PBB Menentang Larangan Wanita Bekerja di Afghanistan

24-PBB Menentang Larangan Wanita Bekerja di Afghanistan

Liputan6.com, Kabul: Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang larangan wanita bekerja yang diberlakukan pemerintahan Taliban Afganistan. Sikap tersebut ditunjukkan lembaga tersebut dengan memperkerjakan ratusan wanita di pabrik-pabrik roti di Afghanistan, baru-baru ini.

Sejak 1996, ketika gerakan Taliban mulai berkuasa di Afghanistan, kaum wanita dilarang menjalani karier di sebagian besar sektor. Hanya sebagian kecil yang diizinkan bekerja. Itu pun terbatas di sektor kesehatan dan di bagian keamanan bandar udara, yakni khusus memeriksa para penumpang wanita.

Pembangakan larangan tersebut baru dilakukan Program Pangan PBB (WFP) ketika membuka 137 pabrik roti dan 25 di antaranya dikhususkan untuk pekerja wanita. Ke-273 wanita Afghanistan itu bekerja di bagian pembuatan dan produksi roti. Sedangkan 45 orang ditempatkan di bagian sanitasi sebagai pemantau kebersihan dan kualitas roti. Para karyawati itu diberi tunjangan, masing-masing berupa 100 kilogram tepung gandum per bulan dan ditambah upah bulanan setara dengan nilai US$ 20 dolar atau sekitar Rp 190.000.

Proyek ini juga mengatur reinvestasi laba dari industri Tenaga Kerja Wanita Afghanistan. Dengan modal sekitar US$ 4 sen atau sekitar Rp 400 mereka dapat memperoleh lima lembar roti tipis per hari. Proyek pabrik roti ini ditolerir pemerintahan Taliban. Namun, mereka menekankan agar wanita sepatutnya bertempat di rumah dan bukan menjalani karier di luar rumah. Sebelumnya, upaya penutupan pabrik-pabrik roti sempat dilakukan beberapa kali. Tetapi digagalkan oleh gerakan dari negara-negara barat. Menurut PBB, proyek pabrik roti ini terbukti berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat Afghanistan, sehingga 25 persen masyarakat dapat menikmati kebutuhan makan sehari-hari.(AWD/Ula)

** Terambil http://news.liputan6.com/read/6817/pbb-menentang-larangan-wanita-bekerja-di-afghanistan

-o0o-

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian paparan di atas yang mengedepankan pensemangatan untuk kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas kekeliruan logika paparan di atas sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

Sesuai dengan firman Allah di dalam surah Al-Ahzab 33 dan 34 (dan juga dalil lainnya), pendirian dan pendapat para petinggi Thaliban sudah benar saat mereka memutuskan untuk tidak lagi mengijinkan kaum wanita keluar rumah dan bekerja. Islam melihat tidak ada satu alasan pun yang mengakibatkan seorang wanita harus bekerja. Lebih dari itu Islam berpandangan bahwa nafkah keluarga merupakan tanggungjawab kaum pria, dan hal itu sudah sesuai dengan fitrah dan Hukum alam atas kaum pria, sementara tanggungjawab wanita adalah tetap tinggal di dalam rumah untuk mengurus domestik seperti mengurus anak dan membersihkan rumah.

Peran PBB yang hadir di Afghanistan (mau pun tempat lain) yang menentang Hukum Islam ini haruslah dilawan. Gerakan PBB untuk mempekerjakan kaum wanita di pabrik roti menunjukkan bahwa mereka tidak lagi menghormati Hukum Islam yang merupakan agama mayoritas di Negeri tersebut.

Pada bagian terakhir disebutkan, dengan adanya gerakan dan sponsor PBB untuk mempekerjakan kaum wanita di pabrik roti, kesejahteraan masyarakat di sana menunjukkan peningkatan. PBB ingin mengesankan bahwa dengan mempekerjakan kaum wanita maka kemiskinan dapat disibak, dan dengan melawan Hukum Islam pun, kemiskinan dapat disingkirkan. Wacana inilah yang ingin dikedepankan oleh kelompok-kelompok di luar masyarakat Muslim, seperti kaum nonmuslim, kafirin, sekuler dan juga kaum feminis.

Benarkah demikian? Tentu saja tidak.

Hal pertama yang harus dilihat adalah, tingkat kesejahteraan yang dibanggakan perugas PBB itu menurut statistik siapa? Dan menurut kacamata apa? Dan apa pula yang menjadi pembandingnya? Apakah peningkatan kesejahteraan itu ditandai dengan kemampuan untuk membeli mobil, memasang tv kabel, dan mempunyai kolam renang pribadi di rumah masing-masing?

Kalau hal itu yang menjadi indikator maka hal itu sesat dan keji; Islam tidak ingin Muslim menggunakan hal tersebut sebagai indikator anti-kemiskinan.

Patut dicatat, pada masa di mana wanita tidak boleh bekerja, apakah masyarakat Afghanistan terjerat kelaparan? Apakah ketika kaum wanita tidak diijinkan bekerja banyak wanita yang gagal melahirkan, dan banyak kaum wanita yang mati bergelimpangan di jalan-jalan kota? Dan ketika Afghanistan menerapkan larangan wanita bekerja, apakah efeknya kaum wanita itu jadi tidak dapat mengerjakan tugas-tugas domestik mereka secara baik?

Memang bisa diakui setelah adanya intervensi PBB yang memastikan seluruh wanita Afghanistan dipekerjakan di sektor publik kesejahteraan meningkat secara fenomena. Namun kebalikannya, ketika wanita tidak diijinkan bekerja, apakah kemiskinan dan kelaparan menjadi fenomena pula?

Sudah ditegaskan, bahwa kekayaan, kelimpahan materi (seperti yang disodorkan oleh kelompok-kelompok di luar Islam) yang bersifat Duniawi merupakan ‘musuh’ Islam, Muslim seluruh umat. Tentunya hal itulah yang harus dihindari. Hanya karena ingin mempunyai kelimpahan materi maka umat harus berani menyatakan bahwa Islam dengan ajarannya (yaitu Islam tidak diijinkan untuk bekerja) adalah salah, harus dibuang dan ditertawakan bersama-sama. Ingatlah bahwa kelimpahan materi tidak pernah ada cukupnya; semakin didapat akan semakin kekurangan!

Hal lain yang harus mendapat perhatian adalah, mengapa PBB memilih kaum wanita untuk dipekerjakan di pabrik roti tersebut? Apakah PBB (dan atau Nasional Afghanistan) kekurangan pekerja-pekerja pria untuk direkrut oleh pabrik roti? Dan apakah pekerja-pekerja pria dinilai tidak dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan di pabrik roti? Dan kalau kemudian PBB merekrut banyak pekerja pria untuk bekerja di pabrik roti maka bukankah kesejahteraan rakyat dapat dicapai tanpa harus mengorbankan fitrah dan kodrat kaum wanita?

PBB harus dipersalahkan. Dengan mempekerjakan kaum wanita (bukannya kaum pria), muncul kemungkinan bangkitnya pria-pria pengangguran, dan kelak fenomena ini akan menjadi bomwaktu yang akan menghancurkan seluruh tatanan sosial di kehidupan Afghanistan.

PBB tidak dapat menunjukkan apa-apa, kecuali ingin membuktikan bahwa Islam adalah salah dengan ajaran anti-wanita-nya. Namun PBB meleset dan gegabah luarbiasa. PBB telah menunjukkan pemaksaan, yang merupakan tipikalnya kaum kuffar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s