Ketika Wanita Berhaji Tanpa Muhrim

iringan

3098: Seorang Wanita Tidak Boleh Menunaikan Ibadah Haji Kecuali Dengan Mahram

Tanya: Apakan boleh seorang wanita menunaikan haji atau umroh bersama rombongan tertentu, atau sekelompok wanita, jika tidak menemukan mahram yang bisa menemaninya?

Published Date: 2014-01-15

Alhamdulillah

Pertama:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini sejak dahulu sampai sekarang. Sebagian mereka mengatakan: Dibolehkan seorang wanita menunaikan haji tanpa mahram, jika perjalanannya aman, dan bersama teman-teman wanitanya yang dapat dipercaya.

Ulama yang lain mengatakan: Tidak boleh seorang wanita menunaikan haji kecuali dengan mahram yang menjaganya, meskipun ia berangkat dengan teman-temannya yang dapat dipercaya. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Mereka berdalil dengan beberapa hal di bawah ini:

Dari Ibnu Abbas ra- berkata: Rasulullah saw- bersabda:

Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram, dan tidak boleh mempersilahkan tamu laki-laki kecuali ia bersama mahramnya. Seseorang berkata: Ya Rasulullah, saya ingin bergabung dengan pasukan tertentu, sedang istri saya ingin menunaikan ibadah haji. Rasulullah bersabda: Pergilah bersamanya (HR. Bukhori 1763 dan Muslim 1341). 

Dari Abu Hurairah ra- berkata: Rasulullah saw- bersabda:

Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir -untuk bepergian selama sehari semalam perjalanan kecuali dengan mahram. (HR. Bukhori 1038 dan Muslim 133) dan dalam riwayat Bukhori 1139 dan Muslim 827 dari hadits abu Said tertera: selama dua hari perjalanan.

Ibnu Hajar berkata:

Batasannya pada hadits Abu Said dalam sabdanya: selama dua hari perjalanan. Dalam hadits Abu Hurairah: selama satu hari satu malam perjalanan, dan ada beberapa riwayat yang lain. Seperti hadits Ibnu Umar: selama tiga hari perjalanan.

Dalam masalah ini kebanyakan ulama menjadikan beberapa riwayat di atas muthlak (umum) karena perbedaan batasan masing-masing.

Imam Nawawi berkata:

Maksud dari batasan dalam riwayat tersebut bukan jumlah hari perjalanannya, akan tetapi semua perjalanan yang dianggap safar, maka wanita dilarang keluar kecuali ditemani mahram. Batasan hari di atas adalah realita yang terjadi pada masa itu, bukan difahami minimal perjalanan harus selama itu. Ibnul Munir berkata: Terjadi perbedaan tersebut pada daerah yang disesuaikan dengan para penanya. (Fathul Baari: 4/75).

Kedua:

Beberapa dalil yang menyatakan tidak wajib berangkat dengan mahram adalah sebagai berikut:

Dari Adiy bin Hatim ra- berkata: Ketika saya bersama Rasulullah saw-, tiba-tiba datang seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah tentang kefakirannya, dan seorang lagi tentang kehabisan bekalnya. Beliau bersabda: Ya Adiy, apakah kamu melihat al Hairah?, saya berkata: saya tidak melihatnya, dan telah diinformasikan. Beliau bersabda: Apabila kamu panjang umur, maka kamu akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al hairah sampai thawaf di Kabah, ia tidak takut apapun kecuali Allah. Adiy berkata: Lalu saya melihat seorang wanita berangkat dari al Haira sampai thawwaf di sekeliling Kabah, ia tidak takut kejenuhan (HR. Bukhori: 3400).

Sanggahan dari dalil di atas bahwa itu merupakan berita dari Rasulullah saw- dimana peristiwa tersebut akan terjadi. Yang demikian itu tidak menandakan akan boleh atau tidaknya sesuatu, sesuai dengan dalil-dalil syariah. Sebagaimana berita Rasulullah saw- tentang tersebarnya minuman keras, zina dan pembunuhan sebelum datangnya kiamat, padahal semua itu haram termasuk dosa besar.

Maksud dari hadits di atas adalah: bahwa akan tersebarnya rasa aman, sampai sebagian wanita berani melakukan perjalanan sendirian tanpa mahram. Bukan berarti seorang wanita boleh bepergian tanpa mahram.

Imam Nawawi rahimahullah- berkata: Tidak semua apa yang dikabarkan oleh Rasulullah saw- tentang tanda-tanda hari kiamat itu haram dan tercela. Seperti penggembala berlomba meninggikan bangunan, melimpahnya harta, lima puluh wanita memiliki satu tuan, ini semua bisa dipastikan tidak haram. Akan tetapi semua ini tanda-tanda saja, dan tanda itu terkadang baik, buruk, mubah, haram, wajib, dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Hendaknya diketahui bahwa perbedaan para ulama tentang mahram menjadi syarat wajibnya wanita menunaikan haji, hanya pada haji yang wajib. Adapun haji yang sunnah semua ulama sepakat seorang wanita tidak boleh berangkat kecuali dengan suami atau mahramnya. (Mausuah Fiqhiyah: 17/36)

Ulama Lajnah Daimah mengatakan: Wanita yang tidak memiliki mahram, belum wajib menunaikan ibadah haji; karena mahram bagi wanita bagian dari bekal dan kemampuan dalam melakukan perjalanan, kemampuan ini menjadi syarat wajibnya haji, Allah Ta’ala berfirman:

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran: 97)

Jadi, tidak boleh seorang wanita bepergian baik untuk haji atau yang lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, inilah pendapat al Hasan, an Nakhoi, Ahmad, Ishak, Ibnul Mundzir, dan para pemikir. Pendapat inilah yang benar, sesuai dengan ayat di atas dan beberapa hadits yang melarang wanita bepergian kecuali dengan suami atau mahramnya.

Imam Malik, Syafii dan Auzai berpendapat sebaliknya, dengan memberikan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah / alasan. Ibnul Mundzir berkata: Mereka meninggalkan pendapat dengan redaksi hadits, setiap mereka memberikan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah.

(Fataw Lajnah Daimah: 11/90-91)

Mereka juga mengatakan:

Pendapat yang benar adalah bahwa seorang wanita tidak boleh menunaikan haji kecuali dengan suami atau mahramnya, tidak diperbolehkan juga ia berangkat bersama beberapa wanita lain yang bukan mahramnya meskipun dapat dipercaya, atau tidak boleh juga bersama bibi dari bapaknya, bibi dari ibunya, atau dengan ibunya. Jadi, harus dengan suami atau mahrmnya. Kalau tidak ada, maka ia belum wajib menunaikan ibadah haji. (Fatawa Lajnah Daimah: 11/92)

Wallahu a’lam.

Sumber, https://islamqa.info/id/3098

annisanationlogoAnnisanation,

Paparan di atas mengetengahkan penjelasan mengenai posisi wanita terhadap ibadah haji, apakah ia dapat menunaikannya sendiri, atau harus bersama mahramnya.

Secara umum, paparan ini menggariskan bahwa HARAM bagi wanita untuk berhaji, atau bahkan bepergian kemana pun, tanpa ditemani mahramnya, hal mana berdasar Alhadis yang memang juga sudah disebutkan,

  • Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram, ….
  • Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir -untuk bepergian selama sehari semalam perjalanan kecuali dengan mahram.

Kedua Alhadis  tersebut, dan juga banyak Alhadis lainnya, menggariskan bahwa kaum wanita terlarang untuk bepergian kecuali ditemani suami atau mahramnya.

Sebagai catatan, yang dimaksud dengan marham adalah, sudah tentu orang yang berlainan jenis kelamin, dan orang tersebut mempunyai hubungan darah dengan yang bersangkutan, itulah disebut MARHAM, yang artinya ‘orang yang haram’, maksudnya haram untuk dinikah. Nah karena konteksnya adalah nikah, maka otomatis mahram, atau muhrim, harus berbeda jenis kelamin.

Misalnya, bagi seorang wanita, maka muhrimnya adalah laki-laki, yang mana laki-laki tersebut haram untuk ia nikahi. Jadi, muhrim bagi si wanita adalah laki-laki yang mempunyai pertalian darah dengannya, seperti ayah kandung, abang atau adik kandung, paman kandung, anak lelaki kandung, kakek kandung, dst. Begitu juga sebaliknya, muhrim bagi seorang laki-laki adalah wanita yang mempunyai pertalian darah dengannya sehingga haram untuk dinikah.

Intinya, mahram mestilah berbeda jenis kelamin. Seorang wanita dengan wanita lainnya, tidak bisa disebut mahram, semata karena mereka berdua bersamaan jenis kelaminnya.

Makna dan tujuan.

Kemudian apakah makna dan tujuan dari ajaran Islam yang melarang kaum wanita keluar kemana pun kecuali ditemani suami atau mahram? Secara permukaan, tentunya semua orang akan berkata bahwa hukum ini semata untuk menjamin keamanan si wanita, karena wanita merupakan mahluk lemah, sehingga oleh karena itu kalau wanita berada jauh di luar rumah maka haruslah ia ditemani laki-laki mahramnya.

Sebenarnya tidaklah sedangkal itu. Terdapat pemahaman filosofi yang begitu mendalam mengenai ajaran mahram untuk menemani wanita keluar rumah ini.

Filosofi pertama.

Wanita adalah mahluk yang sejatinya adalah bagian dari seorang pria, hal ini terambil dari kisah penciptaan Nabi Adam dan Siti Hawa. Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam, dan ini berarti Siti Hawa merupakan bagian dari tubuh seorang pria yaitu Nabi Adam. Filosofi yang mendasari penciptaan ini tentunya akan berlaku untuk seterusnya. Maksudnya, untuk selamanya kaum wanita akan dianggap sebagai organ tubuh dari seorang laki-laki, apakah ayahnya, abangnya, suaminya maupun putra dewasanya. Hal ini dikukuhkan oleh suatu Alhadis,

“semua laki-laki adalah anak Adam, dan semua wanita adalah anak Siti Hawa; dan Siti Hawa itu tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam, dan tulang rusuk itu bengkok …”.

Dengan keberadaan Alhadis ini, maka untuk selamanya kaum wanita harus dianggap sebagai organ internis tubuh seorang pria. Dan sebenarnya memang demikianlah tata sosiologi umat manusia pada bangsa mana pun dan pada agama mana pun dan pada jaman mana pun. Tata sosiologi itu adalah bahwa kaum wanita akan selalu dianggap dan diperlakukan sebagai organ internis tubuh seorang pria.

Maka harus demikianlah wanita selalu diperlakukan, yaitu sebagai organ internis tubuh seorang pria. Wanita (tidak akan dan) tidak boleh lepas dan jauh dari laki-laki keluarganya. Kemana pun seorang wanita pergi, maka itu artinya ia harus selalu berada dekat laki-laki keluarganya, karena pada dasarnya ia adalah organ internis tubuh sang pria. Melihat seorang wanita pergi dan keluar rumah tanpa mahram, seperti membayangkan suatu organ keluar dari sang tubuh -kemudian organ itu berjalan-jalan kian kemari. Apakah hal tersebut logis dan etis?

Itulah sebabnya Islam mengajarkan bahwa seorang wanita harus selalu ditemani mahramnya bilamana hendak keluar rumah, apa pun tujuannya.

Filosofi kedua.

Ketika seorang wanita keluar rumah, maka tentunya harus dijelaskan dulu untuk apa tujuannya. Dan ketika tujuannya telah difahami, maka kemudian harus dibahas bahwa apakah tujuan tersebut adalah jauh lebih penting dari tugas domestiknya, khususnya tugas untuk membesarkan anak? Ingatlah, tidak ada yang penting bagi seorang wanita kecuali tugas untuk membesarkan anak-anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah, selainnya tidak.

Nah kalau ada seorang wanita keluar rumah untuk mengurus suatu urusan, maka tentunya urusan tersebut pastilah urusan sang ayah maupun sang suami jua adanya: tidak mungkin urusan tersebut merupakan urusan sang wanita secara an sich.

  • Baiklah, apakah urusan itu urusan cari duit? Maka bukankah cari duit merupakan tanggungjawab sang ayah / suami? Si wanita tersebut diam saja di rumah, karena cari duit atau cari nafkah adalah tugas dan tanggungjawab laki-laki.
  • Atau apakah urusan tersebut untuk menjenguk keluarga? Maka bukankah urusan tersebut harus ditunaikan bersama ayah /suami?
  • Atau apakah urusan tersebut untuk menagih utang? Maka bukankah urusan tersebut memang harus dikawal ayah / suami?
  • Atau apakah urusannya untuk mengurus negara, baik sebagai menteri atau Presiden dsb? Maka bukankah Islam mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih penting bagi seorang wanita selain tugas domestik khususnya untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah?
  • Atau apakah urusannya untuk menjalankan profesi sebagai dokter, guru, atau pengacara dsb? Maka bukankah Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah merupakan tanggungjawab sang ayah / suami, sehingga wanita terlarang untuk berprofesi untuk mecari uang, karir dan jabatan?
  • Dan tentunya, apakah urusannya keluar rumah untuk beribadah, seperti haji, umrah, atau sekedar salat di Masjid? Maka bukankah Alhadis telah mengajarkan bahwa sebaik tempat bagi wanita untuk shalat adalah di rumahnya, bukan di Masjid?

Mutlak, bahwa wanita saat keluar rumah harus dikawal mahram, karena tidak ada urusan seorang wanita di luar rumah, melainkan urusan yang maha penting bagi wanita adalah menunaikan seluruh tugas domestiknya di rumah, khususnya membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya dari fitnah luar rumah, yang begitu keji dan menjijikkan. Oleh karena itu, kalau seorang wanita harus keluar rumah, maka logikanya ia harus dikawal atau bersama mahramnya.

Intinya, kalau aturan wanita keluar rumah harus dikawal suami atau mahram akan ditaati, maka runut berikutnya pasti sang wanita akan urung keluar rumah. Pertama, karena urusan domestiknya justru jauh lebih penting dari urusannya di luar rumah. Dan kedua, pasti sang suami atau mahram tidak punya waktu untuk menemani sang wanita untuk keluar rumah, karena mereka sendiri sudah sibuk mencari uang dan nafkah untuk keluarga, sementara urusan si wanita keluar rumah saja sebenarnya tidak begitu penting, karena yang terpenting baginya adalah tetap di rumah untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian tubuh dan rohnya.

Memang itulah tujuan Islam, yaitu dengan aturan ini, maka result-nya adalah tidak akan ada wanita yang keluar rumah, @-karena urusannya di luar rumah tidak begitu penting dibanding diam di rumah, dan @-karena suami maupun mahramnya tidak mempunyai waktu untuk menemani sang wanita keluar rumah, sehingga tercapailah tujuan dari surat Al Ahzab ayat 33.

Filosofi ketiga.

Keharusan bersama mahram bagi seorang wanita saat keluar rumah, selalu difahami sebagai faktor jaminan keamanan bagi sang wanita saat jauh dari rumah. Benarkah demikian? Separuhnya adalah memang benar demikian, namun kemudian juga harus difahami bahwa keberadaan mahram di sisi sang wanita saat keluar rumah, tentunya adalah sebagai kontrol, agar sang wanita dipastikan tidak berbuat keji di luar rumah.

Banyak wanita yang keluar rumah tanpa mahram, maka saat jauh dari rumah wanita  tersebut berani berbuat keji dan menjijikkan. Wanita tiada segan untuk menggoda suami orang, atau gemar menampakkan auratnya kepada publik. Tidak jarang wanita keluar rumah yang tujuannya hanya untuk bergunjing dan nongkrong tidak jelas. Betapa banyak wanita keluar rumah sementara tujuannya hanya untuk menampakkan tubuh dan kecantikan mereka kepada seluruh kota. Terlebih, banyak kaum wanita yang keluar rumah padahal tugas domestik di rumah sangat banyak dan menumpuk. Banyak wanita pergi keluar rumah, dan itu akibatnya mereka mencampakkan tugas membesarkan anak kepada babysitter, dan mencampakkan tugas domestik kepada para pembantu rumahtangga.

Dengan demikian, ketentuan bahwa wanita keluar rumah harus dikawal mahram, sebenarnya untuk mempertimbangkan aspek regresivitas dan juga aspek agresivitas. Regresivitas adalah bahwa wanita potensial menjadi sasaran kejahatan penjahat di luar rumah, sehingga keamanannya harus dijamin oleh mahramnya. Agresivitas adalah bahwa wanita yang keluar rumah tanpa mahram, berpotensi besar untuk berbuat keji, semisal berpacaran, atau menampakkan auratnya, atau mengganggu suami orang, atau meniatkan diri untuk memperlihatkan kecantikannya kepada publik, atau bahkan untuk meninggalkan kewajiban domestiknya di rumah.

Singkat kata, agresivitas wanita di dalam hal berbuat keji di luar rumah, harus mendapat perhatian serius dari kalangan keluarga, dan itulah sebabnya Islam memerintahkan seorang wanita harus ditemani muhrim saat keluar rumah, agar potensi agresivitasnya dalam berbuat keji di luar rumah, dapat ditangkal secara dini oleh mahramnya. Terdapat suatu Alhadis yang tidak dapat disangkal bahwa, “fitnah terbesar di dunia adalah kaum wanita”: sangat besar kemungkinannya wanita berbuat tidak pada tempatnya bilamana ia keluar rumah, maka untuk itulah sang wanita harus dikawal muhrimnya.

Kebanyakan (bahkan hampir semua) umat berfikir, bahwa kewajiban ditemani muhrim bagi wanita saat keluar rumah, adalah semata sebagai penjamin keamanan bagi sang wanita. Tidak ada satu pun yang berpandangan, bahwa kewajiban ditemani muhrim bagi wanita adalah demi mengeliminasi kekejian yang dapat diperbuat wanita tersebut di luar rumah. Itulah sebabnya, ketika banyak orang berfikir bahwa kewajiban ditemani muhrim adalah semata demi menjamin keamanan wanita, maka banyak orang jadi berfikir, bahwa kalau keamanan kota sudah terjamin, maka tidak wajib bagi wanita untuk ditemani muhrim saat keluar rumah. Inilah yang sesat! Aspek lainnya terlalaikan, yaitu bahwa wanita itu justru potensial berbuat keji di luar rumah.

Ketika suatu kota dinilai terjamin keamanannya, maka banyak wanita keluar rumah tanpa dikawal muhrim. Berikutnya kota menyaksikan banyak kekejian yang diperbuat kaum wanita di luar rumah, akhirnya menjadi gejala yang tiada tara: angka zina, sexbebas, aborsi, kondomisasi, selingkuh, anak-anak terlantar, pengangguran di kalangan pria, kumpulkebo, dsb. Itu semua dikarenakan wanita keluar rumah tanpa dikawal muhrim. Maksudnya, kalau saja setiap wanita keluar rumah dikawal suami atau mahramnya (walau pun kota terjamin aman), dipastikan segala kekejian yang diperbuat wanita tersebut tidak pernah ada, karena sang wanita selalu berada di dalam kontrol sang suami atau mahram.

Wanita bukanlah seorang Malaikat, yang kalau keluar rumah selama apa pun maka ia tidak akan pernah berbuat keji di tengah kota. Tidak. Wanita adalah manusia jua adanya, yang mempunyai potensi untuk berbuat keji dan mengerikan. Oleh karena itu kalau wanita keluar rumah, maka wajiblah keluarganya mengawalnya, agar dengan demikian sang mahram akan menjadi penghalang bagi wanita tersebut untuk berbuat yang tiada pantas dan melanggar syariah.

Intinya, bukankah seluruh tugas dan takdir wanita justru berada di rumahnya? Final sekali bahwa tidak ada urusan wanita di luar rumah, sementara kalau wanita keluar rumah, maka kekejian yang diperbuat wanita lah yang akan beranak pinak di kampung-kampung.

Inti pembahasan.

Betapa agungnya ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw ini, khususnya mengenai aturan wanita bermahram saat bepergian ini. Di satu pihak, Islam mengajarkan bahwa wanita merupakan mahluk yang tidak dapat dipercaya kalau ia berada jauh di luar rumah -sehingga ia harus dikawal oleh mahramnya ….. namun pada  pihak lain terbukti bahwa wanita yang keluar rumah tanpa mahram, secara empiris memang menunjukkan perilaku yang kontra terhadap kebajikan dan keagungan: pamer aurat, bergunjing, berkhalwat, mengganggu suami orang, menginisiasi pacaran, dsb. Semua perilaku yang kontra tersebut tentunya akan ter-eliminasi dengan sendirinya kalau saja setiap wanita itu keluar rumah dengan dikawal mahram atau suaminya.

Sekarang sampailah pada bagian inti dari paparan ini mengenai aturan bermahram bagi wanita saat keluar rumah. Di bawah ini akan dipaparkan dua aspek mengenai isu wanita keluar rumah dengan bermahram.

Pertama.

Untuk haji dan umrah saja setiap wanita harus dikawal mahramnya, maka bagaimana dengan urusan lain yang tidak begitu penting? Bagaimana dengan bekerja mencari uang, karir, jabatan, bersekolah, arisan, kondangan, dsb?

Faktanya, aturan bermahram ini banyak dilanggar kaum wanita, sehingga tampaklah jalan setiap kota dilalui banyak wanita yang berjalan tanpa mahram atau suami. Pertanyaannya adalah, mengapa hampir seluruh wanita keluar rumah tanpa mahram, yang mana itu artinya hampir seluruh wanita GIGIH melanggar syariah?

Jawabannya adalah karena (hampir) seluruh wanita TELAH DIBERDAYAKAN sehingga mereka mempunyai kekuatan psikologis untuk melawan syariah. Dengan DIBERDAYAKAN, maka kaum wanita merasa bahwa syariah tidak begitu penting, bahkan dianggap sebagai penghalang kemajuan. Tiada kepatuhan dan ketaatan pada seorang wanita kepada agama dan syariah, selama wanita tersebut DIBERDAYAKAN oleh keluarga dan lingkungannya.

Dengan DIBERDAYAKAN, kaum wanita tidak merasa takut terhadap nilai dan ancaman agama. Larangan berzina saja dilanggar banyak wanita, larangan khalwat saja dilanggar banyak wanita, larangan pamer aurat saja dilanggar banyak wanita, maka apalagi aturan pergi harus dikawal mahram? Bahkan tiada terhitung banyaknya wanita yang tega membunuh bayinya sendiri yang adalah hasil hubungan pacaran. Dan entah dalil apa yang mereka gunakan untuk melawan syariah, yang jelas melawan syariah membuat mereka nyaman, dan mereka tiada merasa kenyamanan saat mentaati syariah.

Terlalu banyak Muslimah yang berani melawan syariah dengan pergi haji maupun umrah tanpa suami maupun mahram …… dan latar belakang mereka sebagai wanita yang DIBERDAYAKAN, baik secara intelektual maupun finansial, menjadi satu-satunya faktor penyebab mereka berani membangkangi syariah di dalam hal bermahram ini.

Intinya jelas, bahwa PEMBERDAYAAN YANG DICECAP kaum wanita sejak dini, khususnya pendidikan, adalah biang keladi atas supermasif nya kaum wanita berani membangkangi syariah hal bermahram ini.

Keadaannya akan jauh berbeda jika membicarakan kaum wanita yang TIDAK beroleh PEMBERDAYAAN khususnya pendidikan sejak dini: mereka pada setiap saat khususnya saat dewasa justru akan patuh dan manut pada segala hukum syariah, khususnya mengenai aturan bersama mahram atau suami saat keluar rumah. Jiwa-jiwa dan psikologi yang sederhana lantaran tidak pernah mencecap pemberdayaan khususnya pendidikan, merupakan tempat di mana syariah diperlakukan dengan baik dan agung, sehingga dunia melihat kaum wanita ini tidak pernah melanggar syariah, dan tidak pernah keluar rumah kecuali ditemani suami atau mahram, dengan sukacita dan ketaatan. Secara khusus, mereka akan lebih cenderung tinggal di  rumah, manut dengan tugas dan kodrat domestik–khususnya untuk membesarkan anak-anak -dan menjaga kesucian tubuh dan roh mereka dari fitnah keji di luar rumah.

Satu hal yang jelas, bahwa perbedaan antara melanggar syariah dan manut syariah terletak pada aspek pemberdayaan wanita. Kalau seorang wanita diberdayakan sejak dini khususnya di dalam hal pendidikan, maka kelak ia akan menjadi individu yang berani melanggar syariah, yaitu keluar rumah tanpa dikawal suami atau mahram, demi bisa bebas berpacaran, atau berkompetisi kecantikan di tengah kota, atau pamer aurat, atau berbaur bebas dengan para perjaka di pasar-pasar, atau bahkan mengganggu suami orang, dsb. Dan pada satu ujungnya: mereka berani berangkat haji maupun umrah tanpa ditemani suami atau mahram, dengan berbagai dalil dan argumentasi yang sesat dan murahan.

Kebalikannya yaitu seorang wanita sejak dini TIDAK diberdayakan seperti mencecap anugrah pendidikan formal, maka kelak selamanya ia akan menjadi individu yang manut kepada syariah sehingga menjadilah ia mengagungkan syariah dan titah para Nabi, tanpa syarat. Dan lebih dari itu, ia akan menjadi individu yang lebih cenderung untuk diam di rumah untuk membesarkan anak dan menjaga kesucian  tubuh dan rohnya. Untuk lebih jauh dengan masalah ini, silahkan baca “GARAM: Ilmu Pengetahuan Antara Pria Dan Wanita“.

Itulah sebabnya dewasa ini banyak ditemui jemaah wanita pergi haji maupun umrah tanpa dikawal mahram atau suami. Hal tersebut dikarenakan mereka semua adalah individu wanita yang sudah kenyang pemberdayaan, baik berupa pendidikan formal hingga setinggi-tingginya, dan juga beroleh pekerjaan sehingga mempunyai sumber uang sendiri.

Kedua.

Apabila kamu panjang umur, maka kamu akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al hairah sampai thawaf di Kabah, ia tidak takut apapun kecuali Allah. Adiy berkata: Lalu saya melihat seorang wanita berangkat dari al Haira sampai thawwaf di sekeliling Kabah, ia tidak takut kejenuhan”, Alhadis.

Potongan Alhadis ini melukiskan bahwa kelak akan dijumpai wanita yang pergi haji tanpa mahram. Dan Alhadis yang sama mengabarkan bahwa apa yang dikatakan sang Nabi memang terbukti. Apakah maknanya?

Maknanya adalah, bahwa mengharapkan ketaatan dari kaum wanita, merupakan satu hal yang sulit, walau pun telah dipesankan jauh sebelumnya. Sekuat apa pun para Nabi berpesan bahwa kaum wanita terlarang untuk pergi keluar rumah tanpa mahram, toh kaum wanita akan tetap pergi keluar rumah tanpa mahram, dan kemudian berimplikasi pada tingginya kasus kekejian yang diperbuat wanita di luar rumah. Maka hendaklah semua pria dan semua Negara beserta Alim Ulama berjaga-jaga akan pembangkangan kaum wanita ini. Jangan sekali-sekali terpedaya oleh bujuk rayu dan rengekan kaum wanita untuk beroleh ijin keluar rumah tanpa mahram atau suami.

Nabi Saw pada satu saat dengan tegas bersabda, “Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali dengan mahram’, namun pada saat yang lain Rasul saw bersabda bahwa kelak akan terlihat seorang wanita yang berhaji tanpa mahram. Adalah tidak mungkin bahwa kejadian ini menunjukkan bahwa Nabi Saw telah berperilaku tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri. Nabi Muhammad Saw tetaplah konsisten dengan kata-katanya sendiri sebagaimana layaknya seorang Nabi. Sehinggakan bahwa kejadian ini hanya mengimplikasikan satu hal yang lain, yaitu betapa membangkangnya kaum wanita, kendati telah diberi ajaran yang jelas dan terang.

Penutup.

Sekali lagi, memberikan pemberdayaan baik di dalam bentuk pendidikan maupun akses bekerja kepada kaum wanita merupakan perbuatan munkar, dan jelas memberdayakan kaum wanita tidak mempunyai dalil dan dasarnya pada ajaran dan tuntunan Rasulullah saw: Islam justru dengan tegas melarang pemberdayaan wanita sejak awal.

Dan pada paparan ini, terlihat bahwa memberdayakan kaum wanita, khususnya pendidikan, telah membuat kaum wanita begitu berani melanggar syariah, khususnya di dalam hal bepergian bersama mahram. Dengan diberdayakan, kaum wanita menjadi begitu terbiasa membunuh bayi-bayi mereka yang merupakan hasil zina mereka; kaum wanita jadi berani perbuat pacaran dengan pria-pria di tengah kota, yang mana dari pacaran tersebut berujung zina, dan zina tersebut berujung pada melahirkan bayi yang tiada diinginkan, sehinggakan membunuh bayi tersebut menjadi satu-satunya solusi mudah untuk melenyapkan aib. Dengan diberi akses pendidikan formal kaum wanita jadi gemar berkhalwat, dan juga berani berbusana minim sehinggakan terjadi berlomba pamer aurat di tengah pasar. Segala kekejian dan kengerian telah banyak dipertontonkan kaum wanita yang telah diberdayakan ini. Intinya, larangan berkhalwat saja dilanggar, larangan pamer aurat saja dilanggar, maka apalagi larangan pergi tanpa mahram?

Emansipasi Wanita, yang berporos pada pemberdayaan kaum wanita, jelas merupakan bentuk angkara murka di atas bumi, oleh karena itu Emansipasi Wanita harus ditumpas dan dibumihanguskan; hanya itu satu-satunya cara membebaskan kaum wanita dari kehancuran moral. Kembalikan kaum wanita kepada alam domestik, karena hanya dengan kembali ke alam domestiklah, kaum wanita akan tetap berada di dalam kesucian dan keagungannya. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Emansipasi Wanita Dan Produk Fikiran Yang Dihasilkannya

cloak

EW adalah gerakan atau faham untuk memberdayakan wanita, khusus nya dalam bentuk pendidikan formal, agar dari aktivitas ini tercetak kaum wanita yang ber intelektual dan mampu memberi sumbangsih bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas. Dengan pendidikan, diharapkan kaum wanita dapat berkiprah secara produktif  berdampingan dengan kaum pria.

Itu adalah pandangan umum nya seluruh dunia, dan khusus nya kaum wanita sendiri. Dengan pendidikan formal, diharapkan kaum perempuan dapat mengejar keter tinggalan mereka dari kaum pria, dan lebih dari itu dapat mensejajarkan takdir mereka dengan kaum pria.

Gerakan dan faham Emansipasi Wanita ini sudah berlangsung puluhan tahun, di Indonesia faham EW setidak nya sudah ditanam pada tahun 1970an pada awal masa Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, dengan mengusung nama RA. Kartini yang dianggap sebagai pelopor kemajuan kaum wanita. 

Dengan dipintarkan melalui pendidikan formal, diharapkan kaum wanita dapat mengajukan ide dan tenaga membangun yang mengagumkan, yang dapat memajukan kehidupan bangsa. Namun kemudian, apakah ide dan fikiran perempuan produk EW bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum wanita di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? 

Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. 

Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi wanita satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, fitrah, hukum nurani, hukum kepantasan, dsb. 

Perempuan yang diberdayakan tidak pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum wanita sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut  pemberdayaan melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan wanita, tiba-tiba agama dan hukum alam menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. 

Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum wanita yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum wanita, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum wanita.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Di dalam alam Emansipasi Wanita, anak wanita diberi pemberdayaan khususnya pendidikan formal, dengan harapan kelak mereka akan mempunyai kualitas kaum pria. Namun kemudian kenyataan apa yang dicecap dunia dari wanita yang dipintarkan ini? Bumerang, dan pendidikan formal membuat kaum wanita meluncur keluar dari rel alami nya, dan meletuskan hujatan dan kutukan ke segala arah, sambil membumikan dekadensi moral yang berbau busuk: freesex, zina massal, pelacuran, hamil di luar nikah, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, lumrahnisasi pacaran, dsb.

Kesimpulan.

EW yang merasuk ke dalam roh kaum wanita, memberikan produk fikiran berupa:

  • Perempuan yang diberdayakan tidak pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan.
  • Wanita yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, fitrah, hukum nurani, hukum kepantasan, dsb.
  • Yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat; agama dan hukum alam menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan.
  • Dan yang benar hanyalah kaum wanita sendiri dengan alam fikiran mereka.
  • Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak perselingkuhan, aborsi massal, marak gugat cerai, marak swinger-sex, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitas, marak kumpulkebo  …..dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, keberdayaan yang didambakan kaum wanita, justru membuat kaum wanita semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Wallahu a’lam bishawab!

 

Emansipasi Wanita Memperjuangkan Persamaan Derajat Benarkah?

1498053543p

Emansipasi Wanita (EW) yang diperjuangkan kaum wanita, sejatinya merupakan perjuangan untuk mempersamakan derajat mereka dengan kaum pria. Sebelum-nya, kaum wanita, karena sudah dicekoki pemberdayaan sejak kecil khususnya pendidikan, jadi berfikir mengapa kaum wanita selalu berada di bawah bayang pria, ayahnya, abangnya, mau pun suaminya. Mengapa kaum wanita seolah hanya ditakdirkan untuk selalu meringkuk di dapur saja untuk memasak dan mencuci piring, dus mencuci baju hingga rapi diterika, sementara kaum pria di luar rumah bebas merajut karir sebagai orang hebat yang memerintah kota dan negara.

Mengapa tugas wanita hanya sebatas mengandung, kemudian melahirkan anak, kemudian momong anak hingga besar, sementara abang-abang mereka menjadi pemimpin hebat, menjadi menteri, ulama kenamaan dsb. Bahkan wanita sejak awal tidak diberi hak untuk memilih suami, melainkan hanya terpaku saja saat dipinang pria asing di depan ayah bunda. Yang lebih mengiris perasaan adalah, wanita sejak dini dipingit di dalam rumah, seolah rumah adalah penjara alami buat mereka: mereka dilarang keluar rumah, karena kalau keluar rumah maka hal-hal keji akan terjadi. Sedangkan kaum pria, atau anak manusia yang ‘kebetulan’ lahir sebagai pria, bebas keluar rumah dan memperoleh sejuta pengalaman. Sejuta pertanyaan mengapa.

Berkat pendidikan formal yang mereka peroleh, mereka, para wanita muda ini jadi terbuka wawasan berfikirnya. Mereka mulai bertanya dan berani mengajukan teori. Mereka mulai merasakan adanya ketidakadilan yang diciptakan kaum pria atas perem-puan. Sejak saat itulah, berkat pendidikan formal, wanita bertekad dan berjuang untuk memperjuangkan persamaan derajat dengan kaum pria.

Puluhan tahun berlalu, tahun-tahun yang penuh perjuangan untuk ber-emansipasi. Sedikit banyak, aspirasi mereka untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, didengar Pemerintah. Maka mulailah banyak sekolah berbagai jenjang menerima murid wanita. Dan kemudian, mulailah banyak wanita yang bekerja, menjadi karyawati, menjadi staf kantor, atau juga menjadi PNS, bahkan menjadi tentara dan juga dokter.

Hal ini tentunya merupakan perkembangan yang menggembirakan bagi kaum wanita, khususnya para feminist. Dengan mempunyai akses kepada dunia kerja, berarti wanita mempunyai uang sendiri. Mempunyai sumber keuangan sendiri, berarti mempunyai power untuk menentukan ideologi mana yang ingin mereka tempuh, kendati keluarga dan dunia pria tidak menghendaki. Toh uang sudah mereka kuasai tanpa harus meminta uang kepada pria-pria mereka.

Dengan perjuangan mereka bertahun-tahun, akhirnya mereka melihat bahwa tujuan mereka berhasil, yaitu mempersamakan derajat dengan kaum pria. Mereka tidak lagi dipenjara di rumah, mereka tidak lagi hanya berkutat di dapur sampai berdebu, dan mereka tidak lagi hanya bertugas momong anak, karena sudah diserahkan kepada babysitter, dsb. Seperti halnya pria, sekarang kaum wanita keluar rumah untuk merajut karir, dan yang terpenting adalah, mempunyai sumber uang sendiri.

Imbas kepada alam pria.

Sama diketahui, bahwa Emansipasi Wanita secara keniscayaan berujung pada infiltrasi kaum wanita secara massal kepada lapangan kerja / pangker. Dan ini artinya, akan banyak kaum pria yang terdepak dan ter-eliminasi dari pangker, karena pangker sudah keburu direbut kaum wanita, atas nama Emansipasi Wanita. Ujungnya, banyak ditemui pria yang menganggur, alias pengangguran di kalangan pria.

Mengapa sang suami menganggur? Ya, dikarenakan pria menemui kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, karena kebanyakan pangker telah habis dibabat kaum wanita, thanks to Emansipasi Wanita!!

Babak berikutnya yang terjadi dan menjadi kelumrahan adalah, fenomena ‘dunia terbalik’, di mana pada jaman Emansipasi Wanita, justru istrilah yang menjadi kepala rumah tangga, sementara suami lah yang harus manut dan taat kepada istri. Istri menjadi kepala rumah-tangga, karena istrilah yang bekerja dan mencari nafkah, dus berarti istri lah yang memegang otoritas keuangan, sementara suami hanya sebagai penerima jatah keuangan dari istri, maka dari itu suami hendaknya manut dan taat saja kepada istri.

  • Itu semua bermula dari Emansipasi Wanita,
  • Hal tersebut bermula dari memberi pendidikan formal kepada anak-anak wanita sejak dini –hingga setinggi-tingginya.
  • Dan hal tersebut bermula dari terdepak-nya kaum pria dari pangker,
  • Kemudian hal tersebut bermula dari terjerumus nya kaum pria menjadi pengangguran, karena pangker telah keburu habis dibabat kaum wanita.
  • Dan hal tersebut bermula dari infiltrasinya kaum wanita ke dunia kerja.

Dan akhirnya sampailah kepada topik utama: mempersamakan derajat wanita dengan kaum pria. Benarkah perjuangan Emansipasi Wanita semata untuk memperoleh persamaan derajat dengan kaum pria? Apakah tidak ada hal lain yang menyertai persamaan derajat tersebut? Dan pada akhirnya patut dibahas, apakah kaum wanita merupakan @spesies yang bijaksana dan @berakal kuat untuk memulai pembicaraan mengenai apakah itu yang dinamakan mempersamakan derajat dengan kaum pria?

@Spesies yang bijaksana.

Apakah merupakan konsensus semua pihak untuk menyatakan bahwa wanita merupakan spesies yang bijaksana di dalam berdebat? Apakah kaum wanita merupa-kan spesies yang sebijaksana kaum pria saat memikirkan kemaslahatan?

Sejak awal wanita memprotes nasib mereka yang hanya sebagai bayang-bayang kaum pria, di mana mereka tidak diberi keleluasaan di dalam bergerak. Untuk selamanya kaum wanita di-plot untuk menjadi lemah dan terbelakang, keterampilannya hanya seluas dapur untuk memasak, dan menerika baju para suami dan anak, dari hari ke hari. Tidak boleh lebih dari itu: hanya manut kepada suami atau ayah.

Untuk itulah kaum wanita bangkit untuk melawan situasi yang tidak adil. Wanita bangkit untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, melalui organ yang disebut @pendidikan -dan merebut @akses kepada dunia kerja -sebagai sumber keuangan, dan untuk -mempunyai autoritas sosial. Mereka sangat percaya, bahwa hanya dengan @pendidikan dan @akses kerja, maka kesetaraan dengan kaum pria dapat diperoleh. Intinya, wanita hanya menuntut kesetaraan, hanya menuntut perlakuan sama dengan kaum pria. Itu saja yang dituntut kaum wanita, tidak lebih.

Hasilnya? Akibatnya adalah fenomena ‘dunia terbalik’, di mana para pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, dan harus menyelesaikan seluruh tugas domestik, termasuk momong anak. Para pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, karena dunia kerja sudah tidak bisa lagi menampung pekerja pria, dikarenakan pangker sudah keburu habis dibabat kaum wanita. Sementara kaum pria harus menjadi pengangguran dan tinggal di rumah khususnya untuk momong anak, justru kaum wanita berada di tempat kerja, untuk cari uang dan nafkah keluarga.

Dunia terbalik, dan kaum wanita telah berhasil ‘meninggalkan’ takdir pahit mereka selama ini sebagai narapidana rumah yang telah membelenggu mereka selama berabad-abad, dan untuk itu kaum pria-lah yang diminta (dipaksa) untuk dipenjara di dalam rumah. Lantas situasi inikah yang diinginkan dan didambakan kaum wanita melalui gerakan Emansipasi Wanita? Yang katanya untuk mempersamakan derajat?

Mereka bilang, Emansipasi Wanita hanya bertujuan untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, tidak lebih, sementara kenyataan yang diberikan kaum wanita tidak lain adalah ‘tukar posisi’ dengan kaum pria:

  • Dulu kaum wanita yang dipenjara di dalam rumah, sekarang prialah yang harus dipenjara di dalam rumah;
  • Dulu prialah yang memerintah kota, maka sekarang wanitalah yang memerintah kota (menjadi menteri, gubernur, dirut, presiden, kepala kantor, dsb).
  • Dulu wanita yang harus manut dan berbakti kepada kaum pria, maka sekarang prialah yang harus manut dan berbakti kepada wanita / istri.
  • Dulu pria yang menafkahi wanita, sekarang wanitalah yang menafkahi suami, oleh karena itu suami harus taat kepada istri.
  • Dulu pria yang mencerai istri, sekarang wanitalah yang menggugat cerai suami ke kantor hakim.

Ketika wanita berparadigma bahwa tujuan Emansipasi Wanita semata untuk mempersamakan derajat dengan kaum pria, maka itu berarti kaum pria dipaksa untuk bertukar posisi dengan kaum wanita, tidak lebih. Dan omong-omong soal tukar posisi, itu bukan persamaan derajat namanya: lain persamaan derajat, lain lagi tukar posisi. Dengan kata lain, ketika wanita meminta perak, itu harus berarti emas intan berlian. Kalau meminta perak, harus berarti perak juga, bukan begitu?

Bijaksanakah wanita dengan perilaku ini? Agungkah wanita dengan perangai ini? Dulu wanita meratapi kekejian kaum pria karena selalu memenjara wanita di dalam rumah dan kebodohan, namun justru sekarang wanitalah yang bersemangat memenjarakan pria di dalam rumah sehingga tampak tidak berdaya!

Luhurkah wanita dengan gelagat ini? Wanita berpidato menuntut persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus bersedia menganggur dan diam di rumah mengenakan ‘daster’ dan menyusui anak hingga kenyang. Wanita berpidato tentang persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus tinggal di rumah manut dan berbakti kepada istri, kalau tidak taat dan tidak berbakti kepada istri, silahkan hadapi gugat cerai dari sang istri yang sudah menjadi top manager atau menteri –dan berduit banyak. Wanita berpidato berapi-api menuntut perak, ternyata itu harus berarti emas intan berlian. Emansipasi Wanita menuntut persamaan derajat dengan kaum pria, ternyata itu berarti pria harus tinggal di rumah sebagai pengangguran, dan harus berbakti kepada istri karena telah lelah bekerja seharian cari uang untuk makan sang suami. Apakah itu yang dinamakan persamaan derajat?

Ternyata wanita tidak jauh lebih baik dari pria, karena di dalam darah wanita juga mengalir angkara murka untuk memenjara pria di dalam rumah, dan ketika pria terpenjara di dalam rumah sehingga tampak tak berdaya terhadap wanita, alangkah gembira wanita melihatnya!

Pertanyaannya adalah apakah wanita mahluk sebijaksana pria, dan jawabannya sungguh meragukan: meminta perak namun emas intan berlian yang dituntut, bukanlah suatu kebijaksanaan yang menakjubkan.

Bijaksanakah wanita? Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut? Dan apakah wanita mempunyai kompetensi untuk menjawab pertanyaan yang begitu high-sense?

@Berakal kuat.

Benarkah kesepakatan semua pihak untuk menyatakan bahwa wanita merupakan spesies yang berakal kuat sebagaimana halnya kaum pria? Dan apakah akal yang kuat itu akan digunakan kaum wanita untuk memikirkan kemaslahatan?

Dengan megahnya Emansipasi Wanita, banyak kaum pria yang terlempar dari pangker, hal mana membuat ribuan pria menjadi pengangguran, dan harus tinggal di rumah -sementara wanita dan istri keluar rumah untuk bekerja merajut karir dan mengatur kota. Telah terjadi penjungkir balikan kodrat, yang mana penjungkir-balikan tersebut sepenuhnya atas kehendak kaum wanita semata, dan dipaksakan kepada kaum pria.

Aneh, ketika para istri melihat suami mereka menganggur di rumah ‘mengenakan daster’ dan celemek untuk menyuapi anak, apakah kaum wanita tidak merasa terpanggil untuk melenyapkan pengangguran dari kalangan pria? Apakah kaum wanita tidak merasa sesak melihat suami mereka tercecer di rumah tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan? Apakah kaum wanita tidak merasa gelisah melihat suami mereka tidak lagi berperan sebagai suami yang menafkahi keluarga sebagaimana semestinya? Apakah kaum wanita tidak merasa risih melihat pria masak di dapur, mencuci baju, dan mengganti popok bayi? Bukankah hal tersebut adalah alamnya kaum wanita? Mengapa sekarang hal tersebut harus digeluti para pria?

Tidak ada fikiran kaum wanita untuk mengakhiri kekacauan tersebut. Faktanya, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, justru betapa senang kaum wanita melihat suami mereka terdampar di rumah mengenakan daster dan celemek untuk momong anak dan mencuci daleman wanita. Kaum wanita melihat, sedikit pun tidak ada yang salah kalau suami harus tinggal di rumah dari hari ke hari, dan menyiapkan makan dan kopi untuk sang istri, dan melihat sang suami memandikan si buyung hingga bersih dan melekatkan baju dan bedak. Di mana nurani wanita sebagai mahluk yang dikenal lembut dan penuh perasaan? Rivalitas gender yang beredar di dalam darah wanita jelas telah mengalahkan segala-galanya.

Pengangguran abadi para pria dan suami, adalah final di tangan kaum wanita, yaitu kaum wanita yang ber-Emansipasi. Di dalam hal kalau pria dan suami akhirnya diterima bekerja, maka masalah kemudian adalah siapa yang akan momong anak dan menyiapkan makan sang istri sepulang kerja? Apakah istri harus berhenti bekerja demi momong anak dan menyiapkan makan keluarga? Wanita tidak pernah punya waktu untuk membahas hal tersebut, tentunya. Karir dan pekerjaan yang digeluti para wanita, adalah di atas segala-galanya, sementara momong anak dan menyiapkan makan keluarga, tidak bernilai apa-apa bagi wanita karir. Di dalam hal suami memaksa istri berhenti bekerja agar suami dapat menggeluti pekerjaan yang baru didapatnya, maka istri lebih dari siap untuk mengajukan gugat cerai ke kantor hakim. Begitu mudahnya.

Predikat wanita sebagai spesies yang berakal kuat sebagaimana halnya kaum pria, jelas dipertanyakan. Apakah adagium di mana wanita cenderung menggunakan perasaannya daripada fikirannya, tidak lagi mempunyai makna lantaran Emansipasi Wanita telah megah di muka bumi? Kalau keyakinan bahwa wanita berakal kuat sekuat kaum pria benar adanya, maka tentunya banyak wanita yang mementingkan bagaimana para suami bekerja, atau bahkan lebih mendahulukan suami bekerja ketimbang para wanita tersebut tetap memaksa untuk terus bekerja.

Kesimpulan.

Mungkin dunia dengan kesantunannya menerima aspirasi kaum wanita bahwa Emansipasi Wanita hanya bertujuan untuk mensetarakan derajat kaum wanita terhadap pria. Sampai di sini dunia telah menjadi pendengar yang baik. Namun hal tersebut sama sekali tidak membuat kaum wanita benar dengan pandangan mereka, bahwa kesetaraan gender antara pria dan wanita adalah satu-satunya hal terindah bagi wanita, tidak.

Tidak pernah ada kesetaraan gender antara pria dan wanita di dalam fikiran kaum wanita. Rivalitas gender yang mengalir di dalam darah Emansipasi Wanita membawa frame untuk memastikan bahwa kehendak wanita untuk berkarir sama sekali tidak diganggu oleh terjerumusnya kaum pria di lini domestik dari hari ke hari, tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan tanpa wibawa sebagai pria dan suami.

Tidak pernah ada kesetaraan gender, baik di dalam fikiran kaum wanita yang ber-emansipasi, mau pun dalam fakta sehari-hari. Emansipasi Wanita adalah babak rivalitas gender kaum wanita terhadap alam pria, sambil menyatakan bahwa dirinya adalah mahluk lemah yang harus dibela dan dilindungi hak-haknya oleh alam pria.

Extra Text.

Pertama.

Dengan Emansipasi Wanita, kaum wanita berhasil menguasai ranah publik dan juga jalur karir, juga sumber keuangan -sehingga wanita dapat memastikan keunggulan posisinya di depan suami / para lelaki. Namun sungguh pun demikian, wanita dapat menguasai ranah publik serta menggeluti pekerjaan dan jabatan, ……BERKAT…… berbagai fasilitas dan kecanggihan teknologi. Mereka menggunakan mobil, kereta listrik, pesawat terbang, komputer, printer, berbagai zat dan bahan kimia, dsb ….. Berkat kecanggihan teknologi, wanita dapat mengaktualisasi diri di ranah publik di dalam berbagai karir, dengan begitu mudah dan menyenangkan, tanpa rasa lelah dan membosankan ….

Mustahil, tidak mungkin, wanita dapat berkarir dan berkiprah di sektor publik tanpa andil dan manfaat kecanggihan teknologi. Semua faham bahwa kaum wanita adalah mahluk lemah dan manja, penuh keluh kesah. Maka apakah mungkin wanita sanggup berjalan kaki puluhan kilometer dari rumah ke tempat kerja setiap hari? Apakah kaum wanita bersedia dan gigih menaiki tangga darurat gedung ke lantai 11 setiap hari demi bisa berada di ruang kerja? Tidak. Faktanya mereka butuh mobil dan elevator canggih nan terang benderang dan berpendingin udara.

Dan pada akhirnya, siapakah penemu dan perancang semua kecanggihan teknologi tersebut yang dengannya kaum wanita dapat mengembangkan karir? Jawabannya adalah kaum pria, dan hanya kaum pria, sejak berabad lampau. Kaum prialah yang berjuang, menemukan dan mengembangkan berbagai kecanggihan teknologi tanpa kenal lelah. Tidak ada andil kaum wanita sedikit pun ketika kecanggihan teknologi ditemukan dan dirancang kaum pria.

Dan ketika kecanggihan tersebut telah siap digunakan, umat manusia bergembira, tidak terkecuali kaum wanita. Teknologi, yang intinya mempermudah pekerjaan dan aktivitas, tidak pelak membuat kaum wanita sangat terbantu. Kaum wanita, yang semula sangat tergantung pada kemurahan kaum pria, menjadi begitu mandiri di dalam mengerjakan banyak hal, dan tidak butuh kaum pria lagi. Dan itu semua berkat benda yang disebut teknologi.

Baiklah wanita tidak berdaya sedikit pun untuk menjadi penemu teknologi, dan tidak mengerti apa-apa untuk bisa menemukan teknologi, dan kenyataannya kaum wanita hanya menjadi mereka yang bergembira dengan keberadaan teknologi, namun ketika wanita menggunakan teknologi tersebut, tiba-tiba wanita bangkit dari kediamannya yang alami itu, lalu dengan teknologi tersebut wanita mengaku bahwa  mereka adalah sama unggulnya dengan kaum pria, dan oleh karena itu kaum wanita mengklaim bahwa mereka berhak dan layak untuk mengatur-atur pria bahkan memerintah pria. Yang jelas, kaum wanita mengklaim hak untuk persamaan gender, yang mana hal tersebut harus berarti banyak pria harus menganggur di rumah tanpa penghasilan dan tanpa wibawa sebagai suami.

Dengan teknologi, wanita mengklaim hak untuk infiltrasi ke pangker, dan merasa berhak untuk mendongkel jutaan pria dari pangker. Dan dengan dalih Emansipasi Wanita, didukung kecanggihan teknologi yang notabene ditemukan oleh dunia pria, kaum wanita memperjuangkan tukar posisi dengan kaum pria di ranah domestik, agar wanita lah yang berada di ranah publik untuk memerintah seisi kota dan menata lembaga bisnis.

Dunia pria lah yang menemukan teknologi, namun dengan teknologi tersebut, kaum wanita lah yang memutuskan hidup seperti apa yang harus dijalani pria sebagai pengangguran di rumah. Siapa pun ingat, bahwa ketika pria menemukan teknologi pada awalnya, tidak ada rencana dan maksud sedikit pun di dalam fikiran kaum pria, untuk menjadikan teknologi itu sebagai kuburan mereka pada akhirnya.

Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Pria Penemu Teknologi Wanita Yang Mabuk Kepayang“.

Kedua.

Emansipasi Wanita berarti banyak hal, di antaranya …..,

  • Wanita keluar rumah setiap hari secara permanen.
  • Wanita berbaur dengan pria asing di ranah publik secara intens.
  • Wanita memperoleh kerja dan sumber uang sendiri.
  • Wanita merebut pangker dari dunia pria.
  • Wanita menjerumuskan kaum pria ke lembah pengangguran. Dsb.

Emansipasi Wanita selalu berarti massif nya wanita berbaur dengan pria asing di ranah publik setiap hari. Yang semula kaum wanita merasa jengah berada di depan pria asing, secara perlahan berubah menjadi nyaman dan positif ketika psikologi mereka terbiasakan untuk melihat keramahan dan kelembutan setiap pria asing.

Akibatnya? Kalau wanita sudah kehilangan rasa jengah terhadap pria asing, berarti awal malapetaka umat yang sekarang sudah menjadi faktual sehari-hari di jaman Emansipasi Wanita ……….,

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat,
  6. bangkai bayi di tempat sampah,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. kondomisasi,
  14. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  15. Pelacur prostitusi,
  16. Pengantin perempuan mengandung bayi di perutnya,
  17. Maha / siswi kehilangan kegadisan,
  18. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  19. Perempuan perebut suami orang,
  20. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  21. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, tidak pandai membesarkan anak dsb,
  22. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  23. anak-anak jadah,
  24. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  25. anak-anak brokenhome,
  26. single parent,
  27. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  28. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  29. kawin lari,
  30. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada angka kriminalitas, dsb.

Dengan demikian, jaya-nya kaum wanita melalui Emansipasi Wanita untuk mendomestikkan kaum pria, tidaklah berdiri sendiri, melainkan BERPARALEL dengan seluruh kejahatan dan kekejian moral yang seutuhnya beraroma kewanitaan. Kebangkrutan! Dekadensi moral!

Penutup.

Satu tradisi kaum wanita ketika mereka memperjuangkan Emansipasi Wanita adalah meneriakkan hak alami mereka untuk kesetaraan gender. Dan bagi dunia, hal tersebut terdengar seperti kesepakatan kaum wanita untuk memformulasikan keadaan tukar posisi antara wanita dan pria: rivalitas gender menjadi begitu sepadan untuk Emansipasi Wanita.  Pada saat yang bersamaan, pun rivalitas gender tersebut berbaur dengan dua semesta, yaitu (1) bahwa Emansipasi Wanita diusung dengan mengendarai kecanggihan teknologi yang seutuhnya beraroma penciptaan lelaki, di mana tidak ada satu wanita pun yang dapat membuat dan menciptakan kecanggihan teknologi tersebut. (2) Dan mengerikan, bahwa rivalitas gender ditakdirkan untuk beriringan dengan kejatuhan dan kebangkrutan moral di segala lini kehidupan, wanita-lah yang memulainya dan menggerakkannya!!

Pada akhirnya, tidak ada logika yang dapat membenarkan Emansipasi Wanita. Oleh karena itu atas nama kebajikan dan kemaslahatan, Emansipasi Wanita harus ditumpas dan dihentikan; mengembalikan kaum wanita kepada alam domestik menjadi satu-satunya solusi yang adil bagi semua pihak, tidak terkecuali bagi kaum wanita sendiri. Maslahat yang lebih luas hanya selalu berarti sebuah dunia yang melihat kaum wanita sebagai mahluk domestik, dari usia dini sampai selama-lamanya.

Wallahu a’lam bishawab.

Jihad Bagi Wanita

jihadbagipere

Berikut di bawah ini akan diturunkan dua artikel mengenai kiprah perempuan di luar rumah, kemudian pada bagian berikutnya Annisanation akan memberi ulasan atas dua artikel tersebut. Semoga bermanfaat. *****

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Siti Mahmudah.

Ibnu Abbas RA menuturkan, datang seorang wanita kepada Nabi SAW seraya berkata,

“Sesungguhnya aku adalah duta kaum wanita untuk menghadapmu. Tidak ada seorang wanita di antara mereka, baik yang mengerti maupun tidak mengerti, melainkan dia akan merasa senang dengan kehadiranku di hadapanmu. Allah adalah Tuhan kaum laki-laki dan wanita, sedang engkau adalah Rasul Allah kepada kaum laki-laki dan wanita. Jihad telah diwajibkan kepada kaum laki-laki. Jika menang, mereka akan kaya. Jika gugur sebagai syahid, mereka tetap hidup di sisi Tuhannya. Lalu, adakah di antara amal-amal kaum wanita yang mampu menandingi hal itu? Nabi SAW menjawab: Mentaati suami dan mengetahui hak-hak mereka (dapat menyamai jihad di jalan Allah), tetapi sedikit dari kalian yang melakukannya” (HR Thabrani).

Hadis di atas memberikan penjelasan bagi kaum wanita yang memiliki semangat untuk berjihad di jalan Allah SWT. Dan ternyata, jihad bagi kaum wanita itu cukup mudah dan hal itu tidak jauh dari rumah tangganya.

Jihad bagi kaum wanita sebagaimana hadis di atas adalah taat kepada suami. Sebab, ketaatan seorang wanita (istri) kepada Allah tidak akan sempurna jika tanpa diikuti ketaatan kepada suami, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat.

Aisyah RA berkata,

“Seandainya seorang wanita mentaati Tuhannya dan menjaga kemaluannya, kemudian ia menyakiti suaminya dengan suatu kata, maka malaikat akan melaknatnya sepanjang malam” (HR Baihaki).

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada seorang sahabat dari kalangan kaum wanita agar taat suami karena surga dan neraka seorang wanita (istri) ada pada suaminya. Sabdanya, “Perhatikanlah posisimu dari dirinya karena sesungguhnya dia (suami) adalah surgamu dan nerakamu” (HR Ahmad).

Meski demikian, sebagai laki-laki, suami tidak boleh egois. Justru Rasulullah SAW berpesan khusus kepada kaum laki-laki agar memperlakukan kepada kaum wanita dengan lemah lembut.

Rasulullah SAW bersabda,

Berpesanlah kebaikan kepada kaum wanita karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kalian berusaha meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, dia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berpesanlah kebaikan kepada kaum wanita” (HR Bukhari).

Semoga Allah membimbing kita para wanita agar menjadi istri yang selalu taat kepada suami dan menjadi laki-laki (suami) yang dapat memperlakukan istri dengan lemah lembut. Amin.

Sumber, http://m.republika.co.id/amp_version/o56y1o301

-o0o-

Fatwa Ulama: Jihad Bagi Wanita

Fatwa Syaikh Abdul Karim bin Abdillah Al Khudhair.

Bagaimana bentuk jihad bagi wanita?

Jawab:

Bagi wanita tidak ada kewajiban jihad dalam artian khusus, yaitu jihad berperang melawan musuh. Namun, jihadnya wanita adalah (sebagaimana hadits);

Bagi mereka (wanita) jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibnu Majah, 2910) [1].

Tapi, jika wanita ikut dalam peperangan membantu para mujahidin, seperti melakukan perawatan atau yang lainnya, selama aman dari fitnah maka hal ini memang terdapat dalam sebagian riwayat [2]. Sekali lagi, dengan syarat aman dari fitnah. Karena:

“Mencegah keburukan lebih didahulukan daripada mencari keutamaan”.

[1] Hadits ini memiliki ashl (hadits semakna yang lebih shahih), yaitu hadits yang diriwayatkan Al Bukhari, hadits Ummul Mu’minin AisyahRadhiallahu’anha dengan lafadz:

Aku meminta izin kepada Nabi SAW untuk pergi berjihad, lalu beliau bersabda: ‘Jihad kalian (wanita) adalah haji”.

[2] Diriwayatkan oleh Al Bukhari (2882), yaitu hadits Rabi’ bintu Mu’awwidz ra dengan lafadz:

“Kami (para wanita) dahulu (ikut berjihad) bersama Nabi SAW, kami memberi minum dan mengobati orang yang terluka dan mengurusi jenazah agar dipulangkan ke Madinah”.

Penerjemah: Yulian Purnama || Artikel Muslim.Or.Id

Sumber, https://muslim.or.id/10973-fatwa-ulama-jihad-bagi-wanita.html

-o0o-

annisanationlogoAnnisanation,

Di atas telah ditampilkan artikel dari dua situs bergengsi, yaitu Republika dan Muslim or.id, mengenai posisi perempuan di dalam hal berkiprah di dalam kehidupan nyata; bagaimana seorang perempuan melaksanakan apa yang harus mereka perbuat dan amalkan, agar sesuai dengan tuntunan Allah Swt dan Rasulullah saw.

Artikel di atas ini mengenai jihad, suatu kata di dalam Islam yang mempunyai posisi paling bergengsi dan tertinggi di dalam hal keutamaan dan prioritas, sekaligus di dalam hal kemuliaan. Bayangkan, tidak ada balasan bagi jihad selain masuk Surga sekali itu juga, tanpa hisab. Mereka yang wafat di dalam jihad, tidak perlu menunggu di alam barzakh, melainkan langsung masuk Surga. Tidak ada yang lebih penting dan lebih mulia setelah jihad.

Bagi laki-laki, jihad tentunya adalah maju ke medan tempur dengan menyabung nyawa untuk membela agama Allah Swt, atau untuk membela keluarga dan tanah air. Para jihad benar-benar faham bahwa keikutsertaan mereka akan beresiko maut, maut paling mengerikan sekali pun,  tubuh dicincang, dipancung, dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah, dilindas lapis baja, dsb. Namun keseluruhan itu mereka hadapi dengan ketegaran iman, karena toh kalau mereka mati, maka hanya Surgalah balasan mereka, bukan yang lain. Pun kalau mereka hidup dan menang, maka kemuliaan hidup sudah di depan mata, belum lagi dengan pahala jihad yang begitu besar, telah dicatatkan Allah Swt untuk mereka.

Semua jihad, tentunya beraroma sama, yaitu pergi ke -atau terjadi di luar rumah. Dengan kata lain, tidak ada jihad yang terjadi di dalam rumah. Kalau kasusnya seorang pria berkelahi menyabung nyawa dengan perampok yang masuk ke rumahnya, demi melindungi anak-anak dan keluarga, tentu hal tersebut berbeda. Jihad juga namanya, namun yang jelas aroma jihad adalah pergi ke luar rumah, karena tantangan umumnya muncul di luar rumah.

Bagian terpenting dari dua paparan di atas adalah, bahwa jihad hanya diperuntukkan bagi laki-laki: tidak ada jihad bagi perempuan. Mengingat jihad terjadinya di luar rumah, maka itu berarti jihad memang hanya untuk laki-laki, karena tempat perempuan sebenarnya adalah di rumahnya, apapun yang terjadi.

Namun kemudian artikel ini melanjutkan, kendati tidak ada jihad bagi perempuan, maka apakah perempuan tidak mempunyai bagian sedikit pun dalam jihad? Sabda Nabi saw melanjutkan, bahwa ada jihad bagi perempuan, yaitu haji dan umrah. Haji dan umrah adalah satu-satunya (atau dua-duanya?) kesempatan bagi perempuan untuk berjihad, yang mana jihad tersebut mengharuskannya pergi dan keluar rumah.

Sekarang timbul pertanyaan yang berkenaan Emansipasi Wanita. Di dalam Emansipasi Wanita, kaum perempuan setiap hari keluar rumah untuk pemberdayaan, yaitu @menuntut ilmu hingga setinggi-tingginya, dan kemudian @bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Mereka mencari nafkah, padahal nafkah mereka ada di dalam tanggungan suami atau ayah mereka, karena memang demikianlah hukum alam dan ajaran Tuhan. Mereka keluar rumah untuk menuntut ilmu, padahal tidak ada ayat suci yang memerintahkan perempuan menuntut ilmu. Dan terlebih tidak ada jihad bagi perempuan, karena kodrat bagi perempuan adalah untuk memenuhi tugas domestiknya.

Pertanyaan itu adalah, setiap hari perempuan keluar rumah untuk menuntut ilmu mau pun bekerja. Apakah hal tersebut dapat dikatakan jihad bagi perempuan? Kalau Nabi saw bertitah bahwa satu-satunya jihad bagi perempuan adalah haji mau pun umrah, maka kemudian di mana posisi perempuan yang pergi sekolah dan bekerja cari uang?

Untuk berjihad saja perempuan tidak boleh dan tidak ada (kecuali haji dan umrah), maka bagaimana dengan perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari uang dan karir? Dua paparan di atas sebenarnya secara implisit menyatakan bahwa perempuan HARAM keluar rumah, karena orbitel mereka adalah domestik sepenuhnya (lihat Al-ahzab 33).

Tidak ada jihad bagi perempuan, maka itu berarti perempuan tidak dibenarkan keluar rumah untuk mencari nafkah, bekerja, menuntut ilmu, berdagang, memerintah kota, mengatur lalu lintas, mengelola kantor, memanage bawahan, menerima tamu bisnis, memimpin rapat dsb. Dan sekarang, bagaimana posisinya perempuan yang keluar rumah untuk bekerja? Apakah bekerja dan berkarir lebih penting dari haji dan umrah?

Kesampingkan dulu haji dan umrah, maka tidak ada alasan apapun bagi perempuan untuk berkiprah di luar rumah, dan itu artinya tidak ada yang penting untuk dilakukan perempuan di luar rumah. Sebenarnya jauh lebih penting apa yang harus diamalkan perempuan di dalam rumahnya, seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, dan dua hal yang paling utama adalah, membesarkan anak, dan menjaga kesucian roh dan tubuhnya dari fitnah dunia. Kedua hal tersebut hanya dapat terjadi kalau sang perempuan senantiasa diam di rumahnya. Dan pada akhirnya, barulah perempuan mempunyai alasan keluar rumah untuk berjihad, yaitu haji dan umrah.

Tapi pada faktanya, yaitu fakta nan sesat dan jahanam, kaum perempuan setiap hari keluar rumah, namun bukan untuk tujuan haji dan umrah, melainkan untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Maka bagaimana mungkin perempuan bisa dibenarkan keluar rumah yang tujuannya bukan haji dan umrah, sementara bekerja dan berkarir bagi perempuan sebenarnya tidak penting dan adalah haram, mengingat nafkah mereka sudah ditanggung ayah dan suami mereka?

Perempuan tidak dibenarkan keluar rumah, kecuali untuk tujuan yang maha penting saja. Dan tujuan maha penting itu adalah haji dan umrah, tidak ada yang lain, demikian Alhadis bunyinya. Artinya, kalau tujuannya bukan untuk haji dan umrah, maka perempuan hendaknya diam di rumahnya.

Suatu hal yang harus difahami dari kedua artikel di atas adalah, bahwa Allah Swt dan Rasul-Nya mengharamkan perempuan keluar rumah, melainkan harus senantiasa tinggal di dalam rumah (seperti yang difirmankan Allah Swt di dalam  surah Al-ahzab 33). Dan itu artinya Emansipasi Wanita adalah haram di dalam Islam, bahwa perempuan keluar rumah untuk bekerja adalah haram di dalam Islam. Terkutuklah kaum perempuan yang setiap hari keluar rumah untuk pemberdayaan, yaitu menuntut ilmu dan bekerja. Tuntunan Allah Swt dan Rasul-Nya adalah, bahwa wajib bagi perempuan untuk tinggal di dalam rumahnya untuk menyelesaikan tugas domestik, dan yang terpenting adalah membesarkan anak dan menjaga kesucian roh dan tubuhnya. Satu-satunya alasan pembenar bagi perempuan untuk keluar rumah adalah haji atau umrah, karena hal tersebut adalah maha penting. Selain haji dan umrah tentunya tidak penting bagi perempuan.

Dari pembahasan haji dan umrah yang berkenaan dengan kaum perempuan ini, seperti yang dipaparkan oleh dua media di atas, umat dunia harus dapat memahami bahwa Emansipasi Wanita adalah TERKUTUK dan tidak mempunyai dasar di dalam tuntunan Allah Swt dan Rasul-Nya. Haji dan umrah bagi perempuan, dengan sendirinya sudah menjadi ukuran bahwa selain untuk haji dan umrah maka perempuan terlarang keluar rumah, melainkah harus senantiasa diam di rumahnya.

Ingatlah, bahwa bekerja mencari uang dan karir, sungguh sangat tidak penting dan tidak sepenting haji dan umrah. Di lain pihak, uang, karir dan jabatan yang diraih kaum perempuan justru menjadi fitnah dan bumerang bagi umat dan kaum perempuan itu sendiri, terlontar mereka kepada kekejian dan kebusukan moral: perzinahan, freesex, pelacuran, pamer aurat, khalwat, aborsi, kondomisasi, zina massal, hamil dan melahirkan di luar nikah, bangkai bayi di tempat sampah, marak perceraian, pacaran, pacaran bertabur zina, selingkuh, kumpul kebo, kawin kontrak, dsb.

Apakah hal tersebut yang diinginkan kaum perempuan Muslim? Apakah kaum perempuan Muslim ingin mereka menjalani kehidupan yang sesat, keji dan dikutuk Allah Swt, dan menjadi mahluk hina dikarenakan membusuknya moralitas mereka di luar rumah?

Kesimpulan dan Penutup.

Allah Swt melalui lisan Rasul-Nya Muhammad Saw telah bertitah, bahwa tidak ada jihad bagi perempuan, yang mana hal tersebut berarti bahwa perempuan terlarang untuk berjihad. Sekaligus hal ini berarti bahwa tempat perempuan adalah senantiasa tinggal di dalam rumanya, karena justru tugas dan kodratnya lebih banyak berada di dalam rumah, yaitu memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, dan yang terpenting adalah membesarkan anak dan menjaga kesucian roh dan tubuhnya dari fitnah dunia. Surah Al- ahzab 33 dengan tegas memerintahkan umat untuk mengukuhkan perempuan selalu berada di dalam rumah sepanjang waktu, karena justru berada di dalam rumahnya-lah maka kesucian dan keluhuran perempuan akan terjaga secara permanen. Dengan kata lain, terdapat harmonisasi antara surah Al- ahzab 33 dengan titah Allah Swt mengenai larangan jihad bagi perempuan.

Berikutnya, setelah Allah Swt menitahkan bahwa tidak ada jihad bagi perempuan, kemudian Allah Swt juga bertitah bahwa jihad bagi perempuan hanyalah haji mau pun umrah. Ini berarti satu-satunya moment bagi perempuan untuk keluar rumah dan berjihad hanyalah haji dan umrah. Dari sini didapatkan formula kemistri yang luar biasa paten, bahwa selain keluar rumah untuk haji dan umrah, maka tidak ada yang penting bagi perempuan. Selain haji dan umrah, itu artinya adalah seperti keluar rumah untuk:

  • bekerja mencari nafkah,
  • menuntut ilmu hingga setinggi-tingginya,
  • menjadi Presiden,
  • menjadi Menteri,
  • menjadi ustadzah,
  • menjadi sekjen PBB,
  • menjadi guru agama,
  • menjadi dokter,
  • menjadi relawan kemanusiaan,
  • menjadi perawat,
  • menjadi guru taman kanak-kanak mau pun playgroup,
  • menjadi peneliti,
  • menjadi diplomat,
  • bekerja sebagai tulang punggung keluarga, dsb.

Yang terpenting bagi perempuan adalah tetap di rumahnya, untuk membesarkan anak-anaknya dan untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan kemudian untuk menjaga kesucian roh dan tubuhnya, karena dunia di luar rumah penuh dengan fitnah keji dan ancaman moralitas yang penuh kebusukan. Kalau pun ada yang lebih penting dari itu bagi perempuan, maka hal tersebut adalah pergi berhaji dan umrah.

Akhir kata, Emansipasi Wanita adalah haram dan keji, sama sekali tidak mempunyai dasar pada tuntunan Allah Swt dan Rasul-Nya. Selain itu, sudah terbukti di mana-mana, bahwa Emansipasi Wanita menyemburatkan kekejian dan kebusukan moral kaum perempuan, di mana pelacuran marak di mana-mana, aborsi marak di segala desa, kawin cerai marak di segala desa, bangkai bayi di tempat sampah di sembarang kota, dsb. Itulah buah dari Emansipasi Wanita. Inikah yang diinginkan umat Muslim?

Wallahu a’lam bishawab.

LSM Islam Nomor Wahid Emansipasi Wanita Mengapa?

ormass

Islam dengan tegas mengharamkan Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, logika, hukum alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah di rumahnya, yaitu kodrat domestik. Islam melarang perempuan untuk keluar rumah secara permanen, untuk tujuan apa pun. Untuk ibadah saja, Islam justru mengajarkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan untuk beribadah adalah di rumahnya, bukan di luar rumah. Kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di rumah, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah?

Artikel annisanation banyak membahas dan membuktikan bahwa Emansipasi Wanita merupakan kekejian yang hanya membawa malapetaka bagi umat dunia. Jadi dengan demikian, Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, dan kebalikannya, Islam mengajarkan Domestikalisasi Wanita, yaitu pemahaman untuk terus menempatkan perempuan di dalam rumahnya. ***

Beberapa waktu yang lalu penulis mendatangi sebuah rumahsakit, yang mana rumahsakit ini milik dan dikelola sebuah LSM Islam di NKRI tercinta ini. Apa yang dilihat penulis dari rumahsakit tersebut sebenarnya sudah menjadi keumuman bagi masyarakat modern dewasa ini, namun tetap saja hal tersebut mengiris perasaan penulis sendiri. Penulis melihat bahwa 90% staff dan personel rumahsakit tersebut adalah kaum perempuan, dan tentunya berjilbab. Bagian administrasi, bagian customer service, dokter, bagian kasir, bagian lab, bagian apotik, bahkan bagian parkir sekali pun diduduki kaum perempuan.

Penulis bertanya di dalam hati, ada apa ini? Mengapa hampir semua posisi (90%) diduduki kaum perempuan? Ada apa dengan rumahsakit ini? Ada apa dengan LSM Islam ini? Ada apa dengan masyarakat ini? Dan ada apa dengan umat Muhammad saw ini?

Rumahsakit ini senyata-nyatanya adalah milik salah satu LSM Islam, yang sudah tentu lembaga ini diisi penuh oleh individu-individu yang benar-benar faham Islam, faham syariah Islam, dan faham fiqih Islam. Sebagai LSM Islam, tentunya LSM ini berada di garis terdepan dalam hal menyerukan kebajikan dan menegakkan tuntunan Allah Swt dan RasulNya. Atau dengan kata lain, tentunya LSM ini berada paling depan untuk menolak kemungkaran dan kesesatan. Namun apa yang kemudian penulis lihat dari lembaga LSM Islam ini, dilihat dari rumahsakitnya? Hampir semua posisi dan jabatan di rumah-sakitnya diduduki kaum perempuan. Belum lagi posisi pada lembaga pendidikannya, juga mayoritas diduduki kaum perempuan. Ini ada apa? Bukankah ini berarti justru lembaga ini berada di garis terdepan di dalam membangkangi titah Allah Swt dan Rasul-Nya?

Begitu banyak pertanyaan yang terbersit saat penulis melihat LSM ini di dalam isu perempuan. Apakah LSM ini berkata bahwa Islam mengajarkan dan mewajibkan Emansipasi Wanita? Apakah LSM ini ‘insaf’ bahwa Emansipasi Wanita adalah ajaran Allah Swt dan rasulNya? Atau kebalikannya, apakah LSM ini MENOLAK untuk memahami, bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya? Bisakah LSM ini mengajukan bukti dan hujjah bahwa Islam memerintahkan perempuan untuk keluar rumah dan bekerja mencari nafkah?

Untuk urusan ibadah saja, Islam mengajarkan bahwa tempat terbaik perempuan adalah di rumahnya. Untuk ibadah saja perempuan harus tetap di rumahnya, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah? Alquran surah Al Ahzab ayat 33 saja dengan jelas mendoktrin umat untuk melarang perempuan keluar rumah untuk tujuan apa pun. Namun mengapa tiba-tiba LSM ini memayoritaskan seluruh posisi publiknya kepada perempuan? Inikah yang dinamakan umat Muhammad Saw?

Apakah pentingnya perempuan keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan? Apakah para suami dan ayah mereka tidak bekerja dan tidak berpenghasilan -sehingga LSM ini berinisiatif untuk mempekerjakan perempuan-perempuan ini supaya keluarga mereka tidak kelaparan? Atau apakah LSM ini melihat bahwa penghasilan para suami dan ayah mereka tidak cukup untuk membuat kayaraya sehingga para istri harus dipekerjakan juga untuk melipatgandakan pendapatan?

Atau apakah LSM ini melihat bahwa perempuan adalah mahluk hebat dan super jenius, sehingga diprioritaskan untuk bekerja dan diberi posisi pada lembaga publik, yang artinya pekerja pria disingkirkan saja jauh-jauh dan dibiarkan menganggur sampai mati? Apakah ini artinya pekerja laki-laki tidak perlu diberi prioritas, dan disingkirkan saja? Apakah LSM ini melihat bahwa pekerja laki-laki tidak mempunyai kehandalan sedikit pun untuk bekerja, sehingga biarlah perempuan saja yang diberi pekerjaan? Atau laki-laki tidak usah hidup saja sekalian? Apakah perempuan akan mati kelaparan kalau tidak diberi pekerjaan? Atau apakah nafkah perempuan tidak dijamin suami atau ayah?

Atau apakah bekerjanya ribuan perempuan sedikit pun tidak menimbulkan pengangguran di kalangan pria? Atau mungkin LSM ini melihat bahwa laki-laki tidak ingin bekerja dan malas bekerja, sehingga perempuan saja yang diberi posisi dan pekerjaan? Atau mungkin juga, apakah LSM ini berpandangan bahwa lapangan pekerjaan begitu banyak tersedia, sehingga sebanyak apa pun perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak membuat laki-laki kehilangan kesempatan untuk bekerja?

Atau mungkinkah bahwa kebutuhan anak-anak untuk selalu mendapat perhatian dari ibunda di rumah -dinilai tidak penting oleh LSM ini? Dan apakah ibu rumahan tidak begitu penting bagi keluarga dan perkembangan anak-anak di rumah? Atau mungkin, LSM ini melihat bahwa kebanyakan anak-anak yang di dalam masa pertumbuhan, hanya ingin diperhatikan para pembantu dan babysitter, bukannya ibu kandung? Atau apakah hina kalau setiap anak diurus, dimomong dan dibesarkan oleh ibukandung, sehingga ibu-ibu ini diarahkan saja untuk bekerja mencari uang dan karir? Apakah Islam mengajarkan bahwa perempuan diberi tugas hanya untuk melahirkan bayi, dan kemudian tugas pengurusan dan momong nya dilemparkan saja kepada pembantu dan babysitter?

Apakah LSM ini merasa berdosa kalau perempuan dibiarkan saja di rumah untuk membesarkan anak-anak -dan menjaga kesucian mereka sebagai perempuan, istri dan ibu? Apakah Islam memerintahkan umat dan LSM ini untuk berfikir bahwa kodrat kaum perempuan BUKAN domestik? Atau bahkan, apakah LSM ini ingin menjadi pahlawan perempuan yang selalu menyenangkan hati perempuan, dengan cara mempekerjakan perempuan, dan menentang titah Allah Swt dan RasulNya? Seberani itukah LSM ini menentang kodrat yang telah digariskan Allah Swt sejak penciptaan alam semesta, bahwa perempuan adalah mahluk domestik sampai mati? Apakah LSM ini lebih memilih keridhaan hati perempuan,  bukannya keridhaan Allah Swt?

Atau apakah LSM ini setuju bahwa perempuan memang dilarang keluar rumah dan bekerja (sesuai dengan ayat Alquran surah Al Ahzab 33), namun kalau keluar rumah dan bekerjanya selalu mengenakan jilbab dan berhijab, maka larangan tersebut jadi tidak berlaku? Atau LSM ini berfikir, bahwa kalau perempuan keluar rumah dan bekerjanya mengenakan hijab dan berkerudung, justru malah berpahala di mata Allah Swt? Atau begini, LSM ini setuju dengan ajaran, bahwa perempuan tidak dibenarkan keluar rumah apalagi untuk bekerja mencari nafkah, namun kalau keluar rumah dan berkarirnya di lembaga keislaman, maka justru itu berpahala dan mulia di mata Allah Swt dan RasulNya?

Apakah ada nash yang menyatakan bahwa perempuan terlarang keluar rumah apalagi kalau tujuannya untuk bekerja dan berkarir, KECUALI kalau perempuan bekerjanya di dalam lembaga Islam? Jangankan untuk bekerja pada lembaga Islam, perempuan keluar rumah untuk beribadah saja tidak dibenarkan di dalam Islam, karena sebaiknya perem-puan beribadah di dalam rumah. Nah kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di dalam rumahnya, maka apalagi urusan lain semisal bekerja dan berkarir, yang tidak sepenting ibadah?

Untuk urusan mencari uang, maka apakah uang / nafkah dari suami dan keluarga masih kurang? Apakah uang ada cukupnya? Memangnya seberapa banyak uang dunia yang ingin diraih dengan istri bekerja, sementara hukum Allah Swt dilanggar dan didurhakai? Dan untuk urusan karir, maka apakah karir membesarkan dan mengasuh anak sangat meng-ganggu dan menghinakan? Apakah diam di rumah untuk membesarkan dan mengasuh anak, yang sekaligus menjaga kesucian diri dan roh dari fitnah luar rumah, merupakan bentuk ketertinggalan bagi perempuan?

Terdapat dua aspek untuk difahami mengenai isu ini yaitu aspek tinjauan Islam, dan kedua adalah aspek logika dan fakta lapangan.

Pertama. Tinjauan Islam.

Islam dengan tegas mensyariahkan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, karena tugas dan kodrat perempuan adalah domestik. Bagian terbesar dari waktu yang dilalui perempuan adalah membesarkan anak-anak, maka dari itu jelaslah perempuan sebagai ibu harus selalu tinggal di rumahnya. Belum lagi untuk urusan menjaga kesucian diri dan jiwanya dari fitnah dunia, maka jelaslah perempuan harus tinggal di dalam rumah, karena kalau keluar rumah, maka gugurlah apa yang dinamakan menjaga kesucian diri dan jiwa.

Tidak ada satu pun nash, baik Alquran mau pun Alhadis yang menggariskan bahwa perempuan dibenarkan untuk keluar rumah, apalagi untuk tujuan bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Namun kemudian mengapa tiba-tiba LSM Islam ini mengembangkan kelembagaannya dengan melibatkan banyak perempuan, seolah hal tersebut merupakan refleksi dari ajaran Islam?

Surah Al-Ahzab khususnya ayat 33 dengan jelas mengajarkan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya. Terdapat banyak Alhadis yang menyatakan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, dan suatu Alhadis menyatakan bahwa walau pun perempuan tetap di rumahnya menyiapkan seluruh keperluan keluarga, maka nilainya sama dengan jihad yang berpahala besar. Maka alasan dan dalil apalagi yang dibutuhkan LSM ini untuk begitu yakin bahwa perempuan terlarang untuk bekerja dan berkarir?

Kalau memang sudah jelas bahwa Alquran, mau pun Alhadis dsb -tidak mempunyai satu kata dan kalimat pun untuk mendukung dan mengajarkan Emansipasi Wanita, lantas mengapa LSM ini justru nomor wahid di dalam hal merekrut perempuan sehingga menjadi staff mayoritas di dalam operasional lembaga LSM ini? Tidak ada dasarnya di dalam Alquran bahwa perempuan boleh bekerja mencari nafkah; dan tidak ada dasarnya di dalam Alhadis bahwa perempuan diijinkan berkarir; bahkan tidak ada dasarnya pada ajaran leluhur bahwa perempuan diwajibkan mencari nafkah. Namun mengapa LSM Islam ini tampak begitu engkar dengan menempatkan mayoritas perempuan sebagai staff operasional?

Jelas LSM ini menentang Alquran, menentang Alhadis, menentang sunnah Muhammad Saw, menentang ajaran leluhur, menentang logika, menentang hukum kepantasan, dsb. Untuk lebih lanjut, silahkan baca artike:

)) Alhadist Mengenai Kiprah Perempuan.

Kedua. Fakta lapangan.

Islam dengan tegas mengharamkan Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya mem-bawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, logika, hukum alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Tidakkah LSM melihat bahwa perempuan keluar rumah, baik untuk pendidikan mau pun untuk bekerja, berefek pada malapetaka sosial yang keji dan menjijikkan? Berapa banyak terjadi perzinahan, selingkuh, hamil di luar nikah, khalwat, bahkan pamer aurat, menggejala begitu supermasifnya di tengah umat. Apakah keseluruhan hal tersebut bukan disebabkan Emansipasi Wanita? Kalau bukan disebabkan Emansipasi Wanita, lantas disebabkan oleh apa?

Di pihak lain, supermasifnya perempuan bekerja, memicu meledaknya angka pengang-guran di kalangan pria, yang melahirkan banyaknya pria menganggur, dan pada gilirannya pria-pria pengangguran ini menginisiasi tindak kriminal yang menyesakkan dada. Patut diperhatikan juga, begitu banyaknya kasus di mana para istri yang bergaji lebih besar dari gaji suami, yang memicu terjadinya disharmoni rumahtangga bahkan berujung pada KDRT.

Pemberitaaan tidak pernah sepi dari kasus penemuan bangkai bayi di tempat sampah, yang jelas bayi tersebut dibuang oleh sang ibu, karena bayi tersebut adalah hasil zina sang ibu dengan pria kekasihnya, disebabkan sang ibu (si perempuan) merupakan perempuan yang selalu keluar rumah, entah untuk sekolah mau pun bekerja dan berkarir. Kalau seorang perempuan sejak awal senantiasa diam di rumahnya (tidak sekolah dan tidak bekerja), maka bagaimana mungkin ia akan terjerat hubungan pacaran dengan seorang pria, yang mana pacaran tersebut berujung pada tindak zina, hamil dan melahirkan anak di luar nikah? Untuk lebih lanjut, silahkan baca:

)) “Mari Merusak Dan Menyesatkan Mental Perempuan“.

Tidak jarang sang ibu merupakan perempuan yang berjilbab rapi, seolah faham Islam, faham kepatutan, dan faham seluruh ayat Alquran dan Alhadis. Namun pembangkangan yang ia lakukan (yaitu keluar rumah sehingga berbaur dengan laki-laki) sebenarnya jauh lebih kuat dari jilbab rapi yang selalu ia kenakan; dan itu adalah fakta: pacaran, berzina dan melahirkan bayi jadah, lalu dibunuh dan dibuang.

Jilbab mau pun hijab bukanlah ditujukan untuk membenarkan perempuan keluar rumah apalagi bekerja dan berkarir. Islam memerintahkan perempuan berjilbab, namun tetaplah perempuan tersebut harus diam di rumah, untuk membesarkan anak-anak dan untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik. Dan yang terpenting adalah untuk menjaga kesucian tubuh dan roh mereka dari fitnah dunia.

Maka apakah bencana dan kekejian ini yang ingin disambut oleh LSM ini, dengan supermasifnya merekrut perempuan berjilbab untuk menjadi staff mayoritas, yang dengan sendirinya telah mendepak laki-laki dari kesempatan untuk bekerja dan mencari nafkah untuk anak dan keluarganya? Untuk lebih lanjut, silahkan baca:

)) “Meringkas Larangan Perempuan Diberdayakan“.

Islamkah yang hendak dilawan LSM ini? Titah Rasul saw kah yang akan dilanggar LSM ini? Hukum alam dan faktakah yang ingin dibantah oleh LSM ini? Hukum Allahkah yang akan diingkari oleh LSM ini? Sungguh ironis, LSM ini merupakan LSM Islam yang bertekad untuk menjadi terdepan di dalam pengamalan seluruh ajaran Islam yang bersumber dari titah Allah Swt dan Rasul-Nya. Namun justru LSM ini paling terdepan di dalam hal melanggar titah Allah Swt di dalam hal perempuan. Ketika Allah Swt dan Rasul-Nya bertitah bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, dan jangan diemansipasikan, justru LSM ini terdepan di dalam hal mengingkari-nya, yaitu mengemansipasikan perempuan.

Ingatlah, Nabi Muhammad saw dan para sahabat, tidak pernah menomor wahidkan emansipasi perempuan. Ingatlah, bahwa para leluhur pada jaman pra-industri tidak pernah menomor wahid-kan emansipasi wanita. Justru kebalikannya, Nabi Muhammad saw dan para sahabat menomor-wahidkan kehati-hatian dalam memperlakukan kaum peremuan, dengan risalahnya bahwa tempat perempuan adalah senantiasa di rumahnya. Begitu juga, kehidupan para leluhur, yang jelas Islami, benar-benar menekankan betapa jadahnya untuk membiarkan perempuan keluar rumah secara berketerusan, karena mereka faham bahwa keluarnya perempuan dari rumah pasti berimplikasi pada kekejian dan fitnah. Dan itu memang selalu terbukti. Namun bagaimana dengan LSM ini??

Mungkin LSM ini mengusung Islam; mungkin LSM ini bertekad ingin menjadi terdepan di dalam hal amar maruf nahi mungkar ….. namun jelas LSM ini merupakan LSM sekuler yang seluruh aksinya bertujuan untuk menentang Islam dan untuk menentang logika dan kebijaksanaan berfikir insan waras mana pun. Untuk lebih tepatnya, LSM ini tidak ingin menjadi pahlawan bagi Allah Swt dan Rasul-Nya, melainkan hanya ingin menjadi pahlawan bagi kaum perempuan, yang benar-benar pandai menyenangkan hati perempuan, bencana dan dosa apapun tebusannya. Demi perempuan!! Bukan demi Allah dan RasulNya.

Wallahu a’lam bishawab.

Pentingnya Keberdayaan Bagi Perempuan

daftarpanjang

Biografi Galaila Karen Agustiawan

Galaila Karen Agustiawan, atau akrabnya Karen, merupakan satu dari sekian banyak lulusan ITB yang sukses mengibarkan bendera namanya sendiri dalam bidang industri di Indonesia. Karen mulai menapaki karirnya di sektor energi, khususnya bidang perminyakan, semenjak lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1983 silam. Perjalanan karirnya dimulai dari perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1996 atau ketika perusahaan tersebut di-akuisisi oleh Exxon Mobil.

Bakat kepemimpinan dan pengalamannya di bidang migas mulai mendapat perhatian lebih sejak Desember 2006. Karen diangkat sebagai salah satu staf ahli oleh Ari H. Soemarno, tidak lain adalah Dirut Pertamina saat itu. Maret 2008, ganti pemerintah Indonesia yang mengangkatnya sebagai Direktur Hulu, menggantikan Sukusen Soemarinda. Belum genap setahun menjabat sebagai Direktur Hulu, Karen telah mengampu amanat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Direktur Utama PT Pertamina.

Berkomentar seputar lingkungan kerja yang didominasi kaum adam, Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Sumber, https://m.merdeka.com/galaila-karen-agustiawan/profil/

Annisanation,

ANNISANATIONIslam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain: ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita. Namun faktanya tidaklah demikian.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah di rumahnya, yaitu kodrat domestik. Islam melarang perempuan untuk keluar rumah secara permanen, untuk tujuan apa pun. Untuk ibadah saja, Islam justru mengajarkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan untuk beribadah adalah di rumahnya, bukan di luar rumah. Kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di rumah, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah?

Artikel annisanation membahas dan membuktikan bahwa Emansipasi Wanita merupakan kekejian yang hanya membawa malapetaka bagi umat dunia. Jadi dengan demikian, Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, dan kebalikannya, Islam mengajarkan Domestikalisasi Wanita, yaitu pemahaman untuk terus menempatkan perempuan di dalam rumahnya.

Terdapat berbagai pandangan di dalam kehidupan ini, di mana perempuan sudah saatnya mendapatkan pemberdayaan, di dalam bentuk memperoleh pendidikan hingga setinggi-tingginya, dan memperoleh akses kepada pekerjaan untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan –seperti halnya kaum pria. Maka pada titik inilah terjadi banyak malapetaka yang menyengsarakan umat manusia, tidak saja umat Muslim.

Seperti pada paparan ini yang mengetengahkan tokoh Indonesia yang bernama Karen Agustiawan, yang adalah Dirut Pertamina. Paparan ini mengutip perkataan sang Karen, yaitu “mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerde-kaan finansial bagi perempuan”. Jadi dengan ungkapannya ini, Karen mengesankan bahwa tanpa kemerdekaan finansial, maka kaum perempuan akan terus dirundung kesusahan yang ditimpakan kaum laki-laki tanpa bisa melawan sedikit pun. Hanya dengan kemerde-kaan finansial-lah, maka kaum perempuan bisa membebaskan dirinya dari kesusahan yang disebabkan kaum pria.

Dapat dikatakan, bahwa sebenarnya bukan Karen Agustiawan saja yang mengemukakan ungkapan tersebut. Banyak perempuan lain yang juga berpandangan sama, yaitu bahwa sebaiknya kaum perempuan mempunyai pekerjaan dan sumber keuangan sendiri, demi bisa terbebas dari ketergantungan terhadap kaum pria. Setidaknya, mandiri secara keuangan dapat membebaskan kaum perempuan dari kesewenangan kaum pria.

Benarkah demikian?

Dengan sendirinya, pandangan ini memunculkan dua aspek untuk dibahas, yang pada akhirnya akan memberi pemahaman, bahwa ungkapan tersebut adalah keji dan KELIRU BESAR.

Aspek pertama.

Untuk menuju pemberdayaan perempuan yang berujung pada kemerdekaan finansial, berarti seorang perempuan sejak kecil harus selalu keluar rumah untuk bersekolah dan kuliah, kemudian bekerja. Ini semua berakibat pada terpaparnya kaum perempuan kepada kaum pria di tengah kota secara intens. Mereka, laki-laki dan perempuan, para gadis yang masih suci dan para perjaka yang masih bau kencur, akan selalu bertemu di setiap lini pergaulan di luar rumah.

Apakah hal tersebut tidak akan memicu terjadinya jalinan kemistri antara seorang gadis dengan pria di luar rumah? Apakah ada yang bisa menjamin bahwa hal tersebut tidak akan memicu munculnya jalinan asmara dan saling mencintai, hingga pada akhirnya berakibat pada terjadi hubungan zina dan hamil di luar nikah?

Perempuan, pada segala umur, pada dasarnya adalah mahluk yang identik dengan rasa malu dan jengah kepada pria asing mana saja, dan hal tersebut merupakan fitrah atas kaum perempuan: bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu dan jengah terhadap pria asing. Namun kalau perempuan setiap hari bertemu pria asing di tengah kota, fitrah tersebut otomatis hilang dari psikologi sang perempuan, dan akan berganti dengan bangkitnya rasa suka dan nyaman kepada pria-pria asing mana saja. Maka apakah pemberdayaan perempuan sudah sesuai dengan jalan fitrah kaum perempuan? Jelas fitrah harus dijaga dan dipertahankan, namun Emansipasi Wanita mempunyai metode sendiri untuk meruntuhkan fitrah perempuan tersebut. Kalau perempuan telah kehilangan rasa malu terhadap pria asing mana saja, maka apalagi yang bisa diharapkan? Itulah  awal dari maraknya kasus zina di tengah umat. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!

Supermasif-nya perempuan keluar rumah untuk tujuan pemberdayaan, telah membuat fenomena pacaran sebagai suatu hal yang lumrah, padahal pada masa pra Emansipasi Wanita, umat benar-benar mengharamkan dan menajiskan pacaran, karena hal tersebut adalah gerbang terbesar bagi terjadinya perzinahan. Maka bukankah hal tersebut sekarang memang sudah terbukti, di mana Emansipasi Wanita mencetuskan fenomena pacaran, dan kemudian pacaran ini menyumbang kasus zina secara signifikan? Bagaimana anak muda tidak pacaran, kalau mereka setiap hari bertemu di luar rumah secara intens?

Berapa banyak dilaporkan di tengah masyarakat bahwa perempuan muda yang kehilangan kegadisannya terus meningkat angkanya? Berapa banyak terjadi bahwa anak gadis pulang ke rumah di dalam keadaan sudah ternoda, karena telah menyerahkan kesuciannya kepada sang pria pujaan hati? Berapa banyak terjadi bahwa pengantin perempuan sudah tidak lagi suci pada malam pertama pernikahan mereka? Berapa banyak dilaporkan ditemukannya bangkai bayi di tempat sampah, yang jelas bayi tersebut merupakan hasil zina? Perempuan yang sebenarnya mahluk lembut nan penuh cinta, berubah menjadi mahluk ganas yang gemar membunuh bayinya sendiri? Yang baru lahir? Yang tidak berdaya? Yang tidak mem-punyai dosa? Maka apakah Emansipasi Wanita merupakan manifestasi kebenaran? Dan inikah cara kebenaran diungkapkan?

Kemudian pada babak berikutnya, perempuan-perempuan tersebut menuntut dan / memperoleh pekerjaan, untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan. Artinya, perempuan akan mempunyai sumber uang sendiri, dan ini artinya perempuan akan mempunyai otoritasnya sendiri sebagai pribadi di dalam memandang berbagai hal. Babak ini setidaknya berimbas pada dua hal:

Pertama, mempunyai sumber keuangan sendiri jelas akan mengubah mentalitas dan psikologi sang perempuan di dalam memandang nilai dan ajaran hidup, apalagi ajaran agama. Perempuan yang mempunyai uang sendiri, dan mempunyai karir, berubah menjadi perempuan yang berkuasa atas laki-laki: suaminya, ayahnya, maupun sistem patriarkhat secara lebih luas. Wanita yang mempunyai karir dan sumber keuangan sendiri akan semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin berani menentang doktrin agama. Pada satu aspeknya, latar ini membuat perempuan semakin mudah mengajukan gugat cerai kepada suaminya, karena toh uang sudah ia miliki sendiri tanpa tergantung pada suami.

Terlebih, perempuan karir yang berani menantang doktrin agama, merasa tidak mempu-nyai beban sedikit pun saat pamer aurat dan berkhalwat dengan rekan pria-nya di kantor, dan sering berakhir dengan bentuk selingkuh: dan itu semua diperbuat tanpa merasa bersalah sedikit pun. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!!

Kedua, dengan perempuan bekerja, maka itu artinya akan ada banyak pangker (lapangan kerja) yang direbut kaum perempuan. Dan itu artinya akan banyak laki-laki yang terdepak dari pangker, sehingga mereka terpaksa menganggur seumur hidup. Pangker alaminya adalah milik kaum pria, karena bekerja bagi pria sungguh strategis: menafkahi istri dan keluarga adalah kewajiban agama dan sosial bagi kaum pria, sementara nafkah perempuan sebenarnya sudah ditanggung pria mereka. Bagi perempuan bekerja hanyalah untuk memenuhi ambisi pribadinya, untuk gagah-gagahan saja; dan tidak ada salahnya kalau perempuan tinggal di rumah saja mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Jadi sebenarnya urgensi apa yang mengharuskan perempuan bekerja, yang mana itu artinya merampas pangker dari kaum pria?

Sudah banyak ditemui suami yang menganggur, dan itu masih ditambah satu fakta: istrinya lah yang bekerja, sehingga istrilah yang menafkahi keluarganya, padahal sang suami sehat dan qualified untuk bekerja. Secara psikologis ini berarti ancaman kewibawaan atas para suami dan seluruh pria. Suamilah yang momong anak, masak nasi, mencuci baju, dsb. Dan mengerikan sekali, bahwa kini suamilah yang harus taat kepada istri.

Harus diingat, bahwa menganggurnya para lelaki bukan karena mereka tidak mempunyai nilai jual di bursa tenaga kerja, melainkan karena perempuan telah lebih dulu merebut pangker. Dan atas nama sikap gentleman, tentunya para bos lebih memilih pelamar perem-puan dan membiarkan pelamar laki-laki pulang dengan tangan kosong. Kekuatan Iblis jelas berperan dominan di sini untuk membisiki para bos untuk mendepak pelamar laki-laki, atas nama sikap gentleman.

Apakah jumlah pangker di dalam kehidupan ini begitu melimpah, sehingga sebanyak apa pun perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan mengganggu jatah pangker kaum pria? Namun mana buktinya? Bukankah dengan infiltrasi kaum perempuan ke dunia kerja, akibatnya laki-laki terdepak dari pangker dan mengakibatkan mereka menjadi pengangguran?

Mungkin Emansipasi Wanita merupakan kebajikan dan keindahan hidup, namun bagaima-na dengan fakta keseharian? Apakah Emansipasi Wanita berarti bahwa kaum pria harus menjadi pengangguran saja di rumah, dan perempuan bekerja di kantor dengan begitu banyaknya faktor penyerta: selingkuh, khalwat, kondomisasi, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, marak gugat cerai terhadap suami, istri yang membangkang terhadap suami, dsb? Atau, apakah Emansipasi Wanita merupakan prioritas seluruh dunia demi perempuan bisa gagah-gagahan dan berkelimpahan materi, sehingga demi prioritas tersebut kaum pria dibiarkan saja menjadi pengangguran dengan semua efek kriminalitas kotanya?

Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca ketika perempuan berkuasa atas laki-laki,

)) Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki Dan Melawan Kodrat

Gerakan Emansipasi Wanita dijelaskan dengan beberapa efek ini:

  • Emansipasi Wanita jelas-jelas berparalel dengan runtuhnya kesucian kaum perem-puan secara supermasif di tengah kota: liberal berpakaian, liberal di dalam hal pergaulan, liberal di dalam hal ideologi dan mengkritisi ajaran agama.
  • Emansipasi Wanita berparalel dengan maraknya angka zina, dan lebih dari itu, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan halalisasi pacaran, yang pacaran terse-but merupakan gerbang terluas bagi merebaknya perzinahan. Itu belum ter-masuk aborsi, kondomisasi, freesex, selingkuh, pamer aurat, bangkai bayi di tempat sampah, merebut suami orang, dsb. Halalisasi zina, halalisasi kondom, halalisasi selingkuh, halalisasi pamer aurat, halalisasi khalwat, dsb.
  • Dan pada titik kulminasinya, Emansipasi Wanita selalu berarti tingginya angka gugat cerai melawan suami di pengadilan, karena istri yang berkarir selalu menun-tut ketaatan lebih dari pihak suami; dan kalau suami melawan maka silahkan bercerai.
  • Di tengah beranak pinaknya Emansipasi Wanita, asyik-maksuknya perempuan berkarir berimplikasi pada meledaknya pengangguran di kalangan pria. Dan kaum perempuan sama sekali tidak ambil perduli dengan banyaknya pria pengangguran, padahal menganggurnya kaum pria tidak lain mereka sendirilah penyebabnya.

Kalau umat ingin perzinahan menjadi halal dan dibanggakan, maka megahkanlah Emansipasi Wanita; megahkanlah usaha untuk mengirim anak perempuan ke sekolah sejak dini, dan kemudian bekerja mencari uang, karir dan jabatan: karena itu semua akan berimplikasi pada perzinahan, selingkuh, kondomisasi, freesex, bangkai bayi di tempat sampah, dsb. Namun kalau umat merasa bahwa perzinahan adalah keji dan sataniah, maka tentunya lifestyle untuk membebaskan perempuan keluar rumah setiap hari, harus dihentikan, dan Emansipasi Wanita harus ditumpas.

Intinya, kemerdekaan finansial yang harus direbut kaum perempuan, bukanlah perkara yang dapat dilihat secara an sich. Terlalu banyak yang harus dipertaruhkan umat, kalau Emansipasi Wanita harus dikembangkan, dan kalau perempuan harus membangun kemerdekaan finansialnya.

Aspek kedua.

Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk ‘memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan’. Timbul pertanyaan. Kemerdekaan terhadap apa? Terhadap (kesewenangan) kaum pria-kah? Atau kemerdekaan terhadap doktrin agama yang dinilai selalu mengekang kebebasan kaum perempuan-kah? Atau kemerdekaan untuk terlepas dari jeratan kodrat dan hukum alam-kah? Atau kemerdekaan untuk terbebas dari pelabelan mahluk domestik-kah? Atau kemerdekaan untuk menya-takan pendapat-kah, yang dipastikan pendapat tersebut akan berkontra terhadap ajaran agama, tatanan sosial maupun petuah leluhur? Terlalu banyak kemungkinan -memang …., namun keseluruhan kemungkinan tersebut dipastikan negatif adanya.

Terdapat dua hal yang harus dikemukakan di sini, berkenaan kemerdekaan finansial yang dituntut kaum perempuan -di dalam faham yang dengan Emansipasi Wanita:

Pertama, selama masa Siti Nurbaya di mana perempuan tidak (di)-berdaya-(kan), apakah kaum perempuan senyatanya selalu terpuruk dan terhina, kemudian teraniaya demikian rupa oleh kaum pria, agama dan ketentuan adat? Pada masa ketika tidak ada pember-dayaan perempuan, apakah banyak perempuan kelaparan dan mati bergelimpangan di tepi jalan yang itu semua disebabkan kaum pria yang tidak bersyukur kepada Tuhan? Ketika kaum perempuan belum diberdayakan, apakah terlihat bahwa kaum pria sama sekali tidak memperhatikan kemaslahatan kaum perempuan? Apakah kaum pria secara hukum alam membenci perempuan sehingga perempuan dibiarkan saja terlantar di tengah rimba? Kalau jaman sekarang perempuan menuntut keberdayaan finansial tersebab pentingnya kemerdekaan bagi perempuan, maka di mana letak urgensinya? Kemerdekaan artinya adalah kebebasan: kebebasan dari dan terhadap apa?

Kedua, apakah ide dan fikiran perempuan bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum perem-puan di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi perempuan satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, hukum kepantasan, dsb. Perempuan yang diberdayakan tidak akan pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum perempuan sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut kemerdekaan finansial (entah kemerdekaan tersebut terhadap apa) melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan perempuan, tiba-tiba agama menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum perempuan yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum perempuan, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum perempuan.

Angka Perceraian Meningkat-001

——————————

Angka Perceraian Meningkat-002

Extratext.

Banyak perempuan sophisticated yang berpesan untuk perempuan lainnya, seperti Karen ini, bahwa sudah saatnya kaum perempuan mempunyai kemerdekaan finansial, yang mana itu berarti kaum perempuan harus bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan. Perempuan-perempuan yang mengumandangkan pesan ini, tentunya telah asyik maksuk dengan karirnya di dunia kerja, asyik maksuk dengan uang melimpah yang ia peroleh dari kantornya …. Secara alamiah, itu artinya perempuan-perempuan sophisticated ini telah mencampakkan tugas domestiknya kepada para pembantu di rumah: siapa yang mencuci piring, siapa yang menanak nasi, siapa yang menjaga rumah, siapa yang mencuci pakaian dan menerikanya, dsb seluruh tugas tersebut telah dicampakkan kepada para pembantu …. Dan siapa yang membersihkan cirit anak, siapa yang menyuapi sang anak, siapa yang momong anak, siapa yang menyusui sang anak, keseluruhan tugas tersebut telah dicampakkan kepada babysitter di rumah ….. sehingga perempuan-perempuan sophisticated ini sudah tidak mau lagi perduli dengan segala tetek bengek tugas domestik, karena mereka lebih asyik memilih untuk beralih kepada dunianya para lelaki, yaitu bekerja mencari uang, karir dan jabatan …..

  • keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, mau pun popularitas yang ujung-ujungnya juga mencari uang,
  • memimpin rapat di kantor,
  • mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • menerima gaji,
  • melakukan perjalanan dinas,
  • menerima tamu bisnis,
  • menandatangani dokumen bisnis mau pun perjanjian kerja,
  • memerintah bawahan,
  • pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia,
  • kemudian makan, lalu tidur istirahat,
  • totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Dsb.

Mereka, para wanita modern, yang sudah kenyang dengan berbagai pemberdayaan (akibat disekolahkan dan diberi pekerjaan), akibatnya sudah tidak ingin tahu-menahu soal:

  • dapur,
  • mencuci baju,
  • mengurus cirit sang anak,
  • memandikan sang anak,
  • menyuapi makan sang anak,
  • merapikan rumah dan tempat tidur,
  • mencuci dan menjahit baju,
  • mencuci piring, dsb.

Ketika seorang perempuan berpesan kepada rekan-rekannya soal pentingnya perempuan merdeka secara finansial, maka signifikansi dari pesan tersebut adalah bahwa perempuan tidak lagi perlu menjadi perempuan …. karena sudah saatnya perempuan menjadi laki-laki di sektor publik. Perempuan yang merdeka secara finansial adalah perempuan yang mengutuk tugas domestik, yang mana itu berarti perempuan yang diberdayakan beralih kepada fikiran bahwa tugas domestik merupakan ketertinggalan dan keterbelakangan kaum perempuan, sehingga itu semua harus ditinggalkan untuk mendapatkan hak dan kemajuan.

Bagi perempuan yang diberdayakan, bagi perempuan sophies ini, hak dan kemajuan yang harus diraih perempuan adalah menjalani kehidupan bak seorang pria, yaitu bekerja dan berkarir mencari uang di kantor, kemudian menjadi pemimpin publik, yang sama sekali tidak mau ambil pusing dengan semua tetek bengek urusan domestik di rumah. Itulah siginikansi dari sebuah pesan: perempuan sudah saatnya memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh  tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, kemerdekaan finansial yang didambakan kaum perempuan, justru membuat kaum perempuan semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki dan Melawan Kodrat

lawankodrat

8 Oktober 2014

Survey tahun ini, kasus gugatan cerai dari pihak istri kepada suami dua kali lebih banyak daripada kata talak dari suami kepada istrinya. Disebutkan bahwa trend tersebut terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Wanita semakin berani protes, semakin suka membantah, dan semakin melawan kepada suaminya.

Di antara faktor penyebab hal ini adalah:

  • Dunia sekarang telah sampai kepada zaman di mana hiburan, bermalas-malasan, dan teknologi yang membuat dunia semakin instan telah menjadi trend utama yang terus diperjuangkan. Faktor-faktor tersebut telah menggerogoti wibawa laki-laki dan menjadikan wanita semakin dikedepankan. Contoh: biduwan (penghibur) justru didominasi oleh penyanyi atau group band laki-laki, sedangkan pekerjaan melinting rokok dan mengisi BBM di pom bensin dikerjakan oleh perempuan.
  • Banyak prestasi yang diraih kaum perempuan dan mengungguli kaum lelaki. Juara kelas, mahasiswa teladan, dan bidang lain yang mengedepankan kemampuan verbal telah didominasi kaum perempuan. Ini yang menjadikan perempuan semakin merasa di atas angin dan semakin meremehkan lelaki. Kemampuan verbal memang secara kuantitatif cukup dibutuhkan di zaman dunia instan ini. Sedangkan kepemim -pinan dan kemampuan non-verbal hanya sedikit dibutuhkan (secara kuantitatif).
  • Persaingan bisnis semakin ketat membuat para pengusaha cenderung meman-faatkan tenaga kerja dari kaum hawa, karena standar upah mereka lebih rendah tetapi etos kerja dan loyalitas mereka lebih tinggi. Akhirnya suami yang tidak laku-laku di dunia kerja harus menjadi tukang ojek bagi istrinya.
  • Dunia yang semakin liberal menjadikan para pemuja dunia semakin getol mempro-pagandakan keadilan gender. Salah satunya dengan memperjuangkan feminisme.

Faktor-faktor di atas merupakan fitnah hebat yang melanda laki-laki maupun wanita. Laki-laki semakin berkurang wibawanya, semakin tidak terpakai kemampuannya, dan semakin tertekan.

Wanita semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin menentang doktrin agama (laki-laki dilebihkan daripada wanita dalam hukum waris, kepemimpinan, syariat poligami, dll.), sehingga pada akhirnya wanita semakin mudah untuk dieksploitasi. Dan,… SECARA TIDAK SADAR wanita (istri) semakin merasa tertekan dan merasa tidak bahagia, justru ketika merasa punya kuasa terhadap laki-laki (suami).

Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai dari melaksanakan shalat gerhana, sebagai bukti pendukung akan hal ini:

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Sumber, https://pengusahamuslim. com /4258-ketika-wanita-berkuasa-atas-laki-laki-dan-melawan-kodrat.html

ANNISANATIONAnnisanation,

Orang bilang, Emansipasi Wanita adalah kemajuan dan kebajikan bagi semua individu, baik laki maupun perempuan. Orang  bilang bahwa Emansipasi Wanita adalah demi kesejah-teraan dan ketentraman seluruh keluarga. Orang bilang bahwa perempuan bekerja adalah hak azazi bagi perempuan itu sendiri, oleh karena itu harus dipenuhi dan dijamin. Orang bilang bahwa Islam dan seluruh agama mengajarkan Emansipasi Wanita, bahwa perem-puan sama dan sederajat kedudukannya dengan kaum pria.

Namun sungguh setelah itu, ternyata Emansipasi Wanita, atau perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, justru telah membahayakan seluruh sendi kehidupan di tengah masyarakat. Dengan mempunyai sumber keuangan sendiri, perem-puan justru menjadi pongah dan tinggi hati, melawan kepada suami, melawan kepada kodrat, kepada fitrah, kepada pesan orang tua-tua, kepada hukum kepantasan, dsb.

Dengan pemberdayaan di dalam Emansipasi Wanita, perempuan menjadi begitu berani melawan agama, bahkan menyusun teori mereka sendiri tentang apa itu agama. Dengan latar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut untuk menjadi kepala rumahtangga bersa-ma suami, dan kemudian menuntut untuk menjadi imam dan pemimpin shalat atas seluruh jemaah laki-laki; perempuan emansipasi begitu lantang menuntut untuk menjadi Paus dan uskup di dalam hierarki Gereja Katholik Roma. Bahkan atas dasar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut hak untuk mengaborsi kandungan tanpa persetujuan suami.

Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar bebas kepada pria-pria asing di tengah kota, telah terjerumus kepada bencana syahwat: selingkuh, pacaran, aborsi, pamer aurat, kondomisasi, dsb. Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar pria asing, telah kehilangan rasa malu mereka sebagai perempuan, padahal bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu.

Paparan di atas secara gamblang membuktikan bahwa ternyata Emansipasi Wanita meru-pakan sumber malapetaka kehidupan, yang menyengsarakan baik pada level individual, keluarga, dan pada akhirnya seluruh masyarakat dan Negara. Meningkatnya angka perceraian tentunya merupakan malapetaka bagi anak-anak, dan itu disebabkan oleh perempuan sendiri, perempuan yang emansipasi. Dan semakin beraninya perempuan menentang doktrin agama, membuat perempuan berani mengajukan gagasan mereka sendiri tentang kebebasan di dalam hal berpakaian, pergaulan, hal membesarkan anak, menghormati keluarga, dsb.

Pada aspek lain, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan merebaknya fenomena laki-laki yang menjadi pengangguran, karena sungguh seluruh lapangan kerja telah diserobot perempuan, tanpa memikirkan bahwa sebenarnya pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, karena mencari nafkah adalah tanggungjawab kaum pria, dan bahwa nafkah kaum perem-puan ada di dalam tanggungan para ayah dan suami. Pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, sementara pekerjaan bagi perempuan sebenarnya hanya untuk gagah-gagahan saja.

Dengan latar ini, maka jelaslah kubu perempuan berkelimpahan uang dan karir, sementara kubu pria serba defisit, menjadi pengangguran dan tidak mempunyai uang dan karir, sehingga lepaslah wibawa dan kehormatannya di depan perempuan. Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa salah satu tanda kiamat adalah seorang ibu yang melahirkan tuan-nya. Ungkapan tersebut sebenarnya adalah analogi, yang artinya adalah bahwa laki-laki yang sebenarnya adalah tuan atas perempuan, terbalik menjadi perempuanlah yang menjadi tuan atas laki-laki, padahal semua kemudahan bekerja, semua bentuk teknologi, semua teori dan sistem tata kerja ditemukan dan diperjuangkan laki-laki, tidak ada satu pun perempuan yang terlibat. Namun akhirnya semua teknologi dan kemudahan bekerja tersebut telah diserobot perempuan dengan cara mendepak seluruh laki-laki. Itulah yang disebut dengan Emansipasi Wanita.

Apakah Emansipasi Wanita menguntungkan? Apakah Emansipasi Wanita merupakan suatu amal saleh? Benarlah Islam, bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, dan jangan sekali-sekali membenarkan atau membiarkan perempuan keluar rumah, apalagi kalau tujuannya untuk pemberdayaan. Kalau Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, maka berarti seluruh umat harus menumpas Emansipasi Wanita, karena hal tersebut justru menyesatkan kaum perempuan itu sendiri. Hanya ada tiga hal yang kentara bagi akal:

  • Emansipasi Wanita itu berbahaya, bukannya bermanfaat dan menguntungkan. Islam dan agama mana pun tidak mengajarkan Emansipasi Wanita.
  • Bukti berbahayanya Emansipasi Wanita sudah ada di mana-mana. Korban pun sudah berjatuhan di mana-mana, baik dari kalangan perempuan sendiri, dari kalangan laki-laki, dan juga anak-anak.
  • Maka tumpaslah Emansipasi Wanita. Jadikan perempuan sebagai mahluk rumahan lagi, mahluk domestik lagi, dengan tidak memberi pemberdayaan atas mereka.

Alam Semesta sejak awal mengajarkan, bahwa laki-laki adalah berkuasa, sementara perem-puan adalah objek kekuasaan laki-laki: pun tidak mungkin perempuan itu berkuasa, karena pada dasarnya perempuan adalah mahluk lemah dan penakut. Maka biarkanlah hal tersebut terus berlangsung, karena Alam hanya memberikan yang terbaik. Artinya, jangan “perbuat suatu hal” yang dapat mengakibatkan perempuan berkuasa atas laki-laki. Sungguh perempuan tidak dapat berlaku amanah kalau diberi kekuasaan (atas laki-laki). Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa perempuan adalah bengkok, dan kalau hendak diluruskan akan patahlah dia. Artinya adalah, perempuan tidak amanah, karena hanya akan  selalu berbuat menyimpang, alias bengkok.

Sebenarnya “perbuat suatu hal” itu adalah Emansipasi Wanita.

Wallahu a’lam bishawab.