Pemberdayaan Perempuan Dan Analogi Ayam

analogi-ayam

Analogi ayam.

Kisah kehidupan ayam tentu menarik untuk diungkap. Seekor ayam yang berada di tali ikatannya, tentu meronta-ronta untuk minta keluar, khususnya di siang hari. Di lain pihak, sang manusia ingin agar ayam tetap berada dalam tali ikatannya, sebagai hewan kesayangan bagi anak dan keluarganya. Satu hal yang patut diingat, bahwa walau pun sang manusia ingin ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh kebutuhan makan, minum dan keamanan sang ayam tetap terjamin, karena hal tersebut merupakan kewajiban sang manusia. Jadi, walau pun ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh sang ayam akan tetap hidup layak dan makmur …., sementara di luar sana, bukankah banyak  terdapat buaya dan srigala?

Apa pilihannya kalau sang manusia bersedia mengeluarkan ayam dari tali ikatan? Pertama, sekali ayam keluar bebas dari tali ikatan, maka untuk selamanya sang ayam tidak akan bersedia untuk kembali masuk ke dalam tali ikatannya. Kedua, di luar sana, banyak buaya, banyak srigala, dan juga banyak pencuri. Jadi, kalau ayam dilepas dari tali ikatannya, maka apakah ada jaminan bahwa sang ayam akan kembali kepada tali ikatannya ketika sore hari? Tentu saja tidak. Itu pun, di luar sana, sang ayam pasti sudah binasa diterkam buaya maupun srigala, terlebih para pencuri sudah siap untuk mencuri sang ayam. Keseluruhan hal tersebut tentu tidak diinginkan oleh sang manusia, dan sang ayam itu sendiri.

Taruh kata sang ayam selamat karena tidak diterkam siapa pun, dan juga tidak dicuri siapa pun. Namun kemudian, apakah sang ayam akan sudi kembali kepada tali ikatannya di kediaman sang manusia? Nonsense! Tidak pernah ada ayam yang sudi pulang ke pautan.

Namun yang jadi pertanyaan adalah, mengapa sang ayam sangat ingin ter-bebas dari tali ikatan? Bukankah makan dan minum, plus keamanan, sudah terjamin di kediaman sang manusia? Apakah hal tersebut masih kurang buat sang ayam? Kalau pun sang ayam ingin terbebas dari tali ikatan, maka bukan-kah yang ingin dicari di dalam kebebasannya adalah makan dan minum juga? Lantas apa bedanya saat sang ayam tetap berada pada tali ikatannya? Buat apa jauh-jauh mengelana hanya untuk mencari makan dan minum, sementara makan dan minum enak sudah terjamin di kediaman manusia?

Begitulah kisah sang ayam.

Pemberdayaan Perempuan.

Perempuan adalah spesies yang hidup berdasar kodrat domestik. Dengan kodrat ini, perempuan dikondisikan untuk senantiasa berada di rumahnya, untuk menyelesaikan tugas domestiknya seperti memasak, mencuci baju, member-sihkan rumah, dan mengasuhi serta mengasihi anak-anak. Dengan menunaikan seluruh tugas tersebut, maka dengan sendirinya sang perempuan terjaga kesucian dan kemurnian fikiran dan dirinya, sebagai perempuan, istri dan sebagai ibu. Penting untuk ditegaskan, bahwa tidak ada yang lebih besar di dalam kehidupan ini kecuali kemurnian dan kesucian seorang perempuan.

Namun dari suatu arah, Emansipasi Wanita menggejala di tengah umat. Kaum perempuan mulai kehilangan orientasi, dan berkeinginan kuat untuk keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, baik di dalam hal akses pendidikan maupun akses pekerjaan mencari uang, karir dan jabatan.

Pada awalnya perempuan menuntut akses pendidikan, pendidikan yang setinggi-tingginya. Perempuan-perempuan senior melantangkan hak remaja perempuan untuk bersekolah, yang mana itu artinya perempuan senior menuntut seluruh keluarga untuk mengkondisikan anak perempuan keluar rumah, keluar dari kodrat domestik, setiap hari. Mengirim anak-anak perempuan ke sekolah diperlihatkan sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh dilanggar, sehingga melarang anak perempuan menuntut Ilmu dapat dianggap kejahatan modern.

Setelah anak perempuan menamatkan sekolah, apa yang mereka inginkan? Bekerja: mencari uang, karir dan jabatan. Dan itu artinya perempuan akan semakin jauh dari alam domestik. Adalah tidak mungkin ketika perempuan menamatkan pendidikan, mereka semakin tersadarkan pada kodrat domestik. Tidak pernah ada data statistik dan pengalaman yang menunjukkan bahwa ketinggian Ilmu yang didapat perempuan di sekolah, membuat mereka semakin menyadari kodrat domestik dan kodrat kewanitaan mereka.

Begitu perempuan keluar rumah (secara permanen, setiap hari) untuk mendapatkan pemberdayaan, maka apakah ada jaminan bahwa perempuan akan kembali kepada tugas dan kodrat domestik mereka? Tidak. Sekali perempuan mendapatkan pemberdayaan (di luar rumah), maka selamanya perempuan tidak akan pernah sudi lagi untuk menggeluti dan menepati kodrat domestik yang sebenarnya merupakan takdir mereka. Dengan diberdayakan, maka perempuan akan sulit memahami tugas memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuhi dan mengasihi anak, dsb.

Semakin mereka berintelektual dan diberdayakan, maka semakin mereka mempunyai posisi untuk menolak alam domestik, sehingga yang mereka inginkan hanya keluar rumah setiap hari untuk …..

  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!).

Para wanita yang diberdayakan yang kemudian dinamakan kaum sophis, sudah tidak ingin tahu-menahu soal …..

  • Dapur,
  • Mengupas dan mengiris bawang,
  • Mencuci baju,
  • Mengurus cirit sang anak,
  • Merawat dan membesarkan anak,
  • Merapikan rumah dan tempat tidur,
  • Menjahit baju,
  • Mencuci piring, dsb.

…….. karena mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria, yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang. Karena mereka terus dikondisikan untuk keluar rumah, yang betujuan untuk pemberdayaan, maka akhirnya mereka berfikir bahwa tidak semestinya mereka masih berkutat pada pekerjaan domestik!! Artinya, untuk selamanya perempuan tidak akan pernah kembali kepada alam domestik: itulah kalau perempuan diijinkan untuk keluar dari alam domestik.

Kehancuran umat dewasa ini, dekadensi moral umat dewasa ini, total tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya program pendidikan formal untuk anak-anak perempuan. Di satu ujung Pemerintah dan umat mulai mengembangkan program pendidikan formal untuk anak perempuan, maka di ujung lain kehancuran umat dan kebengalan wanita telah tercipta. Ketika umat menerangkan visi-visi mensertakan perempuan dalam program pendidikan di dalam suatu gedung, maka di luar gedung itu telah marak terjadi:

•    Pelacuran.
o    Perzinaan.
o    Halalisasi perzinaan.
o    Pornografi.
o    Aborsi.
o    Freesex.
o    Striptis.
o    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
o    Pemerkosaan.
o    Perselingkuhan.
o    Khalwat.
o    Pacaran.
o    Bergonta-ganti pacar.
o    Mayat bayi di tempat sampah.
o    Hamil di luar nikah.
o    Kondomisasi.
o    Kumpul kebo.
o    Perawan tua.
o    Bujang lapuk
o    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
o    Genitisasi / Ganjenisasi.
o    Perceraian pasangan muda.
o    Sutari (Suami Takut Istri).
o    Marak profesi pembantu rumah tangga.
o    Marak profesi babysitter.
o    Marak profesi PSK
o    Pengangguran di kalangan pria yg berimbas pada kriminalitas. Dsb.

Tidak diragukan lagi, bahwa adalah berbahaya untuk mengijinkan atau mengkondisikan perempuan keluar rumah setiap hari secara permanen, untuk tujuan pembedayaan, semisal meraih pendidikan …. karena sekali mereka keluar rumah, maka untuk selamanya mereka tidak akan kembali ke rumah untuk mentaati kodrat domestik, untuk selama-lamanya. Sekali mereka keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, maka untuk selamanya mereka akan membenci Alam domestik, dan membenci kodrat domestik yang telah Tuhan tetapkan atas mereka.

Penutup.

Di satu pihak, kita melihat bahwa melepaskan ayam dari tali ikatan –tidak memberi jaminan bahwa di sore hari ayam akan kembali kepada tali ikatannya. Dan di lain pihak, memberi ijin perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan (seperti bersekolah atau bekerja mencari uang dan jabatan) tidak memberi kemungkinan bahwa perempuan tersebut akan kembali kepada kodrat domestik mereka, bahkan lebih buruk lagi, perempuan akan menjadi begitu membenci dan menghujat kodrat domestik.

Belum selesai sampai di situ. Ayam yang tidak pernah kembali kepada tali ikatan, pun akan menghadapi marabahaya buaya maupun serigala, belum lagi bahaya dicuri penjahat. Begitu juga, perempuan yang tidak pernah kembali kepada alam domestik, di luar rumah pun dijejali fitnah kehidupan seperti perzinahan, pamer aurat, pemerkosaan, gonta-ganti pacar, aborsi, dsb. Dan ungkapan ini adalah fakta kehidupan, bukan fatamorgana.

Akhir kata, semua bencana dan marabahaya ini harus ditumpas. Satu-satunya cara adalah dengan menumpas faham Emansipasi Wanita, dan mengukuhkan perempuan atas takdir domestik. Di sanalah letak maslahat untuk perempuan itu sendiri, dan juga maslahat seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s