Gradasi Larangan Wanita Bekerja

10-Gradasi Larangan Wanita Bekerja

Tidak ada alasan untuk membenarkan seorang wanita keluar rumah untuk bekerja-bisnis. Anggaplah ada seorang wanita bernama Layla. Ini gradasinya:

  1. Kalau Layla masih gadis atau masih berstatus anak, maka kewajiban sang ayahlah untuk menafkahinya. Posisi sang ayah pun adalah extended, yaitu bisa kepada pamannya, abangnya, mau pun kakeknya.
  2. Kemudian kalau Layla sudah berumahtangga atau bersuami, maka kewajiban sang suamilah untuk menafkahi wanita itu.
  3. Kalau kemudian Layla dan suaminya adalah manusia-manusia yang miskin, itu pun tidak dapat dijadikan alasan bagi Layla untuk bekerja. Kemiskinan harus diterima dengan tawakal.
  4. Kalau di tengah kehidupan berumah-tangga, suami Layla tidak dapat lagi mencari nafkah (karena cacat atau sakit yang berterusan), syariah membenarkan Layla untuk menuntut cerai dari suaminya (karena suami yang tidak dapat memberi nafkah berhak untuk dicerai), dan Layla menjadi janda cerai. Dengan demikian Layla harus mendapat suami baru yang dapat menjaminkan nafkahnya. Dengan kata lain, setelah mencerai suaminya yang gagal itu, Layla toh harus menikah lagi dengan suami baru; tugas keluarga batih dan seluruh umatlah untuk menikahkan kembali Layla ini.Tidak perlu Layla bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri.
  5. Kalau Layla menjadi janda mati sementara anak-anak lelakinya pun masih kecil (yang  belum dapat mencari penghasilan), maka kewajiban Al-Ummah lah untuk menikahkan kembali Layla yang menjadi janda itu sehingga nafkahnya menjadi tanggungjawab suami barunya. Ingat, Islam memerintahkan janda mau pun duda untuk menikah lagi.
  6. Kalau kemudian Layla menjadi janda tua sementara ia tidak mungkin menikah lagi – karena sudah sepuh, maka tanggungjawab anaknya yang lelaki lah untuk menafkahi Layla tua yang adalah ibunya.
  7. Kalau masalahnya adalah bahwa Layla tua ini tidak mempunyai anak lelaki, maka pertanyaannya adalah mengapa bisa si Layla tidak mempunyai anak lelaki? Ingat, Islam mengajarkan untuk mempunyai banyak anak. Kalau seorang wanita mempunyai / melahirkan banyak anak pada masa mudanya, maka mustahil keseluruhan anaknya adalah perempuan. Pasti ada anaknya yang laki-laki sekian orang. Anak laki-laki inilah kelak yang akan menafkahi Layla ini, ibunya.
  8. Seterusnya, anggaplah seluruh anaknya yang laki-laki meninggal sehingga yang tinggal hanyalah anaknya yang perempuan, yang dengan demikian tidak ada yang dapat menafkahi Layla ini, maka itulah saatnya Al- Ummah untuk menyantuni Layla ini melalui BAITUL MAAL. Ingat, Islam mengajarkan bahwa Al-Ummah harus mempunyai Baitul Maal (atau Kas Negara) yang pemasukannya berasal dari aneka zakat dari umat.
  9. Lagipula, anak-anaknya yang perempuan pun juga merupakan penopang kehidupan Layla ini (walau pun kadar wajibnya tidak se-signifikan atas anak lelaki). Anak-anak perempuan itu kelak akan mempunyai suami yang adalah menantu dari Ibu Layla ini. Terhadap setiap suami, Layla adalah sang mertua; Islam mengajarkan bahwa kepada mertua pun juga harus ditunjukkan bakti dan santunan.

Dengan gradasi ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu celah pun bagi seorang wanita untuk bekerja. Hal demikian sungguh untuk menjamin bahwa kodrat wanita adalah kodrat domestik, dan akan terjadi fitnah yang mahabesar kalau seorang wanita keluar rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s