Apakah Definisi Patriarkhat Dalam Konteks Gender?

patriarkhat-genderBab 01.

Patriarkhat merupakan sebuah istilah yang diambil dari dunia kekristenan.

Patriarkhat terdiri atas gabungan dua kata yaitu ‘patri’ dan ‘arch’. Patre berarti bapa, atau bapak; di dalam bahasa Inggris kata ‘patri’ atau ‘patre’ ini muncul sebagai kata ‘father’; di dalam bahasa Indonesia ia menjadi ‘padri’. Dengan demikian kata ‘patre’ berarti bapak, atau laki-laki yang dewasa.

Sama kita ketahui, bahwa seluruh kehidupan di atas muka bumi ini sejatinya dikelola oleh kaum pria, alias pria dewasa. Di dalam bahasa Latin pria dewasa ini disebut dengan ‘patre’. Di luar itu, anak-anak dan juga wanita, sebenarnya hanya bayangan dari laki-laki dewasa, atau juga sebagai komponen pelengkap dari kehidupan seorang pria dewasa. Penting untuk dikemukakan, bahwa anak-anak dan kaum perempuan juga termasuk ‘apa yang dikelola’ oleh para pria dewasa. Artinya, nasib dan maslahat anak-anak dan kaum perempuan juga berada pada tangan pria dewasa.

Itulah sebabnya kepemimpinan pada kehidupan dunia ini diistilahkan dengan patriarkhat, yang berarti pemimpin laki-laki, karena perempuan dan anak kecil tidak dapat memerintah dan mengelola dunia ini. Justru perempuan dan anak-anak itu pun juga diperintah dan dibina oleh para pria dewasa.

Kemudian kata ‘arch’. Kata ‘arch’ di dalam bahasa Latin berarti ‘mula-mula’, atau awal. Karena awal, maka kemudian kata ‘arch’ juga bisa berarti ‘agung’, karena yang mula-mula pastilah agung.

Istilah arsitektur berasal dari kata arch dan tekton, di mana arch berarti mula atau awal, sementara tekton berarti kuat. Jadi arsitektur berarti ‘mula / awalnya harus kuat’: itulah seni membuat bangunan.

Arkeologi juga berasal dari kata arch yang berarti mula-mula. Jadinya arkeologi berarti ilmu yang mempelajari awal mula kehidupan di muka bumi.

Kesimpulannya, kata patriarkhat berarti pemimpin pria yang agung. Singkatnya, patriarkhat melukiskan keadaan di mana laki-lakilah yang memerintah dunia Gereja, dan laki-lakilah yang mendominasi arsitektur hukum Gereja, dan sedikit banyak mempengaruhi aroma dari hukum tersebut.

Bab 02.

Lama kelamaan, istilah patriarkhat ini di-export ke ranah sosiologi, karena memang mau-tidak-mau, kepemimpinan kehidupan di dunia ini memang berada di tangan para pria dewasa: kepemimpinan dan dominasi laki-laki dewasa atas kehidupan merupakan hukum alam, sekaligus merupakan fitrah dan kodrat. Laki-laki dewasa-lah yang memerintah kota, desa, hutan, pasar, pulau, kerajaan, politik, sosial, akademi, budaya, agama, spiritual, filsafat, ekonomi, militer, seni, dan akhirnya seluruh dunia ini.

Sama diketahui, bahwa hanya laki-lakilah yang mempunyai kewarasan dan kapasitas untuk berfikir dan mengelola segala masalah secara bijak dan akademik. Di samping itu, kekuatan fisik yang unggul turut memberi andil pentahbisan laki-laki sebagai pemegang kepemimpinan masyarakat. Karena kuatlah, maka tanggungjawab keamanan dan maslahat seluruh masyarakat berada dan harus dipikul oleh laki-laki dewasa. Belum lagi faktor keberanian yang hanya dimiliki laki-laki, benar-benar telah membuat laki-laki harus menjadi pemimpin dan pelindung atas seluruh anggota masyarakatnya.

Singkat kata, karena laki-laki mempunyai:

  1. keunggulan di dalam hal berfikir,
  2. kekuatan fisik,
  3. dan terakhir mempunyai keberanian,

…. maka tak pelak lagi, kepemimpinan masyarakat selalu berada di tangan laki-laki, dari abad ke abad, tidak bisa dikoreksi mau pun ditolak.

Dari sinilah, muncul kata patriarkhat, atau juga patriarkhisme, suatu istilah untuk melukiskan bahwa dunia ini selalu dipimpin laki-laki, bukan perempuan. Semua hukum pun bahkan selalu mengacu pada cara berfikir kaum laki-laki dewasa ini.

Patriarkhisme-lah yang menentukan ukuran hukum dan moral, laki-laki dewasalah yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah, secara sosial.

Harus juga dilihat, bahwa kalau bukan laki-laki dewasa yang membuat hukum dengan seluruh ukuran dan parameternya, kalau bukan laki-laki dewasa yang memerintah dunia ini, maka siapa lagi? Apakah perempuan dimungkinkan untuk turut berpartisipasi di dalam memformulasikan hukum masyarakat?

Memang terlalu berlebihan untuk menyatakan bahwa banyak hukum, khususnya hukum masyarakat, selalu bersandar pada selera dan aroma laki-laki dewasa, namun kemudian bukankah hanya laki-laki dewasa yang dapat membuat hukum dan menerapkannya? Bukankah hanya laki-laki yang dapat memerintah dunia dengan segala resikonya? Oleh karena itu, kalau dikatakan bahwa banyak hukum pasti berbau aroma kelaki-lakian, maka itu sebenarnya bukan kemauan para lelaki itu sendiri, namun merupakan konsekwensi dari kodrat dan takdir kaum laki-laki.

Di dalam kehidupan ini, organisme manusia hanya terdiri atas tiga komponen, yaitu,

  1. Pria dewasa,
  2. Wanita, dan …
  3. Anak-anak (baik ia anak perempuan mau pun anak laki-laki).

Dari ketiga komponen tersebut, hanya laki-laki dewasalah yang mempunyai kapasitas untuk menjadi pemimpin dan mempertanggungjawabkan kemaslahatan anggota lainnya, karena laki-laki dewasa ini mempunyai tiga faktor, yaitu akal, kekuatan fisik dan keberanian. Sementara itu, selebihnya yaitu anak-anak dan perempuan, tidak mempunyai ketiga faktor yang dimaksud untuk membuatnya mempunyai kriteria untuk memimpin dan mempertanggungjawabkan anggota masyarakat.

Maka jelaslah, bahwa didapuknya laki-laki sebagai pemimpin atas seluruh anggota masyarakat dan kemudian mempertanggungjawabkannya, bukanlah suatu keinginan yang datang dari kaum laki-laki dewasa itu sendiri, melainkan merupakan amanat yang diberikan alam semesta atas mereka. Dan untuk amanat itu, maka tentunya kaum laki-laki dewasa harus dapat mengembannya dengan sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, kepemimpinan laki-laki dewasa atas semesta alam dan atas seluruh anggota masyarakat, merupakan suatu objektivitas, bukan subjektivitas-nya kaum pria. Kaum laki-laki dewasa tidak pernah mengajukan diri untuk ditahbis atau didapuk sebagai pemimpin masyarakat, pun kaum laki-laki dewasa tidak pernah memaksakan kehendak untuk menduduki jabatan pemimpin masyarakat. Itu yang harus dicermati dengan baik.

Karena posisi laki-laki dewasa sebagai pemimpin masyarakat merupakan hukum alam (bukan karena keinginan laki-laki sendiri), dan juga keberakalan, keberanian dan kekuatan fisik yang dimiliki pria dewasa juga merupakan hukum alam yang abadi, maka mau tidak mau, posisi laki-laki dewasa sebagai patriarkhat, sebagai pemimpin masyarakat, akan tetap abadi dan mapan sampai kapan pun, tidak bisa digulingkan, tidak bisa dikudeta, atau tidak bisa disingkirkan oleh kekuatan lain apapun.

  1. Patriarkhat adalah hukum alam,
  2. keberakalan laki-laki adalah hukum alam,
  3. keberanian laki-laki adalah hukum alam,
  4. dan kekuatan fisik laki-laki adalah hukum alam.

Dan hukum alam pastilah abadi. Siapa yang berani dan berkehendak untuk mengganti mau pun mengubah hukum alam?

Bab 03.

Kemapanan posisi laki-laki dewasa sebagai patriarkh di dalam kehidupan ini tampaknya sekarang menghadapi suatu tantangan. Dan tantangan tersebut seolah ingin menyatakan dua hal:

  1. Bahwa kepemimpinan laki-laki atas masyarakat merupakan hasil kelicikan dan kecurangan laki-laki itu sendiri, karena menyingkirkan kekuatan dan kehandalan perempuan sebagai pemimpin yang lain. Dengan kata lain, patriarkhisme laki-laki merupakan keinginan laki-laki sendiri, dan laki-laki juga telah menyingkirkan hak dan kemampuan perempuan untuk turut memerintah masyarakat. Laki-laki telah menggulingkan hak perempuan – supaya hanya laki-laki lah yang memerintah masyarakat dan dunia.
  2. Bahwa patriarkhisme, yang diusung laki-laki dewasa, melalui beberapa aspek, dinilai telah menyengsarakan kaum perempuan dan anak-anak. Di dalam berbagai orasinya, penentangan terhadap patriarkhisme diperkuat dengan seruan bahwa kepemerintahan patriarkhisme sedikit pun tidak mengakomodasi kemaslahatan perempuan dan juga anak-anak. Dengan kata lain, patriarkhisme adalah suatu kepemerintahan laki-laki yang egois laki-laki (laki-laki sentris), hanya mementingkan keinginan laki-laki, dan menjadikan perempuan dan anak-anak tidak lebih sebagai alat bagi laki-laki untuk mencapai keinginan laki-laki. Jadi, di dalam patriarkhisme, perempuan dan anak-anak dijadikan “korban tabrak lari” bagi lajunya keinginan para lelaki.

Singkat kata, kepemimpinan patriarkhat dewasa ini telah menghadapi HUJATAN dari kaum feminist, alias kaum sophis. Kaum feminist mau pun kaum sophis, biar bagaimana pun, tidak lebih dari kaum perempuan yang telah mendapat pemberdayaan, yang dianugrahkan kaum laki-laki atas mereka.

Sama kita ketahui bahwa dunia ini selalu-lah berubah-ubah, tidak ada yang abadi di dunia ini. Ketika dulu kaum perempuan manut dan hormat kepada wewenang patriarkhat, mereka tidak pernah sedikit pun mempunyai kata-kata untuk menghujat patriarkhat dan juga menghujat kaum pria sebagai pengusung patriarkhat. Namun harus diingat, bahwa kala itu, ketika kaum perempuan manut dan hormat kepada wewenang patriarkhat, kehidupan ini belum diperlengkapi dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan setiap orang, termasuk perempuan, untuk melakukan segala hal yang berat.

Kesantunan dan kepatuhan kaum perempuan berubah, ketika kaum pria, menemukan teknologi. Kaum pria telah menemukan mobil, listrik, pendingin udara, komputer, pesawat udara, kereta api, telepon, televisi, dsb. Sama diketahui, bahwa teknologi canggih tersebut dibuat dan ditemukan oleh para lelaki, bukan kaum perempuan. Tidak ada sedikit pun andil kaum perempuan di dalam hal penemuan teknologi yang canggih. Dan ketika kaum pria bekerja keras menemukan teknologi, maka kala itu kaum perempuan kerjanya hanya bersolek, bermain di taman, bermanja-manja dengan hewan kesayangan, berdansa-dansi seharian, dsb.

Benda-benda ber-teknologi canggih segera memenuhi semua lini kehidupan, dan ini artinya semua orang di dalam masyarakat dan keluarga dapat menikmati hidup lebih indah dan lebih mudah karena adanya dukungan teknologi canggih, berkat kerja keras kaum pria.

Tidak ketinggalan, kaum perempuan turut menikmati benda-benda ber-teknologi canggih, apakah ia mobil, listrik, berbagai alat produksi, alat rumahtangga, dsb. Pekerjaan kantor, pekerjaan-pekerjaan produksi, juga semakin dipermudah dengan dukungan benda-benda ber-teknologi canggih. Pada tahap ini, juga ditandai dengan banyaknya perempuan yang tergiur untuk bekerja di luar rumah untuk mencari uang, karena seluruh pekerjaan di kantor sudah begitu mudahnya berkat benda-benda ber-teknologi. Dari bekerja di tempat usaha ini kaum perempuan memperoleh sumber keuangan mereka sendiri.

Alhasil, munculnya teknologi, selain membuat perempuan dipermudah di dalam pekerjaan dan kehidupan, juga membuat perempuan mendapat pekerjaan publik, yang disertai dengan memperoleh sumber keuangan sendiri. Tidak ketinggalan pula, teknologi membuat perempuan dimungkinkan mendapat fasilitas akademik, seperti pergi kuliah mau pun pergi ke sekolah. Singkat kata, teknologi memberi perempuan suatu pemberdayaan, yaitu pemberdayaan di dalam hal pendidikan, dan juga pemberdayaan di dalam hal pekerjaan / sumber keuangan.

Inilah saatnya kepatuhan dan penghormatan kaum perempuan kepada wewenang patriarkhat, mulai mencair. Mudahnya hidup berkat dukungan benda-benda ber-teknologi canggih, telah membuat perempuan sakit ingatan.

Rapuhnya mentalitas perempuan, ditunjang karakteristik perempuan itu sendiri yaitu sebagai mahluk yang tidak mempunyai akal-sempurna, hanya ditunjang perasaan dan emosi, membuat kecanggihan teknologi memperparah kekurangan perempuan: perempuan bangkit di dalam kepongahan, keras-kepala, keras-tengkuk, arogan, dsb. Perempuan mulai memprotes hal-hal yang sebelumnya adalah mapan. Intinya, kaum perempuan yang sudah kenyang dengan pemberdayaan, melihat bahwa segala hal adalah salah, kecuali diri mereka sendiri, yaitu perempuan. Kaum perempuan hanya ingin menjadi dan seperti laki-laki, padahal sebenarnya mereka adalah perempuan.

Dengan pemberdayaan di dalam jiwa, mereka mulai mengutuki wewenang patriarkhat, mengutuki tradisi kepausan yang hanya membolehkan laki-laki untuk menjadi kardinal, uskup, paus, pastor, dsb. Mereka mengutuki tradisi universal bahwa kepemimpinan masyarakat hanya dipegang kaum ayah. Kaum perempuan juga memprotes tradisi bahwa kaum perempuan haruslah tinggal di dalam rumah, kemudian manut kepada perintah suami, dsb. Perempuan mulai protes, mengapa jenderal hanya berasal dari kalangan lelaki. Mereka menuntut persamaan hak dengan laki-laki, yang artinya, kalau laki-laki boleh menjadi jenderal – maka perempuan juga diperbolehkan menjadi jenderal.

Perempuan mulai menuding bahwa gaya berbusana perempuan klasik yang serba tertutup dan panjang, sebenarnya adalah kehendak kaum pria, yaitu supaya melarang perempuan bebas dengan tubuh mereka sendiri. Maka mulailah perempuan mengenakan gaya busana yang terlepas dari tradisi leluhur. Untuk pertama kalinya, mereka mempersalahkan kaum patriarkhat, sebagai kelompok yang selalu menindas kebebasan perempuan.

Inilah saatnya kaum perempuan mengutuk patriarkhat, dan mencari-cari kesalahan patriarkhat.

Dalam Pokok Perkara.

  1. Kalau memang patriarkhat layak untuk dikutuk oleh kaum perempuan, maka mengapa kutukan dan hujatan itu hanya muncul setelah bangkitnya teknologi yang merupakan hasil kerja keras kaum pria?
  2. Kalau memang patriarkhat layak untuk dikutuk oleh kaum perempuan maka kemudian mengapa kutukan itu hanya datang setelah perempuan mendapat pemberdayaan (berkat majunya teknologi)? Mengapa kutukan dan protes itu tidak datang jauh sebelum laki-laki menganugrahkan pemberdayaan kepada perempuan?
  3. Apakah kesalahan yang dibuat oleh kaum pria, dan juga patriarkhisme kepada kaum perempuan? Apakah patriarkhisme (dan juga kaum pria) telah membunuhi perempuan? Atau mengurangi volume makanan bagi perempuan? Atau melarang perempuan merawat anak-anak mereka sendiri?
  4. Apakah karena kaum pria telah membuat teknologi dan kemudian menganugrahkan kecanggihan teknologi tersebut kepada kaum perempuan (sehingga perempuan dapat hidup lebih enak), maka itu merupakan kesalahan kaum pria – sehingga pantas untuk dikutuk dan dihujat?
  5. Apakah kaum perempuan dapat mengelola dunia ini? Apakah kaum perempuan dapat maju ke medan pertempuran untuk membunuhi musuh dan menghadapi desingan peluru?
  6. Apakah perempuan bisa membuat teknologi? Kalau perempuan bisa membuat teknologi, maka perbuatlah teknologi sebanyak mungkin. Sungguh itu lebih baik daripada menghujat kaum pria dan menghujat patriarkhat.
  7. Mengapa wacana kesejajaran gender antara pria dan perempuan, yang diusung kaum perempuan sophis, hanya muncul bakda munculnya teknologi canggih? Mengapa pada jaman pra-teknologi, tidak ada satu pun perempuan yang memperjuangkan kesejajaran gender?
  8. Apakah tanpa teknologi, kaum perempuan tetap dapat sehandal kaum pria di dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan berat khususnya di sektor publik dan industri?
  9. Kalau memang benar bahwa perempuan sehandal dan sekompeten pria di dalam hal mengelola dunia ini, maka mengapa kepemimpinan perempuan tidak bangkit sejak jaman purba?
  10. Apakah baik dan logis kalau keinginan kaum perempuan terwujud, yaitu patriarkhat ditumbangkan dari muka bumi ini (oleh kaum perempuan), dan kemudian digantikan dengan kepemimpinan perempuan, alias matriarkhat?
  11. Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Kesimpulan.

Sama diketahui bersama, bahwa patriarkhat merupakan hukum alam. Patriarkhat bukanlah kehendak para lelaki, melainkan amanat alam semesta kepada para lelaki, dan itu semua dikarenakan lelaki mempunyai tiga faktor, yaitu ber-akal, kekuatan fisik, dan mempunyai keberanian. Sungguh, perempuan tidak mempunyai ketiga faktor tersebut.

Sejak jaman purba, tidak ada satu komponen masyarakat pun yang menolak dan mengutuki peran patriarkhat. Dengan kata lain, peran dan wewenang patriarkhat di setiap penjuru bumi merupakan fitrah manusia.

Namun kemudian cerita kehidupan menjadi berbeda, tatkala kaum perempuan beroleh pemberdayaan yang dianugrahkan kaum patriarkhat kepada mereka. Pemberdayaan perempuan itu wujud di dalam bentuk:

  • memberi pendidikan untuk perempuan,
  • memberi pekerjaan dan sumber keuangan kepada perempuan, berikut dengan karir dan jabatan publik.
  • dan juga mempersilahkan perempuan menikmati kecanggihan teknologi yang merupakan hasil kerja kaum pria, BUKAN perempuan.

Ternyata pemberdayaan yang dianugrahkan patriarkhat kepada perempuan merupakan bumerang buat seluruh masyarakat, buat kehidupan yang beradab. Bumerang itu adalah, bahwa dengan pemberdayaan tersebut perempuan akhirnya menjadi musuh dan oposisi terhadap patriarkhat, mengutuki dan menghujat patriarkhat dengan berbagai fitnah yang sama sekali tidak mendasar.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa Emansipasi Wanita (EW), atau publikalisasi perempuan, hanya melahirkan dekadensi moral atas umat. Dan ironis sekali bahwa seruan perempuan untuk memperoleh kesamaan gender dengan pria, tidak dibarengi dengan renungan serius mengenai kehancuran dan bencana moral. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel,

)) Memperingkas Destruktivitas Emansipasi Wanita.

Akhirnya kata, alangkah terkejutnya dunia iman, bahwa ternyata kutukan dan hujatan kaum perempuan sophis terhadap alam patriarkhat, ternyata merupakan efek dari pemberdayaan perempuan yang merupakan anugrah kaum laki-laki atas mereka. Alangkah terkejutnya sanubari umat manusia, bahwa ternyata pembangkangan kaum perempuan terhadap nilai luhur kehidupan yang diajarkan oleh alam patriarkhat, seutuhnya merupakan bumerang, yaitu ‘senjata makan tuan’, karena awalnya perempuan mendapat pemberdayaan, namun ternyata hasilnya berbalik menyerang kaum pria, dan menyerang tatanan moral yang agung dan luhur.

Penutup.

Singkat kata, kemandirian perempuan (yang diperjuangkan melalui emansipasi dan juga pemberdayaan perempuan) tidak mewakili apa-apa, kecuali mempertegas ketidakmampuan perempuan di dalam berfikir dan menggunakan akalnya; karena memang dapat dibuktikan bahwa perempuan tidak berakal.

Akhir kata, kita sampai pada kesepakatan, bahwa pemberdayaan perempuan dan geliat Emansipasi Wanita (EW) harus diakhiri dan ditumpas, karena tidak berasal dari keberfikiran yang bijak dan ilmiah. Apakah umat manusia bersedia untuk dipermainkan oleh kelemahan perempuan saat berfikir?

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s