Artis Tahun 80an Dan Gejolak Sosialnya

Perkembangan keartisan Indonesia tentulah telah melewati beberapa tahapan, dan setiap tahapan tersebut, lebih-kurangnya dapat merepresentasikan pemikiran tertentu yang perlu untuk dicermati.

Pada suatu tahap, Indonesia mengalami turbulensi mahadahsyat khususnya di dalam hal keartisan, yaitu dengan muncul dan maraknya tivi swasta di Indonesia, dimulai tahun 90an. Kala itu Nasional Indonesia hanya mempunyai satu stasiun tivi yaitu TVRI. Namun pada tahun 1990an, muncul tv swasta di tengah publik Indonesia, yaitu RCTI. Tidak lama kemudian muncul juga SCTV. Berturut-turut kemudian TPI, antv, Indosiar, dsb.

Sudah bisa ditebak, maraknya tivi swasta di Indonesia, mau tidak mau menyemarakkan juga kemunculan artis dari segala usia dan dari segala penjuru Indonesia.

Kembali ke masa lebih awal. Pada sekitar tahun 70an atau 80an, segelintir artis telah mewarnai kehidupan publik Indonesia. Kita tahu bahwa yang namanya artis, pastilah hidup di dalam glamor dan kemewahan. Pertama karena artis pasti menerima honor yang terbilang besar, dan kedua pun karena hidup glamor itu sendiri memang merupakan ‘tuntutan peran’ supaya artis tetap laris. Bukan artis namanya kalau ia memilih gaya hidup sederhana.

Ada yang menarik untuk dicermati mengenai kehidupan para artis pada tahun 70 – 80an ini, terkait dengan isu pemberdayaan perempuan, dan juga isu perangai perempuan yang diberdayakan.

Kehidupan para artis perempuan, khususnya pada tahun 70an dan 80an, sungguh penuh dengan intrik yang unik. Banyak artis perempuan kala itu yang mulai berbusana menabrak norma kepatutan, bergaya rambut trondol, dsb. Tidak jarang ada artis kala itu yang sudah berani mengenakan celana pendek, atau mengenakan busana yang serba ‘youcansee’, di mana ketiak terbuka, dada terbuka, punggung terbuka, perut terbuka, dsb. Pendek kata, segelintir perempuan yang sudah memperoleh pemberdayaan telah menunjukkan perilaku yang negatif dan rendahan. Padahal di lain pihak, Indonesia kala itu di tahun 70an dan 80an, masih kuat memegang norma kepatutan dan kesantunan Melayu dan Timur. Namun mengapa kala itu sudah ada artis perempuan yang berani berbusana dengan melanggar norma adat dan tradisi?

Ada juga artis perempuan yang tiba-tiba diberitakan menceraikan suaminya. Tidak jarang diberitakan bahwa beberapa artis perempuan sedang mengajukan gugat cerai ke Pengadilan atas suaminya. Kala itu, tidak pelak publik banyak yang bergumam, bahwa kerjaan para artis perempuan pasti tidak jauh dari kawin-cerai di mana-mana. Itu padahal di tahun 70an dan 80an.

Mengapa demikian?

Fenomena tersebut sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari isu pemberdayaan perempuan. Sama diketahui bahwa menjadi artis berarti mempunyai pendapatan uang di dalam jumlah yang kelewat besar. Bagi artis yang perempuan, tentulah honor ini merupakan suatu pemberdayaan (di dalam hal keuangan), alias sumber keuangan yang mandiri. Si artis perempuan ini, dengan demikian tidak perlu lagi tergantung kepada suami mau pun ayahnya, karena artis perempuan ini telah mempunyai finansialnya sendiri.

Ingatlah bahwa pemberdayaan adalah sesuatu yang buruk dan berbahaya bagi perempuan, sedikit pun pemberdayaan tidak mendatangkan manfaat bagi perempuan. Dengan diberdayakan, maka perempuan akan segera menjadi otonom, mandiri dan terbebas dari frame patriarkhat. Dengan menjadi otonom (diberdayakan), maka perempuan yang bersangkutan telah siap untuk ber-oposisi terhadap otoritas patriarkhat: artinya perempuan segera mempunyai mental untuk mendurhakai suami, ayah, ulama, tuntunan moral, agama, dsb.

Kalau perempuan sudah memperoleh pemberdayaan (khususnya di dalam kasus ini, pemberdayaan di dalam hal keuangan), maka itu artinya seekor kuda telah terlepas dari tali-kekangnya, ia akan meronta-ronta sesuka hati sehinggakan berbuat kerusakan di sana-sini. Yang jelas, kalau perempuan sudah diberdayakan maka hal pertama yang akan ia lawan adalah otoritas patriarkhat. Dengan lantangnya kaum perempuan yang diberdayakan (perempuan sophis) akan menghujat patriarkhat, dan sekaligus menghujat kaum pria yang mengusung frame patriarkhat tersebut. Untuk lebih lanjut silahkan baca:

)) Emansipasi Wanita dan Kontra Pria.

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Ingatlah, bahwa keotonomian perempuan tidak pernah membuat perempuan menjadi lebih baik, atau menginsafi kebenaran. Tidak sama sekali. Justru kebalikannya, otonomi membuat perempuan menjadi berani menentang roh kebenaran, sehinggakan yang benar hanya dirinya sendiri, ego-nya sendiri.

Maka dari itu, seluruh elemen masyarakat, khususnya ulama, Pemerintah dan para tua-tua harus memutuskan bahwa perempuan harus dijauhkan dari keotonomiannya. Ini artinya perempuan diharamkan, dipantangkan, untuk menerima anugrah pemberdayaan. Dan pemberdayaan itu secara sederhana pastilah di dalam bentuk mendapat pendidikan dan pekerjaan untuk mencari uang, karir dan jabatan.

Kembali ke masalah artis perempuan Indonesia pada tahun 70an dan 80an. Mereka, para perempuan Indonesia, yang kebetulan artis, sudah kenyang menerima honor yang kelewat besar. Dan itu pastilah merupakan suatu pemberdayaan bagi sang artis (perempuan) yang bersangkutan. Ingatlah bahwa pemberdayaan pasti akan memicu otonomi, dan kemudian keotonomian akan memicu oposisi terhadap wewenang patriarkhat yang mengusung kepatutan moral.

Artis Tahun 80an Dan Gejolak Sosialnya-BAGAN01Hasilnya? Tidak pelak lagi, artis perempuan kala itu sudah berani mengenakan busana yang melanggar adat, bahkan tidak jarang artis perempuan yang memotong rambutnya dengan gaya trondol, suatu hal yang sangat tidak perempuan, dan melanggar kodrat perempuan.

trondol01-o0o-

trondol03Di lain hari, marak diberitakan beberapa artis perempuan telah mengajukan gugat cerai ke Pengadilan karena sudah merasa tidak ada lagi kecocokan. Itulah perempuan kalau sudah diberdayakan. Untuk lebih lanjut mengenai maraknya perceraian di kalangan perempuan yang diberdayakan ini, silahkan baca artikel:

)) Akibat Dan Konsekwensi Lurus Dari Persamaan Gender pada point ke-enam.

)) Lembaga Pernikahan Ala Jamban.

Akhirnya, di dalam scope (konteks) ini, sudah terdapat tiga gelombang pemberdayaan perempuan, yang mana ketiga gelombang tersebut sama-sama berakhir dengan maraknya kaum perempuan berperangai negatif dan rendah:

Pertama. Dunia keartisan tahun 70-an dan 80-an, di mana artis perempuan pada masa itu, dikarenakan telah mendapatkan pemberdayaan sehinggakan berduit banyak, telah bangkit dengan perangai yang negatif: berbusana serba terbuka, rambut trondol, kawin-cerai, merokok, dsb. Anggaplah jumlah mereka kala itu berkisar 100 orang. Itu sebenarnya sudah terlalu banyak bagi umat: suatu angka kebinasaan.

Kedua. Dunia keartisan bakda kemunculan tv swasta, di mana jumlah artis (perempuan) semakin meroket. Dikarenakan artis perempuan tersebut telah mendapat pemberdayaan yang begitu mencengangkan, maka berparalel-lah keberadaan mereka dengan perangai negatif: berbusana serba terbuka, rambut trondol, berbusana serba-ketat, joget-joget tidak karuan, berbuat mesum, memfoto aktivitas ranjang mereka kemudian menguploadnya ke media massa, kawin-cerai, merokok, dsb: mereka tidak lagi menghiraukan maksud-maksud patriarkhat, yaitu maksud dan ajaran Tuhan yang kudus dan mulia.

Anggaplah jumlah mereka berkisar 500 orang, terjadi peningkatan, seiring meningkatnya jumlah tivi swasta yang berparalel dengan meningkatnya jumlah artis yang direkrut. Lebih dari setengahnya pastilah artis perempuan. Angka 500 orang pasti sudah terlalu buruk buat umat yang madani.

Ketiga. Geliat Emansipasi Wanita (EW) secara bumirata telah melahirkan banyak perempuan yang diberdayakan: mempunyai pekerjaan, berpendidikan tinggi, karir dan jabatan. Tidak pelak lagi, keberadaan perempuan yang diberdayakan ini akhirnya berparalel dengan bangkitnya perangai negatif dan rendah di kalangan perempuan: publik telah sering melihat perempuan-perempuan yang berbusana yang tidak pantas, berkelakuan yang tidak pantas, dan terakhir: semakin tingginya angka perceraian yang dilaporkan berbagai media-massa dan juga berbagai Pengadilan, baik Pengadilan-negeri mau pun Pengadilan-agama. Keseluruhan laporan itu menyatakan bahwa lebih dari 60% gugat-cerai diajukan oleh pihak istri.

Jumlah mereka pada gelombang ketiga ini JAUH LEBIH BANYAK dari pada dua gelombang sebelumnya; anggaplah ….. yah tidak terperikan, tidak lagi terhitung jumlahnya. Lihat saja di pusat perbelanjaan, mal-mal, pusat keramaian, hotel, berapa banyak terlihat perempuan-perempuan yang berbusana tidak pantas?

Itu semua (buruknya perangai perempuan) adalah produk dan hasil akhir dari pemberdayaan perempuan yang digelar secara masif dan sistematis.

Sama diketahui, bahwa ketiga gelombang tersebut merupakan fakta, merupakan kenyataan di dalam kehidupan ini. Dan ketiga gelombang tersebut mempunyai satu kepastian, yaitu bahwa ternyata pemberdayaan perempuan seutuhnya berimplikasi kepada buruknya perangai perempuan. Untuk lebih lanjut di dalam hal ini, silahkan baca artikel,

)) Inilah Akibat Gerakan Emansipasi Wanita Atau Persamaan Gender.

Penutup.

Pemberdayaan perempuan, atau namanya Emansipasi Wanita (EW), atau namanya Kesetaraan Gender Antara Pria dan Wanita, benar-benar merupakan gelombang kekejian dan kerusakan. Lebih dari itu, Emansipasi Wanita (EW) merupakan sayap Iblis yang akan menggulingkan seluruh perempuan ke jurang Neraka. Maka satu-satunya kata yang tepat untuk diucapkan mengenai Emansipasi Wanita (EW) ini adalah, tumpaslah Emansipasi Wanita (EW). Hentikan gerakan pemberdayaan perempuan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s