Misteri Perceraian

23-Misteri Perceraian

Bercerai Apa Dan Bagaimana

Di dalam suatu Alhadis Muhammad Saw menyatakan bahwa perkara halal yang amat dibenci Allah Swt adalah perceraian di dalam perkawinan. Artinya, bercerai adalah halal, namun tetap hal itu merupakan hal yang amat dibenci Allah Swt. Dari sini kita dapat memaknai bahwa sebenarnya Allah Swt tidak menyukai perceraian, dan kebalikannya Allah Swt ingin agar perkawinan dapat dilanggengkan dengan harmonis, terlepas dari apapun kekurangan yang dimiliki masing-masing pihak.

Dewasa ini banyak sekali terjadi kasus perceraian, atau gugatan perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama, dan menurut suatu laporan, disebutkan bahwa mayoritas dari gugatan perceraian tersebut diajukan oleh para istri, bukan suami. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mayoritas perceraian yang dikabulkan oleh Pengadilan, kaum suami merupakan korban dari perceraian tersebut – karena umumnya toh para suami tidak ingin bercerai, dan ingin tetap melanggengkan pernikahan mereka dengan para istri. Tentunya ini amat memprihatinkan, bukan karena kebanyakan gugatan perceraian lebih banyak diajukan oleh para istri, namun juga perceraian tersebut telah sangat menyedihkan mengapa harus terjadi.

Di dalam suatu Alhadis disebutkan bahwa kalau ada suami yang menceraikan istrinya hanya karena sudah bosan atau karena telah hilang rasa sayangnya, maka hendaklah para suami tersebut jangan lagi berharap dapat mencium baunya Surga, padahal baunya Surga itu tercium sejauh perjalanan. Hal sebaliknya pun juga berlaku bagi para istri, yaitu kalau seorang istri menuntut cerai suaminya hanya karena sudah bosan atau sudah hilang rasa sayangnya maka hendaklah istri itu tidak lagi mengharap untuk dapat mencium baunya Surga. Praktisnya, mencerai pasangan hidup (atau paswa, pasangan jiwa) dengan alasan yang tidak dibenarkan oleh syari, perceraian tersebut adalah haram di mata Allah Swt. Dan haram di sini berarti akan masuk Neraka tidak perduli berapa banyak pahala yang sudah diraih selama hidup di Dunia. Jadi singkat kata, perceraian pada dasarnya adalah haram, karena pelakunya telah berbuat dosa yaitu karena sudah bosan atau sudah hilang rasa sayangnya.

Perceraian adalah halal atau ‘mendapat ridha’ dari Allah Swt kalau perceraian tersebut terjadi atas karena alasan yang dapat dibenarkan secara syar’i. Dengan adanya alasan syar’i ini maka sebenarnya perceraian pun harus terjadi, wajib terjadi, karena merupakan alert atau tanda marabahaya bagi salah satu pihak. Dengan demikian perceraian yang dirihai Allah Swt adalah perceraian yang alasan atau pemicunya adalah objektif. Berikut adalah empat kondisi penyebab atau pemicu terjadinya perceraian yang objektif, yaitu perceraian yang dibenarkan secara syar’i.

Kondisi pertama. Kalau salah satu pihak murtad dari Islam.

Kondisi ini merupakan kondisi yang amat memprihatinkan. Mempertahankan suatu rumahtangga di mana salah satu pihaknya telah keluar dari Islam tentunya merupakan suatu yang mustahil. Bahkan lebih dari itu sebenarnya amat berbahaya kalau rumahtangga tersebut harus dipertahankan kelanggengannya, karena dapat menyebabkan pihak yang lain ikut menjadi murtad. Oleh karena itu perceraian harus terjadi demi menyelamatkan akidah salah satu pihak dari api Neraka.

Memang benar bahwa keimanan tidak dapat dipaksakan, namun bukan berarti pihak yang lain yang masih Muslim harus ikut menjadi murtad dan terjun ke dalam api Neraka – hanya karena cinta. Harus difahami bahwa cinta kepada pasangan hidup bukanlah segala-galanya di dalam hidup ini – mengingat hidup di Dunia tidak lah untuk selama-lamanya. Cinta kepada Allah lah yang harus diutamakan, karena cinta kepada Allah Swt berhubungan erat dengan kesalamatan abadi di alam akhirat. Cinta kepada selain Allah Swt tentunya harus dicermati sebaik mungkin karena hal tersebut tentu (dan tidak diragukan lagi) berpotensi menyeret manusia ke Neraka.

Kalau salah satu pihak murtad, sebenarnya hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan paswa yang murtad tersebut ke pangkuan Islam. Dan kewajiban ini sebenarnya berada di tangan keluarga induk si murtad. Ingatlah ajaran Muhammad Saw bahwa seluruh Muslim adalah saudara, yang maknanya adalah kalau ada salah seorang Muslim murtad maka kewajiban yang lain adalah sekuat tenaga mengembalikan si murtad tersebut ke dalam Islam. Semua individu wajib mengusahakan keislamannya sepanjang usaha tersebut dimungkinkan menurut Hukum dan kepatutan.

Namun kalau toh paswa (pasangan jiwa, spouse, suami atau istri) tersebut tetap murtad berarti perceraian harus terjadi. Perceraian dengan kondisi ini merupakan perceraian yang mendapat ridha dari Allah Swt, sekaligus merupakan bukti dari paswa yang masih Muslim bahwa kecintaannya kepada Allah Swt jauh lebih tinggi dari cintanya kepada paswa yang murtad tersebut.

Keluarga induk / batih dari paswa yang Muslim pun mempunyai kewajiban untuk mendorong terjadinya perceraian, kalau tidak ingin terjadi kemurtadan yang kedua kalinya. Jelas sekali bahwa keluar dari Islam merupakan perbuatan musyrik yang hanya akan berakhir di Neraka – maka dari itu keluarga induk harus berperan dominan untuk terjadinya perceraian. Pastikan bahwa cinta kepada paswa bukanlah segala-galanya, bahwa keselamatan akhirat harus diutamakan.

Kondisi kedua. Terjadi Perzinaan.

Rumahtangga merupakan lembaga suci, yang keberadaannya di sisi Allah Swt hanya terpaut satu tangga di bawah tangga Allah Swt; demikian lah betapa agung dan sakralnya pernikahan. Dari pernikahanlah muncul manusia-manusia baru yang akan mengemban firman Allah Swt yang agung dan majestik. Dan di dalam pernikahanlah seluruh jiwa manusia menjadi tentram di dalam menjalankan kehidupan di Dunia ini.

Kesucian rumahtangga tentulah harus dipertahankan, karena ruh pernikahan adalah kesucian itu sendiri, bukan cinta, bukan birahi, bukan menambah jumlah keluarga, atau yang lainnya. Begitu sucinya pernikahan sehingga hanya nama Tuhan lah yang pantas disebut untuk mensahkan pernikahan. Di dalam suatu Alhadis disebutkan,

Takutlah kamu kepada Allah di dalam hal perempuan kamu. Diciptakan ia dengan menyebut nama Allah, dan dihalalkan ia bagimu pun dengan menyebut nama Allah – Alhadis.

Alhadis tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa pernikahan (pada frase “dihalalkan ia bagimu”) akan sah hanya kalau nama Allah disebutkan, ini berarti pernikahan haruslah suci karena Allah Swt adalah suci.

Perzinahan di lain pihak, adalah suatu perbuatan yang sungguh menodai kesucian, baik kesucian Allah, mau pun kesucian yang melakukannya, dan pada akhirnya juga menodai kesucian rumahtangga kalau pelakunya sudah mempunyai rumahtangga.

Di dalam hal pernikahan, perzinahan merupakan suatu perbuatan dosa yang sama sekali tidak terampunkan. Kalau seorang paswa berzina maka perceraian mutlak harus terjadi, tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan tercetusnya perzinahan yang dilakukan salah satu paswa, berarti rumahtangga sudah di ambang pertanyaan, apakah lembaga tersebut masih suci karena salah satu paswa-nya sudah berzina. Jelas, pernikahan tersebut tidak lagi suci karena salah satu pendukungnya sudah melakukan dosa yang paling keji.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran bahwa laki-laki yang berzina hanya lah untuk wanita yang pezina, dan wanita pezina hanya lah untuk laki-laki yang pezina,

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”, An-Nur 1-3.

Tidak mungkin seorang wanita yang baik-baik harus merajut kehidupan pernikahan suci dengan laki-laki yang pezina, dan kebalikannya juga, tidak mungkin seorang pria yang suci merajut pernikahan suci dengan wanita yang berzina. Dengan logika ini Islam mengajarkan bahwa perceraian mutlak harus terjadi kalau salah satu paswa terbukti secara sah dan meyakinkan telah berzina; tidak mungkin dan tidak boleh pernikahan tersebut tetap dipertahankan kelanggengannya.

Lebih dari itu, ayat Alquran di atas benar-benar mengindikasikan bahwa Allah Swt tidak akan pernah meridhai suatu pernikahan di mana salah satu paswa-nya merupakan seorang pezina, atau di kemudian hari kedapatan sudah berzina. Jadi dengan kata lain, mengusahakan suatu perceraian atas suatu pernikahan yang salah satu paswa-nya berzina – justru merupakan suatu ibadah, dan suatu keharusan bagi kehidupan kaum Muslim.

Kondisi ketiga. Paswa Mengidap Penyakit Menular yang Berbahaya.

Keutuhan sebuah perkawinan haruslah berkorelasi dengan kesehatan dan jauh dari ancaman fatal, apapun itu. Di luar itu Islam mengajarkan umatnya untuk terus mencari keselamatan jiwa, untuk terus memperpanjang hidup, dan untuk selalu menjauhi segala hal yang mengakibatkan kematian. Kalau ada individu yang mensengajakan kematian dirinya ataupun orang lain, atau mempermudah kematian itu, individu tersebut telah berbuat dosa yang kelewat besar. Jelas sekali perbuatan tersebut melanggar fitrah, fitrah kehidupan.

Di dalam perkawinan, kesehatan dan keselamatan jiwa tetaplah di atas segala-galanya. Di dalam hal keselamatan jiwa, cinta (di dalam hal ini cinta kepada paswa) tidak berarti apa-apa. Oleh karena itu kalau seorang paswa mengidap penyakit menular yang berbahaya, fatal, itulah saatnya pernikahan harus berakhir sesegara mungkin. Tidak mungkin suatu pernikahan di mana salah satu pihak mengidap penyakit menular yang berbahaya – harus terus dilanggengkan, padahal dengan pernikahan tersebut pihak yang lain terancam ikut mempercepat kematannya.

Mengusahakan terjadinya perceraian yang salah satu pihaknya mengidap penyakit menular yang berbahaya – sebenarnyalah merupakan ibadah di dalam Islam, dan oleh karena itu perceraian tersebut mengandung nilai pahala. Intinya berjuang untuk memperpanjang umur (bukan malah memperpendek) merupakan jihad yang lain. Kebalikannya, terus mempertahankan pernikahan tersebut akan menjadi suatu usaha bunuhdiri yang terkutuk di dalam Islam.

Singkat kata, kalau salah satu paswa mengidap penyakit menular yang berbahaya (yang mengakibatkan kematian) maka bercerailah, itulah ajaran Islam, dan itulah yang merupakan ibadah dan suatu keutamaan di dalam menjalankan kehidupan beragama.  Jelas sekali perceraian dengan kondisi ini merupakan suatu perceraian yang objektif.

Kondisi keempat. Paswa Adalah Penjudi, Pemabuk, Kriminal.

Rumahtangga pastilah selalu dibahas sebagai lembaga yang identik dengan keharmonisan antara suami dan istri, kemudian dengan anak-anaknya. Dengan demikian rumahtangga selalu mempunyai kualitas manusia-manusia yang bertabiat sosial yang santun dan baik.

Rumahtangga tidak dapat mentolerir paswa yang pemabuk, penjudi, pelaku kriminal, dan juga pelaku kekerasan (termasuk KDRT yang menahun, berulang-ulang). Kalau seorang paswa terbukti terlibat tindakan judi atau mabuk-mabukan tentulah hal tersebut amat membahayakan rumahtangga, karena tidak mungkin rumahtangga harus mencintai seorang individu yang sebenarnya berbahaya bagi individu lain bahkan dirinya sendiri. Di dalam kasus ini rumahtangga tersebut harus berakhir dengan sesuatu perceraian di mana paswa yang mempunyai kualitas menjijikkan tersebut tidak dapat lagi diinsafkan oleh keluarga induk masing-masing pihak.

Perceraian dengan kondisi ini juga merupakan perceraian yang mendatangkan ridha di sisi Allah Swt. Dan kebalikannya mempertahankan rumahtangga dengan paswa yang berbahaya ini hanya akan mengundang angkara murka Allah Swt.

Tujuan pernikahan bukanlah untuk mencintai seorang manusia yang merupakan musuh seluruh umat, bukan. Tujuan pernikahan adalah supaya seorang manusia yang merupakan kebanggaan umat mendapatkan rumahtangga yang indah dan harmonis, Allah Swt berada di belakang rumahtangga ini.

Keempat kondisi ini merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari di dalam kehidupan ini. Ini artinya perceraian pernikahan yang salah satu paswa-nya mewakili satu dari empat kondisi tersebut pun juga tidak dapat dihindari. Cinta tampaknya bukanlah satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan, dan kalau keempat ini menikam dari belakang suatu pernikahan pastilah cinta jadi tidak berarti apa-apa. Titah dan firman serta rahmat Allah harus diperhatikan karena Allah Swt hanya menginginkan yang terbaik, bukan yang terburuk. Itu artinya cinta harus dapat dikesampingkan kalau satu dari keempat hal di atas menjadi kondisi di dalam suatu rumahtangga. Kedewasaan berfikir akan menuntun setiap paswa untuk yakin bahwa paswa yang lain harus mengucapkan selamat tinggal di dalam keempat kondisi di atas.

Banyaknya kasus perceraian atau banyaknya permohonan perceraian yang didaftarkan ke Pengadilan Agama sebagian besar tampaknya bukan berasal dari keempat kondisi di atas. Dengan kata lain perceraian yang banyak terjadi merupakan perceraian yang subjektif karena unsur-unsur keempat kondisi di atas tidak ditemukan, misalnya,

  1. Paswa yang tidak lagi perhatian.
  2. Paswa yang mau menang sendiri.
  3. Paswa yang selalu sibuk dengan urusannya.
  4. Paswa yang mulai banyak menuntut.
  5. Paswa yang tidak lagi suka berkomunikasi.
  6. Paswa yang tidak perhatian atau tidak mahir mengurus anak.
  7. Paswa yang tidak menghormati keluarga induk pasangannya.
  8. Paswa yang terlalu pecemburu.
  9. Salah satu paswa mandul – tidak dapat memberi keturunan.
  10. Paswa menjadi jelek, buruk rupa.
  11. Paswa yang tidak penurut.
  12. Paswa yang suka bergunjing, atau boros uang, atau genit.
  13. Paswa selalu berbuat kesalahan yang sama.
  14. Suami tidak mempunyai penghasilan yang menarik, atau suami menganggur.
  15. Paswa yang malas melakukan tugasnya.
  16. Paswa sudah tidak cinta lagi / sudah bosan.
  17. Paswa lebih mementingkan keluarga induknya.
  18. Paswa yang cepat emosi, dan lain lain.

Kondisi-kondisi seperti di atas bukan alasan yang baik untuk menceraikan paswa – karena kualitas di atas sama sekali tidak urgent, tidak mendasar. Ketinggian derajat pernikahan di atas kualitas-kualitas tersebut harus lah dipahami dengan baik oleh setiap paswa. Dan oleh karenanya perceraian dengan kondisi-kondisi tersebut merupakan perceraian yang amat dibenci oleh Allah Swt. Pada ranah inilah Muhammad Saw bersabda bahwa perceraian merupakan perkara halal yang amat dibenci Allah Swt.

Wallahu alam bishawab.

Perceraian yang dibahas di artikel ini merupakan perceraian dengan penyebab objektif, yang mana merupakan perceraian yang akan mendapatkan ridha Allah Swt dan oleh karena itu merupakan perceraian dengan kategori ibadah.  Untuk memahami perceraian dengan penyebab subjektif, yang merupakan perceraian yang berakibat pada kebencian Allah Swt. silahkan baca artikelnya di “Lembaga Pernikahan Ala Jamban“.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s