Ungkapan Seorang Wanita Muslimah Yang Pekerja.

ungkapan-wanita-merasa-benar

Islam melarang emansipasi wanita, mau pun hal yang disebut dengan persamaan gender, karena Islam justru mengajarkan bahwa pria dan wanita adalah berbeda. Kebalikannya Islam mengajarkan domestikalisasi wanita, di mana wanita menurut Islam haruslah senantiasa berada di dalam rumahnya karena banyak tugas domestik yang harus diselesaikan. Intinya, wanita yang senantiasa keluar rumah akan memberi kontribusi luar biasa atas fenomena dekadensi moral umat, seperti perzinahan, pelacuran, freesex, selingkuh, dan lain sebagainya. Di tingkat rumahtangga, wanita yang selalu keluar rumah (baik untuk tujuan menuntut ilmu mau pun bekerja) memberi kontribusi luas atas fenomena tidak patuh kepada suami, bahkan membangkangi suami, dan juga terjadi sang istri menjadi merasa superior atas suami, menolak melayani suami dan lain sebagainya.

Berikut adalah ungkapan seorang Muslimah yang keluar rumah untuk bekerja, di dalam kaitannya dengan emansipasi wanita mau pun persamaan gender, dan kita akan melihat apa sebenarnya yang dia maksud mengenai emansipasi wanita terhadap perannya sebagai istri dan wanita baik-baik.

………….. Saya Atun, saya adalah seorang wanita, Muslim, dan berjilbab. Dan di atas itu semua, saya adalah seorang wanita pekerja.

Saya faham agama, faham ibadah, rajin beribadah, dan faham akan pahala dan dosa. Saya selalu mengaji, dan ikut pengajian ibu-ibu.

Di tempat kerja saya selalu menjaga kehormatan dan kesucian saya, khususnya terhadap pekerja pria. Saya selalu berjilbab, dan membatasi pergaulan hanya sebatas pada sesama wanita saja. Jarang sekali saya bercampurgaul dengan para pria.

Karena pemahaman agama saya baik, maka saya menikah pada usia yang sangat muda, yaitu 22 tahun. Itu semua saya lakukan karena ketaaatan saya pada ajaran Islam. Saya tidak pacaran, karena Islam melarang pacaran. Begitu juga dengan suami saya, seorang pria yang sangat faham agama, rajin ibadah, mengaji, dan sangat faham bahwa pacaran dan juga berkhalwat merupakan dosa besar di dalam Islam. Oleh karena itu suami dan saya sepakat untuk langsung pada pernikahan, dan kemudian menikah pada usia muda, suami menikahi saya saat usianya 23 tahun.

Sekarang ini saya sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang berusia 3 tahun. Sebagai wanita pekerja, saya serahkan pengasuhannya pada seorang babysitter. Untuk keperluan domestik pun saya serahkan kepada seorang pembantu rumah tangga.

Singkat kata, pernikahan saya dengan suami berjalan baik dan indah. Terlebih saya tidak pernah berbuat zina, selingkuh di Kantor, mau pun membangkang terhadap suami; kesemua hal tersebut adalah dosa dan amat terlarang di dalam agama saya, dan terlebih hal tersebut bertentangan dengan pemahaman saya. Saya sayang anak saya, dan saya menghormati keluarga mertua, dan menghormati para ipar. Saya di Kantor membatasi pergaulan saya dengan kaum pria, karena saya faham bahwa bertemu muka dengan kaum pria merupakan hal yang dibenci agama.

Sampai di sini, saya tidak melihat ada logika di balik larangan Islam mengenai wanita bekerja. Mengapa ada sebagian Muslim yang berkata bahwa Islam melarang wanita untuk keluar rumah dan bekerja. Oleh karena itu saya merupakan contoh baik dan bukti betapa baiknya kalau seorang wanita bekerja mencari uang, karena Islam sendiri mengajarkan seluruh umatnya untuk bekerja mencari nafkah. Kalau tidak ada satu pun cela yang saya lakukan sebagai wanita pekerja, maka absah-lah pendirian bahwa di dalam Islam wanita boleh keluar rumah untuk bekerja. Sekian.

Benarkah demikian?

Latar belakang.

Muslimah yang bernama Atun ini menjalani kehidupannya sebagai wanita, istri dan sekaligus wanita pekerja yang berjilbab dan taat beragama. Di dalam kehidupannya ia (bersama suami) mengimplementasikan pemahaman agamanya yang sangat baik, seperti larangan pacaran, larangan berkhalwat, larangan tabaruj, larangan selingkuh, larangan berzina, perintah mencari nafkah, menjaga kesucian, menjaga dan menutup aurat, dan lain sebagainya.

Atun merasa bahwa jalan yang ia tempuh sudah benar – yaitu keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah. Dan karena ia tidak selingkuh, tidak mengumbar aurat, tidak berkhalwat, maka ia merasa tidak pada tempatnya untuk merespon ajaran Islam bahwa wanita tidak diperkenankan keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu. Ia bahkan sampai pada keyakinan bahwa sebenarnya Islam tidak pernah melarang kaum wanita untuk keluar rumah, karena menurutnya, Islam justru mengajarkan kewajiban untuk bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Prinsip Islam dan logika.

Hanya karena Atun merupakan wanita baik-baik, maka ia merasa tidak ada yang salah dengan gerakan emansipasi wanita yang ia kembangkan. Memang benar bahwa Atun merupakan wanita baik-baik, faham agama, dan selalu anti pacaran bahkan selingkuh. Adalah benar bahwa Atun merupakan wanita yang tidak akan bertabaruj dan berkhalwat dengan pria lain.

Namun terdapat pertanyaan mendasar yang harus dijawab: bagaimana dengan wanita lain? Apakah seluruh wanita di muka bumi ini se-type dengan Atun?

Terdapat banyak type wanita di muka bumi ini, yang jahat, bengal, keras kepala, keras hati, apatis, sekuler, genit, materialistis, hedonis, dan bahkan atheis yang membenci seluruh ajaran agama mengenai keagungan moral. Bagaimana cara terbaik mengelola mereka supaya mereka tidak berbuat keji di tempat kerja dan di kampus?

Intinya, di luar kehidupan yang dijalani Atun dan suaminya, toh perzinahan, perselingkuhan, freesex, kondomisasi, aborsi, pornografi, bangkai bayi di tempat sampah, kelahiran anak di luar nikah dan lain sebagainya, terus marak terjadi dan statistiknya terus meroket dari waktu ke waktu. Dan pertanyaannya kemudian adalah, mengapa kesemua hal tersebut terjadi? Bukankah sudah ada agama di dalam hidup ini? Bukankah sudah ada Hukum positif untuk memastikan seluruh kekacauan itu tidak akan terjadi?

Jawabannya mudah: kesemua hal mengerikan tersebut terjadi hanya KARENA KAUM WANITA KELUAR RUMAH (baik untuk tujuan menuntut ilmu mau pun bekerja mencari uang).

Hanya karena Atun tidak melakukan hal-hal yang keji, bukan berarti Atun adalah benar, bukan berarti Islam mengajarkan bahwa seluruh wanita diperbolehkan keluar rumah; bukan berarti bahwa ajaran Islam mengenai larangan wanita keluar rumah adalah salah. Hanya karena Atun di luar rumah tetap menjalankan perintah Islam, bukan berarti di luar sana sama sekali tidak terdapat kebangkrutan moral yang awalnya adalah karena seluruh kaum wanita keluar rumah.

Seluruh wanita di kota telah keluar rumah setiap hari, termasuk Atun. Dengan keluar rumah, kebanyakan dari wanita tersebut berbuat keji, seperti melacur, berzina, pacaran, berkhalwat, bertabarruj, bergunjing, mengumbar aurat dan lain sebagainya. Adalah tidak mungkin untuk menyatakan bahwa wanita dibenarkan keluar rumah di dalam Islam, sedangkan wanita keluar rumah selalu berparalel dengan kebangkrutan moral. Salah besar untuk menjadikan Atun sebagai contoh dan bukti betapa wanita dibenarkan untuk keluar rumah. Selama terdapat kebangkrutan moral di tengah masyarakat, maka selama itu seluruh Atun tidak dapat dibenarkan untuk keluar rumah untuk tujuan apapun.

Kalau seluruh wanita tidak ada yang keluar rumah (seperti yang diajarkan Islam), tentulah tidak akan pernah terjadi seluruh kekacauan dan dekadensi moral, seperti perzinahan, perselingkuhan, freesex, kondomisasi, aborsi, pornografi, bangkai bayi di tempat sampah, kelahiran anak di luar nikah, perceraian pasangan muda, dan lain sebagainya. Dan itulah yang menjadi dasar dari larangan wanita keluar rumah di dalam Islam. Kalau seluruh wanita tetap tinggal di dalam rumahnya, maka bagaimana mungkin terjadi perzinahan? Bagaimana mungkin terjadi perselingkuhan? Bagaimana mungkin terjadi pornografi? Atun, dari suatu tempat, tanpa ia sadari TELAH MEMBERI KONTRIBUSI atas terjadinya dekadensi moral yang mengerikan ini.

Daftar kesalahan Atun.

Pertama.

Atun selalu keluar rumah setiap hari, sementara Islam mengajarkan bahwa tempat hidup kaum wanita adalah di dalam rumahnya. Banyak pekerjaan domestik yang harus Atun selesaikan, sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai wanita, namun ia tinggalkan seluruh tugas domestik itu demi bekerja. Islam mengajarkan bahwa keluar rumahnya seorang wanita merupakan rukhshah, yaitu kemudahan mau pun dispensasi keluar rumah untuk saat-saat mendesak. Dengan kata lain wanita keluar rumah hanya untuk tujuan insidental, bukan untuk dipermanenkan, sementara Atun sendiri telah melanggar ajaran Islam mengenai rukhshah ini.

Kedua.

Atun bekerja mencari nafkah, sementara Islam mengajarkan bahwa nafkah merupakan tanggungjawab suami, bukan istri atau wanita mana pun. Nafkah seluruh wanita termasuk para istri sudah menjadi tanggungan kaum pria.

Ketiga.

Dengan keluar rumah, Atun telah mensia-siakan perawatan anaknya, dan justru ia serahkan pengasuhan anaknya kepada babysitter. Bagaimana mungkin seorang wanita dapat dikatakan wanita sejati jika ia tidak berminat mengurus anaknya sendiri, dan ternyata lebih berkenan berkutat dengan pekerjaan mencari uang nun jauh di luar rumah? Dan bukankah kebutuhan nafkahnya sudah dipenuhi sang suami?

Keempat.

Dengan keluar rumah (setiap hari untuk bekerja mau pun menuntut ilmu) Atun tidak dapat menyelesaikan seluruh tugas domestiknya. Untuk keperluan itu ia mempekerjakan pembantu rumahtangga, sementara Islam telah mengharamkan posisi pembantu rumah tangga ini. Bagaimana mungkin Atun merasa bahwa ia merupakan umat yang salehah sementara ia sendiri setiap hari berbuat dosa di mata Allah Swt dengan menyewa jasa pembantu? Mengenai pengharaman Islam atas profesi pembantu, silahkan klik dan kunjungi artikel ini.

Kelima.

Atun selalu keluar rumah tanpa dikawal oleh laki-laki dari kalangan keluarganya, mau pun suaminya, sementara Islam mengajarkan bahwa kalau wanita keluar rumah maka ia harus ditemani laki-laki muhrimnya. Bagaimana mungkin Atun merasa bahwa ia tidak berbuat dosa di dalam agamanya sendiri?

Keenam.

Atun ketika keluar rumah, pastilah ia berdandan sedikit banyaknya, mengenakan bedak, pemoles pipi, perona bibir, mengenakan baju yang layak, dan lain sebagainya. Tidak dapat dihindari untuk mengatakan, bahwa sebenarnya Atun telah berTABARRUJ, yaitu keluar rumah dengan BERPERHIASAN DAN BERWEWANGI-WANGIAN ….. suatu hal yang dilarang di dalam Islam dan merupakan dosa atas kaum wanita. Bagaimana bisa Atun tidak merasa berdosa di dalam keagamaannya, sementara ia sendiri jelas telah melanggar ajaran agama? Islam mengajarkan, bahwa seorang wanita hanya dibenarkan berdandan untuk suaminya. Jika ada seorang wanita berdandan untuk di luar suaminya, maka nilai dosanya sama dengan ia telah berzina.

Ketujuh.

Atun setiap hari keluar rumah untuk tujuan bekerja, yang mana artinya di tempat kerja Atun akan menikmati alam kesetaraan dengan kaum pria, seperti memerintah para pria, menegur para pria, bersaing dengan para pria, rapat dengan kaum pria, dan lain lain. Di lain pihak, Islam mengajarkan bahwa wanita dengan pria tidaklah sederajat, tidaklah sama antara pria dan wanita. Menurut Islam, pria berderajat lebih tinggi dari kaum wanita, sekalipun wanita tersebut adalah ibu kandungnya sendiri. Bagaimana mungkin Atun (dan wanita lain) dikatakan tidak berbuat dosa padahal ia telah melanggar ajaran Alquran bahwa wanita dan pria sama sekali tidak sederajat?

Kedelapan.

Atun setiap hari keluar rumah untuk berada di kantornya di dalam rangka bekerja meniti karir dan mencari uang nafkah sebanyak-banyaknya. Di Kantor Atun sebagai karyawati pastilah akan menerima perintah dari para atasannya, dan Atun merupakan karyawati yang sangat patuh atas seluruh perintah para atasannya. Dengan kata lain para atasan sungguh berhak atas eksistensi Atun di tempat kerja, berhak untuk memerintah, berhak untuk menyuruh, berhak atas kepatuhan Atun dan lain sebagainya.

Di lain pihak, Islam mengajarkan bahwa yang paling berhak atas diri Atun (dan para istri lainnya) adalah sang suami, bukan para atasan Atun. Tidak ada yang dapat mengalahkan hak suami atas Atun, baik siang mau pun malam, baik dekat mau pun jauh. Adalah batil kalau disituasikan para atasan berhak atas kepatuhan Atun.

Dengan terus bekerja dan mematuhi atasannya, Atun telah berdosa besar terhadap Allah Swt, karena ia telah memberikan dirinya untuk patuh kepada orang lain, bukan kepada suaminya. Dengan bekerja di luar rumah, Atun telah memberi hak lebih tinggi kepada atasannya atas dirinya, dan itu bertentangan dengan ajaran Islam bahwa Atun hanya diperintahkan untuk memberi hak tertinggi kepada suaminya atas dirinya. Maka bagaimana mungkin Atun merasa tidak berdosa di mata Allah Swt, padahal perkara yang ia perbuat setiap hari merupakan pendurhakaannya atas seluruh firman Allah Swt. ***

Singkat kata, Atun seutuhnya keliru saat dia berkeyakinan bahwa dirinya merupakan wanita saleh karena / dengan bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Serentetan dosa besar telah Atun lakukan di depan para Malaikat, yaitu dengan cara keluar rumah setiap hari meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya (yaitu kodrat domestik) sebagai wanita, istri dan ibu atas anak-anaknya. Ia telah mendurhakai perintah Allah Swt di dalam hal berkeluarga, di mana posisi Atun adalah posisi seorang wanita sekaligus seorang istri dan ibu.

Sekilas, Atun dapat dikatakan wanita saleh, karena ia berjilbab, tidak pacaran, tidak berkhalwat, tidak mengumbar aurat, tidak bergunjing, tidak bertabarruj, tidak berzina, dan kemudian ia menjalankan perintah agama seperti shalat fardhu, menikah di usia muda, berjilbab, dan lain sebagainya. Namun sungguh keseluruhan hal tersebut hanya ada di dalam perhitungannya: bagaimana dengan yang berada di luar perhitungannya? Atun di dalam hal ini tidak melaksanakan Islam secara KAFFAH.

Untuk logisnya, bagaimana mungkin Atun tidak berdosa ketika ia keluar rumah (untuk bekerja mau pun menuntut ilmu), sementara keluar rumahnya kaum wanita di seluruh Negeri telah memicu terjadinya dekadensi moral yang menyengsarakan, seperti pacaran, perzinahan, selingkuh, aborsi, dan lain sebagainya. Untuk level Atun memang diakui bahwa Atun tidak menimbulkan prahara sosial (namun tetap Atun telah berdosa), namun bagaimana pada level / prevalensi yang lebih luas? Kalau lah seluruh wanita termasuk Atun tidak keluar rumah, maka tidak mungkin dekadensi moral terjadi merusak marwah umat.

“………….. Berbicara tentang dekadensi moral berarti berbicara tentang etika dan akhlak. Menurut Irsyad Azizi, Lc., dekadensi moral adalah merosotnya akhlak dan etika manusia dari kadar yang seharusnya; yaitu dari nilai-nilai kemanusian yang lazimnya. Dari pemahaman ini, makna dekadensi moral dapat diartikan sebagai merosotnya akhlak manusia dari nilai-nilai agama dan nilai-nilai fitrah kemanusian. Yaitu perbuatan manusia yang tidak mengindahkan lagi nilai-nilai agama sebagai baromater nilai-nilai norma seperti menipu, membunuh, merampok, menzalimi dan sebagainya”. – – http://www.pcimmesir.com/2014/04/dekadensi-moral-awal-kehancuran-islam.html

Bagaimana dekadensi moral dapat terjadi? Jawabannya mudah: karena seluruh kaum wanita keluar rumah sehingga memicu serentetan kekacauan lainnya yang lebih luas di tengah masyarakat. Akibat finalnya adalah runtuhnya marwah umat.

Kesimpulan.

Benar salahnya Atun bukan terlihat dari keislamannya. Ingat, keislaman ‘saja’ sebenarnya sebanding dengan ‘kekristenan’ atau ‘kehinduan’ dan lain lain: Kristen taat bukan berarti Kristen itu benar. Bukan itu yang diinginkan Allah Swt dan logika. Atun, dan siapa pun, haruslah benar dilihat dari kodratnya, dan ternyata, hanya Islamlah yang mengajarkan seluruh umat untuk tunduk kepada kodrat. Kalau taat Islam, maka taatlah kepada kodrat. Nabi Muhammad Saw bersabda:

“… Berbuatlah kamu menurut tempat-tempat jatuhnya kodrat …”.

Muslim akan benar kalau ia telah menunaikan seluruh kodratnya, apakah ia seorang wanita, apakah ia seorang pria, apakah ia seorang anak dan lain sebagainya. Atun adalah seorang wanita, maka ia harus menunaikan seluruh tuntutan kodratnya sebagai wanita, dan kodrat sebagai wanita adalah kodrat domestik. Shalat saja tidak cukup, berjilbab saja tidak cukup, berpuasa dan mengaji saja tidak cukup.

Semoga Atun dan Atun-Atun lain, yang berkuat diri di dalam ungkapan mereka seperti ini, segera mengetahui kekeliruan mereka, dan kemudian segera berbenah diri untuk menyesuaikan perbuatan mereka dengan kodrat domestik mereka, sesuai ajaran Islam yang KAFFAH. Amin.

Advertisements

RUU Kesetaraan Gender, Beban Ganda Terhadap Perempuan

ruu-kkg08

Usaha feminis mensahkan RUU KKG ini merupakan usaha yang konstitusional untuk meng-inkonstitusionalkan peran agama dan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Oleh: Henri Shalahuddin, MIRKH

RANCANGAN Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) kembali mengemuka di penghujung masa kepengurusan DPR RI 2009-2014. Setelah sebelumnya mengendap sekitar dua tahun, karena menuai penolakan dari pelbagai komponen masyarakat, khususnya dari organisasi-organisasi perempuan yang berkeindonesiaan dan berkeadaban. Sebab RUU KKG yang beredar saat itu dinilai tidak mencerminkan ruh pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berasaskan Pancasila. Bahkan lebih cenderung memungut “kearifan” Barat daripada menjunjung kearifan lokal yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya bangsa yang bermartabat.

Setidaknya inilah substansi alasan penolakan dari pelbagai organisasi perempuan ketika menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar oleh Komisi VIII DPR RI pada 2012 silam.RDPU yang dipimpin oleh politisi feminis (kini berstatus tahanan atas kasus korupsi), berlangsung cukup panas karena kurangnya kesiapan aktivis feminis menghadapi realita keberagaman di kalangan perempuan.

Kemunculan RUU KKG setelah dua tahun mati suri, terkesan sangat tertutup.Bahkan tiba-tiba dikabarkan telah diluluskan oleh Baleg dan mengedepankan asas netral agama. Penyusunan kembali draft RUU KKG menurut informasi beberapa aktivis feminis di samping tertutup juga cenderung hanya dikonsultasikan kepada lembaga-lembaga dan LSM perempuan yang sejalan dengan ideologi feminisme dan gender.

Seringkali pihak-pihak yang tidak setuju dengan RUU KKG diklaim sebagai pendukung kekerasan terhadap perempuan, neo-patriarkhi, kolot dan anti kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan. Bahkan kalangan perempuan yang menolak RUU ini dituduh sebagai pihak yang sudah terlalu “nyaman” dan “diuntungkan” dengan sistem patriarkhi.Tentunya hal itu merupakan ekspresi kepanikan dan pengaruh kejiwaan atas berbagai ambisi elit perempuan menghadapi realitas bangsa yang berpegang erat pada adab dan nilai-nilai keindonesiaan. Padahal akan lebih baik apabila para politisi feminis mensosialisasikan terlebih dahulu kedudukan RUU KKG, termasuk apakah bangsa Indonesia, khususnya perempuan, membutuhkannya? Dan haruskah kaum perempuan, -dengan segala keberagamannya-, menginginkan UU KKG?

Sebagai negara yang turut meratifikasi CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women), sudah tentu Indonesia bertanggungjawab memberantas segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.Di samping itu juga memprioritaskan tercapainya akses keadilan dan pemulihan bagi perempuan korban tindak kekerasan seksual.Dari sini bisa dipahami bahwa RUU KKG berkemungkinan diniatkan sebagai payung hukum bagi percepatan penghapusan diskriminasi dan mengikutsertakan perempuan dalam segala aktivitas pembangunan.

Namun demikian semua itu bukan berarti dilakukan dengan mengabaikan prinsip nilai-nilai agama dan budaya Indonesia. Karena syarat dan rukun menjadi negara yang maju dan sejahtera tidak harus menghilangkan filter identitas suatu negara.Dan sekiranya RUU KKG dibuat dengan semangat “netral agama”, justru menjadi kemunduran yang tidak berkesudahan bagi rakyat NKRI.Sebab jargon-jargon semisal “netral agama”biasanya hanya disuarakan oleh para aktivis sekular radikal dan ateis militan.Untuk itu sebelum membuat kebijakan semisal RUU KKG paling tidak diperlukan pengetahuan standard tentang makna gender, feminisme, latar belakang sejarah kemunculannya, dan relevansinya untuk bangsa Indonesia.

Arti feminisme dan gender

Istilah “keseteraan gender” tidak bisa dipisahkan dari “feminisme”, karena keduanya identik satu dengan lainnya. Baik gender maupun feminism merupakan kata serapan dari bahasa asing dan membawa makna khusus dari sisi terminologi maupun muatan nilai filosofisnya. Feminisme pada awalnya adalah gerakan perempuan di Barat yang menuntut keadilan atas segala bentuk diskriminasi yang mereka alami.Ekspresi protes kaum perempuan inilah yang merupakan substansi darimakna feminisme.

Rita M. Gross menjelaskan bahwa inti feminisme adalah ‘teriakan’ perempuan yang menegaskan bahwa mereka juga manusia. Dalam buku “Feminist Methods in Social Research” dijelaskan bahwa feminisme berawal dari pernyataan perempuan tentang kekuatannya. Di mana pada awalnya feminisme bukanlah teori, tetapi tindak personal itu sendiri. Maka sangat wajar sebagai gerakan politik yang langsung terjun dalam masalah praktis dan tidak berawal dari aspek keilmuan, jika epistemologi (konsep ilmu) feminis yang sejak dulu dianggap kontradiktif (oxymoron), tapi kini namanya sudah diakui, meskipun epistemologinya sampai sekarang masih belum jelas.

Sebab penjelasannya hanya berputar-putar di sekitar cara perempuan mengetahui, pengalaman dan pengetahuan wanita.Hal ini tentunya terasa asing menurut kalangan filsuf profesional, dan juga ganjil dalam teori ilmu pengetahuan secara umum.

Sedangkan arti “Gender” secara kebahasaan pada awalnya tidak berbeda dengan arti “sex”, atau jenis kelamin biologis. Tetapi seiring dengan berkembangnya waktu, John Money menggeser arti gender menjadi peran sosial atau “jenis kelamin sosial” yang tidak permanen, bisa berubah, dan bahkan bisa dipertukarkan sesuai konstruksi budaya.

Oleh karena itu dalam buku“Language and Gender” dijelaskan bahwa gender isn’t something we are born with, and not something we have, but something we do/something we perform.Pergeseran arti gender dimaksudkan di antaranya untuk membangun opini bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan tidak ditentukan secara biologis.

Maka sejalan dengan makna di atas, dalam RUU KKG bulan Desember 2013 para politisi feminis mengartikan gender sebagai pembedaan perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya.

Oleh karena itu para politisi feminis berusaha merekonstruksi ulang tatanan sosial budaya masyarakat Indonesia dari pembedaan menjadi penyamaan antara laki-laki dan perempuan melalui konstitusi dan diberlakukan secara mengikat.

Dengan demikian sebenarnya usaha feminis mensyahkan RUU KKG ini merupakan usaha yang konstitusional untuk meng-inkonstitusionalkan peran agama dan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjuangan yang sedang dilakukan politisi feminis adalah pengaruh langsung dari globalisasi ideologi gender. Hubungan laki-laki perempuan, suami istri atau antar anggota keluarga akan diatur langsung oleh negara. Dalam makalah “A History of Gender” yang diterbitkandalam The American Historical Review, gender dipandang sebagai cara utama untuk menandai hubungan kekuasaan. Maka Joan W. Scott membangun konsep gender melalui konstitusi.

Kritik terhadap feminis dan RUU KKG

Gerakan feminisme dan kesetaraan gender telah banyak menuai kritik dari kalangan wanita di pelbagai penjuru dunia. Marlene LeGates menyebutkan bahwa di antara kesalahan utama feminis yaitu menganggap semua wanita mempunyai karakter, kepentingan dan kepribadian yang sama. Feminis sering melupakan keberagaman yang ada pada setiap wanita yang berlainan suku, agama, kelas sosial dan bahkan orientasi seksual mereka.Maka kemunculan aliran-aliran feminisme tidak saja dimaknai sebagai keberagaman paham, tetapi juga realitas adanya perbedaan kepentingan politik di kalangan feminis.

Perjuangan kesetaraan di kalangan feminis tidak berarti bahwa semua wanita mempunyai kedudukan yang setara.Bahkan keberadaan kasta dan kelas di kalangan feminis semakin nyata.Anne Kenney dan rekan-rekan feminisnya di Inggris menganggap superioritas mereka lebih tinggi daripada wanita Asia yang dipandang sebagai wanita lemah. Dalam konteks Indonesia, tidak sedikit feminis yang menyerukan kaum perempuan terjun ke sektor publik, tapi pada saat yang sama mereka justru memperkerjakan perempuan beda kelas sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji di bawah UMR.

Kemunculan gerakan “woman of color” adalah wujud perlawanan terhadap hegemoni feminis kulit putih. Maka tidak aneh jika Frances Ellen Watkins Harper, reformis dari Afro-Amerika, mengingatkan dari pengalamannya bahwa menjadi orang kulit hitam berarti setiap orang kulit putih, termasuk setiap wanita kelas pekerja, bisa mendiskriminasikan Anda.

Feminis mengkritik androsentrisme dan patriarkhisme karena mengidentikkan norma manusia adalah laki-laki, tetapi di sisi lain feminis mendesak wanita membuang sifat-sifat kewanitaannya dan mengadopsi sifat maskulin hingga berkelayakan berperan di dunia publik.

Pesan mendasar dari uraian singkat di atas sebenarnya adalah perlunya memperkaya pengetahuan standard tentang konsep kesetaraan gender, feminisme dan nilai-nilai keindonesiaan, sebelum bertungkus lumus mensyahkan RUU KKG secara paksa.Meskipun tidak dipungkiri bahwa sebagian rakyat NKRI baik laki-laki maupun perempuan masih saja mengalami diskriminasi dan terhalang untuk ikut menikmati hasil pembangunan.

Namun bukan berarti RUU KKG atau apapun namanya adalah jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi rakyat NKRI.Justru yang lebih mendesak adalah pembuatan UU yang mensejahterakan bangsa Indonesia dengan tidak memandang hubungan laki-laki dan perempuan sebagai hubungan hierarkhi kekuasaan.Sebab hal ini hanya akan menghasilkan persaingan, antagonis, dan kebencian.

Bahkan lebih dari itu, RUU tersebut hanya membuahkan beban ganda bagi kaum perempuan. Sebab negara tidak lagi memberikan akses kepada mereka untuk berkembang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.Sebaliknya akses hanya diberikan untuk mewujudkan keinginan kaum kapital, politisi, industri hiburan dan unsur-unsur lainnya di luar dirinya.

Retorika feminis militan yang selalu menyalahkan suami dan menuntut dikuranginya beban rumah tangga bagi istri yang berkarier dan mempunyai balita, tanpa pernah memperjuangkan aturan pengurangan beban kerja kepada instansi tempat bekerja merupakan contoh nyata bahwa wanita tidak lagi bisa memiliki dirinya sendiri.

Penutup

Menolak RUU KKG bukan berarti mendukung penindasan wanita.Mengkritisi konsep gender dan feminisme tidak bermakna anti Barat.Asimilasi dan adaptasi adalah hal lumrah dalam peradaban manusia. Tetapi menjadi tidak lumrah bila tidak diiringi dengan filter dan internalisasi, apalagi jika langsung bergerak kepada upaya konstitusi dengan penetapan RUU.

Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari Barat yang tidak bertentangan dengan kultur keindonesiaan dan mendatangkan manfaat bagi rakyat apabila dituangkan dalam UU maupun perencanaan pembangunan. Contohnya antara lain: i) memperbanyak tersedianya ruang menyusui di tempat kerja atau di ruang publik, ii) memberikan cuti hamil dan melahirkan minimal selama 1 tahun, iii) menetapkan masa kerja yang lebih fleksibel bagi ibu-ibu yang berkarier, iv) memberikan subsidi bulanan bagi ibu kurang mampu yang mempunyai bayi hingga usia balita, v) menjamin tersedianya persalinan yang mudah, aman, sehat dan murah, vi) memberikan subsidi bulanan bagi janda-janda miskin, dan lain-lain.

Tetapi apabila para politisi di DPR tetap bersikukuh mensyahkan RUU KKG yang substansinya membuka interpretasi pembolehan melakukan kawin beda agama, kawin sesama jenis, hak aborsi, memandang peran domestik sebagai hal yang tidak produktif, hak istri menjadi kepala rumah tangga, hak memidanakan suami atas tuduhan pemerkosaan (marital rape) dan isu-isu kontroversial lainnya, atau pun hal-hal lainnya yang berdampak pada beban ganda terhadap kaum perempuan, maka hal itu justru menguatkan klaim adanya muatan ideologis elit feminis di balik RUU ini.

Apakah politisi feminis sanggup mempengaruhi kualitas para anggota dewan yang terhormat hingga mensyahkan segala bentuk undang-undang yang tidak berpihak pada pembangunan masyarakat yang adil dan beradab?Kita tunggu saja!

Penulis adalah ketua Majelis Riset dan Pengembangan di Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang gender dan Islam di Universiti Malaya Kuala Lumpur Program Kaderisasi Ulama kerjasama DDII dan Baznas

Sebagai seorang muslim, aku juga turut menolak RUU KKG. Menurutku, kebebasan sebebas-bebasnya ala barat dan penyamarataan segala sesuatu tanpa batas antara laki-laki dan perempuan bukanlah solusi untuk melindungi perempuan Indonesia. Kenapa? Karena kita memiliki nilai-nilai agama dan moral serta budaya yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai feminisme ala barat. Ilmu pengetahuan seharusnya sejalan dengan agama. Jangan salah, agama Islam bukan agama yang anti ilmu pengetahuan karena ada banyak sekali ayat-ayat Quran yang sejalan dengan ilmu pengetahuan modern, misalnya ini dan ini.

Konsep keadilan juga bukan berarti segala sesuatu harus sama antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, sebagaimana yang disampaikan Ustadz Felix Siauw di atas, hak waris perempuan yang separuh dari laki-laki dalam Islam. Itu bukanlah bentuk ketidakadilan, tapi karena laki-laki adalah pencari nafkah dan wajib menghidupi keluarganya, karena itu warisannya digunakan untuk keperluan banyak orang. Sementara perempuan bebas menikmati sendirian warisannya tanpa perlu bagi-bagi. Disitulah adilnya.

Lagipula fungsi tubuh laki-laki dan perempuan tidak sama. Laki-laki cenderung kuat dan rasional, sementara perempuan adalah makhluk yang lemah-lembut dan penuh perasaan. Karena itu betapa kasihannya kalau harus disamakan segala sesuatunya. Bayangkan capeknya perempuan yang harus sukses berkarir juga harus sukses merawat anak dan suami. Kenapa memberikan peran ganda pada perempuan? Menurutku inilah yang kurang adil. Sementara itu laki-laki hanya dituntut sukses dalam pekerjaan saja. Menuntut perempuan bekerja saja tanpa repot akan urusan anak , suami, dan rumah tangga justru lebih salah lagi, karena akan menghancurkan konsep rumah tangga harmonis kita.

Alangkah baiknya jika masing-masing laki-laki dan perempuan memiliki fungsinya sendiri. Ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Kelihatan tidak modern? Menurutku inilah konsep rumah tangga yang ideal, dengan demikian anak-anak terawat dengan baik dan tidak kekurangan kasih-sayang. Masa buah hati kita dididik pembantu atau daycare? Jelas hasil pengasuhannya tidak maksimal!

Kembali ke RUU KKG, karena mayoritas warga Indonesia adalah muslim dan banyak yang menolak RUU KKG, seharusnya DPR memperhatikan hal ini. Jangan memaksakan hal yang tidak sesuai dengan nilai agama dan moral bangsa ini karena itu artinya menghancurkan diri sendiri. Menjadi modern bukan berarti melepaskan atribut keagamaan. Ilmu pengetahuan tidak berada di atas agama dan seharusnya berjalan seiring sejalan karena itu mengatasnamakan ilmu pengetahuan demi kemajuan dengan mengabaikan agama bukanlah hal yang tepat dilakukan oleh bangsa Indonesia yang memiliki Pancasila dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sebagaimana dipaparkan di artikel-artikel di atas, bisa jadi ini adalah pintu menuju hal-hal lain seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) dan semacamnya, karena itu jangan hanya dilihat dari kemasannya saja. Jika benar RUU ini untuk melindungi perempuan Indonesia, namun karena muslimah yang merupakan mayoritas di Indonesia menolak RUU ini, masihkan RUU ini perlu disahkan? Bukankah demokrasi berarti suara terbanyak yang menang? Lagipula kenapa harus melindungi kaum yang menyatakan bahwa mereka tidak perlu perlindungan? Sebagaimana disebutkan legislator di atas, kondisi di Indonesia sudah cukup baik bagi perempuan, jadi apanya lagi yang mesti ditingkatkan?

Semoga wakil-wakil rakyat itu benar-benar mendengarkan aspirasi rakyat yang (katanya) diwakilinya. Mungkin ormas-ormas Islam lain yang lebih besar terutama MUI juga perlu datang langsung ke DPR untuk menyampaikan aspirasinya, kalau perlu melakukan aksi.

Dibandingkan konsep kesetaraan ala RUU KKG, aku lebih mendukung konsep Islam tentang perempuan yang memberdayakan muslimah sesuai dengan kodratnya. Karena jika bertentangan dengan fitrahnya, maka bukan kesuksesan yang diraih namun hanya kerugian baik di dunia maupun akhirat.

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/

Fraksi PKS: RUU Kesetaraam Gender Berpotensi Rugikan Perempuan

ruu-kkg07

WE Online, Jakarta – Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) berpotensi untuk merugikan perempuan. Bila RUU ini tetap bertahan dengan konsep gender sementara semangatnya adalah pembelaan pada kepentingan perempuan, RUU ini sendiri bila diundangkan justru berpotensi untuk merugikan perempuan. Demikian disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Raihan Iskandar di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (29/8/2014).”RUU ini berpotensi merugikan perempuan dengan dimentahkannya berbagai keistimewaan yang didapat perempuan, semisal ketentuan affirmative action yang mengamanahkan 30% kuota perempuan pada pengurus parpol dan pencalonan anggota legislatif, ketentuan-ketentuan terkait peraturan ketenagakerjaan, penyediaan layanan publik khusus perempuan, dan lain-lain,” kata Raihan.Ia menilai RUU KKG membawa satu terminologi baru di tengah masyarakat. Kata gender yang tidak mengakar dari budaya Indonesia hadir dengan sebuah penyederhanaan definisi mengenai pembedaan peran laki-laki dan perempuan yang dilakukan atas rekonstruksi sosial maka konsep gender di dalam berbagai kajian dinyatakan netral dan tidak merujuk pada jenis kelamin tertentu.

Landasan dasar dari munculnya RUU KKG, yaitu adanya kebutuhan publik yang belum terakomodir di dalam seperangkat aturan juga dipertanyakan oleh Raihan.

“Apakah hadirnya RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender ini merupakan sebuah kebutuhan publik dalam hal ini perempuan yang belum terakomodir? Sebab bila merujuk pada poin-poin tindakan kesetaraan dan keadilan gender yang tertuang di dalamnya di mana tindakan itu meliputi kesetaraan dan keadilan dari sisi kewarganegaraan; pendidikan; ketenagakerjaan; ekonomi; kesehatan; administrasi dan kependudukan; perkawinan; hukum; politik dan pemerintahan; lingkungan hidup; sosial dan budaya; dan komunikasi dan informasi maka sesungguhnya Indonesia sudah memiliki berbagai peraturan yang melingkupi hal tersebut,” papar Raihan.

Ia juga membeberkan fakta bahwa Komisi VIII selama perjalanan proses harmonisasi ini sama sekali belum pernah duduk bersama dan membedah pasal demi pasal muatan RUU ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh.

“Kami Fraksi PKS menegaskan masih diperlukannya tambahan waktu untuk melakukan pendalaman atas RUU ini agar bersama-sama dapat kita rumuskan muatan-muatan yang lebih tepat dan bermanfaat,” pungkasnya.

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/

Liberalis Di Balik RUU Kesetaraan Gender

ruu-kkg06

Tak ketinggalan, Ustadz Felix Siauw juga menolak RUU KKG ini dalam kultwit (kuliah twitter) sebagai berikut:

Oleh : Ustad Felix Siauw

  1. kaum liberalisme pny bnyk racun pemikiran untuk umat Muslim, yg paling sering diangkat adl pluralism, demokrasi, kesetaraan #gender dll
  2. lihat aja daftar LSM yg dibiayai ford foundation, USAID, AUSAID, dll, semua isu yang diangkat adalah isu yang serupa
  3. khusus akhir2 ini, isu kesetaraan #gender hendak diangkat menjadi UU, lewat RUU KKG (keadilan dan kesetraan gender)
  4. dengan UU KKG ini, kaum liberalis mencoba meliberalkan perempuan dari hukum Allah, mensekulerisasi perempuan Muslim, atas nama #gender
  5. pada intinya RUU KKG ini berniat menyamakan hak dan kewajiban antara lelaki dan wanita, membuat semua sama antara lelaki dan wanita
  6. dan isu #gender ini pernah diusung pentolan JIL, musdah mulia, dlm FLA (fikih lintas agama) yg mengusulkan kesetaraan dalam agama Islam
  7. kaum liberalis ini menganggap bahwa Al-Qur’an dan syariat Islam adl sumber bias #gender (perlakuan tak setara thd perempuan)
  8. misal, kaum liberalis mengguggat hak bagi waris lelaki yg 2x lipat wanita, talaq yg ada di tangan lelaki, poligami
  9. juga menggugat kiprah politik perempuan, bolehnya memukul istri dalam syariat Islam, dan mengusulkan aturan2 itu dicabut
  10. inilah semangat yang juga ditanamkan di dalam RUU KK #gender, intinya membebaskan wanita agar berpikir seperti wanita2 barat kapitalis
  11. karena itu perlu sy sedikit share tentang sejarah kemunculan isu feminisme / kesetaraan #gender, supaya jelas bagi kita sikapinya
  12. jauh sebelum hari ini, bias #gender sebenarnya sudah terjadi ketika masa dark ages di eropa, abad petengahan, yaitu 5 – 15 M
  13. saat itu gereja menjadi badan terkuat setelah landlord, agama katolik menjadi agama negara, dan aturan gereja adl mutlak
  14. termasuk anggapan gereja saat itu adl menganggap #gender wanita sbg aib, penyebab adam diusir dari surga, container of satan kata mereka
  15. maka mulai #gender wanita diperlakukan berbeda, masyarakat mengadopsi anggapan katolik, lalu anggap wanita warga kelas dua, dbwh laki2
  16. begitulah dalam sejarah yunani, romawi, lalu kristen katolik, wanita tak berhenti dianggap sebagai bawahan pria, sub-ordinat
  17. #gender wanita dieksploitasi secara seksual di patung2, lukisan2, dan menjadi objek nafsu pria, tidak lebih dari itu
  18. #gender wanita dianggap beban karena tak mampu mencari nafkah, dikuasai laki2, dan boleh diperlakukan semena-mena
  19. bahkan di eropa, penyihir wanita dinamai witches, makna konotatif yg kasar dibanding wizard atau magician yg merupakan penyihir laki2
  20. wanita tak diperbolehkan belajar, ahli2 kimia wanita dianugrahi gelar witches dan dihukum bakar, tidak dengan pria
  21. singkat cerita, #gender wanita betul2 menderita, dosa sejak lahir, karena kristen menganggap merekalah sebab keluar dari surga
  22. ditambah sekulerisasi barat yang akhirnya menjadikan standar kebahagiaan terletak pada harta, jabatan dan kenikmatan dunia
  23. maka lahirlah gerakan feminisme di barat, sekali lagi, lahirlah feminisme di dunia barat, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil
  24. mereka mendesak bahwa #gender laki2 dan #gender wanita harusnya punya akses yg sama terhadap harta, kerja dan semua kebebasan lainnya
  25. bila laki2 blh kerja mk wanita jg, laki2 blh berpolitik mk wanita jg, laki2 blh senang2 bercinta, wanita jg, bgt isu setara #gender
  26. hasilnya setara #gender?, rusaklah tatanan hidup, angka perceraian meningkat, AS kampiun dlm hal perceraian, single parent meroket
  27. gara2 setara #gender, anak broken home menjamur, incest (seks antarkeluarga) bermunculan, depresi dan stress perempuan meningkat
  28. mengapa itu terjadi? karena kesetraan #gender menyamakan antara lelaki dan wanita, padahal keduanya berbeda, punya jalur masing2
  29. cacatnya kapitalis adalah menganggap pria dan wanita sama, padahal sudah jelas2 tak bisa disamakan secara #gender
  30. cacatnya kapitalis adalah menjadikan standar kebahagiaan ada pada materi, dan ini tidak menguntungkan bagi #gender wanita
  31. tapi inilah yg diinginkan kaum liberalis kapitalis, merusak tatanan masyarakat hingga mereka mengambil keuntungan, dan menjauhkan Islam
  32. jadi perlu dipertegas, bahwa masalah #gender ini berasal dari tatanan hidup barat sekuler, bukan berasal dari Islam samasekali
  33. dalam Islam, justru ketika Islam datang, perempuan jauh dimuliakan dibanding hidupnya pada masa yang lalu, diangkat derajatnya
  34. Islam memandang pria dan wanita berbeda scr #gender, namun mendapatkan akses yang sama terhadap kebahagiaan, yaitu ridha Allah Swt
  35. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.. (QS9:71)
  36. itulah bedanya, kapitalis menjadikan kebahagiaan pada materi, ini merugikan wanita | dalam Islam kebahagiaan adl ridha Allah semata
  37. maka dalam Islam, perempuan bisa sama bahagia dengan laki2, tak perlu isu kesetaraan #gender yg menyesatkan
  38. lelaki berlomba shaf paling depan, perempuan berlomba shaf dibelakang, keduanya mendapat ridha Allah, jalur masing2 sudah tetap
  39. lelaki berlomba syahid di medan jihad, perempuan berumrah mendapat pahala yang sama, jalurnya sudah ada, tak perlu disetarakan #gender
  40. lelaki mencari nafkah untuk keluarga, perempuan mengurus rumah dan keluarganya, semua dapat ridha, tak perlu berlomba di jalur yang sama
  41. subhanallah, itulah Islam, menggariskan untuk perempuan dan laki2 ada jalur lomba sendiri2, nggak berantem, salah satu keadilan Allah
  42. dan malahan, bila ingin disetarakan #gender, hasilnya jadi hancur | pria cari nafkah angkat2 barang, perempuan bisa menyamai? tidak
  43. perempuan melahirkan, laki2 bisa menyamai? tidak | laki2 memimpin kaumnya, bila wanita yg memimpin? stress dia
  44. jadi kerusakan tatanan hidup adl bila perempuan diminta masuk ke jalur yg gak cocok dengan default setting-nya, dan sebaliknya
  45. tak perlu kesetaraan #gender, Allah yang lebih tahu tentang jalur perlombaan kebaikan bagi wanita/pria, bukan manusia yg mengetahui
  46. Allah yang menciptakan manusia termasuk perempuan, dan Allah yg lebih tau yg mana yg pantas bagi perempuan dan yg mana yg tidak
  47. beginilah sistem taghut, maunya mengganti aturan Allah dengan aturan manusia, setara #gender, yg hasilnya malah merusak tatanan hidup
  48. Islam memliakan wanita, tak ada yang lebih memuliakan wanita selain aturan Islam, yakin deh | yg lain kyk kesetaraan #gender merusak aja
  49. Islam memerintahkan wanita menutup aurat, dan tak banyak menampakkan dirinya, karena yg berharga memang harus dilindungi dan dijaga
  50. Islam menggariskan aktivitas wanita bersama2 dengan jamaah wanita, karena Islam menghormati wanita, dia tak dikumpulkan dgn pria 🙂
  51. Islam menaruh posisi ibu 3x lipat lebih dari posisi ayah, siapa yang harus ditaati ya Rasul? “ibumu!” ibumu!” “ibumu!” “lalu ayahmu!”
  52. Rasul katakan “dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan wanita shalihah” (HR Muslim) | wee subhanAllah 🙂
  53. Rasul ucapkan “Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya” (HR Ahmad) | wee masyaAllah 😀
  54. tak seperti kapitalis liberal yg mengukur kecantikan dari lekuk tubuh, Islam mengukur lewat ketakwaannya, amal ibadahnya
  55. dan Islam menunjukkan pula bahwa pendukung pertama Rasul adl wanita, syahidah pertama jg wanita, Rasul wafat jg di pelukan wanita 🙂
  56. lalu mengapa poligami cm laki2 yg blh? >> emang perempuan mau punya dikelilingi cowok banyak? fitrahnya nggak kan (emang gw cewek apaan)
  57. begitu jg waris lebih banyak laki2, krn harta itu dipake untuk keluarganya, sedang warisan bagian wanita untuknya semata, adil kan 🙂
  58. begitu juga pemukulan tehadap wanita bukan untuk kekerasan, tapi untuk ta’dib (mendidik) dan pukulan itu jg ada etikanya
  59. laki2 baru boleh memukul bila istri maksiat dan 1) sudah dinasehati, 2) sudah didiamkan 3) sudah dipisah ranjang, tapi istri gak taubat
  60. memukul istri jg nggak boleh di kepala, nggak boleh berbekas, dan nggak menyakitkan, masyaAllah, nah nah nah.. itulah Islam 🙂
  61. karena suami adl pemimpin istri, dia diserahkan wewenang oleh Allah agar suami menuntun istri ke surga Allah, menjaganya dr maksiat
  62. kesimpulannya, tak ada negara yg menerapkan kesetaraan #gender lalu bener, yang ada tatanan hidupnya rusak, liat aja AS bosnya feminis
  63. justru harkat martabat wanita diangkat dengan Islam, dengan penerapan syariat Islam dalam masa Khilafah Islam, wanita mulia
  64. setidaknya itulah yang bisa kita lihat di sejarah dan juga fakta saat ini, so go away kesetaraan #gender, Islam tak perlu! 🙂

Bahkan ada potensi bahwa RUU KKG ini merugikan perempuan!

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/

Bom Waktu Kesetaraan Gender

ketenangan

Pada 11 September 2014 sejumlah aktivis dan organisasi Muslimah berkumpul di sebuah tempat di Jakarta. Mereka merasa terpanggil untuk menyikapi sikap DPR yang sepekan sebelumnya (3/9) meloloskan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) untuk dibahas di Komisi VIII DPR. Beberapa tahun sebelumnya, RUU KKG sudah memicu kontroversi hebat. Puluhan organisasi, khususnya Organisasi Muslimah, menolak keras pengesahan RUU KKG yang dinilai sangat sekuler dan merusak tatanan rumah tangga dan ma syarakat Indonesia.

Sebenarnya, setelah menerima masukan dari berbagai kalangan masyarakat, RUU KKG yang baru ini sudah mengalami perkembangan yang lumayan. Yang mencolok adalah dimasukkannya asas agama pada urutan pertama (pasal 2). Masalahnya, dari sisi filosofis, istilah “gender” masih dimaknai secara sekuler. Pembedaan peran laki-laki dan perempuan dipandang semata-mata sebagai produk konstruksi sosial dan budaya.

Tentu saja, dalam pandangan Islam itu keliru. Sebab, pembeda peran antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, utamanya ditentukan wahyu. Tanggung jawab laki-laki sebagai “imam” keluarga dan pencari nafkah, bukan ditentukan budaya Arab, melainkan dari wahyu yang dicontohkan Rasulullah SAW. Begitu juga kewajiban mencari ilmu bagi laki-laki dan perempuan, bukan ditentukan budaya, melainkan wahyu Allah.

Perspektif RUU KKG yang baru juga masih menempatkan perempuan sebagai makhluk individu. Padahal, seharusnya pemerintah dan DPR lebih memprioritaskan program pemberdayaan keluarga sebagai unit terpenting dalam pendidikan masyarakat. Dalam berbagai wacana KKG, tampak jelas, posisi perempuan diperhadapkan secara antagonis dengan laki-laki. Gerakan kesetaraan gender diarahkan sebagai gerakan perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “dominasi patriarki”. Hasil pencermatan para pegiat perempuan Muslimah tersebut akhirnya mengajukan permintaan kepada DPR agar mereka tidak melanjutkan pembahasan RUU KKG tersebut.

Dari feminisme

Mungkin, masih banyak yang belum bisa membedakan antara wacana “kesetaraan gender” dengan “emansipasi”. Yang terakhir ini terkait perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak di bidang pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan. Memang tidak sepenuhnya salah karena pada awal kemuculannya, gerakan perempuan di Barat menuntut hak-hak tersebut akibat ketertindasan yang mereka alami selama beradab-abad oleh negara dan otoritas gereja. Baru, pada era 1920-an, perempuan Barat ber hasil mendapatkan hak pilihnya secara penuh. Kemudian, pada 1930 perempuan Amerika secara resmi memiliki akses melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. (Susan Osbor ne, The Pocket Essensial Feminism, 2001 : 19).

Namun, perkembangannya, gerakan perempuan Barat semakin liberal. Publikasi kaum feminis mulai mengobarkan perang kepada sistem patriarki karena dianggap sebagai penyebab ketertindasan kaum perempuan. Kelahiran gerakan feminis liberal ini dikenal dengan sebutan “gelombang kedua”. Feminis gelombang pertama lebih menekankan tuntutan hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik. Di Amerika, gerakan pembebasan perempuan muncul bersamaan dengan gelombang protes antiperang Vietnam di kampus-kampus pada era 1960-an. (Osborne, 2001: 26-26). Tokoh feminis, seperti Betty Friedan (1921-2006), terus berusaha menawarkan paradigma liberal dalam membangkitkan kesadaran perempuan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang individu. (Christina Hoff Sommers, Who Stole Feminism, 1994 : 23).

Kemudian, pada 1977 para feminis Inggris memperkenalkan ide “kesetara an gender” yang menjadi jargon perjuangan mereka. Konsep kesetaraan menurut feminis sangatlah beragam. Konsep kesetaraan dalam pandangan feminis Perancis Simon De Beauvoir (1908–1986), misalnya, menunjukkan kecenderungannya kepada ideologi sosialis. Ia berpendapat bahwa perpindahan peran perempuan sebagai ibu dan istri menjadi seorang yang memiliki kemandirian secara ekonomi dan profesi sebagai kunci kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

“Dunia di mana laki-laki dan perempuan berada dalam kedudukan yang setara (equal) sangat mudah untuk divisualisasikan, tepatnya seperti yang dijanjikan revolusi Soviet. Perempuan ditinggikan dan dilatih selayaknya laki-laki agar dapat bekerja dalam kondisi yang sama dan mendapat upah yang sama. Kebebasan erotis harus diakui oleh adat, tapi tindakan seksual tidak boleh dianggap sebagai “pelayanan” yang harus dibayar; perempuan diwajibkan mendapatkan cara mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kehidupannya.

Pernikahan harus berdasarkan perjanjian bebas bahwa setiap pasangan dapat memutuskan untuk berpisah atas keinginan masing-masing; peran keibuan (maternity) harus berdasarkan kerelaan (voluntary) yang berarti bahwa alat kontrasepsi dan aborsi harus dilegalkan, di sisi lain, ibu dan anak-anaknya mendapatkan hak-hak yang sama apakah di dalam pernikahan ataupun yang di luar pernikahan. Cuti hamil harus dibayarkan oleh pemerintah dengan asumsi bahwa itu adalah bayaran atas anak-anak.” (Mary A Kasian, Feminist Mistake, 2005 : 22)

Ideologi kebebasan yang diusung feminis melalui kesetaraan gender, perlahan tapi pasti mulai mengikis nilai-nilai moral dan agama para perempuan Barat. Menurut Mary A Kassian, feminisme di Barat memulainya dengan mendekonstruksi pandangan Yahudi-Kristen tentang kewanitaan (womanhood), lalu dilanjutkan dengan mendekonstruksi kelaki-lakian (manhood), relasi gender, keluarga, atau struktur sosial, dan terakhir, mereka menolak konsep ketuhanan Yahudi-Kristen. (Judeo-Christian deity). (Feminist Mistakes, 2005 : 9).

Para Feminis juga telah mendekonstruksi konsep seksualitas yang telah berabad-abad berlaku dalam masyarakat Barat ketika memperkenalkan jenis kelamin baru, yaitu jenis kelamin sosial. Pada 1970 kaum feminis mengembangkan konsep gender yang belum pernah ada sebelumnya. (Sheila Row botham, Women in Movement, 1992 : 9).

Gender dalam pandangan feminis adalah hasil konstruksi sosial yang sifatnya tidak permanen. Sampai 1967 Inggris Raya dan negara bekas jajahannya, seperti Amerika, hanya mengakui satu orientasi seksual, yaitu heteroseksual, sehingga pelaku sodomi atau homoseksual akan mendapatkan hukuman mati atau penjara seumur hidup. (Brent L Pickett, Historical Dictionary of Homosexuality, 2009 : 1). Setelah konsep gender diperkenalkan, orientasi seksual seperti biseksual dan homoseksual harus diakui negara karena perbedaan orientasi seksual adalah konsekuensi logis dari pilihan atau identitas gender seseorang.

Saat ini, hampir seluruh negara-negara Barat telah melegalkan pernikahan sesama jenis dan memberikan sanksi hukum bagi mereka yang menentangnya. Feminisme berangsur-angsur menunjukkan wajahnya sebagai gerakan radikal yang mengobarkan kebencian dan pemberontakan. Kelompok feminis radikal “Femen” asal Ukraina yang mempunyai perwakilan di berbagai negara, terkenal sangat provokatif karena pada setiap aksinya mereka selalu bertelanjang dada dan bahkan tidak segan-segan bertelanjang bulat di tempat umum.

Rumah-rumah ibadah agama Katolik, Protestan, maupun Islam tak luput dari sasaran aksi Femen sebagai bentuk pemberontakan terhadap agama. Bagi para aktivis feminisme ini, agama adalah salah satu bentuk manifestasi sistem patriarki.(www.theguardian.com)

Menurut Mike Buchanan, feminisme adalah ideologi (isme) paling berbahaya di dunia yang sedang berkembang saat ini. Ideologi feminis jauh dari pembelaan terhadap kepentingan perempuan, tapi hanya membela kelompok elite tertentu saja. Feminisme mengancam perempuan karena memaksa mereka menjalani sesuatu yang berlawanan dengan insting mereka dan menyebabkan perempuan bergantung pada dunia kerja untuk bertahan hidup (economic survival). Feminisme juga menjadi penyebab berbagai penderita an dan menganggu kesehatan mental, baik laki-laki maupun perempuan, tapi lebih berpengaruh pada wanita. (The ughly truth of Feminism, 2013 : 3).

 

Tak heran apabila masyarakat Amerika Serikat sampai saat ini terus menjegal upaya ratifikasi CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) yang dianggap sebagai bom waktu bagi perempuan dan keluarga Amerika yang dilancarkan kaum feminis (http://www.familywatchinternational. org). Tapi, anehnya, Indonesia justru telah meratifikasi CEDAW sejak 1984 dan RUU Kesetaraan Gender pun telah disetujui sebagai RUU Inisiatif komisi VIII DPR pada 3 September 2014 (http://www.dpr.go.id).

Mungkin, banyak yang tidak menyadari bahwa memperjuangkan kesetaraan gender tidak berarti memperjuangkan keadilan bagi kaum perempuan karena keadilan tidak selalu bermakna “penyamarataan”. Definisi gender yang dimaksud pun tidak merujuk kepada jenis kelamin biologis tertentu. Karena itu, sadar atau tidak sadar, mereka yang memperjuangkan ide kesetaraan gender, sejatinya sedang memperjuangkan ideologi kaum feminis; yaitu sebuah ideologi yang mengusung kebebasan tanpa batas. Khususnya, batas nilai-nilai agama.

Jika tidak ditelaah dengan cermat dan diberikan makna serta batasan yang jelas, perjuangan kesetaraan gender pada akhirnya akan menjadi “bom waktu” bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Perempuan dan laki-laki tidak tahu lagi apa kodrat dan peran ideal yang seharusnya mereka mainkan, sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Yang sudah terjadi, akhirnya perempuan sendiri menyesal karena kelelahan mengejar impian kosong bernama “kesetaraan”. Satu kata yang tak pernah ada faktanya!

Bagi kaum beriman, persoalan “gender” menjadi sangat sederhana, sebab dunia ini hanya sebuah “panggung sandiwara”. Laki-laki dan perempuan diberi peranan yang berbeda, untuk saling bekerja sama. Masing-masing harus menjalankan perannya dengan baik, agar bisa mempertanggungjawabkan di akhirat kelak. Wallahu a’lam.

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/

RUU Kesetaraan Gender, Pengerdilan Perempuan di Wilayah Domestik

ruu-kkg04

Implikasi RUU KKG baru terasa 10-20 tahun setelah disahkan. Yang sudah dirasakan, penyediaan akses aborsi dengan mudah

Hidayatullah.com–Selain berimplikasi pada penggugatan norma sosial, pengesahan Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) dinilai bisa mengerdilkan nilai perempuan di mata negara.

“Perempuan yang tidak berperan di sektor publik akan bernilai rendah di mata negara. Hal itu karena indeks keberhasilan negara maju berasal dari besarnya kontribusi perempuan di sektor publik,” ungkap Direktur The Center of Gender Studies (CGS), Dr. Dinar Dewi Kania kepada hidayatullah.com.

Menurut Dinar, peranan perempuan dalam mendidik dan mengasuh anak di rumah, bernilai lebih rendah dibandingkan peranannya di ranah publik.

Tidak hanya itu, peranan perempuan yang semakin banyak di luar rumah akan mengubah orientasi hidup lebih materialistis.

“Karena peran perempuan di publik identik dengan uang dan materi dan mengenai bagaimana mereka dibayar,”imbuhnya.

Sedangkan dibeberapa negara lainnya, indeks keberhasilan dilihat dari tingginya jumlah anak di tempat penitipan anak. Seperti Slovenia yang mendapat kritik dari The Convention on the Elimination of All Forms Against Women (CEDAW) karena jumlah anak yang dititipkan, kurang dari 30 persen.

Semakin tinggi jumlah tempat penitipan anak dan semakin banyaknya jumlah anak yang dititipi, maka gerakan para feminis semakin berhasil.

“Isu di masing-masing negara berbeda. Kalau di Indonesia bisa dilihat dari seberapa banyak anak yang dititipkan pada pembantunya,”tutur Dosen Universitas Trisakti itu.

Implikasi RUU KKG mungkin baru terasa 10-20 tahun setelah disahkan.

“Mereka akan pelan-pelan, dari dulu mereka tidak pakai cara ekstrim. Tapi sepuluh-dua puluh tahun lagi, maka akan memasukkan gender sampai tingkatan yang lebih tinggi,”terangnya.

Dinar mencontohkan seperti CEDAW yang sudah terang-terangan menyarankan pada Meksiko untuk melegalisasi prostitusi dan menyediakan akses aborsi yang cepat dan mudah.

Sejumlah organisasi massa (Ormas) Muslimah menolak RUU KKGyang saat ini sedang memasuki tahapan pengesahannya melalui Sidang Paripurna sebagai RUU Inisiatif.*

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/

AILA TOLAK RUU Kesetaraan Gender

ruu-kkg3

Islamic Center – “Sikap AILA tetap menolak segala proses legalisasi RUU KKG,” tegas Rita Soebagio selaku Sekjend Aliansi Cinta Keluarga (AILA).

Pernyataan sikap AILA ini berkaitan dengan perkembangan proses legalisasi RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang sudah memasuki tahapan persetujuan di Badan Legislasi (Baleg) DPR, yang disampaikan Senin (15/9/2014) di AQL Islamic Center, Jakarta.

Dalam pernyataan sikapnya tersebut, organisasi muslimah yang aktif menentang gerakan ideologi feminisme ini memberikan apresiasi yang tinggi pada pihak-pihak yang tetap menolak legalisasi RUU KKG. Seperti Fraksi PKS dan Gerindra.

Adapun penolakan AILA terhadap RUU KKG mempertimbangkan berbagai hal, antara lain:

  1. RUU KKG sejatinya lahir dari asumsi bahwa perempuan Indonesia berada dalam sistem yang menindas dan mendeskriminasi perempuan sehingga diperlukan perangkat perundangan yang membela kaum perempuan. Padahal ide Kesetaraan Gender sarat dengan upaya liberalisasi dan individualisasi manusia, terlihat dari upaya berbagai kelompok untuk menghilangkan norma-norma agama dan budaya Indonesia dalam pasal-pasalnya. Sehingga disadari atau tidak, RUU KKG hanya akan melahirkan individu yang tidak terikat pada norma-norma agama dan budaya.
  2. Gender merupakan konsep jenis kelamin baru yang dimunculkan kaum feminis akibat gelombang revolusi seksual di Barat yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan budaya Indonesia. Gender atau jenis kelamin sosial ini sangat berpotensi menyuburkan praktek LGBT (Lesbian Gay Bisexual and Transgender) dan menjadi ancaman serius keluarga Indonesia karena membuat kaum perempuan dan pria terlepas dari kodratnya masing-masing.
  3. Ide Kesetaraan Gender yang ditawarkan bagi bangsa-bangsa di dunia melalui CEDAW (Convention on The Elimination Of All Forms Discrimination Against Women) dan telah diratifikasi Indonesia sejak tahun 1984, secara empiris telah membuat rapuh pondasi dari sebuah keluarga. Padahal rapuhnya sebuah keluarga akan berpengaruh terhadap ketahanan nasional sebuah bangsa. Hal ini disadari dengan baik oleh negara-negara besar seperti Amerika yang justru enggan meratifikasi CEDAW.
  4. Solusi dari permasalahan perempuan dan keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia yang luhur kepada segenap lapisan masyarakat melalui program pengokohan keluarga dan bukan membuat RUU yang justru akan merusak tatanan keluarga ideal.

Berdasarkan pertimbangan penolakan di atas, kami mengajak kepada semua elemen bangsa Indonesia, untuk kembali duduk bersama-sama mengkaji sebuah produk perundangan seperti RUU KKG tersebut; dan mempertimbangkan seberapa jauh produk tersebut memberikan nilai manfaat bagi kemajuan dan ketahanan nasional sebuah bangsa.

Pernyataan sikap kami ini, ungkap Rita Soebagio, sebagai bentuk kepedulian kami atas nasib bangsa pada umumnya serta perempuan dan keluarga Indonesia pada khususnya.

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/