Melihat Korelasi Antara Maraknya Zina Dan Emansipasi Wanita

korelasi-zina-dan-emansipasi-wanita

Digrebek, Mahasiswa Buru buru Pakai Celana, Si Mahasiswi Pakai Selimut

TRIBUNNEWS.COM, MADIUN – Sepasang mahasiswa yang diduga bermesum ria di dalam kamar kos di JL Serayu Timur Nomor 3, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun digrebeg warga, Senin (29/9/2014) dini hari.

Ini menyusul, pasangan mesum kalangan mahasiswa itu, tak kunjung keluar kamar sejak masuk ke dalam kamar perempuan sejak, Minggu (28/9/2014) pukul 22.30 WIB hingga Senin (29/9/2014), 01.00 WIB atau selama kurang lebih 4 jam.

Sepasang pemuda mesum itu adalah BCN warga JL Trimulyo, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun dan Ap yang merupakan salah satu mahasiswa Politeknik Negeri Madiun. Keduanya kedapatan bergumul di dalam kamar kos perempuan si Ap itu.

Bahkan, keduanya tampak tengah terburu-buru mengenakan pakaian saat Yohanes Utomo yang tak lain pemilik rumah kos itu, memeriksa satu per satu kamar yang disewakannya, Senin (29/9/2014) dini hari.

Pemilik rumah kos, Yohanes Utomo mengatakan malam itu dirinya diberitahu warga, jika di dalam kos ada seorang cowok yang menyelinap masuk dalam kamar kos Ap itu. Usai mendapatkan laporan itu, Yohanes melakukan pemeriksaan satu per satu kamar kos di rumahnya itu.

“Sebenarnya saya sudah tidur. Tetapi, beberapa warga yang biasa cangkrukan diluar membangunkan saya. Mereka memberitahu ada laki-laki yang masuk ke kamar kos. Saat saya periksa, ada laki-laki baru mau menggunakan celana dan yang perempuan menutup tubuhnya menggunakan selimut,” terangnya kepada Surya, Senin (29/9/2014) dini hari.

Keterangan itu diperkuat keterangan warga lain yang ikut melaksanakan penggerebekan itu yakni Sunarko. Menurutnya, laki-laki tersebut sudah sekitar tiga jam masuk ke dalam kamar kos pasangan perempuannya. Meski diintai warga tak kunjung keluar dari dalam kamar kos itu.

“Laki-laki itu sekitar jam setengah sebelas (22.30 WIB) sudah masuk kos berboncengan. Sampai dini hari kok nggak keluar kamar, akhirnya warga membangunkan pemilik kos dan mengrebek laki-laki itu,” tegasnya.

Sementara untuk mengamankan pasangan mahasiswa mesum itu dari amukan warga, akhirnya pemilik kos dan beberapa warga menghubungi petugas Polsek Taman. Tak berselang lama, pasangan mesum mahasiswa tersebut segera diamankan Polsek Taman untuk diproses dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

https://id.berita.yahoo.com/digrebek-mahasiswa-itu-buru-buru-pakai-celana-si-133948416.html

-o0o-

ANNISANATIONAssalamu alaikum wr wb ……,

Artikel di atas memaparkan kepada kita mengenai kejadian di tengah masyarakat yang amat memprihatinkan, yaitu terjadinya hubungan senggama antara dua anak manusia, yang mana hal tersebut merupakan perbuatan zina, yang tidak saja dikutuk oleh Allah Swt, namun juga dikutuk oleh seluruh umat manusia yang beradab, khususnya umat Muslim.

Angka statistik sebenarnya sudah memaparkan bahwa kasus perzinahan sudah marak di tengah masyarakat kita ini, dan terjadi pada semua strata masyarakat, baik pada individu yang masih lajang, individu yang sudah berumah tangga, bahkan perzinahan juga terjadi di kalangan para pejabat dan pemuka masyarakat. Secara kasat mata, perzinahan bukan lagi monopoli individu-individu yang kurang pendidikan, harus diakui bahwa tindak perzinahan juga telah menjadi perbuatan kaum intelek, kaum berjilbab dan mereka yang dianggap sebagai manusia-manusia suci. Singkat kata, tindak perzinahan sudah merata di tengah masyarakat kita dewasa ini.

Kita mengakui bahwa tindak perzinahan mengundang respon massa yang berbeda pada setiap jamannya. Kita ingat, bahwa pada tahun 80an. 70an, bahkan 60an dan jauh ke belakang lagi, tindak perzinahan selalu mendapat respon yang amat brutal dari masyarakat. Pengucilan, eksekusi keji dari masyarakat, hukuman fisik yang berat, dan masih banyak lagi, merupakan respon tegas (yang brutal) yang dijatuhkan masyarakat terhadap para pelaku perzinahan. Dengan kata lain, pada masa purba, perzinahan sama sekali tidak mendapat kompromi dan ampunan dari masyarakat, khususnya masyarakat Muslim.

Namun kini di tahun 90an, 2000an dan sekarang (tahun 2014), tampaknya moralitas umat manusia telah bergeser secara signifikan, di mana tindak perzinahan mendapat respon yang dapat dikatakan ambivalen. Dikatakan ambivalen, karena bahwa mungkin saja masyarakat tidak menerima tindak perzinahan jika perzinaha tersebut terjadi (atau dilakukan) di tengah pemukiman masyarakat (alias di tengah kampung); lain halnya kalau tindak perzinahan itu dilakukan di hotel berbintang, di tengah kota, menurut mereka itu tidak masalah. Ambivalen juga dapat berarti, bahwa “kalau orang lain berzina: No. Namun kalau saya yang berzina: Yes”.

Juga kerap terjadi, sebuah keluarga membiarkan anak-anak mereka terlibat tindak perzinahan dengan teman-teman mereka, karena keluarga tersebut telah terbiasa hidup di tengah arus modernisasi. Namun kalau ayah dari keluarga tersebut mengetahui bahwa istrinya berzina, maka si ayah akan murka demikian hebat. Yang lebih mengerikan adalah tindak perzinahan, atau yang biasa disebut selingkuh, yang terjadi dalam pergaulan di perkantoran. Semua orang di suatu Kantor telah terbiasa mendengar bahwa staf ‘a’ sebenarnya selingkuhannya staf ‘b’, padahal semua orang juga tahu bahwa baik ‘a’ dan ‘b’ sama-sama sudah menikah. Intinya, sudah terjadi pembiaran dan permisivitas yang diberikan (dianugrahkan?) kepada tindak perzinahan di Kantor-Kantor.

Inti dari permisivitas ini sebenarnya adalah simpel, yaitu adanya sebuah pameo: “jangan ikut campur urusan orang lain, urus saja diri sendiri”. Pameo inilah cikal bakal maraknya perzinahan di tengah masyarakat Indonesia, khususnya Muslim.

Sama-sama diketahui, bahwa biar bagaimana pun perzinahan adalah suatu perbuatan yang terkutuk, dan juga hina. Zina adalah perbuatan yang meghinakan wanita, dan juga menghinakan pria. Zina sama sekali tidak beradab, tidak beradat, dan tidak mempunyai dasar logika secuil pun. Sudah banyak pihak mau pun institusi yang berjuang untuk melenyapkan virus zina ini dari muka bumi khususnya Indonesia, namun kenyataannya virus ini semakin mengganas, dan pada akhirnya tidak dapat dibendung: artinya adalah bahwa perzinahan sudah menjadi gaya hidup yang diterima.

Bagaimana Zina Bisa Terjadi?

Untuk dapat memberantas zina, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan merenungi suatu pertanyaan: mengapa tindak perzinahan dapat terjadi? Apa yang menjadi bibit perzinahan tersebut? Dan apakah bibit perzinahan tersebut dapat ditumpas? Dan kalau dapat ditumpas, apakah penumpasannya tidak membahayakan (mempunyai efek samping negatif terhadap) komponen lain di dalam kehidupan?

Kalau dirunut secara bilangan tahun, maraknya zina sebenarnya hanya bermula pada akhir tahun 80an, dan awal tahun 90an. Artinya, zina tetaplah merupakan suatu hal yang keji dan terkutuk, ditolak untuk seluruh umat, pada tahun 80an, 70an, 60an, dan jauh ke belakang lagi. Sementara kita tahu, bahwa akhir tahun 80an dan awal tahun 90an tersebut merupakan era emansipasi wanita (alias persamaan gender antara pria dan wanita), di mana gerakan emansipasi wanita ini menuntut dan menempatkan wanita selalu bergumul secara bebas dengan kaum pria di luar rumah, seperti di Kantor, kampus, kelas sekolah, pasar, dan lain sebagainya.

Pada gerakan emansipasi wanita itulah, untuk pertama kalinya wanita dibiasakan untuk bertemu secara bebas dan intens sepanjang waktu dengan pria-pria lain yang bukan muhrimnya, dan yang bukan suaminya. Dengan seringnya terjadi pertemuan secara permanen dan intens ini, adalah pasti tersemai bibit sahwat dan birahi, tanpa pandang bahwa hal tersebut merupakan dosa, zina, nista; dan tanpa pandang bahwa pria yang disahwatkan oleh seorang wanita sebenarnya sudah beristri, dan lain kasus.

Banyak terjadi kasus zina di kalangan mahasiwa, di kalangan murid SD, SMP, SMA mau pun madrasah, di kalangan karyawan Kantor, di kalangan buruh pasar, dan lain sebagainya. Hal itu terjadi karena sudah terbukanya celah pertemuan bebas dan permanen antara pria dan wanita di luar rumah, yang keseluruhan hal tersebut didasari oleh gerakan emansipasi wanita.

Praktis, dengan adanya emansipasi wanita yang mensyaratkan wanita selalu keluar rumah untuk bertemu dengan pria secara bebas di luar rumah secara permanen, telah melahirkan fenomena zina-halal bagi siapa pun, dan pada akhirnya, karena saking banyaknya kasus zina ini, umat menjadi permisif terhadap dosa dan kekejian tersebut.

Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa maraknya kasus berzina ADALAH BERBANDING LURUS dengan gerakan emansipasi wanita di segala bidang. Sejak wanita di-emansipasi-kan oleh suatu masyarakat, maka sejak itulah zina telah menjadi kehalalan bagi seluruh umat: umat harus menerimanya sebagai gaya hidup. Jangan mengharap bangkitnya suatu umat yang jauh dari zina, kalau umat tersebut menerapkan gerakan emansipasi wanita. Selama ada gerakan emansipasi wanita pada suatu umat, maka selama itu juga perzinahan akan berkembang biak di dalam tubuh umat tersebut.

Kebalikannya, kalau suatu masyarakat menolak gerakan emansipasi wanita, maka pastilah perzinahan akan sirna dengan sendirinya dari umat tersebut. Bagaimana mungkin seorang pria dan wanita dapat berzina, kalau si wanita selalu berada di dalam rumahnya, sementara si pria selalu di tempat kerjanya, dan si pria tersebut tidak dapat mengunjungi si wanita ini, karena rumah si wanita selalu dijaga oleh keluarganya di dalam rumah?

Akhirnya kita kembali kepada pertanyaan:

  1. Mengapa perzinahan dapat terjadi? Jawabannya adalah, karena si pria dan si wanita selalu bertemu secara intens setiap saat dan rutin, sehingga bangkitlah sahwat di antara mereka berdua. Bertemunya antara pria dan wanita secara liar ini, tentulah hanya a terjadi di dalam bingkai emansipasi wanita.
  2. Apakah yang menjadi bibit atas maraknya perzinahan? Jawabannya adalah mudah: yaitu gerakan dan penggiatan emansipasi wanita.
  3. Dan apakah bibit perzinahan tersebut dapat ditumpas? Jawabannya adalah: tentu saja dapat, yaitu dengan menolak dan menghapuskan gerakan / semangat emansipasi wanita. Itulah satu-satunya cara untuk menjauhkan kesucian umat dari virus zina; tidak ada cara lain.
  4. Dan kalau dapat ditumpas, apakah penumpasannya tidak membahayakan komponen lain? Jawabannya adalah: penghapusan gerakan emansipasi wanita tidak akan membahayakan komponen lain di dalam kehidupan ini, malah

Emansipasi Wanita versus Domestikalisasi Wanita.

Sama diketahui bahwa maraknya kasus zina adalah BERBANDING LURUS dengan giatnya gerakan emansipasi wanita. Artinya, kalau suatu umat ingin kasus zina ditumpas, maka satu-satunya cara adalah DENGAN MENUMPAS GERAKAN EMANSIPASI WANITA sampai ke akarnya.

Menghapus atau menumpas gerakan emansipasi wanita (sebagai satu-satunya usaha dan cara untuk menumpas kasus perzinahan) adalah identik dan ekuivalen dengan gerakan DOMESTIKALISASI WANITA, alias gerakan untuk mengembalikan kaum wanita kepada kodrat alamiahnya yaitu sebagai mahluk domestik, yang tidak keluar rumah untuk tujuan apapun seperti bekerja mau pun menuntut ilmu (sekolah dan kuliah).

Dengan men-DOMESTIKALISASI WANITA, maka wanita akan kembali kepada nilai instrinsiknya semula, yaitu sebagai ibu dan istri yang penuh dedikasi kepada anak dan seluruh keluarga kecilnya. Dan dengan men-domestikalisasi wanita, tidak akan ada lagi wanita yang keluar rumah secara permanen supaya bertemu dengan pria-pria asing di luar rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s