Mencari Wanita Sejati Sepanjang Masa

mencari-wanita-sejati-sepanjang-masa

Wanita manakah yang dapat dikatakan wanita sejati? Kalau kita mengenal pria sejati, maka artinya kita juga mengenal pria yang tidak sejati. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah seluruh wanita merupakan wanita sejati? Atau, apakah sebagian wanita merupakan wanita sejati, dan sebagian lainnya bukan wanita sejat?

Tentu saja, sejati atau tidak sejati, kualitas itu biasanya disandarkan pada beberapa parameter: perbuatannya, pandangan hidupnya, dan juga komitmennya, apakah dia seorang wanita atau seorang pria, selama parameter-parameter tersebut berkorelasi secara ekstrim dengan kodratnya, baik kodratnya sebagai wanita mau pun pria. Karena perbuatan-perbuatan tertentu dan komitmennya, seorang pria dapat dikatakan pria sejati. Maka hal yang sama juga pasti diberlakukan kepada wanita. Yang menjadi kata kunci di dalam kesejatian ini adalah kodrat, bukan yang lainnya, karena baik menjadi wanita mau pun pria, seutuhnya berhubungan dengan kodrat alami yang digariskan Allah Swt.

Inilah beberapa parameter untuk dapat menilai bahwa seorang wanita merupakan wanita sejati atau bukan.

1. Wanita sejati mempunyai banyak anak.

Wanita sejati adalah wanita yang mempunyai banyak anak, atau melahirkan banyak anak. Sejatinya, mahluk yang disebut wanita adalah mahluk yang amat menyukai anak-anak. Oleh karena itu wanita selalu ingin mempunyai banyak anak, apalagi kalau anak-anak itu merupakan anak-anaknya sendiri yang lahir dari rahimnya.

Banyak anak, adalah minimal LIMA anak. Kurang dari lima anak, tidak dapat disebut sebagai banyak anak.

Karena jaman berubah, banyak wanita yang telah meninggalkan parameter ini: banyak wanita yang menolak untuk melahirkan anak ketiga, keempat dan seterusnya. Tepatnya, jaman sekarang merupakan jaman di mana kaum wanita hanya ingin mempunyai dua anak saja, dan dua itu pun menurut mereka sudah terlalu banyak dan menyulitkan. Termasuk di dalam perubahan jaman di sini adalah adanya seruan Pemerintah Dunia untuk mengikuti program keluarga berencana yang membatasi jumlah anak.

Kehidupan jaman sekarang menunjukkan moment di mana para suami ingin mempunyai banyak anak, namun keinginan mereka dihambat / ditolak oleh istri. Sebenarnya tidak ada suami yang menginginkan sedikit anak, dan kenyataannya banyak / seluruh suami menginginkan sebaliknya, yaitu mempunyai banyak anak, dan banyak di sini tentunya minimal lima. Masalah selalu ada di pihak istri yang menolak melahirkan lebih banyak anak.

Kalau kita melihat kepada sejarah pada masa silam, kita melihat bahwa seluruh wanita mempunyai / melahirkan banyak anak. Dan hal ini juga yang merupakan alasan mengapa saudara-saudara kita senior berasal dari keluarga yang banyak anak, hal itu semua karena orang-tua mereka masih berasal dari kalangan ‘orang jaman dulu’ di mana kaum ibu / wanita taat dengan kesejatian mereka, yaitu melahirkan banyak anak.

Penyebabnya adalah jelas: karena jaman modern merupakan jaman di mana wanita beroleh / mempunyai pekerjaan dan pendidikan. Kaum wanita modern telah disibukkan dengan pendidikan sejak kecll, dan kemudian setelah menempuh pendidikan formal tersebut, wanita menuntut bekerja dan cari uang sendiri. Faktor inilah yang membuat wanita menjadi entitas tersendiri, mandiri, dan menempatkan kemandiriannya untuk menentang kodrat dan pertaliannya dengan masa silam.

Dengan kenyataan seperti ini, sudah dapat dipastikan bahwa jaman sekarang ini sudah tidak ada lagi wanita sejati: wanita sejati hanya tinggal sejarah, hanya ada di dalam buku sejarah untuk mengenang masa lalu. Dan wanita jaman sekarang, bukanlah lagi wanita sejati, karena mereka semua merupakan individu yang menolak untuk mempunyai dan melahirkan banyak anak, demi karir, uang, jabatan dan prestise. Kalau wanita jaman sekarang tidak bisa lagi disebut wanita sejati, maka sebut saja mereka sebagai ‘wanita jejadian’.

2. Wanita sejati adalah yang menyusui anaknya.

Wanita sejati adalah wanita yang menyusui keseluruhan anaknya, karena mereka melihat tidak ada kemungkinan lain di dalam hal membesarkan anak-anaknya selain menyusui anak-anaknya sampai kenyang dan tertidur pulas. Pun wanita sejati TIDAK INGIN melihat ada cara lain di dalam membesarkan anak selain menyusui mereka: wanita sejati tidak ingin memberi anak-anak mereka susu formula atau hal lainnya. Rasa sayang yang ada di dalam hati seorang wanita / ibu mendorongnya untuk selalu memberikan asi-nya kepada sang anak, dan akan terluka jika ia melihat bahwa anaknya kenyang dengan cara lain.

Jaman sekarang di mana wanita sudah larut di dalam emansipasi wanita dan ambisi kebendaan, uang karir dan jabatan, melihat bahwa menyusui anak merupakan suatu dosa masa lalu yang akan merusak prestise dan bentuk tubuh cantiknya. Singkat kata, jaman sekarang merupakan tempat di mana para wanita enggan menyusui anak-anak mereka, dan mereka beralih untuk memperbaiki susu formula yang akan diberikan kepada anak-anak mereka melalui benda yang disebut botol dan dot.

Para wanita ini melihat bahwa tugasnya yang maha penting yaitu bekerja di Kantor dan mengejar karir tidak dapat digantikan dengan tugas kodratinya yaitu menyusui anaknya di kamar tidur di dalam rumahnya, hal itu merupakan suatu kesalahan yang diciptakan kaum pria yang risau melihat wanita maju.

Inilah wanita-wanita yang tidak lagi bisa disebut wanita sejati, karena kesejatian mereka telah hilang, telah mereka rampas sendiri dan mereka buang jauh-jauh demi karir emansipasi mereka di dalam benda yang mereka sebut persamaan gender antara pria dan wanita.

Penyebabnya adalah jelas: pendidikan formal dan kesempatan kerja yang diraih kaum wanita merupakan faktor-faktor yang membuat wanita tidak lagi setia dengan kodrat kewanitaan mereka. Hal ini akan berbalik 180 derajat kalau seluruh wanita itu tetap merupakan individu-individu yang selalu tinggal di rumah tanpa disertakan di dalam pendidikan formal dan pekerjaan mencari uang: mereka akan tetap setia dengan kodrat mereka yaitu menyusui anak-anak mereka sampai kenyang.

Kalau wanita jaman sekarang bukan lagi wanita yang bersedia untuk menyusui anak, maka sebut saja mereka dengan sebutan ‘wanita jejadian’ di abad modern ini.

3. Wanita sejati hanya mementingkan anaknya.

Seperti apakah wanita jaman sekarang ini, yang bergerak ke arah emansipasi wanita dan persamaan gender antara pria dan wanita? Jawabannya adalah, wanita yang lebih mementingkan jabatan, kerja, karir, dan posisinya di tempat kerja untuk mencari jabatan dan uang sebanyak-banyaknya. Artinya, wanita jaman sekarang adalah wanita yang tidak lagi mementingkan anak. Kenyatannya, wanita jaman sekarang tidak lagi mementingkan anak karena ada alternatif lain untuk mereka jadikan alasan bagi kemajuan emansipasi wanita mereka: babysitter dan atau pembantu rumahtangga, dan sejenisnya.

Wanita sejati adalah wanita yang hanya mementingkan anaknya: tidak ada yang lain di dalam otak dan jiwanya kecuali selalu ingin bersama si kecil sang buah hati di pangkuannya sepanjang hari, memandikannya, menyuapinya makan, membawanya tidur siang, mengantarkannya main di tanah lapang, menimangnya di kala menangis, dan mengajari si kecil bernyanyi merayu Negeri sejauh mata memandang. Tidak ada yang lebih indah bagi seorang wanita sejati kecuali melihat si kecil tumbuh besar, melihat kaki-kakinya yang mungil berlari kesana kemari mengejar bola di seruangan rumah. Pentingnya mengawal si kecil sepanjang hari dan sepanjang malam, bagi seorang wanita sejati tidak dapat dikalahkan dengan bekerja demi karir dan uang. Wanita sejati faham bahwa kenikmatan mengawal buah hati tidak akan dapat ia peroleh selama-lamanya, sementara uang dan karir pun akan hilang sirna hanya di dalam hitungan detik.

Berbeda dengan wanita jaman sekarang yang biasa disebut wanita karir. Kepuasan mengawal si buah hati, tidak ada harganya sama sekali, dan oleh karena itu wanita karir menganggap bahwa tugas mengawal buah hati dapat ia kesampingkan begitu rupa dan kemudian DIWAKILKAN kepada individu lain: babysitter, pembantu rumahtangga mau pun nenek dan yang lainnya. Wanita karir merasa bahwa bekerja demi setumpuk uang, karir dan jabatan tidak boleh disia-siakan, dan keutamaannya adalah jauh di atas membesarkan anak-anak.

Selama wanita tidak mementingkan anak, maka selama itu juga wanita tersebut bukanlah wanita sejati. Kalau di dalam hati seorang wanita ada yang lebih penting dari pada mengawal dan membesarkan anak sepanjang hari, maka wanita tersebut bukanlah wanita sejati. Kenyataannya, bagi wanita yang tidak sejati ini, bekerja di luar rumah demi setumpuk uang, karir dan jabatan, adalah jauh lebih penting dari pada membesarkan anak-anaknya.

Wanita sejati adalah wanita yang hatinya hanya akan tergerak untuk membesarkan anak-anaknya, melihat anak-anaknya sepanjang hari, memandikannya, menyuapinya makan, membenahi popoknya, dan menemaninya bermain di tanah lapang, dan tidak ada yang lebih penting dari itu semua. Uang, bagi wanita sejati, sudah ada yang menanggungnya, yaitu suami, ayah dari anak-anak. Wanita sejati tidak pernah memikirkan uang, tidak pernah memikirkan karir dan jabatan, karena itu semua tidak lebih indah dari pada memandangi dan mengasuh anak-anaknya sendiri.

Seberapa banyak uang yang didapat, itu akan segera hilang dan habis: uang tidak pernah ada cukupnya. Semakin banyak uang didapat, semakin banyak juga kebutuhan yang harus dipenuhi dengan uang tersebut. Oleh karena itu wanita sejati tidak pernah melihat uang sebagai sesuatu yang keindahannya melebihi keriangan sang buah hati di dalam pangkuannya. Wanita sejati faham, tidak ada yang lebih menyenangkan dan menentramkan sang buah hati selain melihat sang ibunda selalu berada di dekatnya dan tinggal di rumah bersama-sama.

Hal-hal seperti ini tidak pernah ada di dalam hati wanita yang tidak sejati. Kalau pun ada, akan diingkari sekeras mungkin, karena tumpukan uang, karir dan jabatan tentulah lebih indah dan lebih penting bagi wanita jenis tidak sejati ini.

Kesimpulannya adalah, kalau wanita sejati hanya mementingkan anak-anaknya, maka wanita karir justru berseberangan: ia lebih mementingkan uang, karir dan jabatan, sementara mengasuh anak, tinggal bersama dan selalu berada dekat anak, tidak berharga sama sekali. Wanita yang tidak sejati menolak dan mengesampingkan jeritan buah hatinya supaya tetap tinggal di rumah bersama anak-anak sepanjang hari: jeritan sang buah hati tidak ada harganya sama sekali bagi wanita yang tidak sejati.

Penyebabnya adalah, tingkat pendidikan tinggi yang mereka peroleh dan jabatan, karir dan pekerjaan dengan uang yang besar telah membuat mereka merasa bahwa tidak ada yang lebih penting dari itu semua. Di dalam fikiran mereka, wanita karir ini, anak-anak toh akan tumbuh dengan sendirinya walau pun dilempar ke tengah hutan.

Wanita seperti ini, sekali lagi, tidak dapat dikatakan sebagai wanita sejati, melainkan, untuk lebih aman, dikatakan saja ‘wanita jejadian’ produk jaman yang semakin maju.

4. Wanita sejati mengerjakan sendiri tugas domestiknya: mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, pandai menjahit.

Bagi wanita karir alias wanita yang tidak sejati, tugas domestik merupakan perlambang ketertinggalan kaum wanita terhadap kaum pria, dan menyatakan bahwa seluruh tugas domestik merupakan ciptaan kaum pria untuk dibebankan hanya kepada wanita supaya wanita tidak dapat memperoleh kemajuan. Oleh karena itu wanita karir sepakat bahwa tugas domestik bukan lagi domain kaum wanita. Kaum wanita, menurut wanita karir, harus sudah meninggalkan plot domestik tersebut. Dan adalah lebih baik kalau seorang wanita, tidak pandai memasak, tidak pandai mengurus rumah, tidak pandai menjahit, dan tidak pandai membuat kue – karena pun waktunya memang sudah tidak lagi dikarenakan bekerja sepanjang hari sebagaimana layaknya seorang pria.

Wanita, menurut wanita karir, dapat membebankan dan mengalihkan seluruh tugas domestik tersebut kepada individu lain yang biasa disebut pembantu rumahtangga, atau pekerja profesional lainnya, dengan bayaran uang. Dengan latar belakang ini, wanita yang tidak sejati tidak mempunyai keinginan untuk memasakkan makanan seluruh keluarganya, karena itu semua dapat dialihkan kepada pembantu rumahtangga.

Kebalikannya, bagi wanita sejati, kepandaian memasak, kepandaian membuat kue, kepandaian mengurus rumah, kepandaian menjahit, menenun kain, mengurus anak, merupakan NYAWA DAN AGAMA mereka buat selama-lamanya. Menurut wanita sejati, BUKAN WANITA namanya kalau tidak pandai memasak, menjahit, menenun, membuat kue dan mengurus anak. Oleh karena itu, wanita sejati selalu memilih untuk memasakkan makanan anak-anak dan seluruh keluarganya buat selama-lamanya.

Pada masa dahulu kala, seluruh wanita pandai memasak (dan keterampilan domestik lainnya). Wanita lah yang memasak seluruh makanan untuk keluarganya. Seluruh wanita kala itu DITUNTUT untuk pandai memasak, pandai memasak yang enak. Outputnya adalah tidak ada seorang wanita pun yang tidak pandai memasak. Dan dengan latar-belakang tersebut, kala itu tidak ada bidang pekerjaan pembantu, karena seluruh pekerjaan domestik sudah ditelateni oleh setiap wanita di dalam setiap keluarga.

Namun toh jaman berubah: jaman siti nurbaya telah berganti dengan jaman emansipasi wanita, yang menurut beberapa wanita, didorong oleh semangat untuk tidak lagi diperbudak dan diperbodohi kaum pria. Efeknya serius, satu persatu wanita mulai keluar rumah untuk mendapatkan pekerjaan. Sekali mereka mendapatkan pekerjaan, SELAMANYA mereka akan dibiasakan untuk meninggalkan kepandaian domestik mereka seperti memasak, membuat kue dan menjahit baju, termasuk juga menenun benang menjadi selembar kain yang cantik. Pada masa inilah, muncul profesi pembantu rumah tangga, dan tidak lama kemudian: babysitter.

Puncaknya adalah, kaum wanita pekerja ini mendapatkan ide baru, bahwa selayaknya wanita yang maju tidak lagi memasak, wanita yang maju tidak lagi menjahit baju, dan kebutuhan tersebut pun sudah dapat dialihkan kepada pembantu mau pun pekerja profesional lainnya. Dan lebih tegas lagi, wanita pekerja ini MENOLAK memasak untuk keluarga, dan lebih memerintahkan pembantu untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Kalau wanita sejati faham bahwa memasak, pandai menenun, pandai mengurus rumah, pandai mengurus anak merupakan nilai seorang wanita secara alami dan agung, maka tidak demikian halnya dengan wanita karir yang merupakan wanita tidak sejati. Wanita sejati mendapatkan kesejatian mereka dari memasakkan makanan seluruh keluarga, sementara wanita modern menentang itu semua. Wanita modern, yaitu wanita yang tidak sejati, menurut mereka adalah wanita yang pandai mencari uang bersamaan dengan kaum pria, pandai memerintah dan mendikte kaum pria di tempat kerja, pandai berdandan cantik untuk seluruh rekan kerja di tempat kerja, hal mana bukan merupakan kebanggaan bagi wanita sejati, seujung kuku pun!

Penyebabnya adalah sama: seluruh wanita di jaman modern ini merupakan wanita yang beroleh pendidikan formal dan pekerjaan serta jabatan sebagaimana halnya kaum pria, hal mana yang terus menuntut wanita untuk selalu keluar rumah sehingga meninggalkan seluruh kegiatan domestik. Dengan kata lain, pendidikan formal (yang dijejalkan kepada wanita sejak kecil) dan kemudian beroleh pekerjana mencari uang di luar rumah – telah merenggut kesejatian seorang wanita.

Jelas sekali, bahwa wanita modern (wanita pekerja), yaitu wanita yang menuntut emansipasi, tidak dapat lagi dikatakan wanita sejati karena wanita modern ini telah meninggalkan kesejatian wanita. Wanita modern ini dapat dengan aman dikatakan ‘wanita jejadian’ di abad modern. Tidak mungkin, wanita modern dikatakan sebagai wanita sejati, sementara wanita-wanita tersebut sangat bengis terhadap semua nilai kesejatian seperti memasak untuk keluarga, menenun, menjahit dan mengurus rumah. Dan tidak mungkin, wanita sejati yang selalu penuh dengan kesejatian DAPAT DIPERSAMAKAN dengan wanita modern, padahal inti yang menjadi kesejatian tersebut DICAMPAKKAN oleh wanita modern. Ini tidak adil, tentunya.

5. Wanita sejati malu pamer aurat, dan berkhalwat.

@Pamer aurat.

Wanita sejati adalah spesies manusia yang merasakan malu dan gusar luar biasa kalau auratnya ternampak kepada kaum pria. Wanita jenis ini selalu menutup tubuhnya dengan kain rapat-rapat, dan memastikan bahwa tidak akan ada pria yang berhasil melihatnya. Itulah wanita sejati. Intinya, wanita sejati merasa bahwa tubuhnya adalah suatu kesalahan yang fatal kalau saja terlihat oleh mata lelaki.

Berseberangan dengan hal itu, wanita pekerja, alias wanita karir memandang bahwa aurat bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan. Pamer aurat, lebih dari itu, mereka anggap sebagai bagian dari gaya hidup modern yang harus diusahakan setiap wanita modern, dan ini artinya wanita modern ingin seluruh laki-laki dapat melihat bagian-bagian auratnya dengan bebas.

Wanita modern berlomba-lomba di dalam hal pamer aurat ini: memperlihat tungkai kakinya yang putih dan panjang, memperlihatkan bokongnya yang kencang, adalah suatu piala yang seluruh orang harus melihatnya berulang-ulang. Kemudian kalau apa yang mereka ‘suguhkan’ itu benar-benar memperoleh perhatian luas dari publik (khususnya kaum pria) maka hal itu akan mereka anggap sebagai pencapaian yang amat dibanggakan. Intinya, seluruh bagian tubuh kaum wanita karir tidak lebih dari seonggok daging yang digeletakkan di meja pasar supaya dipandang-pandang oleh siapa saja.

Intinya, malu merupakan kata kunci di dalam hal ini. Bagi wanita sejati, rasa malu masih mencengkram kuat di dalam jiwa mereka: hal ini mengakibatkan wanita sejati tidak mempunyai keberanian untuk memperlihatkan aurat kepada orang lain, dan menganggap pamer aurat sebagai kekalahan iman dan moralitas yang menjijikkan. Sementara bagi wanita modern alias wanita pekerja, rasa malu itu mereka anggap sebagai ketinggalan jaman dan yang jelas, tidak logis, dan tidak lagi mendukung cita-cita emansipasi mereka terhadap kaum pria. Akibatnya, wanita karir bangga memperlihatkan dan memamerkan aurat mereka kepada seluruh manusia. Kalau wanita sejati menempatkan aurat mereka sebagai sesuatu mahal, kebalikannya bagi wanita karir aurat tidaklah harus demikian: siapa saja boleh memandanginya.

Penyebabnya? Kecendrungan wanita untuk memamerkan auratnya, atau kehilangan rasa malu akan auratnya saat ternampak oleh orang lain, disebabkan faktor meluasnya pendidikan dan hak bekerja, dan berkarir untuk kaum wanita. Pendidikan formal dan bekerja yang diperoleh wanita secara luas akan berparalel dengan kebebasannya untuk pamer aurat, sebagai kelanjutan dari terus terjadinya bertemu secara bebas antara pria dan wanita di kantor mau pun di ruang kelas setiap hari, hal mana hal itu telah mematikan dan membunuh rasa malu dari wanita-wanita tersebut.

Kalau difahami bahwa wanita sejati merupakan jenis manusia yang tidak akan memperlihatkan atau memamerkan auratnya, maka dengan demikian wanita karir yang selalu memamerkan auratnya, bukanlah wanita sejati: lebih mudah menyebut mereka ‘wanita jejadian’. Intinya, adalah fatal untuk terus menyebut mereka sebagai wanita sejati, sementara nilai yang mereka usung JAUH BERBEDA dari apa yang diusung wanita sejati.

@Berkhalwat.

Wanita tidaklah diciptakan untuk berkhalwat”: adagium ini dipegang teguh oleh wanita sejati, dan seterusnya menjadi pertanyaan bagi kaum wanita pekerja. Lebih dari itu, adagium itu didefinisikan oleh wanita sejati, maka jelaslah wanita modern menolak berkhalwat.

Berlainan dengan wanita sejati, wanita pekerja menjelaskan bahwa berkhalwat adalah gaya hidup yang pilihan, dan modern: terlibat dalam berkhalwat menjelaskan bahwa wanita modern telah meng-eliminir banyak pantangan yang semula diciptakan untuk mendeskreditkan kaum wanita – dan menghambat kemajuan wanita.

Berkhalwat, pada dasarnya adalah saat di mana wanita secara ‘serampangan’ diam dan berada di dalam ruangan (kerja atau kelas) yang sama dengan pria lain sementara wanita itu tidak dikawal oleh pria keluarganya. Berkhalwat bisa merupakan awal untuk menyatakan kesukaan dan birahi kepada seorang pria. Secara ‘serampangan’, artinya bahwa belum lagi kaum agamawan memberi restu, belum lagi orang tua-tua memberi restu, wanita ini telah menuruti kehendak birahi seorang pria ‘dengan inisiatifnya sendiri sebagai seorang wanita’. Ini sebenarnya mengacaukan nilai kesucian seorang wanita sejati yang seharusnya memang suci.

Di dalam pandangan wanita modern, berkhalwat bukan lagi ancaman, dan ajaran agama (Islam) yang melarang berkhalwat mereka anggap sebagai bentuk keterbelakangan. Wanita modern ingin sekali menandaskan bahwa “tidak ada yang perlu dikhawatirkan” kalau wanita berkhalwat dengan pria asing di tempat kerja mau pun kelas, dan kalau Islam mengkhawatirkan hal berkhalwat ini, maka itu merupakan urusan Islam, bukan urusan wanita modern!

Pada kenyatannya, dengan (banyaknya) kejadian berkhalwat ini (baik di ruang kerja, di kampus, di kelas, di dalam kabin mobil, apalagi kamar hotel) telah serta-merta menyeret wanita-wanita ini ke dalam perbuatan zina dan perselingkuhan. Islam memandang bahwa hukum alam tetaplah hukum alam: kalau wanita berdiam dengan seorang pria asing, pasti 4 per 5-nya berakhir dengan keputusan untuk berzina. Tampaknya wanita-wanita ini memutuskan bahwa berzinanya mereka (kalau pun terjadi) bukan urusan publik dan juga bukan urusan Islam: wanita-wanita ini adalah wanita mandiri yang modern, dan oleh karena itu berkhalwat dengan seluruh akibat nyatanya (yaitu berzina dan berselingkuh) tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran Islam.

Kebalikannya, wanita sejati memandang berkhalwat sebagai sumber kekhawatiran di dalam menjalankan agama Islam: wanita haruslah suci, dan kesucian seorang wanita adalah di atas segala-galanya sehingga tidak bisa dikompromikan dengan berkhalwat dengan pria asing sedetik pun! Berkhalwat membuat kacau garis batas antara kesucian dan berrumahtangga, dengan berzina. Praktis hal ini membuat wanita sejati menjauhi dan juga mengutuk khalwat. Demikianlah ajaran Islam yang diterima baik oleh seluruh wanita sejati. Dan cara implementasi atas anti-berkhalwat ini, menurut wanita sejati adalah, dengan tidak keluar dari rumahnya untuk tujuan baik menuntut ilmu mau pun bekerja mengejar karir dan jabatan demi setumpuk uang, karena uang dan kebutuhan finansial mereka telah dipenuhi oleh suami dan ayah mereka.

Dari titik ini sudah jelas, bahwa wanita modern berseberangan dengan wanita sejati di dalam hal berkhalwat: wanita sejati menjauhi khalwat dan mengimplementasi-kannya dengan cara menolak bekerja mencari nafkah yang mengharuskan mereka berdiang dengan pria-pria asing di tempat kerja, sementara wanita modern menganggap berkhalwat dengan akibat logisnya – yaitu berkhalwat dan kemudian berzina – bukan urusan Islam, bukan urusan publik, melainkan keputusan mandiri seluruh wanita modern ini.

Kalau wanita sejati berjuang untuk kesuciannya dengan menjauhi berkhalwat, maka wanita modern tidak lah demikian: wanita modern melihat bahwa berkhalwat adalah bagian dari kecanggihan mereka saat menuntut ilmu dan bekerja berkarir mengejar setumpuk uang. Penyebabnya adalah jelas, karena wanita modern menyeimbangkan faktor pendidikan dan bekerja berkarir demi setumpuk uang, dengan mematirasakan naluri kesucian mereka sebagai wanita milik Tuhan. Dan karena faktor pendidikan formal (serta kesempatan bekerja demi setumpuk uang sehingga membuat mereka menjadi terbiasa dengan berkhalwat ini), maka tentu saja mereka bukan lagi wanita sejati, dan sebut saja mereka dengan ‘wanita jejadian’, karena toh mereka sudah tidak lagi berminat dengan kesucian dan keagungan budi pekerti sebagai wanita milik Tuhan.

Itulah beberapa hal yang merupakan indikator wanita sejati, dan sayangnya, berdasarkan indikator-indikator tersebut, wanita sejati tersebut sudah tidak ada lagi, sudah punah. Keberadaan wanita sekarang sudah mapan dengan KETIDAKSEJATIAN mereka. Pendidikan, pekerjaan, jabatan, kesetaraan dengan pria, karir dan setumpuk uang merupakan indikator yang dimiliki wanita-wanita modern. Dan dikarenakan mereka bukan lagi wanita sejati, adalah tepat untuk menyamakan mereka dengan wanita jejadian.

Lebih dari itu, wanita-wanita modern ini sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk kembali menjadi wanita sejati dan mengusahakan untuk mencitrakan indikator-indikator tersebut secara bertahap.

Apakah pria sejati itu? Menurut kaum wanita, pria sejati adalah,

  1. Pemberani, karena itu adalah sifat laki-laki.
  2. Tulang punggung di dalam hal kebutuhan keluarga.
  3. Sayang kepada istri.
  4. Sayang kepada anak-anak.
  5. Tepat waktu dan cekatan.
  6. Dan lain lain.

Kaum wanita menuntut kaum pria untuk selalu menjadi pria sejati dengan memantapkan seluruh indikator kesejatian pria seperti di atas. Dan hal-hal tersebut sudah dimantapkan oleh seluruh kaum pria, yaitu menjadi pemberani, menjadi tulang punggung di dalam hal kebutuhan keluarga, sayang istri dan sayang anak, dlll. Namun ironis, di lain pihak, wanita sama sekali tidak mempunyai inisiatif untuk menjadi wanita sejati. Artinya, kalau pria dituntut untuk menjadi pria sejati, maka kaum wanita tidak perlu bersusah payah untuk menjadi wanita sejati. Wanita hanya ingin menjadi apa saja yang mereka inginkan, asalkan itu bukan menjadi wanita sejati. Dan untuk tujuan tersebut, kaum wanita tidak ingin kaum pria menghalang-halanginya.

Apakah kaum pria saja yang harus menjadi pria sejati, sementara kaum wanita tidak perlu dituntut untuk menjadi wanita sejati? Lebih lagi, kaum wanita menuntut kaum pria untuk menjadi pria sejati, padahal mereka sendiri tidak pernah menunjukkan bahwa mereka adalah wanita sejati, bahkan cenderung menjadi wanita pembual yang tidak dapat memberi nuansa kewanitaan yang sejati. Inikah pertanda kiamat sudah dekat?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s