Khianatnya Wanita Pada Kodrat Kewanitaan

khianat

Sejarah Emansipasi Wanita

Definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Emansipasi adalah:

  1. Pembebasan dari perbudakan.
  2. Persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Emansipasi seakan menjadi taji bagi setiap wanita. Ketertindasan, keterkungkungan, keterbelakangan dan ketiadaan harkat menjadi belenggu kaum wanita. Kehidupan wanita seakan terpasung di tengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Sebagian wanita pun menjadi gamang menatap rona kehidupan. Hilang keyakinan diri untuk menapaki laju zaman.

Dari kacamata sejarah, kelahiran emansipasi wanita berawal dari akibat rasa ‘frustrasi’ dan ‘dendam’ terhadap sejarah kehidupan Barat yang dianggap tidak memihak kaum perempuan. Supremasi masyarakat yang feodal pada abad ke-18 di Eropa, dominasi filsafat dan teologi gereja yang cenderung meremehkan dan melecehkan kaum wanita, telah ikut andil menyulut kemarahan kaum wanita untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang emansipasi. Tuntutan persamaan, kebebasan, dan pemberdayaan hak-hak perempuan terus diletupkan seiring semangat pemberontakan terhadap dominasi dan kekuasaan gereja oleh para pemikir ilmu pengetahuan. Inilah yang dikenal dalam lintasan sejarah sebagai masa Renaissance (Revolusi ilmu pengetahuan). Masa itu merupakan masa ‘rame-rame’ menggoyang arogansi gereja.

Menurut Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam Hafizhahullah, seruan (untuk menghancurkan nilai wanita) diistilahkan dengan banyak nama. Seperti Tahrirul Mar’ah (Kebebasan Wanita), yaitu yang arahnya membebaskan dan mengeluarkan muslimah dari Islam. Atau dengan nama An-Nahdhah bil Mar’ah (Kebangkitan Wanita), yaitu mengarahkan sikap membebek terhadap para wanita kafir, Barat atau Eropa. Juga dengan istilah Tathwirul Mar’ah (Pemberdayaan / Pengentasan Kaum Wanita). Istilah-istilah ini sengaja disebar kaum kafir dan orang-orang yang menyimpang dari Islam dan (istilah ini) tidak terkait dengan Islam (Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/21-22).

Muslimah lebih cenderung khianat dan bertindak merusak terhadap suami. Ini sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari (no. 3330 dan 3399) dan Muslim (no. 1470) dari hadits Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah saw telah bersabda:

Dan seandainya bukan (karena) Hawa, seorang istri tidak akan mengkhianati suaminya.”

Pengertian hadits ini bahwa Hawa menerima ajakan Iblis sebelum bapak kita, Adam as. Kemudian Adam pun terbujuk, terjatuhlah ia pada tindak maksiat. Ini karena adanya sikap khianat para wanita (kecuali yang dirahmati Allah Swt). Allah Swt berfirman berkenaan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth as:

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)” (At-Tahrim: 10)

[Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/147-148].

http://indonesiaindonesia.com/f/120799-sejarah-emansipasi-wanita/

-o0o-

annisanationlogoAnnisanation, artikel ini mengedepankan wacana bahwa persamaan gender atau juga emansipasi wanita merupakan racun masyarakat yang sebenarnya tidak perlu muncul di muka bumi. Lebih tepat lagi, artikel ini memberi satu pendekatan untuk sama-sama berfikir bahwa persamaan gender merupakan ancang-ancang yang dilancarkan kaum kafir dan antimoral untuk menghancurkan integritas dan kesucian kaum wanita dari dalam.  Tegas sekali, bahwa oleh karenanya gerakan emansipasi wanita (EW) harus ditindak dan ditumpas yaitu dengan cara menggalakkan Domestikalisasi Wanita (Dw).

Bagi annisanation sendiri, artikel ini mempunyai penekanan lain yang juga sama pentingnya untuk diperhatikan. Wanita mempunyai kecenderungan alami untuk berbuat khianat, khianat kepada para lelaki, khianat kepada suami, khianat kepada kodrat kewanitaan, khianat kepada ajaran Tuhan, dan juga khianat kepada kesuciannya sendiri sebagai wanita, ibu dan istri. Hal ini akan menjadi logis bilamana ternyata wanita mempunyai hubungan geneologis dengan bangsa Iblis, untuk lebih jelas silahkan baca di sini.

Di tengah alam semesta hingga dewasa ini, kita melihat bahwa kaum pria masih setia dengan kodrat mereka, yaitu sebagai lelaki, sebagai kepala keluarga, pelindung keluarga, dan sebagai pencari nafkah untuk anak dan keluarga. Mereka para pria masih setia membangun bangsa, pergi ke tempat yang jauh hanya untuk memerdekakan bangsa mereka dari keterpurukan. Intinya, tidak ada individu pria yang menolak kodrat mereka sebagai pencari nafkah: mereka terus berusaha untuk bekerja dan mencari uang untuk memberi makan anak dan keluarga mereka. Seberapa banyak uang yang mereka dapat, akan mereka bawa pulang untuk menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan mereka.

Namun wanita di pihak lain, telah menunjukkan khianat mereka kepada kodrat kewanitaan. Mereka justru lebih cenderung menjarahi kodrat para pria, yaitu bekerja mencari uang, karir, dan jabatan, dan akhirnya menuntut menjadi pemimpin di atas kaum pria dengan slogan mereka: persamaan gender. Mereka dengan demikian menolak untuk mengasuh anak, membereskan seluruh pekerjaan domestik, menjaga kesucian diri mereka di dalam rumah, dan menolak memasak makanan untuk keluarga, anak, suami, ayah dsb. Yang ada di dalam fikiran mereka adalah bagaimana keluar dari kodrat kewanitaan mereka, dan kemudian menjarahi kodrat pria.

Sungguh ironis, sementara para pria menunjukkan bahwa mereka setia dengan kodrat kelelakian mereka, justru para wanita mengkhianati kodrat kewanitaan mereka. Mereka para wanita mempunyai banyak jargon dan teori untuk mengusung persamaan gender, seperti:

  1. Kaum wanita mempunyai kemampuan yang sama dengan pria,
  2. Kaum wanita telah mengalami masa ketertinggalan dibanding kaum pria dan saatnya bagi wanita untuk bangkit menjadi sesukses pria sebagai pemimpin,
  3. Di masa lalu wanita menjadi mahluk domestik tak lain karena kungkungan kaum pria yang tidak ingin melihat wanita maju, dan tak ingin disaingi kaum wanita,
  4. Kaum wanita bukanlah subordinat kaum pria,
  5. Wanita telah banyak menderita dianiaya pria, dan untuk melawannya adalah dengan persamaan gender,
  6. Bias gender adalah produk dan hasil fikiran para pria untuk mengkerangkeng kaum wanita,
  7. Semua kitabsuci mengunggulkan kaum pria di atas kaum wanita, dan itu  merupakan hasil rekayasa para pria sendiri, dsb.

Tidak ada kebenaran dan kesejatian di dalam persamaan gender. Dan seluruh kebangkrutan moral umat manusia dimulai sejak bangkitnya Emansipasi wanita. Oleh karena itu, persamaan gender harus ditumpas habis, dengan cara mengimplementasikan Domestikalisasi Wanita secara permanen dan konsekwen. Hanya itulah harapan umat untuk menjadi benar, Agung dan suci di mata Illahi.

Wallahu  a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s