Sikap Lelaki Samawi Terhadap Wanita

sikapsamawi

Kaum pria hidup di Dunia ini tidaklah sendirian, melainkan ditemani oleh kaum wanita, yang mana kaum wanita itu diciptakan Allah Swt dari tulang rusuk sang pria. Melalui proses penciptaan yang unik ini yaitu diciptakan dari tulang rusuk pria, wanita dikodratkan oleh Allah Swt untuk menjadi bagian dari seorang lelaki, dan dilogiskan untuk selalu patuh kepada pria. Faktanya memang demikian, bahwa kaum wanita itu lemah, dan selalu ingin dilindungi pria.

Kaum pria sendiri di Dunia, tentu harus pandai-pandai bergaul dengan kaum wanita. Kaum pria harus dapat mengelola kaum wanita supaya kaum wanita menjadi baik dan berguna di mata Allah Swt. Itulah tuntunan Allah Swt. Bergaul baik yang seperti apakah yang diinginkan Allah Swt dari kaum pria terhadap kaum wanita?

Allah Swt sudah memberi contoh dan pelajaran yang berharga mengenai bagaimana cara bergaul dengan kaum wanita, dan ajaran itu Allah Swt tuangkan di dalam kisah hidup Nabi Ibrahim as yang bergaul dengan para istrinya, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar.

Mari kita lihat sekilas hubungan seperti apa yang ada antara Nabi Ibrahim, Siti Sarah, dan Siti Hajar ini. Dikisahkan bahwa semula Nabi Ibrahim beristri Siti Sarah. Sampai pada usia mereka berdua yang sudah lanjut, Allah Swt tidak juga memberi anak kepada mereka. Sampailah suami istri ini pada moment kesedihan karena tidak juga beroleh anak.

Pada saat kesedihan memuncak, Siti Sarah menganjurkan Nabi Ibrahim untuk menikahi budaknya yaitu Siti Hajar, yang moga-moga dari pernikahan antara Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar ini, Nabi Ibrahim akan beroleh anak. Singkat kata, Nabi Ibrahim pun menikahi Siti Hajar, budak belian berkulit hitam legam. Tidak lama setelah pernikahan, Siti Hajar mengandung anak, dan setelah umur dalam kandungan cukup, Siti Hajar melahirkan anak yang kelak bernama Nabi Ismail as. Betapa bahagia Nabi Ibrahim mendapat karunia berupa seorang anak laki-laki dari benihnya sendiri.

Hari demi hari dilalui Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar dengan penuh kebahagiaan karena si kecil selalu berada di dalam pangkuan mereka berdua. Melihat pemandangan itu, Siti Sarah sakit hati. Demi, Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim supaya Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar beserta bayi Nabi Ismail-nya pergi meninggalkan Siti Sarah.

Akhirnya Nabi Ibrahim as, bayi Nabi Ismail as dan Siti Hajar pergi meninggalkan Siti Sarah, dan terus berjalan menjauhi Siti Sarah. Setelah sekian lama mereka berjalan, mereka bertiga terdampar di sebuah lembah gersang yang kelak bernama Mekah. Setelah sekian lama mereka bertiga diam di lembah Mekah, Nabi Ibrahim as memutuskan untuk meninggalkan Siti Hajar dan bayi Nabi Ismail berdua sendirian karena adanya panggilan Allah Swt atas Nabi Ibrahim as. Siti Hajar kala itu bertanya kepada Nabi Ibrahim as, “apakah Tuhanmu yang memerintahkanmu untuk meninggalkan kami berdua di gurun yang tidak berpenghuni ini?”. Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”. Mendengar jawaban seperti itu, berkatalah Siti Hajar: “kalau begitu, maka Allah Swt juga akan mengurus dan menjaga kami berdua”.

Mari kita analisa babak per babak kisah Nabi Ibrahim as ini.

Babak pertama.

Ketika Nabi Ibrahim as dan Siti Sarah berada pada puncak kesedihan karena tidak kunjung diberi anak, Siti Sarah menganjurkan Nabi Ibrahim as untuk menikahi budak hitamnya yaitu Siti Hajar. Sejarah menjelaskan bahwa pernikahan antara Nabi Ibrahim as dengan Siti Hajar memang terjadi kala itu.

Saat Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim as untuk menikahi budak hitamnya, apakah Nabi Ibrahim langsung menyetujui? Tidak demikian adanya.

Saat Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim as untuk menikahi budak hitamnya, hal yang dilakukan Nabi Ibrahim as bukanlah menyetujui apa yang dikatakan Siti Sarah, melainkan BERMUNAJAT memohon petunjuk kepada Allah Swt, apakah baik dan benar untuk menikahi Siti Hajar yang merupakan budak hitam milik Siti Sarah.

Di dalam waktu yang singkat, Allah Swt menurunkan petunjukNya kepada Nabi Ibrahim as, yaitu nikahilah Siti Hajar itu. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as menikahi Siti Hajar BUKAN KARENA permintaan atau perintah dari Siti Sarah, melainkan karena turunnya petunjuk Allah Swt.

Babak kedua.

Tidak lama kemudian Siti Hajar mengandung anak Nabi Ibrahim as. Dan setelah umur kandungannya cukup, sang bayi pun lahir dan diberi nama Nabi Ismail.

Efeknya jelas, yaitu munculnya kemesraan dan kebahagiaan di antara Nabi Ibrahim as dengan Siti Hajar, karena di antara mereka berdua kini sudah ada seorang bayi tanda pengikat jiwa mereka.

Efeknya terhadap Siti Sarah pun jelas: Siti Sarah tenggelam di dalam kecemburuan melihat suaminya di dalam kemesraan dan kasihsayang dengan istri mudanya yaitu Siti Hajar. Untuk mengatasi sakit hati lantaran cemburu, Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim as untuk pergi membawa Siti Hajar dan sang bayinya supaya tidak lagi terlihat di pelupuk matanya.

Ketika Siti Sarah dengan tegas mengusir Nabi Ibrahim beserta Siti Hajar dan bayinya itu, apakah Nabi Ibrahim as langsung menyetujui? Tidak demikian adanya.

Ketika Siti Sarah mengusir Nabi Ibrahim bertiga, maka hal pertama yang dilakukannya adalah BERMUNAJAT memohon petunjuk kepada Allah Swt, apakah baik dan benar untuk pergi bersama Siti Hajar dan bayinya menjauh dari Siti Sarah? Tidak lama kemudian Allah Swt memberi petunjuk dan perintahNya kepada Nabi Ibrahim, yaitu pergilah menjauh dari Siti Sarah dengan membawa Siti Hajar dan bayinya.

Dengan demikian, Nabi Ibrahim tidak begitu saja patuh kepada perkataan Siti Sarah. Yang terjadi sebenarnya adalah, bahwa justru Nabi Ibrahim hanya patuh atas petunjuk dari Allah Swt.

Babak ketiga.

Alkisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan bayinya Nabi ismail terdampar di sebuah gurun tandus yang tidak berpenghuni. Pastilah keadaannya amat darurat dan genting karena di tengah mereka berdua ada seorang bayi kecil yang tidak berdaya, dan mereka berada di gurun tandus yang tidak terdapat toko mau pun pasar untuk mencukupi kebutuhan sang bayi.. Dengan kondisi seperti itu pastilah Nabi Ibrahim amat menyayangi bayinya, yang puluhan tahun telah ia tunggu-tunggu dengan segenap jiwa raga, ia pasti akan melakukan apa saja demi sang bayi.

Pada kondisi seperti itulah, Allah menurunkan perintahNya kepada Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Siti Hajar dan bayinya. Logika seperti apakah itu? Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan bayi dan istrinya, di tengah gurun tandus yang kritis dan tidak berpenghuni?

Demi mendapat perintah langsung dari Allah Swt, apa yang dilakukan Nabi Ibrahim? Meragukan dan mempertanyakan Allah Swt akan seluruh perintahNya? Tidaklah demikian adanya.

Nabi Ibrahim langsung mematuhi perintah Allah Swt tersebut, yaitu meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi. Dan Nabi Ibrahim tahu, kalau Allah Swt Yang memerintahkan hal demikian, maka pasti Allah jugalah Yang akan menjaga anak dan istrinya itu: Allah Swt tidak akan pernah menganiaya hamba-hambaNya.

Alkisah Nabi Ibrahim segera memulai langkahnya untuk meninggalkan bayi dan istrinya itu sendirian di tengah gurun tandus. Siti Hajar terheran-heran melihat apa yang diperbuat Nabi Ibrahim. Berkali-kali Siti Hajar mempertanyakan perbuatannya, namun Nabi Ibrahim tidak Kuasa untuk menjawab. Akhirnya Siti Hajar hanya bertanya, apakah perbuatan itu merupakan atas perintah Allah Swt? Nabi Ibrahim dengan tegas menjawab, ya. Maka tenanglah Siti Hajar, karena dengan jawaban seperti itu, maka Siti Hajar juga akan mendapat jaminan keamanan dari Allah Swt.

Dengan adanya kisah pada babak ketiga ini, jelaslah bahwa Nabi Ibrahim meletakkan hatinya bukan pada posisi woman-oriented, melainkan Allah-oriented. Kalau dilihat secara logika, apakah mungkin Nabi Ibrahim yang merupakan pria dewasa yang waras, dan sudah bertahun-tahun merindukan mempunyai anak, tiba-tiba saja ingin meninggalkan sang bayi beserta ibu yang melahirkan sang bayi? Tentu ada logika lain yang berlaku, dan logika itu adalah bahwa hati Nabi Ibrahim ternyata hanya dikhususkan untuk menerima perintah Allah Swt, bukan yang lainnya.

Ibrahim as, seorang Nabi besar yang merupakan pemimpin Dunia iman, telah menunjukkan bahwa, wanita bukanlah orang yang dengannya kaum pria berdebat. Seorang pria percaya bahwa cara pria menangani kaum wanita, sebenarnya ada di dalam berserah diri pria itu kepada Allah Swt. Kalau Allah Swt yang mengatur dan merahmati kaum pria, maka pria juga percaya bahwa Allah Swt jugalah Yang mengatur dan mengasihi kaum wanita. Dengan kata lain, pria samawi percaya bahwa tata-hubungan pria dengan wanita seutuhnya terdapat dalam hubungan pria dengan Tuhan. Itulah ajaran yang terkandung di dalam kehidupan Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim tidak pernah menjadikan perkataan wanita (di dalam hal ini Siti Sarah) sebagai suatu panduan, apalagi peraturan. Bagi Nabi Ibrahim, panduan yang sebenarnya adalah petunjuk dan firman Allah Swt. Pada kasus Nabi Ibrahim ini, semua hal yang diperkataan Siti Sarah, bagi Nabi Ibrahim adalah masukan semata, bukan panduan; dan masukan itu bisa datang dari mana saja dan di dalam bentuk apa saja.

Begitu juga di dalam hubungannya dengan istrinya yang lain yaitu Siti hajar: Nabi Ibrahim harus kuat untuk menahan emosinya terhadap wanita tersebut tatkala Tuhan memerintahkannya untuk pergi meninggalkan mereka berdua di tengah gurun tandus. Logis sekali bahwa Nabi Ibrahim amat mencintai Siti hajar dan bayinya Nabi ismail. Namun seluruh perasaan itu harus kuat-kuat ia tentang demi dapat menjalankan perintah Tuhannya. Terlihat sekali bahwa demi menjalankan perintah Tuhannya, Nabi Ibrahim sama sekali tidak ingin berbicara dengan Siti hajar, padahal Siti hajar sudah tersuruk-suruk mengejarnya sepanjang jalan demi bisa bicara dengannya. Hal ini benar-benar menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim hanya menempatkan Allah Swt di atas segala-galanya, dan di dalam kemurahan Allah jugalah terkandung keselamatan dan kesejahteraan Siti hajar dan bayinya, Nabi ismail. Ibrahim dan seluruh laki-laki samawi harus percaya akan hal tersebut.

Di dalam hubungan yang Allah-oriented, sudah terdapat tata-hubungan antara pria dengan wanita. Namun kalau seorang pria seutuhnya woman-oriented, maka tata hubungannya dengan Allah Swt tercerai-berai, karena pada dasarnya, wanita adalah mahluk yang hanya mempunyai dan mengandalkan perasaan. Itu merupakan satu-satunya kata kunci yang membuat seluruh pria samawi harus berpaling dari mendengar apa kata wanita, dan justru hanya akan menunggu seluruh perintah Tuhan. Singkat kata, adalah TIDAK BAIK BAGI SEORANG PRIA UNTUK MENDENGAR KATA-KATA WANITA.

Kisah Siti Hawa.

Ada baiknya juga untuk menukilkan kisah Siti Hawa beserta suaminya yaitu Nabi Adam. Dikisahkan bahwa mereka berdua hidup di dalam Surga penuh belas kasih dari Allah Swt. Diwasiatkan kepada mereka berdua untuk tidak memetik buah khuldi yang merupakan buah berbahaya di dalam kehidupan ini.

Nabi Adam di satu pihak memegang teguh larangan Tuhannya. Siti Hawa pun juga demikian. Namun disesalkan, Setan telah menemukan formula untuk menggoda Siti Hawa agar membujuk suaminya bersedia memetik buah khuldi.

Sudah diwasiatkan di sini bahwa adalah tidak baik bagi seorang pria untuk mendengar kata-kata wanita, dan di dalam kisah ini, Nabi Adam di-skenario-kan akhirnya MENDENGAR kata-kata wanita yaitu Siti Hawa. Kata-kata wanita itu adalah bahwa petiklah buah khuldi yang lezat. Adam melanggar wasiat Agung tersebut, yaitu mendengar kata-kata wanita. Pelanggaran pertama pun diikuti dengan pelanggaran kedua, yaitu bersedia memenuhi kata-kata wanita tersebut: aku petik buah khuldi demi kata-kata wanita. Akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawa berdua terjerumus dalam dosa yang keji, dan di ujung itu semua, angkara murka Tuhan telah menanti.

Konsekwensinya sungguh sederhana: Nabi Adam dan Siti Hawa harus keluar dari Surga, dan dihempaskan ke bumi. Artinya seluruh karunia dan belas kasih yang selama mereka berdua dapatkan dari Tuhan, akan mulai terbatas. Itu semua lantaran Nabi Adam sebagai laki-laki mendengar kata-kata wanita.

Di bumi mereka berdua benar-benar memahami bahwa mereka telah melanggar wasiat Agung. Dan untuk itu Tuhan telah menerima taubat mereka. Selanjutnya, Nabi Adam memutuskan untuk tidak lagi mendengar kata-kata wanita yaitu Siti Hawa. Dan di pihak lain pun, Siti Hawa sadar bahwa seluruh kekacauan itu berasal dari mulutnya. Praktis, Siti Hawa melewatkan seluruh hari-harinya di bumi dengan tidak banyak berkata; tidak banyak bicara. Dirinya faham, walau pun tidak pernah berkata-kata kepada Nabi Adam, toh Nabi Adam tetap tahu apa yang terbaik bagi mereka berdua. Singkat kata, sejak pecahnya dosa pertama itu, Siti Hawa lebih banyak diam, lebih banyak menghemat kata. Dari perspektif lain, ini artinya mempermudah Nabi Adam di dalam menjalankan tugasnya untuk selalu benar di mata Tuhan.

Tuhan telah mengajarkan bahwa laki-laki dilogiskan untuk hanya mendengar firman dan ajaran Tuhan, bukan yang lainnya, apalagi kata-kata wanita. Laki-laki dikodratkan untuk menjadi penguasa Dunia, dan oleh karena itu tidak logis kalau laki-laki menerima perintah dan seruan wanita. Mendengar kata-kata wanita, sesuai dengan apa yang ditunjukkan sejarah, membawa konsekwensi yang berbahaya bagi seluruh umat. Kalau wanita memang spesies yang hanya mengandalkan perasaan, maka bukan berarti seluruh perkataan wanita bernilai kebenaran bagi kaum pria.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s