Dalam Islam, Bolehkah Wanita Bekerja?

07-dalam-islam-bolehkah-wanita-bekerja

Bismillahirrahmanirrahim….

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….

Postingan ini terinspirasi dari salah satu dialog / curhatan dengan teman saya.

Tulisan ini saya persembahkan untuk dia dengan niat baik dan semoga setelah membaca tulisan ini dia bisa lebih ikhlas dalam bekerja.

Dan tentunya semoga postingan ini juga bermanfaat bagi kalian semua.

Teman saya merasa terpaksa untuk bekerja karena tidak ingin mengecewakan ayahnya sehingga menyebabkannya kurang ikhlas dalam bekerja. Dia berpendapat bahwa kewajiban untuk bekerja adalah untuk laki-laki bukan wanita, sebaik-baiknya wanita adalah yang bisa menjadi ummul mukmin bagi keluarganya, menjadi istri soleha, menjaga kehormatan suaminya jika suaminya tidak ada, menjadi seorang ibu yang penyayang bagi anaknya.

Ya memang, tidak ada yang salah dari pendapatnya itu.

Tapi pendapatnya itu kan bagi seorang wanita yang sudah menikah. Lalu bagaimana halnya dengan seorang wanita yang belum menikah???

Menurut saya, selama kita masih belum menikah ada  baiknya kita bekerja, alasannya:

Bekerja  bisa membantu dan mengurangi beban orang tua kita.Dengan memiliki penghasilan sendiri kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa harus meminta-minta pada orang tua kita dan justru malah lebih baik lagi karena kita bisa memberi sebagian gaji kepada orang tua kita, dan juga bisa bersedekah kepada orang lain dengan hasil keringat kita.

Nabi SAW pula telah menyebutkan bahwa :

“Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri” ( Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306).

Dengan bekerja kita menyenangkan hati orang tua, dan membalas sedikit jasanya, karena orang tua kita telah menyekolahkan kita setinggi mungkin. Pastilah orang tua kita ingin melihat hasil dari pendidikan anaknya.

Bukankah bekerja juga adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah SWT, dan juga menuruti perintah orang tua dan menyenangkan hati keduanya adalah salah satu bentuk ibadah juga.

Disebut juga dalam sebuah hadith dhoif:

“Siapa yang tidur dengan keletihan dari kerja tangannya sendiri, ia tidur dalam keadaan diampunkan oleh Allah SWT” ( Riwayat Ibn ‘Asakir & At-Tabrani ; Al-Haithami dalam Majma Az-Zawaid: Ramai perawinya tidak aku kenali )

Dalam Islam tidak ada larangan bagi laki-laki atau perempuan untuk bekerja, baik di dalam ataupun di luar rumah.

Dalam surat al-Nahl, ayat 97 disebutkan secara tegas bahwa untuk meciptakan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dipersyaratkan peran aktif setiap orang beriman, lelaki dan perempuan (secara eksplisit disebutkan lelaki dan perempuan), tentu dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang positif (amalan shalihan).

Di dalam surat al-Qashash,ayat-23-28, juga dikisahkan mengenai dua puteri Nabi Syu’aib as yang bekerja menggembala kambing di padang rumput, yang kemudian bertemu dengan Nabi Musa AS.

Surat al-Naml ayat 20-44, juga mengapresiasi kepemimpinan (karir politik) seorang perempuan yang bernama Balqis. Disamping ayat-ayat lain yang mengisyaratkan bahwa perempuan itu boleh bekerja menyusukan anak dan memintal benang.

Dalam praktek kehidupan zaman Nabi SAW, banyak riwayat menyebutkan, beberapa sahabat perempuan bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebutlah misalnya Isteri Rasulullah SAW Khadidjah ra. adalah seorang wanita pebisnis. Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal. Di sini kita bisa paham bahwa seorang isteri nabi sekalipun punya kesempatan untuk keluar rumah mengurus bisnisnya.

Demikian pula dengan ‘Aisyah ra. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah dalam berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang memapu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh.

Di dalam kitab hadits Shahih Muslim, disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.

Di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) juga secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah: apakah seorang isteri yang bekerja tanpa restu suami dianggap melanggar peraturan agama?

Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573).

Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : Perempuan Karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795).

Meskipun tidak ada larangan bagi wanita untuk bekerja, namun hendaknya jenis pekerjaan itu tidak diharamkan dan tidak mengarah pada perbuatan haram, seperti perjalanan sehari semalam tanpa ada mahram atau bekerja di tempat yang terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dengan wanita. Memang tidak ada dalil yang qath’i tentang haramnya wanita keluar rumah, namun para ulama tetap menempatkan beberapa syarat atas kebolehan wanita keluar rumah.

1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

Menutup aurat adalah syarat mutlak yang wajib dipenuhi sebelum seorang wanita keluar rumah. Firman Allah SWT :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”(QS Al-Ahzaab 27)

2. Tidak berkhalwat antara pria dan wanita.

Sabda Rasulullah Saw “tidak boleh berkhalwat (bersepi-sepian) antara laki-laki dengan wanita kecuali bersama wanita tadi ada mahram”.

Sebagaimana antara dalil yang menunjukkan keperluan untuk tidak bercampur dan berasak-asak dengan kumpulan lelaki sewaktu bekerja adalah firman Allah SWT:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dan tatkala ia ( Musa a.s) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang (lelaki) yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia mendapati di belakang lelaki-lelaki itu, ada dua orang wanita yang sedang memegang (ternaknya dengan terasing dari lelaki).

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?”. Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya” (Al-Qasas: 24).

3. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

Wanita dilarang memamerkan perhiasan dan kecantikannya, terutama di hadapan para laki-laki, seperti firman Allah SWT :

“Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama”(QS Al-Ahzaab 33).

4. Tidak Melunakkan, Memerdukan atau Mendesahkan Suara

Para wanita diharamkan bertingkah laku yang akan menimbulkan syahwat para laki-laki. Seperti mengeluarkan suara yang terkesan menggoda, atau memerdukannya atau bahkan mendesah-desahkan suaranya.

Larangannya tegas dan jelas di dalam Al-Quran;

Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS Al-Ahzaab 32).

5. Menjaga Pandangan

Wanita yang keluar rumah juga diwajibkan untuk menjaga pandangannya, Allah SWT dalam firman-Nya:

Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

6. Aman dari Fitnah

Kebolehan wanita keluar rumah akan batal dengan sendirinya manakala ada fitnah, atau keadaan yang tidak aman. Hal ini sudah merupakan ijma` ulama.

Syarat ini didapat dari hadits Nabi SAW tentang kabar beliau bahwa suatu ketika akan ada wanita yan berjalan dari Hirah ke Baitullah sendirian tidak takut apa pun kecuali takut kepada Allah SWT.

7. Pekerjaannya itu tidak mengorbankan kewajibannya di rumah

Yaitu kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugasnya yang asasi.

8. Mendapatkan Izin Dari Orang Tua atau Suaminya

Ini adalah yang paling sering luput dari perhatian para muslimah. Terkadang seolah-olah izin dari pihak orang tua maupun suami menjadi hal yang terlupakan. Izin dari suami harus dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian serta wujud dari tanggung-jawab seorang yang idealnya menjadi pelindung. Namun tidak harus juga diterapkan secara kaku yang mengesankan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita.

Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun para ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka meryuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya…” (At-Taubah: 71).

Sumber :

Dr. M. Quraish Shihab: Membumikan Al-Qur’an

Dr. Yusuf Qardhawi: Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah

Ahmad Sarwat, Lc

http://muslimahui.my-php.net/?p=14

** Terambil dari http://nunusangpemimpi.blogspot.com/2011/05/bolehkah-wanita-bekerja.html

-O0O-

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian paparan di atas yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas kekeliruan logika paparan di atas secara paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

::: Teman saya merasa terpaksa untuk bekerja karena tidak ingin mengecewakan ayahnya sehingga menyebabkannya kurang ikhlas dalam bekerja. Dia berpendapat bahwa kewajiban untuk bekerja adalah untuk laki-laki bukan wanita, sebaik-baiknya wanita adalah yang bisa menjadi ummul mukmin bagi keluarganya, menjadi istri soleha, menjaga kehormatan suaminya jika suaminya tidak ada, menjadi seorang ibu yang penyayang bagi anaknya.

Ya memang, tidak ada yang salah dari pendapatnya itu.

Annisanation – ini sudah benar, dan merupakan hakiki dari ajaran Islam.

Bekerja mencari nafkah merupakan kewajiban kaum lelaki, dan juga merupakan kodrat kaum lelaki yang tidak dapat digugat lagi, sementara kodrat wanita adalah menjadi ibu rumah tangga dan istri secara murni, artinya bahwa wanita itu harus selalu berada di rumah sebagai mahluk domestik. Dengan selalu berada di rumah maka seorang wanita akan selalu terjaga kehormatan dirinya, dan akan selalu berada di sisi anak-anaknya.

Wanita di dalam kisah ini mengatakan bahwa ia terpaksa bekerja karena tidak ingin mengecewakan ayahnya. Yang benar adalah, justru sang ayahlah yang salah, dan keinginan sang ayah ini tidak boleh ditaati. Islam mengajarkan bahwa tugas sang ayahlah untuk memenuhi seluruh kebutuhan sang anak perempuan (dan juga kebutuhan anak-anak laki) sehingga sang perempuan itu tidak perlu bekerja mencari nafkah.

::: Tapi pendapatnya itu kan bagi seorang wanita yang sudah menikah. Lalu bagaimana halnya dengan seorang wanita yang belum menikah???

Menurut saya, selama kita masih belum menikah ada baiknya kita bekerja, alasannya:

Annisanation – statement ini adalah sesat. Prinsip Islam soal larangan wanita bekerja adalah berlaku rata untuk wanita pada seluruh strata dan usia mau pun status, apakah ia masih gadis mau pun sudah berumahtangga. Dan lebih dari itu, tidak ada baiknya bagi wanita pada segala rentang masa untuk bekerjagaji, dikarenakan kodrat illahiah bagi wanita mana pun adalah domestik, bukan bekerjagaji.

::: Bekerja bisa membantu dan mengurangi beban orang tua kita. Dengan memiliki penghasilan sendiri kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa harus meminta-minta pada orang tua kita dan justru malah lebih baik lagi karena kita bisa memberi sebagian gaji kepada orang tua kita, dan juga bisa bersedekah kepada orang lain dengan hasil keringat kita.

Annisanation –  yang benar adalah, bahwa tidak ada istilah ‘membebani orang tua’ kalau konteksnya adalah membesarkan anak, apalagi anak perempuan. Kalau membesarkan anak merupakan beban, adalah lebih baik tidak usah mempunyai anak sejak semula. Orang tua (di dalam hal ini ayah) harus berjuang membesarkan anak, dan itu artinya orang tua tidak benar kalau menuntut anak perempuannya untuk bekerja mencari nafkah / uang.

Bagi si anak perempuan itu sendiri, bekerjagaji bukanlah solusi sah baginya supaya dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Ingat, kebutuhan hidup ‘TIDAK PERNAH ADA HABISNYA’. Dan kalau pun ia mempunyai kebutuhan, maka tugas sang ayahlah untuk memenuhinya.

Kemudian pun, kalau dikatakan bahwa dengan bekerja maka si anak perempuan ini dapat memberi sebagian gajinya kepada orang tua, juga salah. Adalah lebih baik bagi wanita mana pun untuk selalu berada di rumah. Dan itu berarti si wanita tidak bekerja sehingga dapat memberi gajinya kepada orang tua.

::: Nabi SAW pula telah menyebutkan bahwa :

“Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri” ( Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306).

Annisanation –  Alhadis di atas tidak serta-merta menjadi pembenaran untuk seorang wanita bekerjagaji. Alhadis di atas adalah terlalu umum, terlalu luas cakupannya. Pun, anggaplah Alhadis tersebut juga mengenai wanita, maka bukan berarti sang wanita harus dan boleh bekerjagaji. Kalau seorang wanita bekerja di dapur untuk menyediakan makan bagi suami dan anaknya, maka Alhadis tersebut sudah terpenuhi dengan baik.

::: Dengan bekerja kita menyenangkan hati orang tua, dan membalas sedikit jasanya, karena orang tua kita telah menyekolahkan kita setinggi mungkin. Pastilah orang tua kita ingin melihat hasil dari pendidikan anaknya.

Annisanation –  dengan bekerja kita menyenangkan hati orang tua kita …..”, adalah suatu statement yang butuh kupasan lebih mendalam lagi. Pertama, apakah benar kita menyenangkan orang tua dengan cara menyimpangi titah Allah? Anggap saja kita menyenangkan orang tua dengan cara membelikan mereka sebotol minuman alkohol – apakah hal itu sudah benar dan diridhai Allah? Tentu saja tidak, dan itu salah. Salah-benar harus lah menjadi hal yang paling penting, bukan kadar menyenangkan hati orang tua. Pun orang tua, apakah pantas menuntut anak untuk menyenangkan mereka dengan cara yang salah? Seharusnya setiap orang tua faham mana perbuatan yang diridhai Allah dan mana yang tidak.

::: Bukankah bekerja juga adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah SWT, dan juga menuruti perintah orang tua dan menyenangkan hati keduanya adalah salah satu bentuk ibadah juga.

Disebut juga dalam sebuah hadith dhoif:

“Siapa yang tidur dengan keletihan dari kerja tangannya sendiri, ia tidur dalam keadaan diampunkan oleh Allah SWT” ( Riwayat Ibn ‘Asakir & At-Tabrani ; Al-Haithami dalam Majma Az-Zawaid: Ramai perawinya tidak aku kenali )

Annisanation –  paragraf ini benar sekali. Namun bukan berarti maknanya adalah bahwa seorang wanita dibenarkan untuk bekerja. Bekerja sama-sekali tidak melulu berarti bekerjagaji. Bekerja di rumah, memasak, mencuci baju, membesarkan anak, juga adalah bekerja yang sangat dimuliakan Allah. Dan dengan bekerja itu, seorang wanita sudah beribadah kepada Allah Swt. Dengan kata lain, jika seorang wanita bekerja di rumahnya melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, maka Alhadis tersebut sudah terpenuhi dengan paripurna.

::: Dalam Islam tidak ada larangan bagi laki-laki atau perempuan untuk bekerja, baik di dalam ataupun di luar rumah.

Annisanation –  ingat, Islam dengan tegas melarang wanita untuk bekerjagaji. Lebih definitif lagi, Islam melarang wanita untuk bekerja mencari nafkah, dan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah mau pun untuk menuntut ilmu. Islam mengadopsi konsep pemingitan wanita, karena pemingitan wanita merupakan sunnah Muhammad Saw. Sebaliknya, keberadaan wanita terus-menerus di dalam rumahnya justru merupakan kodrat wanita secara keseluruhan, dan manfaat terbesar seorang wanita justru ada pada ranah domestik, dan demikian lah ajaran Islam seperti yang telah dipaparkan oleh Muhammad Saw.

::: Dalam surat al-Nahl, ayat 97 disebutkan secara tegas bahwa untuk meciptakan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dipersyaratkan peran aktif setiap orang beriman, lelaki dan perempuan (secara eksplisit disebutkan lelaki dan perempuan), tentu dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang positif (amalan shalihan).

Annisanation –  Surah Annahl 97, demikian ayatnya,

[16:97] Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Ayat Alquran di atas SAMA SEKALI tidak merekomendasikan wanita untuk bekerja, sama sekali tidak. Ayat di atas terlalu umum. Artinya, kalau wanita tetap domestik dan tidak keluar rumah untuk bekerjagaji, maka ayat tersebut telah terpenuhi dengan baik. Ingat, bahwa penekanan ayat Alquran di atas adalah amal saleh, sementara amal saleh bagi wanita adalah tetap domestik, yaitu tidak bekerjagaji apalagi keluar rumah untuk menyamakan posisinya dengan kaum laki-laki.

::: Di dalam surat al-Qashash,ayat-23-28, juga dikisahkan mengenai dua puteri Nabi Syu’aib as yang bekerja menggembala kambing di padang rumput, yang kemudian bertemu dengan Nabi Musa AS.

Annisanation –  kisah di dalam ayat Alquran di atas merefleksikan syariah pada masa Nabi Musa, sehingga tidak ada hubungannya dengan syariah Nabi Muhammad Saw.

::: Surat al-Naml ayat 20-44, juga mengapresiasi kepemimpinan (karir politik) seorang perempuan yang bernama Balqis. Disamping ayat-ayat lain yang mengisyaratkan bahwa perempuan itu boleh bekerja menyusukan anak dan memintal benang.

Annisanation –  Ratu Balqis pada saat menjabat sebagai Ratu alias kepala Pemerintah masih berstatus nonmuslim. Dan pada saat Ratu ini bergabung dengan Nabi Sulaiman, sang Ratu pun berhenti dari jabatannya sebagai kepala Pemerintah, karena telah menjadi istri dari sang Nabi. Praktis, hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa Alquran merekomendasikan wanita untuk bekerjagaji.

::: Dalam praktek kehidupan zaman Nabi SAW, banyak riwayat menyebutkan, beberapa sahabat perempuan bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebutlah misalnya Isteri Rasulullah SAW Khadidjah ra. adalah seorang wanita pebisnis. Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal. Di sini kita bisa paham bahwa seorang isteri nabi sekalipun punya kesempatan untuk keluar rumah mengurus bisnisnya.

Annisanation –  Siti Khadijah, sama dengan Ratu Balquis; pada masa jahiliyah, Siti Khadijah memang seorang wanita yang bekerjagaji atau bekerjabisnis, keluar rumah dan meninggalkan kodrat domestiknya. Namun setelah menjadi istri Nabi Muhammad Saw, seluruh pekerjaan itu ia tinggalkan dan akhirnya menjadi murni seorang istri rumahan.

::: Demikian pula dengan ‘Aisyah ra. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah dalam berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang mampu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

Annisanation –  peran Siti Aisyah di dalam peperangan, biar bagaimana pun bukanlah cetak-biru untuk ide wanita bekerjabisnis. Perang adalah perang, dan bekerjabisnis adalah bekerjabisnis, dua hal yang jauh berbeda. Harus ditekankan bahwa perang memiliki urgensinya sendiri yang tidak sebanding secuil pun dengan bekerjabisnis.

Anggaplah di dalam pertempuran wanita diijinkan untuk berpartisipasi – pada masa Nabi Muhammad Saw. Namun jumlah personnel wanita yang ikut perang tersebut tidak teramat signifikan. Adalah tidak mungkin, di mana ada 300 pasukan tempur misalnya, maka 100 atau 200 personnel di antaranya adalah wanita. Paling jumlahnya hanya satu, atau tiga, atau lima paling banyak. Sementara di dalam bekerjabisnis, dapat dipastikan seluruh wanita bekerjabisnis keluar rumah untuk menyamakan posisi mereka dengan para pria. Apakah itu adil? Kalau kita ingin menjadikan pastisipasi wanita di dalam perang sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis, maka mau tidak mau wanita yang boleh bekerjagaji hanya segelintir saja, sepuluh wanita itu sudah terlalu banyak untuk bekerja bisnis di dalam suatu kota. Itu pun kalau memang wanita diijinkan untuk keluar rumah bekerjagaji. Ini berarti partisipasi wanita di dalam peperangan bukan landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis di dalam Islam.

Maka kesimpulannya, pastisipasi wanita di dalam perang bukanlah landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis.

Hal berikutnya, Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. Ingatlah, bahwa apapun yang terjadi setelah wafatnya Muhammad Saw SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIJADIKAN landasan ajaran Islam. Ajaran Islam hanya berlandaskan pada semua peristiwa yang terjadi pada masa Muhammad Saw masih hidup. Oleh karena itu Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw tidak dapat dijadikan teori yang lain lagi bahwa wanita bekerjabisnis merupakan kesalehan.

::: Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh.

Annisanation –  informasinya kurang lengkap, apakah bekerjanya wanita ini diketahui oleh Muhammad Saw, yang artinya wanita ini bekerjanya pada masa Muhammad Saw masih hidup. Pun, kalau wanita ini bekerjanya bukan sebagai profesi yang mendatangkan gaji, tentu saja tidak masalah. Seorang istri yang keluar rumah menuju sawahnya sendiri tentulah di luar ajaran Islam tentang larangan wanita bekerja.

::: Di dalam kitab hadits Shahih Muslim, disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.

Annisanation –  informasinya adalah, bahwa wanita ini bekerja masih di dalam lingkup dimestiknya: ia bekerja bukan sebagai profesi yang mendatangkan gaji. Tentu hal ini bukan landasan teori bahwa Islam membenarkan wanita untuk bekerja.

::: Di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) juga secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah: apakah seorang isteri yang bekerja tanpa restu suami dianggap melanggar peraturan agama?

Annisanation –  Ingat, bahwa Alquran dengan tegas melarang wanita bekerja bisnis. Intinya, Islam melarang kaum wanita keluar rumah,

“…. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (33:33)

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (33:34).

Ini merupakan dasar dari ajaran Islam bahwa wanita tidak boleh bekerja, dan lebih tepat lagi, pada ayat 34, bahwa wanita harus selalu tinggal di dalam rumahnya. Inilah kodrat domestik bagi kaum wanita.

Tidak ada hubungan apapun dengan restu suami atau ayah kalau seorang wanita ingin bekerja. Seorang suami misalnya, harus lah faham bahwa wanita mana pun tidak boleh bekerjabisnis karena itu merupakan kodrat para lelaki, dan bahwa posisi wanita adalah domestik. Anggaplah sang suami memberi ijin kepada istrinya untuk keluar rumah bekerjabisnis, maka sang suamilah yang berdosa di mata Allah.

::: Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573).

Annisanation –  Ingat, tidak ada alasan untuk membenarkan seorang wanita keluar rumah untuk bekerjabisnis. Anggaplah ada seorang wanita bernama Layla. Ini gradasinya:

  1. Kalau Layla masih gadis atau masih berstatus anak, maka kewajiban sang ayahlah untuk menafkahinya. Posisi sang ayah pun adalah extended, yaitu bisa kepada pamannya, abangnya, mau pun kakeknya.
  2. Kemudian kalau Layla sudah berumahtangga atau bersuami, maka kewajiban sang suamilah untuk menafkahi wanita itu.
  3. Kemudian kalau Layla menjadi janda (artinya si wanita ini masih muda – dan anak-anak lelakinya pun masih kecil), maka kewajiban Al-Ummah lah untuk menikahkan kembali Layla yang menjadi wanita janda itu sehingga nafkahnya menjadi tanggungjawab suami barunya. Ingat, Islam memerintahkan janda mau pun duda untuk menikah lagi.
  4. Kalau kemudian Layla menjadi janda sementara ia tidak mungkin menikah lagi – karena sudah sepuh, maka tanggungjawab anaknya yang lelaki lah untuk menafkahi Layla yang adalah ibunya. Kalau masalahnya adalah bahwa Layla ini tidak mempunyai anak lelaki, maka pertanyaannya adalah mengapa bisa si Layla tidak mempunyai anak lelaki? Ingat, Islam mengajarkan untuk mempunyai banyak anak. Kalau seorang wanita mempunyai / melahirkan banyak anak pada masa mudanya, maka mustahil keseluruhan anaknya adalah perempuan. Pasti ada anaknya yang laki-laki sekian orang. Anak laki-laki inilah kelak yang akan menafkahi Layla ini, ibunya.
  5. Seterusnya, anggaplah seluruh anaknya yang laki-laki meninggal sehingga yang tinggal hanyalah anaknya yang perempuan, yang dengan demikian tidak ada yang dapat menafkahi Layla ini, maka itulah saatnya Al- Ummah untuk menyantuni Layla ini melalui BAITUL MAAL. Ingat, Islam mengajarkan bahwa Al- Ummah harus mempunyai Baitul Maal (atau Kas Negara) yang pemasukannya berasal dari aneka zakat dari umat.
  6. Lagipula, anak-anaknya yang perempuan pun juga merupakan penopang kehidupan Layla ini (walau pun kadar wajibnya tidak se-signifikan atas anak lelaki). Anak-anak perempuan itu kelak akan mempunyai suami yang adalah menantu dari wanita ini. Terhadap setiap suami, Layla adalah sang mertua; Islam mengajarkan bahwa kepada mertua pun juga harus ditunjukkan bakti dan santunan.

Dengan gradasi ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu celah pun bagi seorang wanita untuk bekerja.

Kembali ke paragraf yang menyatakan bahwa “suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain”. Halnya tidak lah demikian.

Kalau sakitnya sang suami adalah permanen, maka dapat dikategorikan bahwa sang suami sudah tidak lagi dapat memberi nafkah. Solusinya bukan si istri harus bekerja, melainkan adalah istri berhak untuk menuntut cerai – buat apa punya suami yang tidak bisa memberi nafkah? Adalah dibenarkan secara agama bagi istri untuk menuntut cerai dengan alasan dan penyebab ini.

Kemudian kalau suami adalah miskin, maka itu bukan alasan wanita bekerja. Kalau miskin, maka cukupkanlah apa yang ada. Tidak ada batasan miskin, maka dari itu kalau miskin dijadikan patokan wanita untuk boleh bekerja, maka semua orang kelak akan mengaku miskin.

::: Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : Perempuan Karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795).

Annisanation –  Ingat, fatwa di atas sama sekali tidak ada dalil Alhadisnya. Adalah absurd untuk menyatakan bahwa suami tidak boleh melarang istrinya yang wanita karir untuk terus bekerja. Kalaulah memang demikian, mengapa sejak awal Islam melarang wanita bekerja? Dan mengapa juga banyak sarjana Muslim dan juga para wanita membahas apakah wanita boleh bekerja kalau toh disebutkan bahwa suami tidak boleh melarang bekerja istrinya yang sejak semula adalah wanita karir?

Statement di atas seolah menunjukkan bahwa wanita karir (artinya wanita bekerja) tidak boleh dipersalahkan, sehingga suami pun tidak boleh melarangnya dengan alasan apapun. Lantas di mana posisi Islam yang memerintahkan bahwa wanita harus di rumah saja untuk menjaga harga suami dan kehormatan dirinya? Beribu-ribu makalah dan fatwa yang telah dikeluarkan oleh para pemikir, tiba-tiba di sini ada statement bahwa suami tidak boleh melarang istrinya yang wanita karir untuk bekerja dengan alasan apapun. Sungguh dangkal!

Sama saja dengan begini, Islam melarang khamer untuk alasan apapun. Tiba-tiba ada fatwa, bahwa kalau kita berkenalan dengan seseorang yang sejak awal sudah biasa menikmati khamer maka kita tidak boleh melarang orang itu terus menikmati khamer. Tidak kah itu aneh? Kalau kita tidak boleh melarang kenalan baru itu menikmati khamer maka mengapa Islam dan seluruh ulama melarang khamer sejak awal?

::: Meskipun tidak ada larangan bagi wanita untuk bekerja, namun hendaknya jenis pekerjaan itu tidak diharamkan dan tidak mengarah pada perbuatan haram, seperti perjalanan sehari semalam tanpa ada mahram atau bekerja di tempat yang terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dengan wanita. Memang tidak ada dalil yang qath’i tentang haramnya wanita keluar rumah, namun para ulama tetap menempatkan beberapa syarat atas kebolehan wanita keluar rumah.

Annisanation –  Ingatlah bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu jelaslah bahwa wanita memang diharamkan untuk bekerja. Anggaplah wanita boleh bekerja, namun ia harus bepergian dengan muhrimnya. Apakah itu mungkin? Apakah sang muhrim tidak mempunyai pekerjaan? Pun larangan bercampur baur antara pria dan wanita, apakah mungkin dapat dicarikan solusinya?

::: 1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

Menutup aurat adalah syarat mutlak yang wajib dipenuhi sebelum seorang wanita keluar rumah. Firman Allah SWT :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”(QS Al-Ahzaab 27)

Annisanation –  ayat tersebut tidak dapat dijadikan elemen pembenaran wanita bekerja. Ayat tersebut adalah ayat tentang kewanitaan, bukan ayat tentang bekerjanya wanita. Lebih tepat lagi, ayat tersebut adalah untuk penempatan wanita di dalam ranah domestik, dan tidak ada satu hal pun yang mengindikasikan bahwa ayat tersebut adalah untuk wanita bekerja di luar rumah.

::: 2. Tidak berkhalwat antara pria dan wanita.

Sabda Rasulullah Saw “tidak boleh berkhalwat (bersepi-sepian) antara laki-laki dengan wanita kecuali bersama wanita tadi ada mahram”

Sebagaimana antara dalil yang menunjukkan keperluan untuk tidak bercampur dan berasak-asak dengan kumpulan lelaki sewaktu bekerja adalah firman Allah SWT :

 “Dan tatkala ia ( Musa a.s) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang (lelaki) yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia mendapati di belakang lelaki-lelaki itu, ada dua orang wanita yang sedang memegang (ternaknya dengan terasing dari lelaki).

Musa berkata: “”Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?”” Kedua wanita itu menjawab: “”Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya” (Al-Qasas : 24 )

Annisanation –  Ini juga tidak mungkin untuk dipenuhi. Kalau wanita bekerja, pasti akan terjadi khalwat antara karyawan pria dan karyawan wanita. Itulah sebabnya wanita dilarang bekerja.

::: 3. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

Wanita dilarang memamerkan perhiasan dan kecantikannya, terutama di hadapan para laki-laki, seperti firman Allah SWT :

Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama`(QS Al-Ahzaab 33)

Annisanation –  Ini tidak bisa dipenuhi. Kalau seorang wanita harus bekerja maka pastilah ia harus berhias. Tidak mungkin seorang wanita bekerja dengan baju dapur dan rambut acak-acakan.

::: 4. Tidak Melunakkan, Memerdukan atau Mendesahkan Suara

Para wanita diharamkan bertingkah laku yang akan menimbulkan syahwat para laki-laki. Seperti mengeluarkan suara yang terkesan menggoda, atau memerdukannya atau bahkan mendesah-desahkan suaranya.

Larangannya tegas dan jelas di dalam Al-Quran;

Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS Al-Ahzaab 32).

5. Menjaga Pandangan

Wanita yang keluar rumah juga diwajibkan untuk menjaga pandangannya, Allah SWT dalam firman-Nya:

Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

6. Aman dari Fitnah

Kebolehan wanita keluar rumah akan batal dengan sendirinya manakala ada fitnah, atau keadaan yang tidak aman. Hal ini sudah merupakan ijma` ulama.

Syarat ini didapat dari hadits Nabi SAW tentang kabar beliau bahwa suatu ketika akan ada wanita yan berjalan dari Hirah ke Baitullah sendirian tidak takut apa pun kecuali takut kepada Allah SWT.

Annisanation –  Fakta menyebutkan bahwa fitnah sudah banyak menggerogoti para wanita yang bekerja. Hal ini tidak dapat dihindari sama sekali.

::: 7. Pekerjaannya itu tidak mengorbankan kewajibannya di rumah

Yaitu kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugasnya yang asasi.

Annisanation –  Ingatlah kalau seorang wanita bekerja pastilah dia akan mengorbankan kodratnya sebagai mahluk domestik yang pekerjaannya seluruhnya berada di rumah seperti mengasuh anak, mencuci, membersihkan rumah, memasak dst. Inilah awal mula diharamkannya wanita untuk bekerja.

::: 8. Mendapatkan Izin Dari Orang Tua atau Suaminya

Ini adalah yang paling sering luput dari perhatian para muslimah. Terkadang seolah-olah izin dari pihak orang tua maupun suami menjadi hal yang terlupakan. Izin dari suami harus dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian serta wujud dari tanggung-jawab seorang yang idealnya menjadi pelindung. Namun tidak harus juga diterapkan secara kaku yang mengesankan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita.

Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun para ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka meryuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya…” (At-Taubah: 71)

Annisanation –  Tidak mungkin ijin dari suami atau ayah merupakan hal pembenar untuk seorang wanita bekerja. Allah dan Alquran (Al- Islam) berada di atas fikiran para ayah dan suami, tentunya. Dan pun untuk sang ayah mau pun sang suami, harus faham bahwa mengijinkan istri atau anak perempuan nya bekerja merupakan dosa teramat besar di mata Allah.

Dari pembahasan ini maka jelaslah bahwa Islam memang melarang wanita bekerja. Lebih dari itu logika pun memang sejalur dan sejalan dengan Islam, hal itu semua karena Islam dan logika memang satu hal yang sama.

Seluruh umat harus mengusahakan terciptanya kehidupan Al- Ummah yang memasitkan kodrat domestik atas wanita tetap ditegakkan, karena hanya dengan demikian lah umat dapat menjadi umat pilihan Allah Swt. Amin.

Advertisements

9 thoughts on “Dalam Islam, Bolehkah Wanita Bekerja?

  1. Dia berpendapat bahwa kewajiban untuk bekerja adalah untuk laki-laki bukan wanita, sebaik-baiknya wanita adalah yang bisa menjadi ummul mukmin bagi keluarganya, menjadi istri soleha, menjaga kehormatan suaminya jika suaminya tidak ada, menjadi seorang ibu yang penyayang bagi anaknya. ==========MANA DALIL YANG MENYEBUTKAN INI

    Menurut saya, selama kita masih belum menikah ada baiknya kita bekerja, alasannya:
    Bekerja bisa membantu dan mengurangi beban orang tua kita.Dengan memiliki penghasilan sendiri kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa harus meminta-minta pada orang tua kita dan justru malah lebih baik lagi karena kita bisa memberi sebagian gaji kepada orang tua kita, dan juga bisa bersedekah kepada orang lain dengan hasil keringat kita.

    Nabi SAW pula telah menyebutkan bahwa :
    “Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri” ( Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306).

    HADITS INI BERARTI BERLAKU UNTUK SEMUA (LAKI-PEREMPUAN, MASIH LAJANG DAN SUDAH MENIKAH)

    DALAM ISLAM TIDAK ADA LARANGAN WANITA BEKERJA
    DOKTER KANDUNGAN, BIDAN DAN PARAMEDIS YANG MENANGANI AURAT PEREMPUAN HARUS PEREMPUAN JUGA, MAKA AKAN MEREMBET GURU/DOSENNYA SEBAIKNYA JUGA PEREMPUAN

    WANITA BEKERJA MASIH BANYAK POSITIFNYA
    SALAH SATU YANG PALING PENTING ADALAH JIKA SUAMI YANG MENJADI SUMBER NAFKAH KELUARGA LEBIH DULU MENINGGAL DUNIA DISAAT ANAK-ANAKNYA MASIH KECIL, NAH JIKA ISTRI TIDAK BEKERJA MAKA DIRINYA AKAN KESULITAN UNTUK MENCARI PEKERJAAN DENGAN STATUS TERSEBUT. APAKAH BISA WIRASWASTA…??? INI JUGA PERLU ADANYA JIWA BISNIS

    SEKARANG COBA DI SURVEY, ANAK-ANAK REMAJA YANG TERLIBAT PECANDU MIRAS, BALAP LIAR, GEN MOTOR DAN AKTIVITAS BEJAT LAINNYA ITU LEBIH BANYAK BERASAL DARI KELUARGA MANA..?? KELUARGA IBU BEKERJA ATAU IBU TIDAK BEKERJA…????
    YANG SUDAH SAYA AMATI DARI LINGKUNGAN SEKITAR SAYA TERNYATA LEBIH BANYAK DARI KELUARGA IBU TIDAK BEKERJA

    MODERATOR,
    Dia berpendapat bahwa kewajiban untuk bekerja adalah untuk laki-laki bukan wanita, sebaik-baiknya wanita adalah yang bisa menjadi ummul mukmin bagi keluarganya, menjadi istri soleha, menjaga kehormatan suaminya jika suaminya tidak ada, menjadi seorang ibu yang penyayang bagi anaknya. ==========MANA DALIL YANG MENYEBUTKAN INI
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Ingat, bahwa Alquran dengan tegas melarang wanita bekerja bisnis. Intinya, Islam melarang kaum wanita keluar rumah,
    .
    “…. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (33:33)
    .
    Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (33:34).
    .
    Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).
    .
    Ini merupakan dasar dari ajaran Islam bahwa wanita tidak boleh bekerja, dan lebih tepat lagi, pada ayat 34, bahwa wanita harus selalu tinggal di dalam rumahnya. Inilah kodrat domestik bagi kaum wanita.
    .
    PUN Terlihat, pada ayat annisa 34, disebutkan bahwa “laki2 telah memberikan nafkah untuk perempuan”. Ayat ini mengindikasikan bahwa nafkah perempuan sudah ditanggung para lelakinya, yang artinya perempuan tidak diperlukan / tidak diperbolehkan bekerja mencari uang, nafkah dan karir.
    ::::::::::::-o0o-:::::::::::::::
    .
    Menurut saya, selama kita masih belum menikah ada baiknya kita bekerja, alasannya:
    Bekerja bisa membantu dan mengurangi beban orang tua kita. Dengan memiliki penghasilan sendiri kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa harus meminta-minta pada orang tua dan justru malah lebih baik lagi karena kita bisa memberi sebagian gaji kepada orang tua kita, dan juga bisa bersedekah kepada orang lain dengan hasil keringat kita.
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Islam mengharamkan perempuan untuk bekerja, dan pengharaman ini berlaku untuk semua strata perempuan, apakah ia belum menikah, atau sudah menikah, janda, tua, muda, dsb.
    .
    Ketika belum menikah, maka jelaslah seluruh nafkahnya menjadi tanggungjawab ayahnya / orangtuanya. Dan sang ayah haruslah lebih giat di dalam mencari uang untuk menafkahi anak-anaknya khususnya anak perempuannya. Jangan pernah menganggap tanggungjawab ayah untuk menafkahi anak-anak perempuannya sebagai beban. Jangan menjadi orangtua kalau menafkahi anak-anak perempuan nya dianggap beban. Apa gunanya menjadi ayah kalau justru sang ayah berfikir bahwa sebaiknya anaknya yang perempuan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri?
    .
    Kalau untuk bersedekah, bukan berarti anak perempuan tersebut jadi dibolehkan bekerja. Alquran sudah jelas melarang seluruh perempuan untuk bekerja.
    ::::::::::::-o0o-:::::::::::::::
    .
    Nabi SAW pula telah menyebutkan bahwa :
    .
    “Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri” (Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306).
    .
    HADITS INI BERARTI BERLAKU UNTUK SEMUA (LAKI-PEREMPUAN, MASIH LAJANG DAN SUDAH MENIKAH)
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Sdr tampaknya sudah salah kaprah.
    .
    Alhadis tersebut memang benar, namun bukan berarti setiap perempuan jadi diperbolehkan untuk bekerja mencari gaji dan karir. Perempuan bekerja di rumah, bekerja di dapur untuk masak, mencuci baju, mengurus anak, SEBENARNYA JUGA SUDAH DAPAT DIKATAKAN BEKERJA. Jangan pernah mengartikan bekerja hanya sebagai bekerja untuk mencari uang dan karir. Mengurus anak dan rumah pun juga kerja.
    .
    Ada hal lain yang harus dicermati. Seluruh ayat Alquran maupun Alhadis mengajarkan bahwa tempat perempuan adalah di rumah, alias domestik, yang mana itu berarti bahwa seluruh perempuan dilarang untuk bekerja mencari uang dan nafkah.
    .
    Nah kalau Alhadis bukhari 1966 ini berarti bahwa perempuan boleh bekerja mencari uang dan nafkah, maka bukankah itu berarti ADA PERTENTANGAN di dalam sumber hukum Islam? Ingatlah bahwa tidak ada pertentangan di dalam hukum Islam, melainkan kebalikannya, yaitu bahwa seluruh ayat di dalam Alquran maupun Alhadis saling dukug mendukung, karena tidak pernah ada pertentangan.
    ::::::::::::-o0o-:::::::::::::::
    .
    DALAM ISLAM TIDAK ADA LARANGAN WANITA BEKERJA
    DOKTER KANDUNGAN, BIDAN DAN PARAMEDIS YANG MENANGANI AURAT PEREMPUAN HARUS PEREMPUAN JUGA, MAKA AKAN MEREMBET GURU/DOSENNYA SEBAIKNYA JUGA PEREMPUAN
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Sdr benar-benar keliru. Dalam Islam justru dijumpai banyak ayat Alquran maupun Alhadis yang melarang perempuan bekerja mencari uang maupun nafkah (karir, jabatan dsb). Kebalikannya, Islam mengajarkan bahwa tempat dan kodrat perempuan adalah di rumah alias domestik, yaitu berteguh di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, terlebih lagi untuk mendidik anak-anak.
    .
    Dokter kandungan (maupun profesi lainnya) perempuan tidak diajarkan dan tidak dibenarkan di dalam Islam. Dokter kandungan maupun dokter lainnya haruslah laki-laki, karena menjadi dokter merupakan profesi, oleh karena itu yang menjalani profesi tersebut lah haruslah laki-laki, dan perempuan terlarang untuk menjalani profesi.
    .
    Tidak masalah kalau dokter yang laki-laki memeriksa pasien perempuan dan membuka-buka atau melihat aurat dari pasien perempuan tersebut, dan Islam mensyariahkan bahwa ketika pasien perempuan diperiksa seorang dokter, maka pasien perempuan tersebut haruslah ditemani pria muhrimnya, sehingga tidak menimbulkan fitnah. Lagian, buat apa dokter laki-laki macam2 terhadap pasien perempuan?
    .
    Dan karena Islam tidak mengajarkan atau membenarkan adanya dokter perempuan (maupun profesi lainnya), maka tidak perlu ada dosen atau guru perempuan. Itulah sebabnya, perempuan tidak pernah dibutuhkan di dalam kehidupan publik, karena tempat dan kodrat perempuan adalah berteguh di rumahnya.
    ::::::::::::-o0o-:::::::::::::::
    .
    WANITA BEKERJA MASIH BANYAK POSITIFNYA
    .
    SALAH SATU YANG PALING PENTING ADALAH JIKA SUAMI YANG MENJADI SUMBER NAFKAH KELUARGA LEBIH DULU MENINGGAL DUNIA DISAAT ANAK-ANAKNYA MASIH KECIL, NAH JIKA ISTRI TIDAK BEKERJA MAKA DIRINYA AKAN KESULITAN UNTUK MENCARI PEKERJAAN DENGAN STATUS TERSEBUT. APAKAH BISA WIRASWASTA…??? INI JUGA PERLU ADANYA JIWA BISNIS
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Tidak ada untung dan manfaatnya kalau perempuan bekerja, ditinjau dari aspek mana pun.
    .
    Untuk pengandaian di atas, bagaimana kalau suami wafat sementara anak masih kecil? Bukankah sang istri tidak bekerja?
    .
    Kalau kita cermai hukum Islam, maka hal tersebut bukanlah masalah. Kalau suami wafat, maka sang istri harus menikah lagi untuk mendapatkan suami baru. Tugas dan tanggungjawab keluarga besarlah untuk menikahkan kembali sang istri yang kematian suaminya. Kalau sang istri sudah mempunyai suami baru, maka tidak perlu baginya untuk bekerja untuk menafkahi diri dan anak2nya. Untuk lebih rinci mengenai hal ini, silahkan visit artikel ini, https://annisanation.wordpress.com/2014/07/07/gradasi-larangan-wanita-bekerja/
    .
    Jadi, menjadi janda, karena ditinggal mati suami, bukanlah alasan bagi seorang perempuan untuk bekerja. Setiap janda –termasuk duda- haruslah menikah lagi. Dan untuk janda, menikah lagi akan memastikannya untuk tidak perlu bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menjamin, yaitu suami barunya.
    ::::::::::::-o0o-:::::::::::::::
    .
    SEKARANG COBA DI SURVEY, ANAK-ANAK REMAJA YANG TERLIBAT PECANDU MIRAS, BALAP LIAR, GEN MOTOR DAN AKTIVITAS BEJAT LAINNYA ITU LEBIH BANYAK BERASAL DARI KELUARGA MANA..?? KELUARGA IBU BEKERJA ATAU IBU TIDAK BEKERJA…????
    .
    YANG SUDAH SAYA AMATI DARI LINGKUNGAN SEKITAR SAYA TERNYATA LEBIH BANYAK DARI KELUARGA IBU TIDAK BEKERJA
    .
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Maaf, pengamatan sdr tidak dapat dijadikan argumentasi. Di lingkungan saya, justru anak-anak yang ibunya tidak bekerja, menjadi anak-anak yang baik dan sopan, sukses dalam pendidikan dan rumahtangganya.
    Wallahu a’lam bishawab.
    Harap dicermati dengan baik. Terima kasih.

    • Tidak ada untung dan manfaatnya kalau perempuan bekerja, ditinjau dari aspek mana pun. Omong kosong tidak ada positifnya. Setiap langkah ada positif -negatifnya. Ini harus diakui
      Menurut anda tidak ada positifnya karena anda orang tolol tidak bisa berpikir. Guru ngaji untuk murid perempuan dewasa juga harus perempuan…. Dasar goblok kamu….!!! Atau kamu kaum misionaris yang sengaja meruntuhkan umat islam dari dalam…???

      Wanita yang ditinggal mati suaminya harus menikah lagi….Aturan dari mana…??? Kapan dapat suaminya…??? Kalau wanita sudah usia 50 tahun bagaimana. ….???? Kebutuhan hidup harus ada detik ini juga….ngerti kamu….!!! siapa yang akan ngasih nafkah saat belum dapat suami baru…???? anaknya 1 perempuan…… Oh kan saudaranya, orang tuanya, negara… Ini semua menimbulkan orang jadi males… Kamu memang tolol

      Maaf, pengamatan sdr tidak dapat dijadikan argumentasi. Di lingkungan saya, justru anak-anak yang ibunya tidak bekerja, menjadi anak-anak yang baik dan sopan, sukses dalam pendidikan dan rumahtangganya.
      Wallahu a’lam bishawab.
      Harap dicermati dengan baik. Terima kasih.
      Kamu yang harus cermat, …… Lihat tuh berita di tv… (Haram nonton berita tv…???
      Kaus tawuran, balap liar, apakah anda bisa jamin semua itu berasal dari keluarga yang ibunya bekerja…?? Ayo jawab dan umumkan ke publik..!!!!!!!!!!

      Dasar kaum misionris kamu ya…???
      .
      MODERATOR,
      “Tidak ada untung dan manfaatnya kalau perempuan bekerja, ditinjau dari aspek mana pun”: Omong kosong tidak ada positifnya. Setiap langkah ada positif -negatifnya. Ini harus diakui
      .
      TANGGAPAN ANNISANATION :::
      Itu memang benar, bahwa tidak ada manfaat dan untungnya kalau perempuan bekerja. Kebalikannya, kalau perempuan bekerja hanya memberikan banyak kerugian dan mudharat. Tidak benar kalau dikatakan bahwa setiap langkah ada positif dan negatifnya. Banyak terdapat hal-hal di dalam kehidupan ini yang tidak mempunyai sisi positifnya.
      .
      Apakah sdr ingin menyatakan bahwa menjadi kafir, seperti menjadi Kristen atau Hindu itu, ada positif dan manfaatnya? Kalau bicara yang benar yaaa. Apakah sdr ingin menyatakan bahwa membunuh orang itu ada sisi manfaatnya? Apakah sdr ingin menyatakan bahwa berzina itu adalah sisi positifnya? Kalau bicara jangan asal!!!
      :::::::::::::::::: -o0o- ::::::::::::::::::
      .
      Menurut anda tidak ada positifnya karena anda orang tolol tidak bisa berpikir. Guru ngaji untuk murid perempuan dewasa juga harus perempuan…. Dasar goblok kamu….!!! Atau kamu kaum misionaris yang sengaja meruntuhkan umat islam dari dalam…???
      .
      TANGGAPAN ANNISANATION :::
      Sdr lah yang tolol karena sdr tidak bisa berfikir. Bagaimana mungkin setiap hal di dunia ini ada sisi positif dan negatifnya? Bagaimana kalau sdr berzina, apakah ada sisi positifnya kalau sdr berzina? Kalau bicara jangan asal!
      .
      Masalah guru ngaji untuk perempuan, bukan begitu penjelasannya.
      Setiap orang,baik laki-laki atau perempuan, SEJAK KECIL harus sudah pintar mengaji. Dan setiap anak sedari kecil harus sudah belajar mengaji. Secara utama, orangtua kandunglah yang harus mengajar anak-anaknya laki-laki maupun perempuan mengaji. Dan kalau orang-tua tidak bisa mengajarkan ngaji kepada anak-anaknya, maka dianjurkan untuk mencari ustadz ngaji, untuk mengajarkan anak-anak kecil tersebut mengaji. Jadi tidak masalah kalau ustad laki-laki mengajarkan anak-anak perempuan mengaji, karena anak-anak perempuan itu masih kecil. Jadi tidak ada dosa kalau ustadz yang laki-laki mengajarkan ngaji kepada murid2 perempuan, karena mereka semua masih kecil.
      .
      Perempuan yang sudah dewasa, dan kebetulan tidak bisa mengaji, maka bukankah kewajiban suaminya untuk mengajarinya pandai mengaji? Makanya, cari suami yang bisa mengaji, jangan terima pinangan laki-laki yang tidak bisa mengaji. Pun,setiap laki-laki harus bisa mengaji,karena kelak ia harus mengajar ngaji kepada istri dan anak-anaknya.
      .
      Alhasil, tidak perlu ada murid perempuan dewasa yang sedang belajar mengaji, karena seharusnya mereka sudah pandai mengaji sejak kecil.
      .
      Dari mana sdr bisa tahu bahwa saya adalah misionaris? Jelas sekali sdr yang tidak faham ajaran Islam di dalam hal perempuan ini. Bacalah seluruh ayat2 Alquran maupun Alhadis, pasti kandungannya bertutur ajaran supaya seluruh perempuan tidak bekerja.
      :::::::::::::::::: -o0o- ::::::::::::::::::
      .
      Wanita yang ditinggal mati suaminya harus menikah lagi….Aturan dari mana…??? Kapan dapat suaminya…??? Kalau wanita sudah usia 50 tahun bagaimana. ….???? Kebutuhan hidup harus ada detik ini juga….ngerti kamu….!!! siapa yang akan ngasih nafkah saat belum dapat suami baru…???? anaknya 1 perempuan…… Oh kan saudaranya, orang tuanya, negara… Ini semua menimbulkan orang jadi males… Kamu memang tolol
      .
      TANGGAPAN ANNISANATION :::
      Aturan dari mana? Ya aturan dari Nabi Muhammad Saw. Di dalam Islam tidak diajarkan ada janda maupun duda,semua orang harus menikah (lagi).
      .
      Kapan dapat suaminya? Jawab: Ya itu harus menjadi usaha keluarga induknya, untuk menikahkan kembali anggota perempuan nya yang ditinggal mati suaminya. Dan mustahil tidak ada laki-laki yang tidak mau menikahi janda yang ditinggal mati suaminya.
      .
      Kalau wanita sudah usia 50 tahun bagaimana. ….???? Jawab: ya tidak masalah. Apakah mustahil perempuan berumur 50tahun menikah lagi? Apakah jelek dan tidak pantas kalau perempuan 50tahunan menikah lagi? Jangankan 50tahun-an, yang 60tahunan saja ada kok yang temanten baru dengan sesama lansia. Apakah sdr tidak pernah nonton berita?
      .
      Banyak perempuan yang 50tahunan menikah lagi, dan itu wajar. Jadi tidak ada alasan bagi perempuan 50tahunan untuk tidak menikah lagi, shg ia mempunyai alasan untuk bekerja.
      .
      Lagipula, seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya pada usia 50tahunan, PASTI PADA SAAT tersebut anak-anaknya sudah besar shg bisa cari makan untuk ibunya itu. Jadi tidak ada alasan bagi ibunya untuk bekerja, karena nafkah dari anaknya sudah mencukupi.
      .
      Kalau anaknya satu perempuan? Jawab: nah itu siapa yang salah? Bukankah Nabi Muhammad Saw telah bersabda: PERBANYAKLAH ANAKMU. Jadi, kalau sepasang suami-istri selagi muda mempunyai banyak anak, pasti ada beberapa anaknya yang laki-laki. Nah anaknya yang laki-laki inilah yang akan menjadi tempat bergantung nafkah orang tua di hari tua-nya, khususnya kalau ditinggal mati sang suami. Faham?
      .
      Ini bukan masalah malas atau rajin. Ini adalah masalah syariah.
      :::::::::::::::::: -o0o- ::::::::::::::::::
      .
      Kamu yang harus cermat, …… Lihat tuh berita di tv… (Haram nonton berita tv…???
      Kaus tawuran, balap liar, apakah anda bisa jamin semua itu berasal dari keluarga yang ibunya bekerja…?? Ayo jawab dan umumkan ke publik..!!!!!!!!!!
      Dasar kaum misionris kamu ya…???
      .
      TANGGAPAN ANNISANATION :::
      Apakah sdr punya resensinya?
      .
      Sdr harus ingat, mengapa bisa terjadi tawuran, balap liar dsb? Itu semua terjadi karena anak-anak muda tersebut adalah pengangguran. Karena mereka menganggur, maka mereka menjadi kurang kerjaan, karena seluruh pekerjaan telah DISEROBOT perempuan.
      .
      Itulah mudharatnya kalau perempuan bekerja.
      Kalau tidak ada perempuan yang bekerja, maka semua pekerjaan dapat diambil dan diisi oleh laki-laki. Jadinya tidak ada laki-laki yang menganggur. Dan kalau tidak ada laki-laki yang menganggur, maka tidak akan ada tawuran atau balap lliar, karena mereka semua harus kuliah bener dan tidur bener di malam hari, karena besok mereka harus bangun pagi untuk bekerja.
      .
      Saya bukan misionaris. Sdr bisa tahu dari mana bahwa saya misionaris? Sdr yang bodoh dan bicara hanya menggunakan emosi.
      .
      Mudah2an sdr segera insaf, amin.

  2. Imam bukhori itu ulama besar yang haditznya SOHIH
    Kamu itu misionaris harus belajar banyak lagi ya biar bisa menjatuhkan Islam
    .
    MODERATOR,
    TANGGAPAN ANNISANATION :::
    Maksudnya apa nyh?
    .
    Sdr pernah buka dan baca-baca Alquran? Coba buka dan baca ayat al ahzab ayat 33, ayat itu jelas memerintahkan seluruh perempuan untuk tinggal di dalam rumah – supaya tidak bekerja mencari uang dan nafkah. Ini ayatnya,
    .
    [33:33] dan hendaklah kamu (seluruh kaum perempuan) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.

    • janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.
      Penggalan ayat ini berarti wanita masih dobolehkan ke luar rumah asalkan tidak berhias diri. Wanita dianjurkan berhias dihadapan suaminya. Di dalam rumah boleh berhias tetapi jika keluar rumah tidak dibolehkan. Ayat yang anda sebutkan itu menekankan bahwa sebaik-baiknya tempat bagi wanti adalah di rumah tetapi bukan berarti tidak boleh keluar rumah. Anda cari ayat lain yang membolehkan wanita ke luar rumah. Misalnya mengajar ngaji di masjid yang muridnya ibu-ibu lalu mendapat honor dari DKM. Uztad yang ceramah juga ada yang di honor kok. ini Maksud saya. Anda itu terlalu ngotot juga. Mungkin anda melihatnya wanita bekerja yang pakai rok mini, baju ketat dandanan menor, keluyuran dengan sesama pria bukan muhrim. Kalau ini memeng tidak dibolehkan

      MODERATOR,
      Semua komentar SDR sebenarnya sudah ada penjelasannya di artikel INI juga. Silahkan dibaca lagi DG lebih cermat. Semoga SDR tercerahkan.

      Terima kasih.

  3. kalau kita tinggal di negara yang menjunjung tinggi agama Islam mungkin prinsip ini bisa diterapkan, haram wanita bekerja, namun di Indonesia ini tengoklah saja, tidak ada kepedulian sosial, tidak ada janda yang disantuni negara.
    Maaf sekarang ini juga banyak suami tidak bertanggung jawab meninggalkan anak dan istrinya (cerai dan tidak pernah menafkahi sama sekali) sedangkan si ibu harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Negara Indonesia tidak menyediakan baitul mal sprti yang saudara kemukakan. Minta disantuni saudara kandungnya, tidak ada yang peduli, minta bantuan ayahnya (ayahnya sudah meninggal), mau menikah lagi (sulit menemukan lelaki bertanggung jawab, jangan2 malah nanti cerai lagi). Alhasil apakah dia (si ibu) ini akan diam saja di dalam rumah membiarkan anak-anaknya yang masih kecil kelaparan. Sedangkan kebutuhan dasar harus terpenuhi, belum kebutuhan sekolah, kebutuhan perkembangan anak, dll.
    Sudah tidak ada yang peduli kepada wanita ini.

    Lebih haram mana? diam saja di dalam rumah menanti pinangan lelaki muslim padahal anaknya kelaparan, atau berusaha mencari penghidupan demi kelangsungan anak-anaknya

    Annisanation,
    Terima kasih atas peran-serta Sdri di dalam diskusi ini.
    Ijinkan saya mengajukan beberapa hal untuk menjelaskan permasalahan ini.
    .
    Pertama.
    “Perempuan-dilarang-bekerja” merupakan ajaran Islam, merupakan hukum Islam; kehendak Tuhan. Jadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua kesalahan, semua kendala, semua rintangan yang timbul sehingga tidak dapat mengaplikasikan hukum Islam, justru dikarenakan umat melanggar hukum Islam itu sendiri. Kalau sejak awal seluruh umat Muslim mengamalkan hukum Islam, maka dipastikan bahwa seluruh kendala tidak pernah timbul pula.
    .
    Jadi di dalam hal ini, kalau sejak awal seluruh umat menunaikan pelarangan perempuan bekerja, maka masalah seperti suami yang tidak bekerja, suami yang tidak bertanggungjawab, ditinggal mati suami sementara anak masih kecil, dsb, tidak akan pernah menjadi masalah, karena umat sudah mempunyai solusinya yang syarii pula.
    .
    Kedua.
    Sebenarnya sama saja, yaitu:
    A — kalau perempuan tidak boleh bekerja, masalah akan timbul, yaitu suami yang tidak bertanggungjawab, atau suami wafat, atau menikah lagi namun ternyata kembali mendapat suami yang tidak bertanggungjawab. Dan banyak masalah lainnya.
    .
    B — kalau perempuan boleh bekerja, maka masalahnya adalah, pertama dilarang di dalam Islam. Kedua, akan banyak terjadi selingkuh. Ketiga, anak-anak jadi terlantar. Keempat, menimbulkan pengangguran di kalangan laki-laki. Dsb.
    .
    Sekarang kita pilih mana? A atau B?
    Tentunya kita pilih yang merupakan ajaran Islam, yaitu bahwa perempuan tidak boleh bekerja, alias perempuan harus di rumah saja –kendati pilihan ini akan menimbulkan masalah seperti suami yang tidak bertanggungjawab, suami yang hilang di dalam tugas, dsb. Dan ingatlah, ajaran Islam itu mencakup seluruh kebutuhan iman dan jiwa manusia. Perempuan di rumah itu (yaitu perempuan yang tidak bekerja) sudah sesuai fitrah, sesuai kodrat, dan sesuai hukum alam. Dan suami mana, laki-laki mana, yang tidak senang dan tidak tenang kalau istri mereka tetap di rumah merawat anak-anak?
    .
    Dan anak-anak mana yang tidak bahagia kalau ibu mereka senantiasa ada di rumah bersama anak-anak melewatkan hari-hari bahagia? Apakah ada anak-anak yang senang kalau ibu mereka tidak pernah berada di rumah, kalau ibu mereka selalu bekerja sehingga tidak pernah punya waktu untuk anak-anak?
    .
    Sementara itu, bencana yang ditimbulkan dari perempuan bekerja, jauh lebih dahsyat, seperti perzinahan, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, marak perceraian, khalwat, pornografi, pamer aurat, dsb. Hal tersebut jauh lebih dahsyat ketimbang melihat kasus ada istri yang bersuami laki-laki yang tidak bertanggungjawab, atau suami yang gemar berbuat kdrt, atau seorang istri yang ditinggal mati suami, dsb.
    .
    Biarlah seorang istri berkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, namun bukankah istri dan anak-anaknya tetap di dalam keadaan suci? Apakah kita lebih pilih istri dibiarkan bekerja namun ternyata di luar istri menjadi mainan para lelaki di tempat kerja?
    .
    Ketiga.
    Istri yang mempunyai suami yang tidak bertanggungjawab, tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perempuan bekerja. Ingatlah, hanya sedikit kasusnya di mana seorang istri hidup menderita karena suami yang tidak bertanggungjawab. Justru kebalikannya, tinggi sekali angka di mana para istri bekerja, sementara suaminya adalah kayaraya, ayah mereka kayaraya, bahkan para istri tersebut pun juga kaya, karena berasal dari keluarga yang kayaraya. Lantas buat apa masih pilih menjadi perempuan-bekerja juga? Bukankah ini namanya curang? Bukankah ini namanya hanya mecari-cari alasan?
    .
    Keempat.
    Tidak tahukah kita berapa angka perzinahan di tengah masyarakat kita, khususnya di kalangan remaja? Tahukah kita bahwa tindak zina sudah menjadi lumrah dan sudah menjadi gaya hidup pada jaman sekarang ini? Apakah hal tersebut sama sekali tidak menjadi keprihatinan kita semua?
    .
    Di kantor-kantor sudah terbiasa fenomena perselingkuhan, di mana karyawan / pegawai yang perempuan, yang sudah bersuami atau belum, mempunyai hubungan atau affair alias selingkuh dengan rekan pria mereka. Hal tersebut sekarang sudah menjadi rahasia umum, dan orang lain tidak boleh ikut campur, itu kata mereka.
    .
    Apakah penyebab dari maraknya perzinahan tersebut? Hanya satu, yaitu perempuan bekerja. Dengan kata lain, kalau umat suatu negeri tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, maka dapat dipastikan bahwa perzinahan dan seluruh turunannya tidak akan menggejala di tengah mereka. Blogsite annisannation ini mempunyai artikel yang membahas hubungan antara maraknya perzinahan dengan perempuan bekerja.
    .
    Nah sekarang apakah Anda / Sdri sama sekali tidak merasa prihatin? Apakah Sdri ingin agar keluarga Anda terlibat di dalam perbuatan yang keji dan menjijikkan tersebut? Anak Anda, orang-tua Anda, kakak dan adik Anda, semua terlibat tindak zina, apakah Anda ridha dan bangga? Dan Anda tidak memikirkan dosanya? Nerakanya?
    .
    Namun coba Anda bandingkan kalau perempuan tidak bekerja. Pasti marak zina (dan seluruh turunannya) tidak pernah menggejala. Memang baiklah akan ada kasus di mana seorang istri terkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, atau suaminya gemar kdrt, namun apakah itu sebanding dengan bencana marak zina (dan seluruh turunannya itu) kalau perempuan diijinkan bekerja?
    .
    Anda tentunya ingat, bahwa kita ini hidup di dunia. Ini dunia, mbak. Ini dunia, sister. Ini bukan Surga. Bencana pasti terjadi, malapetaka pasti terjadi. Dan Islam pun tidak pernah diturunkan untuk menghadirkan Surga di muka bumi, tidak. Sesempurna apapun Islam (mau pun agama lainnya) diamalkan, toh tetap akan ada bencana di atas muka bumi.
    .
    Artinya apa? Artinya adalah, pertama, kita harus patuhi seluruh perintah dan kehendak Allah Swt. Kedua, sesempurna apapun Islam diamalkan, tetap akan ada malapetaka dan kesia-siaan. Ketiga, namun kita juga harus ingat, bahwa di dalam pengamalan seluruh kehendak Allah Swt, terdapat rahmat, ridha dan ampunan Allah Swt. Keempat, seluruh malapetaka dengan pengamalan penuh ajaran Islam, dapat diminimalisir. Tidak ada yang sempurna, namun malapetaka dapat diminimalisir. Itu intinya.
    .
    Kelima.
    Masalah baitul maal. Pada prinsipnya, faham pelarangan perempuan-bekerja haruslah berparalel dengan lembaga baitulmaal. Kelalaian umat dewasa ini adalah tidak menghidupkan lembaga baitulmaal ini. Kalau umat memberlakukan pelarangan perempuan-bekerja, maka pada saat yang bersamaan umat pun juga harus menyelenggarakan baitulmaal ini. Baitulmaal tentu bukan untuk menyantuni para istri yang malang saja, namun juga untuk menyantuni anak yatim piatu, gelandangan, manusia dengan kebutuhan khusus, dsb.
    .
    Tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk tidak menyelenggarakan baitulmaal ini. Oleh karena itu, penyelenggaraan baitulmaal hukumnya adalah wajib, sewajib pelarangan perempuan bekerja.

    terima kasih.

    ::: untuk lebih jelasnya, silahkan kunjungi artikel berikut,
    https://annisanation.wordpress.com/2016/02/10/menimbang-antara-emansipasi-perempuan-dan-domestikalisasi-wanita/

  4. Khusus untuk Yth Sdri Iocita
    Sebaiknya sdri tidak usah membantah artikel ini. Penulis artikel ini sudah berkeyakinan bahwa wanita tidak boleh bekerja dalam Islam apapun yang terjadi pada diri wanita tersebut baik sekarang, esok atau jangka panjang ke depan. Si Penulis artikel ini sudah mentok dan tidak ada kata beralasan apapun, berkeyakinan bahwa wanita yang ditinggal suami (meninggal, ceria atau lainnya) harus menikah lagi, ya harus bisa memaksa pria lain agar mau menikahi, entah bagaimana caranya (dengan bujuk rayu atau kekerasan) Jika masih sulit atau malah tidak menikah lagi karena tidak ada pria yang mau menikahi, maka biaya hidup harus ditanggung pihak lain (ayah, saudara laki/kalau punya, atau tetangga laki, hasil kotak amal masjid, negara) sampai seumur hidupnya. Soal si wanita itu jadi malas karena terbiasa ditanggung biaya hidupnya oleh pihak lain itu urusan lain, yang penting sesuai dalil dan nyaman. Anda beberkan sejuta alasan disertai dalilpun tidak pernah diakui dan pasti akan bantah dengan sejuta alasan lainnya. Yakini saja apa yang menurut anda masih benar dan baik. Seperti saya bahwa istri saya juga bekerja sebagai guru honor di sebuah SMP, toh selama 15 tahunan sejak menikah Alhamdulillah tidak ada perselingkuhan, anak-anak juga tumbuh jadi anak yang baik, 3 hari sekali sore hari ngaji di masjid dekat rumah. Kalau ini dianggap terlarang oleh si penulis yang silakan saja. Soal nantinya dosa hanya Alloh SWT yang mengetahui, bukan manusia. Satu hal saja jangan sampai kejebak SYIRIK.
    Sama halnya si penulis meyakini apa yang ditulisnya benar dan baik.

    MODERATOR,
    15 TAHJUN dan tidak ada perselingkuhan????? wah hebat ???

    lantas bgm dg pasangan lain yg istrinya bekerja??? apakah mrk tidak selingkuh???? apakah semua perempuan yg bekerja tidak ada yg berselingkuh???
    lantasa perselingkuhan itu datangnya dari mana???

    silahkan didebat lagi …

    • Sy tdk ingin mendebat anda bung, tp sy mw membenarkan perkataan anda bahwa masa iddah & berkabung adalah 40 hari, setelah itu wanita wajib menikah lagi, entah itu dgn pilihan sendiri atau dg d jodohkan

  5. lantas bgm dg pasangan lain yg istrinya bekerja??? apakah mrk tidak selingkuh????
    apakah semua perempuan yg bekerja tidak ada yg berselingkuh???
    lantas perselingkuhan itu datangnya dari mana???
    ::: Saya nggak tahu, nggak punya datanya. Sebaiknya ditanyakan langsung saja pada mereka yang suami istri sama-sama bekerja.
    -oOo-

    15 TAHJUN dan tidak ada perselingkuhan????? wah hebat ???
    ::: Saya bukan orang hebat, Maaf ini hanya info saja kenyataan pada diri keluarga saya memang seperti itu, Kalau ada orang lain siapapun orangnya nggak percaya dengan keadaan saya ini ya nggak apa-apa. Saya juga nggak tahu keadaan keluarga lain.

    MODERATOR,
    Kalau sdr tdk tahu apa2 lantas sdr berani angkat bicara menghujat artikel ini?

    Harap sdr fahami df baik, bhw wanita bekerja, termasuk wanita yg pergi kuliah, memberikan kontribusi sebanyak 95% atas terjadinya kasus zina, selingkuh dan kumpulkebo, plus perceraian rumahtangga.

    Artinya, kalo tdk ada wanita bekerja mencari karir, uang dan jabatan, maka dipastikan tdk akan pernah terjadi perselingkuhan, zina dan kumpulkebo, plus pornografi.

    Skg apakah sdr tdk mempunyai sedikit keprihatinan atas bencana sosial tsb?

    Solusinya hanya satu, yaitu melarang wanita bekerja.

    di lan pihak pun kita mengetahui, bhw kalo perempuan tidak bekerja pun juga tidak akan mengganggu hidup. jadi buat apa juga membolehkan perempuan bekerja, kalo tanpa bekerja pun seluruh keluarga dapat hidup dg baik, sementara perempuan bekerja itu menjadi kontributor terbesar atas terjadinya kasus selingkuh, zina, kumpulkebo dsb.

    untuk sdr sendiri, apakah kalo istri sdr tidak bekerja, maka apakah keluarga sdr akan bangkrut dan jatuh miskin? tidak, kan? lagi satu hal yang harus sdr perhatikan. kalo istri sdr bekerja, maka siapa yg mengasuh dan membesarkan anak2 di rumah? siapa yg menuyelesaikan pekerjaan rumahtangga, spt memasak, mencuci baju, merapikan rumah, dsb??? apakah tugas dan pekerjaan2 tsb bukan kodrat istri sdr sbg perempuan???

    Terima kasih.

  6. stop berdebat, kalo mw penjabaran ttg alqur’an & hadits harus paham ilmu nahwu & shorof, mmg benar dlm kitab fathul bari dituliskan makan dr hasil tangan sendiri tp syarahnya itu utk laki2 bukan wanita lho ya ! Klo mw detail lg pakai penjabaran ilmu lughot & ma’ani. Semua ttg hadits haruslah di jabarkan dg ilmu klo yg dasar pakai nahwu shorof, utk tk lebih lanjut pakai ilmu lughot, bayan & ma’ani. Saran sy belajar dulu ilmu2 tsb supaya tdk salah menafsirkan al-qur’an & hadits

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s