Angka Perceraian Meningkat, Menteri Agama Sarankan Ikuti Seminar Pra-Nikah

Jembatan-putusAhad, 14 September 2014 – 05:33 WIB

Kondisi makin memprihatinkan dengan gugatan cerai yang terlebih dahulu dilayangkan pihak perempuan (khulu’). Jumlahnya lebih dari 60 persen.

Hidayatullah.com – Menteri Agama (Menag) RI, Lukman Hakim Saifuddin, menyoroti tingginya angka perceraian dari tahun ke tahun. Data yang didapatnya dari Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4), menunjukkan tingginya tingkat perceraian dari tahun ke tahun.

“Saya baru saja bertemu dengan BP4. Ini meresahkan, angka perceriaan meningkat dan inisiatif dari kalangan perempuan,” ungkapnya pada sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam “Kelompok Tolak Pernikahan Beda Agama” hari Jum’at (12/09/2014).

Kondisi makin memprihatinkan dengan gugatan cerai yang terlebih dahulu dilayangkan pihak perempuan (khulu’). Jumlahnya lebih dari 60 persen.

Pada mereka, Lukman menyarankan agar mengadakan seminar pra-nikah. Hal tersebut bertujuan memberi pemahaman tujuan berumah tangga serta menekan tingkat perceraian.

“Menurut saya, kursus pra-nikah menjadi semakin penting. Anak muda sekarang ini, kan, kalau suka, nikah. Kalau nggak suka, ya cerai saja. Nanti bisa kawin lagi. Kesakralannya sudah mulai hilang. Ini justru meresahkan”, ujarnya ketika ditemui di kantor Kementrian Agama RI, JL. Lapangan Banteng, Jakarta.

Lebih lanjut Lukman mengatakan, hal ini mendesak diadakan terutama sejak pengajuan gugatan Pasal 2 Ayat 1, UU Perkawinan 1974 oleh lima orang yang mengaku dari Fakultas Hukum UI. Mereka yang datang ke Mahkamah Konstitusi (MK), mengajukan permohonan pernikahan berbeda agama.

Menanggapi hal itu, Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio, mengatakan, pengadaan seminar pra-nikah sangat dibutuhkan. Sebagai peneliti di The Center for Gender Studies (CGS), Ia mendapati fakta, salah satu peningkatan perceraian karena sudah termakan wacana feminisme dan kesetaraan gender. Mengembalikan keutuhan keluarga perlu dikawal dengan pemahaman yang benar tentang esensi pernikahan.

“Salah satu anggota aliansi kami di AQL Islamic Center sudah mengadakan Ar-Rahman Pre Wedding Academy (APWA) sejak tahun 2010. Saat ini telah masuk angkatan ke-9 dan telah meluluskan ribuan orang,” jelas Rita.*

Rep: Rias Andriati.

-o0o-

ANNISANATION– Apa yang dipaparkan pada artikel di atas seutuhnya benar dan tepat. Terdapat kekhawatiran di tengah masyarakat, berkenaan dengan gaya hidup yang dijalani kaum perempuan. Gaya hidup itu adalah maraknya perempuan yang mengajukan gugat cerai – sehinggakan tampaknya pernikahan telah kehilangan kesakralannya.

Sudah tidak dapat dibantah lagi, bahwa tingginya angka gugat-cerai yang diajukan pihak perempuan (pihak istri) seutuhnya berkorelasi dengan geliat Emansipasi Wanita (EW), alias persamaan gender. Ketahuilah, bahwa geliat Emansipasi Wanita (EW) – alias persamaan gender, telah menimbulkan banyak masalah sosial dan juga bencana umat di atas muka bumi ini. Artinya, kalau di atas muka bumi ini tidak pernah bergeliat Emansipasi Wanita (EW), dapat dipastikan bahwa seluruh masalah sosial tidak pernah terjadi juga.

Kalau terjadi bencana sosial di tengah masyarakat, apapun itu, maka hal pertama yang paling tepat untuk dikemukakan adalah, salahkanlah geliat Emansipasi Wanita (EW). Maka demikian jugalah dengan tingginya angka gugat cerai ini, yang merupakan salah satu muntahan dari Emansipasi Wanita (EW) ini.

Kronologi yang menghubungkan Emansipasi Wanita (EW) dengan tingginya gugat-cerai pihak istri.

Pertama, umat melumrahkan perempuan keluar rumah untuk memperoleh pemberdayaan, yaitu beroleh pendidikan, dan juga pekerjaan – supaya beroleh sumber keuangannya sendiri. Islam sejak awal melarang umatnya mengijinkan perempuan keluar rumah, karena lebensraum dan kodrat perempuan adalah domestik, yaitu senantiasa tinggal di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, dan juga supaya kesuciannya terjaga. Sejak awalnya umat telah salah jalan, yaitu melumrahkan perempuan keluar rumah, yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dengan keluar rumah maka perempuan akan beroleh pendidikan, pekerjaan, jabatan dan karir. Dengan kata lain perempuan akan segera memperoleh power, yang tidak pernah diperoleh perempuan pada jaman Siti Nurbaya. Power tersebut akan membuatnya menjadi individu / sumberdaya yang terpisah dari patriakhatnya,. Bukan saja otonom dan terpisah dari kerangka patriarkhat, namun juga telah merasa sejajar dengan pria. Dengan kata lain, di samping otonom, maka pemberdayaan juga membuat perempuan merasa / menuntut sejajar dengan pria.

Islam mengajarkan bahwa wanita adalah tulang rusuk laki-laki, dan ini artinya, setiap perempuan adalah tulang rusuk bagi keluarga laki-lakinya, untuk selama-lamanya. Hikmat dari ajaran ini adalah, bahwa perempuan adalah internis seorang pria, yang tidak boleh keluar dari rumah seorang pria: perempuan adalah bawahan pria, karena perempuan adalah bagian dari pria. Apakah mungkin tulang rusuk dari suatu badan keluar dari badan, untuk mencari makan sendiri? Maka demikian jugalah kaum perempuan. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Asal Mula Mengapa Wanita Adalah Mahluk Domestik.

Kemudian, kalau pun ia menikah, besar kemungkinannya ia akan bercerai, karena ia dan suaminya merupakan dua individu yang sama-sama mempunyai otoritas (otonom, ego) atas diri masing-masing.

Pertama, dengan memberdayakan wanita sejak awal, maka wanita itu telah menjadi individu yang mempunyai egonya sendiri secara mandiri (pemberdayaan membangkitkan ego-nya sebagai individu). Kedua, dengan memberdayakan wanita, maka wanita itu telah mempunyai powernya sendiri secara mandiri (seperti uang, jabatan, hargadiri, sumber rejeki, dsb).

Gabungan kedua hal ini membuat seorang istri akan lebih memilih bercerai kalau ada masalah kecil sekali pun, di dalam rumahtangganya. Harus diperhatikan, bahwa rumahtangga yang istrinya merupakan wanita yang diberdayakan, merupakan rumahtangga yang mempunyai dua ego: kalau terjadi selisih maka sulit dan mustahil untuk dipersatukan kembali. Berbeda kalau wanita tidak diberdayakan (wanita domies), maka di dalam rumahtangganya hanya ada satu ego, yaitu ego sang suami, sehingga amanlah rumahtangga tersebut dari ancaman gugat-cerai dari pihak istri, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Wanita yang diberdayakan, merupakan individu yang mempunyai idealisme sendiri, ditambah dengan munculnya jiwa kritis terhadap segala hal, khususnya seperti apa suaminya berbuat, dan terkadang itu dinilai secara subjektif oleh si istri, karena sang istri merasa telah mempunyai otoritasnya sendiri untuk menilai. Ini memberi kontribusi signifikan di dalam memicu perceraian.

Itulah sebabnya, jaman yang diwarnai maraknya persamaan gender / emansipasi wanita, angka perceraian dicatat tinggi sekali, dan kebanyakan dari perceraian tersebut (65-persen) merupakan gugatan pihak istri. Hal ini dikarenakan para istri merupakan perempuan yang diberdayakan, yang telah mempunyai ego-nya sendiri, dan mempunyai jiwa kritis, alias keras-tengkuk.

Ada pertanyaan. Mengapa pada jaman Siti Nurbaya di mana geliat Emansipasi Wanita (EW) belum mewabah, kasus gugat-cerai sangat minim (atau bahkan tidak ada)? Jawabannya adalah, karena pada jaman Siti Nurbaya, kaum perempuan belum diberdayakan di dalam kerangka Emansipasi Wanita (EW) atau persamaan gender. Itulah sebabnya para istri pada jaman tersebut hidup di dalam spirit yang manut dan bersahaja, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa tingginya angka gugat-cerai merupakan efek langsung dari diberdayakannya perempuan, yang memang sudah ditegaskan di dalam paparan di atas ini. Hal ini membuat kita berfikir, bahwa pemberdayaan perempuan ternyata merupakan MUSUH bagi pernikahan yang agung, MUSUH bagi kesetiaan perempuan kepada pernikahannya sendiri. Kalau perempuan diberdayakan sejak awal, maka itu merupakan formula dan medikasi baginya untuk mempunyai kemampuan gugatcerai pada pernikahannya kelak.

Dapat diumpamakan seorang anak kepada ayahnya. Sang anak akan tetap patuh dan hormat kepada ayahnya, selama, sekali lagi, selama, sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri – sehinggakan rejeki dan kebutuhan makannya ada di dalam tanggungan sang ayah.

  • Segala perintah sang ayah dipatuhi sang anak;
  • Segala kekecewaan sang ayah diterima sang anak sebagai bagian dari cinta-kasih;
  • Dan segala kekurangan sang ayah diterima sang anak sebagai manusiawi.

Tak terlintas sedikit pun di dalam fikiran sang anak, untuk pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan sang ayah, kalau di matanya sang ayah tampak mengecewakan. Tidak terlintas sedikit pun untuk pergi meninggalkan sang ayah, karena, kalau ia pergi meninggalkan sang ayah, maka bagaimana sang anak dapat memperoleh makan dan tempat tinggal? Uang tak punya, pekerjaan tidak punya, rumah gubug pun tidak punya.

Sebesar apapun kekurangan dan cacad sang ayah, hal tersebut tidak akan TAMPAK di mata sang anak. Ke-TIDAK-TAMPAK-an cacad sang ayah di mata sang anak, merupakan efek “psikologis langsung” dari fakta lain, bahwa sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri: ia betul-betul tergantung pada sang ayah.

Namun bagaimana kalau sang anak mempunyai sumber keuangannya sendiri? Pastilah ceritanya akan berbeda. Sedikit saja ia kecewa kepada sang ayah, pastilah sang anak akan lebih memilih untuk pergi meninggalkan ayahnya, dan mencari rumah sendiri dan makan sendiri. Yang ada di dalam fikiran sang anak adalah, bahwa lebih baik ia hidup dengan harga-dirinya, daripada terus-menerus merasa kecewa atau dikecewakan sang ayah. Itu, kalau sang anak mempunyai sumber keuangannya sendiri. Sementara semua orang pun tahu, bahwa kesalahan sang ayah tidaklah mendasar, bahkan bisa jadi yang salah justru adalah sang anak. Namun ego sang anak telah berbicara lain.

Demikian jugalah dengan istri yang diberdayakan. Karena istri merupakan perempuan yang diberdayakan, dan mempunyai keuangannya sendiri, maka sebenarnya sang istri telah mempunyai otoritas dan pendapatnya sendiri, ego-nya sendiri. Satu hal kecil pada suami yang tidak ia sukai akan dianggap sebagai kesalahan fatal bagi sang istri. Dan itu artinya, kalau suami tidak bersedia mengubahnya, maka sang istri akan lebih memilih bercerai. Bukankah ia sebenarnya tidak tergantung kepada suaminya? Ia mempunyai keuangannya sendiri, ia mempunyai powernya sendiri, ia mempunyai pendapatnya sendiri.

Berbeda dengan perempuan / istri pada jaman Siti Nurbaya. Karena seluruh perempuan tidak diberdayakan, alias tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri, tidak mempunyai power sendiri, maka mereka akan berada pada sifat manut yang luarbiasa kepada suami. Seluruh kesalahan suami akan dianggap sebagai manusiawi. Tidak terlintas sedikit pun di dalam fikiran para istri untuk menuntut cerai, karena toh mereka tidak tahu akan tinggal dan makan di mana. Akhirnya, mereka menganggap bahwa pernikahan adalah di atas segala-galanya: pun manut kepada suami adalah di atas segala-galanya, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Di atas sudah disebutkan, bahwa “sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri: ia betul-betul tergantung pada sang ayah”. Itulah dia, yang merupakan kata kunci dari masalah maraknya gugat-cerai dari pihak istri: KETERGANTUNGAN.

Kalau seorang perempuan / istri diberdayakan, berarti ia telah mempunyai sumber keuangannya sendiri. Ini berarti ia tidak (lagi) tergantung kepada suaminya. Dan pada dasarnya, kalau seorang perempuan telah diberdayakan, maka ia akan:

  1. Mempunyai sumber keuangannya sendiri, sehingga ia tidak lagi tergantung kepada suami di dalam hal keuangan mau pun nafkah.
  2. Mempunyai jiwa kritis, keras-tengkuk, engkar kepada suami. Apa yang sebenarnya tidak salah, akan dianggap dan dinilai salah. Itu semua karena sang istri merasa telah mempunyai otoritasnya sendiri untuk menilai.
  3. Mempunyai ego-nya sendiri. Ego-nya-lah yang harus menang, bukan ego sang suami. Dan kalau suami tidak mau memenangkan egonya, maka sang isri akan lebih memilih untuk meninggalkan suaminya.
  4. Karena mempunyai sumber keuangan dan intelektualitas-nya sendiri, istri tidak lagi merasa bahwa dirinya merupakan subordinat sang suami (yang harus patuh kepada suami), melainkan berada di dalam kesejajaran dengan suami (sehingga merasa dan berhak untuk membantah suami).

Keempat hal inilah yang merupakan bahan-bakar maraknya gugat-cerai isri melawan suami. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan merupakan satu-satunya hal yang bertanggungjawab atas banyaknya gugat-cerai.

Menikah, atau mempertahankan keutuhan keluarga, bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak aspek, hal dan faktor yang harus ada dan harus dikelola dengan baik untuk mencapai utuhnya rumahtangga buat selama-lamanya. Namun yang jelas adalah, pada jaman Siti Nurbaya, di mana pemberdayaan perempuan belum bangkit, gugat-cerai tidak pernah menjadi fenomena seperti sekarang ini. Maka ini mau tidak mau membuat semua orang berfikir, bahwa terdapat hubungan lurus antara pemberdayaan perempuan dengan melonjaknya gugat-cerai.

Baiklah kita perhatikan dengan seksama. Apakah pada jaman Siti Nurbaya, setiap rumahtangga tidak mempunyai masalah di dalam hubungan suami-istri? Yap, tentu saja ada, karena dua manusia yang dipersatukan tidak mungkin selamanya rukun, mengingat setiap mereka mempunyai fikiran yang berbeda-beda. Namun apakah setiap masalah itu pasti berakhir dengan gugat-cerai? Ini dia yang menjadi pokok pembicaraan.

Di kedua jaman, yaitu jaman Siti Nurbaya dan jaman Emansipasi Wanita (EW), setiap pernikahan pastilah mempunyai masalah, tidak mungkin tidak mempunyai masalah. Namun setiap masalah yang muncul pada pernikahan jaman Siti Nurbaya tidak berakhir pada gugat-cerai, karena setiap istri bukanlah perempuan yang diberdayakan. Sementara itu, setiap masalah yang muncul pada pernikahan jaman Emansipasi Wanita (EW) PASTI berakhir dengan gugat-cerai, karena setiap istri merupakan perempuan yang diberdayakan.

Artinya, yang menjadi masalah bukanlah pada pernikahannya, bukan juga pada masalah itu sendiri, MELAINKAN pada PREDIKAT pihak istri: diberdayakan atau TIDAK DIBERDAYAKAN. Apa yang menjadi predikat sang istri, akan menentukan keutuhan dan keabadian rumahtangga. Itu mudahnya.

Hubungan antara pemberdayaan perempuan dan gugat-cerai.

Sampai di sini sudah jelas, bahwa satu-satunya hal yang harus dipersalahkan mengenai maraknya gugat-cerai adalah pemberdayaan perempuan (atau Emansipasi Wanita, atau kesetaraan gender antara pria dan perempuan). Artinya adalah, perempuan yang diberdayakan pasti akan mempunyai kecenderungan yang besar untuk mengajukan gugat-cerai.

Sekarang timbul pertanyaan, mengapa perempuan yang diberdayakan mempunyai kecenderungan besar untuk mencerai suaminya?

Jawabannya ada dua:

Pertama. Perempuan mempunyai hubungan darah dengan bangsa Iblis. Nama ‘perempuan’ berasal dari suatu kata yang juga melahirkan kata ‘Iblis’. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Karena mempunyai hubungan darah dengan Iblis, maka itu berarti perempuan mempunyai kecenderungan untuk menentang kebajikan, sama seperti Iblis yang selalu menentang kebajikan. Di sini pastilah jelas, bahwa mengajukan gugat-cerai kepada suami merupakan suatu penentangan terhadap kebajikan.

Maka dari itu, perempuan yang diberdayakan hanya akan mengembangkan gelagat-gelagat Iblis di muka bumi ini. Dan ini artinya, kalau umat ingin perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengembangkan gelagat-gelagat Iblis, maka cara terbaiknya adalah dengan tidak memberdayakan perempuan sejak awal dan untuk selama-lamanya.

Ingatlah, sekali perempuan memperoleh pemberdayaan, maka selamanya perempuan itu tidak akan menginsafi roh kebenaran dan hidup di dalam karunia Tuhan, melainkan mengikuti langkah Iblis, yaitu memerangi kebajikan dan kesalehan. Di dalam hal ini, memerangi kebajikan itu adalah dalam bentuk begitu marak dan mudahnya menceraikan suami, semudah meninggalkan pasar-malam.

Kedua. Perempuan yang diberdayakan akan lebih mementingkan egosentrisme-nya sendiri, ketimbang berfikir secara bijaksana dan rohani. Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tidak ada kebijaksanaan di dalam keputusan seorang perempuan untuk menceraikan suaminya.

Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun perempuan merupakan organisme yang tidak dapat berfikir. Pun, perempuan adalah organisme yang hanya berpedoman pada emosi dan perasaannya, bukan kepada kesadaran dan logika kebijaksanaan.

Oleh karena itu, kalau perempuan diberdayakan, maka satu-satunya kecenderungan yang akan mereka kembangkan adalah kecenderungan yang egosentris, dan emosional, suatu hal yang bertentangan dengan kebajikan dan kesalehan.

Logikanya adalah, perempuan tidak dilengkapi akal nan sempurna. Kebalikannya, perempuan hanya dianugrahi emosi dan hawa-nafsu. Bagaimanakah keadaannya kalau suatu organisme yang tidak dilengkapi akal nan sempurna, kemudian diberi pemberdayaan (yaitu pendidikan dan pekerjaan)? Apakah ilmu dan uang yang ia peroleh melalui pemberdayaan akan membuat ia bijaksana dan agung?

Bagaimana mungkin? Bukankah ia tidak mempunyai akal nan sempurna? Bukankah hanya yang berakal sempurna saja yang dapat berbuat bijaksana dan agung (kalau sudah diberdayakan)? Dan sementara itu bukankah perempuan merupakan organisme yang hanya dianugrahi emosi dan hawanafsu, bukan akal sempurna?

Tepat sekali! Kalau suatu organisme yang tidak dianugrahi akal sempurna diberi pemberdayaan, maka kelak pemberdayaan tersebut hanya mematangkan emosi dan hawa-nafsunya saja, lain tidak. Tidak mungkin suatu organisme yang tidak berakal sempurna bisa berbuat agung dan luhur kalau diberdayakan.

Singkat kata, organisme tersebut (yaitu perempuan) akan berbuat kerusakan dengan (dan atasnama) pemberdayaan tersebut, bukan kemaslahatan. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Angka Perceraian Meningkat-001-o0o-

Angka Perceraian Meningkat-002Banyak dijumpai, perempuan yang diberdayakan, alias perempuan sophis, lebih suka menceraikan suaminya, seenak dan semudah ia meninggalkan pasar-malam. Padahal masalah yang ia hadapi dengan suaminya hanya sebatas masalah uang, atau cara menyelesaikan pekerjaan rumah, atau perselisihan di dalam hal pekerjaan istri, atau bahkan hanya karena sudah tidak ada lagi cinta. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel,

)) Lembaga Pernikahan Ala Jamban.

Perempuan yang diberdayakan, berparalel dengan tingginya angka perceraian, yang kebanyakan gugat-cerai diajukan pihak istri. Ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan yang berakibat munculnya perempuan-perempuan otonom, benar-benar membuat perempuan telah kehilangan kesantunan dan manutnya pada kebajikan dan kewarasan.

Pemberdayaan perempuan akan berakibat pada engkar dan keras-tengkuknya perempuan terhadap suami, nilai agama, tradisi leluhur, hukum alam, kodrat, firman Allah Swt, dan kesucian dirinya sendiri. Itu belum semua.

Itulah kejinya kalau perempuan dibiarkan mendapatkan pemberdayaan sehingga mendapatkan otonominya.

Penutup.

Emansipasi Wanita (EW) adalah akar dari seluruh masalah di dunia ini. Emansipasi Wanita (EW) tidak pernah menjadi dan merupakan solusi untuk setiap masalah, justru membuat dunia kehilangan keseimbangan dan kewarasannya. Dari point-point di atas sudah dapat diungkapkan hubungan antara Emansipasi Wanita (EW) dengan seluruh masalah di dunia ini, seperti maraknya gugat-cerai, pelacuran, aborsi, kelahiran bayi yang tidak diinginkan, pornografi, dekadensi moral perempuan, dsb.

Satu-satunya cara untuk menyelesaikan seluruh masalah tersebut, adalah, kembalikan perempuan kepada alamnya, yaitu kodrat domestik.

Teknisnya adalah, perteguh mereka dengan kodrat domestik, dan tidak memberi mereka akses pendidikan dan pekerjaan publik. Stop pemberdayaan perempuan; stop sekolah untuk anak perempuan, dan kemudian juga, stop memberi pekerjaan kepada perempuan.

Hati perempuan lemah sekali dan tidak dapat melakukan perlawanan, sekali pun untuk melawan kecendrungan mentalitas mereka sendiri jika telah disesatkan dengan pemberdayaan. Maka satu-satunya cara adalah dengan tidak menyesatkan mentalitas mereka, yaitu jangan sekolahkan mereka, dan jangan ijinkan mereka bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kembalikan kesejukan udara pada jaman Siti Nurbaya, yaitu kehidupan ketika tidak ada kasus gugat-cerai, sehingga seluruh rumahtangga dapat menikmati keabadian mereka. Dan kembalikanlah kaum perempuan kepada kesejukan nurani mereka, yaitu nurani yang sederhana, manut dan bersahaja, tepat seperti leluhur mereka pada jaman Siti Nurbaya. Itu artinya, tumpaslah Emansipasi Wanita (EW); tumpaslah geliat kesetaraan gender.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s