Selingkuh Terbuat Dari Apa

selingkuhIslam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti setiap wanita haruslah berteguh tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuh buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, atau sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir, apa pun alasannya.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya?

Di luar itu, terdapat satu masalah yang cukup pelik di dalam hidup berumah-tangga, yaitu isu selingkuh, yang kerap menyerang keharmonisan rumahtangga. Umumnya selingkuh terjadi pada lingkungan kantor atau tempat kerja lainnya, di mana suami mempunyai selingkuhan seorang wanita yang sesama karyawan di kantor.

Ketika di rumah seorang suami tampak penyayang kepada istri dan anak-anaknya. Namun siapa sangka ternyata sang suami menyimpan wanita lain rapat-rapat di dalam hatinya, dan jelaslah istri tidak pernah mengetahuinya. Yang istri ketahui adalah bahwa suaminya merupakan suami yang jujur dan tidak pernah menghianati cinta sang istri.

Timbul pertanyaan: mengapa sampai terjadi perselingkuhan? Dan apakah setiap perselingkuhan itu merupakan hal baik, khususnya untuk jaman sekarang ini?

Jawabannya adalah satu hal: perselingkuhan terjadi – dan hanya terjadi, karena masyarakat modern dewasa ini mengadopsi faham Emansipasi Wanita (EW), di mana wanita diberi hak dan akses untuk bekerja sehingga sejajar dengan kaum pria di tempat kerja.

Ini artinya, ketika seluruh / banyak perempuan bekerja di tempat kerja, maka akan terjadilah perbauran gaul antara pria dan perempuan, atau dengan kata lain, akan ada banyak perempuan yang setiap hari terpapar pria asing, dan bisa jadi pria asing tersebut adalah pria beristri. Dari perbauran gaul inilah, benih dan bibit cinta kerap bersemi antara seorang karyawan perempuan dengan karyawan pria, dan bisa jadi pria tersebut adalah pria yang telah beristri. Itulah perselingkuhan.

Parahnya lagi, kerap terjadi di mana perselingkuhan ini sampai melampaui batas kewajaran di dalam hal bergaul, seumpama sampai tidur bersama di hotel (berzina), atau piknik bersama ke pantai berdua-duaan dengan suami orang, dsb. Intinya, selingkuh terjadi hanya karena setiap pria di tempat kerja, DAPAT MENEMUI wanita mana pun secara bebas dan terbuka; dan wanita tersebut pastilah sesama karyawan di tempat kerja.

Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun setiap karyawan pria itu adalah seorang pria yang sehat, waras dan masih muda. Apakah mungkin setiap karyawan pria dapat diharapkan untuk memejamkan mata ketika bertemu dengan perempuan-perempuan yang cantik dan penuh cinta? Jawabannya tentulah tidak. Sangat sulit untuk mendapatkan seorang (karyawan) pria yang dapat menolak cinta seorang karyawan perempuan di tempat kerjanya. Maka terjadilah selingkuh yang terkadang berakhir dengan tindak perzinahan.

Pembicaraan pun beralih menuju hal berikutnya: mengapakah perempuan harus bekerja, yang mana itu mengakibatkan perempuan berbaur gaul dengan karyawan pria di tempat kerja? Bukankah perempuan-bekerja hanya membuat perempuan-perempuan tersebut berbaur dengan kaum pria di tempat kerja secara intens dan permanen? Haruslah difahami bahwa dengan bertemunya karyawan perempuan dengan karyawan pria di tempat kerja, merupakan pemicu tunggal atas terjadinya selingkuh, lain tidak.

Oleh karena itu, kalau terjadi suami selingkuh, bahkan selingkuh tersebut berujung pada tindakan zina, maka kelompok pertama dan satu-satunya yang harus dipersalahkan adalah kaum perempuan sendiri, yaitu mengapa mereka bekerja dan berkarir? Bukankah bekerja dan berkarir membuat mereka menjadi berbaur gaul dengan kaum pria di tempat kerja?

Suatu prasangka menyatakan, bahwa kalau suami berselingkuh di kantor, maka suami-lah yang harus dipersalahkan, karena hal itu membuktikan bahwa sang suami tidak lagi setia kepada anak-anak dan rumahtangganya sendiri. Ingatlah, bahwa hal pertama yang harus dicermati adalah, bahwa setiap suami adalah pria yang sehat dan waras. Dan kemudian yang harus dipertanyakan adalah, mengapa bisa sampai ada pekerja perempuan di tempat kerja sehingga bercampur-gaul dengan pria-pria di tempat kerja? Apakah kaum perempuan mutlak harus bekerja mencari uang seperti halnya kaum pria? Apakah kaum perempuan akan mati kelaparan kalau tidak bekerja mencari karir? Bukankah rejeki dan nafkah seluruh perempuan sudah dijamin oleh suami / ayah mereka?

Daripada mempersalahkan pihak suami / laki-laki atas terjadinya perselingkuhan, maka adalah lebih tepat untuk mempersalahkan kaum perempuan dengan program emansipasi mereka atas terjadinya perselingkuhan, karena program itulah yang menghantarkan banyak perempuan ke domain laki-laki, yaitu tempat kerja. Maka terjadilah perselingkuhan. Pepatah menyatakan, kalau tidak ingin dilamun ombak maka jangan berumah di tepi pantai.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun hal / alasan yang membuat perempuan harus bekerja mencari uang / nafkah. Intinya, nafkah dan kebutuhan setiap perempuan, secara alami sudah ditanggung oleh keluarga laki-laki mereka (suami, ayah, abang dsb). Oleh karena itu kalau nafkah kaum perempuan sudah dijamin oleh keluarga laki-laki, maka mengapa perempuan-perempuan masih harus bekerja?

Banyak perempuan (dan juga kaum pria yang mendukung faham Emansipasi Wanita) sama sekali tidak mempertimbangkan dasar kehidupan, yaitu bahwa nafkah mereka sudah dijamin oleh keluarga. Akibatnya banyak perempuan yang terjerumus kepada faham bahwa mereka ingin bekerja (juga) sebagaimana halnya kaum pria, agar dapat memperoleh gaji, uang, karir, jabatan dsb. Dan pada ujung yang lain, bekerjanya perempuan memicu terjadinya perselingkuhan, karena kalau perempuan bekerja, maka ini berarti perempuan akan bercampur gaul dengan kaum pria secara leluasa di tempat kerja.

Kalau di dunia ini seluruh perempuan tidak bekerja dan tidak terjerumus kepada faham Emansipasi Wanita (EW), maka dapat dipastikan tidak pernah terjadi perselingkuhan, karena di tempat kerja kaum pria tidak pernah menemui satu perempuan pun, karena yang ada di tempat kerja hanyalah melulu kaum pria. Pria ketemua pria, mana mungkin terjadi perselingkuhan? Maka amanlah setiap rumahtangga dari perselingkuhan.

Ironis sekali, bahwa ketika seluruh perempuan begitu membenci perselingkuhan, namun ketika itu juga seluruh perempuan berjuang untuk emansipasi wanita yang membuat banyak perempuan berbaur dengan kaum pria di tempat kerja, hal mana itu mengakibatkan berseminya benih-benih perselingkuhan. Artinya, kalaulah seluruh perempuan tidak menginginkan adanya perselingkuhan yang menyerang suami-suami mereka, maka pada saat yang sama mereka seharusnya menuntut agar emansipasi wanita dipadamkan, karena hanya emansipasi perempuan lah yang mensemikan benih-benih perselingkuhan, lain tidak.

Mereka menginginkan api, namun mereka tidak menginginkan ada asap. Bagaimana mungkin? Kalau mereka tidak menginginkan ada asap, maka janganlah mereka menyalahkan api. Mereka menginginkan seluruh perempuan sukses dengan emansipasi mereka, yaitu mempunyai karir dan jabatan sebagaimana halnya kaum pria. Namun kemudian mereka tidak menginginkan adanya perselingkuhan para suami di tempat kerja. Bagaimana mungkin? Tidak ada laki-laki yang dapat dipercaya, pun tidak ada perempuan yang dapat dipercaya, kalau mereka semua saling baur dan saling jumpa di luar rumah, di tempat kerja, di tempat di mana seluruh wanita mengembangkan emansipasi mereka.

Fakta hanya memperlihatkan bahwa setiap laki-laki maupun perempuan memang tidak dapat dipercaya, maka terdengarlah kasus selingkuh di mana-mana. Dan itu hanya menjelaskan betapa perempuan-bekerja (emansipasi perempuan) merupakan satu-satunya pemicu dan penyebab terjadinya selingkuh.

Islam mensyariatkan bahwa tempat hidup (lebensraum) perempuan adalah di rumahnya, bukan bekerja, bukan mencari nafkah, dan bukan juga mencari karir serta jabatan, sebagaimana halnya kaum lelaki. Alquran dan Alhadis sudah menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara pria dan perempuan, tidak mungkin sama dan disama-samakan. Kalau perempuan teguh tinggal di rumahnya, sementara seluruh pria teguh berada di tempat kerjanya sepanjang siang, maka mustahil terjadi perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki terciptanya ketertiban dan kedisiplinan di dalam hidup, dan ketertiban tersebut adalah, bahwa harus terjadi pemisahan / segregation antara pria dan wanita pada sepanjang siang, di mana setiap laki-laki berada di tempat kerja mereka, sementara setiap perempuan teguh berada di dalam rumah; dan masing-masing mereka menjalankan kodrat mereka: kodrat pria adalah bekerja mencari nafkah, dan kodrat perempuan adalah domestik untuk menyelesaikan tugas rumahtangga. Dengan terciptanya pemisahan / segregation ini, maka telah dimustahilkan terjadinya perzinahan maupun perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki, bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bertemu di tempat mana pun, kecuali tempat tersebut adalah bingkai rumahtangga: di tempat tersebutlah seorang pria dewasa dan wanita dewasa saling bertemu, yaitu pertemuan yang halal dan diridhai Allah Swt: rumahtangga dan pernikahan.

Sudah jelas apa yang akan terjadi kalau syariah dilanggar, yaitu kesia-siaan; di dalam hal ini adalah perselingkuhan, bahkan juga berzinahan, karena umat melalui program emansipasi wanita telah memungkinkan terjadinya saling jumpa / pertemuan antara pria dan wanita secara bebas di luar bingkai rumahtangga, dan tempat tersebut adalah bekerja.

Kalau seluruh umat, seluruh perempuan tidak menginginkan adanya selingkuh, maka satu-satunya cara adalah menghentikan dan memadamkan gerakan emansipasi perempuan, dan mengembalikan seluruh perempuan kepada kodratnya, yaitu kodrat domestik. Teguhkanlah seluruh perempuan dengan kodrat domestik mereka, yaitu tetap tinggal di dalam rumah mereka, supaya tidak terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja.

Wallahu A’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s