itukah yang dinamakan perempuan? Itukah Emansipasi Wanita?

Bahkan suami di rumah pun untuk urusan makan telah diurus para pembantu. Bahkan suami di rumah untuk urusan baju telah dicuci dan diterika pembantu. Dan untuk urusan minum kopi, pun telah ada pembantu. Duhai istri …….. duhai perempuan ……

Itulah fakta keseharian yang terjadi pada segmen masyarakat berduit banyak, alias kaya raya; fakta mengenai keperempuanan, sepanjang masa hingga kiamat kelak.

Wallahu a’lam bishawab.

Note,

Silahkan lanjut membaca artikel terkait:

  1. Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam
  2. Anomali Perempuan Di Tengah Hukum Alam
  3. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sebuah Paradox
  4. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Sejak Jaman Purba
  5. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Model Iklan
  6. Pembantu Dan Ironi Keperempuanan: Exodus Ke Hotel

Ketika Wanita Berhaji Tanpa Muhrim

iringan

3098: Seorang Wanita Tidak Boleh Menunaikan Ibadah Haji Kecuali Dengan Mahram

Tanya: Apakan boleh seorang wanita menunaikan haji atau umroh bersama rombongan tertentu, atau sekelompok wanita, jika tidak menemukan mahram yang bisa menemaninya?

Published Date: 2014-01-15

Alhamdulillah

Pertama:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini sejak dahulu sampai sekarang. Sebagian mereka mengatakan: Dibolehkan seorang wanita menunaikan haji tanpa mahram, jika perjalanannya aman, dan bersama teman-teman wanitanya yang dapat dipercaya.

Ulama yang lain mengatakan: Tidak boleh seorang wanita menunaikan haji kecuali dengan mahram yang menjaganya, meskipun ia berangkat dengan teman-temannya yang dapat dipercaya. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Mereka berdalil dengan beberapa hal di bawah ini:

Dari Ibnu Abbas ra- berkata: Rasulullah saw- bersabda:

Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram, dan tidak boleh mempersilahkan tamu laki-laki kecuali ia bersama mahramnya. Seseorang berkata: Ya Rasulullah, saya ingin bergabung dengan pasukan tertentu, sedang istri saya ingin menunaikan ibadah haji. Rasulullah bersabda: Pergilah bersamanya (HR. Bukhori 1763 dan Muslim 1341). 

Dari Abu Hurairah ra- berkata: Rasulullah saw- bersabda:

Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir -untuk bepergian selama sehari semalam perjalanan kecuali dengan mahram. (HR. Bukhori 1038 dan Muslim 133) dan dalam riwayat Bukhori 1139 dan Muslim 827 dari hadits abu Said tertera: selama dua hari perjalanan.

Ibnu Hajar berkata:

Batasannya pada hadits Abu Said dalam sabdanya: selama dua hari perjalanan. Dalam hadits Abu Hurairah: selama satu hari satu malam perjalanan, dan ada beberapa riwayat yang lain. Seperti hadits Ibnu Umar: selama tiga hari perjalanan.

Dalam masalah ini kebanyakan ulama menjadikan beberapa riwayat di atas muthlak (umum) karena perbedaan batasan masing-masing.

Imam Nawawi berkata:

Maksud dari batasan dalam riwayat tersebut bukan jumlah hari perjalanannya, akan tetapi semua perjalanan yang dianggap safar, maka wanita dilarang keluar kecuali ditemani mahram. Batasan hari di atas adalah realita yang terjadi pada masa itu, bukan difahami minimal perjalanan harus selama itu. Ibnul Munir berkata: Terjadi perbedaan tersebut pada daerah yang disesuaikan dengan para penanya. (Fathul Baari: 4/75).

Kedua:

Beberapa dalil yang menyatakan tidak wajib berangkat dengan mahram adalah sebagai berikut:

Dari Adiy bin Hatim ra- berkata: Ketika saya bersama Rasulullah saw-, tiba-tiba datang seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah tentang kefakirannya, dan seorang lagi tentang kehabisan bekalnya. Beliau bersabda: Ya Adiy, apakah kamu melihat al Hairah?, saya berkata: saya tidak melihatnya, dan telah diinformasikan. Beliau bersabda: Apabila kamu panjang umur, maka kamu akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al hairah sampai thawaf di Kabah, ia tidak takut apapun kecuali Allah. Adiy berkata: Lalu saya melihat seorang wanita berangkat dari al Haira sampai thawwaf di sekeliling Kabah, ia tidak takut kejenuhan (HR. Bukhori: 3400).

Sanggahan dari dalil di atas bahwa itu merupakan berita dari Rasulullah saw- dimana peristiwa tersebut akan terjadi. Yang demikian itu tidak menandakan akan boleh atau tidaknya sesuatu, sesuai dengan dalil-dalil syariah. Sebagaimana berita Rasulullah saw- tentang tersebarnya minuman keras, zina dan pembunuhan sebelum datangnya kiamat, padahal semua itu haram termasuk dosa besar.

Maksud dari hadits di atas adalah: bahwa akan tersebarnya rasa aman, sampai sebagian wanita berani melakukan perjalanan sendirian tanpa mahram. Bukan berarti seorang wanita boleh bepergian tanpa mahram.

Imam Nawawi rahimahullah- berkata: Tidak semua apa yang dikabarkan oleh Rasulullah saw- tentang tanda-tanda hari kiamat itu haram dan tercela. Seperti penggembala berlomba meninggikan bangunan, melimpahnya harta, lima puluh wanita memiliki satu tuan, ini semua bisa dipastikan tidak haram. Akan tetapi semua ini tanda-tanda saja, dan tanda itu terkadang baik, buruk, mubah, haram, wajib, dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Hendaknya diketahui bahwa perbedaan para ulama tentang mahram menjadi syarat wajibnya wanita menunaikan haji, hanya pada haji yang wajib. Adapun haji yang sunnah semua ulama sepakat seorang wanita tidak boleh berangkat kecuali dengan suami atau mahramnya. (Mausuah Fiqhiyah: 17/36)

Ulama Lajnah Daimah mengatakan: Wanita yang tidak memiliki mahram, belum wajib menunaikan ibadah haji; karena mahram bagi wanita bagian dari bekal dan kemampuan dalam melakukan perjalanan, kemampuan ini menjadi syarat wajibnya haji, Allah Ta’ala berfirman:

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran: 97)

Jadi, tidak boleh seorang wanita bepergian baik untuk haji atau yang lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, inilah pendapat al Hasan, an Nakhoi, Ahmad, Ishak, Ibnul Mundzir, dan para pemikir. Pendapat inilah yang benar, sesuai dengan ayat di atas dan beberapa hadits yang melarang wanita bepergian kecuali dengan suami atau mahramnya.

Imam Malik, Syafii dan Auzai berpendapat sebaliknya, dengan memberikan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah / alasan. Ibnul Mundzir berkata: Mereka meninggalkan pendapat dengan redaksi hadits, setiap mereka memberikan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah.

(Fataw Lajnah Daimah: 11/90-91)

Mereka juga mengatakan:

Pendapat yang benar adalah bahwa seorang wanita tidak boleh menunaikan haji kecuali dengan suami atau mahramnya, tidak diperbolehkan juga ia berangkat bersama beberapa wanita lain yang bukan mahramnya meskipun dapat dipercaya, atau tidak boleh juga bersama bibi dari bapaknya, bibi dari ibunya, atau dengan ibunya. Jadi, harus dengan suami atau mahrmnya. Kalau tidak ada, maka ia belum wajib menunaikan ibadah haji. (Fatawa Lajnah Daimah: 11/92)

Wallahu a’lam.

Sumber, https://islamqa.info/id/3098

annisanationlogoAnnisanation,

Paparan di atas mengetengahkan penjelasan mengenai posisi wanita terhadap ibadah haji, apakah ia dapat menunaikannya sendiri, atau harus bersama mahramnya.

Secara umum, paparan ini menggariskan bahwa HARAM bagi wanita untuk berhaji, atau bahkan bepergian kemana pun, tanpa ditemani mahramnya, hal mana berdasar Alhadis yang memang juga sudah disebutkan,

  • Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram, ….
  • Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir -untuk bepergian selama sehari semalam perjalanan kecuali dengan mahram.

Kedua Alhadis  tersebut, dan juga banyak Alhadis lainnya, menggariskan bahwa kaum wanita terlarang untuk bepergian kecuali ditemani suami atau mahramnya.

Sebagai catatan, yang dimaksud dengan marham adalah, sudah tentu orang yang berlainan jenis kelamin, dan orang tersebut mempunyai hubungan darah dengan yang bersangkutan, itulah disebut MARHAM, yang artinya ‘orang yang haram’, maksudnya haram untuk dinikah. Nah karena konteksnya adalah nikah, maka otomatis mahram, atau muhrim, harus berbeda jenis kelamin.

Misalnya, bagi seorang wanita, maka muhrimnya adalah laki-laki, yang mana laki-laki tersebut haram untuk ia nikahi. Jadi, muhrim bagi si wanita adalah laki-laki yang mempunyai pertalian darah dengannya, seperti ayah kandung, abang atau adik kandung, paman kandung, anak lelaki kandung, kakek kandung, dst. Begitu juga sebaliknya, muhrim bagi seorang laki-laki adalah wanita yang mempunyai pertalian darah dengannya sehingga haram untuk dinikah.

Intinya, mahram mestilah berbeda jenis kelamin. Seorang wanita dengan wanita lainnya, tidak bisa disebut mahram, semata karena mereka berdua bersamaan jenis kelaminnya.

Makna dan tujuan.

Kemudian apakah makna dan tujuan dari ajaran Islam yang melarang kaum wanita keluar kemana pun kecuali ditemani suami atau mahram? Secara permukaan, tentunya semua orang akan berkata bahwa hukum ini semata untuk menjamin keamanan si wanita, karena wanita merupakan mahluk lemah, sehingga oleh karena itu kalau wanita berada jauh di luar rumah maka haruslah ia ditemani laki-laki mahramnya.

Sebenarnya tidaklah sedangkal itu. Terdapat pemahaman filosofi yang begitu mendalam mengenai ajaran mahram untuk menemani wanita keluar rumah ini.

Filosofi pertama.

Wanita adalah mahluk yang sejatinya adalah bagian dari seorang pria, hal ini terambil dari kisah penciptaan Nabi Adam dan Siti Hawa. Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam, dan ini berarti Siti Hawa merupakan bagian dari tubuh seorang pria yaitu Nabi Adam. Filosofi yang mendasari penciptaan ini tentunya akan berlaku untuk seterusnya. Maksudnya, untuk selamanya kaum wanita akan dianggap sebagai organ tubuh dari seorang laki-laki, apakah ayahnya, abangnya, suaminya maupun putra dewasanya. Hal ini dikukuhkan oleh suatu Alhadis,

“semua laki-laki adalah anak Adam, dan semua wanita adalah anak Siti Hawa; dan Siti Hawa itu tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam, dan tulang rusuk itu bengkok …”.

Dengan keberadaan Alhadis ini, maka untuk selamanya kaum wanita harus dianggap sebagai organ internis tubuh seorang pria. Dan sebenarnya memang demikianlah tata sosiologi umat manusia pada bangsa mana pun dan pada agama mana pun dan pada jaman mana pun. Tata sosiologi itu adalah bahwa kaum wanita akan selalu dianggap dan diperlakukan sebagai organ internis tubuh seorang pria.

Maka harus demikianlah wanita selalu diperlakukan, yaitu sebagai organ internis tubuh seorang pria. Wanita (tidak akan dan) tidak boleh lepas dan jauh dari laki-laki keluarganya. Kemana pun seorang wanita pergi, maka itu artinya ia harus selalu berada dekat laki-laki keluarganya, karena pada dasarnya ia adalah organ internis tubuh sang pria. Melihat seorang wanita pergi dan keluar rumah tanpa mahram, seperti membayangkan suatu organ keluar dari sang tubuh -kemudian organ itu berjalan-jalan kian kemari. Apakah hal tersebut logis dan etis?

Itulah sebabnya Islam mengajarkan bahwa seorang wanita harus selalu ditemani mahramnya bilamana hendak keluar rumah, apa pun tujuannya.

Filosofi kedua.

Ketika seorang wanita keluar rumah, maka tentunya harus dijelaskan dulu untuk apa tujuannya. Dan ketika tujuannya telah difahami, maka kemudian harus dibahas bahwa apakah tujuan tersebut adalah jauh lebih penting dari tugas domestiknya, khususnya tugas untuk membesarkan anak? Ingatlah, tidak ada yang penting bagi seorang wanita kecuali tugas untuk membesarkan anak-anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah, selainnya tidak.

Nah kalau ada seorang wanita keluar rumah untuk mengurus suatu urusan, maka tentunya urusan tersebut pastilah urusan sang ayah maupun sang suami jua adanya: tidak mungkin urusan tersebut merupakan urusan sang wanita secara an sich.

  • Baiklah, apakah urusan itu urusan cari duit? Maka bukankah cari duit merupakan tanggungjawab sang ayah / suami? Si wanita tersebut diam saja di rumah, karena cari duit atau cari nafkah adalah tugas dan tanggungjawab laki-laki.
  • Atau apakah urusan tersebut untuk menjenguk keluarga? Maka bukankah urusan tersebut harus ditunaikan bersama ayah /suami?
  • Atau apakah urusan tersebut untuk menagih utang? Maka bukankah urusan tersebut memang harus dikawal ayah / suami?
  • Atau apakah urusannya untuk mengurus negara, baik sebagai menteri atau Presiden dsb? Maka bukankah Islam mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih penting bagi seorang wanita selain tugas domestik khususnya untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah?
  • Atau apakah urusannya untuk menjalankan profesi sebagai dokter, guru, atau pengacara dsb? Maka bukankah Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah merupakan tanggungjawab sang ayah / suami, sehingga wanita terlarang untuk berprofesi untuk mecari uang, karir dan jabatan?
  • Dan tentunya, apakah urusannya keluar rumah untuk beribadah, seperti haji, umrah, atau sekedar salat di Masjid? Maka bukankah Alhadis telah mengajarkan bahwa sebaik tempat bagi wanita untuk shalat adalah di rumahnya, bukan di Masjid?

Mutlak, bahwa wanita saat keluar rumah harus dikawal mahram, karena tidak ada urusan seorang wanita di luar rumah, melainkan urusan yang maha penting bagi wanita adalah menunaikan seluruh tugas domestiknya di rumah, khususnya membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah, yang begitu keji dan menjijikkan. Oleh karena itu, kalau seorang wanita harus keluar rumah, maka logikanya ia harus dikawal atau bersama mahramnya.

Intinya, kalau aturan wanita keluar rumah harus dikawal suami atau mahram akan ditaati, maka runut berikutnya pasti sang wanita akan urung keluar rumah. Pertama, karena urusan domestiknya justru jauh lebih penting dari urusannya di luar rumah. Dan kedua, pasti sang suami atau mahram tidak punya waktu untuk menemani sang wanita untuk keluar rumah, karena mereka sendiri sudah sibuk mencari uang dan nafkah untuk keluarga, sementara urusan si wanita keluar rumah saja sebenarnya tidak begitu penting, karena yang terpenting baginya adalah tetap di rumah untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya.

Memang itulah tujuan Islam, yaitu dengan aturan ini, maka result-nya adalah tidak akan ada wanita yang keluar rumah, @-karena urusannya di luar rumah tidak begitu penting dibanding diam di rumah, dan @-karena suami maupun mahramnya tidak mempunyai waktu untuk menemani sang wanita keluar rumah, sehingga tercapailah tujuan dari surat Al Ahzab ayat 33.

Filosofi ketiga.

Keharusan bersama mahram bagi seorang wanita saat keluar rumah, selalu difahami sebagai faktor jaminan keamanan bagi sang wanita saat jauh dari rumah. Benarkah demikian? Separuhnya adalah memang benar demikian, namun kemudian juga harus difahami bahwa keberadaan mahram di sisi sang wanita saat keluar rumah, tentunya adalah sebagai kontrol, agar sang wanita dipastikan tidak berbuat keji di luar rumah.

Banyak wanita yang keluar rumah tanpa mahram, maka saat jauh dari rumah wanita  tersebut berani berbuat keji dan menjijikkan. Wanita tiada segan untuk menggoda suami orang, atau gemar menampakkan auratnya kepada publik. Tidak jarang wanita keluar rumah yang tujuannya hanya untuk bergunjing dan nongkrong tidak jelas. Betapa banyak wanita keluar rumah sementara tujuannya hanya untuk menampakkan tubuh dan kecantikan mereka kepada seluruh kota. Terlebih, banyak kaum wanita yang keluar rumah padahal tugas domestik di rumah sangat banyak dan menumpuk. Banyak wanita pergi keluar rumah, dan itu akibatnya mereka mencampakkan tugas membesarkan anak kepada babysitter, dan mencampakkan tugas domestik kepada para pembantu rumahtangga.

Dengan demikian, ketentuan bahwa wanita keluar rumah harus dikawal mahram, sebenarnya untuk mempertimbangkan aspek regresivitas dan juga aspek agresivitas. Regresivitas adalah bahwa wanita potensial menjadi sasaran kejahatan penjahat di luar rumah, sehingga keamanannya harus dijamin oleh mahramnya. Agresivitas adalah bahwa wanita yang keluar rumah tanpa mahram, berpotensi besar untuk berbuat keji, semisal berpacaran, atau menampakkan auratnya, atau mengganggu suami orang, atau meniatkan diri untuk memperlihatkan kecantikannya kepada publik, atau bahkan untuk meninggalkan kewajiban domestiknya di rumah.

Singkat kata, agresivitas wanita di dalam hal berbuat keji di luar rumah, harus mendapat perhatian serius dari kalangan keluarga, dan itulah sebabnya Islam memerintahkan seorang wanita harus ditemani muhrim saat keluar rumah, agar potensi agresivitasnya dalam berbuat keji di luar rumah, dapat ditangkal secara dini oleh mahramnya. Terdapat suatu Alhadis yang tidak dapat disangkal bahwa, “fitnah terbesar di dunia adalah kaum wanita”: sangat besar kemungkinannya wanita berbuat tidak pada tempatnya bilamana ia keluar rumah, maka untuk itulah sang wanita harus dikawal muhrimnya.

Kebanyakan (bahkan hampir semua) umat berfikir, bahwa kewajiban ditemani muhrim bagi wanita saat keluar rumah, adalah semata sebagai penjamin keamanan bagi sang wanita. Tidak ada satu pun yang berpandangan, bahwa kewajiban ditemani muhrim bagi wanita adalah demi mengeliminasi kekejian yang dapat diperbuat wanita tersebut di luar rumah. Itulah sebabnya, ketika banyak orang berfikir bahwa kewajiban ditemani muhrim adalah semata demi menjamin keamanan wanita, maka banyak orang jadi berfikir, bahwa kalau keamanan kota sudah terjamin, maka tidak wajib bagi wanita untuk ditemani muhrim saat keluar rumah. Inilah yang sesat! Aspek lainnya terlalaikan, yaitu bahwa wanita itu justru potensial berbuat keji di luar rumah.

Ketika suatu kota dinilai terjamin keamanannya, maka banyak wanita keluar rumah tanpa dikawal muhrim. Berikutnya kota menyaksikan banyak kekejian yang diperbuat kaum wanita di luar rumah, akhirnya menjadi gejala yang tiada tara: angka zina, sexbebas, aborsi, kondomisasi, selingkuh, anak-anak terlantar, pengangguran di kalangan pria, kumpulkebo, dsb. Itu semua dikarenakan wanita keluar rumah tanpa dikawal muhrim. Maksudnya, kalau saja setiap wanita keluar rumah dikawal suami atau mahramnya (walau pun kota terjamin aman), dipastikan segala kekejian yang diperbuat wanita tersebut tidak pernah ada, karena sang wanita selalu berada di dalam kontrol sang suami atau mahram.

Wanita bukanlah seorang Malaikat, yang kalau keluar rumah selama apa pun maka ia tidak akan pernah berbuat keji di tengah kota. Tidak. Wanita adalah manusia jua adanya, yang mempunyai potensi untuk berbuat keji dan mengerikan. Oleh karena itu kalau wanita keluar rumah, maka wajiblah keluarganya mengawalnya, agar dengan demikian sang mahram akan menjadi penghalang bagi wanita tersebut untuk berbuat yang tiada pantas dan melanggar syariah.

Intinya, bukankah seluruh tugas dan takdir wanita justru berada di rumahnya? Final sekali bahwa tidak ada urusan wanita di luar rumah, sementara kalau wanita keluar rumah, maka kekejian yang diperbuat wanita lah yang akan beranak pinak di kampung-kampung.

Inti pembahasan.

Betapa agungnya ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw ini, khususnya mengenai aturan wanita bermahram saat bepergian ini. Di satu pihak, Islam mengajarkan bahwa wanita merupakan mahluk yang tidak dapat dipercaya kalau ia berada jauh di luar rumah -sehingga ia harus dikawal oleh mahramnya ….. namun pada  pihak lain terbukti bahwa wanita yang keluar rumah tanpa mahram, secara empiris memang menunjukkan perilaku yang kontra terhadap kebajikan dan keagungan: pamer aurat, bergunjing, berkhalwat, mengganggu suami orang, menginisiasi pacaran, dsb. Semua perilaku yang kontra tersebut tentunya akan ter-eliminasi dengan sendirinya kalau saja setiap wanita itu keluar rumah dengan dikawal mahram atau suaminya.

Sekarang sampailah pada bagian inti dari paparan ini mengenai aturan bermahram bagi wanita saat keluar rumah. Di bawah ini akan dipaparkan dua aspek mengenai isu wanita keluar rumah dengan bermahram.

Pertama.

Untuk haji dan umrah saja setiap wanita harus dikawal mahramnya, maka bagaimana dengan urusan lain yang tidak begitu penting? Bagaimana dengan bekerja mencari uang, karir, jabatan, bersekolah, arisan, kondangan, dsb?

Faktanya, aturan bermahram ini banyak dilanggar kaum wanita, sehingga tampaklah jalan setiap kota dilalui banyak wanita yang berjalan tanpa mahram atau suami. Pertanyaannya adalah, mengapa hampir seluruh wanita keluar rumah tanpa mahram, yang mana itu artinya hampir seluruh wanita GIGIH melanggar syariah?

Jawabannya adalah karena (hampir) seluruh wanita TELAH DIBERDAYAKAN sehingga mereka mempunyai kekuatan psikologis untuk melawan syariah. Dengan DIBERDAYAKAN, maka kaum wanita merasa bahwa syariah tidak begitu penting, bahkan dianggap sebagai penghalang kemajuan. Tiada kepatuhan dan ketaatan pada seorang wanita kepada agama dan syariah, selama wanita tersebut DIBERDAYAKAN oleh keluarga dan lingkungannya.

Dengan DIBERDAYAKAN, kaum wanita tidak merasa takut terhadap nilai dan ancaman agama. Larangan berzina saja dilanggar banyak wanita, larangan khalwat saja dilanggar banyak wanita, larangan pamer aurat saja dilanggar banyak wanita, maka apalagi aturan pergi harus dikawal mahram? Bahkan tiada terhitung banyaknya wanita yang tega membunuh bayinya sendiri yang adalah hasil hubungan pacaran. Dan entah dalil apa yang mereka gunakan untuk melawan syariah, yang jelas melawan syariah membuat mereka nyaman, dan mereka tiada merasa kenyamanan saat mentaati syariah.

Terlalu banyak Muslimah yang berani melawan syariah dengan pergi haji maupun umrah tanpa suami maupun mahram …… dan latar belakang mereka sebagai wanita yang DIBERDAYAKAN, baik secara intelektual maupun finansial, menjadi satu-satunya faktor penyebab mereka berani membangkangi syariah di dalam hal bermahram ini.

Intinya jelas, bahwa PEMBERDAYAAN YANG DICECAP kaum wanita sejak dini, khususnya pendidikan, adalah biang keladi atas supermasif nya kaum wanita berani membangkangi syariah hal bermahram ini.

Keadaannya akan jauh berbeda jika membicarakan kaum wanita yang TIDAK beroleh PEMBERDAYAAN khususnya pendidikan sejak dini: mereka pada setiap saat khususnya saat dewasa justru akan patuh dan manut pada segala hukum syariah, khususnya mengenai aturan bersama mahram atau suami saat keluar rumah. Jiwa-jiwa dan psikologi yang sederhana lantaran tidak pernah mencecap pemberdayaan khususnya pendidikan, merupakan tempat di mana syariah diperlakukan dengan baik dan agung, sehingga dunia melihat kaum wanita ini tidak pernah melanggar syariah, dan tidak pernah keluar rumah kecuali ditemani suami atau mahram, dengan sukacita dan ketaatan. Secara khusus, mereka akan lebih cenderung tinggal di  rumah, manut dengan tugas dan kodrat domestik–khususnya untuk membesarkan anak-anak -dan menjaga kesucian tubuh dan roh mereka dari fitnah keji di luar rumah.

Satu hal yang jelas, bahwa perbedaan antara melanggar syariah dan manut syariah terletak pada aspek pemberdayaan wanita. Kalau seorang wanita diberdayakan sejak dini khususnya di dalam hal pendidikan, maka kelak ia akan menjadi individu yang berani melanggar syariah, yaitu keluar rumah tanpa dikawal suami atau mahram, demi bisa bebas berpacaran, atau berkompetisi kecantikan di tengah kota, atau pamer aurat, atau berbaur bebas dengan para perjaka di pasar-pasar, atau bahkan mengganggu suami orang, dsb. Dan pada satu ujungnya: mereka berani berangkat haji maupun umrah tanpa ditemani suami atau mahram, dengan berbagai dalil dan argumentasi yang sesat dan murahan.

Kebalikannya yaitu seorang wanita sejak dini TIDAK diberdayakan seperti mencecap anugrah pendidikan formal, maka kelak selamanya ia akan menjadi individu yang manut kepada syariah sehingga menjadilah ia mengagungkan syariah dan titah para Nabi, tanpa syarat. Dan lebih dari itu, ia akan menjadi individu yang lebih cenderung untuk diam di rumah untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian  tubuh dan rohnya. Untuk lebih jauh dengan masalah ini, silahkan baca “GARAM: Ilmu Pengetahuan Antara Pria Dan Wanita“.

Itulah sebabnya dewasa ini banyak ditemui jemaah wanita pergi haji maupun umrah tanpa dikawal mahram atau suami. Hal tersebut dikarenakan mereka semua adalah individu wanita yang sudah kenyang pemberdayaan, baik berupa pendidikan formal hingga setinggi-tingginya, dan juga beroleh pekerjaan sehingga mempunyai sumber uang sendiri.

Kedua.

Apabila kamu panjang umur, maka kamu akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al hairah sampai thawaf di Kabah, ia tidak takut apapun kecuali Allah. Adiy berkata: Lalu saya melihat seorang wanita berangkat dari al Haira sampai thawwaf di sekeliling Kabah, ia tidak takut kejenuhan”, Alhadis.

Potongan Alhadis ini melukiskan bahwa kelak akan dijumpai wanita yang pergi haji tanpa mahram. Dan Alhadis yang sama mengabarkan bahwa apa yang dikatakan sang Nabi memang terbukti. Apakah maknanya?

Maknanya adalah, bahwa mengharapkan ketaatan dari kaum wanita, merupakan satu hal yang sulit, walau pun telah dipesankan jauh sebelumnya. Sekuat apa pun para Nabi berpesan bahwa kaum wanita terlarang untuk pergi keluar rumah tanpa mahram, toh kaum wanita akan tetap pergi keluar rumah tanpa mahram, dan kemudian berimplikasi pada tingginya kasus kekejian yang diperbuat wanita di luar rumah. Maka hendaklah semua pria dan semua Negara beserta Alim Ulama berjaga-jaga akan pembangkangan kaum wanita ini. Jangan sekali-sekali terpedaya oleh bujuk rayu dan rengekan kaum wanita untuk beroleh ijin keluar rumah tanpa mahram atau suami.

Nabi Saw pada satu saat dengan tegas bersabda, “Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram’, namun pada saat yang lain Rasul saw bersabda bahwa kelak akan terlihat seorang wanita yang berhaji tanpa mahram. Adalah tidak mungkin bahwa kejadian ini menunjukkan bahwa Nabi Saw telah berperilaku tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri. Nabi Muhammad Saw tetaplah konsisten dengan kata-katanya sendiri sebagaimana layaknya seorang Nabi. Sehinggakan bahwa kejadian ini hanya mengimplikasikan satu hal yang lain, yaitu betapa membangkangnya kaum wanita, kendati telah diberi ajaran yang jelas dan terang.

Penutup.

Sekali lagi, memberikan pemberdayaan baik di dalam bentuk pendidikan maupun akses bekerja kepada kaum wanita merupakan perbuatan munkar, dan jelas memberdayakan kaum wanita tidak mempunyai dalil dan dasarnya pada ajaran dan tuntunan Rasulullah saw: Islam justru dengan tegas melarang pemberdayaan wanita sejak awal.

Dan pada paparan ini, terlihat bahwa memberdayakan kaum wanita, khususnya pendidikan, telah membuat kaum wanita begitu berani melanggar syariah, khususnya di dalam hal bepergian bersama mahram. Dengan diberdayakan, kaum wanita menjadi begitu terbiasa membunuh bayi-bayi mereka yang merupakan hasil zina mereka; kaum wanita jadi berani perbuat pacaran dengan pria-pria di tengah kota, yang mana dari pacaran tersebut berujung zina, dan zina tersebut berujung pada melahirkan bayi yang tiada diinginkan, sehinggakan membunuh bayi tersebut menjadi satu-satunya solusi mudah untuk melenyapkan aib. Dengan diberi akses pendidikan formal kaum wanita jadi gemar berkhalwat, dan juga berani berbusana minim sehinggakan terjadi berlomba pamer aurat di tengah pasar. Segala kekejian dan kengerian telah banyak dipertontonkan kaum wanita yang telah diberdayakan ini. Intinya, larangan berkhalwat saja dilanggar, larangan pamer aurat saja dilanggar, maka apalagi larangan pergi tanpa mahram?

Emansipasi Wanita, yang berporos pada pemberdayaan kaum wanita, jelas merupakan bentuk angkara murka di atas bumi, oleh karena itu Emansipasi Wanita harus ditumpas dan dibumihanguskan; hanya itu satu-satunya cara membebaskan kaum wanita dari kehancuran moral. Kembalikan kaum wanita kepada alam domestik, karena hanya dengan kembali ke alam domestiklah, kaum wanita akan tetap berada di dalam kesucian dan keagungannya. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Emansipasi Wanita Dan Produk Fikiran Yang Dihasilkannya

cloak

EW adalah gerakan atau faham untuk memberdayakan wanita, khusus nya dalam bentuk pendidikan formal, agar dari aktivitas ini tercetak kaum wanita yang ber intelektual dan mampu memberi sumbangsih bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas. Dengan pendidikan, diharapkan kaum wanita dapat berkiprah secara produktif  berdampingan dengan kaum pria.

Itu adalah pandangan umum nya seluruh dunia, dan khusus nya kaum wanita sendiri. Dengan pendidikan formal, diharapkan kaum perempuan dapat mengejar keter tinggalan mereka dari kaum pria, dan lebih dari itu dapat mensejajarkan takdir mereka dengan kaum pria.

Gerakan dan faham Emansipasi Wanita ini sudah berlangsung puluhan tahun, di Indonesia faham EW setidak nya sudah ditanam pada tahun 1970an pada awal masa Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, dengan mengusung nama RA. Kartini yang dianggap sebagai pelopor kemajuan kaum wanita. 

Dengan dipintarkan melalui pendidikan formal, diharapkan kaum wanita dapat mengajukan ide dan tenaga membangun yang mengagumkan, yang dapat memajukan kehidupan bangsa. Namun kemudian, apakah ide dan fikiran perempuan produk EW bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum wanita di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? 

Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. 

Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi wanita satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, fitrah, hukum nurani, hukum kepantasan, dsb. 

Perempuan yang diberdayakan tidak pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum wanita sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut  pemberdayaan melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan wanita, tiba-tiba agama dan hukum alam menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. 

Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum wanita yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum wanita, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum wanita.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Di dalam alam Emansipasi Wanita, anak wanita diberi pemberdayaan khususnya pendidikan formal, dengan harapan kelak mereka akan mempunyai kualitas kaum pria. Namun kemudian kenyataan apa yang dicecap dunia dari wanita yang dipintarkan ini? Bumerang, dan pendidikan formal membuat kaum wanita meluncur keluar dari rel alami nya, dan meletuskan hujatan dan kutukan ke segala arah, sambil membumikan dekadensi moral yang berbau busuk: freesex, zina massal, pelacuran, hamil di luar nikah, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, lumrahnisasi pacaran, dsb.

Kesimpulan.

EW yang merasuk ke dalam roh kaum wanita, memberikan produk fikiran berupa:

  • Perempuan yang diberdayakan tidak pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan.
  • Wanita yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, fitrah, hukum nurani, hukum kepantasan, dsb.
  • Yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat; agama dan hukum alam menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan.
  • Dan yang benar hanyalah kaum wanita sendiri dengan alam fikiran mereka.
  • Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak perselingkuhan, aborsi massal, marak gugat cerai, marak swinger-sex, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitas, marak kumpulkebo  …..dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, keberdayaan yang didambakan kaum wanita, justru membuat kaum wanita semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Wallahu a’lam bishawab!

 

Emansipasi Wanita Memperjuangkan Persamaan Derajat Benarkah?

1498053543p

Emansipasi Wanita (EW) yang diperjuangkan kaum wanita, sejatinya merupakan perjuangan untuk mempersamakan derajat mereka dengan kaum pria. Sebelum-nya, kaum wanita, karena sudah dicekoki pemberdayaan sejak kecil khususnya pendidikan, jadi berfikir mengapa kaum wanita selalu berada di bawah bayang pria, ayahnya, abangnya, mau pun suaminya. Mengapa kaum wanita seolah hanya ditakdirkan untuk selalu meringkuk di dapur saja untuk memasak dan mencuci piring, dus mencuci baju hingga rapi diterika, sementara kaum pria di luar rumah bebas merajut karir sebagai orang hebat yang memerintah kota dan negara.

Mengapa tugas wanita hanya sebatas mengandung, kemudian melahirkan anak, kemudian momong anak hingga besar, sementara abang-abang mereka menjadi pemimpin hebat, menjadi menteri, ulama kenamaan dsb. Bahkan wanita sejak awal tidak diberi hak untuk memilih suami, melainkan hanya terpaku saja saat dipinang pria asing di depan ayah bunda. Yang lebih mengiris perasaan adalah, wanita sejak dini dipingit di dalam rumah, seolah rumah adalah penjara alami buat mereka: mereka dilarang keluar rumah, karena kalau keluar rumah maka hal-hal keji akan terjadi. Sedangkan kaum pria, atau anak manusia yang ‘kebetulan’ lahir sebagai pria, bebas keluar rumah dan memperoleh sejuta pengalaman. Sejuta pertanyaan mengapa.

Berkat pendidikan formal yang mereka peroleh, mereka, para wanita muda ini jadi terbuka wawasan berfikirnya. Mereka mulai bertanya dan berani mengajukan teori. Mereka mulai merasakan adanya ketidakadilan yang diciptakan kaum pria atas perem-puan. Sejak saat itulah, berkat pendidikan formal, wanita bertekad dan berjuang untuk memperjuangkan persamaan derajat dengan kaum pria.

Puluhan tahun berlalu, tahun-tahun yang penuh perjuangan untuk ber-emansipasi. Sedikit banyak, aspirasi mereka untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, didengar Pemerintah. Maka mulailah banyak sekolah berbagai jenjang menerima murid wanita. Dan kemudian, mulailah banyak wanita yang bekerja, menjadi karyawati, menjadi staf kantor, atau juga menjadi PNS, bahkan menjadi tentara dan juga dokter.

Hal ini tentunya merupakan perkembangan yang menggembirakan bagi kaum wanita, khususnya para feminist. Dengan mempunyai akses kepada dunia kerja, berarti wanita mempunyai uang sendiri. Mempunyai sumber keuangan sendiri, berarti mempunyai power untuk menentukan ideologi mana yang ingin mereka tempuh, kendati keluarga dan dunia pria tidak menghendaki. Toh uang sudah mereka kuasai tanpa harus meminta uang kepada pria-pria mereka.

Dengan perjuangan mereka bertahun-tahun, akhirnya mereka melihat bahwa tujuan mereka berhasil, yaitu mempersamakan derajat dengan kaum pria. Mereka tidak lagi dipenjara di rumah, mereka tidak lagi hanya berkutat di dapur sampai berdebu, dan mereka tidak lagi hanya bertugas momong anak, karena sudah diserahkan kepada babysitter, dsb. Seperti halnya pria, sekarang kaum wanita keluar rumah untuk merajut karir, dan yang terpenting adalah, mempunyai sumber uang sendiri.

Imbas kepada alam pria.

Sama diketahui, bahwa Emansipasi Wanita secara keniscayaan berujung pada infiltrasi kaum wanita secara massal kepada lapangan kerja / pangker. Dan ini artinya, akan banyak kaum pria yang terdepak dan ter-eliminasi dari pangker, karena pangker sudah keburu direbut kaum wanita, atas nama Emansipasi Wanita. Ujungnya, banyak ditemui pria yang menganggur, alias pengangguran di kalangan pria.

Mengapa sang suami menganggur? Ya, dikarenakan pria menemui kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, karena kebanyakan pangker telah habis dibabat kaum wanita, thanks to Emansipasi Wanita!!

Babak berikutnya yang terjadi dan menjadi kelumrahan adalah, fenomena ‘dunia terbalik’, di mana pada jaman Emansipasi Wanita, justru istrilah yang menjadi kepala rumah tangga, sementara suami lah yang harus manut dan taat kepada istri. Istri menjadi kepala rumah-tangga, karena istrilah yang bekerja dan mencari nafkah, dus berarti istri lah yang memegang otoritas keuangan, sementara suami hanya sebagai penerima jatah keuangan dari istri, maka dari itu suami hendaknya manut dan taat saja kepada istri.

  • Itu semua bermula dari Emansipasi Wanita,
  • Hal tersebut bermula dari memberi pendidikan formal kepada anak-anak wanita sejak dini –hingga setinggi-tingginya.
  • Dan hal tersebut bermula dari terdepak-nya kaum pria dari pangker,
  • Kemudian hal tersebut bermula dari terjerumus nya kaum pria menjadi pengangguran, karena pangker telah keburu habis dibabat kaum wanita.
  • Dan hal tersebut bermula dari infiltrasinya kaum wanita ke dunia kerja.

Dan akhirnya sampailah kepada topik utama: mempersamakan derajat wanita dengan kaum pria. Benarkah perjuangan Emansipasi Wanita semata untuk memperoleh persamaan derajat dengan kaum pria? Apakah tidak ada hal lain yang menyertai persamaan derajat tersebut? Dan pada akhirnya patut dibahas, apakah kaum wanita merupakan @spesies yang bijaksana dan @berakal kuat untuk memulai pembicaraan mengenai apakah itu yang dinamakan mempersamakan derajat dengan kaum pria?

@Spesies yang bijaksana.

Apakah merupakan konsensus semua pihak untuk menyatakan bahwa wanita merupakan spesies yang bijaksana di dalam berdebat? Apakah kaum wanita merupa-kan spesies yang sebijaksana kaum pria saat memikirkan kemaslahatan?

Sejak awal wanita memprotes nasib mereka yang hanya sebagai bayang-bayang kaum pria, di mana mereka tidak diberi keleluasaan di dalam bergerak. Untuk selamanya kaum wanita di-plot untuk menjadi lemah dan terbelakang, keterampilannya hanya seluas dapur untuk memasak, dan menerika baju para suami dan anak, dari hari ke hari. Tidak boleh lebih dari itu: hanya manut kepada suami atau ayah.

Untuk itulah kaum wanita bangkit untuk melawan situasi yang tidak adil. Wanita bangkit untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, melalui organ yang disebut @pendidikan -dan merebut @akses kepada dunia kerja -sebagai sumber keuangan, dan untuk -mempunyai autoritas sosial. Mereka sangat percaya, bahwa hanya dengan @pendidikan dan @akses kerja, maka kesetaraan dengan kaum pria dapat diperoleh. Intinya, wanita hanya menuntut kesetaraan, hanya menuntut perlakuan sama dengan kaum pria. Itu saja yang dituntut kaum wanita, tidak lebih.

Hasilnya? Akibatnya adalah fenomena ‘dunia terbalik’, di mana para pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, dan harus menyelesaikan seluruh tugas domestik, termasuk momong anak. Para pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, karena dunia kerja sudah tidak bisa lagi menampung pekerja pria, dikarenakan pangker sudah keburu habis dibabat kaum wanita. Sementara kaum pria harus menjadi pengangguran dan tinggal di rumah khususnya untuk momong anak, justru kaum wanita berada di tempat kerja, untuk cari uang dan nafkah keluarga.

Dunia terbalik, dan kaum wanita telah berhasil ‘meninggalkan’ takdir pahit mereka selama ini sebagai narapidana rumah yang telah membelenggu mereka selama berabad-abad, dan untuk itu kaum pria-lah yang diminta (dipaksa) untuk dipenjara di dalam rumah. Lantas situasi inikah yang diinginkan dan didambakan kaum wanita melalui gerakan Emansipasi Wanita? Yang katanya untuk mempersamakan derajat?

Mereka bilang, Emansipasi Wanita hanya bertujuan untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, tidak lebih, sementara kenyataan yang diberikan kaum wanita tidak lain adalah ‘tukar posisi’ dengan kaum pria:

  • Dulu kaum wanita yang dipenjara di dalam rumah, sekarang prialah yang harus dipenjara di dalam rumah;
  • Dulu prialah yang memerintah kota, maka sekarang wanitalah yang memerintah kota (menjadi menteri, gubernur, dirut, presiden, kepala kantor, dsb).
  • Dulu wanita yang harus manut dan berbakti kepada kaum pria, maka sekarang prialah yang harus manut dan berbakti kepada wanita / istri.
  • Dulu pria yang menafkahi wanita, sekarang wanitalah yang menafkahi suami, oleh karena itu suami harus taat kepada istri.
  • Dulu pria yang mencerai istri, sekarang wanitalah yang menggugat cerai suami ke kantor hakim.

Ketika wanita berparadigma bahwa tujuan Emansipasi Wanita semata untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, maka itu berarti kaum pria dipaksa untuk bertukar posisi dengan kaum wanita, tidak lebih. Dan omong-omong soal tukar posisi, itu bukan persamaan derajat namanya: lain persamaan derajat, lain lagi tukar posisi. Dengan kata lain, ketika wanita meminta perak, itu harus berarti emas intan berlian. Kalau meminta perak, harus berarti perak juga, bukan begitu?

Bijaksanakah wanita dengan perilaku ini? Agungkah wanita dengan perangai ini? Dulu wanita meratapi kekejian kaum pria karena selalu memenjara wanita di dalam rumah dan kebodohan, namun justru sekarang wanitalah yang bersemangat memenjarakan pria di dalam rumah sehingga tampak tidak berdaya!

Luhurkah wanita dengan gelagat ini? Wanita berpidato menuntut persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus bersedia menganggur dan diam di rumah mengenakan ‘daster’ dan menyusui anak hingga kenyang. Wanita berpidato tentang persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus tinggal di rumah manut dan berbakti kepada istri, kalau tidak taat dan tidak berbakti kepada istri, silahkan hadapi gugat cerai dari sang istri yang sudah menjadi top manager atau menteri –dan berduit banyak. Wanita berpidato berapi-api menuntut perak, ternyata itu harus berarti emas intan berlian. Emansipasi Wanita menuntut persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, dan harus berbakti kepada istri karena telah lelah bekerja seharian cari uang untuk makan sang suami. Apakah itu yang dinamakan persamaan derajat?

Ternyata wanita tidak jauh lebih baik dari pria, karena di dalam darah wanita juga mengalir angkara murka untuk memenjara pria di dalam rumah, dan ketika pria terpenjara di dalam rumah sehingga tampak tak berdaya terhadap wanita, alangkah gembira wanita melihatnya!

Pertanyaannya adalah apakah wanita mahluk sebijaksana pria, dan jawabannya sungguh meragukan: meminta perak namun emas intan berlian yang dituntut, bukanlah suatu kebijaksanaan yang menakjubkan.

Bijaksanakah wanita? Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut? Dan apakah wanita mempunyai kompetensi untuk menjawab pertanyaan yang begitu high-sense?

@Berakal kuat.

Benarkah kesepakatan semua pihak untuk menyatakan bahwa wanita merupakan spesies yang berakal kuat sebagaimana halnya kaum pria? Dan apakah akal yang kuat itu akan digunakan kaum wanita untuk memikirkan kemaslahatan?

Dengan megahnya Emansipasi Wanita, banyak kaum pria yang terlempar dari pangker, hal mana membuat ribuan pria menjadi pengangguran, dan harus tinggal di rumah -sementara wanita dan istri keluar rumah untuk bekerja merajut karir dan mengatur kota. Telah terjadi penjungkir balikan kodrat, yang mana penjungkir-balikan tersebut sepenuhnya atas kehendak kaum wanita semata, dan dipaksakan kepada kaum pria.

Aneh, ketika para istri melihat suami mereka menganggur di rumah ‘mengenakan daster’ dan celemek untuk menyuapi anak, apakah kaum wanita tidak merasa terpanggil untuk melenyapkan pengangguran dari kalangan pria? Apakah kaum wanita tidak merasa sesak melihat suami mereka tercecer di rumah tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan? Apakah kaum wanita tidak merasa gelisah melihat suami mereka tidak lagi berperan sebagai suami yang menafkahi keluarga sebagaimana semestinya? Apakah kaum wanita tidak merasa risih melihat pria masak di dapur, mencuci baju, dan mengganti popok bayi? Bukankah hal tersebut adalah alamnya kaum wanita? Mengapa sekarang hal tersebut harus digeluti para pria?

Tidak ada fikiran kaum wanita untuk mengakhiri kekacauan tersebut. Faktanya, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, justru betapa senang kaum wanita melihat suami mereka terdampar di rumah mengenakan daster dan celemek untuk momong anak dan mencuci daleman wanita. Kaum wanita melihat, sedikit pun tidak ada yang salah kalau suami harus tinggal di rumah dari hari ke hari, dan menyiapkan makan dan kopi untuk sang istri, dan melihat sang suami memandikan si buyung hingga bersih dan melekatkan baju dan bedak. Di mana nurani wanita sebagai mahluk yang dikenal lembut dan penuh perasaan? Rivalitas gender yang beredar di dalam darah wanita jelas telah mengalahkan segala-galanya.

Pengangguran abadi para pria dan suami, adalah final di tangan kaum wanita, yaitu kaum wanita yang ber-Emansipasi. Di dalam hal kalau pria dan suami akhirnya diterima bekerja, maka masalah kemudian adalah siapa yang akan momong anak dan menyiapkan makan sang istri sepulang kerja? Apakah istri harus berhenti bekerja demi momong anak dan menyiapkan makan keluarga? Wanita tidak pernah punya waktu untuk membahas hal tersebut, tentunya. Karir dan pekerjaan yang digeluti para wanita, adalah di atas segala-galanya, sementara momong anak dan menyiapkan makan keluarga, tidak bernilai apa-apa bagi wanita karir. Di dalam hal suami memaksa istri berhenti bekerja agar suami dapat menggeluti pekerjaan yang baru didapatnya, maka istri lebih dari siap untuk mengajukan gugat cerai ke kantor hakim. Begitu mudahnya.

Predikat wanita sebagai spesies yang berakal kuat sebagaimana halnya kaum pria, jelas dipertanyakan. Apakah adagium di mana wanita cenderung menggunakan perasaannya daripada fikirannya, tidak lagi mempunyai makna lantaran Emansipasi Wanita telah megah di muka bumi? Kalau keyakinan bahwa wanita berakal kuat sekuat kaum pria benar adanya, maka tentunya banyak wanita yang mementingkan bagaimana para suami bekerja, atau bahkan lebih mendahulukan suami bekerja ketimbang para wanita tersebut tetap memaksa untuk terus bekerja.

Kesimpulan.

Mungkin dunia dengan kesantunannya menerima aspirasi kaum wanita bahwa Emansipasi Wanita hanya bertujuan untuk mensetarakan derajat kaum wanita terhadap pria. Sampai di sini dunia telah menjadi pendengar yang baik. Namun hal tersebut sama sekali tidak membuat kaum wanita benar dengan pandangan mereka, bahwa kesetaraan gender antara pria dan wanita adalah satu-satunya hal terindah bagi wanita, tidak.

Tidak pernah ada kesetaraan gender antara pria dan wanita di dalam fikiran kaum wanita. Rivalitas gender yang mengalir di dalam darah Emansipasi Wanita membawa frame untuk memastikan bahwa kehendak wanita untuk berkarir sama sekali tidak diganggu oleh terjerumusnya kaum pria di lini domestik dari hari ke hari, tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan tanpa wibawa sebagai pria dan suami.

Tidak pernah ada kesetaraan gender, baik di dalam fikiran kaum wanita yang ber-emansipasi, mau pun dalam fakta sehari-hari. Emansipasi Wanita adalah babak rivalitas gender kaum wanita terhadap alam pria, sambil menyatakan bahwa dirinya adalah mahluk lemah yang harus dibela dan dilindungi hak-haknya oleh alam pria.

Extra Text.

Pertama.

Dengan Emansipasi Wanita, kaum wanita berhasil menguasai ranah publik dan juga jalur karir, juga sumber keuangan -sehingga wanita dapat memastikan keunggulan posisinya di depan suami / para lelaki. Namun sungguh pun demikian, wanita dapat menguasai ranah publik serta menggeluti pekerjaan dan jabatan, ……BERKAT…… berbagai fasilitas dan kecanggihan teknologi. Mereka menggunakan mobil, kereta listrik, pesawat terbang, komputer, printer, berbagai zat dan bahan kimia, dsb ….. Berkat kecanggihan teknologi, wanita dapat mengaktualisasi diri di ranah publik di dalam berbagai karir, dengan begitu mudah dan menyenangkan, tanpa rasa lelah dan membosankan ….

Mustahil, tidak mungkin, wanita dapat berkarir dan berkiprah di sektor publik tanpa andil dan manfaat kecanggihan teknologi. Semua faham bahwa kaum wanita adalah mahluk lemah dan manja, penuh keluh kesah. Maka apakah mungkin wanita sanggup berjalan kaki puluhan kilometer dari rumah ke tempat kerja setiap hari? Apakah kaum wanita bersedia dan gigih menaiki tangga darurat gedung ke lantai 11 setiap hari demi bisa berada di ruang kerja? Tidak. Faktanya mereka butuh mobil dan elevator canggih nan terang benderang dan berpendingin udara.

Dan pada akhirnya, siapakah penemu dan perancang semua kecanggihan teknologi tersebut yang dengannya kaum wanita dapat mengembangkan karir? Jawabannya adalah kaum pria, dan hanya kaum pria, sejak berabad lampau. Kaum prialah yang berjuang, menemukan dan mengembangkan berbagai kecanggihan teknologi tanpa kenal lelah. Tidak ada andil kaum wanita sedikit pun ketika kecanggihan teknologi ditemukan dan dirancang kaum pria.

Dan ketika kecanggihan tersebut telah siap digunakan, umat manusia bergembira, tidak terkecuali kaum wanita. Teknologi, yang intinya mempermudah pekerjaan dan aktivitas, tidak pelak membuat kaum wanita sangat terbantu. Kaum wanita, yang semula sangat tergantung pada kemurahan kaum pria, menjadi begitu mandiri di dalam mengerjakan banyak hal, dan tidak butuh kaum pria lagi. Dan itu semua berkat benda yang disebut teknologi.

Baiklah wanita tidak berdaya sedikit pun untuk menjadi penemu teknologi, dan tidak mengerti apa-apa untuk bisa menemukan teknologi, dan kenyataannya kaum wanita hanya menjadi mereka yang bergembira dengan keberadaan teknologi, namun ketika wanita menggunakan teknologi tersebut, tiba-tiba wanita bangkit dari kediamannya yang alami itu, lalu dengan teknologi tersebut wanita mengaku bahwa  mereka adalah sama unggulnya dengan kaum pria, dan oleh karena itu kaum wanita mengklaim bahwa mereka berhak dan layak untuk mengatur-atur pria bahkan memerintah pria. Yang jelas, kaum wanita mengklaim hak untuk persamaan gender, yang mana hal tersebut harus berarti banyak pria harus menganggur di rumah tanpa penghasilan dan tanpa wibawa sebagai suami.

Dengan teknologi, wanita mengklaim hak untuk infiltrasi ke pangker, dan merasa berhak untuk mendongkel jutaan pria dari pangker. Dan dengan dalih Emansipasi Wanita, didukung kecanggihan teknologi yang notabene ditemukan oleh dunia pria, kaum wanita memperjuangkan tukar posisi dengan kaum pria di ranah domestik, agar wanita lah yang berada di ranah publik untuk memerintah seisi kota dan menata lembaga bisnis.

Dunia pria lah yang menemukan teknologi, namun dengan teknologi tersebut, kaum wanita lah yang memutuskan hidup seperti apa yang harus dijalani pria sebagai pengangguran di rumah. Siapa pun ingat, bahwa ketika pria menemukan teknologi pada awalnya, tidak ada rencana dan maksud sedikit pun di dalam fikiran kaum pria, untuk menjadikan teknologi itu sebagai kuburan mereka pada akhirnya.

Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Pria Penemu Teknologi Wanita Yang Mabuk Kepayang“.

Kedua.

Emansipasi Wanita berarti banyak hal, di antaranya …..,

  • Wanita keluar rumah setiap hari secara permanen.
  • Wanita berbaur dengan pria asing di ranah publik secara intens.
  • Wanita memperoleh kerja dan sumber uang sendiri.
  • Wanita merebut pangker dari dunia pria.
  • Wanita menjerumuskan kaum pria ke lembah pengangguran. Dsb.

Emansipasi Wanita selalu berarti massif nya wanita berbaur dengan pria asing di ranah publik setiap hari. Yang semula kaum wanita merasa jengah berada di depan pria asing, secara perlahan berubah menjadi nyaman dan positif ketika psikologi mereka terbiasakan untuk melihat keramahan dan kelembutan setiap pria asing.

Akibatnya? Kalau wanita sudah kehilangan rasa jengah terhadap pria asing, berarti awal malapetaka umat yang sekarang sudah menjadi faktual sehari-hari di jaman Emansipasi Wanita ……….,

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat,
  6. bangkai bayi di tempat sampah,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. kondomisasi,
  14. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  15. Pelacur prostitusi,
  16. Pengantin perempuan mengandung bayi di perutnya,
  17. Maha / siswi kehilangan kegadisan,
  18. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  19. Perempuan perebut suami orang,
  20. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  21. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, tidak pandai membesarkan anak dsb,
  22. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  23. anak-anak jadah,
  24. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  25. anak-anak brokenhome,
  26. single parent,
  27. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  28. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  29. kawin lari,
  30. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada angka kriminalitas, dsb.

Dengan demikian, jaya-nya kaum wanita melalui Emansipasi Wanita untuk mendomestikkan kaum pria, tidaklah berdiri sendiri, melainkan BERPARALEL dengan seluruh kejahatan dan kekejian moral yang seutuhnya beraroma kewanitaan. Kebangkrutan! Dekadensi moral!

Penutup.

Satu tradisi kaum wanita ketika mereka memperjuangkan Emansipasi Wanita adalah meneriakkan hak alami mereka untuk kesetaraan gender. Dan bagi dunia, hal tersebut terdengar seperti kesepakatan kaum wanita untuk memformulasikan keadaan tukar posisi antara wanita dan pria: rivalitas gender menjadi begitu sepadan untuk Emansipasi Wanita.  Pada saat yang bersamaan, pun rivalitas gender tersebut berbaur dengan dua semesta, yaitu (1) bahwa Emansipasi Wanita diusung dengan mengendarai kecanggihan teknologi yang seutuhnya beraroma penciptaan lelaki, di mana tidak ada satu wanita pun yang dapat membuat dan menciptakan kecanggihan teknologi tersebut. (2) Dan mengerikan, bahwa rivalitas gender ditakdirkan untuk beriringan dengan kejatuhan dan kebangkrutan moral di segala lini kehidupan, wanita-lah yang memulainya dan menggerakkannya!!

Pada akhirnya, tidak ada logika yang dapat membenarkan Emansipasi Wanita. Oleh karena itu atas nama kebajikan dan kemaslahatan, Emansipasi Wanita harus ditumpas dan dihentikan; mengembalikan kaum wanita kepada alam domestik menjadi satu-satunya solusi yang adil bagi semua pihak, tidak terkecuali bagi kaum wanita sendiri. Maslahat yang lebih luas hanya selalu berarti sebuah dunia yang melihat kaum wanita sebagai mahluk domestik, dari usia dini sampai selama-lamanya.

Wallahu a’lam bishawab.