Zaman Ketika Belum Ada Emansipasi Wanita

menentukan-arah3Zaman ketika belum ada faham Emansipasi Wanita (EW) di tengah umat manusia, merupakan jaman yang penuh dengan keteraturan, keagungan moral, dan kesejahteraan seluruh anak manusia.

Di setiap kota, atau desa, atau dusun, tidak ada wanita yang keluar rumah untuk bekerja (job) mau pun menuntut ilmu. Setiap wanita, apakah ia berstatus istri mau pun yang belum menikah, berteguh diam dan tinggal di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, seperti memasak, mencuci baju dan piring, merapikah rumah, membesarkan anak, menjahit pakaian, dsb. Dengan kata lain, umat benar-benar mengamalkan Domestikalisasi Wanita (DW), yang seutuhnya merupakan ajaran seluruh agama, khususnya di sini agama Islam.

Dengan sistem seperti ini, maka hanya laki-laki saja yang keluar rumah, baik untuk bekerja (mencari uang, nafkah keluarga dan karir) mau pun menuntut ilmu setinggi-tingginya ke tempat yang jauh.

Dengan situasi yang seperti ini, di mana seluruh perempuan berteguh di dalam rumah (Domestikalisasi Wanita -DW), dan hanya seluruh laki-laki saja yang keluar rumah untuk bekerja mau pun menuntut ilmu, maka setidaknya terjadi tiga hal yang positif dan agung:

Pertama.

Tidak pernah terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di ranah publik, karena tempat perempuan menghabiskan waktu di siang hari adalah di rumah mereka masing-masing, sementara seluruh laki-laki menghabiskan waktu siang mereka di tempat kerja. Dengan kata lain, tidak pernah terjadi di mana (mayoritas) perempuan terpapar kepada lelaki asing di luar rumah, karena seluruh perempuan tersebut ‘aman’ tinggal di dalam rumah masing-masing (terjadi pemisahan).

Dan ini berarti, karena tidak pernah terjadi perbauran antara perempuan dan pria di ranah publik, maka terbebaslah seluruh umat dari gejala pacaran – yang mana pacaran itu sendiri merupakan gerbang besar bagi terjadinya:

  • perzinahan,
  • perselingkuhan,
  • pemerkosaan,
  • aborsi,
  • kondomisasi,
  • hamil di luar nikah,
  • pembuangan bayi di tempat sampah,
  • pamer aurat,
  • freesex,
  • berkhalwat,
  • anak jadah,
  • perceraian pasangan muda, dsb.

Intinya, pacaran atau pemicu terjadinya pacaran, hanyalah karena sering dan intens-nya terjadi pertemuan antara pria dan perempuan di luar rumah (lini publik), yang mana lama-kelamaan pertemuan tersebut menerbitkan rasa sayang di hati setiap perempuan kepada pria asing yang mereka jumpai di luar rumah tersebut. Kalau sudah terbit rasa sayang di hati seorang perempuan kepada pria asing, maka moral dan ajaran agama mana pun tidak akan berdaya untuk membendung terjadinya perzinahan.

Kedua.

Karena seluruh perempuan berteguh di dalam rumah –dan tidak bekerja, karena yang mencari nafkah hanya kaum pria, -maka konsekwensinya adalah, tidak akan ada pengangguran di tengah masyarakat. Ingatlah bahwa pengangguran di sini pastilah pengangguran laki-laki. Perempuan tidak pernah dapat dikatakan pengangguran, karena di rumah mereka tetap bekerja sesuai dengan kodratnya. Untuk lebih lanjut di dalam hal ini silahkan klik “Pengangguran Antara Pria Dan Wanita”, dan “Emansipasi Wanita (EW) Satu-Satunya Pencetus Masalah Pengangguran”.

Sama diketahui, bahwa laki-laki yang menganggur merupakan masalah sosial dan masalah kepribadian yang amat meresahkan. Di satu pihak, seorang pria butuh pekerjaan –karena dari pekerjaan itu si pria dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, di samping memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri dan penghargaan sosial. Kalau seorang pria tidak mempunyai pekerjaan maka besar kemungkinan ia akan berbuat kriminal.

Di lain pihak, laki-laki yang menganggur merupakan pensia-siaan asset negara, karena setiap pria tentu sangat diharapkan untuk bekerja –karena dari bekerja ia akan berguna dan dapat memberi sumbangsih bagi masyarakat dan negaranya.

Ingatlah, pria adalah spesies yang dituntut untuk berperan sebagai pemberi nafkah keluarga, sementara tuntutan peran tersebut tidak pernah dibebankan kepada spesies perempuan. Oleh karena itu buat apa memberikan akses pekerjaan kepada kaum perempuan? Ini artinya, hanya laki-laki sajalah yang mempunyai prioritas untuk bekerja.

Penting untuk diketahui, bahwa jumlah lapangan kerja (pang-ker) amatlah terbatas, dan oleh karena itu pang-ker haruslah diprioritaskan kepada pria saja, hal ini dimaksudkan supaya tidak ada pria yang menjadi pengangguran. Dengan mengamalkan Domestikalisasi Wanita (DW) di mana seluruh kaum wanita tidak diberi akses kepada pekerjaan dan karir, akan berarti bahwa seluruh pang-ker hanya akan diisi oleh pria. Ini akan menihilkan pengangguran di kalangan pria.

Ketiga.

Kalau tidak ada perempuan yang diberdayakan (artinya tidak diberi pekerjaan, karir dan jabatan; tidak keluar rumah untuk bekerja), maka konsekwensinya adalah, tidak ada perempuan yang membangkang terhadap ajaran moral, agama, petuah tua-tua, ajaran kesopanan, dsb.

Fakta di dalam kehidupan ini menunjukkan, bahwa pemberdayaan perempuan (seperti di dalam bentuk bersekolah setinggi-tingginya, kemudian memperoleh pekerjaan dan jabatan, mempunyai income sendiri, merasa sejajar dengan kaum pria, mempunyai sumber keuangan sendiri dsb) ternyata BERPARALEL dengan keruntuhan moral yang ditunjukkan oleh kaum perempuan, dan khususnya kaum perempuan yang diberdayakan ini (alias perempuan sophies).

Perempuan yang diberdayakan, alias perempuan sophies, cenderung tampil atau dikenal sebagai perempuan yang liberal di dalam hal sex, liberal di dalam hal berbusana (buka aurat), dan liberal di dalam hal menyikapi pesan dan tuntunan moral. Mereka berpacaran, bahkan menyukai hubungan intim di luar nikah. Mereka gemar pulang larut malam, dan merasa tidak masalah kalau mereka berdiang dengan pria non-muhrimnya di ruangan tertutup (biasa disebut berkhalwat). Di dalam beberapa kasus, kaum sophies ini gemar berambut pendek, bahkan rambut mereka dipotong dengan gaya laki-laki.

Mereka tidak masalah kalau mereka hamil di luar nikah, pun mereka juga tidak masalah kalau mereka akhirnya bercerai dari suami yang baru saja dinikahi. Kaum perempuan sophis ini pun juga tidak bermasalah kalau aurat mereka dilihat oleh laki-laki asing di jalan-jalan kota, karena sejak awal mereka pun memang gemar berbusana yang serba terbuka aurat, seperti paha, pinggul, dada, leher, perut, dsb.

Mereka, kaum perempuan yang diberdayakan, akan memberontak dan memperlihatkan perlawanan kepada hal-hal yang berbau agama, juga pesan leluhur, karena yang diinginkan kaum perempuan yang diberdayakan adalah kebebasan, sementara pesan agama mau pun pantangan leluhur mereka anggap sebagai kerangkeng kebebasan.

Mereka tidak lagi memikirkan keagungan moral, dan kesucian diri mereka sendiri sebagai perempuan, ibu dan istri, sekaligus menantu dan umat beragama. Bahkan lebih hebat lagi, mereka MENOLAK keagungan moral, dan mendegradasikan kesucian mereka sebagai perempuan.

Maka dari sini dapat disimpulkan, bahwa keruntuhan moral yang diperlihatkan kaum perempuan pada masa modern ini, seutuhnya karena diakibatkan oleh diberdayakannya mereka, melalui pandangan Emansipasi Wanita (EW) mau pun Persamaan Gender.

Berkebalikan dengan itu, kalau seluruh perempuan berteguh di dalam rumah, tidak diberdayakan seperti disekolahkan setinggi-tingginya, dan (kemudian) tidak diberi akses kepada dunia pekerjaan, maka konsekwensinya adalah, keagungan moral umat khususnya kaum perempuan akan tetap terjaga. Sama diketahui bahwa Islam melarang perempuan keluar rumah, baik untuk tujuan sekolah mau pun bekerja mencari nafkah. Untuk lebih jelas silahkan baca artikel “Keharaman Wanita Bersekolah Menuntut Ilmu”.

Sungguh, kebangkrutan moral di kalangan umat –khususnya di kalangan perempuan, hanya dapat dijelaskan melalui fenomena diberdayakannya perempuan, alias perempuan yang selalu keluar rumah setiap hari, sehingga terpapar kepada pria asing di berbagai lini publik.

Pada jaman Siti Nurbaya, ketika umat tidak pernah memberi akses pendidikan dan pekerjaan kepada perempuan, keagungan moral betul-betul nyata dan berkuasa, sehingga mendatangkan ridha Allah Swt atas seluruh umat. Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa satu-satunya penyebab kebangkrutan moral terletak pada definisi perempuan, apakah perempuan pada suatu kaum merupakan kaum rumahan, atau merupakan kaum perempuan yang dberdayakan.

Penutup.

Pada jaman Siti Nurbaya, umat hidup di dalam keagungan moral, dan secara rinci, tidak ada pengangguran, kejahatan mau pun ketimpangan seksual, dan tidak terjadi kebangkrutan moral khususnya moral kaum perempuan. Kebalikannya, pada jaman Siti Nurbaya, tidak ada pengangguran, yang mana itu mengakibatkan seluruh laki-laki pasti mempunyai pekerjaan, dan itu artinya kemakmuran masyarakat dapat tercapai dengan paripurna. Pun di lain pihak, seluruh perempuan, karena selalu berteguh di dalam rumah, maka menjadilah mereka perempuan-perempuan yang lembut dan penuh dengan hati kudus.

Intinya, ternyata keagungan umat terletak pada definisi perempuannya, apakah perempuan pada suatu masyarakat merupakan perempuan yang diberdayakan, atau kebalikannya, merupakan perempuan yang sederhana, bersahaja, yang tidak pernah disekolahkan, dan tidak bekerja.

Bukti telah terpapar di depan mata, bahwa pada jaman Siti Nurbaya tidak pernah terjadi bencana sosial. Dan kebalikannya, ketika jaman telah melumrahkan perempuan untuk bersekolah dan bekerja, kekacauan dan bencana sosial pun akhirnya menjadi lumrah juga.

Akhirnya, sudah saatnya bagi seluruh umat Muslim untuk kembali kepada ajaran Islam, yaitu merumahkan seluruh perempuan, dengan tidak memberdayakan mereka di dalam faham yang disebut Emansipasi Wanita (EW) mau pun Persamaan Gender. Tidak memberdayakan perempuan, adalah tidak memberi akses pendidikan bagi perempuan, dan tidak memberi hak dan akses bekerja bagi perempuan. Itulah kunci keagungan umat secara keseluruhan.

Wallahui a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s