Larangan Wanita Keluar Rumah

19-larangan-wanita-keluar-rumah

Darmiono

Assalamu`alaikum ustadz, saya mau nanya, bolehkah wanita keluar rumah jika tidak didampingi oleh suaminya atau mungkin muhrimnya? Kendatipun keluarnya untuk berdakwah? Sekian aja pertanyaan dari saya. jazakumullau khoiron atas jawabannya. Wassalamu`alaikum.

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d.

Masalah wanita keluar rumah, para ulama memiliki pandangan yang bervariasi tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihatnya. Dan juga pengertian keluar rumah itu, apakah maknanya pergi ke tempat di sekitar tempat tinggalnya atau bepergian sampai ke luar kota. Tentu saja akan berbeda hukumnya. Namun bahwa seorang wanita berhak ke luar dari rumahnya misalnya untuk ke masjid menghadiri shalat jamaah, atau ke majelis taklim dan ataupun juga melakukan aktifitas hariannya seperti mengajar dan seterusnya, hal itu dibolehkan asal tidak ada fitnah dan madharat yang lebih besar. Namun untuk itu perlu adanya izin dari suaminya. Selain itu, tugas dan tanggung jawab utamanya di rumah untuk mendidik anak dan mengatur rumah tangga seharusnya diselesaikan dengan baik, agar jangan sampai dia sukses di luar, namun terbengkalai di dalam rumah tangganya sendiri.

Apalah artinya semua kesuksesan di luar kalau di dalam rumah tangganya sendiri berantakan. Apalagi untuk anak-anak yang menjadi tanggung jawab orang tua terutama ibu yang menjadi guru dan teladan sejak mereka masih kecil. Kepada siapakah anak-anak itu akan mencontoh bila bukan dari ibu mereka? Apakah mereka harus mendapat asuhan dari pembantu? Sejauh mana para pembantu itu mengerti dan menguasai metode pendidikan anak? Jadi peran ibu rumah tangga sangat penting dan keberadaan mereka di dalam rumah sungguh sangat berarti. Apalagi bila dia memiliki suami yang bekerja lelah seharian di luar. Tentu ketika pulang ke rumah membutuhkan perhatian dan pelayanan dari sang istri. Tapi bagaimana istri bisa memberi perhatian yang maksimal kalau ternyata dia sendiri pun sama-sama lelahnya karena seharian di luar rumah? Bahkan bisa jadi lebih lama pulangnya. Kalau kejadian seperti itu hanya untuk sekali dua kali, mungkin para suami akan maklum. Tapi kalau hal itu terjadi setiap hari atau sering kali terjadi, maka sedikit banyak akan berpengaruh juga para harmonisasi hubungan mereka. Sekuat dan semengerti apapun, seorang suami adalah manusia juga yang normal dan membutuhkan kehadiran istrinya di rumahnya. Seorang istri dibolehkan keluar rumah atas izin suaminya, namun tentu harus proporsional dan tidak melupakan peran utamanya di dalam rumah tangganya.

Adapun dalam kasus keluar rumah bersama mahram, kebanyakan dalilnya berkaitan dengan perjalanan keluar kota (safar). Sedangkan bila ke luar di dalam tempat tinggalnya, tidak terlalu dibutuhkan mahram / suami yang mendampinginnya asal aman dari fitnah dan aman dari semua hal yang ditakutinya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

** Terambil http://syariahonline.com/v2/fiqih-wanita/2495-larangan-wanita-keluar-rumah.html

————————————

ANNISANATIONPaparan di atas sudah dapat dikatakan benar, yaitu bahwa tempat wanita adalah di dalam rumahnya. Wanita haruslah sukses di dalam mengurus domestiknya, bukan sukses dalam bidang lain; dan jangan sampai urusan domestiknya terbengkalai karena wanita meninggalkan rumah.

Di dalam paparan di atas disebutkan peran pembantu; bahwa kalau wanita / ibu keluar rumah maka siapakah yang akan mengasuh anak-anak? Apakah akan diserahkan kepada pembantu? Posisi Islam di dalam hal pembantu sudah jelas, bahwa Islam melarang adanya profesi pembantu. Kalau di dalam sebuah rumah (rumahtangga) tidak ada pembantu (menuruti ajaran Islam), mau tidak mau peran mendidik dan mengasuh anak merupakan tanggungjawab seorang ibu semata. Untuk lebih jelas mengenai haramnya profesi pembantu ini, baca di sini,

Pembantu rumahtangga adalah haram di dalam Islam

Paparan di atas juga menyebutkan bahwa suami yang lelah seharian bekerja membutuhkan peran istri di rumah untuk memberikan perhatian dan pelayanannya. Oleh karena itu istri harus tetap di dalam keadaan yang segar dan kondisi prima untuk tujuan tersebut, dan tujuan tersebut hanya dapat dicapai kalau wanita istri itu tetap di rumahnya. Itulah sebabnya Islam mengajarkan larangan atas wanita untuk keluar rumah dan bekerja.

Kembali ke pertanyaan yang mendasari paparan ini, apakah wanita kalau keluar rumah harus ditemani mahramnya kendati tujuannya adalah untuk berdakwah?

Jawabannya adalah standard, pertama bahwa, untuk tujuan apapun, wanita dilarang keluar rumah. Kalau untuk tujuan insidensil, mungkin tidak mengapa. Memang benar bahwa Islam mengajarkan wanita kalau keluar rumah harus ditemani mahramnya. Namun bukan berarti keluar rumahnya itu ‘dilembagakan’ seperti rutin keluar rumah, atau untuk bekerja, dan lain lain. Intinya wanita tetaplah harus diam di rumah, dan kalau suatu waktu harus keluar rumah juga maka harus ditemani mahramnya.

Kemudian jawaban kedua adalah untuk bagian terpentingnya, dikatakan bahwa apakah wanita boleh keluar rumah untuk tujuan berdakwah, seperti menjadi pembicara pada sebuah Majelis taklim, mengajar agama, memberi ceramah dan lain lain?

Adalah aneh kalau umat mengadopsi istilah ‘wanita berdakwah’ ini. Seorang wanita keluar rumah untuk berdakwah, berdakwah di mana, kepada dan untuk siapa? Mungkin kondisinya adalah wanita ini berdakwah dengan memberi ceramah untuk kalangan ibu-ibu pengajian di sebuah Masjid.

Ingatlah, bahwa bagaimana mungkin seorang wanita keluar rumah untuk berdakwah, sementara kodrat domestiknya tidak dipenuhi? Yang terpenting bagi seorang wanita adalah kodrat domestiknya, bukan berdakwah. Kalau seorang wanita menguasai cara berdakwah berarti wanita tersebut faham agama. Dan kalau wanita itu faham agama, artinya wanita itu harus selalu diam di rumahnya, tidak ada kemungkinan lain. Ingatlah, saat seorang wanita keluar rumah untuk berdakwah, maka pada saat yang sama ia telah melanggar ajaran agama yang paling esensial yaitu diam di rumahnya. Pada akhirnya tentulah wanita itu tidak faham agama sedikit pun.

Kalau seorang wanita ingin beribadah dan berdakwah, maka jawabannya adalah tetaplah di rumahnya: itulah ibadah dan dakwah yang tepat bagi seorang wanita. Dengan tetap di rumahnya, ia telah beribadah, karena telah menunaikan kewajibannya sebagai wanita dan istri, sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Dan ia pun telah berdakwah, yaitu berdakwah kepada anak-anaknya. Hanya itu yang diinginkan Allah Swt.

Dakwah seorang wanita yang berilmu bukanlah kepada individu atau wanita lain atau ibu-ibu pengajian, bukan. Dakwah seorang wanita yang berilmu adalah dakwah kepada anak-anaknya. Itu sudah tepat, sesuai dengan tuntunan Muhammad Saw. Dan kebalikannya, ketika seorang wanita berilmu berdakwah kepada individu lain, wanita atau ibu-ibu pengajian, sebenarnya ia bukanlah berdakwah, melainkan berbuat kemungkaran di mata Allah, karena dengan melakukan hal yang demikian ia telah meninggalkan tugas kodratnya. Tentu saja itu adalah dosa.

Anggap saja ada orang bodoh yang berprofesi sebagai doker, ia adalah orang pintar dengan semua ilmu kedokteran yang telah ia miliki. Dengan kepintaran itu orang ini menjadi merasa berhak untuk berada dan bertugas di bandar udara untuk mengurusi lalulintas pesawat, sementara pasien-pasian gawat yang berjatuhan di rumahsakit telah ia telantarkan sedemikian rupa. Si dokter ini dengan kepintarannya merasa telah berbuat baik di bandar udara, ia merasa telah berbakti kepada bangsa dan Tuhannya. Padahal tidaklah demikian. Kalau ia telah disumpah sebagai dokter oleh negara, maka tempatnya berkarya tentulah rumahsakit, mengurusi dan memperhatikan pasien-pasien gawat yang berjatuhan di sana; bukan di bandar-udara atau tempat lain. Tidak perlu ia mengurusi bandar-udara, karena tempat itu sudah ada yang mengurus; dan siapa pun yang mengurus bandar-udara itu, bukanlah urusan sang dokter. Jelas sekali, dokter ini ketika berada di bandar-udara, bukannya berbuat baik untuk bangsanya, melainkan telah berbuat kerusakan yang keji. Demikian jugalah logikanya dengan seorang wanita yang memiliki pengetahuan luas namun ia memberi sumbangsihnya dengan cara berdakwah di luar rumah sementara tugas domestiknya menjadi terbengkalai.

Ironis melihat seorang wanita yang faham agama, faham aqidah, faham fiqih, faham syariah, sedang berada di luar rumah memberikan ceramah untuk kalangan ibu-ibu pengajian. Kita ingin mempertanyakan, bagaimana nasib anak-anak dan suaminya di rumahnya? Siapa yang menyiapkan makan mereka? Siapa yang  merapikan tempat tidur anak-anak? Seharusnya wanita itu lah yang melakukan itu semua, untuk anak-anak dan suaminya. Namun faktanya wanita itu berada di luar rumah di dalam sebuah Masjid sedang memberikan dakwah kepada ibu-ibu pengajian. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Wanita itu telah memberikan dakwah agama, namun pada saat yang sama wanita itu telah melanggar Hukum agama. Benar-benar di luar dugaan!

Di lain pihak, ibu-ibu pengajian, atau siapa pun jua tidak berhak sedikit pun atas waktu dan kecerdasan wanita ini, karena waktu, tenaga dan kecerdasan yang ada pada wanita ini seutuhnya adalah hak atas suami, anak-anaknya dan rumahtangganya sendiri. Tidak pada tempatnya wanita ini mengurusi ibu-ibu pengajian atau pun individu lainnya, karena anak-anak, suami dan rumahtangga sendirinya-lah yang harus ia urus, dan yang lebih berhak. Di sinilah penempatan Alhadis yang termahsyur di dalam Islam: “sungguh yang paling berhak atas diri seorang wanita adalah suaminya”. Artinya, yang paling berhak atas diri seorang wanita, tenaganya, waktunya, kecerdasannya, perhatiannya, adalah rumahtangganya sendiri. Itu sudah final di dalam Islam, seperti yang ada di dalam tuntunan Rasulullah saw.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s