Menolak Ajakan Suami Karena Istri Bekerja

22-menolak-ajakan-suami-karena-istri-bekerja

Pertanyaan:

Pak ustadz, saya adalah wanita karir yg baru menikah 2-3 bulan. Ketika jam istirahat siang dan suami masuk siang saya suka menyempatkan pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan siang suami karena kebetulan kantor dan rumah bolak-balik hanya di tempuh 20 menit, setelah makan siang suami suka minta dilayani hubungan badan tapi saya sering menolak karena waktu istirahat yang hanya 1jam sedangkan waktu habis untuk perjalanan dan makan, & saya harus kembali ke kantor. Apakah saya berdosa? Mohon ustadz berkenan menjawabnya. Trmakasih.

Dari: H.A.

Jawaban:

Berdosa menolak layanan suami, akan lebih bijak bila urusan makan membeli dari luar, sehingga bisa melayani suami.

Saya sarankan masalah ini didiskusikan secara terbuka dengan suami.

http://www.konsultasisyariah.com/menolak-ajakan-suami-karena-kesibukan-karir/

-o0o-

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian kalau ada paparan yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja, itu sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas logika paparan di atas secara paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

Adapun mengenai jawaban untuk paparan di atas, saya setuju dan membenarkan, karena memang demikian ajaran Islam bahwa istri akan berdosa kalau menolak permintaan suami.

Bagian lain yang harus dijelaskan adalah, rumahtangga tersebut akan terbebas dari dosa kalau si istri berhenti bekerja, supaya dengan demikian si sitri dapat menjadi istri yang rumahan, yaitu yang senantiasa tinggal di rumahnya. Sekarang ini di mana istri turut bekerja, adalah keji di mata Islam. Tugas suami adalah bekerja mencari nafkah, sementara tugas istri adalah tetap tinggal di rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya.

Kalau istri merupakan wanita rumahan seperti yang digariskan di dalam Islam, maka niscaya tidak akan ada lagi masalah seperti yang dipaparkan di atas, yaitu di siang hari istri tidak dapat memenuhi keinginan suami karena dikejar waktu untuk bekerja.

Harus jujur bahwa rejeki tidak bisa dipaksakan, dan bahwa rejeki tidak bisa dijadikan segala-galanya di dalam hidup ini. Dan kalau rejeki ingin diperbanyak, maka pertanyaannya adalah sebanyak apa? Apakah pernah rejeki itu cukup di tangan manusia yang kecil? Mungkin dapat dikatakan bahwa dengan istri dan suami bekerja maka keuangan keluarga selalu melimpah, namun ketahuilah bahwa dosa selalu membayangi rumahtangga tersebut. Dan apalah artinya uang yang melimpah, bukankah Allah Swt dapat mengambilnya kembali kapan saja Allah kehendaki?

Dapat diungkapkan di sini bahwa ternyata banyak juga rumahtangga di mana para istrinya merupakan wanita rumahan yang tidak bekerja, dan pun suami mereka mempunyai gaji yang pas-pasan. Namun tetap saja, Alhamdulillah, rejeki mereka tetap lancar dan mengalir sebagaimana mestinya. Atas dasar fakta seperti ini jelaslah bahwa istri yang bekerja (di samping suami yang juga bekerja), merupakan suatu kesia-siaan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s