Mengapa Perempuan Harus Mandiri Dan Terlepas Dari Lelaki?

bebasmandiriIslam dengan tegas mengajarkan bahwa fitrah dan kodrat perempuan adalah diam di rumah, karena seluruh seluruh tugasnya memang berada di dalam rumah yaitu tugas domestik, terkhusus lagi ia harus membesarkan anak-anaknya. Lebih dari apapun, menempatkan perempuan di rumahnya dari waktu ke waktu merupakan kebutuhan umat, karena dengan demikian akan terjagalah kesucian dan keluhuran jiwa raga perempuan. Singkatnya, tidak ada satu pun manusia yang dirugikan dengan ajaran dan prinsip domestikalisasi perempuan.

Berkebalikan dengan itu, geliat Emansipasi Wanita (EW) merupakan pembang-kangan terhadap ajaran Tuhan, ajaran para Nabi, ajaran leluhur, kemudian menentang fitrah dan kodrat kehidupan. Namun ada yang lebih mengerikan lagi dari geliat Emansipasi Wanita (EW) ini, yaitu bahwa geliat ini telah mengakibatkan munculnya berbagai bencana dan kebobrokan mental, khususnya kebobrokan mental perempuan. Sudah banyak ditemui perempuan pezina, perempuan pamer aurat, perempuan yang membunuhi bayi mereka yang baru lahir, dsb. Tidak dapat disangkal, bahwa seluruh kebobrokan moral tersebut merupakan akibat langsung dari geliat Emansipasi Wanita (EW):

  • •    Pelacuran.
    •    Perzinaan.
    •    Halalisasi dan lumrahnisasi perzinaan.
    •    Pornografi.
    •    Aborsi.
    •    Freesex.
    •    Striptis.
    •    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
    •    Pemerkosaan.
    •    Perselingkuhan.
    •    Khalwat.
    •    Pacaran.
    •    Mayat bayi di tempat sampah.
    •    Kelahiran anak jadah.
    •    Hamil di luar nikah.
    •    Kondomisasi.
    •    Kumpul kebo.
    •    Perawan tua.
    •    Bujang lapuk
    •    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
    •    Single-parent.
    •    Genitisasi / Ganjenisasi.
    •    Maraknya perceraian pasangan muda.
    •    Sutari (Suami Takut Istri). (Baca artikel)
    •    Profesi pembantu rumah tangga.
    •    Profesi babysitter.
    •    Pengangguran.
    •    Dsb.

Kalau saja di dalam kehidupan ini tidak ada geliat Emansipasi Wanita (EW), maka sungguh dapat dipastikan tidak akan pernah ada kebobrokan moral.

Pada salah satu situsnya, para pendukung geliat Emansipasi Wanita (EW) menulis kalimat yang sama sekali tidak dapat diterima akal sehat. Demikian tulisan tersebut,

Sosok Kartini identik dengan simbol pergerakan perempuan yang ingin bebas dari kungkungan budaya patriarki. Saat itu Kartini melakukan perlawanan terhadap realitas budaya, utamanya budaya Jawa, yang memposisikan perempuan sebagai orang kedua setelah laki-laki.

Realitas seperti itu menggugah Kartini untuk menuntut haknya sebagai kaum perempuan agar diperlakukan sama seperti halnya laki-laki.

Kegelisahan Kartini melihat kaumnya yang tidak mendapatkan perlakukan sama dengan kaum laki-laki terinspirasi ketika ia bergaul dengan tokoh-tokoh Belanda, seperti halnya JH Abendanon, yang saat itu menjadi Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda.

Diambil dari — http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=3456&catid=2&

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi pada masyarakat di masa Kartini, keseluruhan elemen hidup berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Patut untuk direnungkan bahwa seperti apa roda kehidupan berjalan kala itu, tetap berada pada koridor hukum alam, yang agung dan elegan. Agung dan elegan itu seperti, setiap lelaki keluar rumah untuk bekerja dan memerintah kota, kemudian perempuan tetap di rumah untuk menyelesaikan tugas domestik, sehingga dengan demikian terjadi harmoni kehidupan. Maka kemudian di mana letak salahnya?

Yang dipermasalahkan Kartini pada masa itu adalah, adanya perbedaan perlakuan antara pria dan perempuan. Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun pria dan perempuan memang berbeda, dan justru perbedaan itu membawa akibat yang menguntungkan, yaitu kaum perempuan tetap berada di dalam kesuciannya, sementara seluruh anak-anak mendapat perhatian yang penuh dari ibu-ibu mereka. Dan kemudian, para gadis akan tetap di dalam kesucian mereka jauh dari terpapar kepada pria-pria asing di dunia luar.

Ingatlah, kalau para gadis sejak awal / belia sudah terpapar kepada pergaulan pria-pria asing di setiap lini publik, maka dapat dipastikan kesucian para gadis luntur sama sekali, dan kemudian tergantikan dengan hilangnya rasa malu terhadap pria-pria tersebut. Akibat akhirnya, para gadis akan menganggap mempunyai hubungan intim / asmara dengan pria-pria asing pra-nikah merupakan suatu keindahan.

Pertama.

Perlu untuk dikedepankan, mengapa geliat Emansipasi Wanita (EW) selalu mempunyai aroma, bahwa seluruh kaum perempuan harus mandiri dan terlepas dari laki-laki? Dan juga, kaum perempuan ingin terbebas dan mandiri terhadap laki-laki: pertanyaannya adalah, terbebas dan mandiri seperti apa? Apakah kaum perempuan ingin hidup (sukses) di sebuah pulau yang tidak ada laki-lakinya?

Ingatlah bahwa perempuan tidak dapat hidup tanpa lelaki. Siapa yang menjaga keamanan mereka? Siapa yang mengawal mereka? Siapa yang mendirikan rumah untuk perempuan? Siapa yang menghalau hewan buas supaya menjauh dari perempuan? Siapakah yang membuka hutan untuk dijadikan ladang dan persawahan untuk mereka? Siapakah yang berlayar menembus samudera luas untuk mencari ikan segar untuk kaum perempuan? Apakah kaum pria melakukan keseluruhan hal tersebut bukan untuk perempuan?

Coba direnungkan. Di satu pihak, kaum perempuan yang memperjuangkan Emansipasi Wanita (EW), berjuang untuk memperoleh kebebasan dan kemandirian terhadap lelaki. Sementara di pihak lain, apakah pernah kaum pria ingin terbebas dan mandiri terhadap perempuan? Kaum pria melihat bahwa lelaki butuh perempuan, pun perempuan juga butuh lelaki. Lebih dari itu, kaum pria melihat bahwa kaum perempuan pasti tidak dapat hidup tanpa lelaki. Dan kaum pria pun tidak ingin membiarkan perempuan hidup sendiri jauh dari lelaki, karena hal tersebut penuh bahaya untuk kaum perempuan itu sendiri. Sungguh tidak dapat dimengerti, mengapa kaum perempuan mempunyai fikiran yang berkebalikan, yaitu ingin terbebas dan mandiri terhadap lelaki?

Apakah ada yang salah kalau perempuan hidup di dalam ketergantungan kepada pria? Apakah kaum pria merupakan organisme yang selalu menyiksa perempuan? Atau selalu menghimpit perempuan dengan batu-besar hingga kesakitan? Apakah pria merupakan organisme yang tidak ingin melihat perempuan berbahagia?

Sudah terlalu banyak bukti di dalam kehidupan ini, bahwa kebahagiaan seluruh perempuan merupakan hasil dari perjuangan kaum pria. Tidak ada yang ingin dilakukan kaum pria kecuali ingin membahagiakan perempuan. Lihatlah kaum pria maju ke medan pertempuran hanya untuk melindungi kaum perempuan, lihatlah kaum pria naik ke gunung hanya untuk memperoleh emas berlian untuk perempuan. Lihatlah kaum pria menembus hutan dan samudera yang ganas untuk mendapat harta karun demi perempuan. Dan sekarang mengapa perempuan meneriakkan perjuangan mereka untuk terbebas dan mandiri terhadap kaum lelaki?

Apakah perempuan sudah benar-benar engkar terhadap hukum alam dan kodrat kehidupan? Sudah sedemikian hebat dan tangguhnya-kah kaum perempuan sehingga merasa sudah saatnya untuk terbebas dari kaum pria, sudah saatnya untuk hidup jauh dari kaum pria? Apakah kecanggihan teknologi dan ketinggian ilmu yang diperoleh perempuan sudah membuat mereka TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN KEHADIRAN KAUM PRIA? Untuk lebih jelas mengenai teknologi ini, silahkan baca Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang.

Apakah kaum perempuan tidak melihat, ilmu yang mereka peroleh, merupakan ilmu yang digali oleh kaum pria? Apakah kaum perempuan tidak melihat, bahwa teknologi yang mereka gunakan (seperti mobil, listrik, pendingin udara, kulkas, komputer, televisi, dsb) keseluruhannya merupakan karya dan hasil fikir kaum pria yang cerdas dan unggul? Tidakkah kaum perempuan melihat, bahwa keamanan kota yang mereka cecap kenikmatannya merupakan hasil dan perjuangan seluruh kaum pria yang tidak mengenal lelah? Dan sekarang kaum perempuan, melalui geliat Emansipasi Wanita (EW), menyerukan bahwa sudah saatnya seluruh perempuan terbebas dan mandiri terhadap kaum pria. Mengapa?

Kedua.

Perempuan memperjuangkan geliat Emansipasi Wanita (EW), yang salah satu tujuannya adalah supaya terbebas dan mandiri terhadap kaum pria. Geliat Emansipasi Wanita (EW) ini pasti bekerja dengan metode mengeluarkan perempuan dari rumah mereka secara permanen. Dengan bekerja, menuntut ilmu, berkiprah di luar rumah, mengakibatkan perempuan tercerabut dari kodrat domestik mereka.

Perempuan Keluar rumah (publikalisasi perempuan) telah terbukti mendatangkan kehancuran moral umat, khususnya kepada kaum perempuan. Perzinahan, perselingkuhan, aborsi, kondomisasi, freesex, pembuangan bayi di tempat sampah, berkhalwat, pacaran, dsb, merupakan akibat lurus dari metode perempuan keluar rumah secara permanen. Dan tentu ini sangat berbahaya, tidak saja bagi perempuan itu sendiri, namun juga bagi seluruh umat. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel Akibat Dan Konsekwensi Lurus Dari Persamaan Gender.

Tidak pernah dan tidak mungkin Emansipasi Wanita (EW) yang mempunyai metode perempuan keluar rumah secara permanen (publikalisasi perempuan) mendatangkan manfaat, baik manfaat kecil apalagi manfaat besar. Dan tidak pernah dibuktikan bahwa Emansipasi Wanita (EW) dengan metode wanita keluar rumah mempunyai dampak yang positif dan menguntungkan. Justru Emansipasi Wanita (EW) yang bermetode perempuan keluar rumah membawa fitnah mahabesar bagi umat. Hal ini sudah membuktikan kebenaran firman Allah Swt di dalam Alquran surah Al-ahzab ayat 33, bahwa seluruh perempuan harus senantiasa berada di dalam rumahnya.

Apakah kehancuran umat dan dekadensi moral dewasa ini tidak mempunyai hubungan apapun dengan Emansipasi Wanita (EW)? Diragukan! Justru kebalikannya, dekadensi moral merupakan satu-satunya produk dan akibat dari Emansipasi Wanita (EW).

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menumpas dekadensi moral seluruh umat manusia, adalah menghentikan dan menumpas geliat Emansipasi Wanita (EW), kemudian menegakkan kembali domestikalisasi wanita (DW). Hanya DW lah yang dapat mengembalikan kesucian umat khususnya perempuan, dan DW ini tidak akan merugikan siapa pun apalagi membunuh perempuan.

Penutup.

Kedua hal yang dipaparkan di atas, utuh merupakan hasil dan buah pemikiran kaum perempuan yang penuh kekurangan di sana-sini. Pertama adanya fikiran dari perempuan untuk terbebas dan mandiri terhadap lelaki. Mengapa harus terbebas dan mandiri terhadap laki-laki? Apa yang salah kalau perempuan selalu tergantung dengan pria? Dan bukankah selama ini seluruh perempuan tergantung kepada lelaki? Dan bukankah ketergantungan tersebut justru membuat perempuan berbahagia luar-dalam?

Kemudian point kedua adalah adanya fikiran kaum perempuan untuk memperjuangkan Emansipasi Wanita (EW), yang di dalam pandangan mereka merupakan sesuatu hal yang baik dan kudus. Padahal sudah terbukti di dalam puluhan tahun bahwa Emansipasi Wanita (EW) ini justru berparalel dengan kehancuran moral umat manusia khususnya kaum perempuan.

Hal ini membuktikan apa? Terbukti sekali bahwa kaum perempuan memang benar-benar merupakan organisme yang tidak dapat berfikir, yang tidak mempunyai logika. Sama diketahui umum secara luas, bahwa kaum perempuan tidak mempunyai kemampuan untuk berfikir, bahwa kaum perempuan tidak mempunyai logika. Yang dimiliki kaum perempuan hanya emosi dan prasangka. Lain tidak.

Bayangkan, kaum perempuan dengan lantangnya menyuarakan kehendak untuk terbebas dan mandiri terhadap kaum pria. Bagaimana mungkin suara mereka merepresentasikan logika yang unggul dan cerdas? Di mana logika mereka ketika mereka berfikir bahwa mereka dapat hidup tanpa lelaki? Apakah mereka tidak melihat siapa yang menambang emas dan berlian yang bertahta di jemari mereka? Apakah kaum perempuan tidak melihat siapa yang membawa keamanan kota dan desa sehingga seluruh perempuan dapat tidur nyenyak di malam hari? Apakah kaum perempuan dapat hidup di hutan belantara dengan aman dan sejahtera tanpa kehadiran lelaki?

Dan kemudian, apakah kaum perempuan tidak melihat, bahwa Emansipasi Wanita (EW) telah mendatangkan maraknya kasus zina dan aborsi, beserta turunannya itu? Sejak geliat Emansipasi Wanita (EW) menggejala di muka bumi, maka sejak saat itulah kehancuran moral umat telah menggejala pula.

Allah Swt di dalam Alquran telah berfirman, bahwa kaum perempuan merupakan mahluk yang tidak dapat berfikir, demikian firman-Nya,

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran. (Zukhruf; 43:18)

Ayat di atas melukiskan, bahwa terdapat kaum kafir yang mengajarkan bahwa Allah mempunyai anak perempuan. Allah dengan tegas menolak ajaran tersebut. Cara Allah Swt menolak dan membantah ajaran tersebut, adalah dengan cara melukiskan perempuan itu adalah mahluk seperti apa. Allah Swt melukiskan perempuan sebagai:

  1. Dibesarkan di dalam perhiasan.
  2. Tidak dapat memberi alasan (logika) yang terang dapat pertengkaran (debat).

Kedua hal tersebut seutuhnya benar-benar merupakan representasi perempuan, yaitu mahluk yang dibesarkan di dalam perhiasan. Ingatlah bahwa perempuan memang identik dengan perhiasan, seperti gelang, cincin, bando, kalung, anting, dsb. Perempuan sendiri pun di dalam Alhadis dilukiskan sebagai perhiasan dunia.

Dan kemudian, Allah melukiskan perempuan sebagai organisme yang tidak mempunyai alasan atau dalil yang kuat di dalam perdebatan. Perdebatan di sini tentu berarti beradu argumentasi, mengajukan teori ilmiah. Lihatlah di dalam hal keinginan perempuan untuk mandiri: bagaimana mungkin logika dapat membenarkan bahwa perempuan dapat mandiri terhadap pria? Dan kalau pun memang benar bahwa perempuan tergantung kepada pria, maka apakah itu salah?

Singkat kata, kemandirian perempuan (yang diperjuangkan melalui emansipasi perempuan) tidak mewakili apa-apa, kecuali mempertegas ketidakmampuan perempuan di dalam berfikir dan menggunakan akalnya; karena memang dapat dibuktikan bahwa perempuan tidak berakal.

Akhir kata, kita sampai pada kesepakatan, bahwa geliat Emansipasi Wanita (EW) harus diakhiri dan ditumpas, karena tidak berasal dari keberfikiran yang bijak dan ilmiah. Apakah umat manusia bersedia untuk dipermainkan oleh kelemahan perempuan saat berfikir?

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s