Deoband Bantah Fatwa Larangan Wanita Muslim Bekerja

sekatruang

NEW DELHI (Berita SuaraMedia) – Darul Ulum Deoband, madrasah Islam terdepan di India, pada hari Rabu (12/5) membantah telah meminta wanita Muslim untuk tidak bekerja bersama kaum pria dan mengatakan bahwa mereka hanya menyarankan agar wanita bekerja memakai pakaian yang sopan.

“Kami hanya memberikan sebuah opini yang berdasar pada Syariah bahwa kaum wanita harus menutup tubuh dengan baik di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta,” ujar Maulana Adnan Munshi, juru bicara untuk madrasah di Saharanpur, Uttar Pradesh, ini.

Ia membantah laporan media bahwa madrasahnya menentang kaum pria dan wanita bekerja bersama.

“Tidak ada fatwa baru yang dikeluarkan”, ujar Maulana Munshi, seraya menambahkan bahwa bahkan opini tentang aturan berpakaian pernah diberikan ketika seorang wanita Muslim ingin tahu jika seorang wanita dapat pergi bekerja tanpa purdah atau cadar.

“Itu juga satu setengah bulan yang lalu”, ujarnya.

Namun, laporan media yang mengklaim bahwa madrasah Deoband telah mengeluarkan fatwa menentang wanita bekerja telah menimbulkan reaksi keras dari para pemimpin dan akademisi dari komunitas Muslim.

“Pria dan wanita menurut Syariah memiliki hak yang sama. Jika kaum pria mengikuti Syariah, tidak ada alasan mengapa wanita tidak dapat bekerja dengan mereka,” ujar Rasheed, Imam Masjid Eidgah di Aishbagh.

Mufti Maulana Khalid Rasheed dari Darul Ifta Firangi Meheli – badan Islam radikal lain yang juga mengeluarkan fatwa – mengkritik fatwa Deoband sebagai pembatasan terhadap wanita Muslim.

Maulana N.A. Farooqui, sekretaris Jamiat Ulama-i-Hind, mengatakan bahwa perintah Deoband harus dipahami dalam perspektif yang benar.

Ia mengatakan Islam tidak melarang kaum wanita bekerja atau bepergian ke luar rumah tapi wajib bagi mereka untuk menjaga agar tetap tertutup dengan baik.

Namun, ulama Syiah, Maulana Kalbe Jawwad, membenarkan fatwa tersebut. “Wanita di dalam Islam tidak seharusnya pergi ke luar dan bekerja. Itu adalah tanggung jawab kaum pria di dalam keluarga”, ujarnya. “Jika seorang wanita harus pergi bekerja, ia harus memastikan bahwa batasan Syariah tidak dikompromikan,” tambahnya, menyebutkan contoh Iran, di mana wanita Islam bekerja di dalam kantor namun memiliki ruang duduk yang terpisah, jauh dari kolega pria mereka.

Anggota parlemen Rashid Alvi mengatakan setiap agama memiliki peraturannya sendiri namun hukum di mana bumi dipijak harus menang pada akhirnya.

“Apa pun yang dikatakan oleh seorang ulama, itu menurut agama. Tapi jika ada konflik antara agama dan konstitusi, maka hukum negara harus diutamakan,” ujar Alvi.

Mantan anggota parlemen Syed Shahabuddin mengatakan wanita Muslim dalam kehidupan kontemporer memiliki pendidikan, pekerjaan, dan dalam beberapa kasus membantu suaminya menjalankan usaha. “Tidak memungkinkan untuk mengikuti fatwa itu”.

Mantan menteri perkembangan wanita dan anak-anak Renuka Choudhary mencemooh fatwa itu, mengatakan bahwa kaum wanita tidak butuh fatwa tentang bagaimana harus membawa diri.

“Kaum wanita cukup arif dan memiliki akal sehat dalam berurusan dengan kaum pria atau membawa diri. Bahkan, pria-lah yang membutuhkan fatwa tentang bagaimana membawa diri di depan wanita dan bagaimana bersikap terhadap kami. Para pria seperti guru-guru agama yang mengeluarkan fatwa harus menghormati kemerdekaan kami,” ujarnya.

Profesor Zoya Hasan dari Pusat Studi Politik Universitas Jawaharlal Nehru, mengatakan bahwa fatwa bukan masalah karena tidak memiliki faedah. “Tidak ada yang berhenti kerja atau berdiam di rumah hanya karena sebuah fatwa telah dikeluarkan untuk menjauhi kaum pria atau wanita dan tidak saling berbicara,” tambahnya.

Media India melaporkan bahwa Darul Ulum Deoband mengeluarkan fatwa yang mengharamkan sebuah keluarga menerima penghasilan dari seorang wanita. Disebutkan bahwa madrasah Sunni terbesar setelah Al Azhar Kairo itu mengatakan fatwa tersebut berasal dari fakta bahwa Syariah melarang kedekatan antara pria dan wanita di tempat kerja.

“Merupakan pelanggaran hukum Syariah bagi wanita Muslim untuk bekerja di sektor pemerintah atau swasta di mana pria dan wanita bekerja bersama dan wanita harus berbicara dengan pria secara terbuka tanpa cadar,” ujar fatwa yang dikeluarkan pada akhir pekan lalu ini, namun baru dipublikasikan pada Senin (10/5) malam.

Di Lucknow, sebuah kota dengan tradisi sekuler dan progresif yang kuat, di mana keluarga Muslim mendidik putri-putri mereka untuk menjadi dokter, insinyur, dan eksekutif, ada rasa terkejut tak percaya bahwa dekrit semacam itu dapat berasal dari mereka yang menganggap dirinya sebagai advokat komunitas.

“Saya seorang wanita yang bekerja dan memastikan bahwa Syariah saya tidak dikompromikan,” ujar Rukhsana, pengajar di sekolah khusus wanita di Lucknow dan anggota komite eksekutif All Indian Muslim Personal Law Board (AIMPLB). “Seseorang tidak harus melanggar Syariah ketika pergi bekerja.” (rin/ti/dni) http://www.suaramedia.com

** Terambil http://www.suaramedia.com/dunia-islam/2010/05/12/deoband-bantah-fatwa-larangan-wanita-muslim-bekerja

——————————-

ANNISANATIONArtikel di atas telah menetapkan sesuatu yang terlalu banyak di dalam memahami Islam, khususnya di dalam hal wanita.

Islam sudah menegaskan bahwa tempat dan kodrat wanita adalah domestik: banyak hal yang harus diselesaikan seorang wanita di rumahnya yang berkenaan dengan kodrat kewanitaannya, dan hal itu tidak dapat terwujud kalau wanita tersebut pergi keluar rumah untuk tujuan apapun, apalagi untuk tujuan bekerja mencari nafkah. Islam / Alquran pun juga telah menggariskan bahwa tugas mencari nafkah merupakan tugas dan kodrat kaum pria, bukan wanita.

Paparan ini akan membahas beberapa isu di dalam artikel di atas yang dapat dibagi ke dalam beberapa point:

  1. Kutipan artikel: “Ia mengatakan Islam tidak melarang kaum wanita bekerja atau bepergian ke luar rumah tapi wajib bagi mereka untuk menjaga agar tetap tertutup dengan baik”.
  2. Kutipan artikel: “Pria dan wanita menurut Syariah memiliki hak yang sama. Jika kaum pria mengikuti Syariah, tidak ada alasan mengapa wanita tidak dapat bekerja dengan mereka,” ujar Rasheed, Imam Masjid Eidgah di Aishbagh.
  3. Kutipan artikel: Wanita Islam bekerja di dalam kantor namun memiliki ruang duduk yang terpisah, jauh dari kolega pria mereka.
  4. Kutipan artikel: “Kaum wanita cukup arif dan memiliki akal sehat dalam berurusan dengan kaum pria atau membawa diri. Bahkan, pria-lah yang membutuhkan fatwa tentang bagaimana membawa diri di depan wanita dan bagaimana bersikap terhadap kami”.
  5. Kutipan artikel: “Apa pun yang dikatakan oleh seorang ulama, itu menurut agama. Tapi jika ada konflik antara agama dan konstitusi, maka hukum negara harus diutamakan,” ujar Alvi.
  6. Kutipan artikel: Media India melaporkan bahwa Darul Ulum Deoband mengeluarkan fatwa yang mengharamkan sebuah keluarga menerima penghasilan dari seorang wanita.

Ia mengatakan Islam tidak melarang kaum wanita bekerja atau bepergian ke luar rumah tapi wajib bagi mereka untuk menjaga agar tetap tertutup dengan baik”.

Artikel di atas ingin memudahkan permasalahan dengan menyatakan bahwa tidak masalah kalau seorang wanita bekerja, dan merupakan masalah yang besar kalau menyatakan bahwa Islam melarang wanita bekerja. Lebih tegas lagi, narasumber di dalam artikel ini menegaskan, bahwa Islam sama sekali tidak pernah melarang wanita bekerja.

Dengan cara apapun ide ini disampaikan, tetaplah itu merupakan hal yang salah, dan menjadi penentangan terhadap titah Illahi dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Yang benar adalah bahwa Islam melarang wanita bekerja dan untuk mencari nafkah, dan Islam melarang umatnya untuk mengadopsi kehidupan yang memperbolehkan wanita bekerja dan mencari nafkah. Tidak ada satu pun Al- ayat mau pun Alhadis yang dapat dijadikan dasar bahwa wanita boleh bekerja mencari nafkah. Kebalikannya, Islam mengajarkan bahwa tugas dan kodrat wanita adalah domestik yaitu tetap tinggal di dalam rumahnya.

Pria dan wanita menurut Syariah memiliki hak yang sama. Jika kaum pria mengikuti Syariah, tidak ada alasan mengapa wanita tidak dapat bekerja dengan mereka”, ujar Rasheed, Imam Masjid Eidgah di Aishbagh.

Apa yang dikatakan oleh imam Masjid ini sama sekali tidak mempunyai dasar baik di dalam Alquran mau pun Alhadis. Yang benar adalah, bahwa menurut syariah, pria dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Syariah menjelaskan bahwa tatacara shalat antara pria dan wanita jauh berbeda, begitu juga mengenai puasa, batasan aurat, warisan dan lain lain.

Apa yang dikatakan oleh beberapa ulama di India di dalam artikel ini sebenarnya hanyalah cerminan dari nafsu supaya terus dirangkul oleh Barat yang Kristen dan sekuler.

Wanita Islam bekerja di dalam kantor namun memiliki ruang duduk yang terpisah, jauh dari kolega pria mereka.

Statement tersebut merupakan hal yang salah. Yang benar adalah, Islam tidak mengajarkan bahwa wanita boleh bekerja jika ditempatkan di ruangan yang berbeda dari pekerja pria. Islam mengajarkan bahwa tugas dan kodrat wanita adalah domestik, yang artinya wanita hanya menjalani seluruh tugas domestiknya, karena tugas mencari nafkah merupakan tugas para lelaki. Yang menjadi masalah bukan pada apakah ruang kerja wanita dan pria dipisah atau tidak. Yang menjadi pokok pembicaraan adalah, baik ruang wanita dan pria dipisah mau pun tidak, tetap wanita tidak dibenarkan untuk bekerja mencari nafkah, karena tugas wanita adalah tetap tinggal di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya.

Kaum wanita cukup arif dan memiliki akal sehat dalam berurusan dengan kaum pria atau membawa diri. Bahkan, pria-lah yang membutuhkan fatwa tentang bagaimana membawa diri di depan wanita dan bagaimana bersikap terhadap kami”.

Statement di atas merupakan statement yang keji. Faktanya, dengan mengadopsi kehidupan di mana wanita diijinkan bekerja, maka kasus perzinahan menjadi lebih luas pada setiap levelnya. Tidak ada jaminan bahwa perzinahan mau pun perselingkuhan tidak akan pernah terjadi kalau wanita dijamakkan untuk keluar rumah.

Dan lebih dari itu, mengapa Islam melarang wanita bekerja adalah, karena tugas wanita adalah untuk mengurus anak-anaknya. Kalau wanita keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, maka siapa yang akan mengurus dan mengasuh anak-anaknya? Permasalahan bukan terletak pada apakah kaum pria dapat memperlakukan wanita dengan baik di tempat kerja, karena inti pembicaraan adalah bahwa wanita dilarang bekerja karena tugas wanita adalah mengasuh anak.

Apa pun yang dikatakan oleh seorang ulama, itu menurut agama. Tapi jika ada konflik antara agama dan konstitusi, maka hukum negara harus diutamakan,” ujar Alvi.

Kalau terjadi konflik antara Hukum agama dan Hukum negara, maka Hukum negaralah yang salah, dan Hukum agamalah yang benar dan superior. Bahkan kalau Hukum negara ternyata hanya mengusung dan mendukung agenda negara-negara Barat dan sekuler, maka Islam dan logika akan menggusur Hukum negara tersebut. Biar bagaimana pun Hukum negara, selama tidak mengakomodasi Hukum syariah, tidak dapat menjawab terjadinya banyak prahara sosial yang mengerikan seperti perzinahan, aborsi, perselingkuhan, freesex, anak-anak terlantar, anak-anak yang lahir di luar nikah dan lain lain. Kalau Hukum negara justru memberi konsesi atas terjadinya prahara sosial tersebut, maka itu lah saatnya bagi Hukum negara untuk mengakui bahwa syariah adalah benar dan harus ditegakkan.

Media India melaporkan bahwa Darul Ulum Deoband mengeluarkan fatwa yang mengharamkan sebuah keluarga menerima penghasilan dari seorang wanita.

Fatwa ini sudah benar menurut syariah Islam, bahwa adalah haram hukumnya seorang wanita keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, maka haram juga bagi siapa pun untuk menikmati uang hasil pencarian wanita tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s