Para Pria Penemu Teknologi, Para Wanita Yang Mabuk-Kepayang

priapenemuduniaAllah Swt telah melebihkan laki-laki di atas mahluk lainnya, sebagaimana yang sudah tertulis di dalam Alquran. Dan lebih spesifik lagi, Allah Swt telah melebihkan (mengunggulkan) laki-laki atas perempuan. Arti praktisnya adalah, bahwa laki-laki adalah mahluk yang hebat, baik hebat secara fisik mau pun hebat secara fikiran dan spiritualitasnya. Sungguh hal ini tidak dapat dibantah lagi.

Dengan kata lain, keunggulan laki-laki itu teraksarakan di dalam dua bentuk, yaitu di dalam bentuk ayat suci yang tertera di dalam Alquran, dan di dalam bentuk fakta dunia, yang tidak bisa dibantah lagi. Kenyataan secara Hukum alam memang memperlihatkan hal yang demikian, yaitu bahwa laki-laki merupakan mahluk yang unggul di muka bumi ini.

Banyak buku ilmiah mau pun buku sejarah yang mencatat atau menyajikan fakta, bahwa seluruh penemu teknologi di dunia ini adalah laki-laki. Belum lagi para politikus ulung, para komposer musik klasik, maestro seni lukis, dsb. Tidak ketinggalan juga untuk dicatat, bahwa sebagian besar (bagian terbesar) para peraih penghargaan Nobel Perdamaian adalah dari jenis kelamin laki-laki, di mana bidang yang digarap adalah bidang yang bukan sembarangan, seperti bidang kedokteran, fisika / biologi, mau pun matematika. Memang juga terdapat peraih Nobel Perdamaian yang perempuan, namun jumlahnya toh tidak signifikan, itu pun kebanyakan hanya di bidang pengabdian kemanusiaan mau pun sosial.

Hal ini jelas menunjukkan dan membuktikan, bahwa hanya laki-lakilah yang merupakan mahluk unggul, berotak, berakal, dan berintelektual, sementara selebihnya kaum wanita merupakan antitesisnya, yaitu mahluk yang tidak mempunyai otak, tidak mempunyai kecerdasan akal sama sekali. Benarlah Alquran.

Mobil, pesawat terbang, listrik, lampu, pesawat pendingin ruangan, lemari es, sinyal radio, telepon, elevator dan eskalator gedung bertingkat, komputer, pesawat televisi, obat-obatan, dsb, merupakan kecanggihan teknologi yang penemunya adalah laki-laki, bukan perempuan. James Watt adalah laki-laki, yang menemukan mesin-uap yang dari mesin ini tercetuslah era industri besar-besaran di Inggris.

Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau di dunia ini tidak ada laki-laki, dunia ini akan stagnan jadinya, tidak dapat berkembang, dan tidak akan menampilkan penemuan-penemuan yang canggih dan mencengangkan. Sementara di lain pihak, perempuan merupakan mahluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali merengek-rengek, menangis, merajuk, bersolek, shopping sana-sini, pacaran, bercanda dengan kucing kesayangan, minta dikasihani, dan tukang ngomel seharian. Jelas sekali bahwa wanita memang merupakan mahluk yang tidak mempunyai akal.

Ketika kisah itu dimulai.

Awal kisahnya adalah, bahwa kaum pria mempunyai tanggungjawab untuk mencari nafkah keluarga, untuk perempuan mereka. Namun para pria itu melihat, bahwa menjalankan tanggungjawab mencari nafkah bukanlah pekerjaan yang mudah. Dunia ini merupakan tempat yang keras, pelik, sadis, dan tidak ramah. Malam yang gelap gulita, gunung yang tinggi, laut yang ganas, wabah penyakit yang menggila, musuh yang barbar, musim dingin yang mematikan, jurang yang terjal, dsb, merupakan tantangan yang membuat pria kepayahan di dalam mencari nafkah.

Dikarenakan kerasnya dunia ini, dikarenakan susahnya mencari nafkah keluarga, maka jelaslah kaum wanita tidak ingin tahu-menahu perkara mencari nafkah. Mereka melihat, bahwa mencari nafkah merupakan tugas dan tanggungjawab pria, maka dari itu mereka menilai bahwa pria sejati adalah pria yang gigih dan pantang menyerah di dalam hal mencari nafkah, mengingat betapa kerasnya tugas mencari nafkah. Tidak ada satu pun wanita yang ingin bekerja mencari nafkah. Dan, tidak ada satu pun wanita kala itu yang ingin menjadi pemimpin publik di tempat kerja. Praktis, wanita menjadi elemen masyarakat yang hanya diam di dalam rumah, bersolek, bermanja-manja, dsb.

Akhirnya kaum pria memutar otak, organ tubuh yang merupakan modal mereka yang paling berharga. Mereka memutar otak, tujuannya adalah supaya tugas mereka di dalam mencari nafkah menjadi mudah. Pastilah ada sesuatu yang dapat mereka perbuat untuk mempermudah hidup. Kaum pria bersusah-susah putar-otak di dalam mencari nafkah, yang dari putar-otak ini akhirnya terciptalah teori dan sistem, konsep kepemimpinan dan garis perintah yang jelas dan ilmiah yang tujuannya adalah untuk mempermudah kerja. Itu semua karena kaum pria mempunyai otak dan kemampuan untuk berfikir.

Selain itu, sedikit demi sedikit mereka berfikir, dan ditemukanlah beberapa penemuan kecil. Kemudian penemuan-penemuan kecil itu mereka gabung untuk membuat penemuan berikutnya yang lebih besar dan hebat. Tak ayal, hasilnya adalah mereka menemukan mobil, kemudian listrik, lampu, dsb. Keseluruhan hal tersebut (dinamakan dengan mainan para pria di tempat kerja) praktis membuat mudah tugas mereka di dalam bekerja mencari nafkah. Dengan penemuan-penemuan tersebut, tugas-tugas berat yang menjadi garis-besar kesusahan, telah berhasil dipermudah, oleh mereka sendiri, yaitu kaum pria.

Dengan adanya penemuan-penemuan, dengan adanya kecanggihan yang menjadikan mudah pekerjaan, yang dibuat dan diusahakan kaum pria sendiri, maka kaum pria tidak lagi mengalami kesulitan dan kesusahan saat mencari nafkah. Begitu juga dengan suasana kerja yang sudah berubah menjadi menyenangkan dan ringan karena sudah ditunjang oleh mobil, listrik, pesawat pendingin ruangan, komputer, telepon, lampu, dsb. Pekerjaan menjadi mudah, uang pun didapat dengan mudah, masih ditambah dengan menjadi pemimpin di tempat kerja / publik, suatu prestise yang gemilang di tengah sosial, karena menjadi pemimpin di tempat kerja berarti akan diserahi mainan yang bagus-bagus dan mentereng (yaitu mobil, komputer, pesawat terbang untuk perjanalan bisnis, listrik, faksimili, dsb).

Apakah yang terjadi setelah itu? Terjadilah suatu ‘perkembangan’ yang mengejutkan. Saat kaum perempuan “melihat” bahwa pekerjaan, tugas dan tanggungjawab pria mencari nafkah sudah menjadi mudah karena ditunjang oleh mainan yang mentereng yaitu kecanggihan teknologi, tiba-tiba wanita menjadi ingin MENGUASAI mainan tersebut juga. Nah itulah saatnya mereka berteriak emansipasi-wanita, persamaan gender, dan terakhir, kesetaraan antara pria dan wanita.

Dengan adanya kecanggihan teknologi, dengan adanya kemudahan kerja yang menggiurkan yang diciptakan kaum pria (untuk pria), kaum wanita SERATUS DELAPAN PULUH DERAJAT berputar-balik dari kodrat mereka, dari pendirian mereka sebelumnya, bahwa mencari nafkah adalah murni tugas dan tanggungjawab kaum pria saja. Sekarang dengan adanya kemudahan teknologi, wanita jadi berpendirian bahwa mencari nafkah adalah tugas kaum perempuan juga, dan oleh karena itu perempuan juga berhak menjadi pemimpin di tempat kerja, menjadi direktur, Menteri, Presiden, profesor, dokter, dsb.

Hanya karena kaum pria telah menemukan mobil yang cantik, listrik yang cantik, pesawat terbang yang cantik, komputer dan telepon yang cantik, pesawat pendingin udara yang cantik, maka kaum wanita menjadi beringas, tegang-bergelimpangan di jalan-jalan kota menuntut emansipasi terhadap kaum pria. Hanya karena adanya kecanggihan teknologi yang keseluruhan itu adalah mainan kaum pria (yang ditemukan oleh pria, dan untuk pria) di tempat kerja, kaum perempuan jadi berfikir bahwa mereka, kaum perempuan, ADALAH SAMA UNGGULNYA DAN SAMA HEBATNYA dengan kaum pria, sama tangguhnya dan sama berbobotnya dengan kaum pria kalau bekerja membangun bangsa. Luar biasa kaum perempuan itu!

Mereka, kaum perempuan, tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan. Kalau saja seluruh mainan kaum pria itu DITIADAKAN dari kota mereka, kalau seluruh mobil, pesawat terbang, komputer, elevator, eskalator, pesawat pendingin udara, dsb ditiadakan dari kota mereka, maka apakah kaum wanita akan tetap dengan jeritan emansipasi mereka? Apakah mereka akan masih menganggap bahwa mereka sama berkuasa dan sama gagahnya dengan kaum pria di dalam membenahi dunia yang luas ini?

Kontra-pria.

Dengan adanya kecanggihan teknologi, bangkitlah kegilaan kaum perempuan, yang dikemas di dalam judul Emansipasi-Wanita (EW), atau kesetaraan antara pria dan wanita. Mereka mulai meneriakkan apa yang dinamakan ‘kontra-pria’, yaitu bahwa:

  1. Kaum wanita adalah sama unggulnya dengan kaum pria.
  2. Kaum wanita selama ini selalu ditindas oleh kaum pria supaya manut sebagai budak domestik gratis sepanjang hidup.
  3. Kaum wanita juga berhak untuk menjadi pemimpin sebagaimana halnya kaum pria; dan kaum pria harus berlapang dada menerima kenyataan betapa hebatnya wanita sebagai pemimpin.
  4. Kaum pria tidak pernah mengijinkan wanita untuk berkiprah di ranah publik, demi supaya wanita terus-menerus menjadi ‘upik-abu’ di dapur.
  5. Kedomestikan kaum wanita selama ini adalah rekayasa kaum pria untuk menyengsarakan kaum perempuan.
  6. Kaum wanita harus bebas dari bayang-bayang dan kekuasaan dan kesemena-menaan kaum pria.
  7. Patriakhisme adalah rekayasa kaum pria untuk mendodorkan wanita.
  8. Kaum pria-lah yang selama ini menghambat kemajuan kaum wanita.
  9. Dsb.

Hal-hal kegilaan yang menjangkiti kaum wanita (yaitu EW), berikut dengan geliat kontra-pria, sungguh, hanya ada setelah ada kecanggihan teknologi. Artinya, hanya karena ada kecanggihan teknologi-lah (yaitu mainan kaum pria), kaum wanita mabuk-kepayang sejadi-jadinya. Karena ada kecanggihan teknologi, kaum wanita memperkatakan hal-hal yang di luar nalar, di luar kepantasan, pongah, bebal, dsb.

Sama diketahui, bahwa pria adalah,

  1. Para pemberani.
  2. Penakluk negeri-negeri yang jauh.
  3. Prajurit perang yang tangguh dan tahan-banting.
  4. Penakluk hewan-hewan buas.
  5. Penakluk hutan, gunung yang tinggi, samudra yang ganas, jurang yang terjal.
  6. Pencari nafkah keluarga.
  7. Penyayang perempuan.
  8. Penyayang anak-anak.
  9. Pelindung, pembela dan lemah lembut terhadap perempuan dan anak-anak.
  10. Dsb.

Namun kaum wanita sophis menjungkir-balikkan keseluruhan hal tersebut. Hanya karena telah muncul kecanggihan teknologi yang itu pun ditemukan oleh pria, kaum wanita mempunyai keterampilan mengingkari bakti kaum pria kepada dunia dan keluarga. Kita sedang membicarakan kaum wanita, bukan segerombolan serigala liar!

Ingatlah, bahwa sejak awal, BUKAN WANITA YANG MENEMUKAN KECANGGIHAN TEKNOLOGI! Bukan wanita yang bekerja siang dan malam untuk menciptakan mobil, listrik, eskalator, komputer, pesawat terbang, dsb. Ingat, kaum pria-lah yang menemukan seluruh kecanggihan tersebut, BUKAN PEREMPUAN. Perempuan kala itu bisanya hanya bersolek. Bermanja-manja. Nyanyi-nyanyi di kebun. Bercanda dengan kucing kesayangan.

Sampai sekarang pun dan selama-lamanya, kaum wanita tidak pernah bisa membuat teknologi, dan juga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali merengek-rengek, menangis, merajuk, bersolek, shopping sana-sini, pacaran, nyanyi-nyanyi di kebun, bercanda dengan kucing kesayangan, minta dikasihani, dan tukang ngomel seharian. Namun tetap saja, dengan adanya teknologi di depan dan di tangan mereka kaum wanita, kaum wanita tetap merasa sehebat dan segagah kaum pria, dan kemudian menuding kaum pria sebagai penghambat kemajuan wanita. Seolah, tanpa teknologi bikinan para pria, kaum wanita tetap bisa bekerja dan memerintah di Kantor-Kantor sehebat dan segagah pria melakukannya.

Dan kaum pria menciptakan kecanggihan teknologi tersebut, adalah untuk mempermudah pekerjaan mencari nafkah. Dan sekarang tiba-tiba seolah-olah kaum wanita-lah yang menemukan kecanggihan tersebut. Sekarang tiba-tiba dengan kecanggihan teknologi perempuan memperkeras jeritan mereka sekeras-kerasnya dan menghujat kaum pria sebagai manusia-manusia yang telah menyengsarakan kaum wanita selama berabab-abad untuk terus tunduk menjadi budak domestik gratis seumur hidup. Untuk lebih jelas silahkan baca di sini.

Penelaahan.

Kaum wanita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kaum wanita tidak dapat membuat penemuan teknologi sedikit pun. Kalau di Dunia ini terdapat teknologi canggih yang mempermudah hidup, maka teknologi tersebut ditemukan kaum pria; kaum pria-lah yang menemukan teknologi, bukan perempuan. Dan kaum pria menemukan teknologi tujuannya adalah untuk mempermudah hidup, dan untuk mempermudah mereka di dalam mencari nafkah untuk orang yang menjadi tanggungan mereka, yaitu kaum wanita juga.

Selama kaum pria mencari nafkah, kaum wanita tetap melihat bahwa pekerjaan kaum pria adalah berat dan menyengsarakan, oleh karena itu kaum wanita tidak ada yang berkeinginan untuk bekerja, dan berkiprah di sektor publik.

Namun lain halnya ketika kaum pria telah menemukan teknologi, yang dengan teknologi tersebut seluruh pekerjaan menjadi mudah, hanya dengan menekan tombol kecil, semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan mudah, dan uang pun mudah didapat. Itulah saatnya fikiran dan emosi kaum wanita tergelincir dan terkilir. Dengan adanya teknologi yang ditemukan kaum pria, wanita jadi membangkang terhadap Hukum alam, membangkang terhadap kebajikan dan kemurahan kaum pria, membangkang terhadap fitrah, dan membangkang terhadap Hukum kepantasan. Singkat kata, teknologi membuat kaum wanita merasa gagah segagah kaum pria, tidak seperti kala belum ditemukannya teknologi, kaum wanita tetap manut pada kodrat mereka, tetap berperangai sebagai mahluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya tinggal di dalam rumah mengurus anak dan memasak di dapur. Teknologi telah membuat wanita mabuk-kepayang.

Kaum pria menciptakan teknologi, adalah untuk memper-mudah mencari nafkah, BUKAN untuk membuat wanita mabuk-kepayang, sehingga memperkatakan hal yang mengerikan mengenai pria (yaitu kontra-pria). Kaum pria menciptakan teknologi, bukan supaya wanita meninggalkan kodrat dan fitrah mereka, dan BUKAN supaya wanita menjadi oposisi terhadap pria, BUKAN supaya kaum wanita melawan kepada pria. Namun toh kenyataannya, teknologi pria ketika jatuh ke tangan wanita, praktis membuat wanita mabuk-kepayang, kemudian memperkatakan hal-hal yang mengerikan tentang pria, meninggalkan dan mengutuki kodrat dan fitrah kewanitaan, dan kemudian menjadi oposisi penentang pria.

Bukankah seharusnya, wanita berterima-kasih dan semakin sayang kepada kaum pria, semakin taat penuh bakti kepada kaum pria, dan semakin tunduk pada fitrah dan kodrat kewanitaan mereka, karena kaum pria telah bersusah-payah menemukan teknologi untuk mereka, kaum wanita? Menciptakan teknologi saja tidak bisa, itu pun hanya tinggal memakai teknologi ciptaan kaum pria, masih ditambah pula dengan menghujat dan menyumpahi kaum pria sebagai penghalang kemajuan kaum wanita!

Sangat brutal sekali, dengan teknologi yang sekali-sekali bukan wanita penemunya itu, kaum wanita melakukan penetrasi ke dunia kerja, wanita menyerobot posisi pria di tempat kerja, wanita melakukan invasi ke dunia kerja, dengan menyatakan bahwa wanita juga mempunyai keunggulan, kemampuan, hak dan kesempatan yang sama untuk bekerja dan berkarir, dan juga mempunyai hak untuk menjadi pemimpin di ranah publik. Jelaslah mereka memang mempunyai kemampuan di tempat kerja, ‘lhawong’ semua pekerjaan yang sulit itu sudah didukung teknologi canggih hasil putar-otak kaum pria dengan susah-payah!

Di dalam melakukan penetrasi dan penyerobotan ke dunia kerja itu, kaum wanita melakukannya sambil meneriakkan dua hal:

  1. Kaum wanita adalah sama unggulnya, sama hebatnya dan sama gagahnya dengan pria di tempat kerja, oleh karena itu wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan pria untuk memperoleh pekerjaan, karir dan jabatan publik (dan ini artinya kaum wanita akan meninggalkan dan menghujat kodrat domestik, meninggalkan anak-anak, dan enggan mengurus anak-anak). Padahal itu semua hanya lantaran ada teknologi canggih yang membuat semua pekerjaan menjadi mudah. Dan itu pun, teknologi canggih itu ditemukan oleh kaump pria, BUKAN WANITA. Wanita tidak pernah sadar.
  2. Kontra-pria, yaitu bahwa wanita (wanita sophis) adalah oposisi terhadap pria. Dengan kontrapria ini, kaum wanita menghujat pria, mengutuki kaum pria, dan di dalam beberapa level, kaum wanita sophis ini menggurui kaum pria tentang bagaimana seharusnya pria yang baik, hanya berdasarkan perspektif kaum wanita yang ingin menguasai dan meng-invasi dunia kerja dan sektor publik.

Ironis sekali, bahwa kedua hal tersebut diteriakkan kaum wanita kepada kaum pria, hanya karena mereka (kaum wanita) sudah memperoleh kemudahan dalam kehidupan ini berkat adanya teknologi ciptaan kaum pria.

Inilah yang disebut dengan mabuk-kepayang, suatu keadaan di mana kaki jadi kepala, dan kepala jadi kaki, yang terjadi pada kaum wanita, berkat adanya teknologi canggih ciptaan pria yang cerdas dan unggul. Kalau ditilik lebih seksama, bukankah kaum pria-lah yang seharusnya mabuk kepayang karena mereka sendirilah yang menciptakan teknologi canggih? Namun faktanya, kaum pria tetap stabil dan TIDAK SALAH-TINGKAH saat melihat bahwa dunia telah diperbarui oleh teknologi hasil kecerdasan mereka. Justru kaum wanita-lah yang salah-tingkah, mabuk-kepayang lantaran canggihnya teknologi yang memudahkan pekerjaan dan hidup. Dan kemudian saat mabuk-kepayang itu, kaum wanita menghujat kaum pria, menghujat kodrat domestik, demi untuk mencapai kesetaraan gender, seolah kesetaraan gender tetap dapat diperoleh kaum wanita TANPA ADANYA DUKUNGAN teknologi canggih hasil kecerdasan kaum pria. Mana mungkin?

Kaum pria yang menciptakan teknologi canggih, wanita-nya yang mabuk-kepayang dan salah-tingkah.

Penutup.

Jelas sekali, bahwa geliat Emansipasi Wanita (EW) bukanlah hasil dari intelektualitas, kebajikan dan keberfikiran kaum wanita, atau siapa pun. Selebihnya, Emansipasi Wanita (EW) adalah geliat yang menggejala dari kelemahan kaum wanita di dalam berfikir dan menyikapi kehidupan yang kompleks ini. Di dalam fikiran kaum wanita yang lemah dan dangkal, bekerja mencari nafkah, dan juga berkiprah di sektor publik, merupakan kesuksesan hidup. Padahal yang seharusnya sukses adalah kaum pria, karena pria-lah yang menemukan teknologi canggih.

Terlebih setelah adanya kemajuan teknologi, kaum wanita sophis semakin menggila dengan geliat Emansipasi Wanita (EW) tersebut, sampai-sampai mereka menghujat patriakhat, menghujat hukum alam, dsb.

Mereka tidak akan pernah sadar, bahwa mereka sendiri, kaum wanita, sedikit pun tidak pernah mampu menciptakan teknologi yang super-canggih, karena kemampuan tersebut hanya ada pada kaum pria yang cerdas dan unggul. Namun kemudian, begitu kecanggihan teknologi itu berada di tangan kaum wanita sophis, serentak mereka menjadi mabuk-kepayang, dan langsung menghujat kaum pria dengan berbagai perkataan yang mengerikan. Tidak jarang, mereka mempersalahkan agama, mempersalahkan hukum Tuhan, itu semua demi mereka dapat menjadi seperti pria, yaitu bekerja mencari nafkah, karir, dan menduduki jabatan publik, yang mana itu akibatnya mereka jadi tidak ingin tahu-menahu dengan kodrat domestik mereka sendiri, yaitu mencuci piring, mengurus cirit anak, mencuci baju, masak di dapur, dsb. Bukannya berteguh dengan kodrat penciptaan mereka sebagai wanita, justru mereka malah berbalik menghujat kaum pria sebagai penghalang kemajuan wanita. Padahal itu semua hanya karena adanya kecanggihan teknologi hasil ciptaan kaum pria, bukan wanita. Hmmm wanita …..

Terdapat suatu hubungan antara Emansipasi Wanita (EW) dengan berkembangnya kecanggihan teknologi yang merupakan hasil kecerdasan kaum pria. Hubungan tersebut adalah, bahwa Emansipasi Wanita (EW) ternyata sebuah akal-akalan kaum perempuan saja. Di dalam kaitannya dengan kecanggihan teknologi, maka geliat Emansipasi Wanita (EW) merupakan kekonyolan kaum wanita.

Akhir kata, mengingat Emansipasi Wanita (EW) bukanlah suatu kebajikan, terlebih Emansipasi Wanita (EW) merupakan bentuk pemberontakan kaum wanita sophis terhadap kebajikan dan keagungan hidup, maka sudah sepatutnya sistem Emansipasi Wanita (EW) ditumpas sampai ke akar-akarnya. Merupakan kewajiban bagi seluruh warga dunia, khususnya para ulama dan pemimpin bangsa untuk mengadopsi sistem Domestikalisasi Wanita (DW), karena pada sistem DW inilah terdapat maslahat untuk seluruh umat, dan merupakan ajaran Allah Swt melalui Nabi dan RasulNya.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

One thought on “Para Pria Penemu Teknologi, Para Wanita Yang Mabuk-Kepayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s