Tokoh Wanita Nabawi dan Emansipasi Gender

31-Tokoh Wanita Nabawi dan Emansipasi Gender

Sebagian orang yang membela emansipasi wanita atau emansipasi gender di dalam Islam akan mengusung segala cara untuk memperkuat keyakinan dan tuntutan mereka bahwa wanita boleh bekerja di dalam Islam. Di dalam segala cara mereka tidak akan tertinggal untuk mengangkat kisah tiga wanita di dalam kehidupan sejarah Islam sebagai bukti bahwa ketiga wanita ini adalah tonggak keislaman yang mensahkan tuntutan mereka bahwa wanita boleh bekerja, bersama dengan kaum pria. Ketiga wanita itu adalah Siti Hadija, Siti Aisha, dan kemudian Ratu Balquis.

Apakah benar ketiga wanita ini merupakan tonggak yang menjadikan sah pandangan bahwa wanita boleh bekerja di dalam Islam? Sebenarnya adalah justru terbalik. Islam pada banyak nash dan dokumen sucinya mengajarkan bahwa wanita tidak boleh bekerja, termasuk juga di dalamnya bahwa wanita tidak boleh keluar rumah, karena kodrat kaum wanita adalah domestik: di dalam rumah mereka justru pekerjaan kodrati wanita telah menunggu mereka, sehingga dengan pekerjaan itu kaum wanita tidak punya waktu dan alasan untuk keluar rumah bekerjabisnis dan bergaji seperti halnya kaum pria.

Siti Hadija.

Siti Hadija adalah istri pertama Muhammad Saw. Sejarah menunjukkan bahwa Siti Hadija tertarik pada kepribadian Muhammad Saw yang jujur dan ulet di dalam bekerja. Tidak butuh waktu yang lama bagi Siti Hadija untuk memutuskan bahwa Muhammad akan menjadi suaminya kelak sampai akhir hayatnya.

Siti Hadija merupakan seorang wanita pelaku bisnis, dan bisnisnya adalah menggembirakan. Karena bisnislah Siti Hadija berkenalan dengan Muhammad Saw, dan bisnis juga yang menyatukan hatinya dengan hati Muhammad Saw.

Pertanyaannya kemudian, apakah benar bahwa Siti Hadija adalah bukti bahwa Islam mengajarkan persamaan gender? Tidak benar.

Pada masa jahiliyah, Siti Khadijah memang seorang wanita yang bekerjagaji atau bekerjabisnis, keluar rumah dan meninggalkan kodrat domestiknya. Namun setelah menjadi istri Nabi Muhammad Saw, seluruh pekerjaan itu ia tinggalkan dan akhirnya menjadi murni seorang istri rumahan. Oleh karena itu hubungan antara Siti Khadijah dengan karirnya sebagai pelaku bisnis tidak dapat dijadikan landasan teori bahwa Islam memerintahkan wanita untuk bekerja. Yang harus dilihat sebagai bagian dari ajaran Islam adalah fase di mana Siti Hadija adalah istri Muhammad Saw, yang murni rumahan, tidak lagi sebagai pelaku bisnis. Fase sebelumnya tidak dapat dijadikan rujukan dan landasan ajaran Islam mengenai kewanitaan.

Dengan demikian pembolehan wanita bekerja di dalam Islam tidak dapat dirujukkan kepada Siti Hadija ini. Kebalikannya, ajaran Islam yang melarang wanita bekerja justru berpijak pada fase bahwa Siti Hadija adalah istri dan wanita rumahan yang selalu taat dengan kodrat domestiknya. Kaum pembela emansipasi wanita tidak akan mendapatkan apa-apa dari kisah tokoh ini.

Siti Aisha.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah beristrikan Aisyah ra, seorang wanita cerdas, muda dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang istri tidak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah ikut berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang mampu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

Bahkan Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan. Sehingga perang itu disebut dengan perang unta, karena saat itu Aisyah ra. naik seekor unta. Aisyah r.a. diriwayatkan pernah berkata: “Alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada tombak di tangan lelaki”.

Sampai di sini, kemudian apakah sah untuk menjadikan kisah Siti Aisha ini sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerja di dalam Islam? Jawabannya adalah tidak sama sekali.

Peran Siti Aisyah di dalam peperangan, biar bagaimana pun bukanlah cetak-biru untuk ide wanita bekerjabisnis. Perang adalah perang, dan bekerjabisnis adalah bekerjabisnis, dua hal yang jauh berbeda. Harus ditekankan bahwa perang memiliki urgensinya sendiri yang tidak sebanding secuil pun dengan bekerjabisnis.

Anggaplah di dalam pertempuran wanita diijinkan untuk berpartisipasi – pada masa Nabi Muhammad Saw. Namun jumlah personnel wanita yang ikut perang tersebut tidak teramat signifikan. Adalah tidak mungkin, di mana ada 300 pasukan tempur misalnya, maka 100 atau 200 personnel di antaranya adalah wanita. Paling jumlahnya hanya satu, atau tiga, atau lima paling banyak. Sementara di dalam bekerjabisnis, dapat dipastikan seluruh wanita bekerjabisnis keluar rumah untuk menyamakan posisi mereka dengan para pria. Apakah itu adil? Kalau kita ingin menjadikan pastisipasi wanita di dalam perang sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis, maka mau tidak mau wanita yang boleh bekerjagaji hanya segelintir juga, “sepuluh” wanita itu sudah terlalu banyak untuk bekerjabisnis di dalam suatu kota. Itu pun kalau memang wanita diijinkan untuk keluar rumah bekerjagaji. Ini berarti partisipasi wanita di dalam peperangan bukan landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis di dalam Islam.

Maka kesimpulannya, pastisipasi wanita di dalam perang – seperti yang ditampakkan oleh Siti Aisyah – bukanlah landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis.

Hal berikutnya: Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. Ingatlah, bahwa apapun yang terjadi setelah wafatnya Muhammad Saw SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIJADIKAN landasan ajaran Islam. Ajaran Islam hanya berlandaskan pada semua peristiwa yang terjadi pada masa Muhammad Saw masih hidup. Oleh karena itu Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat, dan juga ikut berperang pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw tidak dapat dijadikan teori yang lain lagi bahwa wanita bekerjabisnis merupakan kesalehan.

Lebih dari itu sejarah Islam memang mengisahkan bahwa Siti Aisha merupakan wanita yang cerdas: banyak dan ribuan Alhadis dirujukkan kepadanya. Ingatlah, bahwa kecerdasan yang dimiliki Aisha sama sekali bukanlah alasan untuk membenarkan tuntutan wanita boleh bekerja. Kecerdasan Siti Aisha merupakan garis kehidupan yang dia dapat, bukan suatu keputusan / ajaran.

Pejuang emansipasi gender terlalu salah kalau menilai peran Siti Aisha sebagai bukti bahwa Islam membolehkan wanita bekerja. Yang jelas adalah bahwa Siti Aisha tidak pernah meninggalkan kodrat kewanitaannya yaitu kodrat domestik yang selalu berada di dalam rumah.

Ratu Balquis.

Demikian kaum pengusung emansipasi gender menulis,

Surat al-Naml ayat 20-44, juga mengapresiasi kepemimpinan (karir politik) seorang perempuan yang bernama Balqis. Di samping ayat-ayat lain yang mengisyaratkan bahwa perempuan itu boleh bekerja menyusukan anak dan memintal benang.

Kisah Ratu Balquis ini dianggap sebagai landasan teori bahwa Islam membolehkan wanita untuk bekerja di dalam kerangka emansipasi gender. Benarkah demikian?

Pendirian yang dilancarkan oleh para pejuang emansipasi gender seperti ini haruslah diluruskan. Ratu Balqis pada saat menjabat sebagai Ratu alias kepala Pemerintah masih berstatus nonmuslim. Dan pada saat Ratu ini bergabung dengan Nabi Sulaiman dan menjadi Muslimah, sang Ratu berhenti dari jabatannya sebagai kepala Pemerintah, karena telah menjadi istri dari sang Nabi. Praktis, hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa Alquran merekomendasikan wanita untuk bekerjagaji.

Apakah Islam mengajarkan bahwa kita harus berpaling kepada kisah hidup seseorang yang nonmuslim atau masih nonmuslim? Tentu saja tidak. Berpaling kepada seorang Muslim saja tidak dibenarkan, apalagi berpaling kepada individu yang nonmsulim atau masih nonmuslim. Islam hanya bersandar dan berpaling kepada seputar kisah kehidupan Muhammad Saw: kisah hidup individu nonmuslim sudah pasti tidak termasuk. ***

Kesimpulan

Dari kisah ketiga wanita di dalam sejarah Islam ini saja sudah jelas bahwa Islam sangat mengharamkan wanita Muslim untuk bekerja, dan kalau ada pejuang persamaan gender menilai bahwa ketiga wanita ini merupakan alasan utama bahwa Islam mengajarkan wanita untuk bekerja, maka mereka harus bertobat dan mengakui kesalahan mereka.

Bagaimana kodrat kewanitaan harus dijabarkan, seutuhnya tampak pada surah Al- Ahzab ayat 33 dan 34, di mana difirmankan bahwa tempat wanita adalah rumah yaitu peran domestik. Kemudian kedua ayat tersebut terus menjalin sinergi dengan ayat-ayat lain dan juga Alhadis sehingga membentuk suatu pemahaman bahwa Islam melarang wanita untuk bekerja: Islam mengharamkan emansipasi gender; Islam mengharamkan emansipasi wanita. Lebih dari itu, Islam menilai bahwa tempat wanita adalah di rumahnya, dan itulah kesalehan yang utama. Pada akhirnya, ketiga tokoh wanita tersebut bukanlah dihadirkan untuk memperkuat tuntutan emansipasi gender, justru penjungkirbalikkan emansipasi gender.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s