Kesetaraan Gender Dalam Alkitab

ibudankanak

Oleh Ellys Sudarwati., SH, YLPHS.

Dalam tulisan kali ini kita akan membahas keteraan gender dalam Aklitab, tetapi rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan lah yang sering menjadi korban atau mengalami kekerasan baik dalam rumah tangga, lingkungan maupun dalam lingkup organisisasi dan masyarakat. Tulisan ini akan mengarah kepada pandangan Kristen tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Di dalam Alkitab pada Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka“, di sini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta.

Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan “Segambar” dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa.

Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini“. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita.

Kini kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran melihat pejabat di Republik ini diisi kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati, Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30% kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.

Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam “rekan sekerja” dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga.

Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?

Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih dalam kandungan sampai sudah di dunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk menjalankan tugas tersebut.

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Pada masa sekarang menghadapi era informasi di mana kedudukan kaum perempuan di banyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal di mana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan di sinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji.

Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor-duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.

Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak adanya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah tangga akan menurun -dan kerukunan baik di dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia yaitu “KASIH”.

Sumber,

https://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=797

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini telah mengajukan suatu ide yang benar mengenai hakekat dan peran alamiah seorang perempuan. Pertama, artikel ini mengetengahkan isu bahwa ‘perempuan karir’ banyak menimbulkan masalah domestik, seperti bilamana gaji sang istri jauh lebih baik dari pendapatan sang suami, hal mana keadaan tersebut pasti memantik ketidakharmonisan di dalam rumahtangga.

Kedua, yang merupakan inti dari peran dan hakekat seorang perempuan, artikel ini mengusung isu bahwa perempuan diciptakan untuk mengurusi dan membesarkan anak-anaknya di rumah, yang tentunya hal tersebut hanya dapat ditunaikan di rumah, bukan di tempat kerja atau lainnya. Artinya, Gereja mempunyai faham bahwa tempat perempuan yang terbaik dan Illahiah adalah tetap di rumahnya, karena perempuan adalah mahluk domestik, pun agar tugasnya sebagai ibu tetap terjalin dengan baik, yaitu untuk membesar-kan anak-anak.

Di atas segala-galanya, artikel ini telah menegaskan, seperti di dalam paragraf nya,

“ ……. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya …..”.

Inilah pernyataan yang memang harus dinyatakan, dan yang harus diperjuangkan, sekaligus harus disadari setiap orang, khususnya kaum perempuan. Kecendrungan dewasa ini, Emansipasi Wanita maupun Persamaan Gender telah membuat perempuan ingin menempatkan diri mereka sebagai laki-laki, atau perempuan ingin dianggap sebagai laki-laki, atau perempuan ingin diperlakukan sebagai laki-laki. Inilah yang salah dan keliru, karena dengan hal ini, berarti kaum perempuan MENYESALI akan takdir mereka sebagai perempuan, seolah terlahir sebagai perempuan sama sekali bukanlah hal yang mereka inginkan. Dan keseluruhan hal tersebut hanya terdapat di dalam Emansipasi Wanita dan ekstrimisnya, yaitu Persamaan Gender.

Itulah sebabnya, Emansipasi Wanita haruslah ditumpas dari muka bumi, dari di dalam kehidupan ini, karena Emansipasi Wanita dan Persamaan Gender benar-benar bertentangan dengan hukum alam, dan juga bertentangan dengan hukum Tuhan. Terlebih lagi, Emansipasi Wanita telah memicu terjadinya banyak ketidakharmonisan di mana-mana.

Artikel ini yang sebenarnya merupakan artikel kekristenan, telah menyiratkan bahwa penolakan terhadap Emansipasi Wanita tidak saja terjadi di dalam umat Muslim, melainkan juga terjadi pada umat Kristiani, yang sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa. Umat Muslim dan umat Kristiani sama-sama memafahami, bahwa tugas mulia seorang perempuan adalah di rumah, untuk membesarkan anak-anaknya, dan melayani keluarga secara domestik: dan tidak ada yang salah dengan itu, karena keseluruhan hal tersebut merupakan hukum alam dan juga fitrah kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s