Daftar Panjang Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita

daftarpanjang

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan  penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan di muka bumi tidak diracuni oleh …

Daftar Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita ……

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat, eksebisionisme, ahlul tabarruj, pesolek,
  6. bangkai bayi di tempat sampah, bayi merah di tinggal di terminal bus,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami-suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. perawan tua,
  14. kondomisasi,
  15. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  16. Pelacur prostitusi,
  17. Pengantin perempuan yang mengandung bayi di dalam perutnya,
  18. Banyak maha/siswi yang melepaskan kegadisan mereka kepada pacar.
  19. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  20. Perempuan perebut suami orang,
  21. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  22. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, dsb,
  23. Perempuan yang berani galak dan garang terhadap laki-laki, nantangin laki-laki, namun kalau laki-laki tersebut meladeni untuk kekerasan, sang perem-puan malah panggil sekuriti atau pihak berwajib untuk menghadapi laki-laki tersebut,
  24. Istri korban KDRT suami, lantaran istri selalu melawan dan keras tengkuk terhadap suami, nantangin suami,
  25. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  26. anak-anak jadah,
  27. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  28. anak-anak brokenhome,
  29. single parent,
  30. perempuan yang pantang menikah (lagi), karena egoisme, trauma, arogan, tidak butuh laki-laki karena sudah punya nafkah sendiri,
  31. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  32. perempuan anti kepada tugas dapur dan tugas mengurus cirit anak, anti tugas domestik,
  33. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  34. kawin lari,
  35. terciptanya masyarakat mesum, masyarakat cabul, masyarakat yang menganggap remeh kasus zina, zina dianggap sudah biasa dan lumrah,
  36. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada tingginya angka kriminalitas, baik secara kuantitatif mau pun kualitatif. Point ini akan menurunkan daftar tersendiri yang lebih panjang lagi mengenai jenis kriminalitas, lantaran laki-laki (terpaksa) menjadi pengangguran, karena lapangan pekerjaan diserobot perempuan.
  37. Dsb. Dan ini pasti akan bertambah panjang lagi di kemudian hari.

Namun kebalikannya, ketika Emansipasi Wanita beranak-pinak di setiap pemerin-tahan dan sistem sosial, maka seluruh kehancuran tersebut akan merebak di mana-mana. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita mempunyai “daftar ikutan” kemana pun Emansipasi Wanita tersebut pergi.

Semua orang dengan entengnya berfikir, bahwa huruhara dan semua racun kehidupan tersebut tetap akan terjadi pada masyarakat yang tidak mengembangkan Emansipasi Wanita. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita tidak ada hubungannya dengan mewabahnya huruhara dan racun kehidupan. Publik berfirasat, bahwa ada atau tidak ada Emansipasi Wanita tidak memberi pengaruh atas terjadinya berbagai huruhara tersebut.

Benarkah demikian?

Pada masa ketika Emansipasi Wanita tidak dikenal suatu masyarakat dan peradaban, publik kala itu tidak mengenal fenomena perempuan yang berani pulang larut malam. Pun publik tidak mengenal istilah pacaran, apalagi profesi pembantu dan babysitter. Kala itu publik tidak mengenal istilah single parent, dan tidak pernah mengenal istilah perempuan nekat nikah beda agama. Utamanya lagi, apakah pada masa pra Emansipasi Wanita, banyak kaum perempuan yang gemar berbusana vulgar dan liberal seperti pada masa industri sekarang ini? Intinya, seluruh perempuan pada masa pra Emansipasi Wanita manut dan setia kepada tugas domestik, dan mereka semua anti pacaran, apalagi berzina dengan kekasih-kekasih pria. Tidak ada perempuan yang terlibat pada  gejala khalwat yang jelas-jelas keji, karena khalwat adalah perbuatan yang menjijikkan dan paling terlarang di dalam agama. Jelas sekali, bahwa pra Emansipasi Wanita sama sekali tidak berparalel dengan seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dimaksud di atas.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa pada masa pra-Emansipasi Wanita, umat menjalani kehidupan yang suci dan murni, dan keseluruhan tersebut berasal dari kaum perempuan-nya yang menjalani kehidupan nan suci dan murni. Terkenang Alhadis Nabi Muhammad Saw, bahwa “perempuan adalah tiang bangsa; kalau perempuan nya baik, maka baiklah suatu bangsa. Dan kalau rusak kaum perempuan nya, maka runtuhlah bangsa tersebut”.

Baik dan tegaknya suatu bangsa, bukan karena kehebatan para pejabatnya, mau pun melimpah pajaknya, melainkan karena murni dan sucinya kaum perempuan, disebabkan mereka menjalani kehidupan yang suci dan murni pula, yaitu Domestikalisasi Perempuan, yaitu perumahkan perempuan, antitesis dari Emansipasi Wanita. Domestikalisasi Perempuan memberi kaum perempuan jalan kehidupan yang suci dan murni, dan pada akhirnya memberi umat jalan Tuhan yang luhur dan Illahiah. Kebalikannya, Emansipasi Wanita memberi kaum perempuan kehidupan yang sial, bejat, mesum dan keras tengkuk untuk melawan agama, kitabsuci, orang-tua, tradisi leluhur, suami, hukum alam, fitrah dan melawan naluri keperempuanan mereka sendiri.

Penutup.

Dengan Domestikalisasi Perempuan, maka MUSTAHIL seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dipaparkan di atas muncul dan menggejala di dalam kehidupan ini. Dan kebalikannya, seluruh racun kehidupan tersebut hanyalah efek lurus dari Emansipasi Wanita. Di lain pihak, Illahi, melalui Rasul-Nya dan kitabsuci-Nya, tidak memberi pilihan lain kepada umat, KECUALI tumpas habis Emansipasi Wanita, dan tegakkan kembali Domestikalisasi Perempuan, tegakkan kembali tradisi patriarkhat yang agung, karena hanya dengan demikianlah, seluruh huruhara dan racun kehidupan jauh terpendam di dalam tanah, jauh dari perkampungan umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s