Bolehkah Wanita Menjadi Presiden?

Sunflower_sky_backdrop

Assalamualaikum Wr.Wb

Sebelumnya makasih untuk beberapa orang di petanyaan saya sebelumnya. Saya jadi tau saya harus masuk sekolah mana :D. sekarang saya ingin bertanya tentang hukum di dalam Islam. Emm apakah dalam Islam seorang perempuan tidak boleh menjadi seorang Presiden? Kalau ada dan tidak mohon petunjuk Hadis, Firman, atau dalil nya serta sumber nya. Terima kasih yang sudah menjawab 😀

Pemilihan kepala negara sama artinya dengan memilih Khalifah pada masa awal kematian Nabi dahulu, semuanya harus tetap mengacu pada aturan main yang ditetapkan oleh Islam.

Di dalam Islam, tidak ada pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik atau agama dan kepemimpinan, semuanya satu kesatuan. Karena hidup kita ini diatur oleh agama dari hal yang paling kecil sampai pada hal yang terbesar. Hidup adalah tingkah laku, dan tingkah laku dibatasi oleh norma agama termasuk tingkah laku dalam berpolitik.

Seputar Ketentuan Pemimpin wanita:

1. Tidak ada Nabi dan Rasul wanita

(Nabi dan Rasul adalah refleksi dari pemimpin, baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil, dan suka atau tidak suka, mereka adalah contoh, pedoman atau acuan bagi manusia lainnya)

Rujukannya lihat:

“Dan kalau Kami bermaksud menjadikan Rasul itu dari golongan malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki.” (Qs.al-An’aam 6:9)

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk suatu negeri.” (Qs. Yusuf 12:109)

“Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. “ (Qs. Al-Anbiyaa’ 21:7)

2. Imam dalam sholat tidak boleh wanita, kecuali makmumnya juga wanita (berdasarkan Imam Hanafi, Syafi’I, Hambali dan Ja’fari/ Imammiah)

3. Laki-laki sudah ditetapkan sebagai pemimpin wanita

Rujukannya:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (Qs. An-Nisaa’ 4:34)

Ayat ini memang konteksnya berbicara seputar rumah tangga, akan tetapi secara logikanya, seorang kepala rumah tangga saja haruslah laki-laki, apalagi seorang kepala negara yang notabene sebagai kepala atau pemimpin dari banyak kepala keluarga lain, maka tidak bisa lain, dia haruslah laki-laki.

“Dan anak laki-laki tidaklah sama dgn anak wanita” (Qs. Ali Imron 3:36)

4. Hadist:

Musnad Ahmad 19603: Abu Bakrah berkata; Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Siapakah yang memimpin urusan penduduk Persi? Mereka menjawab; “Seorang wanita.” Beliau bersabda: “Tidak akan beruntung kaum yang menyerahkan urusannya kepada mereka.”

Hadist di atas memang diucapkan oleh Rasul ketika menanggapi kabar dipilihnya seorang wanita, puteri Anusyirwan dari Persi, menjadi pemimpin. Akan tetapi coba perhatikan konteks sabda tersebut tidak menyebut bahwa ucapan tersebut hanya  berlaku bagi kerajaan Persi, namun suatu gambaran umum tentang tidak layaknya wanita dijadikan pemimpin dalam suatu bangsa.

Kapan kita boleh memilih wanita sebagai pemimpin? Bila sudah tidak ada lagi laki-laki Islam  mampu jadi pemimpin!

materi referensi:

arsiparmansyah.wordpress.com/…/bolehka…

disingkat karena ruang jawaban Y!A tidak cukup

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130118024322AAuBSFw

-o0o-

ANNISANATIONTulisan di atas sudah benar dan tepat, di dalam meneruskan pesan Allah Swt dan Muhammad Saw, baik yang terkandung di dalam Alquran mau pun Alhadis, yaitu bahwa di dalam Islam wanita tidak diperkenankan menjadi pemimpin, baik ia pemimpin di dalam rumahtangga, pemimpin di dalam shalat, juga pemimpin di dalam masyarakat seperti halnya menjadi Presiden. Juga Islam melarang wanita menjadi pemimpin di dalam organisasi apapun.

Ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan mengapa wanita tidak dibenarkan untuk menjadi pemimpin, khususnya di dalam hal ini menjadi Presiden. Dan hal-hal tersebut justru akan semakin memperkuat pendirian bahwa wanita memang tidak pantas dan tidak dibenarkan untuk menjadi pemimpin.

Pertama. Allah Swt sudah mentakdirkan wanita menjadi mahluk domestik alias mahluk rumahan. Tugas dan kodrat wanita adalah memenuhi seluruh kewajiban domestiknya, dan juga untuk menjadi ibu dari anak-anak yang dilahirkannya kelak.

Kalau seorang wanita menjadi Presiden (atau Menteri dan lain lain) maka bagaimana ia akan dapat memenuhi tugasnya sebagai ibu dari anak-anaknya? Kalau seorang wanita menjadi Presiden maka pastilah ia akan mencampakkan tugas keibuannya terhadap anak-anaknya. Tentulah ini merupakan suatu kekejian yang amat nista.

Dan harus diingat, bahwa tugas menjadi ibu, tugas mengasuh anak, merupakan tugas yang tidak dapat digantikan. Dan pun tidak ada yang lebih penting bagi seorang ibu daripada mengasuh anak-anaknya. Pentingnya mengasuh anaknya sendiri, tidak dapat dikalahkan dengan pentingnya tugas menjadi Presiden, kalau orang yang dimaksud adalah seorang wanita atau ibu.

Kedua. Tugas wanita adalah menjadi pelayan suami, dan hal tersebut juga merupakan kodrat seorang wanita. Bagaimana seorang wanita dapat memenuhi tugasnya sebagai istri terhadap suaminya kalau wanita tersebut bertugas sebagai Presiden?

Tidak ada satu Alhadis mau pun ayat Alquran yang menyatakan bahwa wanita boleh meninggalkan suami dan rumahtangganya supaya dapat menjalani pekerjaan yang lain. Justru kebalikannya, banyak dijumpai Al-ayat mau pun Alhadis yang menyatakan bahwa tugas seorang wanita atau istri hanya satu, yaitu melayani suami di rumahnya, lain tidak. Artinya, kalau seorang wanita keluar dari kewajiban tersebut, maka dipastikan wanita itu telah berbuat dosa terhadap Allah Swt.

Dengan pandangan ini, maka bagaimana mungkin seorang wanita dapat dibenarkan untuk menjadi pemimpin apalagi Presiden?

Ketiga. Islam mengajarkan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat, bahkan suaranya pun juga aurat. Aurat, artinya adalah fisik seseorang; aurat wanita berarti fisik seorang wanita. Dan aurat itu hanya boleh dilihat oleh suaminya sendiri dan anak-anak kandungnya.

Kalau seorang wanita menjadi Presiden, mau pun bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, berarti wanita tersebut akan keluar rumah untuk ber-aktivitas (aktivitas outdoor). Ini artinya wanita tersebut akan dipandangi oleh orang banyak, dan itu artinya akan banyak kaum pria memandangi wanita tersebut; memandangi wanita tersebut pastilah makna dan arahnya adalah memandangi aurat wanita tersebut.

Kendati wanita yang dimaksud mengenakan busana Muslimah seperti hijab, jilbab mau pun baju panjang, tetap saja sosok wanita itu sendiri sudah merupakan aurat. Bahkan suaranya juga adalah aurat. Dan hal tersebut tidak boleh ada di depan para pria.

Jadi, kalau seorang wanita menjadi Presiden (atau posisi outdoor lainnya), pastilah ia akan memperlihatkan auratnya kepada orang lain, dan itu merupakan dosa yang amat besar baginya.

Keempat. Pemimpin haruslah seseorang dengan tubuh dan fikiran yang kuat, karena memimpin merupakan pekerjaan yang luar biasa berat. Memimpin bukanlah pekerjaan sembarangan, bukanlah pekerjaan main-main yang dapat dianggap remeh dan tidak penting sama sekali.

Oleh karena itu, sosok pemimpin yang logis pastilah seorang pria, bukan wanita, karena pria memiliki fisik dan fikiran yang kuat, sementara wanita merupakan sosok yang lemah, baik dari segi fisik mau pun fikiran.

Islam melarang umat untuk mengangkat wanita menjadi pemimpin, karena wanita merupakan sosok yang lemah baik secara fisik mau pun fikiran, bagaimana ia dapat memimpin kalau ia sendiri merupakan sosok yang lemah? Islam menuntut pemimpin dijabat oleh seseorang yang kuat fisik dan fikirannya, dan sosok itu pastilah pria. Sudah disepakati bersama sejak jaman purba bahwa wanita merupakan sosok yang lemah, oleh karena itu tidak dapat dicarikan alasan bahwa wanita dapat menjadi pemimpin.

Mungkin di dalam beberapa kasus, sebuah komunitas mengangkat wanita menjadi pemimpin, dengan alasan bahwa pemimpin yang wanita ini mempunyai bawahan yang terdiri dari kaum pria yang kuat, yang mana bawahan-bawahan inilah yang akan melaksanakan seluruh perintah pemimpin yang wanita ini. Tentu saja hal ini tidaklah fair dan juga tidak logis, pun tidak etis sama sekali. Kalau begitu cara fikir mereka, maka sama saja halnya bahwa wanita tersebut tidak dapat memimpin, melainkan kepemimpinannya yang lemah itu diimpaskan dengan menempatkan kaki-tangan yang kuat, yaitu yang terdiri dari kaum pria yang kuat-kuat yang siap mengawal kepemimpinan seorang pemimpin yang lemah.

Pun juga merupakan suatu kekejian, kalau dikatakan bahwa supaya wanita dapat memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin, maka wanita tersebut haruslah kuat, baik secara fisik mau pun secara fikiran. Tentulah hal tersebut merupakan kekejian yang luar biasa, yaitu menuntut seorang wanita untuk menjadi kuat. Alami dan kodratnya seorang wanita adalah lemah, oleh karena itu merupakan suatu dosa untuk memaksakan seorang wanita untuk menjadi kuat. Suatu Alhadis mengajarkan:

Para sahabat bertanya kepada Muhammad Saw, “wahai Rasulullah, bagaimanakah kami harus berbuat yang benar di Dunia ini?”. Nabi Muhammad Saw menjawab, “berbuatlah kamu menurut tempat-tempat jatuhnya kodrat” (kami memohon viewers dapat memberi koreksi atas redaksi dari Alhadis ini. Terima kasih).

Artinya, Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat hanya menurut kodrat. Kodrat pria adalah kuat, maka seorang pria harus mengusahakan untuk kuat, sementara kodrat wanita adalah lemah, maka jangan paksa seorang wanita untuk menjadi kuat. Membuat atau memaksakan wanita menjadi kuat merupakan suatu pelanggaran atas kodrat.

Islam melarang umat untuk mengangkat seorang anak kecil menjadi pemimpin, karena dianggap tidak kuat dan juga tidak matang di dalam berfikir, walau pun anak kecil itu adalah anak laki-laki. Nah kalau anak kecil yang laki-laki saja tidak diperkenankan Islam untuk menjadi pemimpin, maka apalagi wanita? Dengan logika ini, bagaimana mungkin Islam membolehkan wanita menjadi pemimpin?

Kelima. Pada dasarnya, dan pada Hukum kehidupannya, dan pada kenyataannya, lelaki adalah pelindung kaum wanita. Pun tidak mungkin, wanita dapat melindungi kaum pria. Kaum pria lah yang menolong kaum wanita untuk mendapatkan keamanan.

Pada dasarnya, setiap wanita yang dapat hidup dengan aman, yang dapat berjalan di pasar dengan aman, yang dapat berbelanja dengan aman, sebenarnya karena mendapat perlindungan dari kaum pria. Tidak mungkin wanita dapat menjamin keamanannya sendiri. Oleh karena itu keamanan kaum wanita seutuhnya tergantung dari perlindungan kaum pria.

Berangkat dari kenyataan dan logika ini, bagaimana mungkin wanita dapat menjadi pemimpin di atas kaum pria? Apakah mungkin kaum wanita yang tidak dapat menjamin keamanan diri mereka sendiri, tiba-tiba dapat memerintah kaum pria? Intinya, apakah mungkin kaum yang lemah dapat memimpin kaum yang kuat, sementara keamanan dari kaum yang lemah itu saja berasal dari perlindungan yang diberikan kaum yang kuat?

Islam tidak pernah menyelingkuhi logika yang gamblang ini, maka dari itu Islam tidak memperkenankan wanita untuk menjadi pemimpin, khususnya menjadi pemimpin atas seluruh kaum pria. Atau, kita sepakat untuk menyatakan bahwa seluruh umat manusia sudah tidak waras.

Penutup.

Islam sudah benar dengan ajarannya, bahwa wanita dilarang untuk menjadi pemimpin, karena yang pantas dan memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin adalah seorang pria. Itu pun juga, tidak semua pria dapat menjadi pemimpin, karena tidak semua pria itu kuat dan bagus daya-fikirnya.

Wallahu a’lam bishawab.

– Artikel pertama callme –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s