Hukum Seenak Perutnya Perempuan

index

Manusia adalah umat yang beradab, di mana kehidupan mereka pasti membutuhkan hukum untuk mengatur tata-perilaku di antara mereka. Mereka membutuhkan hukum, kemudian mereka membuat hukum tersebut, dan pada akhirnya mereka jugalah yang mentaati hukum tersebut. Namun umat manusia juga tunduk kepada hukum yang dicipta-kan Illahi, di mana mereka yakin bahwa hukum Illahi merupakan hukum yang terbaik dan ter-adil.

Mungkin pada mulanya, terdapat masyarakat manusia yang hidup tanpa hukum. Monarki absolut misalnya. Mereka hidup tanpa hukum, karena yang mereka sebut hukum adalah Raja mereka sendiri, di mana sang Raja menerapkan peraturan dan hukuman sesuka hati Raja saja. Namun yang jelas, gaya hidup seperti itu mendatangkan ketidakpastian, dan hal tersebut membuat sang Raja semena-mena. Itu semua masyarakat manusia tidak mau. Latar belakang ini lah yang membuat manusia semakin membutuhkan hukum.

Secara universal, setiap hukum pasti mempunyai ciri bahwa hukum tersebut bersifat konsisten, dan kemudian adil. Bukan hukum namanya kalau tidak konsisten dan tidak adil, karena yang mengakibatkan tercetus-nya hukum adalah kebutuhan manusia akan konsistensi dan keadilan.

-o0o-

Kemudian di sisi lain, Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Illahi pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum logika dan kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan (kelur rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Intinya, selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah secara permanen untuk mencari ilmu dan juga bekerja. Dan karena alasan tersebut-lah maka Islam melarang umatnya untuk mengadopsi Emansipasi Wanita (keluar rumah untuk bekerja), dan memerintahkan umatnya untuk menegakkan domestikalisasi perempuan, karena perempuan seutuhnya adalah mahluk domestik, mahluk rumahan.

“….. Selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah”, dan salah satu kekejian tersebut adalah munculnya fenomena di mana hukum jadi berkiblat kepada ‘seenak perutnya’ perempuan, kalau masyarakat mengadopsi Emansipasi Wanita.

Kehidupan umat manusia tentunya diatur oleh beberapa hukum, dan salah satu hukum tersebut adalah moralitas, Alquran dan Alhadis. Namun sungguh pun begitu, karena umat telah mengadopsi Emansipasi Wanita di mana perempuan diberi ijin untuk keluar rumah secara permanen, maka seluruh hukum tersebut menjadi kadaluwarsa, dan digantikan oleh ‘hukum perempuan’. Maksud dari hukum perempuan adalah, bahwa benar-salah segala sesuatu TIDAK lagi diatur oleh hukum dan undang-undang, MELAIN-KAN didasarkan pada kenyamanan dan kehendak kaum perempuan. Kalau sesuatu dinilai nyaman dan sesuai kehendak perempuan, maka suatu perkara tersebut dianggap benar, dan kebalikannya suatu perkara akan dikatakan salah kalau hal tersebut membuat perempuan tidak nyaman..

Artinya, dengan diadopsinya Emansipasi Wanita, maka lambat laun hukum dan Undang-undang tergeser oleh hukum perempuan, dan menganggap bahwa perempuan selalu benar dengan apa yang mereka fikirkan dan mereka inginkan: perempuan lah sekarang yang menjadi patokan dan dasar hukum. Nahas, hukum, agama dan syariah tergeser oleh hukum perempuan, karena masyarakat mulai melihat bahwa perempuan tidak pernah salah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, lembut, innocent, bahwa perempuan adalah ibu dari seluruh manusia, maka dari itu kaum perempuan selalu benar, di dalam harus selalu dibela. Dan predikat ‘tidak pernah salah’ di sini berarti bahwa perempuan adalah sumber hukum, perempuanlah yang menjadi dasar benar salah-nya segala sesuatu. Satu hal yang pasti, bahwa hukum perempuan ini SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL KONSISTENSI DAN KEADILAN …. padahal hukum yang sebenarnya hukum, seperti agama mau pun perundangan, pasti berdasarkan konsistensi dan keadilan.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan01

-o0o-

Hukum Seenak Perutnya Perempuan: Pemerkosaan.

Pemerkosaan adalah kosakata yang berarti, di mana seorang pria memaksakan hubungan seksual kepada seorang perempuan, tanpa pandang berapa pun umurnya. Dikatakan pemaksaan, berarti hubungan seksual tersebut TIDAK DIINGINKAN OLEH PEREMPUAN-nya. Seujung dunia mana pun pemerkosaan tidak dapat dibenarkan, karena kata ini berbasis pada kekerasan dan anti-perasaan, serta menindas kaum perempuan sebagai korban.

Ketika seorang perempuan diperkosa, ada kemungkinan ia akan melapor ke aparat. Sebagai tindak lanjut, aparat akan meringkus sang pelaku, untuk diseret ke muka hakim. Alkisah, sang pelaku berhasil diringkus, dan segera berurusan dengan aparat.

Kepada aparat, pemerkosa akan berdalih, bahwa hubungan intim yang terjadi antara dirinya dengan korban, seutuhnya atas dasar suka sama suka, yang artinya si korban sebenarnya menginginkan dan menikmati hubungan intim tersebut. Kalau aparat dapat diyakinkan dengan dalih sang pelaku (bahwa hubungan intim tersebut adalah atas dasar suka sama suka), maka besar kemungkinan sang pelaku akan terbebas dari segala tuduhan. Namun kalau aparat tidak dapat diyakinkan dengan dalih sang pelaku, maka sang pelaku akan dihukum atas tuduhan pemerkosaan. Ini artinya apa? Artinya adalah, kebenaran hanya berkiblat kepada keinginan sang perempuan, alias seenak perutnya perempuan.

Kalau perempuan TIDAK menginginkan hubungan intim tersebut, maka jatuhlah tuduhan pemerkosaan atas sang pelaku. Namun kebalikannya, kalau sang perempuan MENGINGINKAN dan bahkan menikmati hubungan intim tersebut dengan pelaku, maka artinya pelaku tidak dapat dijatuhi pasal apa pun, alias bebas murni, karena toh sama-sama menginginkan. Kalau dapat dibuktikan bahwa sang perempuan MENGINGINKAN (dan bahkan menikmati) hubungan intim tersebut dengan pelaku, maka akan diperkatakan bahwa hubungan intim tersebut adalah urusan antara mereka berdua, oleh karena itu aparat akan berfikir bahwa pelaku sama sekali tidak salah. Dosa tidak dibahas, perbuatan bejat tidak dibahas, karena yang mengemuka adalah terdapat seorang perempuan yang mencintai seorang pria, dan ingin memadu kasih dengannya, yaitu sang pelaku. Kalau sudah begitu, maka mengapa pria nya harus dipersalahkan?

Jadi, keberuntungan sang pelaku terletak pada apakah aparat dapat diyakinkan bahwa hubungan intim tersebut adalah murni atas dasar suka sama suka, atau tidak. Pelaku tahu benar bahwa semua kesalahan di dalam kehidupan ini hanya berdasar pada pendirian perempuan. Dan kalau perempuan menginginkan suatu hal, maka benarlah hal tersebut, walau pun sebenarnya secara agama adalah dosa dan bejat.

Antara pemerkosaan dan zinah, hanya dipisahkan satu garis tipis, dan garis tipis tersebut adalah kehendak si perempuan-nya. Kalau hubungan intim (khususnya di luar nikah) diinginkan dan merupakan kehendak perempuan-nya, maka hubungan tersebut dinamakan zinah, dan perbuatan tersebut bukanlah ranah dan tanggungjawab aparat untuk menanganinya. Kebalikannya, kalau suatu hubungan intim tidak diinginkan perempuan nya, maka hubungan tersebut dinamakan pemerkosaan, dan perbuatan tersebut merupakan ranah aparat untuk menanganinya. Jelas, hanya karena perempuan tidak menghendaki dan tidak menginginkan hubungan intim, maka pria di dalam hubungan intim tersebut akan diperkarakan.

Jadi, bukankah itu berarti bahwa perempuan lah yang menjadi tuan agung di atas bumi ini? Bukannya agama dan moralitas? Mana-mana hubungan intim yang diinginkan seorang perempuan, maka hubungan intim tersebut dinamakan zinah (atau juga kumpulkebo), dan zinah tersebut tidak akan diperkarakan aparat, pun juga tidak akan dikutuk publik yang berbasis Emansipasi Wanita. Dan ini artinya si pria akan bebas menikmati zinah ter-sebut, karena tidak akan diperkarakan aparat, juga tidak akan diperkara-kan publik. Namun mana-mana hubungan intim yang tidak diinginkan perempuan, maka hubungan intim tersebut dinamakan pemerkosaan, dan jelas akan DIPERKARAKAN aparat supaya laki-lakinya dieksekusi.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan10

Fenomena ini benar-benar membuktikan bahwa benar dan salah segala sesuatu seutuhnya berdasarkan seenak perutnya perempuan, lain tidak. Hukum agama dan moralitas sudah paripurna dilumpuhkan, dan kemudian datang lah hukum yang berdasar seenak perut perempuan. Ujung-ujungnya adalah, itu semua berkat gelagat Emansipasi Wanita yang beranak-pinak di kampung-kampung.

Berikutnya, Seenak Perutnya Perempuan: Pacaran Dan Pelecehan Seksual.

 

Advertisements

One thought on “Hukum Seenak Perutnya Perempuan

  1. Pingback: Seenak Perutnya Perempuan: Implikasi Hamil Di Luar Nikah – lilyrfd20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s