Peran Wanita Dalam Islam Dan Hukum Alam

26-Peran Wanita Dalam Islam Dan Hukum Alam

Persamaan gender yang banyak didengung-dengungkan oleh Barat, ternyata telah merasuk ke tubuh kaum Muslimah umat ini. Mereka telah tertipu dengan pemikiran kaum Barat, bahkan tidak sedikit yang meng-ekor pemikiran tersebut. Lantas bagaimana sebenarnya peran wanita Islam dalam membangun keluarga atau masyarakat? Mari kita simak tulisan berikut, bagaimana seharusnya wanita membangun sebuah keluarga bahkan Negara?

Peran wanita dalam keluarga

Keluarga merupakan pondasi dasar penyebaran Islam. Dari keluarga lah, muncul pemimpin-pemimpin yang berjihad di jalan Allah, dan akan datang bibit-bibit yang akan berjuang meninggikan kalimat-kalimat Allah. Dan peran terbesar dalam hal tersebut adalah kaum wanita.

Pertama: Wanita sebagai seorang istri

Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istrilah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istrilah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istrilah yang dapat menyemangatinya.

Sungguh, tidak ada yang mempunyai pengaruh terbesar bagi seorang suami melainkan sang istri yang dicintainya.

Mengenai hal ini, contohlah apa yang dilakukan oleh teladan kaum Muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya, dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak ada pangkat tertinggi melainkan pangkat seorang Nabi, dan tidak ada ujian yang paling berat selain ujian menjadi seorang Nabi. Untuk itu, tidak ada obat penenang bagi Rasulullah dalam mengemban amanah nubuwahnya melainkan istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai ketika Aisyah cemburu kepada Khadijah, dan berkata “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?”. Lantas Rasulullah marah dan bersabda:

“Bagaimana engkau berkata demikian? Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak membantuku, dan Allah memberiku rizki darinya berupa keturunan” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan).

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.

Inilah peran yang seharusnya dilakukan seorang wanita. Menjadi pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan wanita, akan tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin (pemimpin rumah tangga atau lainnya) yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Kedua: Wanita sebagai seorang Ibu

Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Di dalam rumah, siapakah yang mempunyai banyak waktu untuk anak-anak? Siapakah yang lebih mempunyai pengaruh terhadap anak-anak? Siapakah yang lebih dekat kepada anak-anak? Tidak lain adalah ibu-ibu mereka. Seorang ibu merupakan seseorang yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.

Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang di dalam keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya.

Mari kita simak perkataan seorang shahabiyah, Khansa ketika melepaskan keempat anaknya ke medan jihad.

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan sukarela dan telah hijrah berdasarkan keinginan kalian. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari ayah yang sama dan dari ibu yang sama, nasab kalian tidak berbeda. Ketahuilah bahwa seseungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah dan teguhkanlah hati kalian serta bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian menemui peperangan, maka masuklah ke dalam kancah peperangan itu dan raihlah kemenangan dan kemuliaan di alam yang kekal dan penuh kenikmatan”.

Keesokan harinya, masuklah keempat anak tersebut dalam medan pertempuran dengan hati yang masih ragu-ragu, lalu salah seorang dari mereka mengingatkan saudara-saudaranya akan wasiat yang disampaikan oleh ibu mereka. Mereka pun bertempur bagaikan singa dan menyerbu bagaikan anak panah dengan gagah berani dan tidak pernah surut setapak pun hingga mereka memperoleh syahadah fii sabilillah satu per satu (Sirah Shahabiyah hal 742, Pustaka As-Sunnah).

Inilah kekuatan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya. Tatkala sang anak merasa ragu akan hal yang ingin diperbuatnya, namun mereka teringat akan nasehat ibu mereka, maka semua keraguan itu menjadi hilang, yang ada hanya semangat dan keyakinan akan harapan seorang ibu.

Demikianlah peran mulia seorang ibu, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang diridhoi Allah dan Rasul-Nya. Karena anak-anaknya lah sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya.

Ketahuilah, banyak di kalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang di dapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.

Tahukah para pembaca dengan Imam Shalat Masjidil Haram, Asy-Syaikh Sudais? Apa yang melatar-belakangi beliau menjadi Imam shalat Masjidil Haram? Tidak lain adalah karena harapan dan doa dari ibu beliau. Seorang ibu yang terus menerus memotivasi anaknya untuk menjadi imam Masjidil Haram, telah membuat tekad Syaikh Sudais kecil menjadi besar dan membuatnya bersemangat untuk menghafalkan Alquran dan selalu berusaha agar keinginannya dan keinginan ibunya tercapai untuk menjadi Imam Masjidil Haram.

Pernahkan para pembaca membaca kisah seorang tabi’in Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi? Seorang ulama yang ditinggalkan oleh ayahnya untuk berjihad selama 30 tahun dan hidup bersama ibunya. Dengan bekal yang diberikan oleh sang ayah, namun dihabiskan hanya untuk pendidikan anaknya oleh ibunya, menjadikan sang anak berkembang menjadi seorang ulama dan pemuka Madinah, yang bahkan Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dari seorang ibu yang sholehah yang mendidik anaknya dengan sangat baik.

Ini adalah segelintir kisah-kisah yang mengagumkan tentang pengaruh yang amat besar dari seorang ibu, dan masih banyak kisah-kisah lainnya jika kita mau mencari dan membacanya.

Karenanya, jika para wanita sadar akan pentingnya dan sibuknya kehidupan di keluarga, niscaya mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengurusi hal-hal di luar keluarganya. Apalagi berangan-angan untuk menggantikan posisi laki-laki dalam mencari nafkah.

Peran wanita dalam masyarakat dan Negara

Wanita di samping perannya dalam keluarga, ia juga bisa mempunyai peran lainnya di dalam masyarakat dan Negara. Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.

Banyak hal yang bisa dilakukan kaum wanita dalam masyarakat dan Negara, dan ia punya perannya masing-masing yang tentunya berbeda dengan kaum laki-laki. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para shahabiyah nabi.

Pada jaman nabi, para shahabiyah biasa menjadi perawat ketika terjadi peperangan, atau sekedar menjadi penyemangat kaum muslimin, walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang juga ikut berjuang berperang menggunakan senjata untuk mendapatkan syahadah fii sabilillah, seperti Shahabiyah Ummu Imarah yang berjuang melindungi Rasulullah dalam peperangan.

Sehingga dalam hal ini, peran wanita adalah sebagai penopang dan sandaran kaum laki-laki dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Penutup

Jika kita melihat akan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah untuk kaum wanita, maka jelaslah bahwa wanita merupakan tumpuan dasar kemuliaan suatu masyarakat bahkan Negara. Masyarakat atau Negara yang baik dapat terlihat dari baiknya perempuan di dalam Negara tersebut dan begitu pun sebaliknya. Karenanya, peran wanita baik dalam keluarga atau masyarakat merupakan peran yang sangat agung yang tidak sepantasnya kaum wanita untuk menyepelekannya. Persamaan gender yang didengungkan oleh kaum barat, tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita. Ingatlah, Pemimpin-pemimpin yang adil dan generasi-generasi yang baik akan muncul seiring dengan baiknya kaum wanita pada waktu tersebut.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Penulis: Rian Permana

Artikel Muslim.Or.Id

http://muslim.or.id/keluarga/peranan-wanita-dalam-islam.html

https://www.facebook.com/nasihat.untuk.muslimah/posts/641249292558970

-o0o-

ANNISANATIONPaparan di atas sangat bermanfaat untuk menjelaskan betapa kuatnya pengaruh kehadiran seorang wanita di dalam wilayah domestiknya, yang mana itu berarti kodrat wanita adalah murni domestik, yang menuntut wanita untuk selalu tinggal di dalam rumahnya, tidak keluar rumah baik untuk menuntut ilmu mau pun untuk bekerja.

Bagian pertama.

Paparan pada bagian pertama artikel ini menekankan signifikansi peran wanita kalau wanita itu tetap tinggal di rumahnya. Arti seorang wanita amatlah besarnya, baik bagi suami mau pun anak-anaknya. Dunia tidak membutuhkan kehebatan seorang wanita ketika berada di luar rumah, tidak. Yang diinginkan Dunia adalah seorang wanita memberikan arti dan kesahajaan seorang wanita yang selalu diam di rumahnya, karena tenaga Dunia ini ternyata berasal dari kesetiaan seorang wanita terhadap rumahtangganya, baik kepada suami mau pun anak-anaknya.

Oleh karena itu seluruh pesan yang ada pada bagian pertama artikel ini harus mendapat dukungan positif dari seluruh insan yang menginginkan keharmonisa Dunia, dan tentunya juga akhirat. Yang harus digarisbawahi adalah, kebutuhan anak-anak akan kehadiran seorang ibu di rumahnya tidak dapat diganti dengan apapun yang ada di Dunia ini.

Bagian kedua.

Bagian kedua dari paparan ini mengetengahkan peran seorang wanita di luar rumah, bilamana seorang wanita mempunyai keahlian di dalam suatu hal hendaklah ia mengajar di kelas, atau kalau ia seorang dokter sebaiknya ia memberi sumbangsih-nya di rumahsakit.

Sebenarnya tidaklah demikian. Islam memerintahkan wanita untuk selalu diam di rumahnya, menjaga rumahnya, mengasuh anak-anaknya dan menjaga kesucian dirinya untuk suaminya. Islam tidak membenarkan seorang wanita bekerja di dalam upayanya membagi  ilmu pengetahuan yang ia miliki kepada wanita-wanita lain di dalam kelas (sebagai seorang guru). Ilmu apapun yang dimiliki seorang wanita bukanlah menjadi alasan bagi wanita untuk keluar rumah meninggalkan tanggung-jawabnya mengasuh anak dan memasak untuk suaminya.

Begitu juga kalau wanitanya adalah seorang dokter: ia tetap harus tinggal di rumah karena mengurus anak-anak dan memasak untuk suaminya adalah di atas segala-galanya. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bisa jadi wanita ini bergelar dokter? Bukankah itu berarti wanita ini pada masa sebelumnya selalu keluar rumah untuk pergi kuliah kedokteran? Hal itu merupakan dosa di dalam Islam. Ingatlah bahwa kodrat wanita adalah senantiasa di rumahnya. Jadi, keluar rumah untuk menuntut ilmu, ilmu apapun jua, tidak dibenarkan di dalam Islam. Dan kalau wanita ini tidak keluar rumah untuk pergi kuliah kedokteran pastilah wanita ini tidak akan menjadi dokter.

Bagian ini dilanjutkan dengan memaparkan kisah para sahabiyah (sahabat wanita pada masa Nabi Muhammad Saw) yang aktif berperan di luar domestiknya untuk kebaikan publik luas. Sebenarnyalah, kehidupan Muhammad Saw tidak mempunyai sepenggal kisah apapun yang mengindikasikan bahwa Islam menyetujui wanita keluar rumah (kecuali keluar rumah secara insidental).

Ajaran kenabian mengandung kisah di mana beberapa individu wanita turut ambil bagian di luar rumah semisal di masa perang, mau pun di masa awal berdirinya Islam. Ingatlah bahwa bagian-bagian tersebut tidak dapat dijadikan pijakan teori bahwa Islam mengajarkan wanita untuk berkarya di luar rumah.

Seseorang yang menginginkan wanita Muslim keluar rumah untuk bekerja (yang dengan demikian mendurhakai ajaran Allah Swt), menulis demikian,

“Demikian pula dengan ‘Aisyah ra. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah dalam berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang mampu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam”.

Peran Siti Aisyah di dalam peperangan (dan juga wanita mana pun pada masa Muhammad Saw), biar bagaimana pun bukanlah cetak-biru untuk ide wanita bekerjabisnis. Perang adalah perang, dan bekerjabisnis adalah bekerjabisnis, dua hal yang jauh berbeda. Harus ditekankan bahwa perang memiliki urgensinya sendiri yang tidak sebanding secuil pun dengan bekerjabisnis.

Anggaplah di dalam pertempuran wanita diijinkan untuk berpartisipasi – pada masa Nabi Muhammad Saw. Namun jumlah personnel wanita yang ikut perang tersebut tidak teramat signifikan. Adalah tidak mungkin, di mana ada 300 pasukan tempur misalnya, maka 100 atau 200 personnel di antaranya adalah wanita. Paling jumlahnya hanya satu, atau tiga, atau lima paling banyak. Sementara di dalam bekerjabisnis, seluruh wanita keluar rumah untuk menyamakan posisi mereka dengan para pria. Apakah itu adil? Kalau kita ingin menjadikan pastisipasi wanita di dalam perang (pada masa Muhammad Saw) sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis, maka mau tidak mau wanita yang boleh bekerjagaji hanya segelintir saja: karena pada perang itu wanita yang turut bergumul perang jumlahnya hanya segelintir, sepuluh wanita itu sudah terlalu banyak untuk bekerjabisnis di dalam suatu kota. Itu pun kalau memang wanita diijinkan untuk keluar rumah bekerjagaji. Partisipasi wanita di dalam peperangan bukan landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis di dalam Islam.

Maka kesimpulannya, pastisipasi wanita di dalam perang – seperti yang ditampakkan oleh Siti Aisyah – bukanlah landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis.

Hal berikutnya, Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. Ingatlah, bahwa apapun yang terjadi setelah wafatnya Muhammad Saw SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIJADIKAN landasan ajaran Islam. Ajaran Islam hanya berlandaskan pada semua peristiwa yang terjadi pada masa Muhammad Saw masih hidup. Oleh karena itu Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw tidak dapat dijadikan teori yang lain lagi bahwa wanita bekerjabisnis merupakan kesalehan.

Ash-Shifa’ binti `Abdullah pernah bertugas sebagai guru yang mengajar wanita-wanita Islam membaca dan menulis di saat baginda Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Kisah ini merupakan kisah ‘permulaan Islam’ di mana semua serba urgent dan mendesak; apakah harus dipersamakan dengan masa sekarang di mana Islam sudah mapan dan permanen di muka bumi? Intinya adalah, bahwa kisah di atas bukanlah kisah di mana seorang wanita bekerja yang pekerjaannya itu mendatangkan upah secara finansial kepadanya (gaji). Permulaan Islam yang serba urgent, di mana Hukum syariah belumlah mature harus mendapat perhatian secara seksama.

Kesimpulan yang dapat kita kembangkan adalah kisah sahabiyah pada masa Nabi Muhammad Saw yang berkarya di luar rumah tidak dapat dijadikan landasan bahwa wanita boleh menempati tempatnya untuk berkarya di luar rumah. Penempatan surah Al-Ahzasb 33-34 menjadi hal yang paling mendasar untuk mentradisikan domestikalisasi wanita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s