Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag01

JalanBahaya5

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

1. Perempuan bekerja, karena miskin, atau gaji suami kecil.

Salah satu alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena gaji suami mereka kecil dan tidak mencukupi, sementara kebutuhan belum tercukupi, bahkan biaya sekolah anak belum terbayar. Oleh karena itu kaum perempuan sering menggunakan latar belakang ini sebagai pembenar untuk bekerja.

Tidak benar. Kemiskinan harus diterima dengan penuh tawakal. Gaji suami, sekecil apa pun, harus disyukuri dan dihormati oleh para istri. Lebih lanjut, Islam tidak pernah menerima alasan kemiskinan untuk membiarkan perempuan bekerja.

Harus diingat, bahwa gaji suami, sebesar apa pun, sebenarnya tidak pernah mencukupi, karena harta bagi manusia memang tidak pernah ada puasnya.

Contraview.

Kebalikannya, banyak dijumpai di mana para istri maupun perempuan yang tidak bekerja mencari uang dan karir –kendati rumahtangga mereka terbilang pra-sejahtera, alias miskin. Gaji / pendapatan suami yang kecil tidak membuat para istri mereka ingin bekerja juga untuk membantu keuangan keluarga. Dan nyatanya kehidupan mereka tetap survive, dan bahagia.

Belum lagi, juga terdapat fakta, bahwa para istri yang bekerja itu, ternyata mereka berlatar-belakang keluarga kayaraya, yang terutama suami-suami mereka mempunyai gaji besar. Maka kemudian mengapa para perempuan tersebut bekerja? Bukankah sejak awal mereka berdalih bahwa bekerjanya mereka karena gaji suami mereka kecil? Namun mengapa sekarang kita melihat kenyataan jungkirbalik, di mana rumahtangga-rumahtangga kaya melihat para istri mereka bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan?

Di kantor-kantor, banyak terlihat karyawan perempuan yang masih muda, yang belum menikah, sementara latar-belakang mereka berasal dari keluarga kaya, rumah besar, mobil banyak dan mewah, dsb. Mengapa mereka (perempuan-perempuan muda tersebut) bekerja? Untuk apa mereka bekerja? Kalau sejak awal perempuan berdalih bahwa mereka bekerja karena gaji suami kecil, maka mengapa ada perempuan-perempuan muda yang kayaraya dan belum menikah -bekerja dan memenuhi kantor-kantor?

Intinya, terdapat ketidakonsistenan di sini. Perempuan hanya berdalih semu ketika mereka berkata bahwa bekerjanya mereka adalah terpaksa, yaitu karena gaji suami mereka kecil.

Kalau kaum perempuan konsisten dengan dalih bahwa mereka bekerja karena terpaksa karena gaji suami mereka kecil, maka seharusnya tidak banyak perempuan pekerja yang tampak di kantor-kantor, paling banyak hanya 10 orang. Sungguh faktanya bertolak-belakang.

Kata akhir: alasan perempuan untuk bekerja dengan alasan gaji suami kecil, atau karena mereka berlatar-belakang keluarga miskin, adalah tidak benar, dan harus dibantah.

2. Perempuan bekerja, karena ditinggal mati suami.

Ada lagi alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Alasan itu adalah, karena mereka ditinggal oleh suami masing-masing, baik ditinggal mati oleh suami, atau bercerai dari suami.

Sebenarnya fenomena ditinggal suami ini mempunyai varian yang beragam, seperti,

  1. Ditinggal suami (karena mati atau bercerai), namun sang istri tetap kaya raya.
  2. Ditinggal suami, namun putra-nya sudah besar sehingga bisa bekerja dan memberi nafkah kepada sang ibunya ini.
  3. Ditinggal suami, karena dicerai oleh sang istri, dikarenakan sang istri merupakan wanita-karir, sehingga begitu ‘kejam’ dan ‘tidak kompromi’ terhadap kesalahan suami sekecil apa pun.
  4. Ditinggal suami, namun kemudian sang istri menolak untuk menikah lagi untuk mendapatkan suami baru yang dapat menafkahi dirinya.
  5. Ditinggal suaminya, di dalam arti suami tidak pernah pulang, tidak diketahui di mana rimbanya, suami tidak bertanggungjawab, suami dikuasai ibu kandungnya.
  6. Ditinggal suami (baik ditinggal mati, atau bercerai), namun sang istri adalah miskin, dan anak-anak pun masih kecil.

Untuk point (a), maka jelaslah tidak ada alasan bagi perempuan ini untuk bekerja, karena toh perempuan ini kaya-raya. Namun harus diingat, bahwa perempuan pada posisi ini harus menikah lagi untuk mendapatkan suami baru.

Untuk point (b), jelaslah perempuan ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu anaknya yang laki-laki.

Untuk point (c), merupakan suatu hal yang menjadi keprihatinan umat, di mana perempuan bekerja, karena berduit tebal (punya penghasilan sendiri), mengakibatkan mereka menjadi tidak hormat kepada suami. Suami berbuat kesalahan sedikit saja langsung dikeluhkan oleh istri yang bertipe perempuan karir yang berduit tebal ini. Biasanya hal ini berujung pada perceraian. Berbeda dengan perempuan-perempuan sederhana, yang tidak bekerja, yang seluruh rejekinya ditanggung suami, menjadikan mereka perempuan yang sabar dan tidak banyak kriteria. Inilah salah satu sebab mengapa Islam melarang perempuan bekerja, karena duit tebal hasil jerih-payahnya sendiri membuat mereka begitu banyak tingkah, dan tidak hormat kepada suami.

Maka jelaslah, perempuan dengan kondisi seperti ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, dan latar-belakang seperti ini tidak menjadikan perempuan dibenarkan untuk bekerja. Justru kebalikannya, karena bekerja, berkarir dan mempunyai uang-lah yang membuat perempuan ini bercerai dan menceraikan suaminya, lantaran jabatan dan uang yang banyak telah menjadikan perempuan ini tidak menghormati suami, dan suami mana yang berlapang dada kalau terus dilecehkan istrinya sendiri.

Untuk perempuan yang bercerai pada point (c) ini, tetaplah harus menikah lagi, dan pastikan bahwa perempuan ini tidak bekerja dan berkarir (lagi), karena justru berkarir-lah yang membuat perempuan ini begitu mudahnya menceraikan suaminya, karena merasa ia sudah bisa mencari rejeki sendiri.

Untuk point (d), jelaslah bukan alasan seorang perempuan untuk bekerja. Hanya karena ia tidak ingin menikah lagi, maka baginya menjadi benar untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Yang salah adalah pihak perempuannya (karena tidak mau menikah lagi), maka mengapa ia-nya menuntut supaya Islam mengijinkannya untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan?

Ajaran Islam tetap di dalam hal ini, perempuan ini harus menikah, dan tidak ada alasan untuk tidak menikah lagi. Dan kalau perempuan ini sudah menikah lagi, maka tidak perlu baginya untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu suami barunya.

Untuk point (e), kondisi ini juga bukan alasan bagi seorang perempuan untuk menikah. Islam mensyariahkan, bahwa kalau suami merupakan pribadi yang tidak ber-tanggungjawab, tidak menafkahi istri, atau hilang tidak diketahui di mana rimbanya, atau tidak pernah pulang ke rumah, maka genaplah bagi sang istri untuk menuntut cerai. Islam membenarkan perempuan dengan kondisi seperti ini untuk menceraikan suaminya, dan yang terpenting, setelah bercerai maka pastikan untuk menikah lagi dengan suami baru. Dengan langkah ini maka perempuan ini sudah mempunyai suami baru yang akan menafkahinya, sehingga ia tidak perlu bekerja; sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan.

Untuk point (f), harus diperhatikan bahwa kondisi ini memang benar-benar mengharuskan sang istri menikah lagi. Pertama, sudah ditinggal karena kematian sang suami, pun kedua, istri hidup di dalam keadaan miskin. Satu-satunya solusi bukanlah bekerja mencari uang dan nafkah, melainkan menikah lagi dengan suami baru; dan untuk itu merupakan tanggungjawab keluarga induklah untuk menikahkan istri ini kepada suami barunya.

Kalau sang istri ini sudah mempunyai suami baru, maka tidak perlulah ia bekerja untuk mencari uang dan nafkah, karena seluruh keperluannya sudah dipenuhi sang suami.

Contraview.

Banyak perempuan yang bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan dengan mengemukakan alasan seperti ini, yaitu karena bercerai dari suaminya. Faktanya, banyak sekali perempuan yang bekerja, padahal mereka semua tidak bercerai; padahal mereka masih bersuami, dan suami mereka kaya-raya, gaji besar, dsb. Kalau kondisi yang melatarbelakangi mereka memang benar bercerai dari suaminya, mungkin masih dapat diterima alasan mereka untuk bekerja. Namun keadaannya sangat memprihatinkan, karena sebagian besar perempuan yang bekerja merupakan perempuan-perempuan yang masih bersuami, pun gaji suami mereka besar, bahkan banyak sekali di antara mereka yang kaya-raya, dsb. Maka mengapa mereka masih bekerja? Dan mengapa mereka masih mengemukakan alasan bercerai dari suami sebagai alasan untuk bekerja?

Oleh karena itu, alasan ‘kami para istri harus bekerja karena tidak bersuami’, merupakan alasan kosong, sehingga harus ditolak. Pun, lebih dari itu, bercerai atau tidak bersuami, bukanlah alasan pembenar untuk bekerja. Kalau mereka tidak lagi bersuami, maka menikahlah lagi dengan suami baru. Sungguh, menikah itu merupakan sunnah para Nabi.

Bersambung.

Advertisements

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag02

DSCN3481

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

3. Perempuan bekerja, karena suami menganggur; suami susah mencari pekerjaan.

Banyak perempuan yang bekerja, atau istri yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, karena suami mereka menganggur, dikarenakan sang suami susah mendapatkan pekerjaan, atau karena suami tiba-tiba dipecat dari pekerjaannya. Kondisi ini memaksa istrinya untuk bekerja demi menyambung kebutuhan keuangan keluarga.

Apakah kondisi ini dapat dijadikan alasan perempuan untuk bekerja?

Ada pertanyaan. Mengapa bisa terjadi di mana seorang lelaki / suami menganggur? Apakah yang menyebabkan seorang laki-laki menjadi pengangguran? Mengapa bisa terjadi, ada seorang laki-laki menganggur, sementara perempuan tidak menganggur? Mengapa bisa terjadi, di mana seolah perempuan begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan, sementara laki-laki begitu susah untuk mendapatkan pekerjaan?

Coba renungkan. Kalau TIDAK ada perempuan yang bekerja, maka mustahil ada lelaki yang menganggur. Sekali lagi: kalau seluruh perempuan TIDAK bekerja, maka pasti tidak akan ada laki-laki yang menganggur.

Perhatikanlah, bahwa satu-satunya alasan dan penyebab mengapa seorang laki-laki menganggur, adalah karena seluruh / banyak lapangan-pekerjaan (pangker) telah dikuasai dan diduduki perempuan, hal mana itu menyebabkan jatah pangker yang sebenarnya hanya untuk laki-laki telah habis diambil kaum perempuan. Akibatnya, kaum laki-laki menjadi terdesak dan terdepak dari pangker; tidak kebagian pangker: inilah penyebab sesungguhnya dari pengangguran.

Ketahuilah, bahwa jatah pangker di Alam-raya ini sangat terbatas: jumlah pangker seumur dunia ini TIDAK PERNAH SEBANDING dengan jumlah penduduk. Oleh karena itu, pangker yang sedikit itu sebenarnya hanya untuk kaum pria, agar dengan demikian tidak ada satu pria pun yang menganggur. Sementara perempuan, sebenarnya tidak butuh pangker, karena kodrat mereka adalah domestik, yaitu senantiasa tinggal di dalam rumah mereka, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan juga karena nafkah mereka sudah ditanggung oleh kaum pria. Intinya, Islam melarang perempuan untuk bekerja, karena salah satu alasannya adalah, jumlah pangker di dunia ini begitu terbatas. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel “Emansipasi Wanita Satu-satunya Pencetus Masalah Pengangguran”.

Singkat kata, seluruh pangker hanya untuk laki-laki, jangan ada satu pun pangker yang diduduki / diserobot perempuan. Satu perempuan bekerja dan menyerobot satu pangker, itu berarti satu pria telah menjadi pengangguran. Bisa jadi pria itu adalah seorang suami, atau seorang suami yang harus membiayai persalinan istrinya, atau juga seorang ayah yang butuh uang untuk membeli susu bayinya.

Kembali kepada kondisi pada pembahasan ini. Terdapat perempuan yang harus bekerja, dengan alasan karena suami mereka menganggur, atau karena suami susah mendapatkan pekerjaan. Maka apakah kondisi ini dapat dijadikan alasan bagi perempuan untuk bekerja?

Jawabannya adalah: inilah bencana yang harus diderita umat karena mengijinkan / membenarkan perempuan bekerja. Dikarenakan perempuan bekerja, maka merajalela-lah pria-pria pengangguran di seluruh negeri. Umat dan kaum perempuan harus melihat satu-satunya penyebab mengapa seorang pria harus menganggur.

Umat harus bertanya, apakah penting bagi seorang perempuan untuk bekerja, sementara nafkah kaum perempuan itu sendiri sebenarnya sudah ditanggung oleh pria mereka, secara alami. Umat dan kaum perempuan harus menyadari, bahwa dengan bekerjanya perempuan, itu berarti menumbangkan beberapa laki-laki dari pangker sehingga memaksa mereka menjadi pengangguran.

Sekali lagi, kalau tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, maka itu adalah jaminan bahwa tidak akan ada satu pun pria yang menganggur: itu berarti tidak ada suami yang menganggur, ayah yang menganggur, saudara laki-laki yang menganggur, dsb. Dan kalau tidak ada suami yang menganggur, maka setiap istri tidak mempunyai alasan untuk bekerja, karena suami-suami mereka mempunyai pekerjaan.

Singkatnya, ada perempuan-perempuan yang menuntut untuk dibenarkan bekerja, dikarenakan suami mereka menganggur karena susah mencari pekerjaan. Harus diingat, bukankah satu-satunya penyebab para suami itu menganggur adalah karena perempuan-perempuan kota bekerja? Bukankah bekerjanya perempuan berdampak lurus pada pengangguran di kalangan pria / suami?

Kembali kepada ajaran Islam, Allah Swt sudah menegaskan di dalam Alquran, bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya, yang mana itu berarti perempuan dilarang bekerja, agar dengan demikian pangker hanya untuk kaum pria, supaya tidak ada satu pun pria yang menganggur. Ayat tersebut adalah Al Ahzab ayat 33, didukung banyak ayat lainnya, dan Alhadis.

Contraview.

Perempuan yang bekerja, berdalih bahwa bekerjanya mereka adalah terpaksa, yaitu karena suami mereka menganggur. Fakta memperlihatkan, suami mereka bukanlah pengangguran, dan suami mereka adalah para pekerja atau karyawan yang bergaji besar dan menggembirakan. Kalau benar bahwa alasan mereka bekerja adalah terpaksa karena suami mereka menganggur, maka semestinya jumlah perempuan bekerja tidaklah banyak di seantero kota. Itu pun, tetap tidak dibenarkan seorang perempuan bekerja, walau pun alasannya adalah karena suami mereka menganggur. Ingat, suami atau pria menganggur, pada dasarnya adalah imbas dari perempuan bekerja –yang menyerobot / menginvasi pangker yang sebenarnya hanya untuk kaum pria.

Oleh karena itu, alasan ini yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja, merupakan alasan kosong, yang dengan demikian harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa.

4. Perempuan bekerja, karena Siti Hadijah juga bekerja.

Satu alasan lain yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena mereka melihat Siti Hadijah, merupakan perempuan karir, perempuan pekerja yang sukses di bidang perniagaan. Kisah ini dianggap merupakan motivasi di dalam Islam untuk membenarkan perempuan bekerja. Siti Hadija, adalah istri Nabi Muhammad saw, sehingga dengan sendirinya fakta bahwa Siti Hadija bekerja -menjadi sumber hukum di dalam Islam untuk membenarkan perempuan bekerja, mencari uang, nafkah, karir dan jabatan.

Tidak itu saja. Ratu Balqis, yang merupakan istri dari Nabi Sulaiman as, juga merupakan pemimpin Negara, dan oleh karena itu Ratu ini dianggap sebagai landasan di dalam Islam bahwa perempuan dibenarkan untuk berkiprah di ranah publik, untuk berkarir, khususnya menjadi pemimpin di lingkungan patriarkis. Belum lagi sejarah Islam menuturkan, bahwa pada jaman Nabi Muhammad Saw, beberapa perempuan ikut berpartisipasi di dalam pertempuran membela Islam, yang mana ini berarti bahwa Islam mendukung kiprah perempuan pada sektor publik, yaitu untuk berkarir dan berkarya di samping kaum lelaki. Pandangan seperti ini harus diluruskan.

*Siti Hadija.

Pada masa jahiliyah, Siti Khadijah memang seorang wanita yang bekerjagaji atau bekerjabisnis, keluar rumah dan meninggalkan kodrat domestiknya. Namun setelah menjadi istri Nabi Muhammad Saw, seluruh pekerjaan itu ia tinggalkan dan akhirnya murni menjadi seorang istri rumahan. Oleh karena itu hubungan antara Siti Khadijah dengan karirnya sebagai pelaku bisnis tidak dapat dijadikan teori bahwa Islam memerintahkan wanita untuk bekerja. Yang harus dilihat adalah fase di mana Siti Hadija adalah istri Muhammad Saw, yang murni rumahan, tidak lagi sebagai pelaku bisnis. Fase sebelumnya tidak dapat dijadikan rujukan dan landasan ajaran Islam mengenai kewanitaan.

Dengan demikian pembolehan wanita bekerja di dalam Islam tidak dapat dirujuk kepada Siti Hadija ini. Kebalikannya, ajaran Islam yang melarang wanita bekerja berpijak pada fase bahwa Siti Hadija adalah seorang istri dan wanita rumahan yang selalu taat dengan kodrat domestiknya.

*Siti Aisha.

Peran Siti Aisyah di dalam peperangan, biar bagaimana pun bukanlah cetak-biru untuk ide wanita bekerjabisnis. Perang adalah perang, dan bekerjabisnis adalah bekerjabisnis, dua hal yang jauh berbeda. Harus ditekankan bahwa perang memiliki urgensinya sendiri yang tidak sebanding secuil pun dengan bekerjabisnis.

Anggaplah di dalam pertempuran wanita diijinkan untuk berpartisipasi – pada masa Nabi Muhammad Saw. Namun jumlah personnel wanita yang ikut perang tersebut tidak signifikan. Adalah tidak mungkin, di mana ada 300 pasukan tempur misalnya, maka 100 atau 200 personnel di antaranya adalah wanita. Paling jumlahnya hanya satu, atau tiga, atau lima paling banyak. Sementara di dalam bekerjabisnis, dapat dipastikan seluruh wanita bekerjabisnis keluar rumah. Apakah itu adil? Kalau kita ingin menjadikan pastisipasi wanita di dalam perang sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis, maka mau-tidak-mau wanita yang boleh bekerjagaji hanya segelintir juga, “sepuluh” wanita itu sudah terlalu banyak untuk bekerjabisnis di dalam suatu kota. Ini berarti partisipasi wanita di dalam peperangan bukan landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis di dalam Islam.

Hal berikutnya: Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. Ingatlah, bahwa apapun yang terjadi setelah wafatnya Muhammad Saw SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIJADIKAN landasan ajaran Islam. Ajaran Islam hanya berlandaskan pada semua peristiwa yang terjadi pada masa Muhammad Saw masih hidup. Oleh karena itu Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat, dan juga ikut berperang pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw tidak dapat dijadikan teori yang lain lagi bahwa wanita bekerjabisnis merupakan kesalehan.

Lebih dari itu sejarah Islam memang mengisahkan bahwa Siti Aisha merupakan wanita yang cerdas: banyak dan ribuan Alhadis dirujukkan kepadanya. Ingatlah, bahwa kecerdasan yang dimiliki Aisha bukanlah alasan untuk membenarkan wanita boleh bekerja. Kecerdasan Siti Aisha merupakan garis kehidupan yang dia dapat, bukan suatu keputusan / ajaran.

*Ratu Balqis.

Ratu Balqis pada saat menjabat sebagai Ratu alias kepala Pemerintah masih berstatus nonmuslim. Dan pada saat Ratu ini bergabung dengan Nabi Sulaiman dan menjadi Muslimah, sang Ratu berhenti dari jabatannya sebagai kepala Pemerintah, karena telah menjadi istri dari sang Nabi. Praktis, hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa Alquran merekomendasikan wanita untuk bekerjagaji.

Apakah Islam mengajarkan bahwa kita harus berpaling kepada kisah hidup seseorang yang nonmuslim? Tentu saja tidak. Berpaling kepada seorang Muslim saja tidak dibenarkan, apalagi berpaling kepada individu nonmsulim. Islam hanya bersandar dan berpaling kepada seputar kisah kehidupan Muhammad Saw: kisah hidup individu nonmuslim sudah pasti tidak termasuk. ***

Kesimpulannya adalah, bahwa tidak benar menjadikan kisah kehidupan para wanita pada kisah Nabi sebagai landasan teori bahwa Islam membenarkan perempuan bekerja. Intinya, Alquran telah menegaskan bahwa kodrat perempuan adalah domestik (surah al-ahzab 33), ayat lainnya di dalam Alquran, dan juga banyak Alhadis yang menyatakan demikian.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag03

padang-padang-beach

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

5. Perempuan bekerja beralasan untuk berbakti kepada agama, bangsa dan masyarakat.

Banyak perempuan yang bekerja, atau istri yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, bahwa bekerja merupakan ibadah untuk meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Dalih lain yang serupa adalah, bahwa para istri bekerja merupakan bentuk bakti kepada suami, yaitu meringankan tugas suami di dalam hal keuangan.

Alasan lain, bahwa perempuan harus bekerja karena hal tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan Negara. Di dalam fikiran mereka (perempuan yang bekerja), masyarakat luas merasakan manfaat besar dari perempuan bekerja.

Bagaimana mungkin perempuan-bekerja merupakan ibadah kepada Allah Swt, sementara Allah Swt sendiri telah mengharamkan perempuan untuk keluar rumah dan bekerja mencari nafkah, seperti yang difirmankanNya di dalam surah Al-ahzab ayat 33? Bagaimana mungkin suatu bentuk pendurhakaan terhadap Allah Swt justru dianggap sebagai ibadah kepadaNya? Sudah jelas Islam menggariskan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, untuk menyelesaikan seluruh tugas mereka sebagai perempuan, membesarkan anak, menjaga harta suami dsb, yang mana tugas itu hanya dapat ditunaikan dengan terus tinggal di rumah sepanjang hari – maka kemudian mengapa kaum perempuan masih berfikir bahwa keluar rumah, dan meninggalkan anak-anak di rumah, dikatakan sebagai ibadah?

Setiap perempuan yang bekerja tidak mungkin mengamalkan perintah Allah Swt. Dan setiap perempuan yang bekerja tidak mungkin senantiasa tinggal di dalam rumah, yang mana itu merupakan perintah Allah Swt. Setiap perempuan yang keluar rumah dan bekerja -tidak mungkin dapat mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka, sementara tugas utama kaum perempuan adalah mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka, lain tidak. Sementara itu, bekerja itu sendiri adalah nonsense buat kaum perempuan.

Dan kalau perempuan ingin beribadah yang baik kepada Allah Swt, maka satu-satunya cara adalah, tetap tinggal di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan untuk itu jelas, perempuan tidak diperkenankan bekerja –untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan.

Beribadah kepada Allah Swt bukanlah dengan cara melanggar ajaranNya, dan tidak mungkin bekerja bagi perempuan, dan keluar rumah, merupakan suatu ibadah yang membuat Allah Swt ridha.

Dan kemudian bagaimana mungkin, perempuan bekerja dianggap sebagai bentuk bakti kepada masyarakat dan negara? Sejak fakta dan hukum kausalitas menunjukkan bahwa gelagat perempuan-bekerja menimbulkan mudharat terhadap seluruh masyarakat, maka jelaslah bahwa perempuan bekerja merupakan bentuk penghancuran sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dan itu artinya, perempuan-bekerja sama sekali bukanlah bentuk pengabdian kepada masyarakat dan Negara.

Sama diketahui, bahwa pada lini pertama saja, perempuan bekerja praktis membuat laki-laki menganggur, karena pangker (lapangan kerja) yang seharusnya diduduki seorang laki-laki, diserobot dan di-infiltrasi oleh perempuan. Lini pertama saja sudah berbahaya, karena perempuan bekerja membuat pria menganggur, dan pengangguran pria merupakan bentuk kerawanan masyarakat, karena hal ini akan bermuara kepada kriminalitas, seperti premanisme, penodongan, jual-beli ganja, dsb.

Dengan kata lain, ya, perempuan bekerja merupakan faktor utama dan kata kunci bagi merebaknya kasus kriminalitas dan premanisme kota.

Pada lini berikutnya, perempuan bekerja yang membuat perempuan bercampur-gaul dengan pria di tempat kerja (sektor publik), benar-benar telah mencetuskan terjadinya ‘penistaan organ kelamin’, seperti kasus selingkuh, pacaran, aborsi, kondomisasi, freesex, khalwat, pemar-aurat, kelahiran anak jadah, dsb. Harus dipertanyakan kembali, apakah benar bahwa perempuan bekerja merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan Negara, kalau dari gelagat tersebut (perempuan bekerja) kasus demoralitas organ kelamin justru bersemi begitu hebatnya?

Pada jaman Siti Nurbaya, ketika seluruh perempuan tidak bekerja, ketika seluruh perempuan berteguh diam di rumah, kasus ‘penistaan organ seksual’ tidak pernah / jarang terjadi. Hal tersebut praktis dikarenakan terpisahnya lebensraum antara pria dan perempuan: pria di tempat kerja, sementara perempuan tinggal di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka. Bagaimana mungkin kaum pria di tempat kerja selingkuh dengan kaum perempuan, sementara di tempat kerja perempuan tidak satu pun dijumpai?

Intinya, perempuan bekerja bukanlah bentuk ibadah untuk mendapatkan ridha Allah Swt, justru sebaliknya, perempuan bekerja merupakan bentuk pendurhakaan terhadap Allah Swt, karena dengan perempuan keluar rumah dan bekerja, maka bermunculanlah berbagai fitnah kelamin yang mengerikan. Terlebih, dengan keluar rumah dan bekerja, maka terlalailah perempuan dari tugas domestiknya, seperti menyelesaikan seluruh tugas domestik, membesar dan mengasuh anak, menjaga harta suami, dsb.

Intinya, jangan pernah menghubungkan bekerjanya perempuan dengan bentuk bakti kepada masyarakat dan Negara, dan jangan pernah menghubungkan bekerjanya perempuan dengan bentuk ibadah untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Sungguh, perempuan bekerja justru merupakan racun masyarakat, racun Negara, karena perempuan bekerja itulah yang sebenarnya yang menghancurkan integritas Negara dan masyarakat.

Di lain pihak, perempuan bekerja bukanlah suatu peribadatan untuk memperoleh mardhotillah (untuk mendapatkan ridha Allah), karena perempuan bekerja itulah sebenarnya yang merupakan perbuatan maksiat yang melanggar ajaran Allah Swt: berbagai fitnah kelamin bangkit dari perempuan bekerja ini, seperti kasus selingkuh, pacaran, aborsi, kondomisasi, freesex, khalwat, pemar-aurat, kelahiran anak jadah, dsb.

Contraview.

Perempuan berkeras bekerja dengan mengedepankan alasan, bahwa niat mereka bekerja adalah untuk beribadah kepada Allah Swt, dan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, Negara dan masyarakat. Pada kenyataannya, justru perempuan-bekerja telah meningkatkan angka pengangguran di kalangan laki-laki, selingkuh, perceraian rumahtangga, penelantaran anak, perzinahan, pamer-aurat, khalwat, kondomisasi, penularan penyakit kelamin, membangkang kepada suami, membangkang kepada kodrat kewanitaan dan tugas istri, dsb. Perempuan dengan bekerja maka sebenarnya ia telah merusak dan meracuni keluarganya, agamanya dan negaranya. Untuk lebih lanjut mengenai ini, silahkan baca artikel “Dalam Islam Bolehkah Wanita Bekerja”.

Inikah yang disebut bekerja dengan niat untuk mengabdi kepada bangsa dan masyarakat, dan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt? Kalau memang benar bahwa niat perempuan bekerja adalah untuk membangun bangsa, maka mengapa dengan banyak perempuan-bekerja justru bangsa semakin terpuruk dengan maraknya angka perzinahan, selingkuh, aborsi, pamer-aurat, penelantaran anak, freesex, khalwat, dsb?

Inikah yang disebut dengan bekerja dengan niat untuk beribadah kepada Allah Swt? Kalau memang benar bahwa niat perempuan bekerja adalah untuk beribadah kepada Allah Swt supaya memperoleh ridha-Nya, maka mengapa seluruh perintah Allah Swt mengenai kodrat perempuan yang domestik itu justru dilanggar dan didurhakai oleh perempuan?

Kalau perempuan ingin beribadah kepada Allah Swt untuk meningkatkan taqwa, maka satu-satunya cara adalah dengan berteguh di dalam rumah, untuk mentaati kodrat domestiknya, yaitu menyelesaikan seluruh tugas kerumahtanggaannya, plus membesarkan dan mengasuh anak. Pun dengan perempuan berteguh di rumah dan tidak bekerja, maka hal itu akan memastikan seluruh pria akan mendapatkan pekerjaan, tidak akan menjadi pengangguran, dan pada akhirnya setiap pria akan menjadi mampu untuk meafkahi anak-anak dan keluarganya. Intinya, kalau perempuan berteguh di dalam rumahnya, maka terbebaslah diri dan umatnya dari kekejian organ kelamin.

Kalau perempuan ingin berbakti kepada masyarakat dan negaranya, maka berteguhlah di dalam rumahnya dengan tidak bekerja mencari uang dan karir, karena hal tersebut akan memastikan tidak akan terjadi pengangguran di kalangan pria. Kalau tidak ada pengangguran, maka akan tumpaslah segala bentuk kriminalitas.

Jelaslah sudah, bahwa alasan ini bagi perempuan untuk bekerja, harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa. Selamatkanlah keamanan masyarakat dan Negara, dengan cara mengembalikan perempuan kepada kodrat domestik mereka: jangan biarkan perempuan bekerja.

6. Perempuan bekerja, karena ada profesi yang hanya pantas untuk perempuan.

Banyak perempuan yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, karena pekerjaan atau profesi yang mereka tekuni hanya pantas untuk kaum perempuan, seperti profesi guru, bidan, perawat, sekretaris, guru pada Taman Kanak-Kanak, dsb. Atau, dengan kata lain, ada beberapa profesi di dalam masyarakat yang tidak semestinya ditekuni laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, maka mau-tidak-mau perempuan merasa sudah pada tempatnya untuk bekerja, karena profesi ini harus ada pada setiap masyarakat, maka itu berarti perempuan yang bekerja pada sektor ini tidaklah berdosa.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun profesi yang tidak pantas untuk ditekuni laki-laki. Semua profesi adalah untuk laki-laki, dan oleh karena itu seluruh profesi adalah pantas untuk laki-laki. Dengan demikian maka tidak ada lagi alasan bagi perempuan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, apa pun profesinya.

Tidak ada yang aneh kalau laki-laki menjadi guru, sekali pun ia adalah guru pada Taman Kanak-Kanak. Pun tidak ada yang aneh kalau laki-laki menjadi perawat, bidan maupun sekretaris. Oleh karena itu, tidak beralasan untuk menyatakan bahwa beberapa profesi tidak pantas untuk ditekuni laki-laki –sehingga membutuhkan perempuan yang menjalani profesi tersebut. Yang benar adalah, bahwa seluruh profesi adalah untuk laki-laki, dan oleh karena itu seluruh profesi adalah pantas untuk digeluti laki-laki. Sementara itu, kaum perempuan cukuplah tinggal di dalam rumah untuk menjalani kodrat domestik mereka. Kodrat domestik mereka adalah jauh lebih penting, daripada keluar rumah setiap hari untuk bekerja.

Contraview.

Pada faktanya, kebanyakan perempuan meng-infiltrasi jabatan-jabatan yang khas pria, atau yang tidak dikesankan hanya cocok untuk perempuan. Posisi sebagai karyawan kantor, pelayan restoran, penjaga toko, supir-bus, kondektur, penjaga loket, pejabat kantor, cleaning service, menteri, presiden, dsb, merupakan posisi yang di-incar banyak perempuan, yang mana itu berarti pasti akan menggusur laki-laki dari posisi tersebut, sehingga membuat banyak laki-laki menjadi pengangguran. Masih kuat terdengar, bahwa banyak perempuan menuntut supaya Gereja memberi peluang perempuan untuk menjabat posisi Gerejawi, seperti Imam, pastur, uskup, kardinal, bahkan paus sekali pun. Di kalangan umat Muslim, banyak perempuan menuntut supaya perempuan diberi hak untuk menjadi imam-besar di Masjid.

Sungguh tidak ada konsistensi! Di satu pihak perempuan berkata bahwa perempuan bekerja pada posisi yang hanya cocok untuk perempuan, seperti bidan, perawat, guru, dsb. Namun di pihak lain, perempuan tetap mencengkram posisi-posisi di luar yang mereka bicarakan: faktanya memang demikian! Artinya, semua alasan untuk bekerja yang diajukan kaum perempuan menujukkan adanya praktek kecurangan dan tipu-rayu: dan perempuan sama sekali tidak membuat mereka pantas untuk mengajukan alasan / excuse.

Kalau perempuan konsisten dengan pendirian mereka, bahwa mereka bekerja hanya pada posisi yang pantas untuk perempuan, maka seharusnya kota dunia hanya melihat sedikit perempuan yang bekerja di luar rumah, pada posisi yang khas perempuan, seperti bidan, guru TK, perawat, dsb. Namun faktanya bertolak belakang: jutaan perempuan menyerbu posisi di luar yang mereka bicarakan. Seruan perempuan supaya Gereja dan umat Muslim memberi perempuan hak untuk menjadi paus maupun imam-Masjid, sungguh merupakan suatu bencana.

Jelaslah sudah, bahwa alasan ini bagi perempuan untuk bekerja, harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa.

7. Perempuan bekerja, karena ada kesejajaran antara pria dan perempuan.

Banyak perempuan yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, bahwa Allah Swt menciptakan pria dan perempuan di dalam keadaan sejajar. Banyak ayat Alquran maupun Alhadis yang melukiskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap Allah Swt. Hal ini membuat perempuan berfikir, bahwa kesejajaran yang diajarkan Allah Swt juga berpengaruh pada hak dan kewajiban untuk bekerja meniti karir, bersama pria, di sektor publik. Artinya, kalau pria dapat menjadi pemimpin, jenderal, presiden, dsb, maka perempuan juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan posisi tersebut.

Sama diketahui bahwa di dalam Alquran Allah telah berfirman bahwa biar bagaimana pun laki-laki dan perempuan adalah berbeda, bahkan perbedaan tersebut sudah terbentuk sejak dari masa bayi. Kodrat pun, jelas berbeda; tenaga berbeda, daya akal berbeda, psikologi berbeda, tingkat keberanian berbeda, dsb. Sekarang bagaimana mungkin pria dan perempuan dapat disejajarkan atas dasar kesamaan?

Yang dapat dipersamakan adalah Iman, taqwa, kewajiban salat dan mengaji, berzikir, taat kepada Allah Swt, dsb. Keseluruhan hal tersebut haruslah sama antara pria dan perempuan. Itu pun masih juga terdapat beberapa garis pembeda antara pria dan perempuan, seperti shalatnya perempuan dibatasi oleh siklus haid, puasa dibatasi oleh siklus haid, mengaji dibatasi oleh suaranya yang adalah aurat bagi laki-laki asing, puasa sunnah harus dengan ijin suami, keseluruhan itu merupakan penanda bahwa laki-laki dan perempuan adalah berbeda, dan sama sekali tidak dapat dipersamakan.

Di dalam hal ibadah saja laki-laki dan perempuan dibedakan, maka bagaimana mungkin di dalam cakupan lain yang lebih luas, perempuan dapat disamakan dengan laki-laki?

Allah Swt dengan tegas sudah berfirman di dalam surah Al-Ahzab ayat 33, bahwa perempuan hendaklah senantiasa tinggal di dalam rumah, maka hal tersebut merupakan titik awal untuk melihat bahwa pria dan perempuan adalah dua mahluk yang secara kodrati berbeda, dan di dalam hal ini tempat perempuan adalah senantiasa tinggal di rumah, bukan bekerja mencari uang.

Tidak mungkin, mustahil, bahwa Allah Swt mengajarkan bahwa pria dan perempuan adalah sejajar. Mustahil sekali. Adalah sesat untuk menyatakan bahwa Allah Swt mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan. Sebenarnya-lah, Allah Swt telah meninggikan / mengunggulkan laki-laki atas perempuan, dan hal tersebut sudah termaktub di dalam surah Alquran. Apakah hal ini akan dibantah? Kalau Allah sudah berfirman bahwa laki adalah unggul di atas perempuan, maka mengapa kemudian ada manusia, khususnya perempuan, yang menyatakan bahwa Allah Swt mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan?

Sungguh, menyatakan bahwa Islam mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan, sehingga ini membolehkan perempuan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, merupakan suatu kekafiran dan kedurhakaan terhadap Allah Swt.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag04

 

macet

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

8. Perempuan bekerja, karena ingin meringankan beban orangtua.

Seorang perempuan yang bekerja berkata,

“bekerja bisa membantu dan mengurangi beban orang tua kita. Dengan memiliki penghasilan sendiri, kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa harus meminta orang tua kita, dan justru malah lebih baik lagi karena kita bisa memberi sebagian gaji kepada orang tua, dan juga bisa bersedekah kepada orang lain dengan hasil keringat kita”.

Yang benar adalah, bahwa tidak ada istilah ‘membebani orang tua’ kalau konteksnya adalah membesarkan anak, apalagi anak perempuan. Kalau membesarkan anak merupakan beban, adalah lebih baik tidak usah mempunyai anak sejak semula. Orang tua (di dalam hal ini ayah) harus berjuang membesarkan anak, dan itu artinya orang tua tidak benar kalau menuntut anak perempuannya untuk bekerja mencari nafkah / uang. Bukankah nafkah anak, khususnya anaknya yang perempuan, merupakan tanggungjawab alami sang ayah? Maka kemudian mengapa ada wacana bahwa bekerjanya sang anak perempuan adalah baik karena dapat mengurangi beban nafkah sang ayah?

Bagi si anak perempuan itu sendiri, bekerja-gaji bukanlah solusi sah baginya supaya dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Ingat, kebutuhan hidup ‘TIDAK PERNAH ADA HABISNYA’. Dan kalau ia mempunyai kebutuhan, maka tugas sang ayahlah untuk memenuhinya.

Kemudian pun, kalau dikatakan bahwa dengan bekerja maka si anak perempuan ini dapat memberi sebagian gajinya kepada orang tua, juga salah. Adalah lebih baik bagi wanita untuk selalu berada di rumah, karena hal demikian merupakan Firman Allah Swt di dalam Alquran surah Al-Ahzab ayat 33. Dan itu berarti si wanita tidak bekerja sehingga dapat memberi gajinya kepada orang tua.

Contraview.

Terlalu banyak perempuan keluar rumah untuk bekerja, bukan dengan latar-belakang seperti kondisi ini: fakta memperlihatkan adanya dua gelagat:

  1. Keluarga yang kaya-raya melihat anak perempuan mereka keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang. Keluarga kaya-raya adalah keluarga yang ayah-ayah mereka hidup di dalam kelimpahan uang dan materi. Oleh karena itu, buat apa anak-anak mereka yang perempuan bekerja? Kalau perempuan memberi alasan bahwa mereka bekerja supaya dapat mengurangi beban ayah di dalam hal memberi nafkah, maka seharusnya keluarga kaya tidak perlu membiarkan anak-anak perempuan mereka bekerja, karena ayah-ayah mereka sama sekali tidak terbebani untuk menafkahkan anak-anak mereka, para perempuan: biarlah perempuan yang bekerja itu hanya perempuan yang berasal dari keluarga yang miskin yang ayah mereka kesulitan untuk mencukup nafkah mereka. Namun fakta berbalik ke arah yang lain. Lebih dari apapun, baik perempuan yang berasal dari ayah yang kayaraya, maupun dari ayah nan miskin, tetaplah anak perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja.
  2. Perempuan bekerja, yang latar-belakangnya begitu menguntungkan: suami yang kaya, keluarga batih juga kaya, pun ayah sudah wafat. Kalau ayah sudah wafat, maka buat apa seorang perempuan bekerja dengan alasan bahwa bekerja dapat membantu meringankan beban sang ayah di dalam hal keuangan? Bukankah ayah yang mereka risaukan sudah wafat?

Sensasi yang berkembang dari ketidak-konsistenan perempuan sungguh mengganggu. Akhirnya, alasan perempuan untuk bekerja karena ingin mengurangi beban ayah mereka di dalam hal keuangan, haruslah dibantah dan ditolak.

9. Perempuan bekerja, dengan alasan untuk tidak lagi tergantung kepada kaum pria.

Perlu untuk dikedepankan, mengapa geliat Emansipasi Wanita (EW) selalu mempunyai aroma, bahwa seluruh kaum perempuan harus mandiri dan terlepas dari laki-laki? Dan juga, kaum perempuan ingin terbebas dan mandiri terhadap laki-laki: pertanyaannya adalah, terbebas dan mandiri seperti apa? Apakah kaum perempuan ingin hidup (sukses) di sebuah pulau yang tidak ada laki-lakinya?

Ingatlah bahwa perempuan tidak dapat hidup tanpa lelaki. Siapa yang menjaga keamanan mereka? Siapa yang mengawal mereka? Siapa yang mendirikan rumah untuk perempuan? Siapa yang menghalau hewan buas supaya menjauh dari perempuan? Siapakah yang membuka hutan untuk dijadikan ladang dan persawahan untuk mereka? Siapakah yang berlayar menembus samudera luas untuk mencari ikan segar untuk kaum perempuan? Apakah kaum pria melakukan keseluruhan hal tersebut bukan untuk perempuan?

Coba direnungkan. Di satu pihak, perempuan yang memperjuangkan Emansipasi Wanita (EW), berjuang untuk memperoleh kebebasan dan kemandirian terhadap lelaki. Sementara di pihak lain, apakah pernah kaum pria ingin terbebas dan mandiri terhadap perempuan? Kaum pria melihat bahwa lelaki butuh perempuan, pun perempuan juga butuh lelaki. Laki-laki tidak malu dan tidak sungkan untuk mengakui bahwa mereka butuh perempuan di setiap kehidupan mereka. Laki-laki sama sekali tidak keberatan untuk menyadari bahwa mereka butuh perempuan. Karena memang itulah fakta, itula kehidupan.

Lebih dari itu, kaum pria melihat bahwa kaum perempuan pasti tidak dapat hidup tanpa lelaki. Dan kaum pria pun tidak ingin membiarkan perempuan hidup sendiri jauh dari lelaki, karena hal tersebut penuh bahaya untuk kaum perempuan. Maka kemudian mengapa perempuan merasa keberatan untuk mengakui bahwa mereka butuh laki-laki? Sungguh tidak dapat dimengerti, mengapa kaum perempuan mempunyai fikiran yang berkebalikan, yaitu ingin terbebas dan mandiri terhadap lelaki?

Apakah ada yang salah kalau perempuan hidup di dalam ketergantungan kepada pria? Apakah kaum pria merupakan organisme yang selalu menyiksa perempuan? Atau selalu menghimpit perempuan dengan batu-besar hingga kesakitan? Apakah pria merupakan organisme yang tidak ingin melihat perempuan berbahagia?

Sudah terlalu banyak bukti di dalam kehidupan ini, bahwa kebahagiaan seluruh perempuan merupakan hasil perjuangan kaum pria. Tidak ada yang ingin dilakukan kaum pria kecuali ingin membahagiakan perempuan. Lihatlah kaum pria maju ke medan pertempuran hanya untuk melindungi kaum perempuan, lihatlah kaum pria naik ke gunung hanya untuk memperoleh emas berlian untuk perempuan. Lihatlah kaum pria menembus hutan dan samudera yang ganas untuk mendapat harta karun demi perempuan. Dan sekarang mengapa perempuan meneriakkan perjuangan untuk terbebas dan mandiri terhadap kaum lelaki?

Apakah perempuan sudah benar-benar engkar terhadap hukum alam dan kodrat kehidupan? Sudah sedemikian hebat dan tangguhnya-kah kaum perempuan sehingga merasa sudah saatnya untuk terbebas dari kaum pria, sudah saatnya untuk hidup jauh dari kaum pria? Apakah kecanggihan teknologi dan ketinggian ilmu yang diperoleh perempuan sudah membuat mereka TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN KEHADIRAN KAUM PRIA?

Untuk lebih jelas mengenai teknologi ini, silahkan baca Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang.

Apakah kaum perempuan tidak melihat, ilmu yang mereka peroleh, merupakan ilmu yang digali oleh kaum pria? Apakah kaum perempuan tidak melihat, bahwa teknologi yang mereka gunakan (seperti mobil, listrik, pendingin udara, kulkas, komputer, televisi, dsb) keseluruhannya merupakan karya dan hasil fikir kaum pria yang cerdas dan unggul? Tidakkah kaum perempuan melihat, bahwa keamanan kota yang mereka cecap kenikmatannya merupakan hasil dan perjuangan seluruh kaum pria yang tidak mengenal lelah? Dan sekarang kaum perempuan, melalui geliat Emansipasi Wanita (EW), menyerukan bahwa sudah saatnya seluruh perempuan terbebas dan mandiri terhadap kaum pria. Mengapa? Apakah mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan?

Akhir kata, alasan perempuan bekerja adalah untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap pria, merupakan suatu kebodohan dan kesiasiaan. Oleh karena itu, alasan ini harus ditolak dan dibantah, karena tidak mempunyai dasar logika.

10. Perempuan bekerja, dengan alasan untuk perlindungan terhadap kesewenangan pria.

Alasan lain yang dikemukakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena bekerja dapat membebaskan perempuan dari kesewenangan kaum pria.

Sejauh mata memandang ke alam-raya yang membentang ini, yang terlihat hanyalah kehidupan anak-anak manusia yang rukun, yang harmonis dan saling memberi satu dengan yang lainnya. Setiap suami, setiap istri, anak, laki-laki, perempuan, ayah, ibu, tetangga, mereka semua hidup rukun dan bahagia.

Memang diakui di dalam kehidupan ini, terdapat kejadian-kejadian yang memilukan – yang terjadi pada segelintir manusia. Dan sungguh kejadian-kejadian tersebut tidak dapat ditarik generalisasinya. Anak yatim yang dianiaya orang-tuanya, bukanlah suatu fenomena general / umum; seorang pembeli yang ditipu pedagang, bukanlah suatu kejadian umum, melainkan insidental belaka. Oleh karena itu, kalau ada anak yatim piatu, misalnya, yang dianiaya orang-tuanya, itu bukan alasan untuk menyatakan bahwa setiap anak yatim piatu merupakan sasaran kesewenangan setiap orang-tua; begitu juga dengan pembeli yang tertipu, bukanlah alasan untuk menyatakan bahwa setiap pedagang adalah penjahat: tidak semua pedagang adalah penjahat. Bahkan faktanya, kebanyakan pedagang adalah jujur dan menguntungkan semua pihak.

Demikian juga halnya dengan kesewenangan seorang pria terhadap seorang perempuan, hal tersebut bukanlah suatu keumuman, melainkan suatu kejadian yang insidental belaka, sehingga kejadian tersebut tidak dapat dianggap sebagai keumuman di dalam kehidupan. Ini bukanlah Surga, melainkan dunia, yang penuh dengan intrik dan kesia-siaan.

Di luar kejadian kesewenangan seorang pria terhadap perempuan (yang membuat perempuan begitu sengsara lahir bathin), juga ada terkisah di mana banyak laki-laki yang begitu mencintai dan mengagung-agungkan perempuan, apapun yang telah dilakukan perempuan. Tidak sedikit laki-laki yang begitu menghormati perempuan, dan menyayangi perempuan, lebih dari mereka mencintai berlian mereka sendiri. Dan menariknya, sungguh statistik di mana laki-laki begitu mencintai dan mengagung-agungkan perempuan, sebenarnya jauh lebih umum dan jauh lebih jamak daripada kejadian di mana seorang laki-laki mensewenang-wenangi perempuan.

Fakta tertulis sepanjang sejarah, betapa banyak perempuan yang dibahagiakan oleh pria-pria mereka, dimanjakan sepanjang hidup, bahkan terkisah di mana banyaknya laki-laki yang rela meninggalkan ibadah kepada Tuhan hanya demi menyenangkan perempuan-perempuan mereka. Ini adalah fenomena umum. Dan sekarang tiba-tiba terdengar kumandang seakan kesewenangan pria atas perempuan sudah merupakan fenomena umum – sehingga harus diberantas oleh kaum perempuan dengan cara perempuan diberi pekerjaan, supaya dengan demikian perempuan dapat terbebas dari kesewenangan tersebut?

Kumandang keprihatinan publik (dan khususnya kaum perempuan) akan kesewenangan laki-laki atas perempuan, sungguh tidak berdasar sama sekali, bahkan hal tersebut sebenarnya merupakan dramatisasi murahan. Oleh karena itu, kesewenangan laki-laki atas perempuan, tidak dapat dijadikan alasan untuk membiarkan perempuan bekerja. Kaum perempuan hanya mencari-cari alasan konyol untuk bekerja, dan ketika mereka berkata bahwa tujuan mereka bekerja adalah untuk untuk membebaskan mereka dari kesewenangan laki-laki, maka alasan tersebut begitu sangat dicari-cari, dan lebih dari itu, alasan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan fakta kehidupan.

Contraview.

Perempuan yang bekerja, yang mempunyai karir dan mempunyai penghasilannya sendiri, pun tidak luput dari sewenang-wenang terhadap warga lain. Kerap terdengar kasus kejahatan di mana seorang perempuan yang berkarir, tega berbuat keji kepada pembantunya, atau kepada suaminya sendiri. Media publik banyak yang memberitakan kejahatan di mana seorang bayi dibuang di tempat sampah, dan ternyata pelakunya adalah ibunya sendiri, yang notabene adalah perempuan yang berkarir, yang mempunyai gaji dan jabatan. Tingginya angka perceraian yang merupakan gugat-cerai pihak istri terhadap suami, juga dapat digolongkan sebagai bentuk kesewenangan perempuan karir terhadap warga lain, khususnya suami dan rumahtangganya sendiri.

Publik tidak lupa atas apa yang diberitakan media di mana seorang gadis telah membunuh gadis lain dikarenakan cemburu (kasus pembunuhan Ade Sara), kemudian kasus pembunuhan seorang anak angkat di Bali, yang motifnya tidak lain untuk menguasai harta warisan sang anak angkat, yang pelakunya adalah seorang perempuan (ibu angkatnya sendiri). Keseluruhan kasus tersebut benar-benar melukiskan kesewenangan perempuan terhadap warga lain. Perempuan sama sekali bukanlah seekor kelinci putih, atau seekor merpati putih, yang tidak kuasa berbuat jahat dan keji. Fakta benar-benar jungkir-balik!

Baik juga kita ketahui, bahwa kalau pada saat pertama sudah terkonfirmasi bahwa banyak perempuan terlibat di dalam kasus kesewenangan terhadap warga lain, maka pada saat berikutnya, patut untuk diungkapkan bahwa kesewenangan perempuan itu sendiri merupakan ekses dan akibat dari dibiarkannya perempuan bekerja. Ketika perempuan sudah jamak bekerja dan mempunyai penghasilan dan powernya sendiri, maka perempuan akan mempunyai tradisi kesewenangan dengan ciri khasnya sendiri: kejam terhadap pembantu, anak angkat, anak tiri, bayi jadahnya sendiri, terhadap suaminya sendiri, rumahtangganya sendiri, bawahannya sendiri, bahkan kepada wanita lain yang merupakan saingan asmaranya.

Dengan kata lain, kalau perempuan tidak jamak diberdayakan, tidak dibiarkan bekerja -untuk mempunyai uang, nafkah, karir dan jabatan -maka kesewenangan perempuan pun pasti tumpas dari kehidupan. Perempuan yang sederhana, perempuan yang tidak bekerja, perempuan yang setia dengan kodrat domestik, adalah perempuan yang memberikan rasa aman terhadap warga lain, khususnya anak dan keluarganya sendiri. Membiarkan perempuan bekerja –merupakan bomwaktu yang suatu saat akan meledakkan kesewenangan perempuan.

Akhir kata, perempuan harus bekerja untuk tujuan mengendalikan kesewenangan laki-laki atas perempuan –merupakan alasan kosong, suatu alasan yang tidak bermartabat. Oleh karena itu alasan ini harus ditolak dan dibantah, karena tidak mempunyai dasar logika.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag05

jalantinggi.jpg

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

11. Perempuan bekerja, dengan niat untuk mengatasi banyak masalah sosial, seperti perzinahan, selingkuh, pornografi, dsb.

Alasan berikutnya yang dikemukakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, bahwa mereka bekerja adalah untuk membantu masyarakat menangani masalah sosial seperti tindak zina, selingkuh, aborsi, kehamilan di luar nikah, penyakit sex menular, perceraian, dsb.

Kaum perempuan mempunyai keyakinan, bahwa seluruh masalah sosial dapat diselesaikan dengan adanya peran-serta kaum perempuan. Seluruh masalah sosial, menurut perempuan, tidak akan dapat diatasi tanpa adanya keterlibatan perempuan: kunci penyelesaian seluruh masalah sosial ada pada peran-serta perempuan. Dan peran-serta itu hanya dapat diujudkan di dalam bentuk ‘perempuan-bekerja’.

Bahkan perempuan secara fundamental berkeyakinan, bahwa sebenarnya berbagai masalah sosial yang menggejala itu bisa muncul sebagai akibat dari tidak berkembangnya kaum perempuan di dalam kehidupan ini yang jauh tertinggal dari kaum pria. Oleh karena itu, kalau kaum perempuan dimajukan melalui gerakan Emansipasi Wanita maupun ‘perempuan-bekerja’, maka berbagai masalah sosial tidak akan pernah menggejala.

Dengan menggunakan cara pandang seperti ini, perempuan ingin menegaskan bahwa aktivitas perempuan di luar rumah, seperti bekerja dan meniti karir, menduduki jabatan publik, adalah mutlak dan suatu keharusan, karena hanya dengan bekerja-lah maka seluruh masalah sosial dapat diatasi.

Kaum perempuan yang bekerja percaya, masalah pengangguran (di kalangan kaum pria) misalnya, hanya dapat diatasi dengan cara membiarkan perempuan bekerja. Begitu juga dengan tindak selingkuh maupun zina, hanya dapat diatasi kalau perempuan diberi pembiaran untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, sehingga bercampur-gaul dengan banyak pria di tempat kerja. Masalah pornografi, pun hanya dapat diselesaikan kalau seluruh perempuan diberi hak dan akses kepada dunia kerja -untuk memperoleh uang dan penghasilan.

Banyak perempuan yang aktif di dalam gerakan atau kantor yang membidangi penanggulan pengangguran, maupun kasus kehamilan di luar nikah, atau juga penanggulan pornografi yang makin merajalela. Mereka bekerja di kantor Pemerintah pun juga maksudnya bahwa secara tidak langsung tengah membantu masyarakat untuk menanggulani berbagai masalah tersebut.

Intinya, kita melihat bahwa tidak ada hubungan apa pun antara ‘perempuan bekerja’ di satu pihak, dengan menangani masalah sosial di lain pihak. Dengan terbata-bata harus diungkapkan, bahwa justru seluruh masalah sosial menjadi wabah, hanya karena adanya perempuan yang keluar rumah, karena adanya perempuan yang melanggar kodrat domestik mereka.

Kalau seluruh perempuan berteguh diam di dalam rumah, tidak keluar rumah untuk pendidikan maupun bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, maka praktis tidak akan pernah ada masalah sosial, apa pun bentuk dan namanya. Masalah pengangguran, pornografi, selingkuh, zina, pelacuran, aborsi, marak perceraian, penyakit sex menular, freesex, anak-anak terlantar, anak-anak broken-home, dsb, merupakan ‘buah-pahit’ dari pohon yang bernama ‘perempuan keluar rumah’ untuk bekerja mencari pendidikan, uang, nafkah, karir dan jabatan publik. Ketika gerakan perempuan-bekerja dimulai pada langkah awalnya, maka di lain pihak gejala berbagai masalah sosial juga tengah dimulai secara berbarengan.

Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk mengatasi dan memberantas seluruh masalah sosial adalah, adalah dengan mengembalikan seluruh perempuan kepada alam dan kodrat mereka, yaitu kodrat domestik. Domestikalisasi perempuan, adalah antithesis dari berbagai masalah sosial.

Contraview.

Publik ingat ketika perempuan beralasan bahwa mereka bekerja tujuannya adalah untuk memberantas berbagai masalah sosial -karena berbagai masalah sosial hanya dapat diatasi dengan gerakan perempuan-bekerja; peran-serta perempuan di dalam mengatasi berbagai masalah sosial adalah sangat menentukan. Ironisnya, perempuan yang keluar rumah (baik untuk tujuan pendidikan, maupun bekerja, termasuk berpartisipasi di dalam bidang sosial) justru mempunyai andil di dalam memicu terjadinya kebobrokan moral tersebut.

  • Perselingkuhan terjadi, karena perempuan keluar rumah (untuk bekerja maupun pendidikan) sehingga bertemu dan berbaur secara bebas dengan pria-pria asing di luar rumah;
  • perzinahan terjadi karena perempuan keluar rumah sehingga campur-gaul secara bebas dengan kaum pria;
  • aborsi terjadi karena terjadinya perzinahan sebagai kelanjutan dari bebasnya perempuan keluar rumah sehingga berbaur bebas dengan banyak pria di luar rumah;
  • pengangguran (di kalangan kaum pria) menggejala karena perempuan keluar rumah dan bekerja -sehingga mencaplok dan menyerobot pangker yang alaminya adalah milik pria. Akibatnya banyak pria tersingkir dari pangker, dan jadilah mereka pengangguran.
  • Pornografi menggajala karena perempuan keluar rumah yang orientasinya adalah mencari uang sebanyak-banyaknya, sehingga bisnis pornografi pun dapat dikompromikan oleh perempuan –asalkan income nya menjanjikan;
  • Pembuangan dan pembunuhan bayi terjadi karena perempuan sudah terlanjur berzina, sementara berzinanya seorang perempuan adalah karena setiap hari berbaur dengan pria-pria secara bebas di luar rumah sehingga membangkitkan gejolak birahi.

Pada akhirnya, alasan perempuan bekerja untuk tujuan mengatasi masalah sosial, sebenarnya adalah sesat, dan harus dibantah. Satu hal yang harus diingat dan ditekankan adalah, bahwa justru perempuan-keluar rumahlah yang memicu bangkitnya berbagai masalah sosial, lain tidak.

12. Perempuan bekerja beralasan bahwa kodrat domestik atas kaum perempuan adalah rekayasa penguasa dan kaum pria.

Lebih lanjut, alasan lain yang digunakan kaum perempuan untuk keluar rumah dan kemudian bekerja untuk menempati posisi publik, adalah karena kodrat domestik sebenarnya adalah rancangan kaum pria sejak awal, yang tujuannya adalah untuk memadamkan kejayaan kaum perempuan, sehingga dengan demikian:

  • kaum pria dapat dengan leluasa memperbudak perempuan di dalam lingkar domestik untuk selama-lamanya,
  • pun agar kaum pria tidak mempunyai pesaing di arena publik (politik maupun bisnis, dsb).

Kodrat domestik, di dalam fikiran kaum perempuan, bukanlah bagian dari hukum alam, pun bukan kehendak Illahi. Kodrat domestik bukanlah fitrah, dan bukan juga simbol kepantasan untuk perempuan. Tepatnya adalah, bahwa kodrat domestik seutuhnya hasil kelicikan kaum pria yang diberlakukan atas perempuan, sebagai cara untuk memasung kejayaan perempuan, dan agar untuk selama-lamanya kaum perempuan menjadi manut atas perintah dan kehendak laki-laki. Itu adalah hasil olah fikir kaum perempuan pada masa industrial ini.

Perempuan tidak mempercayai kodrat domestik; perempuan dengan tegas menolak kodrat domestik atas perempuan. Lebih lanjut perempuan bertekad ingin membongkar dan mengkudeta kodrat domestik yang benar-benar merupakan rekayasa kaum pria untuk memadamkan kejayaan perempuan.

Dengan terus keluar rumah, untuk menuntut Ilmu, juga untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, dsb, maka perempuan hendak menggulingkan kodrat domestik yang selama ini diberlakukan pria atas perempuan. Kodrat domestik atas perempuan seluruhnya adalah hasil kelicikan kaum pria, dan oleh karena itu sudah saatnya perempuan mengambil kewajiban untuk menumpas kodrat domestik yang menyengsarakan kaum perempuan. Satu-satunya cara untuk menggulingkan kodrat domestik adalah dengan perempuan terus bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya, dan meniti karir setinggi-tingginya. Maka dengan demikian akan dapat digulingkanlah kodrat domestik atas perempuan, sekaligus dapat menggulingkan dominasi keji yang pria timpakan atas perempuan.

Dan dikarenakan kodrat domestik bukanlah hukum alam, melainkan politik dan taktik yang dikembangkan kaum pria untuk memadamkan kejayaan kaum perempuan, maka dengan serta-merta perempuan menolak untuk mentaati kodrat domestik. Tidak perlu lagi perempuan berteguh diam di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik (masak, mencuci piring, mencuci baju, menjemur baju, menyetrika baju, membersihkan rumah, merapikan kamar) dan juga mengasuhi anak. Karena keseluruhan tugas tersebut jelas merupakan bentuk kesemena-menaan laki-laki atas perempuan.

Urut-urutannya adalah,

  • perempuan sophies berpendapat bahwa kodrat domestik bukanlah hukum alam maupun fitrah kehidupan.
  • Kodrat domestik adalah hasil rekayasa laki-laki, yang diciptakan laki-laki untuk memadamkan kejayaan perempuan.
  • Laki-laki merekayasa kodrat domestik atas perempuan, supaya perempuan terus menerus dipendam di dalam lingkar domestik, supaya perempuan terus hidup di dalam kebodohan, agar perempuan terus taat kepada keinginan laki-laki, dan supaya laki-laki tidak mendapat saingan dari perempuan.
  • Oleh karena itu kodrat domestik atas perempuan, harus digulingkan oleh perempuan sendiri, dan untuk meruntuhkan dominasi laki-laki atas perempuan.
  • Perempuan-bekerja merupakan satu-satunya cara untuk mengguling-kan kodrat domestik.
  • Dengan perempuan bekerja, maka pada akhirnya akan runtuhlah kodrat domestik atas perempuan –sekaligus runtuhlah dominasi laki-laki atas perempuan. Dan kalau kodrat domestik atas perempuan telah runtuh, maka itu artinya perempuan sudah sejajar dengan kaum pria di segala sektor kehidupan.
  • Akhirnya, perempuan dapat membuktikan, bahwa sebenarnya laki-laki dan perempuan adalah sejajar, dan sama-sama unggul. Kalau sudah tercipta kesejajaran antara pria dan perempuan, maka tidak ada lagi bias gender maupun kesenjangan gender antara pria dan perempuan.

Pendeknya, perempuan tidak percaya pada keunggulan laki-laki atas sekalian alam, dan lebih lanjut lagi, perempuan tidak percaya bahwa kodrat domestik merupakan bagian dari hukum alam. Di dalam cara berfikir perempuan, kodrat domestik adalah produk filsafat laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai korbannya. Seluruh potensi, kejayaan dan keunggulan perempuan, dengan serta-merta menjadi padam dikarenakan kodrat domestik tersebut. Dan itulah yang diinginkan laki-laki atas perempuan. Dengan demikian kodrat domestik diciptakan laki-laki hanya untuk memadamkan kejayaan perempuan.

Contraview.

Kaum perempuan-bekerja, alias perempuan sophies, menuduh bahwa kodrat domestik direkayasa oleh kaum pria. Jadi kodrat domestik bukanlah hukum alam, bukan kehendak alam, melainkan keinginan kaum pria, supaya perempuan tetap di rumah saja, menjadi pembantu rumahtangga. Oleh karena itu, kodrat domestik harus dilawan oleh segenap perempuan.

Tidak sulit untuk dapat mengajukan buku atau seorang filsuf yang mengajarkan laki-laki untuk mendomestikkan perempuan, agar dengan demikian perempuan senantiasa menjadi bodoh dan terbelakang sehingga akan terus manut pada keinginan kaum pria –kalau buku dan filsuf tersebut memang pernah ada di muka bumi ini.

Baik juga kita ketahui, bahwa kaum perempuan dikenal sebagai spesies yang tidak mahir berfikir; perempuan adalah organisme yang tidak pernah fokus di dalam memanfaatkan logika, karena justru perempuan dikenal sebagai mahluk yang selalu mengandalkan perasaan dan emosi belaka. Setiap pernyataan yang diajukan kaum perempuan sudah sangat memenuhi kapasitas emosionalnya sebagai perempuan.

Perempuan bukanlah spesies yang jenius, dan tidak ada yang dapat mereka katakan, namun cara mereka menyatakannya itulah yang indah. Dan hari ini banyak perempuan sophies menyatakan kandungan emosinya, yaitu bahwa kodrat domestik adalah hasil rekayasa kaum laki-laki untuk memadamkan kejayaan perempuan: tidak ada logika pada pendirian perempuan tersebut.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag06

pavers

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

13. Perempuan bekerja dan berkarir, adalah bertujuan untuk meninggal ketertinggalan mereka dari kaum pria yang lebih dulu maju.

Banyak kota dunia menyaksikan kebangkitan (emansipasi) perempuan, di mana perempuan keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Mereka beralasan bahwa emansipasi yang mereka tempuh adalah untuk mengejar ketertinggalan mereka dari kaum pria, yang sudah lebih dulu maju.

Ada suatu pertanyaan. Kalaulah suatu saat perempuan akhirnya berhasil mengejar ketertinggalan tersebut dengan kaum pria (sehingga di dapat kesejajaran), maka apakah yang akan mereka perbuat dengan keberhasilan tersebut? Bekerja mencari nafkah dan uang sebanyak-banyaknya? Bekerja untuk meniti karir untuk mendapatkan jabatan publik setinggi-tingginya? Memerintah dunia sebagai presiden, atau menteri? Atau, mengadakan pulau tersendiri khusus untuk kaum perempuan supaya bisa hidup tanpa ada laki-laki bersama mereka? Mungkin juga, dengan kesejajaran itu kaum perempuan ingin bersama laki-laki menjadi pejabat kota, menjalankan bisnis, dan berkantor di gedung-gedung publik?

Kalau pun dengan keberhasilan tersebut perempuan ingin bekerja mencari nafkah dan uang sebanyak-banyaknya, kemudian meniti karir dan jabatan publik setinggi-tingginya, maka bagaimana dengan kodrat domestik mereka, yang mengharuskan mereka berteguh diam di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, termasuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak di rumah? Siapa yang akan membesarkan, mengasuhi, mengasihi dan merawat anak-anak, kalau ibu-ibu mereka justru keluar rumah dan bergelut dengan jabatan publik setiap hari dan sepanjang hari untuk mempersamakan diri mereka dengan kaum pria?

Contraview.

Mungkinkah dapat dibenarkan bahwa kodrat domestik merupakan bentuk ketertinggalan? Apakah mengasuhi, mengasihi dan membesarkan anak-anak di rumah merupakan bentuk ketertinggalan kaum perempuan di belakang kaum pria? Memasak untuk seluruh keluarga, merapikan rumah tempat berdiangnya seluruh keluarga harus diperkatakan sebagai ketertinggalan?

Di luar itu, apakah benar bahwa bekerja seperti halnya kaum pria, yaitu mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, merupakan bentuk keberhasilan di dalam hidup? Ingatlah, membesarkan anak sehingga anak senantiasa sehat, cerdas, terpenuhi seluruh kebutuhan jasmani dan rohaninya, harga-dirinya, ketentraman jiwanya, jelaslah merupakan keberhasilan tertinggi seorang wanita yang bertekun dengan kodrat domestiknya. Dan pekerjaan tersebut jelaslah merupakan pekerjaan mulia dan terhormat di mata masyarakat, terlebih di mata Illahi. Dan kebalikannya, seorang perempuan yang setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, praktis akan mengakibatkan terzaliminya hak dan kebutuhan sang anak, dan sekali-sekali hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan, melainkan kegagalan dunia akhirat!

Intinya, kalau seorang perempuan terus keluar rumah untuk bekerja, sehingga bercampur-gaul bebas dengan pria di zona publik, jelas-jelas telah memicu terjadinya perselingkuhan di kantor, pacaran, istri simpanan, mengganggu suami orang, sering berakhir dengan tindak zina, kondomisasi, hamil di luar nikah, bahkan pembuangan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya sendiri ….. Itu adalah fakta kehidupan ini, yang berparalel dengan gejolak perempuan keluar rumah dan bekerja.

Secara alamiah kaum laki-laki mempunyai keberhasilan, yaitu keberhasilan di bidang publik, seperti mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Penting untuk dipahami terlebih dahulu, apakah keberhasilan kaum perempuan harus merupakan keberhasilan bergaya laki-laki? Apakah perempuan tidak mempunyai keberhasilan menurut kaum perempuan sendiri? Singkatnya, keberhasilan perempuan adalah keberhasilan yang mengekor kepada gaya laki-laki: apakah memang demikian filsafat yang dapat difahami? Kalau keberhasilan perempuan adalah keberhasilan yang bergaya dan mengekor kepada laki-laki, maka kemudian yang manakah keberhasilan yang murni bergaya perempuan?

Pada akhirnya, inikah yang dimaksud dengan mengejar ketertinggalan?

14. Perempuan bekerja, adalah untuk membuktikan bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum pria.

Terdapat suatu semangat di kalangan perempuan yang mereka jadikan alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Semangat dan alasan itu adalah, bahwa kaum perempuan bekerja, tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa perempuan secara alamiah adalah sama unggulnya dengan kaum pria. Dengan kata lain, dikarenakan perempuan mempunyai keunggulan yang setara dengan kaum pria, maka hal tersebut menjadi sebab perempuan harus bekerja, seperti halnya kaum pria.

Ketika mereka menempati posisi-posisi di kantor, atau ranah publik lainnya, pekerjaan tampak mudah di tangan mereka, kaum perempuan. Jaman industrial ditandai dengan begitu banyaknya perkakas yang memudahkan kerja, seperti listrik, elevator, eskalator, pendingin udara, kipas angin, mesin cetak, telepon, komputer, mobil, pesawat terbang, dsb.

Konsep kerja pun sudah diperbaiki melalui begitu banyak teori yang diajukan oleh para pemikir pria sejak jaman dahulu. Konsep-konsep kerja tersebut tidak pelak membuat kerja pada jaman sekarang semakin mudah dan menyenangkan. Dengan kata lain, baik secara fisik (perkakas) maupun ide, pekerjaan kaum pria untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan -sudah begitu mudah dan menyenangkan. Pada moment inilah kaum perempuan melakukan infiltrasi ke dunia kerja, yaitu pada moment di mana seluruh pekerjaan begitu mudah, dan tidak membutuhkan tenaga dan otot yang kelewat besar.

Dan ketika perempuan masuk ke dunia kerja yang sudah serba-mudah ini, tiba-tiba perempuan berkata bahwa kaum perempuan sebenarnya mempunyai keunggulan yang sama dengan kaum pria. Kalau dilihat dari begitu mudahnya pekerjaan untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan –tidak heran kalau perempuan merasa bahwa pekerjaan mencari uang, nafkah, karir dan jabatan adalah mudah. Namun apakah seluruh kemudahan tersebut muncul begitu saja di muka bumi ini?

Jelaslah banyak pekerjaan menjadi mudah dengan bantuan mobil, atau printer, atau komputer misalnya. Dan apakah hal tersebut membuat perempuan menjadi sama unggulnya dengan kaum pria? Namun kebalikannya, apakah pekerjaan tetap mudah dan menyenangkan kalau tidak ada mobil, elevator, komputer, penyejuk udara, dsb? Kalau sejak awal diketahui bahwa seluruh kemudahan dibuat dan diciptakan oleh kaum pria saja, maka mutlak dipahami bahwa sebenarnya pekerjaan tersebut tidak akan menjadi begitu mudah tanpa adanya teknologi yang merupakan hasil dayacipta kaum pria. Di mana posisi kaum perempuan? Apakah perempuan sama unggulnya dengan kaum pria, kalau tidak ada intervensi teknologi dan segala kemudahan industrial tersebut?

Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang”.

Contraview.

Hal pertama yang harus diingat adalah, bahwa seluruh kecanggihan teknologi dan kemudahan industrial, adalah hasil dayafikir dan dayacipta kaum pria sejak awal, dan ketika itu kaum perempuan asyik bermanja-manja, bersolek dan bercengkrama dengan hewan peliharaan di taman bunga. Tidak ada satu pun kecanggihan teknologi yang merupakan hasil dan dayacipta kaum perempuan, dan sejarah mengetahui bahwa kala itu tidak ada satu pun perempuan yang dilarang untuk berpartisipasi di dalam majelis Pengetahuan dan penemuan: hanya saja mereka lebih suka bertamasya bersama di kebun kota.

Pada akhirnya, secara empiris terlihat, bahwa segiat apa pun gema emansipasi perempuan digaungkan ke seluruh penjuru kota, toh hal itu hanya bisa menempatkan “segelintir” perempuan pada posisi publik: hal ini terlihat sekali seperti pada bidang parlementaria, bisnis, militer, politik, kepartaian, kesarjanaan, keuniversitasan, kepenelitian, keagamaan, entepreneurship, keilmiahan, dsb. Teori perempuan seunggul pria, tidak terbukti.

Teramat pelik untuk diungkapkan, bahwa perempuan masih mempunyai beribu ketergantungan kepada pria, dan hal tersebut membuktikan bahwa tidak ada yang seunggul pria di muka bumi ini: tidak ada perempuan yang dapat hidup layak tanpa seorang pria.

15. Perempuan bekerja, karena ada anggapan bahwa perempuan mempunyai potensi yang jangan disia-siakan.

Mereka berkata, bahwa perempuan terampil di dalam hal pembukuan. Ada yang mengatakan bahwa perempuan sangat baik menangani keuangan kantor. Banyak yang berkata, bahwa guru, perawat dan bidan sangat cocok ditugaskan kepada personel perempuan. Belum lagi dokter, adalah profesi yang sangat tepat untuk digeluti perempuan. Pendek kata, perempuan mempunyai potensi dan ketrampilan di dalam bidang profesi tertentu, dan oleh karena itu potensi yang ada pada perempuan tidak boleh disia-siakan.

Alasan seperti inilah yang sering digunakan kaum perempuan untuk bekerja, yaitu karena kaum perempuan mempunyai potensi dan skill bekerja yang tidak boleh disia-siakan. Mereka beranggapan, bahwa menempatkan perempuan hanya pada kodrat domestik sepanjang waktu merupakan pensia-siaan potensi yang ada pada diri setiap perempuan, karena mereka adalah individu-individu yang mempunyai keterampilan yang mumpuni untuk membangun masyarakat.

Baik juga kita ketahui, bahwa tidak ada yang lebih baik bagi seorang perempuan, kecuali berteguh diam di dalam rumahnya, untuk mendapatkan beberapa hal yang begitu mendasar di dalam kehidupan:

  1. Dengan berteguh di rumahnya, terjagalah kehormatan dan kesuciannya.
  2. Dengan berteguh di rumahnya, maka seluruh anak-anaknya akan terpenuhi kebutuhan akan perhatian dan kasih-sayang ibundanya.
  3. Seluruh perhatian dan kehangatan seorang ibu / perempuan, seutuhnya adalah hak atas anak-anaknya, maka dari itu hak tersebut tidak boleh dilanggar dan dihianati. Jauh lebih penting tinggal di rumahnya untuk memenuhi hak anak daripada menunjukkan potensi dan skillnya di dunia kerja. Tidak perduli seorang ibu terampil di dalam hal inteligen militer, atau di dalam hal pembangunan senjata nuklir, dsb, tetaplah mengasuhi dan mengasihi anaknya adalah jauh di atas segala-galanya.
  4. Dengan berteguh di rumahnya, maka akan terjagalah kesederhanaan dan kesahajaan jiwa seorang perempuan.

Apakah skill dan potensi yang dimiliki seorang perempuan? Menjadi dokter, perawat atau bidan? Maka yang lebih baik baginya adalah menjadi dokter dan bidan untuk anak-anaknya sendiri, yaitu mencurahkan seluruh perhatian medisnya kepada anak-anaknya. Itulah yang lebih hak dan agung, karena memperhatikan sang anak adalah jauh di atas segala-galanya.

Apakah potensi yang dimiliki seorang wanita? Menjadi guru? Maka adalah jauh lebih baik baginya untuk menjadi guru untuk anak-anaknya di rumah, mengajari mereka tatabahasa yang mulia, mengajari anak-anak lagu yang syahdu, mengajari anak cara berdoa yang santun, dsb.

Apakah skill yang dimiliki seorang ibu? Menjadi sekretaris? Maka baiklah sang ibu menjadi sekretaris di rumahnya, yaitu untuk mengatur waktu anak-anaknya, antara bermain, tidur, makan siang, makan buah-buahan, mengatur pertemuan sang anak dengan kawan-kawannya, dsb.

Singkat kata, seluruh ketrampilan yang ada pada perempuan, sebenarnya disiapkan oleh Alam Semesta untuk kepentingan dan kebahagiaan anak-anak mereka sendiri. Merupakan suatu kekejian jika ketrampilan yang ada pada diri seorang perempuan justru didedikasikan kepada orang lain, dan membiarkan anak-anaknya terlantar di rumah. Marilah berfikir ke arah ini.

Contraview

Kenyataan di dalam keseharian umat manusia memperlihatkan, bahwa banyak kaum ibu dan kaum wanita yang justru setia untuk bertekun dan berteguh diam di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, tanpa mereka sedikit pun memikirkan ide bahwa mereka mempunyai potensi dan ketrampilan industrial yang tidak boleh disia-siakan. Sungguh mereka lebih memilih untuk mementingkan membesarkan anak dan menjaga kesucian mereka sebagai perempuan dan ibu bagi seluruh keluarganya, dan itu jelaslah lebih masuk akal dan lebih manusiawi. Tidak ada yang salah dengan keputusan perempuan-perempuan pada golongan ini, karena melihat anak tumbuh setiap hari merupakan suatu mukjizat dan karunia Surgawi yang tidak ada tandingannya.

Betapa anak tidak membutuhkan yang lain-lain, kecuali kehadiran bunda mereka setiap hari di sisi anak-anak untuk tumbuh besar di dalam kehangatan seorang ibu. Dan hak anak, tentunya tidak dapat dikalahkan dengan potensi maupun skill apa pun yang dimiliki ibunya. Dan kalau pun seorang ibu mempunyai skill dan ketrampilan, maka kerahkan hal itu semua untuk kebahagiaan anak-anaknya, tidak untuk yang lain.

Kesimpulannya adalah, seluruh ketrampilan, skill dan potensi yang ada pada diri seorang perempuan, BUKANLAH alasan baginya untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Justru sebaliknya, bahwa seluruh keterampilan dan skill yang dimiliki seorang perempuan adalah disiapkan untuk kesejahteraan anak-anaknya. Anak-anaklah yang terpenting, bukan yang lain.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag07

Jalan_Setapak_Mengerikan

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

16. Perempuan bekerja, dengan alasan karena mereka berpendidikan tinggi, dan telah bersekolah untuk itu.

Perempuan tidak akan melewatkan alasan ini untuk bekerja: kaum perempuan sejak kecil sudah disekolahkan hingga mencapai sarjana, menempuh segala kesulitan dan kegetiran di dalam menyelesaikan studi mereka. Dan ketika mereka sudah berada pada puncak keberhasilan akademik, maka satu-satunya cara untuk mengimplementasikan Ilmu yang mereka dapat adalah dengan bekerja, untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Mereka yakin bahwa Ilmu yang mereka peroleh, haruslah dimanfaatkan untuk kebajikan umat, dan cara memanfaatkannya adalah dengan keluar rumah untuk bekerja. Tidak sulit untuk memahami maksud mereka dengan kata ‘memanfaatkannya’, karena dengan bekerja itu kaum perempuan beroleh uang yang banyak, kecukupan materi, mempunyai jabatan di kantor, dsb: kendati dengan meninggalkan dan mendurhakai kodrat dan fitrah domestik mereka sebagai perempuan.

Mendasar untuk diketahui, bahwa ketinggian Ilmu seorang perempuan pastilah harus ditandai dengan keteguhannya untuk diam di rumah, untuk mengasihi dan mengasuhi anak-anaknya, menjaga kesucian jiwa dan dirinya, dan melindungi seluruh auratnya dari fitnah kota. Kalau ada seorang perempuan yang terus berteguh di rumahnya (karena memang demikianlah kodratnya sebagai perempuan), maka itulah perempuan yang telah tinggi dan paripurna akan Pengetahuan dan hikmahnya. Kebalikannya, perempuan yang senantiasa keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan maupun bekerja, sama sekali bukanlah perempuan yang berilmu dan berhikmah kepada Firman dan fitrahnya sebagai perempuan saleh: perempuan yang keluar rumah adalah perempuan yang membangkang kepada ajaran Illahi, sejak Islam tidak pernah mengajarkan perempuan untuk bekerja maupun keluar rumah.

Ilmu untuk perempuan bukanlah Ilmu publik, melainkan Ilmu domestik, karena kodrat dan fitrah mereka adalah domestik. Intinya, kesejahteraan mental spiritual anak-anak jauh lebih membutuhkan ibu yang perempuan, bukan pembantu, babysitter maupun didikan nenek. Di lain pihak, Ilmu untuk laki-laki adalah publik, yang mensyaratkan seorang laki-laki untuk terus keluar rumah di siang hari, dan itu artinya laki-laki butuh dukungan perempuan dari dalam rumahnya, seperti ketenangan dan kesejahteraan lahir bathin.

Dari arah sebaliknya, perempuan juga butuh dukungan laki-laki di dalam menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, di dalam bentuk memberi bahan pangan dan sandang yang cukup, serta perlindungan dan status. Hal-hal tersebut hanya akan dapat ditunaikan setiap pria, kalau pria sebelumnya sudah dipastikan dapat pekerjaan yang layak; dan cara memastikan setiap pria dapat pekerjaan adalah memastikan setiap pangker tidak di-infiltrasi / diserobot perempuan. Ini artinya, perempuan haruslah tetap berteguh di dalam rumahnya, agar seluruh pangker utuh hanya untuk kaum pria.

Dan sekarang umat mendengar alasan perempuan untuk bekerja, yaitu karena mereka adalah individu yang berpendidikan dan berilmu tinggi, sehingga oleh karena itu perempuan harus bekerja untuk mengamalkan dan mengimple-mentasikan Ilmu mereka tersebut.

Pertanyaannya adalah, yang manakah yang dikatakan perempuan berilmu? Yang manakah yang dikatakan perempuan yang berhikmat kepada Firman dan fitrah? Siapakah yang menyuruh perempuan untuk menuntut Ilmu sejak kecil? Mendasar untuk disadari, bahwa tidak ada satu ayat pun di dalam Alquran maupun Alhadis yang meminta atau mengajarkan perempuan untuk menuntut Ilmu: Ilmu akademik hanya diberikan kepada kaum pria sejak dini. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel Keharaman Wanita Bersekolah Menuntut Ilmu.

Pun, kalau sejak dini perempuan disekolahkan hingga setinggi-tingginya, maka apakah pada akhirnya mereka menjadi mempunyai hak untuk bekerja -sehingga meninggalkan kodrat domestik, dan membuat kekacauan sosial (seperti pacaran, zina, pameraurat, dsb) di ranah publik sejadi-jadinya?

Fakta begitu mencemaskan: perempuan yang diberi pengajaran akademik (pendidikan formal) setinggi-tingginya, justru pada akhirnya menuntut untuk terus keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan dan karir, dan meninggalkan kodrat domestik mereka: seperti mengasihi dan mengasuhi anak-anak, mengerjakan seluruh pekerjaan domestik, menjaga kesucian diri dan jiwa, dsb. Apakah Ilmu yang tinggi yang dimiliki perempuan memberi hak kepadanya untuk mengingkari kodrat, fitrah, hukum Alam, hak anak akan pengasuhan ibu, dan Firman Tuhan?

Namun kebalikannya, perempuan yang tidak diberi akses pengajaran formal sejak dini hingga setinggi-tingginya, justru akan semakin manut dengan fitrah dan kodrat domestik mereka. Itulah kata kunci dan titik pembedanya.

Keadaannya justru akan lebih baik kalau sejak dini sampai selama-lamanya perempuan tidak diberi pendidikan formal, karena metode tersebut akan membuat / menghasilkan perempuan yang justru semakin manut dan taat pada kodrat domestiknya ……… kalau setiap perempuan taat dan manut pada kodrat domestiknya, dapat dipastikan tidak akan pernah ada kekacauan sosial di ranah publik (apalagi di ranah domestik!).

Islam sejak awal telah menggariskan bahwa pendidikan akademik hanyalah diperuntukkan bagi kaum laki-laki, perempuan tidak. Umat maupun keluarga Muslim tidak diberi ajaran untuk mensekolahkan anak-anak perempuan mereka setinggi-tingginya, apalagi mengingat mensekolahkan anak pasti butuh biaya yang kelewat tinggi.

Intinya adalah suatu pertanyaan: apakah yang membuat perempuan ingin keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan? Jawabannya mudah: karena mereka diberi akses kepada pendidikan formal hingga setinggi-tingginya. Kalau perempuan sejak dini tidak disekolahkan, mustahil pada akhirnya mereka menuntut untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang dan karir.

Jadi retorika-nya bukan terletak pada kondisi bahwa seorang perempuan telah mempunyai pendidikan yang tinggi -sehingga ia meminta hak untuk bekerja mencari uang dan jabatan. Namun retorikanya terbalik, yaitu bahwa, karena perempuan diberi pendidikan yang tinggi-lah, yang membuatnya merangsek untuk diberi hak kepada pekerjaan untuk mendapatkan uang, nafkah, karir dan jabatan. Singkatnya, pendidikan formal yang tinggi-lah yang membuat perempuan memberontaki kodrat dan fitrah domestik.

Baik juga kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan antara pria dan perempuan, dan perbedaan itu pastilah juga mencakup perbedaan Ilmu dengan implementasinya. Ilmu untuk pria, pastilah beda dengan Ilmu untuk perempuan, itu jelas. Ilmu untuk laki-laki adalah Ilmu publik, sementara Ilmu untuk perempuan adalah domestik alias indoor. Kalau perempuan ingin dikatakan berilmu, maka pastikanlah bahwa Ilmu tersebut selalu berkenaan dengan kedomestikannya, yaitu Ilmu untuk mengasihi dan mengasuhi anak, merapikan rumah, merapikan dapur, dsb. Dan tentulah berbeda dengan kalau laki-laki ingin dikatakan berilmu: laki-laki harus ‘keluar rumah’ untuk membangun bangsa, jembatan, sawah, membenahi pasar, membenahi komoditas ekonomi, dsb. Itulah perbedaan, dan tidak mungkin dipersama-samakan antara pria dan perempuan. Dan kalau perempuan ingin dikatakan berilmu, maka perempuan harus tetap diam di rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, mengasihi dan mengasuhi anak-anaknya, serta menjaga kesuciannya.

Kalau perempuan dikatakan mempunyai Ilmu yang tinggi, namun ia mengimplementasikannya dengan cara terus keluar rumah untuk bekerja untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, maka bagaimana ia dapat dikatakan mempunyai Ilmu yang bermanfaat? Perempuan yang keluar rumah, senantiasa berparalel dengan anarkhisme moral, itu sudah pasti: pacaran, selingkuh, berzina, kumpulkebo, freesex, kondomisasi, aborsi, khalwat, pamer aurat, ……. dan termasuk juga anarkhisme di dalam hal egosentrisme: gugat cerai semena-mena, menolak untuk taat kepada suami, menolak bekerja di dapur, menolak untuk mengurus cirit anak, dsb.

Untuk lebih lanjut mengenai pendidikan untuk perempuan, silahkan baca artikel ini,

  1. Perempuan bekerja, karena sekarang bukan jaman Siti Nurbaya.

Alasan ini merupakan alasan yang paling mendasar yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan: jaman sudah berubah, dan pada jaman modern ini seluruh perempuan mempunyai jadwal yang seutuhnya berbeda dari yang biasa dilalui kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya. Kalau pada jaman Siti Nurbaya seluruh perempuan berteguh diam di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik, maka pada jaman modern ini seluruh perempuan mempunyai fungsi, peran dan takdir yang sama dengan kaum pria, yaitu keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Kalau pada jaman Siti Nurbaya spesies perempuan dibedakan dari spesies laki-laki, maka pada jaman modern ini perbedaan tersebut sudah tidak boleh lagi ada.

Kalau pria menjadi pemimpin publik, maka perempuan juga menjadi pemimpin publik; kalau laki-laki bekerja mencari uang dan nafkah, maka perempuan juga melakukan hal yang sama; dan kalau laki-laki menjadi profesor, maka perempuan juga harus mempunyai hak yang sama untuk menjadi profesor. Ini artinya tidak ada lagi perempuan yang berteguh diam di rumah, karena diam di rumah merupakan keterbelakangan yang diderita kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya.

Baik juga kita sadari, apakah sudah terjadi perbedaan (atau koreksi atas) kodrat manusia antara pada masa Siti Nurbaya dengan jaman modern? Apakah kodrat dan hukum Alam dapat diubah dan dipertukarkan? Baiklah pada jaman modern ini takdir perempuan sudah seutuhnya berubah, namun apakah kodrat Alam dapat diubah juga? Apakah kebutuhan anak akan pengasuhan dan perhatian ibu dapat diganti kepada yang lain? Apakah hukum Islam juga dapat diubah menurut kehendak jaman modern?

Intinya, ketika jaman sudah menyeret kaum perempuan keluar rumah untuk bekerja, maka ketika itu juga jaman menyaksikan runtuhnya moralitas umat khususnya moralitas kaum perempuan: pacaran, berzina, freesex, selingkuh, kumpulkebo, kondomisasi, perceraian sewenang-wenang, bangkai bayi di tempat sampah, pamer aurat, berkhalwat, dsb. Patut untuk diperhatikan apakah keseluruhan hal mengerikan tersebut juga menggejala sebagai fenomena sosial pada jaman Siti Nurbaya, yaitu jaman ketika seluruh perempuan diam di rumah?

Ingatlah, bahwa kodrat, hukum Alam dan juga perintah agama sama sekali tidak dapat diubah, dan tidak pernah berubah. Dan ini berarti alasan perempuan bahwa pada jaman modern ini perempuan harus keluar rumah untuk bekerja, harus dibantah dan ditolak, karena di balik alasan tersebut, terdapat kehancuran dan pembohongan falsafah. Di balik alasan tersebut, terdapat dekadensi moral, pornografi, materialisme, kapitalisme, hedonisme, dsb.

Bersambung.