Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag01

JalanBahaya5

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

1. Perempuan bekerja, karena miskin, atau gaji suami kecil.

Salah satu alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena gaji suami mereka kecil dan tidak mencukupi, sementara kebutuhan belum tercukupi, bahkan biaya sekolah anak belum terbayar. Oleh karena itu kaum perempuan sering menggunakan latar belakang ini sebagai pembenar untuk bekerja.

Tidak benar. Kemiskinan harus diterima dengan penuh tawakal. Gaji suami, sekecil apa pun, harus disyukuri dan dihormati oleh para istri. Lebih lanjut, Islam tidak pernah menerima alasan kemiskinan untuk membiarkan perempuan bekerja.

Harus diingat, bahwa gaji suami, sebesar apa pun, sebenarnya tidak pernah mencukupi, karena harta bagi manusia memang tidak pernah ada puasnya.

Contraview.

Kebalikannya, banyak dijumpai di mana para istri maupun perempuan yang tidak bekerja mencari uang dan karir –kendati rumahtangga mereka terbilang pra-sejahtera, alias miskin. Gaji / pendapatan suami yang kecil tidak membuat para istri mereka ingin bekerja juga untuk membantu keuangan keluarga. Dan nyatanya kehidupan mereka tetap survive, dan bahagia.

Belum lagi, juga terdapat fakta, bahwa para istri yang bekerja itu, ternyata mereka berlatar-belakang keluarga kayaraya, yang terutama suami-suami mereka mempunyai gaji besar. Maka kemudian mengapa para perempuan tersebut bekerja? Bukankah sejak awal mereka berdalih bahwa bekerjanya mereka karena gaji suami mereka kecil? Namun mengapa sekarang kita melihat kenyataan jungkirbalik, di mana rumahtangga-rumahtangga kaya melihat para istri mereka bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan?

Di kantor-kantor, banyak terlihat karyawan perempuan yang masih muda, yang belum menikah, sementara latar-belakang mereka berasal dari keluarga kaya, rumah besar, mobil banyak dan mewah, dsb. Mengapa mereka (perempuan-perempuan muda tersebut) bekerja? Untuk apa mereka bekerja? Kalau sejak awal perempuan berdalih bahwa mereka bekerja karena gaji suami kecil, maka mengapa ada perempuan-perempuan muda yang kayaraya dan belum menikah -bekerja dan memenuhi kantor-kantor?

Intinya, terdapat ketidakonsistenan di sini. Perempuan hanya berdalih semu ketika mereka berkata bahwa bekerjanya mereka adalah terpaksa, yaitu karena gaji suami mereka kecil.

Kalau kaum perempuan konsisten dengan dalih bahwa mereka bekerja karena terpaksa karena gaji suami mereka kecil, maka seharusnya tidak banyak perempuan pekerja yang tampak di kantor-kantor, paling banyak hanya 10 orang. Sungguh faktanya bertolak-belakang.

Kata akhir: alasan perempuan untuk bekerja dengan alasan gaji suami kecil, atau karena mereka berlatar-belakang keluarga miskin, adalah tidak benar, dan harus dibantah.

2. Perempuan bekerja, karena ditinggal mati suami.

Ada lagi alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Alasan itu adalah, karena mereka ditinggal oleh suami masing-masing, baik ditinggal mati oleh suami, atau bercerai dari suami.

Sebenarnya fenomena ditinggal suami ini mempunyai varian yang beragam, seperti,

  1. Ditinggal suami (karena mati atau bercerai), namun sang istri tetap kaya raya.
  2. Ditinggal suami, namun putra-nya sudah besar sehingga bisa bekerja dan memberi nafkah kepada sang ibunya ini.
  3. Ditinggal suami, karena dicerai oleh sang istri, dikarenakan sang istri merupakan wanita-karir, sehingga begitu ‘kejam’ dan ‘tidak kompromi’ terhadap kesalahan suami sekecil apa pun.
  4. Ditinggal suami, namun kemudian sang istri menolak untuk menikah lagi untuk mendapatkan suami baru yang dapat menafkahi dirinya.
  5. Ditinggal suaminya, di dalam arti suami tidak pernah pulang, tidak diketahui di mana rimbanya, suami tidak bertanggungjawab, suami dikuasai ibu kandungnya.
  6. Ditinggal suami (baik ditinggal mati, atau bercerai), namun sang istri adalah miskin, dan anak-anak pun masih kecil.

Untuk point (a), maka jelaslah tidak ada alasan bagi perempuan ini untuk bekerja, karena toh perempuan ini kaya-raya. Namun harus diingat, bahwa perempuan pada posisi ini harus menikah lagi untuk mendapatkan suami baru.

Untuk point (b), jelaslah perempuan ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu anaknya yang laki-laki.

Untuk point (c), merupakan suatu hal yang menjadi keprihatinan umat, di mana perempuan bekerja, karena berduit tebal (punya penghasilan sendiri), mengakibatkan mereka menjadi tidak hormat kepada suami. Suami berbuat kesalahan sedikit saja langsung dikeluhkan oleh istri yang bertipe perempuan karir yang berduit tebal ini. Biasanya hal ini berujung pada perceraian. Berbeda dengan perempuan-perempuan sederhana, yang tidak bekerja, yang seluruh rejekinya ditanggung suami, menjadikan mereka perempuan yang sabar dan tidak banyak kriteria. Inilah salah satu sebab mengapa Islam melarang perempuan bekerja, karena duit tebal hasil jerih-payahnya sendiri membuat mereka begitu banyak tingkah, dan tidak hormat kepada suami.

Maka jelaslah, perempuan dengan kondisi seperti ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, dan latar-belakang seperti ini tidak menjadikan perempuan dibenarkan untuk bekerja. Justru kebalikannya, karena bekerja, berkarir dan mempunyai uang-lah yang membuat perempuan ini bercerai dan menceraikan suaminya, lantaran jabatan dan uang yang banyak telah menjadikan perempuan ini tidak menghormati suami, dan suami mana yang berlapang dada kalau terus dilecehkan istrinya sendiri.

Untuk perempuan yang bercerai pada point (c) ini, tetaplah harus menikah lagi, dan pastikan bahwa perempuan ini tidak bekerja dan berkarir (lagi), karena justru berkarir-lah yang membuat perempuan ini begitu mudahnya menceraikan suaminya, karena merasa ia sudah bisa mencari rejeki sendiri.

Untuk point (d), jelaslah bukan alasan seorang perempuan untuk bekerja. Hanya karena ia tidak ingin menikah lagi, maka baginya menjadi benar untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Yang salah adalah pihak perempuannya (karena tidak mau menikah lagi), maka mengapa ia-nya menuntut supaya Islam mengijinkannya untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan?

Ajaran Islam tetap di dalam hal ini, perempuan ini harus menikah, dan tidak ada alasan untuk tidak menikah lagi. Dan kalau perempuan ini sudah menikah lagi, maka tidak perlu baginya untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu suami barunya.

Untuk point (e), kondisi ini juga bukan alasan bagi seorang perempuan untuk menikah. Islam mensyariahkan, bahwa kalau suami merupakan pribadi yang tidak ber-tanggungjawab, tidak menafkahi istri, atau hilang tidak diketahui di mana rimbanya, atau tidak pernah pulang ke rumah, maka genaplah bagi sang istri untuk menuntut cerai. Islam membenarkan perempuan dengan kondisi seperti ini untuk menceraikan suaminya, dan yang terpenting, setelah bercerai maka pastikan untuk menikah lagi dengan suami baru. Dengan langkah ini maka perempuan ini sudah mempunyai suami baru yang akan menafkahinya, sehingga ia tidak perlu bekerja; sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan.

Untuk point (f), harus diperhatikan bahwa kondisi ini memang benar-benar mengharuskan sang istri menikah lagi. Pertama, sudah ditinggal karena kematian sang suami, pun kedua, istri hidup di dalam keadaan miskin. Satu-satunya solusi bukanlah bekerja mencari uang dan nafkah, melainkan menikah lagi dengan suami baru; dan untuk itu merupakan tanggungjawab keluarga induklah untuk menikahkan istri ini kepada suami barunya.

Kalau sang istri ini sudah mempunyai suami baru, maka tidak perlulah ia bekerja untuk mencari uang dan nafkah, karena seluruh keperluannya sudah dipenuhi sang suami.

Contraview.

Banyak perempuan yang bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan dengan mengemukakan alasan seperti ini, yaitu karena bercerai dari suaminya. Faktanya, banyak sekali perempuan yang bekerja, padahal mereka semua tidak bercerai; padahal mereka masih bersuami, dan suami mereka kaya-raya, gaji besar, dsb. Kalau kondisi yang melatarbelakangi mereka memang benar bercerai dari suaminya, mungkin masih dapat diterima alasan mereka untuk bekerja. Namun keadaannya sangat memprihatinkan, karena sebagian besar perempuan yang bekerja merupakan perempuan-perempuan yang masih bersuami, pun gaji suami mereka besar, bahkan banyak sekali di antara mereka yang kaya-raya, dsb. Maka mengapa mereka masih bekerja? Dan mengapa mereka masih mengemukakan alasan bercerai dari suami sebagai alasan untuk bekerja?

Oleh karena itu, alasan ‘kami para istri harus bekerja karena tidak bersuami’, merupakan alasan kosong, sehingga harus ditolak. Pun, lebih dari itu, bercerai atau tidak bersuami, bukanlah alasan pembenar untuk bekerja. Kalau mereka tidak lagi bersuami, maka menikahlah lagi dengan suami baru. Sungguh, menikah itu merupakan sunnah para Nabi.

Bersambung.

Advertisements

2 thoughts on “Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag01

  1. Tong Kosong berbunyi nyaring. Banyak orang beralasan kosong untuk membenarkan pendapatnya sendiri yang seolah-olah dirinyalah yang paling benar dan yang lain salah semua. Selain para nabi, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, pasti ada kekurangannya.

    Annisanation,
    benar sekali …., hanya para nabi yg sempurna …

    maka dari itu, blogsite ini hanya memaparkan ajaran para nabi yg sempurna tsb, pada aspek domestikalisasi prp nya ….

    terima kasih.

  2. Terimakasih kembali
    Ya begitulah manusia.
    Bolehkah saya Revisi = “Bukan ajaran para nabi”, Tapi ajaran itu datangnya dari Allah SWT, Nabi hanya membacakan ayat-ayat-NYA kepada umatnya. Selanjutnya umatnyalah mau memilih jalan mana..Halal atau batil. Juga diri kita sendiri yang serba kekurangan ini. Walaupun kita mengambil sumber yang satu tapi tetap saja tidak ada yang mampu 100% menafsirkan ayat-ayat Allah. Para ulama besarpun masih ada yang berbeda pendapat. Amalkanlah ilmu yang sampai pada diri kita sambil terus belajar. Upayakan sebanyak-banyaknya melaksanakan perintah Allah dan minimalkanlah melakukan aktivitas larangan-NYA (kalau semuanya nggak mungkin bisa). Kita semua umat ini sdh selayaknya bersyukur dengan Hidayah-NYA, kita dilahirkan dari ortu Muslim, tinggal dilingkungan mayoritas muslim, di negara mayoritas juga muslim. Bagaimana jika sebaiknya..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s