66 Siswa Hamil Di Luar Nikah

66siswidiperkosa

Tangerang, Wartakota:

Sebanyak 66 pelajar di Kab. Tangerang hamil di luar nikah sepanjang tahun 2016. Jumlah siswa hamil ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang berjumlah 106 siswa hamil di luar nikah.

“Kami telah melakukan evaluasi data selama tahun 2016 ada sebanyak 66 kasus dari 72 kasus di luar nikah”, kata kepala Seksi Perlindungan Perempuan Dan Anak Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan (DPAP) Kab. Tangerang, Banten, Siti Zahro di Tangerang, seperti dikutip Antara, Selasa (31/1).

Siti mengatakan, kasus tersebut terjadi karena para siswa menganut pola hidup pergaulan bebas. Akibatnya mereka melakukan seks sebelum menikah.

Upaya yang dilakukan agar siswa tidak mengikuti gaya hidup pergaulan bebas dengan melakujan penguatan fungsi keluarga. Ortu, kata Siti, juga harus berperan aktif dalam mengawasi pergaulan anak2nya.

Pergaulan anak di bawah usia 17 tahun sepenuhnya oleh ortu. Misal, tidak membiarkan Sitianak pergi dengan orang lain yang belum dikenal. Upaya tersebut juga untuk mengurangi tindakan kekerasan seksual pada anak maupun  perempuan lainnya.

Pendampingan.

Pelajar yang hamil di luar nikah diberi pendampingan psikologi oleh Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan Kab. Tangerang. Pendampingan psikologi ini dilakukan agar mental anak yang hamil di luar nikah tidak goyah.

Pasalnya, anak yang hamil di luar nikah kerap menghindari keluarga dan lingkungannya. Siti mengatakan, petugas DPAP juga berupaya mendampingi korban dalam pendidikan karena menyangkut hak anak.

“Biasanya korban hamil di luar nikah kami pindahkan sekolah ke tempat lain setelah melahirkan, demi mengurangi beban psikologi”, katanya.

Contohnya, satu siswa sekolah negeri di Siti Mauk, dipindah ke sekolah swasta yang berbeda kecamatan. Biaya pindah sekolah ini berasal dari sekolah asal siswa.

Dia berharap, anak korban kekerasan dan anak yang hamil di luar nikah dapat melapor ke DPAP. Identitas mereka , kata Siti, akan dirahasiakan.

Sumber, Wartakota, Rabu 1 Peb 2017.

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini membahas bencana sosial yang menggejala di jaman modern ini, yaitu maraknya angka perzinahan, khususnya di kalangan anak muda, dan tentunya hal ini menjadi keprihatinan semua kalangan. Dapat dikatakan, bahwa salah satu maksud yang terkandung di dalam paparan ini adalah, adanya usaha dari berbagai pihak, untuk menghilangkan, atau paling tidak meminimalisir, terjadinya perzinahan …., karena biar bagaimana pun, perzinahan tidak dapat diterima secara moral, agama dan akal sehat.

Namun bagaimanakah caranya untuk menghilangkan tindak zina ini? Apakah ada usaha nyata dan efektif untuk menghilangkan terjadinya perzinahan ini? Dan apakah itu berhasil? Sama diketahui bahwa usaha untuk menghilangkan perzinahan sudah dikembangkan sejak jaman dahulu, namun apakah keseluruhan usaha tersebut berhasil secara menggembirakan?

Satu hal yang jelas dan pasti mengenai bencana perzinahan ini. Satu-satunya faktor pencetus terjadinya perzinahan adalah, digalakkannya program pendidikan untuk anak perempuan, di mana (anak) perempuan dikondisikan untuk berangkat ke sekolah (setiap hari), untuk berada di luar rumah, dan sejurus kemudian anak-anak perempuan ini diperbaurkan dengan teman-teman pria. Tak ayal lagi, perbauran bebas telah menjadi faktor pencetus utama terjadinya perzinahan.

Selama (anak-anak) perempuan terus keluar rumah, untuk tujuan pendidikan, sekolah, apalagi kemudian diperbaurkan secara bebas dengan teman-teman pria, maka selama itu perzinahan akan terus terjadi di tengah masyarakat, tidak dapat dielakkan lagi dengan cara apa pun. Oleh karena itu, kalau suatu masyarakat ingin memberantas perzinahan sampai ke akar-akarnya, maka satu-satunya cara adalah mendomestikalisasi seluruh perempuan, khususnya perempuan sejak dari usia remaja hingga dewasa: kebijakan Emansipasi Wanita harus dihentikan.

Pada jaman dulu kala, ketika dengung Emansipasi Wanita belum menggejala, ketika masyarakat masih memegang prinsip bahwa kaum wanita adalah mahluk domestik sehingga perempuan tidak dibenarkan dan tidak diadatkan untuk keluar rumah, praktis angka perzinahan begitu rendah, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Bagaimana mungkin terjadi zina, kalau seluruh perempuan kukuh di dalam rumah mereka sepanjang waktu, sementara kaum pria di siang hari sibuk di tempat kerja, seperti sawah, kebun, kantor Pemerintah dsb. Kaum pria di tempat kerja hanya menemui sesama pria, sementara kaum perempuan di rumah hanya menemui anak-anak mereka, ayah, abang, bahkan suami mereka saja. Bagaimana mungkin ada perzinahan?

Namun ketika Pemerintah / masyarakat mulai membijakkan Emansipasi Wanita di mana kaum perempuan dikondisikan untuk keluar rumah, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja, maka lambat laun perzinahan mulai menggejala, karena perempuan dan pria yang tidak mempunyai hubungan keluarga, dikondisikan untuk terus bertemu. Itulah awal tumbuhnya rasa suka dan nyaman, dan pada akhirnya menyeret mereka kepada perzinahan. Dan itu pun sudah menjadi fakta.

Benarlah kata para tetua, bahwa tempat perempuan adalah di rumah saja, karena kalau perempuan keluar rumah, maka akan terjadi banyak fitnah besar. Bukankah petuah tersebut sekarang menjadi kenyataan? Dengan perempuan terus keluar rumah, maka fitnah mahabesar terus terjadi, yaitu maraknya perzinahan, bahkan perzinahan sudah dianggap biasa dan lumrah, sudah dianggap keniscayaan jaman. Inikah yang diinginkan dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita?

Pernahkah terjadi pada suatu umat, pada suatu masyarakat, di mana perempuan-perempuan bebas berbaur dengan teman-teman pria di luar rumah secara intens, namun perzinahan sama sekali tidak pernah terjadi? Pernahkah? Jawabannya adalah tidak. Di mana kaum perempuan bebas keluar rumah sehingga berbaur dengan teman-teman pria, maka di sana kasus zina sudah menjadi kelumrahan, sudah menjadi kejamakan. Namun kebalikannya, di mana kaum perempuan kukuh diam di dalam rumah, sementara kaum pria bekerja di tempat bekerja, maka perzinahan tidak pernah terjadi, karena kaum pria hanya menemui sesama pria di tempat publik, sementara kaum perempuan hanya menemui anak-anak dan orangtua mereka di tempat domestik.

Kalau pun memang pernah terjadi di mana kaum perempuan keluar rumah dan berbaur bebas dengan teman-teman pria secara intens, namun tidak pernah terjadi perzinahan di antara mereka, maka pastilah itu merupakan keanehan, suatu keganjilan, karena BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALAM. Bagaimana mungkin masuk akal, di mana perempuan dewasa dan pria dewasa terus bertemu secara intens namun di antara mereka tidak pernah tercetus rasa suka dan nyaman yang diparipurnakan dengan berhubungan intim?

Benarlah kata tua-tua pada masa dahulu, bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan tidak pernah izinkan perempuan keluar rumah, karena kalau perempuan keluar rumah maka akan terjadi fitnah besar. Namun sekarang, petuah tua-tua pada masa dahulu begitu lancangnya dilanggar dan dihiraukan, khususnya oleh pemangku Pemerintahan, dan juga para aktifis perempuan. Maka maraklah sudah bencana perzinahan di mana-mana! ***

Bagaimana mungkin masyarakat dapat memberantas perzinahan, sementara anak-anak perempuan terus keluar rumah, khususnya di dalam hal ini ke sekolah? Justru pada dasarnya kebijakan menyekolahkan anak-anak perem-puan pasti berimplikasi pada maraknya perzinahan, tidak bisa tidak. Patut direnungkan, buat apa mendapatkan anak-anak perempuan yang cerdas, intelektual, mempunyai banyak ketrampilan, dsb, kalau toh itu semua membuat anak-anak perempuan kehilangan kesucian dan kemurnian mereka? Buat apa mengusahakan untuk mencerdaskan anak-anak perempuan, kalau itu semua berimplikasi pada maraknya perzinahan, kasus hamil di luar nikah, pergaulan bebas antara pria dan perempuan?

Apakah mencerdaskan generasi perempuan adalah jauh lebih penting dan di atas segala-galanya, sedangkan bencana perzinahan dianggap sepele dan remeh-temeh? Dan apakah demi mencerdaskan generasi perempuan, maka kehormatan dan kesucian umat patut dikorbankan dan ditumbangkan begitu rupa? Apakah kesucian dan keagungan umat tidak lagi penting bagi masyarakat?

Pendidikan perempuan, untuk apa?

Terdapat dua hal yang berparalel di jaman sekarang. Di satu pihak, masyarakat dan Pemerintah giat menggalakkan Emansipasi Wanita, untuk memberdayakan kaum perempuan, yang gelagatnya adalah dengan mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, untuk sekolah maupun bekerja mencari nafkah. Di lain pihak, pecahnya bencana perzinahan yang merajalela di setiap kampung dan kota, yang mana bencana perzinahan tersebut satu-satunya pemicu adalah perempuan yang keluar rumah, baik untuk pendidikan maupun bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Kedua hal tersebut adalah dan selalu berparalel, tepatnya adalah bahwa perempuan keluar rumah akan selalu berimplikasi pada statistik perzinahan dan sexbebas. Dengan kata lain, harga yang harus dibayar oleh kaum perempuan, masyarakat dan Pemerintah, ketika menggalakkan Emansipasi Wanita, adalah terlampau mahal dan tidak masuk akal: yaitu pembumi-rataan perzinahan dan sexbebas.

Patut untuk direnungkan, apakah faedah yang akan diperoleh dengan menggalakkan Emansipasi Wanita? Apakah faedah dan manfaat yang ingin dirasakan masyarakat dan Pemerintah dengan adanya Emansipasi Wanita? Pun juga bagi perempuan itu sendiri, apakah tercerabutnya mereka dari nilai-nilai suci dan agung, merupakan apa yang mereka cari dengan bekerja dan berkarir? Dengan perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan di dalam bingkai Emansipasi Wanita, maka …..,

  1. Setidaknya, akan terjadi perbauran antara pria dan perempuan di sektor publik secara intens dan permanen, hal mana akan memicu terjadinya perzinahan. Dengan perempuan terus bertemu dan berbaur dengan pria-pria kota, maka rasa malu dan enggan yang alaminya tertanam pada mental setiap perempuan, akan tergerus dan terkikis secara sistematis, dan akhirnya akan diganti dengan rasa suka dan nyaman dengan pria-pria tersebut. Harus diingat, bahwa setiap pria asing, biar bagaimana pun adalah pria-pria yang manis, tampan, menggemaskan, lucu dan menghangatkan. Mustahil untuk terus berkeyakinan bahwa perempuan mana pun tidak akan jatuh di dalam perasaan suka dan kangen pada pria-pria tersebut: ini adalah hukum alam, akan selalu ada sensasi indah saat perempuan-perempuan tersebut bersama pria-pria kota, baik di sekolah maupun di tempat kerja. Tanpa disadari perempuan sudah kehilangan rasa malu dan enggannya kepada pria asing: yang semula setiap perempuan diperlengkapi rasa malu dan enggan terhadap pria asing (saat perempuan masih merupakan perempuan rumahan), pada akhirnya rasa / sense tersebut hilang seketika saat perempuan sudah intens berbaur bebas dengan pria-pria asing di luar rumah. Keseluruhan hal tersebut akan berakhir pada tindak zina dan sexbebas.
  2. Dengan perempuan keluar rumah secara intens, maka fenomena PACARAN akan menjadi lumrah, sementara pacaran itu sendiri adalah gerbang utama terjadinya Dengan diberdayakan, maka artinya perempuan akan menuntut untuk menikah setelah adanya pacaran. Dan ini jelas artinya perzinahan.
  3. Dengan perempuan diberdayakan baik di dalam bentuk pendidikan maupun pekerjaan, akan membuat perempuan membenci kodrat dan tugas domestik: mereka akan segera mempekerjakan pembantu rumahtangga dan babysitter untuk membenahi seluruh tetek-bengek urusan domestik, sementara perempuan-perempuan tersebut memilih asyik bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan di luar rumah, sambil berbaurbebas dengan pria asing di tengah kota, yang mana hal tersebut memicu terjadinya perzinahan dan sexbebas, dengan segala turunannya: kondomisasi, perselingkuhan, hamil di luar nikah, mayat bayi buangan di tempat sampah, marak perceraian, pornografi dan pornoaksi, penyakit kelamin, dsb.
  4. Dan akibat dari Emansipasi Wanita, juga pemberdayaan perempuan, akan banyak perempuan yang menuntut pekerjaan, dan ini artinya akan ada infiltrasi perempuan ke dalam pangker (lapangan kerja). Implikasinya, kaum pria akan tercerabut dan akan terdepak dari lapangan kerja. Sejurus kemudian adalah, akan banyak pria pengangguran, karena sumberdaya mereka tidak lagi tertampung di lapangan-kerja, karena lapangan kerja sudah dipenuhi dan diserobot perempuan. Ingat, pengangguran pria akan berimplikasi pada angka kriminalitas, dan pensia-siaan aset bangsa. Ingat juga, bahwa pria adalah tulang punggung keluarga, karena setiap pria berkewajiban untuk menafkahi anak dan keluarga. Artinya, kalau seorang pria menganggur, maka akan ada satu keluarga full yang kelaparan dan tidak mempunyai masa depan. Itu semua jelas, diakibatkan pemberdayaan perempuan, alias Emansipasi Wanita. Secerdas dan sesukses apa pun seorang pria pada studinya, tetap mereka akan menjadi pengangguran dan akan ditolak di lapangan kerja, karena ini bukan masalah kecerdasan dan ijazah cemerlang, namun melainkan seluruh pangker sudah direbut dan diserobot perempuan: begitu banyak pria yang berijazah cemerlang, toh akhirnya menjadi pengangguran alias tidak diterima di tempat kerja, karena banyak posisi pangker sudah dijarah perempuan.
  5. Dengan perempuan diberdayakan, maka mental perempuan akan berubah dramatis: mereka akan kuat dan kritis melawan titah agama, titah moral, titah para tua-tua, titah Nabi saw, titah leluhur, titah kodrat, titah kefitrahan, titah alam, dsb. Mereka akan terus mencibiri dan mengutuki seruan adat dan seruan agama. Yang benar hanya mereka seorang, yaitu perempuan, untuk terus keluar rumah, berbaur bebas dengan pria-pria kota, berangkat pagi pulang malam, berbusana mengumbar aurat, menolak mengurus pekerjaan domestik, menolak mengasuh anak, dsb. Padahal pendirian mereka tersebut sudah berimplikasi pada maraknya perzinahan dan sexbebas, namun tetap mereka tidak perduli, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada hubungan apa pun antara jalan hidup mereka (yaitu Emansipasi Wanita, bekerja, berkarir, berbaur bebas dengan pria asing di tengah kota dsb), dengan pecahnya bencana perzinahan dan sexbebas.
  6. Dengan perempuan diberdayakan, maka bukannya perempuan semakin komit pada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan, mereka malah semakin menjauh dan mengutuki kodrat-kodrat tersebut. Tidak pernah kejadian di mana perempuan yang sudah diberdayakan, membuat mereka semakin mencintai dan mentaati kodrat kewanitaan. Yang tampak adalah sebaliknya, yaitu ketika perempuan sudah diberdayakan (baik berpendidikan tinggi, maupun sudah bekerja dan karir yang mantap), mereka berbalik menjadi begitu menghujat dan mengingkari kodrat-kodrat tersebut. Faktanya di dalam kehidupan ini, tampak berkem-bang profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, karena kehadiran mereka dibutuhkan oleh perempuan-perempuan karir, untuk menggantikan keberadaan perempuan-perempuan tersebut di dapur, di rumah, dan di kamar bayi. Perempuan-perempuan karir sudah tidak ingin faham lagi akan fungsi domestik dan fungsi keibuan untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka. Yang mereka inginkan hanyalah bekerja mencari nafkah dan karir, seperti halnya laki-laki. Maraknya profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, adalah bukti betapa perempuan yang diberdayakan (seperti perempuan karir), begitu membenci dan mengingkari kodrat domestik dan kodrat keibuan mereka sendiri ….. Dengan pemberdayaan perempuan, bukannya kodrat kewanitaan yang mereka taati, justru berbalik, kodrat laki-laki yang mereka tuntut, kodrat laki-laki yang mereka inginkan, kodrat laki-laki yang mereka jarah …..

Keenam  point ini, adalah beberapa point yang akan diderita masyarakat saat mereka mengkondisikan perempuan untuk terus keluar rumah, khususnya untuk pendidikan. Bukti sudah di depan mata, seperti yang dipaparkan pada berita harian Wartakota ini, di mana angka perzinahan terus merebak di tengah kota, yang harus disadari bahwa hal tersebut hanya dipicu dan diakibatkan oleh pemberdayaan perempuan. Tidak ada untungnya memberdayakan perempuan, tidak ada untungnya mensekolahkan perempuan, dan tidak ada untungnya mempekerjakan perempuan di dunia kerja, karena keseluruhan hal tersebut merupakan perbuatan sia-sia. Bukti sudah di depan mata, dan sepanjang tahun, sepanjang kehidupan, perzinahan akan terus merebak sepanjang perempuan dikondisikan untuk keluar rumah.

Penutup.

Satu pertanyaan harus diajukan. Bagaimanakah cara untuk memberantas perzinahan dan sexbebas di tengah masyarakat? Apakah ada satu cara untuk menjauhkan generasi muda dari perbuatan asusila tersebut? Jawabannya hanya satu: dengan kuatnya tekad dan komitmen untuk mendomestikalisasi perempuan. Emansipasi Wanita dan pemberdayaan perempuan (memberi akses pendidikan setinggi-tingginya, dan akses ke dunia kerja) harus dihentikan, dan berganti arah untuk mendomestikalisasi seluruh perempuan. Hanya dengan cara itu, perzinahan dan sexbebas, dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Satu hal yang harus direnungkan adalah, bahwa tidak ada gunanya sama sekali untuk mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan maupun bekerja dan berkarir, seperti halnya laki-laki. Bukti sudah di depan mata: dengan mengkondisikan perempuan keluar rumah, hanya akan berimplikasi pada bencana zina dan sexbebas.***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s