Hukum Bekerja Bagi Wanita dan Gaji yang Diperolehnya (Bagian 1 – 2)

11-Hukum Bekerja Bagi Wanita dan Gaji yang Diperolehnya (Bagian 1-2)

1. Pertanyaan:

Syaikh Bin Baz ditanya tentang apa hukum bekerja bagi seorang wanita dan apa lapangan pekerjaan yang dibolehkan bagi seorang wanita.

Jawab:

“Tidak seorang pun ulama yang melarang kaum wanita untuk bekerja mencari uang. Perbedaan pendapat hanya terjadi mengenai lapangan pekerjaan apa yang boleh untuk dirambah oleh kaum wanita. Penjelasannya adalah bahwa seorang wanita memiliki tanggung jawab menyelesaikan beberapa tugas rumahtangga dalam keluarganya seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan semua jenis bantuan yang bisa ia lakukan untuk rumahtangga dan keluarganya.

Adapun untuk lapangan pekerjaan di luar rumah yang diperbolehkan bagi kaum wanita adalah seperti menjadi seorang guru dan pedagang. Sebagai contoh kerja di pabrik jahit atau lapangan pekerjaan lain yang tidak membawa terbukanya maksiat yang dilarang oleh Allah, seperti berduaan di tempat kerja dengan laki-laki asing, atau bercampur di tempat kerja dengan laki-laki yang bukan mahram-nya (ikhtilat), karena besar kemungkinannya hal ini akan melahirkan fitnah bagi dirinya dan rumah tangganya. Pekerjaan lain yang membuat dirinya lalai melakukan tugas rumah tangganya (tanpa menunjuk seseorang untuk mengurusnya / pembantu atau saudara) juga dilarang dalam agama. Bekerja (Pekerjaan) tanpa izin keluarga dan atau suaminya juga larangan dalam agama islam (1)

Beberapa Kesimpulan yang bisa diambil:

Kewajiban utama wanita adalah di rumahnya dan tetap di rumahnya, menjalankan segala aktivitas rumahtangganya. Itu adalah keutamaan yang tidak bisa dibeli dan dibandingkan dengan kesuksesan karirnya di luar rumah, begitu banyak hadist dan sunnah Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan dan kedudukan kaum wanita di dalam rumahnya.

Kewajiban dan keutamaan di atas menjadikan pertimbangan utama bagi kaum wanita ketika memutuskan untuk bekerja di luar rumahnya.

Cukup dan tidaknya penghasilan suami adalah tergantung pada bagaimana setiap Muslim bersikap wara’ dan zuhud terhadap dunia. Ilmu dan agama lah yang menjadi filternya. Hal ini juga pertimbangan tambahan untuk wanita bila memutuskan bekerja.

Bekerja boleh bagi wanita, hanya saja harus ada syarat-syarat syar’i yang harus dipenuhi seperti penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala di atas. Adapun jika dihubungkan dengan kondisi Indonesia yang serba penuh dengan ikhtilat, di sekolah, kampus, perkantoran, pasar dan perdagangan.

Wallahu a’lam bi shawwab.

(1) Fatwa no. 4167 tanggal 11/11/1401 H

Footnotes:

(1) mengenai hijab syar’i ada khilafiyah tentang memakai cadar / purdah bagi wanita di kalangan ulama, ada yang mewajibkan, sebagaimana sebagian besar ulama Arab Saudi. Juga ada sebagian ulama yang mensunnahkannya, sebagai contoh, Beliau Syaikh Albani rahimahullahu ta’ala. Namun satu hal penting yang harus dipegang, ulama yang mensunnahkan pemakaian penutup wajah, juga tetap mengakui bahwa yang terbaik bagi wanita adalah menutup seluruh anggota badannya, termasuk muka dan telapak tangannya. Adapun standart pemakaian hijab secara umum menurut syar’i sudah banyak kitab-kitab ulama yang membahasnya. Wallahu a’lam.

(2) Dengan kata lain keharaman gaji dihubungkan dengan keharaman jenis pekerjaan yang dilakukannya bukan dandanan jahiliyahnya. Jika pekerjaannya halal, maka dosa tertimpa pada wanita tersebut karena dandanannya, tidak mempengaruhi hukum memakan gajinya.

(3) fatwa No. 3429 tanggal 2/2/1401 H

Maraji:

183 Masalah Aktual Muslimah, Prof. Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Ditambah footnote, kesimpulan juga pembuka dari penulis.

Sumber: http://jilbab.or.id/archives/137-hukum-bekerja-bagi-wanita-dan-gaji-yang-diperolehnya

** Terambil dari http://pengusahamuslim.com/tanya-jawab-hukum-bekerja-bagi-wanita-dan-gaji-yang-diperolehnya#.Uk57HtmdySo

—————————

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian paparan di atas yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas kekeliruan logika paparan di atas secara paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

::: “Tidak seorang pun ulama yang melarang kaum wanita untuk bekerja mencari uang. Perbedaan pendapat hanya terjadi mengenai lapangan pekerjaan apa yang boleh untuk dirambah oleh kaum wanita. Penjelasannya adalah bahwa seorang wanita memiliki tanggung jawab menyelesaikan beberapa tugas rumahtangga dalam keluarganya seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan semua jenis bantuan yang bisa ia lakukan untuk rumahtangga dan keluarganya.

Annisanation – tentu saja statement di atas adalah salah sehingga harus diluruskan. Alquran dengan jelas melarang wanita untuk bekerja dan keluar rumah, seperti pada ayat Alquran ini,

… dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (33:33)

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (33:34).

Kedua ayat Alquran di atas dengan tegas mengisyaratkan keharaman wanita untuk keluar rumah dan bekerja mencari nafkah. Satu Alhadis pun juga harus dipertimbangkan untuk memastikan keharaman wanita untuk bekerja seperti halnya kaum laki-laki yang bekerja mencari nafkah,

Tidak akan beruntung suatu Negeri jika dipimpin oleh seorang wanita…… Alhadis.

Alhadis shahih di atas secara eksplisit memang hanya mencakup apakah Al-ummah boleh mengangkat wanita menjadi pemimpin. Namun arti luasnya adalah bahwa sebenarnya wanita diharamkan untuk bekerja seperti halnya kaum pria. Kalau seorang wanita dipilih menjadi pemimpin suatu Negeri, sama saja wanita itu bekerja seperti halnya seorang laki-laki yang bekerja mencari nafkah, karena ia akan selalu keluar rumah, memerintah laki-laki lain, menerima upah / gaji, dan seterusnya. Kalau wanita menjadi pemimpin, pastilah ia bekerja: mustahil wanita menjadi pemimpin suatu Negeri sedangkan ia tidak bekerja. Pada moment itulah Muhammad Saw bersabda, bahwa akan merugi jika suatu Negeri mengangkat atau membolehkan kaum wanitanya untuk bekerja / menjadi pemimpin.

Kalau suatu Negeri dipimpin oleh seorang wanita, pastilah artinya Negeri itu mengadopsi konsep wanita boleh bekerja, setidaknya akan singkron antara wanita menjadi pemimpin di satu pihak, dan kaum wanita boleh bekerja di lain pihak.

Kemudian karena sudah jelas bahwa wanita tidak boleh bekerja, maka selanjutnya tidak perlu dibahas lagi bidang pekerjaan apa yang diperbolehkan untuk wanita bekerja: seluruh bidang pekerjaan adalah diharamkan untuk ditempati / digeluti oleh wanita: tidak ada satu pun bidang pekerjaan yang pantas untuk wanita, atau mensyaratkan wanita. Seluruh bidang pekerjaan adalah untuk kaum pria.

Kalau seluruh ulama sepakat bahwa seorang wanita memiliki tanggung-jawab menyelesaikan tugas rumahtangga seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan semua jenis bantuan yang bisa ia lakukan untuk rumahtangga dan keluarganya, itu berarti wanita tidak mempunyai waktu sedikit pun untuk bekerja seperti halnya kaum pria bekerja. Maka dari itu jelaslah sudah keharaman bekerja bagi wanita. Sekaligus berarti, bahwa kalau wanita boleh bekerja, pasti wanita itu akan menelantarkan pekerjaan-pekerjaan rumahtangganya yang sebenarnya adalah tugas kodratinya sebagai wanita. Tentunya ini merupakan dosa yang teramat besar bagi si wanita, dan kemudian dosa itu juga akan berimbas kepada pemikir-pemikir yang menganjurkannya demikian.

::: Adapun untuk lapangan pekerjaan di luar rumah yang diperbolehkan bagi kaum wanita adalah seperti menjadi seorang guru dan pedagang. Sebagai contoh kerja di pabrik jahit atau lapangan pekerjaan lain yang tidak membawa terbukanya maksiat yang dilarang oleh Allah, seperti berduaan di tempat kerja dengan laki-laki asing, atau bercampur di tempat kerja dengan laki-laki yang bukan mahram-nya (ikhtilat), karena besar kemungkinannya hal ini akan melahirkan fitnah bagi dirinya dan rumah tangganya. Pekerjaan lain yang membuat dirinya lalai melakukan tugas rumah tangganya (tanpa menunjuk seseorang untuk mengurusnya / pembantu atau saudara) juga dilarang dalam agama. Bekerja (Pekerjaan) tanpa izin keluarga dan atau suaminya juga larangan dalam agama islam (1)

Annisanation – sudah dijelaskan di atas bahwa Islam melarang wanita untuk bekerja. Penjelasan mengenai bidang pekerjaan apa yang boleh digeluti tentunya sudah tidak diperlukan lagi.

Seluruh ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh berdiam / berkhalwat dengan pria lain kecuali wanita tersebut didampingi muhrimnya. Ini artinya tidak ada satu celah pun bagi wanita untuk bekerja, karena wanita bekerja pastilah berkonsekwensi bercampur-baur antara pria dan wanita di satu ruangan sementara sang wanita itu tidak didampingi muhrim.

Kalau pun memang ada satu bidang pekerjaan yang dapat menjamin tidak akan terjadi khalwat ini, tetap saja itu bukan alasan kuat untuk kaum wanita bekerja. Wanita diciptakan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Jadinya harus difahami bahwa menyelesaikan tugas domestik tidak akan memberi peluang sedikitpun bagi wanita untuk bekerja seperti halnya kaum pria. Ingat, kalau seorang wanita lalai atas tugas kodratnya yaitu tugas domestik, dapat dipastkan bahwa wanita tersebut sudah berdosa, dan tentunya itu membuat hal yang membuatnya demikian harus dihindari sekuat mungkin.

Dan bolehkah seorang wanita menyerahkan atau menunjuk orang lain untuk  menyelesaikan tugas domestiknya, seperti kepada pembantu rumahtangga?

Tidak. Tugas domestik tidak dapat dialihkan kepada orang lain: pembantu rumahtangga adalah bathil di mata Allah. Suatu hari sahabat Ali ra dan istrinya Fatimah ra mengunjungi Rasul Muhammad untuk meminta seorang budaknya supaya dapat dipekerjakan di rumah Ali dan Fatimah. Muhammad Saw menjawab, “hai Fatimah (dan juga Ali) kerjakanlah apa yang dapat kamu kerjakan, dan kemudian di malam hari tahajudlah kamu. Maka pahalanya lebih besar dari shalat selama 1000 Tahun”.

Kisah ini mengajarkan satu hal yaitu mengambil pembantu adalah kezaliman di dalam Islam – karena keberadaan pembantu itu sendiri mendatangkan masalah syar’i. Kalau pembantu itu adalah seorang pria, apakah dia dapat dipercaya? Dan kalau pembantu itu adalah seorang wanita, maka bagaimana posisinya terhadap sang tuan rumah yang adalah seorang pria? Bukankah pembantu wanita itu harus didampingi seorang muhrim sebagaimana yang diajarkan di dalam Islam? Alhasil, kalau di sebuah rumah ada seorang pembantu rumahtangga berjenis kelamin perempuan, supaya sang istri dapat bekerja di luar rumah, berarti di rumah itu sudah terjadi perzinahan, karena akan selalu terjadi seorang pria (yaitu pria suami dari si wanita) berkhalwat dengan sang pembantu yang perempuan itu, karena sang pembantu tidak didampingi muhrimnya. Ini akan menjadi dosa tersendiri.

Pun bagi pembantu yang perempuan itu, bukankah wanita dilarang untuk bekerjabisnis sejak awal? Maka mengapa ia bekerja, di dalam hal ini sebagai pembantu rumahtangga di suatu rumah? Dan bagaimana juga dengan tanggungjawab domestik dari si pembantu rumahtangga ini? Bukankah ia di rumahnya mempunyai suami dan anak-anak yang harus diberi makan, dan menyiapkan baju bersih untuk mereka?

Singkat kata, adalah final bahwa di dalam Islam wanita memang tidak boleh bekerjabisnis seperti halnya kaum pria. Dan pada level ini khususnya, mengambil pembantu pun juga bukan syarat kebolehan bagi seorang wanita untuk bekerja.

::: Beberapa Kesimpulan yang bisa diambil:

Kewajiban utama wanita adalah di rumahnya dan tetap di rumahnya, menjalankan segala aktivitas rumahtangganya. Itu adalah keutamaan yang tidak bisa dibeli dan dibandingkan dengan kesuksesan karirnya di luar rumah, begitu banyak hadist dan sunnah Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan dan kedudukan kaum wanita di dalam rumahnya.

Kewajiban dan keutamaan di atas menjadikan pertimbangan utama bagi kaum wanita ketika memutuskan untuk bekerja di luar rumahnya.

Cukup dan tidaknya penghasilan suami adalah tergantung pada bagaimana setiap Muslim bersikap wara’ dan zuhud terhadap dunia. Ilmu dan agama lah yang menjadi filternya. Hal ini juga pertimbangan tambahan untuk wanita bila memutuskan bekerja.

Annisanation – statement ini sudah benar dan sesuai dengan ajaran Muhammad Saw. Selalu dapat dikatakan bahwa terdapat banyak Alhadis yang menjelaskan betapa fungsi dan kodrat kaum wanita adalah domestik, yang berlaku di segala usia dan status sosialnya. Tetap berdiam di rumah dan menjalankan kodrat domestiknya tentu akan membawa setiap wanita kepada limpahan pahala dan ridha yang luar biasa yang luar biasa. Kebalikannya, keluar rumah dan kemudian bekerja akan membawa setiap wanita kepada besarnya dosa dan malapetaka yang akan menimpa umat Muslim secara keseluruhan.

::: Bekerja boleh bagi wanita, hanya saja harus ada syarat-syarat syar’i yang harus dipenuhi seperti penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala di atas. Adapun jika dihubungkan dengan kondisi Indonesia yang serba penuh dengan ikhtilat, di sekolah, kampus, perkantoran, pasar dan perdagangan……

Annisanation – tidak tepat. Bekerjabisnis tidak boleh bagi wanita. Pun tidak ada syarat-syarat syar’i yang membolehkan wanita untuk bekerja. Justru kebalikannya, rangkaian syarat syar’i yang ada di dalam Islam membuat wanita harus tetap di dalam kodratnya yaitu domestik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s