Lembaga Pernikahan Ala Jamban

20-Lembaga Pernikahan Ala Jamban

Definisi rumahtangga atau pernikahan: sebuah lembaga tempat berhimpunnya seorang pria dewasa dan seorang wanita dewasa atas dasar kebutuhan dan cinta (baik cinta kepada masing-masing mereka berdua, mau pun juga cinta kepada Allah Swt) yang mendapat restu baik dari masyarakat dan juga dari Allah Swt, di mana kelak diharapkan akan lahir anak-anak untuk dibesarkan di dalam keadaan yang harmonis, dan diharapkan rumahtangga ini menempati sebuah rumah yang permanen. Setiap pihak di dalam rumahtangga ingin terus berada di dalam rumahtangga tersebut untuk selama-lamanya sampai datang maut menjemput. Demikianlah kira-kira definisi rumahtangga.

Definisi jamban adalah kelengkapan rumah-tinggal untuk keperluan menandaskan hajat, dan biasanya jamban ini ditempatkan di dalam suatu ruang tertutup yang berpintu dan pintunya diberi kunci, dan penempatan ruangnya pun biasanya di bagian belakang rumah; umumnya jamban terdapat di perkotaan – karena di desa mau pun di hutan jamban tidak terlalu diperlukan untuk menandaskan hajat.

Berbeda dengan rumahtangga yang ingin ditinggali untuk selama-lamanya, seorang manusia yang berada di dalam jamban untuk keperluan tandas hajat tidak ingin berada di dalam jamban tersebut untuk selama-lamanya. Namun uniknya, seorang manusia ingin berada di dalam jamban hanya selama hajat (‘barang antik’) masih ada di dalam tubuhnya. Kalau seluruh hajat sudah tandas pastilah manusia itu ingin lekas-lekas keluar dari ruang jamban.

Sekali lagi, tidak ada manusia yang ingin diam duduk di dalam ruang jamban, tidak perduli seperti apa indah dan megahnya ruang jamban-nya. Manusia tidak ingin duduk di dalam ruang  jamban itu, kecuali kalau ada hajat di dalam dirinya walau pun ruang jamban itu amat gelap, sempit dan pengap. Dan begitu hajat sudah tandas maka ia ingin segera keluar meninggalkan jamban itu, tidak perduli apakah jambannya itu mewah, wangi dan mentereng. Dengan kata lain, jamban dipandang hanya kalau seorang manusia mempunyai hajat di dalam dirinya.

Ada pepatah untuk tebu: habis manis sepah dibuang. Dan untuk jamban, pepatahnya berbunyi, “habis hajat jamban ditinggal”!

Kemudian apa hubungannya antara lembaga pernikahan dengan jamban ini? Mengapa harus ada wacana yang berjudul ‘lembaga pernikahan ala jamban’?

Pada dasarnya, khususnya di jaman sekarang ini, rumahtangga (atau pernikahan) biasanya di-trigger oleh cinta yang bersemi dari pihak istri dan suami. Dan karena cinta itulah mereka sepakat untuk membangun rumahtangga yang tujuannya untuk men-celebrate cinta mereka setiap hari buat selama-selamanya. Mereka membawa cinta dan kehendak mereka kepada pejabat agama seperti penghulu KUA untuk disahkan baik secara Hukum mau pun secara agama (yang kemudian diistilahkan sebagai ijab qabul pernikahan). Di dalam ijab qabul mau pun pernikahan itu  sepasang anak manusia itu berjanji untuk saling menyayangi dan saling menjaga buat selama-lamanya, saling menerima kekurangan masing-masing, dan itu semua diikrarkan demi Allah Swt, di depan Allah Swt.

Setelah selesai urusan mereka dipenuhi oleh pejabat agama, mereka naik ke persandingan, duduk di pelaminan sebagai Raja dan Ratu sehari, diberi dandanan yang indah dan agung, seagung ikrar mereka untuk meleburkan diri di dalam cinta, di dalam sakit dan senang buat selama-lamanya. Kalau hari sudah berganti mereka langsung menuju kehidupan berumahtangga, sebagai suami dan istri. Dan itu semua tetap dilandaskan cinta yang ada di dalam dada mereka masing-masing.

Setelah usia pernikahan mereka sudah setahun atau dua tahun, tidak jarang terdengar bahwa mereka ingin bercerai, ingin mengakhiri rumahtangga mereka. Sudah tidak ada lagi satukata dan satuhati, tidak ada lagi tegursapa yang romantis dan manusiawi. Mengapa demikian?

Terdapat beberapa alasan yang memicu terjadinya kehendak untuk bercerai. Misalnya adalah,

  1. Paswa yang tidak lagi perhatian.
  2. Paswa yang mau menang sendiri.
  3. Paswa yang selalu sibuk dengan urusannya.
  4. Paswa yang mulai banyak menuntut.
  5. Paswa yang tidak lagi suka berkomunikasi.
  6. Paswa yang tidak perhatian atau tidak mahir mengurus anak.
  7. Paswa yang tidak menghormati keluarga induk pasangannya.
  8. Paswa yang terlalu pecemburu.
  9. Salah satu paswa mandul – tidak dapat memberi keturunan.
  10. Paswa menjadi jelek, buruk rupa.
  11. Paswa yang tidak penurut.
  12. Paswa yang suka bergunjing, atau boros uang, atau genit.
  13. Paswa selalu berbuat kesalahan yang sama.
  14. Suami tidak mempunyai penghasilan yang menarik, atau suami menganggur.
  15. Paswa yang malas melakukan tugasnya.
  16. Paswa sudah tidak cinta lagi / sudah bosan.
  17. Paswa lebih mementingkan keluarga induknya.
  18. Paswa yang cepat emosi, dan lain lain.

Point-point di atas biasanya menjadi alasan yang digunakan oleh seorang paswa untuk bercerai. Mereka ingin meyakinkan para Hakim bahwa rumantangga mereka harus berakhir sesegera mungkin, demi kebaikan mereka berdua, kata mereka. Pada kondisi inilah berlaku Alhadis Muhammad Saw, bahwa perceraian merupakan perkara halal yang paling dibenci Allah Swt.

Apakah Cinta?

Cinta adalah satu jenis perasaan, biar bagaimana pun. Dan perasaan itu ada banyak, bukan cinta saja. Marah, benci, suka, dendam, iri, kesepian, bosan, kecewa, bangga, cemas, takut, heran, malu, kesemua itu adalah perasaan di samping cinta. Dan perasaan mempunyai konsepsi yang sama yaitu tidak abadi, bisa hilang dan bisa timbul. Rasa malu misalnya, terkadang rasa malu datang menyergap, namun kemudian bisa jadi rasa malu menghilang entah kemana. Benci juga demikian, karena masih satu keluarga perasaan maka konsepsinya juga sama yaitu bisa datang dan pergi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Emosi, hawa nafsu, atau perasaan pasti ada di dalam diri setiap manusia. Tidak mungkin manusia tidak mempunyai emosi.  Uniknya ketika satu perasaan muncul di dalam diri seorang manusia, manusia itu pasti akan mengira bahwa perasaan itu akan tetap ada di dalam dirinya buat selama-lamanya, kendati sedikit banyak dia faham bahwa itu hanya lah perasaan yang datang dan pergi sesuka hati. Ada juga manusia yang menginginkan suatu perasaan itu akan terus ada di dalam hati / dirinya. Rasa benci misalnya, seorang manusia ingin agar rasa benci itu tetap ada untuk selama-lamanya di dalam dirinya. Namun toh akhirnya tanpa disangka-sangka rasa benci itu hilang dan berakhir, dan berganti dengan rasa suka yang begitu mendalam. Itu semua terkadang di luar persangkaannya. Ajaib.

Begitu juga dengan cinta. Ketika cinta bersemi di dalam diri seorang individu, individu tersebut mengira dan yakin cinta-nya itu akan terus ada di dalam dirinya buat selama-lamanya hingga maut menjemput. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Cinta tetaplah sebuah perasaan yang bisa datang dan pergi kapan saja sesuka hati, tanpa pemberitahuan sedikit pun. Bisa jadi cinta itu akan pergi meninggalkan dada si individu ini, dan dengan demikian jadilah individu ini hidup tanpa cinta di dadanya.

Lebih lanjut, cinta (juga jenis perasaan yang lain) membuat mata tidak lagi dapat memandang dengan benar. Terasi bagaikan sepotong coklat, singkong terasa bagaikan roti nan lembut, kolong jembatan terasa bagaikan istana nan indah, sengsara bagaikan nikmat Surgawi. Cinta membuat manusia tidak dapat lagi memandang kekurangan pasangannya, hitam dilihat putih, pesek dilihat mancung, jelek dilihat cantik. Yang sebenarnya tidak mungkin disatukan, ternyata dapat disatukan, itu karena cinta. Yang sebenarnya jauh sekali ternyata menjadi begitu dekat, dan itulah cinta. Sepercik garam yang mengapung-apung di lautan samudra, tidak mungkin dapat menyatu dengan sejumput asam yang bercokol di gunung. Namun toh ternyata garam dan asam itu menyatu di dalam belanga, itulah cinta. Singkatnya, yang semula mustahil menurut logika, tiba-tiba menjadi mungkin, dan itu semua karena adanya cinta. Cinta menepis perbedaan, apapun itu. Itulah cinta.

Terkadang Cinta Hanyalah Fatamorgana

Saat cinta datang dan menebarkan benihnya di dalam dada seseorang, efeknya sungguh luar biasa. Seperti perasaan lainnya, cinta akan membuat seseorang merasa bahwa cinta-nya itu (kepada yang dicintainya) akan abadi, tidak akan pernah hilang dan berkurang. Cinta membuat hati dan akalnya berbunga-bunga, cinta juga membuatnya merasa orang yang ia cintai merupakan pilihannya yang terindah dan terbaik. Masuk akal. Ia akan melakukan apapun untuk membahagiakan orang yang dia cintai. Namun yang jelas, orang ini merasa bahwa cintanya itu akan terus berada di dalam dadanya buat selama-lamanya. Itulah salah satu efek dari cinta, dan juga perasaan lainnya. Namun benarkah bahwa cinta itu akan terus bersemayam di dalam dadanya untuk selama-lamanya?

Di dalam Islam diajarkan bahwa hati atau qalbu di dalam bahasa Arab, berarti ‘berbolak-balik’. Artinya, Allah lah Yang membolak-balikkan hati manusia menurut kehendakNya semata. Allah kehendaki seorang individu senang / cinta dengan seseorang, namun kemudian Allah berkehendak membalikkan hati individu tersebut sehingga hilanglah rasa cintanya kepada orang yang ia cintai.

Kembali kepada orang yang dimabuk cinta ini. Ia yakin bahwa cinta yang bersemayam di dalam dadanya itu akan abadi untuk selama-lamanya. Kita mengetahui bahwa cinta (juga perasaan lainnya) tidak ubahnya dengan taruhan di dalam hidup: kadang beruntung dan juga kadang malang. Ada cinta yang utuh dan abadi di dalam dada seseorang, namun ada juga cintanya ternyata tidak abadi karena cinta tersebut sudah hilang entah kemana. Tidak ada satu manusia yang dapat menjamin bahwa suatu cinta akan terus bersemayam di dalam dada seseorang, seutuhnya itu adalah perkara takdir yang hanya Allah Yang mengetahuinya. Jelaslah bahwa saat cinta (dan juga perasaan lainnya) datang dan merasuk ke dalam dada seseorang, selain membuat orang itu mabuk kepayang, juga membuatnya seolah memandang kepada hamparan fatamorgana, suatu tipuan yang mengharu-biru. Ia merasa cinta itu untuk selamanya, namun ternyata tidak demikian kenyataannya.

Namun yang terpenting adalah, bilamana perasaan itu muncul (apakah itu cinta, benci, iri, bangga dll) manusia harus dapat mengimbanginya dengan akal, kesadaran, moralitas dan mentalitas yang agung dan berwibawa. Ada manusia yang menjadikan perasaannya (emosi-nya) sebagai pemimpinnya, jadilah manusia itu terombang-ambing di dalam perbuatannya sehingga cenderung merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. Qs Furqan 43-44.

Namun ada juga manusia yang mengimbangi perasaannya dengan akal dan kesadarannya sehingga jadilah ia manusia yang penuh dengan pertimbangan demi kebaikan yang lebih besar lagi; orang ini biasanya bijaksana karena ia berfikir bahwa hawa nafsu bukanlah segala-galanya, dan bahwa hawa nafsu cenderung membawa kepada kerusakan. Kalau ada manusia yang lebih mengutamakan akal dan kesadaran ketimbang perasaan, maka manusia itulah sebaik-baik manusia.

Dengan kata lain, ada manusia yang hawa nafsu atau emosinya mengalahkan akalnya, dan ada juga manusia yang akalnya justru mengendalikan emosinya.

Rumahtangga Yang Berdasarkan Cinta Semata.

Dikisahkan sebuah rumahtangga di ambang perceraian yang memilukan. Di depan Hakim seorang paswa dari rumahtangga tersebut berdalih bahwa sudah tidak ada lagi kecocokan di antara mereka berdua, sehingga sering terjadi cekcok, pertengkaran, perselisihan, dan silang sengketa. Pemicunya beragam, seperti yang sudah dinukilkan pada bagian atas. Sulit sekali untuk mempersatukan mereka berdua, itu pandangan Hakim. Mereka berdua teriak-teriak dengan suara lantang di depan Hakim menuntut supaya Hakim mengabulkan keinginan mereka untuk bercerai.

Yang mereka ketahui bahwa alasan mereka untuk bercerai adalah salah satu point yang sudah disebutkan di atas. Itu yang mereka boyong ke muka Hakim untuk membenarkan keinginan mereka untuk bercerai. Namun sejauh itu, ada suatu hal mendasar yang tidak mereka ketahui.

Sebenarnya bukanlah alasan-alasan di atas yang membuat mereka ingin bercerai, bukan. Ketiadaan cinta di dalam dada mereka, itulah yang membuat mereka ingin bercerai. Jelas sekali, pusaran perceraian massal yang menggejala di tengah masyarakat terletak pada ketiadaan cinta, bukan hal lainnya.

Memang benar bahwa mereka berdalih, mereka harus bercerai karena pasangan mereka tidak lagi setia, atau tidak penurut, atau banyak membangkang, atau terlalu banyak menuntut, yang kesemua itu akhirnya bermuara kepada ketidakcocokan, cekcok mulut dan saling mendiamkan yang mana itu berarti ada dua manusia yang seutuhnya saling berbeda dan tidak dapat lagi bersatu. Memang benar demikian, itu harus diakui, karena faktanya memang demikian. Namun ceritanya tidak sampai di situ.

Ketika dulu cinta bertahta di dalam hati mereka,

  1. Terasi bagaikan coklat, singkong bagaikan roti taart, kolong jembatan bagaikan istana, jelek menjadi cantik dan tampan, hitam menjadi seputih mutiara, itulah cinta.
  2. Yang sebenarnya tidak mungkin disatukan, ternyata dapat disatukan, itu karena cinta. Yang sebenarnya jauh sekali ternyata menjadi begitu dekat, dan itulah cinta. Perbedaan seperti langit dan bumi, menyatu di dalam pelukan dan kecupan sayang, itulah cinta. Sepercik garam yang mengapung-apung di lautan samudra, tidak mungkin dapat menyatu dengan sejumput asam yang bertahta di gunung. Namun ternyata garam dan asam itu menyatu di dalam belanga, itulah cinta. Singkatnya, yang semula mustahil menurut logika, tiba-tiba menjadi mungkin, dan itu semua karena adanya cinta.

Dan sekarang cinta yang pada awalnya menjadi pangkal penyatuan dan ‘ketidakrasionalan’ mereka kini telah tiada. Dan karena ketiadaan cinta itulah, mereka mulai melihat, mengutuki dan mencibiri kekurangan masing-masing. Yang tadinya mereka satuhati dan satukata, sekarang tidak lagi, karena ketiadaan-cinta. Yang sebenarnya tidak-salah menjadi salah, itulah ketiadaan-cinta.

Pertanyaannya adalah, kemana perginya cinta itu? Bukankah sejak awal mereka telah berikrar di depan rembulan dan danau yang biru bahwa cinta mereka adalah abadi seabadi bintang gemintang?

Pada saat cinta itu telah pergi, janganlah lagi mereka berpidato tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan pasangan mereka – di depan para Hakim, khususnya. Ingatlah ketika cinta bertahta, saat itu mereka berkhotbah betapa pasangan mereka merupakan manusia paling sempurna Dunia akhirat. Itu semua karena ada cinta.

Praktis, karena hubungan mereka, rumahtangga mereka, hanya didasarkan pada cinta semata, spontan nasib rumahtangga mereka pun berada di ujung tanduk, atau tepatnya status quo, alias tergantung dari ada atau tiada-nya cinta. Kalau cinta masih berdenyut, maka rumahtangga akan tetap berdiri, dan kalau cinta telah kandas berarti rumahtangga akan menuju kepunahan. Tidak perduli seperti apapun indahnya janji, ikrar dan sumpah cinta mereka di depan matahari bulan September, toh janji itu hanya lah seuntai kalimat yang dilahirkan oleh cinta. Dan kalau cintanya telah pergi, praktis sumpah setia dan janji asmara untuk sehidup semati juga ikut pergi ……… Itulah cinta, dan itulah kalau rumahtangga hanya berdiri di atas cinta semata.

Singkat kata, tidak ada gunanya mereka berbicara kepada Hakim, bahwa pasangan mereka harus dicerai karena tidak lagi perhatian, atau selalu ingin menang sendiri (menceritakan kekurangan paswa), tidak ada gunanya. Justru akan lebih baik kalau yang mereka kemukakan kepada Hakim adalah bahwa cinta lah yang telah mangkat di dalam hati mereka; itu yang jujur, fair dan ksatria.

Kalau mereka katakan bahwa mereka ingin bercerai karena paswa tidak lagi perhatian (misalnya), pada saat itu mereka sedang mencari kambing hitam, karena sebenarnya cintalah yang sudah tidak ada, bukan karena paswa yang tidak lagi perhatian atau ingin menang sendiri. Anggap saja mereka berkata, bahwa yang mengakibatkan terjadinya kebakaran adalah api, padahal sebenarnya adalah puntung rokok – “daripada menyalahkan paswa ini-itu lebih baik menyalahkan diri sendiri yang sudah kehabisan cinta”. Mereka harus jujur mengakui. Lebih baik mereka mengakui bahwa perceraian yang mereka tuntut adalah karena ketiadaan cinta, bukan karena alasan lain. Dan lebih baik mereka mengakui, bahwa mereka telah mengingkari janji cinta asmara mereka bahwa cinta mereka abadi, daripada mencari kambing hitam.

Sebagai perbandingan, apa yang akan terjadi kalau cinta tetap bertahta di dalam dada masing-masing pihak? Seorang suami ternyata maunya menang sendiri. Namun karena di masing-masing dada masih ada cinta, hal itu tidak jadi masalah bagi sang istri. Pun juga, seorang istri ternyata amat boros di dalam hal keuangan, namun karena cinta masih bersemi di dada masing-masing sang suami tidak pernah mempersoalkan tabiat istri tersebut. Itulah cinta! Mungkin saja seorang istri tidak mahir mengurus anak, namun karena keduanya masih menggenggam cinta akibatnya kekurangan istri tersebut tidak pernah dipermasalahkan oleh suami: dan itulah efek cinta.

Betapa banyak pastrimi (pasangan istri-suami) yang tetap langgeng berumahtangga, padahal kekurangan masing-masing pihak bertebaran di mana-mana. Mengapa rumahtangga mereka awet dan tetap harmonis? Bukankah mereka diliputi kekurangan? Jawabannya adalah cinta, cinta tetap bersenandung di dalam dada pastrimi tersebut: dan itulah efek cinta.

Kesimpulannya adalah, perceraian yang menjadi gejala sosial di tengah masyarakat kita bukanlah karena sederet kesalahan yang ditampakkan oleh seorang paswa, bukan. Perceraian timbul karena ketiadaan cinta, atau karena cinta telah habis di dalam dada mereka, kendati sejak awal mereka telah berikrar bahwa cinta mereka adalah abadi. Kalau ada cinta, sederet kesalahan pasangan akan diampuni dengan penuh kelembutan, dan kalau tidak ada cinta lagi, sederet kesalahan merupakan sumber malapetaka yang menuntut perceraian.

Inilah kalimat adil, fair dan jujur yang harus diajukan seorang paswa kepada Hakim Pengadilan Agama kalau menuntut cerai:

Pak Hakim yang terhormat, perkenankanlah permohonan cerai saya karena sudah tidak ada lagi cinta di dalam hati saya, dan sejujurnya saya akui bahwa saya telah melanggar sumpah cinta abadi saya kepada pasangan saya, karena kini cinta itu telah hilang dari hati saya, akibatnya seluruh kesalahan dan kekurangan yang ada pada pasangan saya benar-benar membuat saya jengkel. Bukan karena sederet kesalahan pasangan yang membuat saya ingin bercerai, namun karena cinta saya sudah hilang. Cinta membuat saya menerima kekurangan pasangan saya, namun cinta itu sekarang sudah tidak ada lagi, akibatnya seluruh kesalahan pasangan saya membuat saya sengsara. Saya sudah melanggar janji indah saya kala itu bahwa cinta saya adalah abadi, dan kenyataannya cinta itu kini telah hilang…….Terima kasih.

Kejujuran adalah lebih baik dari pada mengajukan kambing hitam dan berkhotbah tentang sederet kesalahan orang lain.

Karena rumahtangga itu dibangun hanya atas dasar cinta, biarlah perkawinan itu musnah seiring musnahnya cinta di dalam dada masing-masing pihak. Namun ingat, mereka harus jujur mengakui bahwa mereka bercerai bukan karena sederet kesalahan paswa, melainkan karena kepunahan cinta. Dan pada kasus inilah berlaku Alhadis Muhammad Saw, bahwa perceraian merupakan perkara halal yang amat dibenci Allah Swt.

Inilah yang disebut dengan lembaga pernikahan ala jamban. Kalau ada hajat di dalam diri seseorang, jamban sejorok apapun akan diduduki. Namun kalau hajat sudah tandas, jamban semewah apapun pasti akan ditinggal. Begitu juga dengan rumahtangga yang berdiri hanya atas dasar cinta. Selama ada cinta, rumahtangga akan tetap berdiri, namun kalau cinta sudah kandas maka rumahtangga harus berakhir sesegera mungkin. Kalau ada cinta, paswa sejelek apapun, rumah sebobrok apapun, pernikahan akan terus berdiri. Namun kalau cinta telah kandas, paswa secantik apapun, rumah semewah apapun, pernikahan tetap harus diakhiri, perceraian harus terjadi, titik.

Orang-orang yang mempunyai pola fikir seperti ini telah menodai lembaga Tuhan yaitu pernikahan. Di dalam konsepsi mereka, lembaga pernikahan tidak lebih dari sekedar ruang jamban atau ruang WC untuk keperluan penyaluran hasrat cinta. Artinya kalau mereka masih mempunyai hasrat cinta maka rumahtangga harus tetap berdiri untuk kepuasan bathin mereka, namun kalau hasrat cinta sudah hilang maka lembaga pernikahan itu pun juga harus berakhir. Dengan pola fikir yang demikian, mereka menyatakan bahwa lembaga pernikahan tidak berarti apa-apa dibanding hasrat cinta mereka. Artinya? Artinya ego mereka adalah jauh lebih tinggi daripada lembaga pernikahan milik Tuhan. Itulah sebabnya paparan ini diberi judul ‘Lembaga Pernikahan Ala Jamban’.

Rumahtangga Yang Berdasarkan Kesadaran, Akal Dan Moralitas.

Sepasang anak manusia sepakat untuk membangun rumahtangga melalui pernikahan yang agung di depan penghulu dan di depan seluruh umat. Memang cinta sudah begitu berseminya di dalam dada masing-masing mereka berdua, dan mereka pun tidak ingin dan tidak dapat mengingkari akan keagungan cinta mereka. Namun di balik itu semua, mereka faham bahwa mereka menikah, untuk melebur di dalam suatu pernikahan, seutuhnya hanya lah karena Allah Swt, niat karena Allah Swt, untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Di depan Allah dan seluruh umat Muslim mereka berikrar, bersumpah dan berjanji untuk selalu saling setia, saling menjaga dan saling menerima kekurangan, demi Allah Swt saja.

Setelah melangsungkan pernikahan mereka segera menjalankan kehidupan pernikahan mereka. Di dalam perkawinan mereka datanglah anak-anak titipan Allah Swt kepada mereka untuk mendapatkan pengasuhan dan sebagai bukti bahwa Allah Swt ridha atas perkawinan mereka.

Minggu berganti Minggu, bulan berganti dan tahun pun berganti. Usia perkawinan mereka sudah tidak lagi muda. Akhirnya sampailah babak kehidupan perkawinan mereka pada fase keinginan untuk bercerai. Mereka mulai melihat sederet kesalahan pasangan mereka, dan itu artinya cerai merupakan kata yang paling tepat untuk ditempuh.

Mereka sadar bahwa cinta telah berakhir sehingga terlihatlah borok masing-masing pihak, yang mana itu mengakibatkan mereka ingin bercerai. Namun lebih dari itu mereka tetap sadar bahwa:

  1. Mereka telah berikrar kepada Allah Swt untuk saling setia kepada pasangan jiwa hingga maut menjemput
  2. Mereka mempunyai tanggungjawab, hak dan kewajiban untuk ditunaikan di dalam perkawinan mereka. Khususnya mereka telah mempunyai anak yang harus mereka pertimbangkan.
  3. Perkawinan mereka hanyalah untuk mencari ridha Allah Swt, bukan untuk kepuasan ego masing-masing pihak.
  4. Sejak awal mereka insaf, bahwa mereka saling mencintai karena cinta mereka kepada Allah Swt. Mereka mencintai bukan untuk kepuasan mereka, bukan.
  5. Mereka faham bahwa cinta tidak abadi, tidak ada yang abadi di dalam hidup ini. Namun bukankah ikrar sudah dicatatkan di sisi Allah Swt? Dan bukankah ikrar itu berbunyi bahwa mereka akan hidup bersama sambil menunggu maut?
  6. Setiap dari mereka adalah manusia, bukan Malaikat. Pun mereka sadar bahwa mereka mencintai atau menikahi manusia, bukan Malaikat.

Dengan point-point di atas, mereka memutuskan untuk tidak bercerai. Cinta bukanlah satu-satunya hal yang ada di dalam pernikahan mereka, karena selain cinta, ada juga ikrar yang mereka panjatkan ke hadirat Allah Swt. Sungguh derajatnya ikrar tersebut jauh lebih tinggi daripada cinta mereka. Kalau seseorang bermain-main dengan ikrar yang telah mereka panjatkan kepada Allah, berarti mereka telah mempermainkan Allah.

Ikrar itu harus dibuktikan, karena Allah tidak akan pernah menghapus ikrar itu, apapun yang terjadi: sekali ikrar dipanjatkan kepadaNya, selamanya ikrar itu tidak akan dihapus dari sisiNya hingga maut menjemput.

Akal dan kesadaran (dan bukan cinta asmara semata) yang tumbuh di dalam rumahtangga ini tampaknya telah berhasil mengatasi prahara rumahtangga, akibatnya jelas: perkawinan terbebas dari segala marabahaya dan ancaman perceraian. Kalau cinta sudah kandas tidak mengapa, namun akal tetap mengambil alih kendali di dalam komposisi keputusan. Dan di lain pihak, Allah Swt hanya menuntut keberakalan, bukan cinta yang menggebu-gebu karena hal itu hanya merupakan luapan dari hawanafsu.

Perkawinan yang didirikan hanya atas dasar cinta membuat rumahtangga tersebut tidak ubahnya dengan jamban: selama ada cinta, rumahtangga berdiri, dan kalau cinta telah kandas maka rumahtangga runtuh. Namun rumahtangga yang didirikan dengan latar belakang akal dan kesadaran yang kuat membuat rumahtangga yang didirikan sepasang anak manusia tetap suci dan berwibawa di mata para Malaikat. Rumahtangga yang didirikan atas dasar akal, kesadaran dan keyakinan merupakan rumahtangga yang sejati milik Allah.

Solusi untuk perceraian jenis ini.

Adalah tidak pada tempatnya kalau ada seorang anak manusia memperlakukan rumahtangga yang sebenarnya lembaga milik Allah seperti mereka memperlakukan jamban tempat manusia membuang hajat. Perkawinan haruslah dihormati, dan disakralkan. Artinya rumahtangga haruslah didirikan atas dasar akal dan kesadaran, bukan cinta semata. Hendaklah setiap manusia faham bahwa perkawinan adalah tempat di mana sepasang anak manusia saling mencintai karena cinta mereka kepada Allah Swt, bukan lembaga untuk saling memadu cinta asmara, pada mulanya. Dan pada saat mereka mengikrarkan ikatan perkawinan mereka maka teguhkanlah perkawinan mereka dengan kesadaran dan faham bahwa Allah Swt selalu terlibat di dalam rumahtangga tersebut untuk suatu pembuktian akan kekuatan ikrar nikah. Dengan demikian perceraian dapat dibendung. Muhammad Saw bersabda,

“Seorang lelaki yang menceraikan istrinya hanya karena telah hilang rasa sayangnya maka jangan lah ia mengharapkan dapat mencium bau nya Surga”. – Alhadis.

Artinya, seorang suami yang menceraikan istrinya dengan penyebab-penyebab seperti yang telah disebutkan di atas maka murka Allah menimpa lelaki ini. Hal yang sama juga terjadi pada seorang wanita yang menceraikan suaminya dengan penyebab yang sama.

Kalau ada seorang suami ingin menceraikan istrinya dengan alasan-alasan seperti yang disebutkan di atas, yakinlah bahwa kehendak itu hanya dikarenakan ketiadaan cinta. Ketiadaan cinta bukanlah alasan yang diingini Allah untuk terjadinya perceraian. Ketika perkawinan masih dihiasi cinta maka nikmatilah rumahtangga tersebut. Namun kalau cinta sudah hilang maka berjuanglah supaya rumahtangga tetap berdiri karena adanya cinta kepada Allah Swt. Ikrar perkawinan tentunya berdiri atas dasar iman dan keridhaan Allah, bukan cinta asmara semata. Kalau perkawinan merupakan perintah dan ajaran Muhammad Saw, berarti perceraian harus dijauhkan sejauh-jauhnya. Singkat kata, ikrar kepada Allah Swt adalah segala-galanya, bukan cinta.

Carilah yang terbaik, cintailah yang terburuk.

Sebelum seseorang menikah, ia harus mencari pasangan. Dan pencarian tersebut harus membawa kepada seseorang yang benar-benar terbaik untuk dijadikan pasangan jiwa, buat selama-lamanya: terbaik menurut Tuhan, terbaik menurut diri pribadi, terbaik menurut seluruh kerabat, dan terbaik menurut psikologi.

Namun kalau perkawinan sudah terjadi, prinsip pun berubah, dari “carilah yang terbaik”, berubah menjadi “cintailah yang terburuk”. Saat sebelum menikah seorang manusia harus mencari pasangan yang terbaik, dan pada akhirnya dia yakin bahwa pilihannya merupakan yang terbaik, dan pada saat itulah ia melangkah ke pelaminan. Namun ketika ia sudah mengikrarkan janji perkawinan (ijab kabul) maka kedua-duanya harus siap untuk mencintai yang terburuk.

Pada dasarnya orang yang terpilih untuk dijadikan pasangan jiwa adalah manusia jua adanya, bukan Malaikat. Dan pun pernikahan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi Perusahaan yang bergerak dibidang mengubah manusia menjadi Malaikat. Pada saat menikah jelaslah cacad dan kekurangan paswa tidak terlihat karena hati dan jiwa dibanjiri luapan cinta asmara. Namun kemudian besar kemungkinan cinta menjadi tiada. Dan kalau cinta telah kandas terlihatlah seluruh kekurangannya. Pada saat itulah paswa harus mencintai pasangannya – apa adanya, walau pun pasangannya itu merupakan manusia terburuk sekali pun, atas dasar ikrar mereka berdua yang telah dipanjatkan ke hadirat Allah Swt. Cintailah dia yang terburuk, dan tetaplah mencintai paswa itu walau pun dia merupakan manusia terburuk, demi ikrar kepada Allah Swt. Kalau Allah Swt tidak pernah punya masalah dengan paswa yang penuh kekurangan tersebut maka mengapa yang lain ingin menceraikannya?

Wallahu alam bishawab.

Perceraian yang dibahas di artikel ini merupakan perceraian dengan penyebab subjektif, dengan demikian perceraian di dalam artikel ini merupakan perceraian yang berakibat pada kebencian Allah Swt. Untuk memahami perceraian dengan penyebab objektif yang mana merupakan perceraian yang akan mendapatkan ridha Allah Swt dan oleh karena itu merupakan perceraian dengan kategori ibadah, silahkan baca artikelnya di “Misteri Perceraian“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s