Hukum Pergi ke Pasar Bagi Wanita

13-Hukum Pergi ke Pasar Bagi WanitaPenulis: Fadlilatu As Syaikh Al’Allamah Al Faqih Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah.

Soal 2: Boleh atau tidakkah wanita keluar ke pasar-pasar (yang belum dihukumi safar) tanpa mahram? Kapan diperbolehkan dan kapan tidak diperbolehkan?

Jawaban Syaikh Utsaimin: Hukum asal wanita ke pasar-pasar adalah boleh, dan tidak disyaratkan adanya mahram kecuali dikhawatirkan adanya fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah, maka wajib baginya ditemani oleh mahram yang menjaga dan memeliharanya. Diperbolehkan mereka keluar ke pasar-pasar dengan syarat tidak tabarruj (menghias diri), dan tidak memakai wewangian atau parfum. Apabila keluarnya dengan tabarruj dan memakai parfum maka tidak boleh baginya. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah: “Janganlah kalian melarang mereka (wanita-wanita) ke masjid-masjid Allah, dan keluarlah (dalam keadaan) tanpa wewangian dan tanpa berhias diri”.  – HR Ahmad dan Abu Dawud.

Karena sesungguhnya keluarnya mereka dengan tabarruj dan memakai wewangian menimbulkan fitnah. Apabila mereka keluar dalam keadaan aman dari fitnah, tidak tabarruj, dan tidak memakai wewangian, maka boleh. Sungguh demikian keadaan wanita-wanita muslimah pada zaman Nabi. Mereka keluar ke pasar-pasar tanpa mahram, (tidak tabarruj, dan tidak memakai wewangian).

Diterjemahkan Oleh Al Ustadz Abu Isa Nurwahid dari Kitab Majmu As Ilah.

Sumber: Buletin Dakwah Al Atsary, Semarang Edisi 15/1427H.

http://indonesiaindonesia.com/f/6334-hukum-pergi-pasar-wanita/

———————–

ANNISANATIONPaparan di atas sudah mencerminkan ajaran dan tuntunan Rasulullah saw.

Islam mengajarkan bahwa pada dasarnya wanita dilarang keluar rumah untuk tujuan-tujuan yang permanen. Namun kalau keluar rumah hanya sebatas keluar rumah untuk tujuan seperti:

  1. Mengambil jemuran,
  2. Pergi ke warung terdekat,
  3. Menjemput anak yang bermain,
  4. Menemani anak bermain di tanah lapang,
  5. Memetik buah yang sudah masak,
  6. Menyapu pekarangan rumah dan jalan di depan rumah,
  7. Piknik keluarga.
  8. Mengambil air di sumur, dan lain lain.

Hal itu bukanlah yang dimaksud keluar rumah dengan tujuan yang permanen – maka hal tersebut tidaklah dosa sama sekali. Islam mengajarkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah, namun bukan berarti bahwa Islam mengajarkan bahwa wanita harus disekap di dalam rumah tersebut. Islam hanya mengajarkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah dengan tujuan permanen. Keluar rumah untuk tujuan permanen adalah seperti bekerja mencari nafkah, mencari jabatan dan menuntut ilmu. Hal-hal inilah yang harus dihindari, dan merupakan suatu hal yang dilarang di dalam Islam.

Ada tiga tempat atau tiga tujuan yang boleh dikunjungi wanita di dalam pandangan Islam. Ketiga tempat itu adalah,

Wanita boleh mengunjungi Masjid, seperti yang dinukilkan di dalam Alhadis di atas. Termasuk juga wanita diharapkan kehadirannya pada saat Idul Fitri mau pun Idul Adha. Alhadis menyebutkan bahwa bahkan sebaiknya gadis perawan dan gadis yang berada di dalam pingitan pun juga dibawa ke tanah lapang untuk turut shalat Idul Fitri dan juga Idul Adha.

Tempat walimatul ursy, atau mendatangi tempat pesta perkawinan. Acara ini merupakan tempat di mana  kaum wanita diharapkan kehadirannya, bahkan Alhadis menyebutkan anak perawan pun sebaiknya dibawa ke acara ini. Tujuannya jelas, supaya di tempat / acara tersebut para bujang dan para perawan saling mengintip satu sama lain untuk dijadikan dambaan, agar para pemuda dan pemudi menjadi digairahkan untuk menikah juga di kemudian hari, seperti pengantin yang sedang disandingkan di pelaminan.

Wanita dibenarkan untuk pergi ke pasar. Anggaplah Islam melarang wanita pergi belanja ke pasar, yang mana itu berarti kaum pria lah yang harus pergi belanja sayur ke pasar: hal ini tidak pantas dan juga tidak logis. Kalau di satu pihak diajarkan bahwa salah satu tugas wanita adalah memasak di dapur, maka di pihak lain hal itu juga berarti bahwa wanitalah yang harus pergi belanja dapur ke pasar – karena wanitalah yang lebih mengerti di dalam hal memasak. Adalah tidak pantas seorang pria pergi ke pasar untuk belanja dapur. Dan Islam hanya selalu mengajarkan kepantasan.

Islam mengajarkan bahwa tempat atau lebensraum bagi kaum wanita adalah domestik yaitu tetap tinggal di rumahnya: banyak hal yang harus dan dapat dikerjakan seorang wanita di rumahnya – karena hal itu memang sudah sesuai dengan kodratnya. Namun bukan berarti Islam mengajarkan bahwa wanita harus disekap di dalam rumahnya sepanjang hidupnya. Wanita juga butuh matahari dan menikmati pemandangan keindahan kota.

Yang diajarkan Islam adalah bahwa wanita tidak boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu dan juga untuk bekeja, yang mana itu berarti ia bekerja mencari nafkah, dan dengan demikian Islam melarang wanita menjadi pemimpin atas kaum pria dan juga memerintah kota. Kalau wanita bekerja mencari nafkah, dan kemudian menjadi pemimpin atas kaum pria, dan juga memerintah kota (seperti halnya kaum pria) maka tidak ada lagi waktu bagi wanita untuk memenuhi kodrat domestiknya. Hal itulah yang merupakan kekejian di dalam Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s