Mengapa Perempuan Gemar Menjarahi Kodat Pria?

Pria dan perempuan tentunya adalah dua mahluk yang berbeda, apalagi berbeda di mata Illahi. Dari sisi Illahi, perbedaan antara perempuan dan pria khususnya tampak di dalam hal kodrat: kodrat pria berbeda dari kodrat kaum perempuan, dan perbedaan tersebut berdasar pada perbedaan fisik, mental sprititual, akal fikiran, dan yang terutama, beda berdasar fitrah kemanusiaan, yang akan terus berlaku sepanjang jaman.

Fakta kehidupan masa sekarang memperlihatkan banyaknya kaum wanita yang menjarahi kodrat pria, dan dengan serta-merta perempuan-perempuan tersebut meninggalkan kodrat mereka sendiri. Emansipasi Wanita, atau juga faham persamaan gender, sebenarnya adalah saat di mana kaum perempuan berdiri dengan kokoh untuk menentang kodrat kewanitaan mereka, dan pada saat yang bersamaan menjarahi kodrat kaum pria. Secara visual, hal perempuan menjarahi kodrat pria tampak pada,

  • Keluar rumah untuk pemberdayaan,
  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Menjadi politisi,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Menandatangani perjanjian kerjasama perusahaan,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!). Mereka tidak lagi memikirkan atau berkutat di dalam hal mencuci piring, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dsb, karena seluruh pekerjaan tersebut sudah dilimpahkan kepada pembantu rumahtangga dan babysitter. Intinya, gaya kehidupan ini benar-benar diarahkan oleh kaum perempuan demi bisa menjarahi kodrat pria, yang hanya memikirkan pekerjaan dan karir, pun di rumah tidak memikirkan / berkutat di dalam hal pekerjaan domestik atau pun juga mengasuhi anak.

Timbul pertanyaan. Mengapa perempuan begitu berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, dan pada saat yang bersamaan mengutuki kodrat kewanitaan mereka sendiri? Di bawah ini akan diajukan beberapa faktor penyebab perempuan cenderung menjarahi kodrat kaum pria, bukannya menekuni dan taat-setia kepada kodrat mereka sendiri.

Diberdayakan secara intelektual.

Sistem sosial seluruh Pemerintah di dunia tampaknya meniscayakan pembangunan intelektual bagi kaum perempuan, mulai dari anak hingga setinggi-tingginya, dan keniscayaan ini melahirkan perempuan-perempuan yang diberdayakan secara intelektual. Faktanya, perempuan yang diberdayakan secara intelektual berbanding lurus dengan tingginya ambisi mereka untuk menjarahi kodrat pria –sambil– mengutuki kodrat domestik yang menjadi kealamiahan mereka. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan hanya melahirkan perempuan-perempuan yang engkar terhadap kodrat domestik, kodrat kewanitaan, yang berlanjut kepada tuntutan untuk menjarahi kodrat pria, seolah mereka minta dan menuntut untuk dipandang sebagai pria juga, diperlakukan sebagai pria juga, diberi hak dengan haknya kaum pria, dan diberi kewajiban dengan kewajiban kaum pria juga.

Hanya dengan diberdayakan secara intelektual sajalah, perempuan menjadi ganas untuk merebut dan menjarahi kodrat pria, sementara perempuan-perempuan sederhana, alias perempuan domies, yang tidak mengalami pembangunan intelektual, alias tidak disekolahkan setinggi-tingginya, tetap tinggal sebagai perempuan yang taat-setia kepada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan.

Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ilmu dan kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya ingin kembali ke rumah untuk menjalani peran domestik, buat selama-lamanya. Tidak mungkin bahwa kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya sadar akan kodrat kewanitaannya untuk berteguh kepada peran domestik. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel “Metodologi Pendidikan Yang Tepat Untuk Kaum Wanita”.

Itulah kalau perempuan diberdayakan secara intelektual.

Penting untuk disampaikan, bahwa faktor pemberdayaan perempuan secara intelektual ini, akan terus berperan di dalam faktor-faktor berikutnya. Dengan kata lain, faktor lain yang menyebabkan perempuan menjarahi kodrat pria, tetap berpangkal pada pemberdayaan perempuan secara intelektual ini.

Kaum perempuan memiliki Iman yang lemah.

Perempuan, selain mempunyai akal yang lemah, juga disepakati mempunyai Iman yang lemah. Kelemahan Iman inilah yang membuat perempuan gampang sekali menyimpang jauh dari kodrat alamiahnya setelah mereka mendapat pemberdayaan intelektual. Menyimpang jauh dari kodrat alamiah, maksudnya adalah bahwa perempuan begitu mudahnya mendustai kodrat domestik dan kemudian menjarahi kodrat pria. Mudah sekali perempuan memberontak terhadap tuntutan kodrat demi mendapat-kan akses kepada kodrat pria.

Sungguh pun demikian, patut untuk dikemukakan di sini, bahwa lemahnya Iman yang diderita kaum perempuan, sebenarnya juga merupakan tanda alam, karena secara takdir perempuan memang diciptakan dengan Iman yang lemah. Namun karena intelektual mereka telah terbangun lantaran mereka diberi pendidikan formal nan setinggi-tingginya, maka kelemahan Iman yang mereka derita pun menjadi bumerang, tidak saja bagi diri mereka sendiri, namun juga bagi seluruh umat dan keluarga.

Iri kepada kodrat kaum pria.

Lemahnya mental perempuan, juga ditandai dengan begitu mudahnya perempuan merasa iri terhadap kodrat kaum pria, ketika mereka melihat kaum pria maju sebagai pemimpin yang sukses, raja yang agung, matematikawan yang cerdas, penemu teknologi yang mumpuni, filsuf yang berkharisma, dsb. Mereka melihat kaum pria setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, yang dengan uang dan karir tersebut sang pria menjalani kehidupan yang cerlang-cemerlang …  Akibatnya, kaum perempuan menjadi begitu gigih berjuang untuk mendapatka hal-hal yang didapat kaum pria, untuk menjadi sama dengan kaum pria (padahal kodrat mereka jelas berbeda dari kaum pria).

Sifat iri yang ada pada diri seorang perempuan sudah termaktub di dalam Alquran,

[4:32] Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini mengkonfirmasi bahwa salah satu sifat alami perempuan adalah adanya perasaan iri kepada kaum pria. Dengan demikian sifat iri ini sebenarnya adalah tanda alam yang menyertai penciptaan seorang perem-puan, namun karena intelektualitas seorang perempuan terbangun melalui pemberdayaan, maka efeknya sifat iri ini menjadi bencana dan kesalahan yang menghancurkan sendi kehidupan. Dengan kata lain, kalau seorang perempuan tidak mendapatkan pemberdayaan –khususnya pendidikan formal nan setinggi-tingginya- dapat dipastikan kecil kemungkinannya seorang perempuan dijerumuskan oleh rasa irinya kepada kaum pria.

Pekerjaan pria sudah dipermudah teknologi.

Di jaman dahulu ketika manusia belum menemukan teknologi, kaum pria sebagai pencari nafkah keluarga harus bekerja susah payah demi anak-anaknya. Pada masa tersebut tidak ada satu pun perempuan yang tergerak untuk menjadi seperti pria, yang setiap hari keluar rumah bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan …. Justru kala itu seluruh perempuan teguh dengan kodrat domestik, lantaran ketiadaan teknologi membuat pekerjaan menjadi susah dan berat, sehingga alam fikiran kaum perempuan tidak sampai ke sana, yaitu berfikir ke arah menjarahi kodrat pria, untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Namun jaman berubah, dan perubahan itu tampaknya dominan dipengaruhi kemajuan teknologi yang membuat banyak pekerjaan yang semula sukar dan berat menjadi mudah dan menyenangkan. Pada jaman inilah alam fikiran perempuan terbuka untuk menuntut akses kepada pekerjaan, karena mereka melihat seluruh pekerjaan sudah menjadi mudah dikarenakan teknologi yang serba ajaib. Untuk lebih lanjut mengenai hubungan antara teknologi dan Emansipasi Wanita, silahkan baca Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang.

Hanya karena teknologi yang canggih, kaum perempuan jadi berbalik mengutuki alam domestik, dan juga menghujat kodrat kewanitaan –termasuk di dalamnya menghujat kodrat untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak darah-daging mereka sendiri. Dan hanya karena teknologi, perempuan jadi berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, yaitu keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, menjadi Presiden, Menteri, karyawan, pemimpin agama, direktur, peneliti dsb. Itu semua hanya karena teknologi yang serba memudahkan pekerjaan.

Ketika perempuan mendapat pemberdayaan intelektual, kecanggihan teknologi membuat mereka begitu berambisi untuk menjarahi kodrat pria, karena dengan teknologi seluruh pekerjaan pria menjadi mudah dan menyenangkan, sehingga kaum perempuan juga terkesan untuk turut menikmatinya. Perempuan yang diberdayakan, plus teknologi, adalah resep rumit yang mengakibatkan mengganasnya gerakan Emansipasi Wanita dan juga persamaan gender. Bisa dibayangkan, jika perempuan tidak mengalami pemberdayaan intelektual, maka perempuan akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik, kendati  teknologi canggih telah banyak memudahkan pekerjaan kaum pria: sehebat dan seajaib apa pun teknologi mempermudah pekerjaan pria untuk mencari nafkah, maka tetap kaum perempuan tidak akan terpengaruh, selama kaum perempuan tidak mengalami pemberdayaan, khususnya secara intelektual.

Pekerjaan domestik dianggap terbelakang.

Ketika seorang perempuan telah paripurna mendapatkan kesarjanaan (diberdayakan dan berintelektual), maka dengan sendirinya psikologi sang perempuan akan merasakan aroma ketertinggalan dan keterbelakangan pada kodrat domestik yang hanya berkutat pada pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci baju, merapikan rumah, mengurusi anak dsb. Dengan kata lain, pemberdayaan membuat perempuan berfikir bahwa sudah saatnya perempuan meninggalkan ranah domestik menuju ranah publik untuk mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria. Perempuan yang diberdayakan sudah tidak sudi lagi untuk terus tinggal di rumah dan bekerja di dapur sambil membersihkan cirit sang anak. Singkat kata, pemberdayaan telah menjadikan psikologi kewanitaan ‘terkilir’ (twisted) sedemikian rupa. Pemberdayaan membuat perempuan berfikir, bahwa kodrat domestik adalah kesalahan.

Kebalikannya, perempuan yang dijauhkan dari pemberdayaan, perempuan yang tidak diberi hak dan akses kepada pendidikan formal (setinggi-tingginya) tetap akan menjadi perempuan yang sederhana, yang taat-setia kepada kodrat domestik, untuk terus tinggal di rumah, memasak bagi keluarga, mencuci baju, merapikan rumah, mengasuhi anak-anak, menunggu suami pulang, dsb.

Pada point ini sudah jelas, bahwa bangkitnya kaum perempuan untuk berfikir bahwa peran domestik merupakan ketertinggalan (sehingga harus dilawan dengan cara keluar rumah menuju ranah publik untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria), hanya disebabkan oleh pemberdayaan intelektual. Perempuan tidak mempunyai Iman yang kuat, di mana jiwanya akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik walau pun ia telah mempunyai tingkat kesarjanaan setinggi gunung mahameru: itu tidak mungkin. Begitu seorang perempuan telah menjadi bintang di kelasnya, di kampusnya, maka sontak ia akan memvonis bahwa kodrat domestik merupakan ketertinggalan, sehingga kodrat tersebut harus ditinggalkan, untuk kemudian dapat menyamakan diri dan derajatnya dengan kaum pria, yang setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kemandirian keuangan dianggap kesuksesan.

Ketika seorang perempuan telah mendapatkan pemberdayaan intelektual, maka secara alamiah akan tertanam di dalam psikologinya suatu faham bahwa kehidupan yang sukses adalah ketika seseorang telah mandiri di dalam hal keuangan. Oleh karena itu, perempuan yang diberdayakan mempunyai orientasi berfikir untuk selalu bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya, agar dengan demikian ia akan mempunyai kemandirian keuangan, sebagaimana halnya kaum pria. Terlebih, perempuan yang diberdayakan melihat, bahwa ketergantungan keuangan terhadap kaum pria merupakan suatu ketimpangan dan ketidakadilan.

Perempuan yang diberdayakan (yang beroleh pendidikan setinggi-tingginya) melihat, bahwa sudah saatnya perempuan terbebas dari ketergantungan terhadap pria, dan salah satu aspeknya adalah terbebas dari ketergantungan keuangan terhadap pria. Tidak ada yang ingin dicapai kaum perempuan yang diberdayakan, kecuali mempunyai kemandirian terhadap pria, khususnya kemandirian secara keuangan.

Kebalikannya, perempuan yang sederhana, yang tidak beroleh pendidikan setinggi-tingginya, tidak akan membiarkan alam fikiran sampai kepada faham bahwa mereka harus memandirikan keuangan mereka terhadap kaum pria. Mendapatkan limpahan keuangan dari keluarga, merupakan bentuk kasih-sayang yang dirasakan kaum perempuan dari keluarga.

Untuk lebih jauh mengenai point ini, silahkan baca artikel berikut, Mengapa Perempuan Harus Mandiri Dan Terlepas Dari Lelaki.

Untuk psikologi itulah, perempuan menjadi begitu ganas untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, semua itu mereka lakukan dengan cara menjarahi kodrat kaum pria, dan jelas sekali mereka ingin dan harus melupakan bahwa mereka adalah kaum perempuan, yang seutuhnya berbeda dari lelaki.

Penutup.

Beberapa point di atas menunjukkan pandangan mengapa perempuan begitu ganas untuk menjarahi kodrat pria, dan faktor-faktor penyebab yang membuat perempuan berorientasi untuk menjarahi kodrat pria, sama sekali bukanlah hal yang poisitif secara nurani dan filosofi. Sungguh, kaum perempuan telah terlibat dalam tindakan yang tidak terpuji, sikap yang sembrono dan brutal …..

Intinya, terjerumusnya perempuan kepada sikap yang ingin menjarahi kodrat pria, benar-benar dipicu oleh adanya program pemberdayaan yang ditujukan kepada kaum perempuan, dan sekali lagi, program tersebut adalah suatu kesalahan fatal, karena sama sekali tidak membawa maslahat bagi siapa pun.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s