Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam

25-pembantu-rumahtangga-adalah-haram-dalam-islam

Bolehkah seorang wanita menyerahkan atau menunjuk orang lain untuk  menyelesaikan tugas domestiknya, seperti mempunyai pembantu rumahtangga?

Tidak. Tugas domestik tidak dapat dialihkan kepada orang lain seperti kepada pembantu: (profesi) pembantu rumahtangga adalah bathil di mata Allah.

Suatu hari sahabat Ali ra dan istrinya Fatimah ra mengunjungi Rasul Muhammad untuk meminta seorang budaknya supaya dapat dipekerjakan di rumah Ali dan Fatimah. Muhammad Saw bukannya mengabulkan permintaan anak dan menantunya itu, Muhammad Saw malah menjawab, “hai Fatimah (dan juga Ali) kerjakanlah apa yang dapat kamu kerjakan, dan kemudian di malam hari tahajudlah kamu. Maka pahalanya lebih besar dari shalat selama 1000 malam”.

Kisah ini mengajarkan satu hal yaitu mengambil pembantu adalah kezaliman di dalam Islam – karena keberadaan pembantu itu sendiri mendatangkan masalah syar’i. Kalau pembantu itu adalah seorang pria, apakah dia dapat dipercaya? Dan kalau pembantu itu adalah seorang wanita, maka bagaimana posisinya terhadap sang tuanrumah yang adalah seorang pria supaya tidak terjadi ikhtilat? Bukankah pembantu wanita itu harus didampingi seorang muhrim sebagaimana yang diajarkan di dalam Islam? Alhasil, kalau di sebuah rumah ada pembantu rumahtangga berjenis kelamin perempuan, berarti di rumah itu sudah terjadi perzinahan, karena akan selalu terjadi di mana seorang pria (yaitu pria suami dari si wanita) berkhalwat dengan sang pembantu yang perempuan itu, karena sang pembantu tidak didampingi muhrimnya. Ini akan menjadi dosa tersendiri.

Pun bagi pembantu yang perempuan itu, bukankah wanita dilarang untuk bekerjabisnis sejak awal? Maka mengapa ia bekerja, di dalam hal ini sebagai pembantu rumahtangga di suatu rumah? Dan bagaimana juga dengan tanggungjawab domestik dari si pembantu rumahtangga ini? Bukankah ia di rumahnya mempunyai suami dan anak-anak yang harus diberi makan, dan menyiapkan baju bersih untuk mereka?

Tampaknya aneh sekali kalau ada Muslim yang memikirkan profesi pembantu rumahtangga ini sebagai suatu aksioma (aksioma = suatu hal yang kebenarannya tidak lagi perlu diuji: sudah pasti benar dan tidak mungkin salah). Islam mengajarkan bahwa wanita tidak boleh bekerja, itu final. Hal ini salah satunya dikarenakan tugas dan kodrat wanita adalah domestik, yaitu mengurus rumahtangganya, mengasuh anak-anaknya, menjaga harta-benda dan menyiapkan seluruh keperluan sang suami. Dan dengan tetap berada di rumahnya terpeliharalah kehormatan dan kesucian wanita tersebut. Namun kemudian ada beberapa individu Muslim yang tidak menghubungkan perihal larangan wanita bekerja ini dengan profesi pembantu rumahtangga yang pasti berasal dari kaum wanita. Bukankah menjadi pembantu rumahtangga juga merupakan bekerja?

Kalau seorang wanita bekerja dengan menjadi pembantu rumahtangga, berarti ia telah meninggalkan rumah dan seisinya untuk pergi ke tempat bekerja: wanita ini tidak lagi menjaga rumahnya, tidak lagi mengasuh anak-anaknya, tidak lagi menyediakan keperluan suaminya, dan juga tidak lagi menjaga kesucian dirinya sebagai wanita. Sudah jelas menjadi pembantu rumahtangga juga merupakan ‘bekerja’, dan itu merupakan dosa bagi wanita tersebut, dan juga bagi individu-individu yang mendukung profesi ini.

Bekerja adalah terlarang bagi wanita. Tidak boleh dilewatkan juga: menjadi pembantu rumahtangga pun juga bekerja, oleh karena itu wanita tidak boleh menjadi pembantu rumahtangga di suatu rumah.

Untuk lebih jelas, terdapat tiga point yang memperkuat larangan dan keharaman menjadi atau menyewa jasa pembantu rumahtangga. Ahmed dan Sari adalah sepasang suami istri; dan kemudian ada wanita bernama Layka, yang menjadi pembantu rumahtangga di rumah Ahmed dan Sari:

  1. Ahmed dan Sari tidak dibenarkan mengambil pembantu untuk bekerja di rumahnya. Hal ini ternukil dari kisah di dalam keluarga Muhammad Saw yang melibatkan Siti Fatimah dan suaminya Sahabat Ali ra. Adalah tugas Sari untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan di dalam rumahnya. Untuk itu Sari harus bertawakal di dalam melaksanakan tugasnya: orientasi bekerjanya bukan pada menyelesaikan pekerjaan, namun pada semata menunaikan tugasnya sebagai istri dan wanita (tidak berleha-leha). Dan juga disarankan supaya Ahmed turut membantu Sari di dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Kalau hal ini difahami dengan baik, maka tidak perlu harus ada pembantu. Faktor lain pun juga harus diperhatikan: Sari tidak boleh bekerja; Sari harus tetap di rumahnya karena ia adalah wanita yang kodratnya adalah domestik. Dengan tetap di rumahnya, maka seluruh pekerjaan di rumahnya terjamin dapat diselesaikan.
  2. Layka di pihak lain, juga tidak dibenarkan bekerja, di dalam hal ini menjadi pembantu rumahtangga di kediaman Ahmed dan Sari. Layka adalah seorang istri, seorang wanita yang kodratnya adalah domestik – seharusnya Layka tetap di rumahnya, sementara nafkah Layka adalah tanggungjawab suami Layka, bukan tanggungjawab Layka. Seluruh keperluan dan nafkah Layka harus dipenuhi oleh suami Layka, mau pun ayah dari Layka. Sari dan Layka harus sama: sama-sama tidak boleh bekerja, mereka berdua harus tinggal di rumah. Singkat kata, wanita tidak boleh bekerja, dan larangan bekerja ini rata untuk seluruh profesi termasuk profesi pembantu rumahtangga.
  3. Keberadaan Layka sebagai pembantu rumahtangga di rumah Ahmed dan Sari menjadi kezaliman yang lain lagi. Layka dan Ahmed akan terlibat ikhtilat di rumah tersebut, suatu perbuatan dosa yang amat dilarang di dalam Islam. Dengan demikian baik Layka dan juga Ahmed telah berdosa, pun Sari juga berdosa karena mendukung terjadinya ikhtilat tersebut. Sampai di sini tidak perlu dibahas apakah Layka berjilbab menurut Islam, atau berhijab dengan membuat pembatas apakah berbentuk dinding atau sejenisnya. Selama Layka dan Ahmed berada dan diam di dalam satu rumah, tetap saja ikhtilat telah terjadi. Berjilbab mau pun berkerudung (dan juga berhijab) tidak pernah mentiadakan ikhtilat. Oleh karena itu keberadaan pembantu rumahtangga di dalam Islam merupakan sesuatu yang a-sistemik secara syariah.

Yang paling mendasar yang harus diketahui adalah bahwa ketiga hal di atas adalah seutuhnya mengandung ruh syar’i. Point kesatu sudah syar’i, point kedua juga bernilai syar’i, begitu juga dengan point ketiga, berdasarkan syar’i. Ketiga point inilah yang mendasari pengharaman pembantu, bukan saja karena adanya kisah kenabian seperti yang dinukilkan di atas.

Coba perhatikan apakah ada alternatif lain untuk hal mempunyai pembantu rumahtangga ini supaya tidak mengandung unsur keharaman.

  1. Bagaimana kalau pembantu rumahtangganya berjenis kelamin pria? Masalahnya adalah apakah dapat dipercaya seorang laki-laki berada di dalam suatu rumah orang lain? Kelak Ahmed dan Sari mempunyai anak perempuan, apakah mereka akan aman terhadap pembantu laki-laki ini? Lagipula, apakah laki-laki pantas untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti masak dan mencuci baju?
  2. Bagaimana kalau keberadaan Layka di rumah Ahmed itu didampingi mahramnya? Bukankah kalau ada pendampingan mahram maka tidak akan terjadi khalwat? Masalahnya adalah, apakah si mahram itu tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengawal Layka?

Toh yang jelas Islam telah melarang dan mengharamkan mempunyai pembantu – terlepas apakah pembantu itu laki-laki atau wanita. Seorang istri haruslah memikul sendiri tanggungjawab domestiknya, dan tidak boleh diserahkan kepada orang lain, kepada wanita lain, dengan imbalan uang.

Secara hakikat, harus difahami mengapa Islam melarang umatnya untuk mempunyai pembantu, adalah karena profesi pembantu merupakan profesi yang merendahkan martabat dan derajat manusia. Allah telah menciptakan manusia baik laki-laki mau pun wanita dengan martabat dan derajat yang sedemikian agung dan tinggi. Oleh karena itu martabat yang tinggi ini tidak boleh dinodai sama sekali, sementara menjadi pembantu rumahtangga merupakan satu cara untuk menodai martabat dan derajat manusia yang agung itu. Ingatlah, kalau seorang menjadi pembantu rumahtangga di suatu rumah, maka kelak orang itu tidak lagi mempunyai kemuliaan dan kehormatan, bahkan anak-anak sang majikan akan sebebasnya menyuruh-nyuruh sang pembantu tersebut yang bisa jadi sudah berusia lanjut. Si pembantu itu harus membungkuk-bungkuk di depan anak-anak majikan yang masih belia, akan mengambilkan sepatu mereka dan seterusnya. Hal itu amat menjijikkan di mata Allah Swt. Dan dengan adanya pembantu, maka seisi keluarga akan hidup di dalam kepongahan dan keangkuhan, terlihat dari tabiat menyuruh-nyuruh pembantu dengan cara merendahkan martabat. Biar bagaimana pun Islam melarang kepongahan.

Islam melarang perbudakan, artinya pembantu rumahtangga pun juga dilarang karena tidak sesuai dengan martabat manusia yang agung.

Islam melarang umatnya, baik laki-laki mau pun wanita untuk bermalas-malasan. Dengan mempunyai pembantu, pastilah sang nyonya ingin bermalas-malasan, karena toh gaji pembantu sudah diselesaikan oleh suami. Itu merupakan kezaliman di dalam Islam. Jadi motif untuk mempunyai pembantu bagi seorang istri ada dua, yaitu supaya si istri dapat bekerja di luar rumah, atau kalau tidak bekerja di luar rumah, maka si istri dapat bermalas-malasan. Kedua hal tersebut sudah keji di dalam Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

3 thoughts on “Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam

  1. Pembantu RT dilarang…..Tunjukkan Dalil larangannya….!! Jangan hanya kisah…!! Kisah bisa jadi hanya rekaan orang yang tidak suka jika keluarga (suami-istri bekerja) lalu punya pembantu

    Soal Laki-laki atau perempuan yang diragukan kepercayannya itu hanya kekhawatiran berlebihan

    Islam melarang umatnya bermalas-malasan…??? Siapa yang malas. Keluarga punya pembantu karena suami-istri hanya punya waktu terbatas (dua-duanya bekerja)….

    Pun bagi pembantu yang perempuan itu, bukankah wanita dilarang untuk bekerjabisnis sejak awal? ==== DALIL MANA YANG MENYEBUTKAN INI….???? BUKANKAH KHOTIJAH RA (ISTRI ROSULULLOH SAW) PEBISNIS,

    Moderator,
    dalil larangan / pengharaman pembantu, adl kisah keluarga nabi saw sendiri, yg sudah dinukilkan dalam artikel ini.

    kalau pembantu tidak diharamkan, maka pertanyaannya adl, fungsi istri itu untuk apa, kalau bukan utk menyelesaikan tugas2 domestik?

    Islam melarang umatnya bermalas-malasan…??? Siapa yang malas. Keluarga punya pembantu karena suami-istri hanya punya waktu terbatas (dua-duanya bekerja)….

    annisanation — justru itu yg hendak dijelasakan. islam melarang istri, atau wanita, utk bekerja. kodrat dan fitrah wanita adl domestik, yaitu selalu tinggal di rumah. jadinya, kalau wanita / istri tidak bekerja, yg artinya wanita tsb terus tinggal di rumah, maka buat apa ada pembantu?

    justru larangan / pengharaman islam atas pembantu adl, AGAR SUPAYA para istri tidak bekerja, agar dengan demikian seluruh pekerjaan domestik tidak terbengkalai.

    Pun bagi pembantu yang perempuan itu, bukankah wanita dilarang untuk bekerjabisnis sejak awal? ==== DALIL MANA YANG MENYEBUTKAN INI….???? BUKANKAH KHOTIJAH RA (ISTRI ROSULULLOH SAW) PEBISNIS,

    annisanation — wah di sini sdr kelitu. siti khadijah memang pebisnis, namun bukankah hanya selama beliau belum berumahtangga dg nabisaw??? dan ketika beliau telah mjd istri nabisaw, maka beliau pun tidak lagi mjd pebisnis.

    terima kasih.

  2. Wanita tidak boleh bekerja?
    Hmmm
    Kalo suaminya meninggal?
    Dan tak ada harta waris, dan ia punya anak masih kecil?
    dan ia pun sudah tak punya orang tua?
    Dan tak ada laki2 lain yg mau memperistrinya?
    Dengan apa wanita itu memberi makan anaknya dan dirinya sendiri?
    Monggo di telisik lagi dalam kitab hukumnya

    Annisanation,
    jawab,
    Tidak ada alasan untuk membenarkan seorang wanita keluar rumah untuk bekerja-bisnis. Anggaplah ada seorang wanita bernama Layla. Ini gradasinya:

    >> Kalau Layla masih gadis atau masih berstatus anak, maka kewajiban sang ayahlah untuk menafkahinya. Posisi sang ayah pun adalah extended, yaitu bisa kepada pamannya, abangnya, mau pun kakeknya.
    >> Kemudian kalau Layla sudah berumahtangga atau bersuami, maka kewajiban sang suamilah untuk menafkahi wanita itu.
    >> Kalau kemudian Layla dan suaminya adalah manusia-manusia yang miskin, itu pun tidak dapat dijadikan alasan bagi Layla untuk bekerja. Kemiskinan harus diterima dengan tawakal.
    >> Kalau di tengah kehidupan berumah-tangga, suami Layla tidak dapat lagi mencari nafkah (karena cacat atau sakit yang berterusan), syariah membenarkan Layla untuk menuntut cerai dari suaminya (karena suami yang tidak dapat memberi nafkah berhak untuk dicerai), dan Layla menjadi janda cerai. Dengan demikian Layla harus mendapat suami baru yang dapat menjaminkan nafkahnya. Dengan kata lain, setelah mencerai suaminya yang gagal itu, Layla toh harus menikah lagi dengan suami baru; tugas keluarga batih dan seluruh umatlah untuk menikahkan kembali Layla ini.Tidak perlu Layla bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri.
    >> Kalau Layla menjadi janda mati sementara anak-anak lelakinya pun masih kecil (yang belum dapat mencari penghasilan), maka kewajiban Al-Ummah lah untuk menikahkan kembali Layla yang menjadi janda itu sehingga nafkahnya menjadi tanggungjawab suami barunya. Ingat, Islam memerintahkan janda mau pun duda untuk menikah lagi.
    >> Kalau kemudian Layla menjadi janda tua sementara ia tidak mungkin menikah lagi – karena sudah sepuh, maka tanggungjawab anaknya yang lelaki lah untuk menafkahi Layla tua yang adalah ibunya.
    >> Kalau masalahnya adalah bahwa Layla tua ini tidak mempunyai anak lelaki, maka pertanyaannya adalah mengapa bisa si Layla tidak mempunyai anak lelaki? Ingat, Islam mengajarkan untuk mempunyai banyak anak. Kalau seorang wanita mempunyai / melahirkan banyak anak pada masa mudanya, maka mustahil keseluruhan anaknya adalah perempuan. Pasti ada anaknya yang laki-laki sekian orang. Anak laki-laki inilah kelak yang akan menafkahi Layla ini, ibunya.
    >> Seterusnya, anggaplah seluruh anaknya yang laki-laki meninggal sehingga yang tinggal hanyalah anaknya yang perempuan, yang dengan demikian tidak ada yang dapat menafkahi Layla ini, maka itulah saatnya Al- Ummah untuk menyantuni Layla ini melalui BAITUL MAAL. Ingat, Islam mengajarkan bahwa Al-Ummah harus mempunyai Baitul Maal (atau Kas Negara) yang pemasukannya berasal dari aneka zakat dari umat.
    >> Lagipula, anak-anaknya yang perempuan pun juga merupakan penopang kehidupan Layla ini (walau pun kadar wajibnya tidak se-signifikan atas anak lelaki). Anak-anak perempuan itu kelak akan mempunyai suami yang adalah menantu dari Ibu Layla ini. Terhadap setiap suami, Layla adalah sang mertua; Islam mengajarkan bahwa kepada mertua pun juga harus ditunjukkan bakti dan santunan.

    Dengan gradasi ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu celah pun bagi seorang wanita untuk bekerja. Hal demikian sungguh untuk menjamin bahwa kodrat wanita adalah kodrat domestik, dan akan terjadi fitnah yang mahabesar kalau seorang wanita keluar rumah.

    >> diambil dari artikel >> https://annisanation.wordpress.com/2014/07/07/gradasi-larangan-wanita-bekerja/

  3. Karena sejak kecil saya seorang yatim
    Ibu saya tak ada keluarga
    Dan keluarga ayah saya jauh
    Beliau enggan mencari cinta lain selain almarhum ayah saya
    Beliau pun tidak ingin meminta kasihan dan bantuan orang lain
    Dan beliau berjuang sendiri membesarkan saya dengan usaha yg beliau rintis
    Hingga sekarang saya dewasa beliau berjuang sendiri

    Apa ibu saya berdosa?

    Sorry curhat dikit
    Sekedar share

    Annisanation,
    yap …… ibu sdri salah …. tetapi keluarga besar sdri juga salah, dalam kaitannya mengapa ibu nya sdri sampai harus bekerja utk membesarkan sdri.

    pertama, sdri bilang bhw keluarga ayah sdri jauh. itulah letak kesalahan keluarga besar sdri, khususnya keluasrga besar ayah nya sdri. keluarga besar nya sdri, khususnya dari pihak ayah, WAJIB membesarkan dan menafkahi sdri, karena sdri adl keponakan mereka sendiri ….

    kedua, sdri berkata, “Beliau enggan mencari cinta lain selain almarhum ayah saya”.
    alasan ini pun tidak dapat diterima. nabisaw bertitah yg maknanya, dalam umat tidak dibenarkan ada yg wafat dalam keadaan sendiri, baik ia perjaka, gadis, janda mau pun duda …. kalau janda atau duda, maka ia wajib menikah lagi. alasan ibu nya sdri (almh) tidak ingin mencari cinta selain ayah, TIDAK DAPAT DIBENARKAN MENURUT SYARIAH ….

    dg kata lain, dari aspek ini ibu nya sdri telah berdosa dua kali. pertama berdosa karena menolak utk menikah lagi, dan kedua, berdosa karena bekerja mencari nafkah.

    demikian penjelasan dari annisanation. wallahu a’lam bishawab.

    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s