Kisah Para Gembel Memasuki Ruang Pesta Megah

18-kisah-para-gembel-memasuki-ruang-pesta-megah

Alkisah, tersebutlah sebuah gedung megah yang di dalamnya akan diselenggarakan sebuah pesta megah dan Agung. Gedung ini terletak di Pusat kota yang ramai dan megah pula. Namun sungguh pun begitu, di kota ini juga terdapat kaum gembel yang kotor dan jorok, hidup penuh kenistaan dan kejijikan. Mereka adalah kaum yang tidak beruntung, baik secara ekonomi, cara berfikir, mau pun secara keturunan keluarga.

Pesta di dalam gedung.

Ruang utama di dalam gedung itu sekarang sudah disiapkan untuk menjadi tempat diselenggarakannya sebuah pesta yang megah dan Agung. Di dalam gedung itu sudah dipasang kelambu-kelambu raksasa yang Agung dan megah, berwarna merah, biru, hijau dan juga ungu yang menawan. Di beberapa sudut dipasang bunga-bungaan yang mempesona. Meja-meja sudah dihias beraneka warna taplak yang cantik, dan di atasnya sudah diletakkan segala jenis hidangan yang mengundang selera. Lampu-lampu kristal yang anggun sudah dipasang di langit-langit ruangan dan siap memancarkan cahaya kemenangan dan kemegahan yang tiada taranya. Lantai sudah ditutup permadani yang besar, megah dan empuk; pastilah permadani tersebut merupakan permadani paling berat yang pernah ada di Dunia ini.

Di beberapa sudut juga sudah diletakkan pengharum ruangan yang dapat memancarkan wangi-wangi bunga setaman yang akan membuat para undangan merasa nyaman. Tidak ketinggalan kursi-kursi antik nan menawan juga sudah disusun indah di penjuru ruangan sehingga menyempurnakan ruangan tersebut untuk dijadikan tempat penyelenggaraan pesta nan megah.

Tamu-tamu yang diundang, yang akan menghadiri pesta di gedung tersebut, juga merupakan manusia-manusia unggul yang penuh dengan etika dan estetika. Mereka bukanlah manusia-manusia sembarangan, yang berkelakuan kasar dan tidak sopan; mereka mempunyai standard hidup yang tinggi dan Agung. Yang jelas mereka semua adalah individu-individu yang secara ekonomi adalah lebih dari mapan, gemah ripah loh jinawi. Semua perabotan di rumah mereka adalah perabotan yang mahal, cantik dan megah. Sedikit saja ada kotoran langsung disingkirkan oleh pelayan-pelayan mereka. Mereka adalah sekelompok manusia yang akan segera menjauh kalau ada ketidakberasan seperti bau busuk, kotoran, sampah, dan lain lain.

Para gembel kota.

Di luar gedung, hiduplah kaum gembel yang malang. Mereka hidup di dalam suasana penuh keterpaksaan, mereka hidup dan makan dari remah makanan yang telah membusuk, bau dan berbelatung. Mereka biasanya tinggal di bawah saluran air yang pengap dan gelap, penuh kecoa dan ulat yang menjijikkan. Mereka tidak pernah mandi, dan mereka pun enggan mandi. Baju mereka, tubuh mereka, rambut mereka, gigi mereka, mulut mereka, jari jemari mereka, penuh dengan kotoran dan segala macam kejijikan yang tiada tara. Jangan pernah ingin tahu bagaimana aroma busuk yang menyertai mereka. Di mana mereka berada, pasti di sanalah sumber bau busuk yang menyesakkan dada. Namun sungguh pun demikian, tetaplah mereka juga manusia-manusia biasa, yang mempunyai perasaan.

Sesuai dengan saat yang telah disebutkan, berdatanganlah para tamu undangan ke gedung tersebut. Mereka datang menghadiri pesta tersebut di dalam balutan busana yang mahal dan megah, lengkap dengan perhiasan emas dan berlian, dan juga disaput parfum yang mahal-mahal.

Tidak dipermanai sistem pengamanan yang meliputi gedung tersebut. Semua pintu masuk gedung dijaga oleh para penjaga untuk memastikan bahwa hanya tamu undangan saja yang bisa masuk ke dalam gedung. Terdapat peraturan yang diberlakukan secara tegas, bahwa para gembel tidak diperkenankan masuk, apapun alasannya. Kalau ada satu gembel masuk pasti akan ada kekacauan yang tidak dapat dihindari.

Setelah seluruh tamu undangan memenuhi gedung, pesta dimulai dengan begitu semarak. Sementara di luar gedung, para gembel mendongakkan wajah mereka untuk sekedar melihat dan mengintip kemeriahan yang ada di dalam gedung tersebut. Sungguh pun demikian para penjaga tetap melarang para gembel tersebut untuk mendekat, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan. Yang jelas toh para penjaga juga tidak tahan dengan bau busuk yang dikeluarkan oleh para gembel tersebt. Intinya, ketegasan para penjaga keamanan gedung amat menentukan kesuksesan acara yang berlangsung di dalam gedung tersebut.

Di antara para gembel tersebut terdapat seorang gembel yang amat ingin tahu dan ingin masuk ke dalam gedung pesta. Tentu saja ia akan dilarang oleh para penjaga keamanan, karena gembel tersebut tidak memiliki undangan pesta. Namun tetap saja si gembel ini berkeras ingin masuk dan ingin menikmati pesta yang mewah ini. Ia tampak membujuk para penjaga keamanan supaya diijinkan masuk. Para penjaga tetap pada peraturan bahwa para gembel tidak diperkenankan masuk, apalagi para gembel tersebut tidak memiliki kartu undangan.

Namun kali ini lain. Sang gembel pandai sekali membujuk para penjaga. Dan pada akhirnya, baik karena keteledoran penjaga keamanan dan juga karena kemahiran sang gembel di dalam membujuk para penjaga keamanan, gembel tersebut akhirnya dapat menerobos barikade petugas keamanan, ia melenggang masuk dengan langkah cepat dan tergesa-gesa ke dalam gedung karena ingin masuk dan menikmati kemegahan pesta.

Singkat kata, gembel ini sudah berada di lobi gedung, dan tinggal berapa langkah lagi ia akan berada di dalam aula utama tempat diselenggarakannya pesta megah tersebut.

Sang gembel yang berbau busuk, dan berpenampilan menjijikkan itu melangkahkan kakinya ke dalam aula ruang utama gedung. Serta merta seluruh tamu undangan menolehkan pandangan mereka kepada gembel ini. Para tamu undangan terperangah bukan kepalang karena di antara mereka yang berbusana mewah dan wangi terdapat seorang gembel yang berbau busuk dan berpenampilan menjijikkan ini. Dan di dalam waktu sekejap, bau busuk sang gembel sudah menyergap memenuhi seluruh ruangan pesta itu.

Para tamu undangan langsung menutup hidung mereka. Mereka pun terheran-heran mengapa ada gembel masuk ke dalam ruang pesta itu. Mereka tidak dapat berkata-kata, apalagi mengusir, namun yang jelas mereka amat muak.

Tidak lama kemudian, dikarenakan bau busuk si gembel ini, banyak tamu undangan yang akhirnya mual, muntah-muntah, meludah karena jijik, dan banyak yang lainnya meludahkan makanan yang sedang mereka makan, karena jijik terhadap gembel ini. Keadaan menjadi kacau. Satu persatu tamu undangan limbung dan tersungkur karena tidak tahan menahan bau busuk, dan terhadap pemandangan yang menjijikkan ini. Singkatnya, kekacauan dan kepanikan melanda seluruh gedung.

Gembel ini tidak mengerti bahwa kekacauan yang pecah di dalam ruangan pesta tersebut adalah karena dirinya. Kalau gembel ini tidak pernah ada di dalam gedung ini, pastilah kekacauan dan kepanikan itu tidak pernah terjadi. Namun gembel tetaplah seorang gembel yang tidak mempunyai pemikiran yang baik.

Melihat kekacauan itu, si gembel merasa terpanggil untuk membantu para tamu undangan yang tersungkur dan muntah-muntah. Gembel itu mendatangi satu persatu tamu undangan yang muntah-muntah dan sempoyongan dengan maksud untuk memberi pertolongan. Justru dengan mendatangi dan menolongi para tamu itu, para tamu semakin muntah dan mual. Itu semua dikarenakan bau busuk si gembel. Namun tetap saja si gembel tidak faham.

Si gembel ini segera berlari keluar gedung untuk menemui gembel-gembel lain supaya para gembel kota masuk ke dalam gedung untuk memberi pertolongan kepada para tamu undangan yang muntah-muntah dan mual, sakit perut, pusing, pingsan, dan sempoyongan. Maka berhamburanlah lebih banyak gembel masuk ke dalam gedung dengan niat memberi pertolongan kepada para undangan yang sempoyongan dan muntah-muntah …..

Alangkah lebih paniknya keadaan di dalam gedung tersebut diakibatkan makin banyaknya gembel yang masuk ke dalam ruang resepsi. Semakin banyak gembel yang masuk maka semakin banyak kekacauan dan kepanikan yang ditimbulkan, dan semakin banyak tamu undangan yang limbung tersungkur dikarenakan bau busuk dari para gembel kota ini.

Ironis, para gembel tidak pernah faham bahwa seluruh kekacauan dan kepanikan itu sebenarnya disebabkan oleh mereka sendiri (yaitu bau busuk dan tampilan yang menjijikkan yang berasal dari mereka sendiri), hanya saja para gembel itu tidak bisa berfikir. Memang benar bahwa mereka mempunyai maksud dan niat yang baik yaitu ingin menolongi para undangan, namun toh fikiran mereka tidak sampai ke arah tersebut. Semakin banyak mereka masuk ke dalam gedung, semakin kacaulah keadaan di dalam gedung tersebut.

Satu-satunya cara untuk memulihkan keadaan di dalam gedung tersebut adalah, keluarkan seluruh gembel satu persatu dari dalam gedung tersebut. Dan jangan biarkan para gembel itu memberi pertolongan kepada para tamu undangan, karena pertolongan yang mereka berikan justru akan mengacaukan dan memualkan para undangan. Tempat para gembel adalah di luar gedung, bukan di dalam gedung.

Kalau gembel-gembel itu ingin menolong untuk memulihkan keadaan di dalam gedung, dan ingin memulihkan kesehatan para tamu, maka mulailah dengan menjauhi dan meninggalkan gedung tersebut. Menolong bukan dengan cara mendekati para tamu, namun menolong adalah dengan cara menjauhi para tamu, dan mengosongkan ruang pesta tersebut dari para gembel. Itulah yang benar dan tepat.

Kalau para gembel sudah dikeluarkan dari dalam gedung, pasti keadaan di dalam gedung akan berangsur pulih, karena bau busuk telah hilang, pun tampilan yang menjijikkan juga telah hilang.

Jadi intinya, seluruh kepanikan, seluruh kekacauan, seluruh kehancuran dan kebobrokan yang terjadi di dalam gedung tersebut, disebabkan oleh mereka para gembel. Satu saja gembel masuk ke dalam gedung maka akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran. Dan kalau tidak ada satu pun gembel yang berada di dalam gedung tersebut, maka ketertiban akan terus terjaga.

Amat tepat kalau dikatakan bahwa inti permasalahan ini terletak pada daya berfikir semua orang yang terlibat. Baik para gembel dan juga para undangan berfikir, bahwa para gembel dapat memberi bantuan kalau mereka berada di dalam gedung. Padahal itu salah. Dengan berada di dalam gedung saja sebenarnya sudah menimbulkan kekacauan dan kehancuran, apalagi memberi pertolongan di dalam gedung tersebut? Dan meski tujuan mereka berada di dalam gedung adalah memberi bantuan, tetap itu adalah salah.

Ringkas kata, kalau semua ingin berjalan dengan baik, maka masing-masing komponen harus tetap berada di tempatnya. Kalau ada satu komponen menyebrang ke tempat yang bukan tempatnya maka pasti akan terjadi kekacauan.

Memahami Perumpamaan untuk wanita.

Kisah di atas adalah perumpamaan untuk menggambarkan kesalah-berfikiran mengenai peran wanita di luar rumah. Pada saat masyarakat memutuskan bahwa wanita mempunyai tanggungjawab di luar rumah untuk menyelesaikan atau memperbaiki kehidupan, maka pada setiap langkah pertama dari keputusan tersebut merupakan kesalahan yang akan merugikan masyarakat itu sendiri secara keseluruhan.

Sejatinya lebensraum kaum wanita adalah domestik yaitu tetap di rumahnya karena begitu banyak tugas yang dapat dan harus diselesaikan seorang wanita di dalam rumahnya, dan itu merupakan kodrat wanita. Dengan seluruh kaum wanita tetap berada di rumahnya maka masyarakat tersebut akan tetap berada di dalam ketertiban, kemuliaan, ketangguhan dan kedamaian di dalam harmoni tulen.

Kebalikannya, jika wanita keluar rumah dan meninggalkan seluruh tugas domestiknya di rumah, maka satu demi satu kekacauan akan menggerogoti integritas dan keutuhan masyarakatnya, hal tersebut tidak dapat diingkari dan disembunyikan. Anak yang tidak mendapat perhatian ibunya, wanita yang berselingkuh dengan pria lain di tempat kerja, para gadis yang meremehkan kesucian diri mereka, suami yang kehilangan kehangatan di dalam rumahtangganya, kaum pria yang tercerabut dari kesempatan kerja sehingga terpaksa menjadi pengangguran, merupakan kekacauan mendasar yang akan menghancurkan sendi-sendi masyarakat tersebut.

Dan dengan mematangkan konsep bahwa wanita mempunyai peran di luar rumah, maka sama saja dengan para gembel yang berbau busuk dan berpenampilan menjijikkan, masuk ke dalam ruang pesta yang Agung dan megah, di mana di dalam aula pesta tersebut para gembel itu akan memicu terjadinya kekacauan dan kepanikan yang luar biasa. Kalau para gembel itu menimbulkan kekacauan di dalam aula pesta, maka wanita itu menimbulkan kekacauan pada ruang masyarakat kalau kaum wanita keluar rumah dan meninggalkan kodrat domestik mereka.

Keadaan di dalam ruang aula hanya akan kembali membaik kalau seluruh gembel dikeluarkan dari aula pesta, hal itu dapat disamakan dengan keadaan suatu masyarakat yang akan membaik kalau seluruh wanita yang beroperasi di luar rumah ditarik mundur dan kembali ke rumah mereka untuk menjalankan kodrat domestik mereka.

Seluruh kekacauan dan kebangkrutan (sosial) yang menjadi fakta di tengah masyarakat dewasa ini merupakan akibat lurus dari pematangan konsep bahwa wanita mempunyai tugas di luar rumah, dan dengan demikian menanggalkan kodrat domestik mereka. Dan ketika kekacauan masyarakat tersebut terjadi, lagi-lagi banyak orang berfikir bahwa wanita mempunyai panggilan suci untuk turut menyelesaikan masalah sosial tersebut. Akibatnya, kekacauan semakin menjadi-jadi. Babak pertama, wanita keluar rumah untuk turut beroperasi. Dari babak ini muncullah kekacauan dan kebangkrutan sosial. Babak kedua, mengenai kebangkrutan sosial ini, banyak warga yang berfikir bahwa wanita akan mempunyai sumbangsih nyata untuk turut menyelesaikan kekacauan ini, maka lebih banyak wanita dikeluarkan dari rumah mereka. Akibatnya kekacauan dan kebangkrutan menjadi kekacauan-kwadrat: kekacauan dibalas dengan kekacauan.

Kalau ingin menyelesaikan dan memberantas kekacauan sosial, maka akar dari permasalahan tersebut harus lah diberantas sejak awal, yaitu wanita keluar rumah. Dengan kata lain kalau ingin memberantas seluruh masalah sosial, tindakan yang paling perlu dan mendasar adalah memberantas ide wanita keluar rumah, itu berarti Domestikalisasi wanita; bukannya dengan memperbanyak wanita yang keluar rumah. Memperbanyak wanita keluar rumah justru akan menambah parah kejatuhan dan kebangkrutan sosial.

Tempat wanita adalah di dalam rumahnya sendiri, yaitu domestik. Wanita yang keluar rumah merupakan pangkal seluruh kekacauan sosial dan kebangkrutan hidup di Dunia ini. Tidak ada satu teori pun yang mendukung ide bahwa wanita mempunyai hak dan peran di luar rumah.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s