Bolehkah Wanita Menjadi Pemimpin?

06-bolehkah-wanita-menjadi-pemimpin-1

Bolehkah Wanita Menjadi Pemimpin? (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah hadis pernah mengatakan, “Tidak akan berbahagia suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pemimpin mereka.”

Sebagian orang yang membela emansipasi wanita menolak hadis tersebut dengan alasan bertentangan dengan hadis yang berbunyi, “Ambillah sebagian agamamu dari Al-Khumaira (si Merah Muda, yakni Aisyah).”

Menanggapi hal ini, Syekh Yusuf Qardhawi dalam Fatwa Kontemporer-nya menegaskan, dalam membahas hal ini harus dibersihkan dari berbagai kepentingan-kepentingan politis. Kejahilan merupakan bencana besar. Dan akan menjadi bencana paling besar jika ia bercampur dengan hawa nafsu.

Firman Allah, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qashash: 50).

Karena itu, tidak mengherankan, mengingat banyaknya kejahilan yang bercampur dengan hawa nafsu—kalau hadis sahih ditolak, dan hadis mardud dianggap sahih.

Hadis pertama yang berbunyi “Tidak akan berbahagia suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pemimpin mereka” adalah hadis sahih dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, yang mengatakan, “Ketika sampai berita kepada Rasulullah SAW bahwa penduduk Persia telah mengangkat putri Kisra Persia untuk menjadi raja mereka”.  Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pemimpin mereka.” (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Para ulama di semua negara Islam telah menerima hadis ini dan menjadikannya dasar hukum bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin laki-laki dalam wilayah kepemimpinan umum.

Terambil http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/12/09/09/m9z1fu-bolehkah-wanita-menjadi-pemimpin-1

Bolehkah Wanita Menjadi Pemimpin? (2)

REPUBLIKA.CO.ID, Adapun hadis kedua yang berbunyi “Ambillah sebagian agamamu dari Al-Khumaira (si Merah Muda, yakni Aisyah)” oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dikomentari sebagai berikut:

“Saya tidak mengenal sanadnya. Dan saya tidak pernah melihatnya dalam kitab-kitab hadis melainkan dalam “An-Nihayah” karya ibnul Atsir. Namun, dalam kitab ini pun beliau tidak menyebutkan orang yang meriwayatkannya.”

Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir mengatakan, ketika Imam Al-Mazi dan Adz-Dzahabi ditanya tentang hadis ini, ternyata keduanya tidak mengenalnya. Itulah tinjauan kita dari segi sanad dan perawi hadits.

Adapun kalau kita melihatnya dari segi matan dan topiknya, niscaya akal kita akan mengingkarinya, dan kenyataan pun akan menolaknya. Penolakan tersebut disebabkan hal-hal berikut:

  1. Bagaimana mungkin Nabi SAW menyuruh kita mengambil sebagian (ajaran) agama ini dari Al-Khumaira (si Merah Muda), yakni Aisyah saja? Bagaimana dengan yang kita ambil dari para sahabat yang jumlahnya sekian banyak itu? Sebagian ajaran mana yang kita ambil dan sebagian ajaran mana yang kita tinggalkan?
  2. Sebutan “Al-Khumaira” yang merupakan bentuk isim tashghir (untuk mengecilkan atau melemahkan arti) dari kata hamra’ (merah) adalah sebutan khusus Nabi untuk istri tertentu (Aisyah) dalam hal memerintahkan suatu pekerjaan tertentu.

Dengan demikian, perintah yang disebutkan dalam hadis tersebut bukan bersifat umum. Dan kenyataan menunjukkan bahwa para ulama Islam tidak mengambil sebagian ajaran agama ini dari Aisyah, bahkan seperempat atau sepersepuluhnya saja tidak, baik dari segi riwayat maupun dari segi dirayah (pengetahuan).

Terambil dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/12/09/09/m9z41r-bolehkah-wanita-menjadi-pemimpin-2

Bolehkah Wanita Menjadi Pemimpin? (3-habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Dari segi riwayat kita melihat beribu-ribu sahabat, baik pria maupun wanita ikut andil dalam menyampaikan petunjuk yang dibawa Rasulullah SAW, baik yang berupa perkataan, perbuatan, hukum, maupun taqrir.

Aisyah RA termasuk salah seorang dari mereka yang memang banyak meriwayatkan hadis. Namun, bagaimana pun juga banyaknya ia meriwayatkan hadis, tidak sampai sebanyak yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Dari segi dirayah (pengetahuan), fikih, dan fatwa, pernyataan tersebut bertentangan dengan sejarah sehingga akal kita tidak dapat menerima jika disebutkan bahwa hanya Aisyah yang menjadi sumber acuan mengenai sebagian ajaran agama.

Kalau demikian pernyataannya, di manakah posisi sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan orang-orang segenerasi serta setingkat dengannya.

Kemudian orang-orang yang lebih muda dari mereka seperti empat orang Abdullah, yaitu, Abdullah Ibnu Abbas, Abdullah Ibnu Umar, Abdullah bin Amr, dan Abdullah bin Zubair? Begitu pula yang lain-lainnya?

Sesungguhnya hadis-hadis fadhail (tentang keutamaan sesuatu) harus diterima secara kritis dan hati-hati. Al-Hafizh (Ibnu Hajar) mengatakan jalan pertama yang ditempuh orang yang suka memalsukan hadis ialah mengutamakan individualisme. Mereka orang-orang yang biasanya berkarakter keras dan suka bermusuhan cenderung mengultuskan seorang tokoh (pemimpin). Dan Aisyah termasuk orang yang mempunyai pengikut seperti itu.

Alquran dalam Surah An-Nur dan hadis-hadis sahih serta hasan sudah cukup memuji keutamaan Aisyah. Namun, pujian itu tidak sampai berlebihan sehingga tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam mukadimah kitabnya “Al-Maudhuat”, Ibnul Jauzi berkata, “Alangkah bagusnya perkataan orang yang mengatakan jika semua hadis yang anda lihat bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, dan bertentangan dengan dalil-dalil naqli, maka ketahuilah bahwa hadis tersebut palsu’.”

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/12/09/09/m9z613-bolehkah-wanita-menjadi-pemimpin-3habis

ANNISANATION– Tepat sekali paparan di atas. Segala upaya kaum kafir untuk menghancurkan fitrah kaum wanita (yaitu domestik) harus dilawan dengan mengajukan argument yang lebih ilmiah. Semoga Allah menolong umatNya, Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s