Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag01

rupa-rupa.marah-709

Perempuan yang bekerja mencari uang (karir dan jabatan), tentulah mau tidak mau harus terlibat di dalam hal penggunaan uangnya di lingkup rumah-tangganya, khususnya di dalam hubungannya dengan anak-anaknya, suaminya dan juga keluarganya. Dan karena si perempuan itu yang mencari uang, maka tampaknya penggunaan uang tersebut di tengah keluarga haruslah menurut kehendak si perempuan tersebut. Artinya, anak dan suaminyalah yang harus taat dan tunduk kepada si perempuan tersebut di dalam cara penggunaan uang.

Ringkasnya, sang suami harus tunduk pada istrinya di dalam hal bagaimana uang tersebut digunakan, karena uang tersebut merupakan hasil pencarian sang istri. Sekali lagi, sang suami harus tunduk kepada sang istri di dalam hal bagaimana uang tersebut dibelanjakan.

Bagaimana kalau sang anak, dan atau juga sang suami, ternyata menghabiskan / menggunakan uang tersebut di dalam cara yang tidak direncanakan sang istri? Bagaimana kalau ternyata untuk suatu alasan uang tersebut habis tiba-tiba? Tentulah sang istri akan marah-marah, ngamuk, ngedumel, ngomel-ngomel tidak karuan ….. dsb. Untuk sekedar dicatat di sini, sang istri pasti ngomel-ngomelnya kepada sang suami, marah-marahnya kepada sang suami. Kalau marah kepada sang anak lantaran penggunaan uang yang tidak sesuai rencana, mungkin masih bisa dibenarkan: marah kepada anak masih dapat dikatakan pantas dan wajar. Namun kalau sang istri marah-marah kepada sang suami?

Sang istri akan marah-marah kepada suami, memarahi sang suami tidak karuan, dan tentulah dari mulut sang istri akan keluar kata-kata yang tidak pantas …. Pada intinya, sang istri akan berkata,

“……… Mamah kerja banting tulang cari uang, ternyata uang itu tidak dihargai dihambur-hamburkan seenaknya saja, seolah uang boleh petik di pohon sepanjang jalan …. Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….eh sekarang uang tersebut dibuang-buang kangmas dan anak-anak seperti tidak ada harganya saja …… Apa gak bisa kangmas sedikit saja menghargai mamah yang sudah capek kerja seharian cari uang di kantor?”.

Mari kita bahas ………..

Potongan cerita di atas, tentulah bukan isapan jempol belaka, pastilah cerita tersebut merupakan cermin dan fakta kehidupan sehari-hari yang dilalui rumahtangga yang istrinya bekerja mencari uang (karir dan jabatan). Tidak semua rumahtangga berakhir dengan cerita seperti itu, tentunya. Namun pastilah cerita tersebut sudah akrab bagi masyarakat mana saja, yang menganut Emansipasi Wanita, di mana perempuan dan istri diberi akses seluas-luasnya untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Pertama.

Sang istri …….,

  • karena bekerja mencari uang (karir dan jabatan),
  • pun karena (merasa) mempunyai posisi formal dan juga otoritas di kantornya,
  • terlebih karena merasa dirinya adalah sumber nafkah keluarga ……,

…… tiba-tiba berubah menjadi sosok yang merasa mempunyai hak untuk memarahi dan memaki-maki sang suami –untuk alasan apa pun. Tidak sampai di situ, justru sang istri menuntut sang suami untuk tunduk kepada sang istri, manut kepada sang istri, tidak melawan kepada istri, dan merasa sudah sepantasnya sang suami manut serta tidak melawan kepada sang istri (kalau dimarahi), karena sang istri bukanlah perempuan sembarangan (bukan ibu rumahtangga thok), melainkan perempuan pejabat formal di kantor, yang mempunyai penghasilan uang untuk nafkah, dsb.

Secara sempit, pastilah sang istri, perempuan yang bekerja mencari dan mempunyai gaji dan jabatan formal itu, mau-tidak-mau akan merasa bahwa dirinya harus dihormati dan dipatuhi, dan di dalam lingkup rumahtangga-nya, sang suamilah yang harus tunduk dan patuh kepada sang istri, karena istrilah yang bekerja dan cari duit. Itu memang sudah logikanya.

Logikanya, dia (siapa saja) yang bekerja dan yang mempunyai uang, maka dialah yang merasa yang harus dipatuhi dan dituruti, dan kalau tidak, kemarahanlah yang akan terjadi. Logikanya, itu uang adalah uang dia, dia yang cari, dia yang kerja, maka dialah yang mengatur bagaimana cara uang tersebut dibelanjakan. Jadi, dia-lah yang mengatur segala-galanya, termasuk yang mengatur suami, karena sumber uang dia yang pegang. Ini artinya: sumber konflik ….. kalau uang tersebut digunakan di luar rencana yang mencari uang, maka pastilah kemarahan yang terjadi, tidak perduli bahwa yang menjadi sasaran kemarahan adalah suaminya sendiri, yang adalah laki-laki dan kepala keluarga.

Analoginya, tidak ada manusia yang ingin terbang ke langit. Namun kalau sepasang sayap diberikan kepada manusia, tiba-tiba manusia tersebut ingin terbang melintasi langit setiap hari …. Begitu jugalah keadaannya dengan perempuan yang bekerja dan mempunyai gaji: sebenarnya tidak ada perempuan yang ingin dan berani memarahi laki-laki, namun kalau perem-puan tersebut diberi akses bekerja mencari uang (karir dan jabatan), maka tiba-tiba perempuan tersebut ‘berubah haluan’, memajukan gigi-giginya supaya laki-laki mana saja patuh dan tunduk kepadanya, apalagi suaminya, dan supaya laki-laki itu tidak melawan kepadanya saat dimarahi, karena sumber uang istri-lah yang pegang.

Dia seorang perempuan, dia seorang wanita. Dia tidak sadar, siapa yang dia lawan, siapa yang dia tuntut untuk tunduk kepadanya. Dia seorang perem- puan biar bagaimana pun, namun dia yang menuntut suaminya yang laki-laki untuk tunduk kepadanya, patuh kepadanya, dan harus diam kalau dia memarahinya …. Apakah pantas seorang perempuan menuntut dan memerintah laki-laki untuk tunduk dan patuh kepadanya, untuk tidak melawan kepadanya kalau sedang memarahinya? Apakah pantas di mata insan mana pun seorang pria tunduk dan manut kepada perempuan, apalagi perempuan tersebut adalah istrinya?

Jelas, Emansipasi Wanita telah membuat psikologi perempuan jungkir-balik, dan karenanya hirarki rumahtangga menjadi jungkir-balik. Sungguh luar biasa efek Emansipasi Wanita terhadap perempuan. Sungguh luar biasa efek yang ditimbulkan oleh karir dan jabatan kalau diserahkan kepada perempuan!!!

Sama-sama diketahui, bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang membuat perempuan jadi ingin dan berani memarahi dan mengatur-atur pria dan suaminya sedemikian rupa, kecuali Emansipasi Wanita! …… kecuali Persamaan Gender! Hanya Emansipasi Wanita-lah satu-satunya kekuatan yang dapat mengubah perempuan dari mahluk yang segan, manut dan tunduk kepada ayah dan suami, menjadi mahluk yang begitu berani dan garang memarahi suami, dan menuntut suami untuk tunduk kepadanya, dan menuntut suami untuk tidak melawan kalau ia memarahinya.

Singkat kata, alam Emansipasi Wanita telah melumrahkan seorang suami atau laki-laki dimarahi dan dibentak-bentak para istri, kendati nurani insani mana pun tidak mensahkannya.

Kedua.

Sudah jamak terjadi di dalam kehidupan ini di mana seorang istri pekerja -berani dan terbiasa- memarahi sang suami lantaran soal uang, karena uang itu adalah hasil pencarian sang istri. Di satu sisi uang tersebut adalah hasil pencarian sang istri, maka itu berarti sang suami harus patuh kepada (cara) sang istri di dalam membelanjakannya. Dan kalau untuk suatu alasan uang tersebut habis di tangan suami, atau uang tersebut digunakan tidak menurut rencana sang istri, maka pastilah sang istri akan marah dan memarahi suami. Namun di sisi lain, suami adalah seorang laki-laki, seorang kepala keluarga, ia mempunyai harga diri seorang laki-laki, harga diri seekor elang penguasa langit. Baiklah sang suami tidak bekerja dan oleh karena itu tidak mempunyai penghasilan, namun toh tetap saja  dia adalah seorang pria.

Jadi, kalau satu sisi (istri mempunyai gaji, dan kemudian marah kepada sang suami) berbenturan dengan sisi lainnya (suami adalah seorang pria dengan harga diri seekor elang), maka pecahlah konflik yang harus dialami sang suami. Kalau ia berdiam diri, itu sulit, karena dirinya adalah seorang laki-laki lengkap dengan harga diri seorang laki-laki: bukan pada tempatnya seorang laki-laki tertunduk kalau dimarahi perempuan atau istrinya sendiri. Namun kalau ia tersulut emosi lantaran dimarahi sang istri, maka itu berarti terjadi cekcok rumahtangga, adu mulut, dan bahkan adu fisik. Latar belakang ini akan memunculkan tiga kondisi yang ironis:

Kondisi pertama, sang suami tersulut emosinya, maka terjadilah KDRT. Kalau hargadiri seorang suami yang adalah laki-laki tersinggung karena kemarahan dan arogansi seorang perempuan, maka pasti bangkitlah amarahnya, dan ini berarti akan terjadi kekerasan. Sang suami secara alamiah akan ‘main tangan’ kepada sang istri, hanya untuk istrinya sadar bahwa ia hanyalah seorang perempuan -supaya jangan lancang dan melampaui batas keperempuanan-nya, supaya perempuan itu tahu diri bahwa emosi dan kesabaran laki-laki ada batasnya, dan tidak mungkin laki-laki akan bersedia tertunduk untuk selama-lamanya kalau dimarahi perempuan. Laki-laki dimarahi laki-laki lain saja tidak mau, apalagi dimarahi perempuan, walau pun perempuan itu adalah istrinya. Dan adalah suatu yang keterlaluan (yang amat sangat) kalau perempuan berkhayal bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang selamanya akan bersedia untuk tertunduk kalau dimarahi perempuan.

Singkat kata, akan terjadi KDRT terhadap istri. Kalau sudah begini, maka urusannya adalah kepada aparat kepolisian, di mana sang istri dan keluarga-nya akan melaporkan suaminya ke pihak yang berwajib. Kalau sudah begini, suami akan berdalih apa? Intinya, publik dan polisi akan tutup mata dan tutup telinga bahwa seluruh kekacauan itu sebenarnya terjadi hanya karena sang istri yang begitu lancang dan ‘gagah berani’ memarahi sang suami begitu rupa, dan itu kembali ke masalah uang sang istri, dan pada gilirannya akan kembali kepada alam emansipasi wanita, karena telah memberi akses pekerjaan kepada kaum perempuan.

Kondisi kedua, sang suami begitu memikirkan resiko pidana dan kekerasan, oleh karena itu sang suami lebih memilih untuk tertunduk dan manut kepada amarah sang istri, untuk selama-lamanya. Dari sini lahirlah fenomena SUTARI alias SUAMI TAKUT ISTRI yang seujung dunia pun tidak akan pernah bersesuaian kepada logika dan nurani insan mana pun. Pada fenomena SUTARI inilah, kaum perempuan sudah merasa menang, karena berhasil melumpuhkan para lelaki. Namun harus diingat, bahwa menang tidak otomatis berarti benar. Di sinilah letak praharanya. Bagi perempuan yang mempunyai gaji dan mengendalikan keuangan keluarga, melumpuhkan suami merupakan bentuk kemenangan egosentrisme-nya. Namun bukankah di pihak lain, adalah tidak bersesuaian dengan fitrah kalau perempuan menuntut laki-laki tunduk kepada perempuan?

Dan egosentrime perempuan itu pun juga tumbuh karena ditumbuhkan oleh alam emansipasi perempuan, di mana perempuan diberdayakan baik secara intelektual dan finansial, yaitu diberi akses untuk bekerja. Dan seluruh egosentrime perempuan itu kembali ke masalah pemberdayaan perempuan sejak semula, alias alam emansipasi wanita. Artinya, kalau sejak semula Emansipasi Wanita tidak pernah menggejala, kalau sejak semula anak-anak perempuan tidak diberdayakan baik secara intelektual mau pun finansial, maka praktis kelak jiwa egosentrisme perempuan untuk memarahi para suami –sehingga menciptakan fenomena SUTARI- tidak akan pernah eksis.

Tidak jarang kita temui di tengah masyarakat di mana para suami yang begitu penurut kepada istri. Ada sesuatu yang harus diperhatikan, bahwa takut penurut-nya sang suami kepada sang istri, benar-benar mengindikasikan dua hal yaitu,

  1. Suami menjadi penurut, karena sebenarnya suami memikirkan implikasi pidana dan kekerasan kalau ia memilih untuk menindak kemarahan sang istri. Baiklah, sang suami hanya memandang satu hal: yang penting rumahtangga tetap damai, walau pun hargadiri-nya harus menjadi tumbal.
  2. Sang istri, karena sudah diperdaya oleh pemberdayaan, oleh emansipasi perempuan, sudah merasa pada tempatnya untuk memarahi suami, untuk menuntut suami patuh kepadanya. Perempuan ini sudah kelewat batas, dan itu semua berkat Emansipasi Wanita, dan itu semua berkat gaji dan keuangan yang ia peroleh dari akses bekerja.

Di dalam kehidupan yang TIDAK mengadopsi Emansipasi Wanita, gejala SUTARI ini tidak pernah menggejala, tidak pernah eksis …. karena keuangan dan sumber nafkah tidak berada di pihak istri, melainkan sang istri tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi sang suami, khususnya di dalam hal keuangan dan nafkah. Dengan istri yang bukan sebagai sumber keuangan dan nafkah (karena tidak bekerja mencari uang), maka hal tersebut membuat psikologi perempuan menjadi datar dan lembut bersahaja – maka jadilah sang istri penurut dan manut kepada sang suami. Memang demikianlah seharusnya. Justru pada alam ini (yang tidak mengadopsi Emansipasi Wanita) kaum perempuan sadar bahwa memarahi laki-laki adalah kelancangan …

Kondisi ketiga, suami, atau istri, akan memilih lebih baik bercerai. Karena setiap hari dipenuhi agenda cekcok, maka pada akhirnya mereka memilih untuk bercerai, baik kehendak bercerai itu berasal dari sang istri mau pun dari suami. Cekcok itu pun di-trigger oleh kelancangan mulut pihak perem-puan, di dalam hal ini istri, dan kelancangan tersebut berkat (gara-gara) dan berpulang kepada akses bekerja yang diberikan kepadanya untuk menguasai gaji, dan pada akhirnya semua ini berpulang pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, dengan kata lain, cekcok itu sendiri bukan digara-garai sang suami, bukan. Justru sang suami adalah korban dari kelancangan mulut si istri, karena menuntut supaya suaminya tunduk kepada sang istri, dan menuntut sang suami terdiam saja kalau dimarahi sang istri. Apa itu masuk akal? Apa hal tersebut fitrah?

Pada level inilah, statistik melaporkan bahwa angka perceraian sangat tinggi terjadi pada masyarakat perkotaan, karena umumnya perempuan di perkota-an mempunyai / diberi akses untuk bekerja. Pun statistik melaporkan bahwa gugat-cerai lebih banyak diajukan pihak istri. Ini benar-benar menunjukan bahwa perempuan yang diberdayakan melalui faham Emansipasi Wanita sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi perempuan yang fitrah dan alamiah, yang benar-benar perempuan. Sekali perempuan diberdayakan, maka selamanya ia melawan hukum ke segala arah, akan melihat bahwa suami harus tunduk pada kemarahannya untuk selama-lamanya, dan itu semua atas dasar uang. Kalau tidak tunduk kepadanya, berarti cekcok dan perceraian.

Itu semua berkat Emansipasi Wanita. Kalau di muka bumi ini tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau di dalam kehidupan ini perempuan tidak diberi akses kepada dunia kerja, maka seluruh kekacauan ini tidak akan pernah terjadi, melainkan kehidupan akan berlangsung harmonis, luhur, agung, sesuai fitrah, dan adem-ayem.

Lanjut ke Bagian 02.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s