Emansipasi Wanita Bukti Logika Tidak Becus

elmuslimatene

Emansipasi wanita (EW), apakah merupakan suatu keniscayaan bagi seluruh peradaban manusia? Dan apakah seluruh umat harus menerima dan mengadopsi emansipasi wanita ini sebagai suatu kemajuan dan kepantasan di tengah setiap masyarakat manusia? Dan terlebih, apakah emansipasi wanita merupakan hasil berfikir yang unggul dan cerdas dari para pemikir yang bijaksana dan adil?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tinjau beberapa kasus di bawah ini.

Kasus I.

Ani adalah seorang wanita yang hidup di Dunia modern ini. Ia melihat bahwa wanita merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang diciptakan sejajar dengan kaum pria. Oleh karena itu ia merasa bahwa ia juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kaum pria, khususnya di dalam hal bekerja, berkarir dan mencari uang.

Ia pun bekerja di sebuah Perusahaan, dan ia cukup menikmati emansipasi wanita di Perusahaan tersebut. Di dalam alam kesejajaran antara pria dan wanita, Dunia tidak boleh lagi membedakan setiap individu berdasarkan jenis kelamin. Dengan konsep tersebut, Ani yang sudah mapan dengan posisinya di Kantor merasa berhak dan PANTAS untuk menyuruh-nyuruh karyawan lain yang berjenis kelamin pria. Bahkan Ani tidak segan membentak-bentak karyawan pria hanya demi karyawan pria itu mau mematuhi perintah Ani, atasan mereka. Ani yakin bahwa hal tersebut adalah suatu kepantasan dan suatu kelayakan, mengingat di Kantor itu tidak boleh lagi ada pembedaan berdasarkan jenis kelamin, yang boleh ada adalah pembedaan berdasarkan posisi dan jabatan, tanpa pandang apa jenis kelaminnya. Inilah emansipasi alias kesejajaran antara pria dan wanita.

Sampai di sini, Ani sudah sangat puas, dan merasa bahwa alam yang ia tinggali sudah sesuai dengan keadilan dan kepantasan, yaitu wanita berhak memerintah dan kalau perlu membentak laki-laki, laki-laki mana pun, khususnya karyawan bawahannya, bahwa sekarang bukan lagi jamannya memandang jenis kelamin, melainkah hanya boleh memandang status formalnya atau jabatannya.

Kasus II.

Masih di seputar Ani. Ani sudah bekerja di Perusahaan tersebut selama tahunan. Pada saat itu masuklah seorang karyawan baru, juga seorang wanita; namanya Ellen. Secara umur, Ellen lebih tua dari Ani yaitu terpaut 7 tahun. Pun Ellen baru pertama kalinya terjun ke Dunia kerja karena selama ini Ellen hanya wanita rumahan. Dengan kata lain, Ellen benar-benar masih ‘IJO’ di dalam hal Dunia tenaga kerja.

Ada yang unik dari Ellen ini. Ellen masih mempunyai hubungan keluarga dengan salah seorang manager kelas atas di Perusahaan tersebut. Dan Ani pun mengetahui hal tersebut. Namun sungguh pun begitu, posisi Ani jauh lebih tinggi dari Ellen, jadi dengan kata lain Ani adalah atasannya Ellen.

Suatu ketika, pada suatu kasus, bertemulah Ani dan Ellen ini. Dikarenakan terjadi saling tidak faham satu sama lain, suasana menjadi tegang di antara keduanya; tidak dapat diketahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Ellen merupakan seorang wanita yang pandai bicara dan berani melantangkan suaranya. Begitulah, dengan suara tinggi dan penggunaan kata-kata yang jitu, Ellen mahir sekali membentak-bentak Ani sedemikian rupa. Ani pun juga tidak tinggal diam, memperlihatkan kemarahan dan perlawanannya menghadang emosi Ellen, dan Ani tetap ingat bahwa ia adalah atasan bagi Ellen, dengan begitu Ani terus merangsek membentak Ellen.

Show berakhir. Ani dan Ellen kembali ke ruangan masing-masing. Tidak ada karyawan lain yang berani melerai atau menenangkan keduanya, mengingat Ani adalah atasan mereka, pun Ellen mempunyai hubungan keluarga dengan salah seorang manager Perusahaan tersebut.

Di tempat duduknya, Ani terus mengoceh tidak karu-karuan soal Ellen, menumpahkan kekesalan yang membelulululudak di dalam hatinya. Tampaknya Ani tidak terima akan kelancangan dan kekurang-ajaran Ellen yang terhitung bawahannya. Ani mencetuskan kalimat ini: “gua dibentak ama karyawan baru???? Setan mana yang kurang ajar seperti itu?”.

Kasus III.

Revi adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Suatu ketika sekolah tempatnya menimba ilmu akan berpartisipasi di dalam suatu event sosial, dan di dalam event tersebut akan melibatkan banyak lembaga pendidikan seperti mahasiswa perguruan tinggi, SMP, SD dan juga para pengajar.

Di dalam event tersebut, penyelenggara akan menggabungkan beberapa lembaga bilamana itu dianggap perlu untuk kesuksesan acara tersebut. Penyelenggara berkeinginan untuk menggabungkan SMA tempat Revi sekolah dengan para mahasiswa dari perguruan tinggi / universitas. Tentu saja Revi senang karena akan bergabung dengan kakak-kakak seniornya. Sementara itu peserta dari kalangan SMP kebingungan karena masih belum digabungkan.

Penyelenggara memutuskan akan menggabungkan anak-anak SMP kepada gabungan antara sekolah Revi dengan universitas tadi. Spontan Revi protes karena enggan kalau digabungkan dengan anak-anak kecil. Menurutnya, anak-anak tidak bisa digabungkan dengan orang-orang yang sudah dewasa karena pasti akan terjadi miskomunikasi, dan yang pasti akan merepotkan.

Penjelasan.

Apa yang dipaparkan melalui ketiga kasus di atas sama-sama bernuansa emansipasi atau kesejajaran individu-individu yang semulanya adalah berbeda. Pada kasus pertama, Ani berbahagia karena ia diEMANSIPASIkan dengan kaum pria. Pada kasus kedua Ani merasa gusar karena Ellen merasa bahwa ia disejajarkan dengan Ani, kendati memang benar bahwa Ellen masih terhitung karyawan baru. Kasus ketiga, Revi hanya ingin disejajarkan dengan golongan yang di atasnya yaitu golongan universitas, dan menolak untuk disejajarkan dengan golongan yang di bawahnya yaitu SMP. Harus ditegaskan bahwa ketiga kasus di atas hanyalah ilustrasi, walau pun mungkin mendekati realitas.

Kembali membahas emansipasi. Wanita berjuang menuntut emansipasi untuk mensejajarkan golongannya (yaitu kaum wanita) dengan golongan pria. Sebenarnya kita harus bertanya, apa sajakah yang ingin dan harus diEMANSIPASIkan itu? Ingatlah bahwa di dalam hidup ini banyak sekali golongan yang oleh alam diposisikan berbeda-beda, yang satu di bawah yang lain, dan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Tampaknya itu merupakan suatu Hukum alam yang harmonis. Dan kalau wanita ingin emansipasi wanita, maka apakah ada hal lain yang juga harus diemansipasikan?

Di dalam kasus pertama, terlihat bahwa Ani ingin pensejajaran antara pria dan wanita, namun di dalam kasus kedua, Ani tidak ingin disejajarkan dengan karyawan baru. Dan di dalam kasus ketiga, Revi ingin sekali disejajarkan dengan golongan yang di atasnya yaitu kawan-kawannya dari universitas, namun TIDAK ingin disejajarkan dengan golongan yang berada di bawah Revi yaitu anak SMP (apalagi SD!).

Melalui ketiga kasus ini, kita melihat bahwa ternyata emansipasi wanita hanyalah usaha egois kaum wanita untuk minta dipersamakan dengan kaum pria, dan kemudian kaum wanita tidak mau kalau ada golongan yang di bawahnya juga minta disejajarkan dengan golongannya. Kaum wanita tidak mau tahu-menahu kalau ada golongan miskin yang minta disejajarkan dengan kaum kaya, atau kalau ada golongan minoritas ingin dipersamakan dengan golongan mayoritas, atau juga golongan pendatang minta dipersamakan dengan golongan pribumi. Bahkan di dalam banyak kasus kaum wanita turut menentang kalau ada golongan orang miskin dan minoritas dan juga pendatang menuntut dipersamakan dengan golongan kaya, pribumi dan mayoritas.

Di dalam kasus kedua, Ani gusar sekali saat melihat bahwa Ellen mensejajarkan dirinya dengan Ani dengan selalu menyebut-nyebut bahwa Ellen adalah karyawan baru yang tidak boleh banyak berkata dan banyak bertingkah kepadanya. Kendati Ellen mempunyai nilai kebenaran yang diperjuangkan, tetap saja Ani hanya memandang kepada status bahwa Ellen adalah karyawan baru, sementara Ani adalah karyawan lama dan juga mempunyai posisi yang lebih tinggi. Intinya, Ani sangat ngotot mengedepankan pembedaan berdasarkan senioritas dan rangking, tidak perduli nilai kebenaran yang diperjuangkan Ellen.

Di lain pihak, Ani sebagai wanita ingin disejajarkan dengan kaum pria, dan akan gusar kalau kaum pria selalu memandang ke gendernya yaitu wanita. Ani mungkin akan menceramahi para pria bahwa pria sama sekali tidak layak untuk selalu menyebut-nyebut atau membedakan Ani secara gender, artinya kaum pria harus legowo untuk melihat bahwa wanita dan pria adalah sama, harus begitu. Namun Ani tidak setuju kalau karyawan baru harus sejajar dengan karyawan lama.

Jadinya, Ani adalah anti-pensejajaran antara karyawan baru dan karyawan lama, sementara Ani selalu berjuang untuk pensejajaran antara pria dan wanita. Ani tidak mau-tahu perasaan Ellen yang memperjuangkan kebenaran, sementara Ani menuntut pria untuk memahami perasaan wanita yang kecewa karena selalu dipandang bawahan – secara gender. Ini namanya curang, ENAK DI LOE – GA ENAK DI GUA: SAK KAREPEK DHEWE.

Memang benar bahwa Ellen adalah karyawan baru, dan Ellen harus faham bahwa Ellen adalah karyawan baru, yang artinya Ellen tidak boleh mensejajarkan dirinya dengan Ani, yang sudah bertahun-tahun bekerja dan menduduki posisi tinggi di Perusahaan tersebut. Namun bukankah juga demikian halnya di dalam hubungan pria dan wanita? Wanita seharusnya faham, bahwa wanita adalah wanita, jangan sekali-sekali menganggap bahwa wanita harus dipersamakan dengan pria. Wanita harus taat kepada kodratnya, yaitu wanita, yang harus selalu berada di bawah kaum pria. Adalah lucu kalau kaum wanita, khususnya Ani, minta dipersamakan dan disejajarkan dengan kaum pria, sementara Ani yang sama menuntut Ellen untuk selalu manut dan bungkam di bawah bayang-bayang Ani. Kalau Ani menuntut Ellen untuk selalu manut berada di bawah bayang-bayang karyawan senior, maka seharusnya Ani dan seluruh wanita juga harus selalu manut berada di bawah bayang-bayang kaum pria. Itu baru fair.

Kalau Ani berkilah bahwa memang seharusnya bawahan dan karyawan baru harus manut saja di bawah perintah atasan dan karyawan senior, maka sebenarnya wanita pun juga harus manut di bawah perintah pria, baik ia suaminya, atau pun abangnya. Jangan pernah minta dipersamakan dengan kaum pria, itu intinya.

Kesimpulan.

Ada golongan 1, golongan 2, dan golongan 3. Golongan 2 minta disejajarkan dengan golongan 3, namun golongan 2 akan ngamuk kalau golongan 2 ini dipersamakan dengan golongan 1. Kejadian ini ditemui pada jenis manusia yang dinamakan wanita.

Wanita ingin dipersamakan dengan kaum pria (golongan yang berada di atasnya) khususnya di dalam hak, yaitu hak bekerja, berkarir, mendapatkan gaji, mendapatkan posisi atau jabatan di dalam forum formal dan lain lain. Namun kebalikannya wanita yang sama tidak ingin dipersamakan dengan golongan yang di bawah wanita. Artinya, emansipasi yaitu persamaan dan pensejajaran ternyata hanya boleh ada di dalam aspek gender, untuk kaum wanita terhadap kaum pria, bukan di dalam aspek lainnya.

Fakta kehidupan memperlihatkan betapa tidak boleh ada pensejajaran antara:

  • kaum pendatang terhadap kaum pribumi,
  • kaum miskin terhadap kaum kaya,
  • kaum minoritas terhadap kaum mayoritas,
  • karyawan baru terhadap karyawan senior,
  • bawahan terhadap atasan,
  • kaum cacad terhadap kaum normal,
  • karyawan permanen (termasuk PNS) terhadap karyawan kontrak atau honorer,
  • kaum pemodal kecil terhadap pemodal besar, dan lain lain.

Pembedaan (ingat: pembedaan, bukan perbedaan) itu tetap ada dan dipertahankan untuk selalu ada. Ini berarti kaum wanita terlibat (ikut-ikutan) mempertahankan pembedaan tersebut. Sungguh ironis, di mana pada satu term kaum wanita terlibat di dalam mempertahankan adanya pembedaan sosial tersebut, namun justru pada term lainnya kaum wanita yang sama berjuang untuk mentiadakan pembedaan gender antara pria dapat wanita. Wanita lah yang selalu ikut mempertahankan adanya pembedaan di dalam berbagai kelas sosial.

Akhir kata, emansipasi wanita ternyata merupakan hasil berfikir yang tidak becus sama sekali, dan hanya merupakan keinginan egois dari kaum wanita. Di satu pihak wanita menuntut persamaan dan pensejajaran antara pria dan wanita, di lain pihak wanita yang sama menuntut penguatan pembedaan antara berbagai kelas dan golongan di dalam kehidupan ini. Wanita berjuang menuntut persamaan gender antara pria dan wanita, dan kemudian wanita juga berjuang menuntut pembedaan yang tegas dan keji di dalam kelompok kelas lain di dalam sosial ini. Itulah wanita.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s