Emansipasi Wanita Antara Yang Positif Dan Negatif

garisbatasMengembalikan Hakekat Kesetaraan Gender Yang Kebablasan

Spirit Kartini di era modern saat ini terus menjadi semangat kaum hawa untuk lebih berprestasi dan berkiprah di segala bidang. Bahkan para perempuan terus memaksa dan pada akhirnya, sekarang banyaklah bermunculan perempuan-perempuan emansipasi yang terkadang tidak tahu bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap. Banyak perempuan yang seakan lupa akan kewajiban mereka. Dan dari hari ke hari terus berusaha untuk mendapatkan haknya sebagai seorang perempuan seutuhnya.

Kaum hawa tetap ingin dianggap wanita sekalipun pekerjaan wanita seperti masak, mencuci ataupun mengurus anak tidak bisa mereka lakukan. Seakan- akan, gerakan emansipasi dewasa ini sudah melewati kadar yang normal atau bisa disebut emansipasi yang kebablasan, emansipasi yang mengabaikan kodrat, dan emansipasi yang lahir dengan istilah- istilah baru lainnya.

Jika dilihat gambaran perempuan masa kini, maka kita akan menemukan perempuan di semea tempat, mulai dari perkantoran, pabrik, pusat-pusat oegiatan sosial, budaya, or’anisasi, halte, mal, bahkan di tempat karauke dan”dugem pulperempuan akan kita temukan dengan berbagai versi dan busana. Lebih sadksnya lagil perempuan masa kini kerap digambarkan0sebagai si tukang gosip, hoby shoping, jalan-jalan dan sebagainya. Walau ada0juga banyaK påremPuan yang layak disebut seb!gI Karti~i masa kini dengan$pòestasi yang diraih di masyarakat.

Modeònit!s menjadi antangan bagi kaum perempuan untuk exist dan berperan sebagai seOrang [artini masa kini. Himpitan terbesar jadi penyumbang terbesar terkuras~ya perhatian serang”perempuan0untuk bysa menampilkan jati diri seBagai seoreng Kartinm, selain gencar.ya medi!(menamPilkan sosnk perempuan idaman nasa kini yang cendrung jauh dari nilai-nilai yang bisa memuliakaj pmrempuan itu sendiri&

TayanGan infOtaiment, senetron dan film-film ìEbil banyak didominasá oleh perempuan yang menonjolkan sosok yang sángat jauh dari sosok Kartini k@rena lebih mementingkan kecantikan, kemolekan tubuh dan materi belaka. Tidak menampakkan kecerdasan berfikir dan semangat maju demi bangsa dan keluarga.

Seharusnya Kartini masa kini adalah sosok perempuan yang walau memiliki ilmu dan kedudukan tinggi, tapi tidak melupakan fitrahnya sebagai perempuan yang harus tetap mengurus rumahtangga, bila ia bekerja ia akan berusaha memanej waktunya sebaik mungkin, sehingga tidak ada salah satu yang terabaikan, baik itu keluarga maupun karir, meski sulit untuk mencapai kesempurnaan.

Sejarah kartini telah disalahgunakan sesuai kepentingan pihak tertentu, bahkan kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalil kebebasan, keadilan dan keseteraan gender. Untuk itu, kaum Muslimah harus kembali pada Islam, menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri, sekaligus menyadarkan kaum muslimah yang lain agar tidak tertipu oleh ide gender yang sejatinya merendahkan martabat kaum perempuan, mengancam dan membahayakan generasi perempuan, serta menjauhkan perempuan dari agamanya.

Masyarakat hendaknya tidak latah dan “kebablasan” dalam memaknai arti kesetaraan gender, karena perempuan dan laki-laki mempunyai peran masing- masing. Peran perempuan di era globalisasi adalah pekerjaan yang dapat dilakukan bersama-sama antar perempuan dan laki- laki, namun ada pula pekerjaan khusus hanya dapat dilakukan oleh perempuan atau laki-laki saja .

Peran perempuan tidak berarti menghilangkan peranan laki-laki, namun perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam membangun masyarat, bangsa dan negara. Bahkan, perempuan hendaknya mampu memposisikan diri pada sektor-sektor tertentu yang kurang diperhatikan oleh pria, sehingga perannya sangat diharapkan dan dihargai oleh semua pihak

Seperti yang pernah dikatakan oleh pejuang perempuan dari Padang, Rohana Kudus,

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki- laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus diubah adalah mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti yang luhur dan taat beribadah. Yang kesemuanya hanya dapat dipenuhi dengan ilmu pengetahuan“.

Untuk itu, melalui Spirit Hari Kartini yang selalu diperingati pada tanggal 21 April, sebaiknya bukan hanya sekedar penebar semangat menjadi Kartini Modern dan Wanita Super dalam segala bidang, tetapi hendaknya menjadi ajang introspeksi diri. Dengan semangat hari Kartini, Kartini Modern tidak harus melupakan kodrat kewanitaannya sebagai perempuan yang lahir dengan hak-hak dan kewajibannya, baik sebagai seorang perempuan, sebagai istri, maupun sebagai sorang ibu bagi anak-anak dan keluarganya.

Sebenarnya, ada yang harus lebih bijak dicermati bila memandang wanita sebagaimana kodratnya. Wanita dilahirkan untuk melayani suami dan keluarganya, meskipun hal ini juga tugas seorang suami. Namun kodrat utama kaum hawa hendaknya janganlah tertutupi semangat meneruskan cita-cita Kartini secara berlebihan.

Karena di balik kekurangan, wanita punya kelebihan yang tidak dipunyai pria. Bahkan di jaman modern ini tidaklah heran sebagian wanita melonjak kariernya melebihi kaum pria atau suaminya sendiri. Hal inilah yang membanggakan kaum hawa yang sejak dulu telah diperjuangkan Kartini.

Kartini modern, tidak sekedar berprestasi dengan dasar emansipasi wanita. Tetapi harus tidak melupakan kodrat wanita untuk mengutamakan keluarga khususnya peduli dengan tumbuh dan berkembangnya anak. Jangan sampai euforia spirit Kartini menjadikan Kartini modern lebih mementingkan pekerjaannya dari pada memberi ASI pada bayi. Jangan sampai terjadi, semangat Kartini yang menggelora membuat anak jadi terlantar kesehatan dan pendidikannya, jangan sampai pembantu menjadi panutan bagi anak, dan jangan sampai demi ketenaran dan ingin dianggap perempuan modern melupakan budaya dan adat istiadat perempuan Indonesia yang ramah, sopan, dan welas asih.

Kartini Modern harus tetaplah berprestasi dalam segala bidang dengan catatan harus memanage waktu dengan sebaik- baiknya antara kegiatan di luar rumah dan keluarga, membuat manajemen keluarga yang baik sehingga pola asah, asuh dan asih anak tetap berkualitas. Kartini modern meski punya derajat yang sangat tinggi, tetaplah sebagai kodrat wanita dengan terus melayani dan menghormati suami.

Selamat Memperingati Hari Kartini 21 April 2011, Perempuan Indonesia harus tetap maju dan berprestasi tanpa mengabaikan kodrat sebagai Kaum Perempuan. (*)

Dari,

https://id-id.facebook.com/MuslimahCantikSehatDanMandiri/posts/443082515781259

ANNISANATION– artikel ini membahas mengenai adanya emansipasi wanita yang positif, dan emansipasi wanita yang negatif. Tentunya artikel ini ingin menekankan, bahwa umat madani ingin mendukung Emansipasi Wanita (EW) yang positif, dan menolak bahkan menyesalkan adanya Emansipasi Wanita (EW) yang negatif.

Benarkah demikian?

Tentulah cara berfikir demikian adalah salah. Ingatlah bahwa kodrat wanita adalah domestik, yaitu terus berteguh untuk berada di dalam rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, termasuk mengasuh anak-anaknya. Tidak ada istilah Emansipasi Wanita (EW) yang positif dan yang negatif. Semua Emansipasi Wanita (EW) adalah Haram hukumnya, karena bertentangan dengan kodrat dah hukum Tuhan.

Kalau seorang wanita terus berteguh dengan tugas dan kodrat domestiknya, terkhusus lagi kalau ia terus komit untuk mengasuh anak-anaknya, pasti tidak ada waktu lagi baginya untuk berkiprah di luar rumah. Mustahil. Maka kemudian Emansipasi Wanita (EW) bisa datang dari mana? Ingatlah bahwa mengurus pekerjaan domestik dan ditambah dengan mengasuh anak-anak butuh waktu seharian penuh, bahkan lebih. Artinya, kalau seorang wanita mempunyai agenda di luar rumah pada suatu hari, itu pasti akan menelantarkan satu atau beberapa tugas domestik di rumah. Hal ini tentu tidak bisa ditolerir.

Namun melalui artikel ini, tampaknya umat madani mendukung geliat Emansipasi Wanita (EW), asalkan Emansipasi Wanita (EW) tersebut adalah yang positif, yang mungkin mempunyai ciri sebagai berikut,

  1. Wanita ini tetap berkerudung (bagi yang Muslim), tetap sopan.
  2. Tidak berbuat yang melanggar agama seperti berzina, berkhalwat, bertabarruj, selingkuh, tukang gosip, pacaran, dsb.
  3. Tetap menjaga pandangan matanya.
  4. Taat beribadah.
  5. Kemudian, ia sebagai wanita tetap menunaikan tugas domestiknya sebagai ibu mau pun sebagai istri, yaitu bangun lebih pagi untuk memasak dan menyiapkan keperluan anak dan keluarga.
  6. Wanita ini sama sekali tidak menggunakan jasa pembantu rumahtangga mau pun babysitter.
  7. Kemudian di rumah pun, wanita ini tetap manut terhadap suaminya, walau pun di dalam suatu kasus gaji wanita ini lebih besar daripada suaminya.
  8. Pekerjaan yang digeluti wanita ini merupakan pekerjaan yang mulia, seperti menjadi PNS, guru, dokter, pengacara, dsb.

Wanita-wanita emansipasi yang mempunyai ciri seperti ini, mungkin akan dianggap sebagai perwujudan dari Emansipasi Wanita (EW) yang positif, yang akan mendapat dukungan dari umat madani.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, bahwa orbital setiap perempuan adalah di rumah, oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan apapun untuk berkiprah di luar rumah, apapun tujuan dan maksudnya.

Kalau ada seorang perempuan yang dianggap baik dan luhur, maka tunjukkanlah keluhurannya itu dengan terus berteguh untuk tinggal di dalam rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, dan kemudian mengasuh seluruh anak-anaknya. Tidak ada yang lebih luhur dan penting bagi seorang wanita selain berteguh di dalam rumahnya untuk mengasuh dan mengasihi anak-anaknya di rumah; tidak ada yang paling diinginkan dan dibutuhkan seorang anak di masa pertumbuhannya selain kehadiran dan perhatian ibunya sendiri.

Seorang anak yang masih bertumbuh tidak butuh uang yang melimpah, pembantu rumahtangga yang terampil atau mainan yang mahal dan canggih, bukan itu yang dicari dan dibutuhkan seorang anak. Hanya kehadiran sosok Bunda-nya di rumah, itu berarti lebih dari dunia dan seisinya buat setiap anak.

Kalau ada seorang perempuan yang baik dan luhur, mempunyai ilmu yang tinggi, dan juga rohani, maka itu bukan alasan dan pembenar baginya untuk keluar dan berkiprah di luar rumah apalagi di dalam semangat Emansipasi Wanita (EW). Justru kebalikannya, kalau ada seorang perempuan yang baik dan luhur, penuh rohani dan mempunyai ilmu dan pemahaman yang tinggi, maka pastilah ia akan tinggal di rumah untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anaknya. Buat mereka, tidak ada yang lebih penting baginya selain mengasuhi anak-anaknya sendiri, tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini, tidak dengan pangkat dan gaji tertinggi sekali pun!

Men-screening wanita emansipasi yang positif dari yang negatif?

Mungkin yang ada di dalam rancangan umat madani adalah, bahwa wanita yang baik dan luhur diperbolehkan untuk berkiprah di luar rumah di dalam semangat Emansipasi Wanita (EW), sementara wanita yang tidak baik, yang jahat dan keji, tidak diberi ijin untuk berkiprah di luar rumah untuk menikmati semangat Emansipasi Wanita (EW).

Untuk merealisasikan rancangan ini, maka harus ada teknik screening yang ampuh dan ilmiah. Lebih dari itu, screening ini membutuhkan personel yang terlatih dan mendapat wewenang dari Pemerintah. Berarti akan ada permasalahan di sini:

  1. Bagaimana men-screening mana wanita yang baik dan wanita yang keji secara objektif dan ilmiah? Hal ini harus diakui sebagai pekerjaan yang sulit.
  2. Personel yang melakukan screening tentulah harus mempunyai wewenang dari Pemerintah, sebagaimana layaknya profesi Hakim, atau Jaksa, atau polisi, dsb.
  3. Harus ada payung hukum untuk pelaksanaan screening wanita emansipasi ini. Screening ini butuh Undang-undang. Ini berarti harus ada sidang paripurna di tingkat DPR. Harus ada Undang-undangnya, harus ada draft-nya, harus ada kajian akademiknya, dan terakhir harus disetujui oleh begitu banyak elemen masyarakat. Mustahil terwujud!
  4. Ketika seorang personel screening memutus bahwa seorang perempuan dikategorikan sebagai perempuan jahat sehingga ia tidak berhak untuk berkiprah di luar rumah melalui semangat Emansipasi Wanita (EW), maka pastilah perempuan ini akan ‘banding’ karena toh ia tidak akan terima dengan putusan tersebut. Bagaimana menangani kasus banding ini? Butuh waktu berapa lama?
  5. Dan kalau ada seorang perempuan yang dikategorikan sebagai perempuan yang baik dan penuh rohani sehingga mendapat ijin untuk menjadi bagian dari geliat Emansipasi Wanita (EW), maka apakah ada jaminan bahwa perempuan tersebut tidak sedang berpura-pura? Bagaimana kalau di balik gedung perempuan ini melakukan kejahatan, dan menumpahkah seluruh kekejiannya?

Demikianlah, tidak ada dan tidak logis untuk mewacanakan adanya Emansipasi Wanita (EW) yang positif dan Emansipasi Wanita (EW) yang negatif (atau emansipasi kebablasan), karena hal itu pasti akan berujung pada adanya suatu screening, padahal screening itu sendiri adalah mustahil dan tidak ilmiah.

Intinya, seluruh wanita baik ia jahat mau pun baik dan penuh rohani, tetaplah harus tinggal di dalam rumah, karena kodrat mereka adalah diam di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan terkhusus lagi untuk mengasuhi anak-anak mereka. Penting bagi setiap wanita untuk terus diam di dalam rumah karena hal itu akan menjamin kesucian mereka sebagai wanita.

Justru kebalikannya, kalau memang seorang perempuan mempunyai hati dan jiwa yang baik, maka pastilah ia memilih untuk tinggal di dalam rumahnya, bukan keluar rumah untuk menuntut persamaan gender dengan pria. Bukan wanita baik dan luhur namanya kalau ia menuntut apa yang bukan haknya.

Hanya wanita jahat dan berhati engkar-lah yang berketerusan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, termasuk popularitas, sehingga mempersamakan diri mereka dengan kaum pria di dalam frame emansipasi wanita. Hal tersebut sungguh merupakan kekejian dan kemungkaran di mata Allah Swt dan terhadap hukum alam.

Yang harus digarisbawahi di sini adalah, justru perempuan yang mempunyai hati yang jahat dan keji, akan menjadi perempuan baik dan luhur kalau ia berteguh dengan kodrat domestiknya, yaitu berketerusan tinggal di dalam rumahnya untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah, dan mengasuhi anak-anaknya sendiri tanpa kenal lelah. Sungguh, Allah Swt mengajarkan domestikalisasi kepada wanita adalah supaya wanita yang berhati jahat menjadi baik dan Agung, seagung leluhur mereka, karena pada masa leluhur tidak ada Emansipasi Wanita (EW), satu-satunya hal yang membuat seluruh wanita kala itu menjadi baik. Ini final.

Buat apa ada domestikalisasi perempuan, buat apa Islam mengajarkan bahwa perempuan harus tinggal di dalam rumahnya, kalau tujuannya bukan untuk menjadikan perempuan baik dan agung di dalam kekudusan?

Oleh karena itu, umat madani dan seluruh perempuan hanya mempunyai dua pilihan di dalam hal perempuan-baik dan perempuan-jahat:

  1. Kalau ia adalah perempuan yang baik, suci, penuh rohani, bagus dan tinggi pemahamannya, maka pastilah ia akan memilih untuk tinggal di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas rumahtangganya, dan untuk membesarkan anak-anaknya tanpa lelah. Kalau ia adalah perempuan yang baik dan agung, maka ia tidak akan ambil pusing dengan geliat Emansipasi Wanita (EW), ia justru akan mencampakkan geliat Emansipasi Wanita (EW), karena di dalam pandangannya Emansipasi Wanita (EW) hanyalah jalan termudah untuk mengingkari ajaran Tuhan. Bukan perempuan yang baik namanya kalau ia keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, sehingga ia meninggalkan kodrat kewanitaannya yaitu domestik, dan sehingga ia menjarahi kodrat pria.
  2. Kalau ia adalah perempuan jahat, keji, dan engkar, maka domestikalisasi perempuan akan membuatnya menjadi baik, agung dan luhur, akan menjadikannya perempuan yang penuh rohani dan welas asih terhadap anak-anaknya, penuh ibadah, salehah dan manut kepada suaminya. Itulah hamba Allah Swt yang penuh dengan hikmat dan ridha-Nya.

Screening perempuan versus kambing.

Dianalogikan, 10 ekor kambing ingin memasuki sebuah Masjid. Besar kemungkinannya bahwa di dalam Masjid tersebut ada beberapa kambing yang akan berak sembarangan. Oleh karena itu kambing yang akan berak tidak akan diijinkan masuk ke Masjid, sementara kambing yang tidak akan berak diperbolehkan masuk ke dalam Masjid. Bagaimana cara untuk mengetahui mana kambing yang akan berak dan yang tidak?

Intinya, tidak boleh ada satu pun kambing yang masuk ke dalam Masjid. Adalah konyol untuk mencari tahu mana kambing yang akan berak dan yang tidak. Tempat kambing adalah di lapangan, bukan di dalam Masjid. Dan kalau tidak ada satu kambing pun yang masuk Masjid, maka kebersihan dan kesucian Masjid akan terjamin seutuhnya.

Sama seperti kisah sepuluh kambing tersebut yang tidak perlu masuk Masjid dan tidak perlu dilakukan screening, maka demikian jugalah kaum perempuan di dalam kaitannya dengan berkiprah di luar rumah di dalam frame Emansipasi Wanita (EW). Kalau seluruh wanita berteguh dengan kodrat domestik dan tidak ada satu pun yang keluar rumah, maka hemparan bumi dengan seluruh umatnya akan terjaga kebersihan dan kesuciannya, sekaligus kewarasannya. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s