Domestikalisasi Wanita Dan Kejinya Pacaran

08-Domestikalisasi Wanita Dan Kejinya Pacaran

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum.

Ustadz, saya ingin bertanya; lebih utama istri yang bekerja di rumah (IRT) atau istri yang bekerja?

Saya sudah bekerja sebagai PNS golongan 2C. Saya ingin cepat menikah, daripada tidak kuat menahan nafsu. Tapi, pacar saya ternyata juga keterima PNS sebagai perawat (yang kerjanya [dengan sistem, red.] shift). Kalau saya menikah dengan dia, saya khawatir kami jarang bertemu. Saya juga tidak suka istri saya (nantinya, red.) harus dinas malam. Kalau saya memutusnya, saya tidak tahu apa yang terjdi dengan dia. Bagaimana pendapat dan solusinya, Ustadz?

Wassalamu ‘alaikum, NN (**@***.co.id)

Jawaban:

Wassalamu ‘alaikum.

Seharusnya, Anda tidak berpacaran karena perbuatan tersebut diharamkan. Oleh karena itu, hendaknya, Anda bertobat dan banyak-banyak beristigfar.

Idealnya, Anda memilih istri yang benar-benar bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh anak keturunan Anda. Semoga Allah segera mempertemukan Anda dengan jodoh yang salehah.

Wassalamu ‘alaikum.

http://www.konsultasisyariah.com/ibu-rumah-tangga-atau-wanita-karier/

-o0o-

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian paparan di atas yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas logika paparan di atas secara paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

Paparan di atas mempunyai dua point yang harus dibahas secara serius, yaitu mengenai pacaran dan wanita yang bekerja mencari nafkah. Namun di sini pembahasan akan difokuskan pada hal pacaran.

Situs tanya jawab syariah ini sudah benar dengan fatwanya, bahwa berpacaran merupakan sesuatu yang amat diharamkan di dalam Islam. Islam sendiri tidak mempunyai risalah / tuntunan mengenai pacaran, yang mana itu berarti Islam sangat mengharamkan pacaran. Selain haram, pacaran pun juga merupakan ‘pintu gerbang terluas’ untuk terjadinya tindak perzinahan. Kalau bukan zina di dalam arti sesungguhnya, maka pastilah zina pandangan, zina sentuhan, dlsb.

Sungguh pacaran-lah yang dimaksud di dalam Alquran ketika membahas jalan yang mendekati zina – sementara zina itu sendiri dilarang oleh Allah Swt.

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Qur’an Surat Al Isra 32).

Di dalam suatu Alhadis Nabi Muhammad Saw bersabda, yang kira-kira berbunyi sebagai berikut,

Telah tertulis nasib zina umatku, tidak bisa tidak. Zina mata adalah memandangnya, zina hati adalah mengharapkannya, zina kaki adalah mendatanginya, zina tangan adalah menyentuhnya. Baik diingkari mau pun diakui oleh hatinya. – (maaf, saya mohon dikoreksi bunyi lengkap dari Alhadis ini, terima kasih).

Melalui Alhadis ini tentulah amat mengerikan perihal berpacaran ini. Kalau sepasang anak manusia sedang berpacaran, pastilah akan berkhalwat. Dan dosa berkhalwat itu sendiri sudah menyerupai dosa berzina, karena harus diakui berkhalwat merupakan pintu dan langkah pertama untuk berzina.

Tidak ada pacaran yang syariah, atau pacaran yang Islami: pacaran merupakan maksiat dan kekejian yang menuai dosa besar. Walau pun pelaku pacaran adalah manusia-manusia Muslim mau pun Muslimimah, yang berjilbab, berkopiah, sama-sama anak pesantren, sama-sama anak pak haji dan lain lain, pacarannya di dalam Masjid, tetap saja tindak pacaran merupakan dosa keji.

Islam adalah agama yang mempunyai ajaran yang mulia untuk menciptakan kondisi umat yang agung dan kudus penuh ridha Illahi. Namun sungguh pun demikian Islam tidak mengandalkan ajarannya pada khotbah dan retorika semata untuk mencapai kondisi ideal tersebut. Untuk itu Islam mempunyai tindakan tegas dan sistemik untuk memastikan bahwa seluruh ajaran Islam terimplementasi secara paripurna.

Ajaran Islam yang mengandalkan tindakan tegas dan sistemik itu terletak pada ajaran bahwa wanita tidak diperkenankan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah dan juga untuk menuntut ilmu. Tempat hidup wanita adalah domestik yaitu tetap tinggal di dalam rumahnya karena tugas wanita memang ada di dalam rumahnya, yaitu membersihkan rumah, memasak, merapikan pakaian, mengasuh anak-anak dan lain lain (yang lebih dikenal dengan 4-ur yaitu dapur, jemur, sumur, dan kasur).

Aplikasinya adalah, bahwa wanita tidak diperkenankan keluar rumah untuk menuntut ilmu mau pun bekerja mencari nafkah, sementara pacaran itu sendiri datangnya dari latar belakang realitas wanita yang bebas keluar rumah baik untuk menuntut ilmu mau pun bekerja mencari uang. Kalau suatu masyarakat mengamalkan ajaran Islam di mana kaum wanita berpantang keluar rumah, pacaran tidak akan pernah menggejala di tengah masyarakat tersebut.

Dengan kata lain, pacaran hanya akan menggejala pada sebuah masyarakat kalau masyarakat tersebut mengijinkan (bahkan melembagakan) kaum wanita keluar rumah untuk bekerja mencari uang mau pun menuntut ilmu. Kebalikannya, kalau suatu masyarakat mentidakbolehkan wanita keluar rumah, pastilah fenomena pacaran tidak akan menggejala di dalam masyarakat tersebut.

Ketika suatu masyarakat menjamin kebebasan kaum wanita keluar rumah untuk menuntut ilmu mau pun bekerja mencari uang, maka seruan dan himbauan untuk tidak berpacaran merupakan kesia-siaan belaka. Adalah tidak mungkin mendapatkan suatu masyarakat yang jauh dari tindak pacaran sementara kaum wanita dan kaum pria bebas bercampur gaul baik di tempat kerja mau pun di ruang kelas. Kalau kaum pria dan wanita bertemu dan bergaul bebas di tempat umum tersebut, pacaran akan merupakan implikasi yang paling logis. Kalau ada seorang ulama yang menyeru kepada mereka supaya menghindari pacaran, maka seruan itu merupakan suatu kebodohan.

Dengan demikian untuk menghindari terjadi dan merebaknya gejala pacaran yang keji dan menjijikkan tersebut, umat harus segera mengamalkan ajaran Islam bahwa wanita tidak diperkenankan keluar rumah untuk bekerja mencari uang mau pun menuntut ilmu. Dan hal ini merupakan ajaran Islam yang bersifat tindakan tegas dan sistemik. Artinya, terus-menerus menyadarkan seluruh pemuda dan pemudi bahwa pacaran adalah haram – sementara umat memperkenankan kaum wanita untuk keluar rumah – sehingga terjadi campur gaul demikian bebas antara pria dan wanita, merupakan suatu kesia-siaan, dan mustahil akan berhasil. Pada akhirnya toh seluruh umat akan terjerumus ke dalam lembah dosa dan kutukan Tuhan. Sementara umat terus memperkenankan wanita keluar rumah, dekadensi moral (khususnya perzinahan, aborsi, hamil di luar nikah, freesex, kondomisasi dll) terus berlangsung menghancurkan sendi-sendi kehidupan ini.

Dari arah sebaliknya pun, salah satu maksud Islam mentidakbolehkan wanita keluar rumah adalah supaya pacaran yang keji itu tidak menggejala di tengah umat. Dan itu pun sudah terbukti, bahwa dengan diperbolehkannya wanita keluar rumah, spontan pacaran menjadi fenomena umum di tengah umat, dan akhirnya berimbas pada maraknya:

  • perzinahan,
  • aborsi,
  • kondomisasi,
  • hamil di luar nikah,
  • freesex,
  • kumpul-kebo,
  • bangkai bayi di tempat sampah,
  • lahirnya banyak anak jadah,
  • selingkuh,
  • dan juga berbagai penyakit kelamin menular.

Dan tentunya masih banyak lagi merek lain dari kebangkrutan umat yang disebabkan wanita yang keluar rumah.

Kalau umat mengamalkan domestikalisasi wanita, niscaya hal-hal keji seperti yang tertera di atas tidak akan pernah terjadi di tengah umat.

Kesimpulannya adalah, pacaran adalah haram menurut Islam dan juga menurut logika moral yang Agung, sementara untuk memastikan pacaran tidak akan pernah terjadi adalah dengan mengamalkan ajaran Islam yaitu domestikalisasi wanita secara permanen. Hanya menyeru dan menghimbau pemuda dan pemudi untuk tidak pacaran – sementara wanita bebas keluar rumah, merupakan gaya berfikir yang sia-sia dan tidak bertanggungjawab.

Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di dalam masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang kemudian masuk ke dalam masjid. Dengan ketakutan, wanita tersebut mengaku kepada Rasulullah bahwa dia telah berzina. Mendengar hal itu, memerahlah wajah Rasulullah SAW seperti hampir meneteskan darah. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Pergilah, hingga engkau melahirkan anakmu”.

Sembilan bulan berlalu, wanita itu akhirnya melahirkan. Di hari pertama nifasnya, dia datang kembali membawa anaknya, dan berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina”.

Rasulullah melihat kepada anak wanita tersebut, dan bersabda: “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku”. Dengan sedih, wanita itu akhirnya kembali lagi kerumahnya.

Tiga tahun lebih berlalu, namun si wanita tidak berubah pikiran. Dia datang kembali kepada Rasulullah untuk bertaubat. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”.

Rasulullah SAW bersabda kembali kepada semua yang hadir disana, “Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di Surga”.

Sesaat kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Setelah wanita tersebut meninggal, beliaupun menshalatinya. Melihat hal tersebut, Umar Bin Khatab merasa sangat heran sekali. Beliau berkata: “Engkau menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina!”.

Rasulullah kembali bersabda: “Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, yang seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah?” (HR. Ahmad).

Sepotong kisah di atas memaparkan betapa fatalnya berzina tersebut sehingga hanya maut yang dapat mengimbanginya. Dan untuk menolak perzinahan tersebut, satu-satunya cara adalah dengan mengamalkan domestikalisasi wanita: pentingnya menjauhi zina, adalah sama pentingnya dengan mengamalkan domestikalisasi wanita bagi seluruh umat Muslim.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s