Jumhur Ulama Yang Anti Emansipasi Wanita

jumhur ulama

Wanita Menjadi Pemimpin

Hadits:

Dari Abu Bakrah bahwa Nabi bersabda: “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan mereka kepada seorang perempuan” [Riwayat Bukhari].

Penjelasan:

Al Khathabi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa wanita tidak dapat diangkat menjadi pemimpin maupun hakim, ini juga menjelaskan bahwa dia tidak dapat menikahkan dirinya, dan tidak berhak menikahkan selainnya.” Namun, pernyataannya kurang tepat. Mengenai larangan seorang wanita memegang kekuasaan pemerintah dan hakim adalah pendapat jumhur. Namun, Ath-Thabari membolehkannya, dan ia adalah salah satu dari riwayat Imam Malik. Adapun Abu Hanifah membolehkan bagi kaum wanita menjadi hakim dalam perkara-perkara yang diterima kesaksiannya.

Adapun alasan para jumhur tidak membolehkan wanita menjadi pemimpin di antaranya:

  1. Pemimpin wanita pasti merugikan

Al Baghowiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah (10/77) pada Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”:

”Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim haruslah bisa menyelesaikan sengketa. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak diperkenankan berhias (apabila keluar rumah). Wanita itu lemah, tidak mampu menyelesaikan setiap urusan karena mereka kurang (akal dan agamanya). Kepemimpinan dan masalah memutuskan suatu perkara adalah tanggung jawab yang begitu urgent. Oleh karena itu yang menyelesaikannya adalah orang yang tidak memiliki kekurangan (seperti wanita) yaitu kaum pria-lah yang pantas menyelesaikannya”.

  1. Wanita kurang akal dan agama.

Rasulullah Saw. Bersabda,

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita”. Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akalnya?”. Beliau saw pun menjawab, ”Bukankah persaksian dua wanita sama dengan satu pria?”. Ada yang menanyakan lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang agamanya?”. Beliau saw pun menjawab, ”Bukankah ketika seorang wanita mengalami haidh, dia tidak dapat melaksanakan shalat dan tidak dapat berpuasa?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi saw menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kurang akalnya adalah dari sisi penjagaan dirinya dan persaksian tidak bisa sendirian, harus bersama wanita lainnya. Inilah kekurangannya, seringkali wanita itu lupa. Akhirnya dia pun sering menambah-nambah dan mengurang-ngurangi dalam persaksiannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Yang dimaksud dengan kurangnya agama adalah ketika wanita tersebut dalam kondisi haidh dan nifas, dia pun meninggalkan shalat dan puasa, juga dia tidak mengqodho shalatnya. Inilah yang dimaksud kurang agamanya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 4/292)[11]

Simpulan

Jumhur ulama tidak membolehkan wanita menjadi pemimpin, karena mendatangkan beberapa mudharat.

Sumber,

http://abdanmatin [dot] blogspot [dot] com/2013/02/hadits-tentang-kepemimpinan.html

-o0o-

Annisanation – paparan di atas sudah menjelaskan kepada kita bahwa umat Muslim mempunyai larangan langsung dari sisi Nabi Muhammad Saw untuk mengangkat kaum wanita sebagai pemimpin. Ini juga berarti, secara implisit, wanita terlarang untuk bekerja di luar rumah, karena datangnya ide wanita menjadi pemimpin pasti berasal dari alam fikiran yang membolehkan wanita keluar rumah untuk menuntut ilmu dan juga bekerja mencari nafkah / uang. Tidak mungkin terjadi di mana suatu umat melarang kaum wanita untuk keluar rumah untuk beraktivitas (seperti menuntut ilmu dan bekerja mencari uang) sementara pada umat tersebut terdapat kaum wanita yang menjadi pemimpin umat.

Pada kenyataannya dewasa ini, umat Muslim di seluruh Dunia ini, kebanyakan, telah melembagakan sistem yang mengadopsi wanita bekerja – dan juga menuntut ilmu, sehingga dari sistem tersebut lahirlah pemimpin-pemimpin yang berjenis kelamin wanita, sebagai konsekwensi dari diperbolehkannya dan meratanya kaum wanita bekerja. Adalah tidak mungkin di satu pihak kaum wanita diperbolehkan dan diratakan untuk bekerja di luar rumah, sementara pada akhirnya kaum wanita tersebut tetap tidak diperbolehkan menjadi pemimpin.

Dengan demikian sudah dapat dikatakan bahwa umat Muslim di seluruh Dunia telah mendurhakai perintah dan ajaran Islam, yaitu ajaran dari Nabi Muhammad Saw. Sebagai bentuk kezalimannya, maka timbullah dekadensi moral yang parah dan memborok di tengah umat, seperti pelacuran, perzinahan, freesex, pornografi, perceraian di kalangan pernikahan muda, dan lain sebagainya.

Akankah ini kita biarkan dekadensi moral ini untuk selama-lamanya? Apakah Muslim di seluruh Dunia telah ridho dengan adanya kebangkrutan moral yang memborok? Dan kemudian apakah umat Muslim seluruh Dunia telah ridho dengan azab Illahi karenanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s