Tugas Rumah Tangga Antara Suami dan Istri

32-Tugas Rumah Tangga Antara Suami dan Istri

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Ustadz, awal bulan Oktober, saudara saya (laki-laki) baru saja melangsungkan pernikahan. Sebelum pernikahan, tidak ada kesepakatan tentang pembagian tugas rumah tangga. Namun setelah mereka hidup bersama (-+ seminggu), sang istri meminta adanya pembagian tugas rumah tangga yang jelas.

Pada awalnya sang suami telah berusaha membantu sesuai dengan kemampuannya, tapi setelah menjalaninya, dia merasa keberatan karena kondisinya yang capek setelah bekerja dsb. Sempat juga sang suami mempersilahkan istri tinggal di rumah dan berhenti bekerja, tapi istri menolak, karena khawatir dengan masa depan anak-anaknya kelak yang mungkin memerlukan biaya tinggi untuk pendidikan.

Sebagai informasi, suami istri tersebut bekerja di tempat yang sama. Sang istri menginginkan pembagian tugas rumah tangga, salah satunya bersandar ke dalil dibawah ini:

Adat bukanlah syariah dan syariah bukalah adat”.

Para suami dilarang terkejut!

Mari kita renungkan hal berikut wahai para suami, lalu kita introspeksi dengan sikap kita selama ini kepada istri kita:

  • Harta istri: bukan harta suami
  • Harta suami: sebagiannya adalah hak istri
  • Istri berhak menetapkan nilai mahar
  • Nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34)

Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini?

1. Madzhab Hanafi

“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).

2. Mazhab Maliki

  • Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.
  • Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)

3. Mazhab Syafi’i

  • Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.
  • Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)

4. Mazhab Hanbali

  • Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.
  • Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).

5. Mazhab Dzahiri

  • Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.
  • Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.
  • Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm).

Apakah hal tersebut bisa dijadikan dalil? Mohon nasihatnya. Syukron, jazakumullahu khairanWassalamu’alaikum warahmatullah.

Dari: Margee

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Pendapat mayoritas ulama dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, istri wajib melakukan tugas-tugas rumah sebatas kemampuan dirinya. Istri wajib menaati suami, jika suami memerintahkan istri untuk berhenti kerja, maka istri shalihah pasti langsung berhenti kerja.

Isteri wajib taat kepada suami asalkan perintah suami bukan maksiat. Jika suami memerintahkan istri untuk masak misalnya dan istri mampu untuk masak karena dalam kondisi sehat, maka memasak dalam hal ini adalah kewajiban yang membuahkan dosa jika tidak dijalankan.

Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Sumber – http://www.konsultasisyariah.com/pembagian-tugas-rumah-tangga-antara-suami-dan-istri/ — 21 Januari 2014.

-o0o-

ANNISANATIONIslam berprinsip bahwa wanita tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari nafkah, terlebih kodrat wanita adalah kodrat domestik yang mensyaratkan seorang wanita harus selalu berada di rumahnya. Dengan demikian kalau ada paparan yang mengedepankan pensemangatan kaum wanita untuk bekerja sudah sesat dan keji.

Kita akan membahas logika paparan di atas secara paragraf per paragraf sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada logika bahwa wanita tidak mempunyai alasan apapun untuk bekerja.

Adanya Permasalahan rumahtangga yang dipaparkan di dalam artikel ini sebenarnya berpangkal dari sang istri yang bekerja mencari nafkah. Kalau si istri merupakan wanita yang tidak bekerja, sebenarnya permasalahan ini tidak akan pernah ada. Dengan kata lain, istri yang bekerja merupakan pangkal kekacauan dan masalah rumahtangga.

Untuk mengakhiri masalah ini, dan untuk memberi solusi dari masalah ini adalah, memutuskan bahwa si istri harus berhenti bekerja, dan kemudian tetap tinggal di rumah untuk mengurus seluruh pekerjaan rumahtangganya. Dan tetap tinggal di rumah merupakan kodrat seluruh wanita: hal tersebut tidak dapat diperdebatkan lagi.

Tugas wanita mau pun istri bukanlah keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah (termasuk sekolah atau menuntut ilmu), karena yang benar adalah bahwa tugas dan kodrat wanita adalah tetap tinggal di rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya. Jadi kalau ada seorang wanita yang keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah maka dengan sendirinya ia telah menentang kodratnya sendiri, dan itu merupakan dosa besar bagi dirinya.

Seluruh Kebutuhan wanita / istri ada dan dijamin dari nafkah suami / kaum pria,  begitu juga dengan anak-anaknya. Dengan demikian tidak ada alasan bagi seorang wanita untuk bekerja mencari nafkah.

Di dalam kasus ini disebutkan bahwa sang istri menolak berhenti bekerja dengan alasan khawatir akan biaya pendidikan anak-anak di masa datang. Cara menyikapi yang benar adalah bahwa rezeki dan nafkah anak-anak sudah ada di pundak sang suami, maka dengan demikian sang istri tidak perlu khawatir tentang nafkah dan pendidikan anak-anak.

Kebalikannya, jika ibu (istri) ini bekerja maka dapat dipastikan anak-anak akan kehilangan sosok ibu untuk memberi mereka dukungan rohani dan spiritual. Tentunya ini jauh lebih mengkhawatirkan. Begitu banyak anak-anak yang merasa gersang dan sengsara dikarenakan ibu mereka merupakan wanita pekerja yang tidak pernah berada di sisi anak-anak, itu disebabkan para wanita yang berkeras untuk terus bekerja mencari uang sehingga teraniayalah hak anak tersebut.

Islam sudah benar dengan ide-nya bahwa wanita haruslah tetap tinggal di rumah, karena tugas mereka jauh lebih mulia kalau mereka berada di rumah yang menjaga dan memberi perhatian kepada anak-anak, selain untuk tetap memelihara kesucian jiwa raga wanita tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s