Ketegasan Untuk Domestikalisasi Wanita

Hit the Nail on the Head

Domestikalisasi wanita (ajaran Islam bahwa wanita harus senantiasa tinggal di rumah) merupakan kebaikan dan juga keharusan di dalam hidup ini, dan kebaikan itu disorot oleh dua lembaga paling Agung di Dunia ini, yaitu Alquran plus Alhadis, dan kemudian tulisan para ulama, baik yang dituangkan di dalam buku-buku kertas mau pun yang ditayangkan di dalam berbagai page internet (onground mau pun online).

Namun sungguh pun demikian, tidak sedikit artikel-artikel tersebut yang merupakan tulisan para ulama, yang tidak disertai ketegasan dan kepastian mengenai wajibnya Hukum domestikalisasi wanita tersebut. Pada bagian awal tulisan para ulama tersebut, disebutkan penting dan wajibnya mendomestikalisasi kaum wanita, karena selain merupakan ajaran Islam, juga merupakan tuntutan kehidupan dan tuntutan kodrat. Sampai di sini artikel-artikel itu tampak memberi cahaya terang akan terwujudnya misi Illahi mengenai Agung dan kudusnya umat akibat didomestikalisasikannya kaum wanita. Namun disayangkan, pada bagian berikut dari tulisan para ulama itu, terkadang dituliskan pembolehan kaum wanita untuk keluar rumah, dengan beberapa syarat, tentunya. Hal ini amat disayangkan. Pada bagian pertama ditegaskan bahwa Islam melarang wanita keluar rumah, namun pada bagian berikutnya para ulama menyuarakan bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu. Ketidaktegasan merupakan hal yang jelas terasa dari bagaimana para ulama itu membuat nasihat kepada seluruh umat dan kaum wanita. Dan kalau tidak ada ketegasan, berarti kehancuran seluruh hal yang dipertahankan, sudah di depan mata.

Pertanyaannya adalah, mengapa tidak ada ketegasan? Bukankah sudah jelas bahwa Islam mengharuskan domestikaliasasi wanita? Bukankah sudah jelas dalil ayat dan dalil Alhadisnya? Dan bukankah juga sudah jelas rujukan dari perikehidupan Nabi Muhammad mengenai wajibnya domestikalisasi wanita? Dan juga bukankah sudah jelas kehancuran umat yang diakibatkan dari wanita yang selalu bekerja di luar rumah?

Sebagian ulama yang membolehkan wanita keluar rumah, tampaknya karena mereka tidak menyadari bahwa terdapat hubungan lurus / konsekwensi logis dari wanita yang keluar rumah. Yang benar adalah bahwa mereka (dan seluruh manusia) seharusnya melihat dan menyadari bahwa wanita keluar rumah hanya akan menimbulkan kekacauan dan kebangkrutan hidup di semua lini, selain memahami bahwa wanita keluar rumah sama sekali tidaklah perlu, dan juga tidak membahayakan wanita itu sendiri. Dan kalau para ulama menyadari kebangkrutan hidup yang disebabkan wanita keluar rumah, niscaya mereka akan tegas mengenai wajibnya Hukum mendomestikalisasi kaum wanita.

Sebagian orang yang membolehkan wanita keluar rumah, tampaknya menganggap bahwa ajaran Islam mengenai domestikalisasi wanita hanya merupakan pilihan untuk kesalehan belaka, atau menganggap bahwa domestikalisasi wanita hanyalah retorika yang tidak mempunyai urgensi sama sekali. Namun sebenarnya adalah final, bahwa kalau domestikalisasi wanita tidaklah penting, maka mengapa terdapat ayat mau pun Alhadis yang memerintahkan domestikalisasi wanita? Dan mengapa juga, terdapat kebangkrutan umat yang memilukan yang dilaporkan di mana-mana? Bukankah itu disebabkan karena wanita bebas berkeliaran di tengah kota? Bukankah itu disebabkan karena wanita (dan seluruh umat) tidak lagi menjalani ajaran domestikalisasi wanita?

Ajaran Islam sudah jelas, bahwa wanita diharamkan keluar rumah, namun di luar itu sebagian kecil ulama menyambut ajaran Islam tersebut dengan memberi kebolehan wanita keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu, dengan mencatatkan beberapa hal yang sebenarnya adalah absurd.

Pertama. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja, asalkan berkerudung dan tidak bertabaruj.

Tidak benar. Alquran mau pun Alhadis menggariskan bahwa wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya karena kodratnya adalah tetap di rumahnya, yaitu domestik. Islam memang mengajarkan bahwa wanita harus berkerudung, namun bukan berarti wanita boleh keluar rumah untuk bekerja di dalam keadaan berkerudung. Ketika Alquran menegaskan bahwa wanita harus senantiasa di dalam rumahnya, tidak disebutkan bahwa wanita boleh keluar rumah asalkan berkerudung. Dan ketika Alquran mengajarkan bahwa wanita harus selalu tinggal di dalam rumahnya, ketika itu juga Alquran mengajarkan bahayanya wanita kalau keluar rumah, baik berkerudung mau pun tidak berkerudung.

Saat wanita keluar rumah untuk bekerja, pastilah wanita akan bertabaruj. Tidak mungkin seorang wanita keluar rumah tanpa bertabaruj: berkerudung yang cantik, berbusana yang menarik, mengenakan bedak dan gincu, memakai perhiasan yang indah, mengenakan tas dan sepatu yang indah, dan kemudian mengenakan parfum yang menarik. Instink mereka mempermudah mereka untuk berbuat hal tersebut. Itu merupakan dosa. Namun tanpa tabaruj pun, wanita tetap dilarang keluar rumah kalau tujuannya adalah untuk bekerja dan menuntut ilmu. Tempat wanita adalah di dalam rumahnya.

Oleh karena itu kalau ada ulama yang memberi nasehat bahwa wanita diperbolehkan keluar rumah untuk bekerja atau menuntut ilmu asalkan berkerudung dan tidak bertabaruj, sebenarnya nasehat itu merupakan cara menentang firman Illahi, dan mempermudah kaum wanita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi.

Kedua. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan tidak terjadi khalwat.

Tidak benar. Kalau wanita keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu, maka berkhalwat akan menjadi konsekwensi logis yang harus terjadi. Dan dari berkhalwat ini terjadilah lebih banyak fitnah dan penodaan kesucian, baik kesucian wanita mau pun kesucian pria lain.

Lebih dari itu, tidak ada Alhadis mau pun ayat Alquran yang menyatakan bahwa wanita boleh meninggalkan rumahnya asalkan tidak terjadi khalwat antara pria dan wanita. Anggaplah seorang wanita berada jauh di luar rumahnya dan tidak berkhalwat. Namun bagaimana dengan tugas domestiknya, seperti menyiapkan masakan untuk anak dan suaminya? Apakah memasak dan mencuci baju anak-anak dan suaminya bukan tugas seorang wanita?

Islam melarang berkhalwat, baik untuk pria dan wanita. Dan ingatlah bahwa berkhalwat berpotensi terjadi tanpa pandang tempat mau pun waktu. Artinya, adalah salah kalau berfikir bahwa berkhalwat hanya akan terjadi kalau wanita keluar rumah untuk bekerja atau menuntut ilmu – sehingga (seolah) harus diperhatikan kalau seorang wanita keluar rumah jangan sampai terjadi khalwat, dan (seolah) kalau berkhalwat dapat dihindari maka wanita jadi diperbolehkan keluar rumah.

Oleh karena itu untuk menghindari terjadinya khalwat ini, praktis wanita dilarang keluar rumah kalau tujuannya adalah untuk bekerja dan menutut ilmu. Baik berpotensi terjadi khalwat mau pun tidak, tetaplah seorang wanita tidak diperkenankan untuk keluar rumah. Dengan kata lain, fitnah khalwat bukanlah acuan seorang wanita diperbolehkan untuk bekerja di luar rumah.

Ketiga. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan dapat menjaga kesuciannya.

Tidak benar. Yang benar adalah Alquran mau pun Alhadis mengajarkan bahwa wanita harus selalu tetap di dalam rumahnya, yang mana tujuan / hikmahnya adalah supaya wanita tersebut tetap di dalam kesuciannya, baik sebagai wanita, istri, mau pun sebagai ibu dari anak-anaknya. Tidak ada kesucian bagi seorang wanita kalau wanita tersebut keluar dari rumahnya. Kalau seorang wanita keluar rumah dan dapat menjamin kesucian diri dan keluarganya, mengapa Alquran menegaskan bahwa wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya untuk mempertahankan kesuciannya?

Lebih dari itu, fakta sosial menunjukkan bahwa masyarakat yang mengedepankan hak wanita untuk keluar rumah merupakan masyarakat yang jauh dari kesucian. Artinya, wanita keluar rumah selalu berbanding lurus dengan kenajisan wanita itu sendiri, baik secara individual mau pun secara masyarakat. Kalau kaum wanita sudah hidup di dalam kenajisan, imbasnya adalah bahwa seluruh masyarakat menjadi najis pula, hidup di dalam kenistaan.

Justru Al-Islam mengajarkan bahwa wanita harus senantiasa tetap di dalam rumahnya adalah supaya kaum wanita tetap di dalam kesuciannya. Kemudian bagaimana logika dapat menjelaskan bahwa wanita diperbolehkan keluar rumah asalkan dapat menjaga kesuciannya? Sudah jelas Alquran memberi hubungan yang erat antara kesucian wanita (plus seluruh umat) dengan ajaran wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya.

Lebih tegas lagi, bahwa kesucian wanita bukanlah satu-satunya hal yang harus dipenuhi ketika wanita keluar rumah untuk bekerja – karena intinya, baik dapat menjaga kesucian mau pun tidak, tetaplah seorang wanita harus tinggal di dalam rumahnya, menjaga rumahnya, mengasuh anak-anaknya, menyiapkan makan untuk seluruh keluarganya, dll.

Keempat. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan tugas di rumah sudah selesai.

Tidak benar. Yang benar adalah, kalau seorang wanita keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu, pastilah seluruh tugas rumahnya terbengkalai sedemikian rupa. Lebih tegas lagi, bahwa tidak pernah ada kata selesai untuk pekerjaan rumah (atau pekerjaan domestik). Kalau pun seorang wanita sudah menyelesaikan seluruh tugas domestikanya, bukan berarti wanita tersebut jadi diperbolehkan keluar rumah untuk bekerja mencari uang mau pun ilmu. Artinya, kalau pun seorang wanita sudah menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, maka itulah saatnya untuk beristirahat di dalam rumahnya, mau pun memperbanyak ibadah dan zikir, bukannya keluar dan meninggalkan rumah.

Terlebih lagi kalau wanita tersebut sudah bersuami bahkan sudah mempunyai anak yang harus selalu mendapat perhatian penuh dari sang ibu, maka tidak ada waktu baginya untuk keluar dan meninggalkan rumah. Mengasuh anak misalnya, tidak pernah mengenal kata selesai. Anak harus diperhatikan 24 jam nonstop setiap harinya. Begitu juga dengan membersihkan rumah merupakan pekerjaan 24 jam nonstop setiap harinya, tidak ada kata selesai. Pun kalau memang ada kata selesai, maka sebaiknya wanita tersebut istirahat atau beribadah. Demikian tuntunan Al-Islam.

Kelima. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan tidak meninggalkan kodratnya.

Tidak benar. Yang benar adalah, kodrat wanita adalah tetap tinggal di dalam rumahnya; itulah yang benar. Kodrat wanita adalah mengurus dan mengasihi anak-anaknya. Itu artinya seorang wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya.

Bagaimana mungkin seorang wanita akan tetap di dalam kodratnya sementara ia meninggalkan anak-anaknya, dan kemudian bekerja mencari uang dan nafkah untuk keluarganya? Bukankah mencari uang dan nafkah untuk keluarga merupakan kodrat kaum pria?

Keenam. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan pekerjaannya sesuai dengan kodrat kewanitaannya.

Tidak benar. Yang benar adalah, pekerjaan untuk wanita yang sesuai dengan kodrat kewanitaannya adalah mengurus rumah, anak-anaknya dan menyiapkan keperluan suaminya.

Tidak ada satu pun pekerjaan di luar rumah yang dapat dikatakan sesuai dengan kodrat kewanitaan. Seluruh pekerjaan yang ada di luar rumah merupakan pekerjaaan kaum pria, dan hanya membutuhkan kaum pria untuk menanganinya.

Sekali Allah Swt berfirman bahwa wanita harus senantiasa di dalam rumahnya (Al-Ahzab 33), maka selamanya pekerjaan yang sesuai dengan kodrat kewanitaan di luar rumah (kalau pun ada) tidak mungkin membolehkan wanita keluar rumah.

Ketujuh. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan beroleh ijin dari suami mau pun ayahnya.

Tidak benar. Yang benar adalah, ijin ayah mau pun suami tidak dapat mengalahkan firman Allah Swt (Al-Islam) bahwa wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya. Kalau ada seorang ayah mau pun suami yang memberi ijin wanita keluar rumah untuk bekerja, maka ayah mau pun suami itulah yang telah berdosa. Oleh karena itu setiap ayah mau pun suami (seluruh pria) harus faham ajaran Al-Islam bahwa wanita tidak diperkenankan bekerja mau pun menuntut ilmu.

Kalau seorang ayah mau pun suami mengijinkan wanita untuk bekerja, maka bagaimana dengan tugas dan tanggungjawab sang ayah mau pun suami sebagai pemberi nafkah wanita?

Kedelapan. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan suami mempunyai gaji yang kecil.

Ada beberapa ulama mengajarkan bahwa wanita boleh bekerja dengan alasan untuk membantu suami di dalam hal mencari nafkah dikarenakan gaji yang didapat suami tidak mencukupi, atau suami adalah miskin. Pesan demikian tentu tidak benar. Yang benar adalah, kemiskinan bukanlah alasan untuk menyalahi perintah Illahi. Kemiskinan haruslah diterima dengan penuh ketaqwaan dan kesabaran, bukan disambut dengan mendurhakai ajaranNya.

Kalau gaji sang suami kecil menjadi pembenar seorang wanita bekerja, pastilah seluruh wanita akan mengaku bahwa gaji suami mereka tidak mencukupi, kendati sang suami faktanya mempunyai gaji berjuta-juta, karena ingatlah bahwa banyaknya uang yang didapat dinilai secara relatif dan subjektif. Sebagian orang / wanita akan berkata, gaji suami mereka kecil sehingga tidak dapat membiayai operasional kolam renang pribadi, yang lain akan berkata bahwa gaji suami mereka kecil sehingga tidak dapat menyekolahkan anaknya di luar negeri, dan dengan demikian mereka minta dibolehkan untuk bekerja mencari uang tambahan.

Kalau seorang suami mempunyai gaji yang dengan gaji itu minimal seluruh anggota keluarga dapat makan layak dua kali sehari, dan mempunyai tempat tidur layak, pakaian layak dan tempat tinggal yang layak, maka sebenarnya suami dan keluarganya tidak dapat dikatakan miskin atau bergaji kecil. Dengan demikian sang istri tidak mempunyai alasan pembenar untuk bekerja mencari uang. Dan kalau pun ada suami yang kemampuan finansialnya tidak dapat mencukupi keadaan minimal tersebut, barulah sang istri dapat dibenarkan untuk bekerja. Namun kemudian, apakah mungkin ada seorang manusia (suami atau seorang lelaki) yang pendapatan dari bekerjanya tidak dapat mencukupi kebutuhan minimal tersebut? Tampaknya sangat (50x) mustahil.

Juga harus diperhatikan keberadaan anak laki-laki dari si wanita ini. Kalau suami mempunyai gaji yang kecil (itu pun sangat mustahil), namun apakah si istri ini mempunyai anak laki-laki yang sudah dapat mencari uang / nafkah? Kalau si anak sudah mempunyai kemampuan dan kewajiban untuk bekerja mencari uang, maka si ibu / wanita / istri ini pun tidak dibenarkan untuk bekerja, karena sudah ada anaknya laki-laki yang menjadi penanggung rejekinya sekeluarga.

Kesembilan. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, asalkan suami tidak dapat memberi nafkah.

Tidak benar. Kalau suami tidak dapat memberi nafkah, seperti dikarenakan penyakit permanen mau pun lumpuh, maka bukannya wanita itu yang memperoleh ijin bekerja, melainkan suami tersebut sudah memenuhi hak untuk dicerai dan kemudian mendapatkan suami baru yang dapat menafkahinya. Tugas suami adalah memberi nafkah istrinya, dan kalau tanggungjawab tersebut tidak dapat dipenuhi suami maka sebenarnya rumahtangga tersebut tidak lagi mempunyai alasan untuk dilanjutkan. Seorang pria dinikahi tentunya adalah untuk dapat menanggung nafkah si istri dan anak, lain tidak. Kalau bukan karena alasan tersebut tentulah tidak ada pernikahan yang melibatkan wanita yang dimaksud.

Juga harus diperhatikan, apakah ketika suami lumpuh atau tidak dapat lagi bekerja, si istri telah melahirkan anaknya laki-laki yang sudah dapat mencari nafkah. Kalau seorang wanita sudah mempunyai anak laki-laki yang sudah dapat mencari nafkah, sementara suaminya lumpuh dan karenanya tidak dapat mencari nafkah, tetaplah wanita ini tidak mempunyai alasan pembenar untuk bekerja. Cukuplah baginya anaknya yang laki-laki yang menanggung nafkah ibu-bapaknya.

Kesepuluh. Ulama berkata bahwa wanita boleh bekerja, kalau dia adalah seorang janda.

Tidak benar. Kalau seorang wanita menjadi janda sehingga tidak ada yang menafkahinya, itu berarti si janda harus dinikahkan untuk mendapatkan suami baru. Ingat, Muhammad Saw mengisyaratkan bahwa di dalam umat Muslim tidak sepatutnya ada janda mau pun duda, bahkan bujang dan gadis pun sepatutnya tidak ada, karena semua sudah diperjodohkan sesegera mungkin. Di dalam suatu Alhadis disebutkan,

Sungguh sejahat-jahat kamu adalah yang hidup sendirian, dan sebusuk-busuk bangkai di antara kamu adalah yang mati di dalam keadaan sendirian; maka menikahlah kamu, karena sungguh menikah itu adalah sunnahku – Alhadis (maaf saya mohon koreksi untuk melengkapi bunyi Alhadis ini. Terima kasih).

Untuk bujang pun juga demikian, berikut Alhadis-nya,

Ketika seorang pemuda menikah pada usia yang amat muda – maka menjeritlah Iblis, ‘aduhai tertutuplah sudah jalan bagiku untuk menjerumuskannya berbuat dosa!’ – Alhadis (maaf saya mohon koreksi untuk melengkapi bunyi Alhadis ini. Terima kasih).

Sungguh tergesa-gesa itu adalah sifat Iblis, kecuali atas 5 perkara: (1) – bertobat, (2) – membayar hutang, (3) – menikahkan gadis, (4) – melayani tamu, (5) – dan menguburkan jenazah – Alhadis (maaf saya mohon koreksi untuk melengkapi bunyi Alhadis ini. Terima kasih).

Dua Alhadis di atas menjelaskan bahwa baik gadis mau pun bujang seharusnya-lah segera dinikahkan, sehingga dengan demikian di dalam Al-ummah tidak ada lagi bujang mau pun gadis karena mereka semua sudah dinikahkan, maka demikian juga dengan para janda dan duda.

Artinya kalau Al-Ummah menjalankan syariah Islam secara kaffah, maka tidak akan ada golongan janda dikarenakan mereka semua sudah dinikahkan kembali dengan suami baru, dan kemudian suami baru mereka inilah yang akan menafkahi para wanita ini.

Kesebelas. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja, asalkan terjamin keamanannya.

Tidak benar. Yang benar adalah, pelarangan Islam atas wanita untuk bekerja bukanlah berdasarkan aman atau tidak aman, namun semata karena kodrat, kemaslahatan anak, kesucian dan beberapa hal penting lainnya.

Anggaplah seorang wanita dapat keluar rumah untuk bekerja mencari uang karena terjamin keamanannya, namun bukankah hak anak-anak menjadi tidak aman yaitu tidak lagi mendapat pengasuhan dan pemeliharaan semestinya dari sang ibu?

Kalau ada seorang ulama menitahkan bahwa seorang wanita boleh keluar rumah untuk bekerja mencari uang selama ada jaminan keamanan baginya, berarti titah ulama tersebut secara implisit menyatakan bahwa seluruh umat harus mengusahakan keamanan maksimal agar dengan demikian wanita dapat bekerja, dan dengan demikian meninggalkan kodrat kewanitaan dan keibuannya. Titah seperti ini sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Baik aman atau tidak aman, tetaplah seorang wanita harus tinggal di rumahnya untuk menyelenggarakan seluruh tugas domestiknya.

Keamanan untuk kaum wanita akan tercipta selama wanita tersebut tetap berada di dalam rumahnya, bukan keluar rumah. Mustahil terdapat jaminan keamanan untuk wanita kalau wanita tersebut pergi meninggalkan rumahnya.

Keduabelas. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja, asalkan mempunyai jabatan penting dan mendesak.

Tidak benar. Yang benar adalah, bahwa pekerjaan dan jabatan terpenting untuk wanita adalah jabatan mengurus anak-anak dan menjaga rumah serta memenuhi seluruh kebutuhan suami. Tetap di rumah selama masa mengandung, dan kemudian masa menyusui anak, dan kemudian juga mengurus anak-anak serta memenuhi semua kebutuhan suami adalah amat mendesak untuk dipenuhi oleh seorang wanita, dan itu artinya wanita tersebut tidak mempunyai waktu sedetik pun untuk pergi meninggalkan rumahnya.

Tidak ada yang lebih penting bagi seorang wanita selain pekerjaan mengurus anak-anaknya dan juga melindungi kesucian diri dan keluarganya, dan hal itu hanya dapat terpenuhi kalau seorang wanita tetap tinggal di dalam rumahnya. Pentingnya jabatan Presiden yang dipangku seorang wanita, sebenarnya tidak lebih penting dari jabatannya mengurus anak-anak.

Anggap saja jabatan Presiden yang maha penting itu dipangku seorang wanita. Ini artinya negara telah merampas hak anak-anaknya untuk mendapatkan perhatian dan pengasuhan dari ibu mereka. Dan itu merupakan kekejian yang amat memilukan atas hak anak-anak, sekaligus awal malapetaka bagi umat.

Ketigabelas. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja demi emansipasi wanita / persamaan gender.

Tidak benar. Yang benar adalah bahwa Islam tidak pernah mengajarkan emansipasi mau pun persamaan gender. Kebalikannya Islam mengajarkan bahwa antara pria dan wanita haruslah hidup di dalam kodrat yang berbeda, dan oleh karena itu tidak dibenarkan untuk dipersamakan. Di dalam banyak Alhadis pun diungkapkan bahwa seharusnya pria dan wanita saling menselisihi, saling memperbedakan satu sama lain, jadi tidak boleh dipersamakan sama sekali: pria adalah pria, dan wanita adalah wanita. Seperti ayat di dalam Alquran,

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan…” (QS. Ali Imran: 36)

Tidak ada satu pun agama di Dunia ini yang mengajarkan emansipasi wanita mau pun persamaan gender, justru semua agama yang ada di Dunia ini memperbedakan antara pria dan wanita, karena secara kodrat mereka memang berbeda. Kalau wanita dan pria harus sama, tentu tidak ada gunanya mengapa harus ada dua jenis kelamin.

Emansipasi wanita dan juga persamaan gender merupakan suatu ideologi yang datang dari Barat yang sekuler, sementara sekuler itu sendiri merupakan kesesatan di dalam Islam. Tidak lah pantas umat Muslim meniru dan mengagungkan suatu ajaran yang datangnya dari luar Islam, pun dari belantara sekulerisme, sementara Alquran dan Alhadis sendiri melarang adanya persamaan gender dan emansipasi wanita tersebut, seiring dengan pelarangan faham sekulerisme.

Mengamalkan ideologi persamaan antara pria dan wanita (seperti yang tertuang di dalam cita-cita emansipasi wanita dan juga persamaan gender) merupakan dosa besar di dalam Islam, juga terkutuk karena hal tersebut tidak ada di dalam tuntunan dan risalah Muhammad Saw. Mengait-ngaitkan antara emansipasi wanita dan juga persamaan gender dengan esensi ajaran Islam, merupakan suatu bidah yang akan memperoleh balasan Neraka karena tidak akan diterima sebagai umat Muhammad Saw.

Singkat kata, Islam mengajarkan pembedaan kodrat antara pria dan wanita, sementara Dunia sekuler ingin mempersamakan antara mereka berdua, ini berarti telah terjadi perlawanan terhadap ajaran Muhammad Saw.

Keempatbelas. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja karena Islam sangat menghormati hak kaum wanita.

Tidak benar. Wanita mempunyai hak, kaum pria pun juga mempunyai hak. Bahkan Allah Swt dan para Malaikat juga mempunyai hak, sementara hak itu hanya Allah-lah yang berhak untuk menentukan dan mengajarkannya. Dengan kata lain, manusia tidak mempunyai hak dan kompetensi untuk membicarakan hak siapa pun atau apapun.

Hak pria mau pun wanita, seluruhnya dikembalikan kepada titah Allah Swt yang tertulis baik di dalam Alquran mau pun Alhadis. Dan hak untuk kaum wanita itu adalah tetap tinggal di dalam rumahnya, memperoleh nafkah dari suaminya, dan juga memperoleh hak waris dari berbagai sumber. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa wanita berhak keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karena hal tersebut merupakan kodrat kaum pria.

Kelimabelas. Ulama berkata bahwa wanita boleh keluar rumah untuk bekerja jika wanita mempunyai kecerdasan yang tinggi.

Tidak benar. Tidak ada ayat Alquran mau pun Alhadis yang menyebutkan bahwa wanita dibenarkan untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang jika wanita tersebut mempunyai kecerdasan yang tinggi. Ketika Alhadis mau pun Alquran mengajarkan bahwa wanita harus senantiasa di rumah, itu pun tidak menyebutkan bahwa wanita harus senantiasa di rumah karena wanita pada umumnya tidak mempunyai kecerdasan yang tinggi.

Anggaplah wanita yang mempunyai kecerdasan tinggi dibenarkan untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang. Ini artinya wanita tersebut akan meninggalkan kewajibannya membesarkan dan mengasuh anak-anaknya, dan juga meninggalkan kewajibannya menyediakan seluruh keperluan suaminya, dan juga wanita ini akan menggadaikan kesuciannya baik sebagai wanita, istri mau pun sebagai ibu. Ini tentunya menciptakan fikiran bahwa Islam membenarkan seorang wanita cerdas meninggalkan anak-anaknya tanpa mendapat asuhan darinya, dan membenarkan seorang wanita melanggar kesucian dirinya sendiri. Dan di lain pihak, pembolehan ini membenarkan suaminya untuk tidak lagi memberi nafkah kepadanya karena si wanita ini telah mempunyai penghasilan sendiri. Konsekwensinya adalah, ayat Alquran yang menegaskan bahwa kewajiban suami adalah menafkahi istrinya, menjadi salah dan tidak lagi akurat! Ini sungguh di luar dugaan.

Intinya, kodrat bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan mau pun kekayaan. Kodrat wanita di dalam hal ini adalah tetap tinggal di dalam rumahnya karena pekerjaan wanita berada di dalam rumahnya.

Kecerdasan seorang wanita hanya dapat terujud kalau wanita tersebut tetap tinggal di dalam rumahnya, bukan dengan keluar rumah.

Tidak ada nash dari Alhadis yang mengedepankan peran wanita di luar rumah, sementara kisah kehidupan Nabi Muhammad Saw yang menekankan pentingnya peran wanita di dalam rumah – dan kodrat domestiknya – haruslah direfleksikan menjadi pengamalan nyata bagi seluruh umat Muslim.

Oleh karena itu ketegasan dibutuhkan khususnya oleh para ulama dan dai saat mereka memberi pengarahan mengenai ruang lingkup yang harus ditaati oleh kaum wanita. Ketegasan itu adalah bahwa wanita harus tinggal di dalam rumahnya, dan (a) tidak keluar rumah (b) untuk bekerja mencari uang atau nafkah.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s