Hukum Bekerja Bagi Wanita dan Gaji yang Diperolehnya (Bagian 2/2)

12-Hukum Bekerja Bagi Wanita dan Gaji yang Diperolehnya (Bagian 2-2)

2. Pertanyaan:

Syaikh Bin Baz ditanya apa hukumnya menggunakan gaji wanita yang bekerja di luar rumahnya, bagaimana halnya jika penampilannya waktu pergi bekerja seperti dandanan orang jahiliyah atau membuka aurat (tabaruj). Demikian pula bagaimana hukumnya memberi uang beasiswa pada mahasiswi yang belajar di perguruan tinggi sedangkan ia ke kampus dengan dandanan seperti orang jahiliyah (tabaruj)?

Jawaban:

Pertama, hukum asalnya, seorang wanita tidak boleh keluar rumah kecuali atas izin suaminya (bagi yang sudah menikah). Bila suaminya telah mengizinkan, maka ia boleh keluar dengan dandanan yang tidak mengundang kaum laki-laki untuk tertarik melihatnya, ia mesti memakai hijab syar’i dan tidak tabarruj(1). Seperti larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Qs. Al-Ahzab 33), yang artinya:

“Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang2 jahiliyah yang dahulu.”

Para suami berhak melarang istrinya keluar rumah dalam keadaan berhias seperti orang jahiliyah. Sedangkan gaji wanita tersebut yang ia peroleh dari bekerja di luar rumah, dan dengan berhias seperti orang jahiliyah pun, boleh hukumnya untuk dikonsumsi asal pekerjaan yang dikerjaan sesuai syari’at (halal), Walaupun wanita tersebut tetap terkena dosa karena dandanan jahiliyahnya. Akan tetapi bila pekerjaan tersebut sifatnya haram, maka memakan gaji yang dihasilkannya juga haram (2). Dan wanita tersebut terkena dosa lipat karena melakukan pekerjaan yang haram dan berdandan yang diharamkan.

Kedua, mahasiswi yang pergi ke kampus wajib memakai hijab syar’i. Sedangkan uang beasiswa yang diserahkan kepadanya, hukumnya sama dengan gaji, yang ia peroleh dengan statusnya sebagai pelajar, halal. Akan tetapi jika uang itu ia peroleh sebagai upah atas pekerjaan yang haram, maka mengkonsumsinya hukumnya haram. Sementara dandanannya pergi kuliah yang seperti orang jahiliyah itu tidak mempengaruhi hukum mengkonsumsi uang yang diberikan kepadanya, yakni tetap halal. Dosa terletak karena perbuatannya yang berdandan ala jahiliyah tersebut. Wabillahittaufiq (3)

Footnotes:

(1)    mengenai hijab syar’i ada khilafiyah tentang memakai cadar / purdah bagi wanita di kalangan ulama, ada yang mewajibkan, sebagaimana sebagian besar ulama arab Saudi. Juga ada sebagian ulama yang mensunnahkannya, sebagai contoh, Beliau Syaikh Albani rahimahullahu ta’ala. Namun satu hal penting yang harus dipegang, ulama yang mensunnahkan pemakaian penutup wajah, juga tetap mengakui bahwa yang terbaik bagi wanita adalah menutup seluruh anggota badannya, termasuk muka dan telapak tangannya. Adapun standart pemakaian hijab secara umum menurut syar’i sudah banyak kitab-kitab ulama yang membahasnya. Wallahu a’lam.

(2)    Dengan kata lain keharaman gaji dihubungkan dengan keharaman jenis pekerjaan yang dilakukannya bukan dandanan jahiliyahnya. Jika pekerjaannya halal, maka dosa tertimpa pada wanita tersebut karena dandanannya, tidak mempengaruhi hukum memakan gajinya.

(3)    fatwa No. 3429 tanggal 2/2/1401 H

Maraji:

183 Masalah Aktual Muslimah, Prof. Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Ditambah footnote, kesimpulan juga pembuka dari penulis.

Sumber: http://jilbab.or.id/archives/137-hukum-bekerja-bagi-wanita-dan-gaji-yang-diperolehnya

** Terambil dari http://pengusahamuslim.com/tanya-jawab-hukum-bekerja-bagi-wanita-dan-gaji-yang-diperolehnya#.Uk57HtmdySo

————————–

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian paparan di atas yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas kekeliruan logika paparan di atas paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

::: 2. Pertanyaan:

Syaikh Bin Baz ditanya apa hukumnya menggunakan gaji wanita yang bekerja di luar rumahnya, bagaimana halnya jika penampilannya waktu pergi bekerja seperti dandanan orang jahiliyah atau membuka aurat (tabaruj). Demikian pula bagaimana hukumnya memberi uang beasiswa pada mahasiswi yang belajar di perguruan tinggi sedangkan ia ke kampus dengan dandanan seperti orang jahiliyah (tabaruj)?

Jawaban:

Pertama, hukum asalnya, seorang wanita tidak boleh keluar rumah kecuali atas izin suaminya (bagi yang sudah menikah). Bila suaminya telah mengizinkan, maka ia boleh keluar dengan dandanan yang tidak mengundang kaum laki-laki untuk tertarik melihatnya, ia mesti memakai hijab syar’i dan tidak tabarruj(1). Seperti larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Qs. Al-Ahzab 33), yang artinya:

“Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang2 jahiliyah yang dahulu.”

Para suami berhak melarang istrinya keluar rumah dalam keadaan berhias seperti orang jahiliyah.

Annisanation – statement di atas tidak lah tepat. Islam mengajarkan kebenaran bahwa wanita diharamkan untuk keluar rumah dan bekerja seperti halnya kaum pria. Hal ini harus dipahami secara baik oleh seluruh elemen khususnya para suami mau pun ayah: suami mau pun ayah tidak mempunyai hak untuk membenarkan dan mengijinkan seorang wanita mau pun istri untuk bekerja di luar rumah. Ijin yang diberikan seorang suami atau ayah untuk seorang wanita bekerja tidak membuat aktivitas wanita itu jadi diridhai Allah Swt. Kebalikannya suami mau pun ayah yang memberi ijin seorang wanita untuk keluar rumah dan bekerja akan mendapat dosa yang sama besar dengan dosa wanita tersebut. Yang menjadi dasar adalah ajaran Islam, bukan ijin yang diberikan kepada wanita tersebut.

Tugas seorang suami mau pun ayah adalah memenuhi dan menafkahi seluruh kebutuhan wanita mereka, bukannya mengijinkan mereka bekerjabisnis, apalagi harus keluar rumah. Kalau Islam mengijinkan seorang wanita untuk bekerja, maka artinya seorang suami dan ayah tidak lagi berdosa untuk tidak menafkahi mereka dan bertanggungjawab atas kehidupan mereka Dunia akhirat. Ini di luar dugaan!

Setelah difahami bahwa wanita tidak boleh bekerja, maka kemudian tidak perlu dibahas bagaimana cara wanita tersebut berdandan dan segala hal yang berkaitan dengannya.

::: Sedangkan gaji wanita tersebut yang ia peroleh dari bekerja di luar rumah, dan dengan berhias seperti orang jahiliyah pun, boleh hukumnya untuk dikonsumsi asal pekerjaan yang dikerjaan sesuai syari’at (halal), Walaupun wanita tersebut tetap terkena dosa karena dandanan jahiliyahnya. Akan tetapi bila pekerjaan tersebut sifatnya haram, maka memakan gaji yang dihasilkannya juga haram (2). Dan wanita tersebut terkena dosa lipat karena melakukan pekerjaan yang haram dan berdandan yang diharamkan.

Annisanation – bagaimana dengan gaji seorang wanita yang jelas-jelas keluar rumah dan bekerja, yang dengan itu wanita itu mendurhakai ajaran Allah Swt dan Muhammad Saw? Haram! Haram gaji dari wanita itu untuk dinikmati, apapun kondisinya: apakah ia berdandan sesuai dengan syar’i, ataukah ia bekerja dengan mendapat ijin dari suami mau pun ayahnya, ataukah ia bekerja di tempat yang halal, dan lain lain.

Tidak perlu dibahas apakah pekerjaan yang digeluti seorang wanita itu merupakan pekerjaan yang halal mau pun haram, tetap saja gajinya adalah haram untuk seluruh keluarga dan anak-anaknya. Yang diinginkan Allah melalui syariahNya adalah bahwa wanita itu tetap di rumahnya menjalankan seluruh kodrat domestiknya yaitu menjaga anak-anaknya dan melayani sang suami, dan dengan demikian menjaga kehormatan dirinya sebagai wanita, istri dan ibu. Hal itu sama sekali tidak akan dapat diraih kalau wanita itu bekerja di luar rumah setiap hari. Itulah dosa, maka dosa dan haram juga uang yang didatangkan dari perbuatan tersebut. Itu jelas secara logika.

::: Kedua, mahasiswi yang pergi ke kampus wajib memakai hijab syar’i. Sedangkan uang beasiswa yang diserahkan kepadanya, hukumnya sama dengan gaji, yang ia peroleh dengan statusnya sebagai pelajar, halal. Akan tetapi jika uang itu ia peroleh sebagai upah atas pekerjaan yang haram, maka mengkonsumsinya hukumnya haram. Sementara dandanannya pergi kuliah yang seperti orang jahiliyah itu tidak mempengaruhi hukum mengkonsumsi uang yang diberikan kepadanya, yakni tetap halal. Dosa terletak karena perbua tannya yang berdandan ala jahiliyah tersebut. Wabillahittaufiq (3)

Annisanation – bagaimana dengan mahasiswi, berikut dengan uang beasiswa yang ia terima?

Islam mengajarkan bahwa wanita harus tetap di rumah, dan begitu juga dengan menuntut ilmu, maka wanita tidak diperkenankan untuk keluar rumah menuntut ilmu. Anggap saja wanita dibenarkan keluar rumah untuk menuntut ilmu. Setelah lulus, akan ia apakan ilmu yang ia dapat dengan susah payah itu? Bekerja? Bukankah Islam sudah menegaskan bahwa wanita dilarang bekerja mencari nafkah sebagaimana halnya kaum pria? Bukankah Islam sudah menegaskan bahwa kodrat kaum wanita adalah domestik yaitu selalu berada di rumahnya karena banyak fungsi domestik yang harus ia persembahkan?

Atau mungkin, wanita diijinkan keluar rumah untuk menuntut ilmu dengan mengeluarkan biaya pendidikan yang demikian besar, namun kemudian setelah lulus, ia tidak keluar rumah untuk bekerja, melainkan tetap di rumah seperti yang Islam ajarkan. Nah bukankah dengan demikian wanita dan keluarganya itu telah berbuat kemubaziran? Buat apa wanita itu menuntut ilmu, mengeluarkan uang pendidikan yang demikian besar, dan menghabiskan umurnya kalau pada akhirnya wanita itu tetap tinggal di rumah dan tidak bekerja mencari uang / nafkah? Singkat kata, wanita memang tidak di-plot untuk menuntut ilmu; wanita tidak di-plot untuk keluar rumah untuk menuntut ilmu.

Di dalam Alquran sudah dijelaskan,

“……. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (33:33)

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. (33:34).

Pada ayat 34 difirmankan bahwa wanita harus mendengarkan pembacaan / pengajaran mengenai kebenaran (ini berarti ilmu pengetahuan, bukan?) di dalam rumah mereka. Frase ‘di dalam rumah mereka’, merupakan kata kunci di dalam isu ini. Wanita tidak disyaratkan untuk keluar rumah untuk mencari kebenaran, karena justru kebenaran itu akan diajarkan dan diberikan kepada wanita di dalam rumah mereka. Demikian firman Allah Swt.

Jadi, dari mana ide yang menyatakan bahwa wanita boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu dan kebenaran? Kalaulah wanita dibolehkan keluar rumah untuk menuntut ilmu dan kebenaran, maka kemudian bagaimana Al-ummah akan memperlakukan ayat Al- ahzab 34 ini?

Atau ada kemungkinan lain: mahasiswi boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu, namun kemudian setelah lulus ia tidak akan bekerja, melainkan tetap menjalani peran domestiknya yaitu tidak keluar rumah. Maka bukankah itu adalah mubazir? Manusia, termasuk juga wanita, kalau sudah keluar uang untuk kuliah, pastilah kemudiannya ia menuntut untuk bekerja.

Keluar rumah untuk kuliah saja sebenarnya sudah merupakan dosa, karena tidak ada dasar baik secara logika (dalil aqli) mau pun secara ayat (dalil naqli). Kelak ketika kuliah seorang mahasiswi pasti akan berkhalwat dengan mahasiswa pria; kemudian pasti akan bertabaruj, kemudian pasti akan berdiam tanpa didampingi muhrim. Dan yang jelas wanita itu akan pergi meninggalkan kodrat domestiknya. Bukankah itu semua menjadi pendurhakaan terhadap ajaran Allah Swt?

Mengingat bahwa wanita pun tidak diijinkan untuk keluar rumah untuk menuntut ilmu (kuliah atau sekolah) maka kemudian tidak perlu dibahas bagaimana wanita itu berdandan, juga apakah ia akan berkhalwat atau tidak, didampingi muhrim atau tidak.

Seluruh elemen di dalam Al-ummah harus faham bahwa Islam mengajarkan pelarangan wanita untuk keluar rumah, baik dengan tujuan bekerja mau pun menuntut ilmu. Salah satu implementasinya adalah, jangan memberi beasiswa kepada siswi mau pun mahasiswi. Cukuplah bagi Allah Swt bahwa seluruh elemen di dalam Al-ummah mengusahakan dan mensosialisasikan bahwa tempat dan kodrat kaum wanita adalah domestik, karena kemuliaan wanita dan seluruh umat berada di sana. Kebalikannya, jika ada elemen, individu mau pun lembaga di dalam Al-ummah memberikan beasiswa kepada siswi dan mahasiswi, maka dosa paling keji sudah dijanjikan atas elemen tersebut: turut serta membuat dosa maka Iblis lah kawan mereka di dalam Neraka.

Setiap uang yang diberikan kepada wanita sebagai beasiswa untuk kuliah merupakan pendurhakaan kepada syariah Allah, sehingga pihak yang memberi, pihak yang menerima mau pun pihak lain yang turut menikmati akan terkena dosa paling keji.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s