Akibat Dan Konsekwensi Lurus Dari Persamaan Gender

akibat-persamaan-gender

Ajaran Islam mengenai wanita adalah jelas, yaitu bahwa wanita tidak boleh keluar rumah, dan tidak boleh bekerja mencari nafkah. Tempat, fitrah dan kodrat wanita adalah domestik. Oleh karena itu adalah sesat kalau wanita DIBERDAYAKAN, yaitu keluar rumah untuk tujuan:

  • Menuntut ilmu,
  • Mau pun bekerja, berkarir dan mencari nafkah.

Kandungan Alquran mau pun Alhadis sepakat menyuarakan betapa kodrat dan fitrah wanita adalah domestik, dan oleh karena itu seluruh umat harus patuh kepada ajaran Alquran dan Alhadis khususnya mengenai perlakuan terhadap kaum wanita.

Apa yang akan terjadi kalau wanita diberdayakan (yaitu keluar rumah untuk menuntut ilmu, bekerja dan mencari nafkah)?

Pertama.

Seorang wanita akan selalu keluar rumah, akan selalu meninggalkan rumahnya. Level ini sudah jelas merupakan pendurhakaan terhadap ajaran Islam yang disampaikan oleh Muhammad Saw. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt di dalam Alquran surah Al-Ahzab 33, bagaimana mungkin seorang wanita akan bertetap dengan kodrat domestiknya kalau setiap hari ia keluar rumah?

Kedua.

Dengan keluar rumah, ia akan selalu menampakkan auratnya, lekuk-tubuhnya, yang mana itu semua adalah milik muhrim atau suaminya saja. Point ini juga merupakan dosa bagi wanita yang keluar rumah, dan juga dosa bagi pria yang mengijinkan wanita tersebut keluar rumah.

Ketiga.

Kemudian, dengan keluar rumah ia akan beroleh pendidikan, pekerjaan, jabatan dan power, yang mana power itu akan membuatnya menjadi individu / sumberdaya yang terpisah dari patriakhatnya, atau dengan kata lain, menjadi individu yang ‘otonom dan terpisah’ dari kerangka patriakhat. Islam tidak mempunyai ajaran untuk menempatkan wanita sebagai individu yang terpisah dan otonom dari patriakhatnya. Keseluruhan ayat Alquran mau pun Alhadis mengindikasikan bahwa wanita adalah bagian integral dari tubuh seorang pria, apakah ia ayahnya, suaminya, mau pun keluarganya secara menyeluruh. Dengan demikian membuat atau memungkinkan seorang wanita menjadi individu yang terpisah dan otonom terhadap patriakhatnya (yaitu dengan memberdayakannya) merupakan suatu perbuatan dosa.

Keempat.

Kemudian, ia akan menolak kawin, atau, ia hanya akan kawin dengan pria pilihannya sendiri. Kebanyakan wanita yang diberdayakan, hanya kawin pada usia lanjut, dan itu pun harus melalui pacaran terlebih dahulu, yang mana pacaran itu sendiri merupakan pintu besar untuk terjadinya perzinahan. Hal ini jelas bertentangan dengan Alhadis bahwa “bergesa-gesa menikahkan anak (gadis) merupakan perbuatan yang harus diutamakan keluarga Muslim”. Dengan menjadi diberdayakan, kaum wanita sampai pada mentalitas di mana ia merasa bahwa seorang pria yang akan menjadi suaminya HARUSLAH merupakan pilihannya sendiri, dan itu berarti PACARAN.

Adalah mustahil di mana seorang wanita yang diberdayakan (yaitu wanita sophis) menjalani pernikahannya setelah dipinang oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya, apalagi dicintainya, seperti pada jaman Siti Nurbaya. Jadi, seorang wanita sophis hanya akan menikah dengan pria yang ia cintai, dan itu berarti pacaran, dan sekaligus pernikahan itu terjadi pada usia lanjut (di atas umur 25). Islam mengajarkan bahwa pernikahan haruslah diselenggarakan pada usia awal, tepatnya di bawah usia 20 tahun. Dan hal ini hanya akan terjadi pada diri setiap wanita JIKA DAN HANYA JIKA sang wanitanya merupakan wanita domies, alias wanita yang tidak diberdayakan. Dan itu TANPA PACARAN, dan itu TANPA FITNAH ZINA.

Kelima.

Lebih dari itu, dengan senantiasa keluar rumah, ditambah dengan beroleh power (karena terus keluar-rumah tersebut) sebagai akibat dari aksesnya atas pendidikan dan pekerjaan, membuka peluang besar bagi si wanita untuk berkenalan dengan pria asing, kemudian menjalin hubungan pribadi yang akan berakhir dengan perzinahan. Wanita pada level ini akan merasa bahwa hubungan indah dengan pria kenalannya harus dirayakan dengan hubungan badan di luar-nikah sebagai pengikat emosi.

Dalam Islam, wanita di-skenariokan untuk terus tinggal di dalam rumahnya (menjadi wanita domies), dengan demikian seluruh wanita pada generasi ini akan tetap di dalam lingkup patriakhatnya, dan itu berarti bahwa kesuciannya adalah milik keluarganya, dan harus terus diawasi oleh keluarganya. Dan dengan terus diam di dalam rumahnya, seluruh wanita pada generasi domies ini akan tetap berada pada suatu mentalitas di mana mereka merasa jijik dan merinding saat bertemu dengan pria asing (sampai akhirnya mereka dinikahkan). Itulah keagungan mendomestikalisasikan kaum wanita, itulah Islam. Ini artinya wanita yang keluar rumah sangat rentan dengan tindak perzinahan.

Adalah jelas melalui formula-nya, bahwa wanita yang selalu diam di rumahnya, kelak itu akan membuatnya merasa jijik jika bertemu atau melihat pria asing. Dari sini jelas tidak akan timbul kasus zina. Sementara itu, wanita yang terus keluar rumah (seperti untuk sekolah mau pun bekerja), akan terus bertemu dengan pria asing, hal ini akan mengakibatkan matinya rasa malu dan jijiknya terhadap para pria asing, dan akan segera digantikan dengan rasa suka terhadap mereka, para pria asing. Akhirnya, terus keluar rumah akan memupuk persepsi baru di dalam nuraninya, bahwa bermesra-mesraan dengan pria asing merupakan keasyikan lain yang pantas untuk direguk. Dari sini jelas bibit zina mulai memasuki babak baru.

Hal lain yang mendasar dari terbukanya peluang berzina bagi wanita ini adalah, bahwa ia, yang telah mempunyai power dan telah menjadi individu yang otonom terhadap patriakhatnya, merasa bahwa menyerahkan kesuciannya secara maksiat merupakan keputusan dan hak-nya sendiri, artinya orang lain tidak usah ikut campur, kendati orang lain itu adalah ayah mau pun keluarganya sendiri. Maka level ini sudah jelas merupakan dosa dan rahim-dosa bagi si wanita tersebut dan keluarga yang mengijinkannya untuk keluar rumah.

Keenam.

Kemudian, kalau pun ia menikah, besar kemungkinannya ia akan bercerai, karena ia dan suaminya merupakan dua individu yang sama-sama mempunyai otoritas (otonom, ego) atas diri masing-masing.

Pertama, dengan memberdayakan seorang wanita sejak awal, maka wanita itu telah menjadi individu yang mempunyai egonya sendiri secara mandiri (pemberdayaan membangkitkan ego-nya sebagai individu).

Kedua, dengan memberdayakan wanita sejak awal, maka wanita itu telah mempunyai powernya sendiri secara mandiri (seperti uang, jabatan, hargadiri, sumber rejeki, dsb).

Gabungan kedua hal ini membuat seorang istri akan lebih memilih bercerai kalau ada masalah kecil sekali pun di dalam rumahtangganya. Harus diperhatikan, bahwa rumahtangga yang istrinya merupakan wanita yang diberdayakan, merupakan rumahtangga yang mempunyai dua ego: kalau terjadi selisih maka sulit dan mustahil untuk dipersatukan kembali. Berbeda kalau wanita tidak diberdayakan (wanita domies), maka di dalam rumahtangganya hanya ada satu ego, yaitu ego sang suami.

Wanita yang diberdayakan, merupakan individu yang mempunyai idealisme sendiri, dan ditambah dengan munculnya jiwa kritis terhadap segala hal, khususnya seperti apa suaminya berbuat, dan terkadang itu dinilai secara subjektif oleh si istri. Ini memberi kontribusi signifikan di dalam pemicu perceraian. Itulah sebabnya, jaman yang diwarnai maraknya persamaan gender / emansipasi wanita, angka perceraian dicatat tinggi sekali, dan kebanyakan dari perceraian tersebut (65-persen) merupakan gugatan pihak istri.

Kesimpulannya, adalah dosa untuk memberdayakan perempuan, karena selain dosa secara ukhrawi, juga dosa secara hubungan sebab-akibat, dan itu terlihat jelas di tengah umat.

Ketujuh.

Dengan menjadi entitas tersendiri yang terlepas dari frame patriakhat (menjadi otonom), membuat wanita memutuskan hal apa saja dengan otonominya sendiri tanpa memandang pesan moral: wanita akan berbuat apa saja, seperti menjadi:

    1. model bugil,
    2. menjadi pelacur,
    3. pulang malam,
    4. memilih teman dan kekasih,
    5. bekerja jauh dari rumah,
    6. berzina atau tidak,
    7. tinggal di kost atau tidak,
    8. jenis pekerjaan yang dipilih,
    9. jumlah anak,
    10. mengambil pembantu atau tidak,
    11. menikah lagi atau tidak (untuk para janda),
    12. bahkan pindah agama atau tidak,
    13. bercerai dsb.

Dengan menjadikan seorang wanita diberdayakan (bersekolah, bekerja mencari nafkah dan mempunyai jabatan) maka gugurlah-sudah semua kontrol dan wewenang moral orang-tua atas diri si wanita, sang anak. Orang-tua, paman, abang, suami mau pun datuk tidak lagi mempunyai wewenang untuk menegur dan membimbing wanita ini, karena seutuhnya wanita ini telah menjadi individu yang mandiri, dan terlepas dari kontrol dan bimbingan patriakhatnya. Artinya, siapa pun tidak lagi mempunyai hak dan wewenang untuk melarang atau memerintah wanitanya untuk mengenakan jilbab, misalnya. Atau jangan keluar rumah, atau jangan pulang malam, atau jangan pacaran, atau jangan berdandan berlebihan, atau jangan menghambur-hamburkan uangnya di Pusat perbelanjaan, dsb.

Hal ini berbeda dengan wanita yang tidak diberdayakan (yaitu wanita yang sejak awal diam di rumah, tidak bekerja, tidak diberi pengajaran, tidak mempunyai jabatan formal): wanita kelompok ini merupakan wanita yang seutuhnya manut pada kontrol dan bimbingan pihak patriakhat, sehingga ayahnya, atau suaminya, atau pamannya, atau abangnya, tetap mempunyai hak dan wewenang untuk menegur dan mengatur perilaku wanitanya. Itu semua karena mereka bukan wanita yang diberdayakan.

Demikianlah, pada jaman yang sudah diracuni gerakan persamaan gender, terlihat maraknya fenomena wanita yang pulang malam, berdandan yang berlebihan dan tidak pantas, gonta-ganti pacar, selalu menghambur-hamburkan uang di Pusat belanja, mengumbar aurat tanpa henti, dsb. Dan ironisnya, patriakhatnya (ayahnya, suaminya, abangnya, pamannya dsb) tidak berhak untuk menegur untuk mengingatkannya.

Itu semua adalah akibat dan output lurus dari gerakan persamaan gender dan atau emansipasi wanita. Dan kebalikannya, pada masa sebelum lahirnya ideologi persamaan gender, seluruh kaum wanita tetap berada pada keagungan moral mereka.

Kedelapan.

Kemudian, ia akan menolak untuk menjalani peran domestik: ia akan enggan masak, mencuci piring, mencuci baju, menyeterika baju, mengurus anak, menyiapkan meja makan, merapikan ranjang, dan bekerja di dapur. Ia akan memilih untuk bekerja di luar rumah berdampingan dengan para lelaki, dan ingatlah bahwa itu adalah salah berdasarkan Islam dan titah seluruh Nabi.

Wanita yang diberdayakan, wanita sophis, melihat bahwa tugas domestik merupakan bentuk keterbelakangan, keterjajahan dan keterhinaan, yang mana keseluruhan hal tersebut dirancang oleh kaum pria untuk menekan dan mensapi-perahkan kaum wanita selama-lamanya demi egosentrisme kaum pria. Itulah sebabnya, sekali seorang wanita keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaannya (yaitu bersekolah dan kemudian bekerja mencari uang), maka untuk selamanya ia menolak dengan beringas seluruh tugas domestik, apalagi untuk terus diam di dalam rumahnya.

Pada jaman yang sudah diracuni kesetaraan gender, sudah menjadi fenomena meluas di mana kaum wanita sudah tidak mempunyai keterampilan memasak, menenun, mengurus anak, mengurus rumah, menjahit, menyanggul, merenda, dsb. Padahal keseluruhan hal tersebut merupakan fitrah dan kodrat kaum wanita. Hal itu dikarenakan kaum wanita yang diberdayakan melalui persamaan gender telah meleburkan dirinya (secara paksa) pada kodrat kaum pria, dan kemudian merasa setara dengan kaum pria, yaitu keluar rumah, bekerja mencari uang, memimpin rapat di Kantor, mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria, menerima gaji, pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia, kemudian tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Kaum sophis sudah tidak ingin tahu-menahu soal dapur, mencuci baju kotor, mengurus cirit sang anak, merapikan rumah dan tempat tidur, menjahit baju, dan mencuci piring, karena toh mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria, yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di Kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang.

Biar bagaimana pun hal ini adalah salah, dan keji di dalam pandangan Allah Swt dan seluruh MalaikatNya. Dosa besar bagi sang wanita sendiri, dan bagi keluarga yang mengijinkan wanita mereka untuk keluar rumah: itulah akibat yang akan terjadi kalau wanita keluar rumah, sekolah dan bekerja.

Kesembilan.

Kemudian, ia akan menolak mempunyai / melahirkan banyak anak. Muhammad Saw bersabda “PERBANYAKLAH ANAKMU …..”.

Alhadis ini merupakan tugas Rasulullah yang sebenarnya untuk kaum wanita, karena kaum wanita-lah yang paling berperan: melahirkan merupakan tugas alami wanita, bukan pria. Tugas ini akan paripurna diselenggarakan, HANYA DAN HANYA jika kaum wanita-nya merupakan individu yang tidak diberdayakan (wanita domies). Kebalikannya, bagi wanita yang diberdayakan, melahirkan banyak anak merupakan aib, beban dan suatu keterbelakangan, sekaligus keadaan yang akan menghambatnya di dalam karir dan jabatan untuk mencari posisi tinggi dan uang sebanyak-banyaknya.

Mengapa pada masa dahulu ketika tidak ada persamaan gender, kaum wanita mempunyai dan melahirkan banyak anak, adalah karena pada masa itu seluruh wanita rata tidak bekerja, tidak mencari nafkah, dan tidak menduduki jabatan formal. Singkat kata, adalah karena pada masa lalu kaum wanita tidak diberdayakan. Ketika suami-suami mereka menginginkan banyak anak (note: banyak anak adalah minimal empat atau lima anak), maka para wanita itu manut dan patuh pada kehendak para suami, yang merupakan kehendak Tuhan. Seorang suami yang patuh pada ajaran Nabi saw untuk memperbanyak anak, mendapatkan tugas itu dipermudah di tingkat istri karena derajat sang istri merupakan wanita yang tidak diberdayakan.

Kebalikannya, pada masa persamaan gender, seorang suami yang patuh pada ajaran Nabi saw untuk memperbanyak anak, harus terkendala pada kesiapan sang istri yang berkarir, bekerja dan menjabat posisi formal: mereka akan berkata bahwa banyak anak merupakan keterbelakangan, dan akan menghambat tugas dan pekerjaannya. Dan kalau suami memaksa istri untuk mengandung anak lagi, maka sang istri siap untuk bercerai dan mengakhiri rumahtangga, karena sang istri mempunyai hargadirinya sendiri, mempunyai powernya sendiri, mempunyai rejekinya sendiri, dan mempunyai otonominya sendiri.

Dengan kata lain, bagaimana mungkin pesan Muhammad Saw untuk memperbanyak anak dapat terwujud bila umat berada pada jaman persamaan gender? Bagaimana mungkin pesan Muhammad Saw untuk memperbanyak anak dapat terwujud bila para istri merupakan wanita yang diberdayakan yaitu mempunyai sumber keuangan sendiri, mempunyai power sendiri dan mempunyai otonomi sendiri? Persamaan gender hanya membuat wanita menolak untuk mempunyai banyak anak, dan itu merupakan pendurhakaan terhadap ajaran Muhammad Saw. Inilah akibat yang akan didapat umat kalau memberdayakan kaum wanita melalui persamaan gender.

Adalah mudah untuk dicerna oleh logika, mengapa pada masa lalu kaum wanita manut untuk melahirkan banyak anak, hal itu dikarenakan dan berparalel dengan derajat kaum wanita tersebut, yaitu wanita yang tidak diberdayakan secara intelektual. Banyak terjadi di mana wanita karir (wanita yang diberdayakan) yang akan menikah harus membuat calon suami setuju bahwa karir sang istri adalah nomor satu, yang artinya rencana memiliki anak pertama harus dikesampingkan jauh-jauh. Dan kalau calon suami tidak setuju, maka sang wanita dapat saja membatalkan pernikahan sama sekali, karena toh si wanita sudah mempunyai sumber rejekinya sendiri, hargadirinya sendiri, dan penghidupannya sendiri. Inilah kekejian terdalam dari fenomena wanita bekerja di dalam alam persamaan gender.

Dengan demikian, membuat wanita menjadi individu yang diberdayakan melalui persamaan gender atau emansipasi wanita, merupakan perbuatan dosa, merupakan suatu tindakan yang akan membuat wanita melawan takdir dan agamanya sendiri.

Kesepuluh.

Kemudian, ia juga akan menolak untuk mengasuh anaknya sendiri. Kebanyakan wanita yang diberdayakan akan memilih pembantu atau babysitter untuk mengurus anak-anaknya. Seorang wanita yang diberdayakan, setelah ia menolak untuk melahirkan banyak anak, dan menolak untuk segera mempunyai anak pertama, pun ketika telah mempunyai anak, wanita golongan ini menolak untuk mengasuh anak mereka sendiri. Mereka melihat bahwa mengasuh dan mengurus anak merupakan beban bagi karir mereka sebagai wanita yang mempunyai jabatan, dan mengurus anak merupakan lambang keterbelakangan dan ketidak-berdayaan.

Wanita yang diberdayakan, berpaling kepada garis orbital kaum pria, yang setiap hari berangkat ke Kantor, memimpin rapat, mencari uang dan mengepalai sekian divisi usaha dan pekerja, dan itulah yang harus / ingin digeluti kaum wanita. Artinya, mengasuh anak merupakan hambatan dan penghalang bagi wanita untuk mendapatkan orbital kaum pria. Kalau pria selalu bersibuk di Kantor, memimpin rapat, mencari pendapatan finansial, mengepalai para pekerja, dan tidak pernah mengurus anak di rumah, maka wanita karir (wanita sophis) harus mendapatkan hal yang sama. Jadi dengan kata lain, garis orbital antara kaum pria dengan kaum wanita adalah (dan haruslah) sama, yaitu bekerja di Kantor dan memimpin rapat.

Ingat, adalah jelas, bukan wanita namanya kalau ia tidak membesarkan anak-anak mereka sendiri. Bagaimana mungkin wanita sejati hadir di depan mata sementara dirinya menolak untuk membesarkan anak mereka sendiri? Para istri yang mempekerjakan babysitter untuk mengurus anak-anak mereka – sementara para istri tersebut bekerja di Kantor untuk memimpin rapat – sekarang sudah menjadi fenomena di tengah masyarakat Muslim, dan itu merupakan suatu perbuatan dosa besar karena yang jelas sudah terjadi perbuatan melanggar dan menghina kodrat yang Allah Swt tetapkan. Dan itu semua merupakan akibat lurus dari faham memberdayakan perempuan seperti melalui pendidikan dan kesempatan karir di luar rumah.

Kesebelas.

Kemudian, wanita yang diberdayakan ini akan menuntut bahwa wanita juga berhak (lebih dari apapun!) untuk menjadi pejabat dan pemimpin di atas para (pekerja) lelaki.

Wanita yang diberdayakan merasa, bahwa sudah tidak ada lagi yang dapat membedakan antara pria dan wanita, oleh karena itu kalau pria dapat menjadi pemimpin di kantornya, maka para wanita juga harus mempunyai hak dan kesempatan yang sama, yaitu menjadi pemimpin di kantornya.

Alquran mau pun Alhadis sudah tegas di dalam hal gender: pria adalah pemimpin wanita, dan oleh karena itu secara hirarkis pria berada di atas kaum wanita, terlebih Alquran dan Alhadis telah menyatakan bahwa pria mempunyai keunggulan, sementara wanita mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan, di samping bahwa kodrat wanita adalah domestik, sehingga komitmen Alquran dan Alhadis di dalam hal superioritas pria mempunyai landasan kuat dan objektif. Ini artinya di dalam seluruh aspek, lini mau pun wacana, adalah tetap terlarang untuk menjadikan wanita pemimpin atas kaum pria, kapan pun.

Kebalikannya, wanita yang diberdayakan, dengan gigihnya berjuang untuk mendapatkan dua persamaan, yaitu pertama persamaan hak untuk bekerja mencari nafkah, kemudian yang kedua adalah persamaan hak untuk menjadi pemimpin atau pejabat: kalau sudah mendapatkan rumah, maka kemudian harus mendapatkan surat tanah tersebut, seperti demikianlah yang diinginkan kaum wanita sophis. Dengan diberdayakan, kemudian kaum wanita sophis melihat bahwa mereka layak dan berhak untuk menjadi Presiden, kepala Kantor, pemimpin agama, Raja (Ratu), Ketua parlemen, anggota parlemen, Hakim, dokter, direktur Perusahaan, Menteri, dosen, perdana Menteri, rektor Universitas, bupati, gubernur, imam shalat, panglima tertinggi angkatan perang, pendeta Gereja, uskup, ulama, paus dsb. Implikasinya adalah, mereka, kaum wanita sophis, semakin jauh dan menjauhkan diri dari fitrah dan kodrat domestik, yaitu:

    1. masak,
    2. diam di rumah,
    3. mencuci piring,
    4. mencuci baju,
    5. menyeterika baju,
    6. mengurus anak,
    7. menenun,
    8. menyiapkan meja makan,
    9. belanja sayur ke pasar,
    10. merapikan ranjang, dsb.

Wanita domies di lain pihak, melihat bahwa jabatan publik bukan garis orbital mereka: wanita adalah wanita, dan pria adalah pria, pastilah berbeda garis orbital yang harus ditempuh. Kesederhanaan mentalitas yang berkembang di dalam ruh mereka membuat mereka menilai, bahwa membesarkan anak di rumah, dan memelihara kesucian diri dengan tetap tinggal di dalam rumah, merupakan hal terpenting dan mendasar bagi seluruh keluarga dan umat. Wanita domies merasa, mereka bangga melihat anak laki-laki mereka yang sudah menjadi pemimpin bangsa, karena wanita-wanita domies-lah yang telah bersusah payah membesarkan anak-anak tersebut; suami-suami mereka yang menjadi Presiden, adalah kebanggaan para istri yang merupakan wanita domies. Dan hal itu hanya akan terjadi kalau dan karena wanita-wanita domies tersebut merupakan wanita-wanita yang tidak diberdayakan (sejak awal), cukup tinggal di dalam rumah, tidak bersekolah dan tidak bekerja mencari uang. Sekali seorang wanita menjadi wanita domies (karena tidak sekolah dan tidak bekerja mencari uang dan jabatan), selamanya mereka tidak mempunyai ambisi dan spiritualitas untuk menjarahi jabatan publik, yang merupakan jabatan kaum pria. Toh mereka, kaum wanita domies ini telah cukup mendapatkan semuanya: rumah, makan cukup, sandang cukup, status kehormatan, keamanan dan perlindungan, perhiasan, kehangatan keluarga di sisi anak-anak, dsb.

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa sementara wanita domies merasa cukup dan bahagia dengan fitrah dan kodrat domestik mereka sebagai wanita, maka berlainan dengan wanita sophis yang terus memberontak dan mengutuki fitrah domestik mereka, kemudian tegang-bergelimpangan menjarahi kodrat kaum pria yaitu menduduki jabatan publik yang mentereng; itu semua karena wanita sophis ini sejak semula diberi akses pendidikan mulai kanak-kanak – dan kemudian diberi akses untuk bekerja mencari uang dan jabatan. Harus diingat, bahwa pun saat mulai menikmati akses pendidikan kanak-kanak hingga bekerja mencari uang dan jabatan – dan kemudian berakhir pada memperoleh jabatan mentereng, ekses keji terus menggejala:

  1. pacaran,
  2. perzinahan,
  3. aborsi,
  4. bangkai bayi di tempat sampah,
  5. freesex,
  6. kondomisasi,
  7. pamer aurat,
  8. berkhalwat,
  9. ber-tabarruj,
  10. berselingkuh,
  11. menunda pernikahan,
  12. ramai-ramai menceraikan suami,
  13. bergunjing satu sama lain,
  14. meninggalkan rumah,
  15. menterbengkalaikan anak-anak,
  16. shopping berketerusan, dsb.

Wanita yang diberdayakan, alias wanita sophis, dengan tegas menolak dan mengutuki titah yang terkandung di dalam Alquran dan Alhadis, bahwa pria adalah pemimpin wanita, dan oleh karena itu secara hirarkis pria berada di atas kaum wanita, terlebih Alquran dan Alhadis telah menyatakan bahwa pria mempunyai keunggulan, sementara wanita mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan, di samping bahwa kodrat wanita adalah domestik, sehingga komitmen Alquran dan Alhadis di dalam hal superioritas pria mempunyai landasan kuat dan objektif. Ini artinya di dalam seluruh aspek, lini mau pun wacana, adalah tetap terlarang untuk menjadikan wanita pemimpin atas kaum pria, kapan pun.

Inilah akibat yang akan menggejala di tengah umat jika kaum wanita diberdayakan, yaitu disekolahkan dan diberi akses untuk dunia kerja dan kemudian menjarahi kodrat pria yaitu menjadi pemimpin. Keseluruhan hal tersebut merupakan hal terkeji di mata Allah Swt dan seluruh MalaikatNya, yang berarti keseluruhan hal tersebut akan terus menyengsarakan umat manusia.

Kedua belas.

Hal berikutnya yang akan terjadi kalau kaum wanita diberdayakan adalah, mereka berjuang untuk mendapatkan kesamaan persepsi luas, bahwa:

  1. aborsi adalah baik;
  2. berzina / perzinaan adalah baik,
  3. hamil di luar nikah adalah baik,
  4. anak-jadah adalah baik,
  5. kondomisasi adalah baik,
  6. prostitusi adalah baik,
  7. marak perceraian adalah baik,
  8. hidup membujang / melajang adalah baik,
  9. kontes kecantikan dan pamer-aurat adalah baik,
  10. single-parent adalah baik,
  11. kumpul-kebo adalah baik,
  12. berkhalwat adalah baik,
  13. pacaran adalah baik,
  14. selingkuh adalah baik,
  15. wanita pulang-malam adalah baik,
  16. profesi pembantu rumahtangga adalah baik,
  17. menolak menyusui anak adalah baik,
  18. menolak membesarkan dan mengasuh anak sendiri adalah baik,
  19. freesex adalah baik,
  20. pornografi adalah baik,
  21. wanita yang lebih mementingkan karir, uang dan jabatan, adalah baik,
  22. kawin-cerai adalah baik,
  23. gonta-ganti pacar adalah baik,
  24. film porno adalah baik, dan masih banyak lagi.

Kaum sophis menuntut umat manusia untuk sepakat bahwa keseluruhan hal tersebut merupakan hal positif, hal canggih yang turut mewarnai kecanggihan dan kegagahan kaum wanita sophis. Keseluruhan gejala tersebut harus dianggap sebagai suatu hal yang ‘yang tidak terelakkan’, sebagai suatu resiko, dan kemudian kaum sophis menggiring opini publik untuk yakin bahwa seluruh ‘gejala kehancuran’ tersebut BUKANLAH KESALAHAN KAUM SOPHIS, melainkan kesalahan kaum pria, mau pun kesalahan Pemerintah dan kaum agamawan.

Terdapat dua karakter yang menjadi corak dari seluruh gejala kehancuran umat ini, yaitu,

  1. keseluruhan gejala tersebut adalah fakta, bukan hisapan jempol, atau mengada-ada. Keseluruhan gejala tersebut memang terjadi di depan mata umat, menggejala dan menggurita di seantero dunia umat.
  2. Keseluruhan gejala tersebut, BUKAN DIKARENAKAN KETIADAAN IMAN di tengah umat, melainkan murni karena wanita keluar rumah dan menjadikan wanita sophisticated. Akan banyak apologi dan pembelaan yang diajukan oleh bangsa-bangsa di dunia khususnya yang mendukung ideologi persamaan gender, bahwa keseluruhan kejatuhan moral tersebut terjadi hanya karena ketiadaan iman.

Intinya, kaum wanita khususnya kaum sophis tidak bisa dipersalahkan atas maraknya ‘gejala kehancuran’ tersebut, dan kemudian menimpakan seluruh kesalahan kepada Pemerintah, kaum agamawan, dan para pria. Rinciannya:

  1. aborsi adalah suatu kesalahan yang disebabkan oleh Pemerintah, kaum agamawan, dan kaum pria;
  2. berzina adalah suatu kesalahan yang disebabkan oleh Pemerintah, kaum agamawan, dan kaum pria,
  3. hamil di luar nikah adalah suatu kesalahan yang disebabkan oleh Pemerintah, kaum agamawan, dan kaum pria,
  4. kondomisasi adalah suatu kesalahan yang disebabkan oleh Pemerintah, kaum agamawan, dan kaum pria, — dan begitu seterusnya.

Namun sungguh pun begitu, tetap kaum sophis tidak pernah mengenali seluruh gejala tersebut sebagai suatu bencana, dan kebalikannya menganggap bahwa hal tersebut adalah suatu KENISCAYAAN JAMAN. Dan kalau pun hal tersebut dianggap sebagai suatu bencana dan kesalahan juga, maka serentak kaum sophis akan menimpakan kesalahan tersebut kepada pihak Pemerintah, kaum agamawan, dan seluruh kaum pria. Kaum sophis akan berkata, ulah kaum pria yang egois-lah yang mengakibatkan maraknya perzinahan, kondomisasi, freesex, dsb., bukan karena kesalahan kaum wanita mau pun kaum sophis. Di dalam banyak level, justru kaum sophis mengklaim dan menuduh bahwa wanita adalah KORBAN dari keegoisan kaum pria sehingga terjadilah seluruh gejala kehancuran tersebut. Luar-biasa!

Tuduhan kaum sophis tidak berhenti sampai di situ. Mereka mengajukan satu-satunya solusi untuk mengurai maraknya gejala kejatuhan moral ini: solusi itu adalah, bahwa gerakan dan ideologi persamaan gender (yaitu yang berujung pada pemberdayaan wanita) HARUS DIPERKUAT DAN DIRATAKAN SERATA-RATANYA di seluruh negeri. Mereka kaum sophis yakin bahwa seluruh gejala kejatuhan itu TERJADI DAN HANYA TERJADI karena:

  1. di satu pihak disebabkan oleh egoisme kaum pria,
  2. dan di pihak lain karena kaum wanita TIDAK DIBERDAYAKAN, karena DIUSAHAKAN DAN DIBIARKAN LEMAH oleh kaum pria, baik secara ekonomi, finansial, intelektual mau pun inteligensia.

Untuk point a, kaum sophis hanya bisa menghujat, menyumpahi dan mengutuki kaum pria (termasuk Pemerintah dan kaum agamawan). Dan untuk point b, kaum sophis mendorong penggiatan lebih hebat lagi hal persamaan gender ini, yaitu pemberdayaan kaum wanita baik secara ekonomi, finansial, intelektual mau pun inteligensia, singkatnya membuat wanita menjadi SOPHISTICATED. Dengan menjadikan wanita sophisticated, maka kaum sophis yakin bahwa gejala kehancuran seperti yang diuraikan di atas TIDAK AKAN LAGI TERJADI, karena kaum wanita sudah hebat dan kuat: itulah keyakinan kaum sophis.

Dan dari sophisticated (bagian kedua belas) inilah, siklus bencana umat dimulai lagi dari bagian pertama di atas hingga pada bagian kedua-belas, begitu seterusnya.

Di lain pihak, Islam menitahkan bahwa tempat dan kodrat kaum wanita adalah domestik, dan dengan demikian maka terbebaslah seluruh wanita dari fitnah luar rumah. Dengan menjadi umat domestik, seorang wanita tidak akan diberdayakan, tidak akan beroleh pendidikan, tidak akan beroleh pekerjaan, dan di dalam jiwanya tidak akan tumbuh ambisi untuk menjadi pejabat. Dari latar belakang ini, maka kaum wanita akan tetap mempunyai fikiran, nurani dan jiwa yang murni dan sederhana, yang kemudian akan membuat seluruh wanita merasa jijik dengan seluruh gejala kehancuran moral seperti yang sudah diuraikan di atas.

Singkat kata, inilah akibat yang akan terjadi kalau wanita keluar rumah, baik untuk sekolah mau pun untuk bekerja mencari uang dan jabatan. Paparan ini dengan jelas telah merinci rangkaian dosa besar dengan seluruh kehancuran dan laknat yang diancamkan Allah Swt melalui seluruh NabiNya.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s