Kebebasan Dan Pemberdayaan Perempuan Serta Maknanya

bici-freedom

Revolusi Industri yang pecah di Inggris pada salah satu aspeknya melahirkan gerakan Emansipasi Wanita, karena pada masa itu industri butuh banyak pekerja sehingga perempuan dan anak-anak ikut tersedot ke dalam arus produksi. Namun di lain pihak ternyata para pemodal tidak memberi pekerja perempuan upah yang sama dengan laki-laki, karena para pemodal menganggap perempuan adalah mahluk lemah dan banyak kekurangan. Akibatnya pekerja perempuan menuntut perlakuan yang sama dengan pekerja pria, sama di dalam hal upah, dan sama di dalam hal menentukan kebijakan. Maka lahirlah apa yang disebut Emansipasi Wanita.

Singkat kata, Emansipasi Wanita membuat banyak kaum perempuan menjadi berduit banyak, punya uang sendiri, dan juga mempunyai pekerjaan sendiri, karir sendiri. Pun, emansipasi membuat perempuan mendapat akses setinggi-tingginya kepada pendidikan formal.

Itulah jaman yang membuat perempuan terbebas dari bayang-bayang patriarkhat yang selama ini dirasa membatasi kaum perempuan. Banyak tradisi di muka bumi ini yang secara zahir benar-benar mengekang (kebebasan) kaum perempuan. Dan pengekangan tersebut, sekilas di-sponsori oleh kaum pria dan ajaran agama, agama mana pun. Jalan keluarnya adalah Emansipasi Wanita, dan Emansipasi Wanita menjadi satu-satunya juru selamat bagi kaum perempuan itu sendiri untuk terbebas dari kungkungan dan kecurangan kaum pria yang dilegitimasi oleh agama (begitu pandangan mereka).

  • Dengan Emansipasi Wanita, maka kaum perempuan bebas untuk keluar rumah, karena untuk pemberdayaan kaum perempuan memang harus senantiasa keluar rumah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan dilarang keluar rumah, melainkan kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas berpacaran dengan pria mana pun yang mereka sukai, karena eksis di luar rumah secara berketerusan pasti berefek pada munculnya rasa suka kepada pria-pria di tengah kota. Dan pacaran ini pastilah berefek pada hubungan sex bebas mau pun perzinahan yang terkadang berujung pada hamil di luar nikah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, membuat mereka menjadi segan terhadap pria-pria di luar rumah, dan situasi tersebut menjamin kesucian setiap perempuan, dan dengan sendirinya menjamin kesucian kaum pria juga pada akhirnya.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk bergaya busana yang vulgar dan liberal, karena mereka merupakan individu-individu yang mempunyai uang sendiri, sehingga mereka bebas dan dapat mengenakan apa saja yang mereka inginkan: agama dan petuah leluhur tidak lagi mempunyai tuah untuk mendikte apa yang harus mereka kenakan. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat yang membuat kaum perempuan selalu diam di rumah -sehingga mereka tidak mempunyai penghasilan dan karir sendiri, membuat seluruh perempuan manut dan taat kepada titah agama mengenai cara berbusana.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk menceraikan suami mereka kapan saja mereka merasakan ketidakcocokan dengan sang suami. Dikarenakan mempunyai karir dan uang sendiri, mereka merasa perceraian bukanlah bencana yang mahadahsyat. Terlebih, dengan diberda-yakan sehingga mempunyai uang sendiri berkat Emansipasi Wanita, kaum perempuan menjadi mempunyai kartu truf terhadap sang suami. Bila sang suami tidak manut kepada orientasi berfikir sang istri, maka sang istri melihat perceraian lebih menggembirakan, karena toh mereka dapat hidup sendiri tanpa keuangan sang suami. Dan kalau sang suami tidak ingin perceraian, maka suami harus mengiyakan seluruh orientasi sang istri. Itulah yang dinamakan ketidakcocokan di dalam rumahtangga yang mereka jadikan alasan untuk menggugat cerai suami-suami mereka. Dengan kartu truf ini, maka tidak ada lagi istilah “benar salah harus patuh kepada suami” bagi kaum perempuan yang diberdayakan. Justru kebalikannya: benar-salah terserah keridhaan sang istri, atau suami siap dicerai kapan saja. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan tidak (boleh) diberdayakan sehingga seluruh penghidupan dan nafkah mereka seutuhnya tergantung suami dan ayah, hal mana membuat perempuan manut dan patuh kepada suami, dan benar –salah suami tetap harus dihormati, karena patuh kepada suami adalah di atas segala-galanya. Efeknya jelas: tidak ada marak gugat cerai yang diajukan pihak istri melawan suami-suami mereka, melainkan kepatuhan kepada suami dan keharmonisan rumahtangga untuk mengawal dan membesarkan anak-anak.

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan tidak diracuni oleh …

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat,
  6. bangkai bayi di tempat sampah,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. kondomisasi,
  14. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  15. Pelacur prostitusi,
  16. Pengantin perempuan mengandung bayi di perutnya,
  17. Maha / siswi kehilangan kegadisan,
  18. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  19. Perempuan perebut suami orang,
  20. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  21. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, tidak pandai membesarkan anak dsb,
  22. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  23. anak-anak jadah,
  24. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  25. anak-anak brokenhome,
  26. single parent,
  27. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  28. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  29. kawin lari,
  30. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada angka kriminalitas, dsb.

Buah simalakama.

Emansipasi Wanita ber-efek pada daftar racun kehidupan yang dipaparkan di atas. Memang benar bahwa dengan Emansipasi Wanita, kaum perempuan menikmati kebebasan individual mereka, khususnya terhadap kaum pria, dominasi agama, dan kungkungan tradisi leluhur. Kaum perempuan bebas sebebas-bebasnya untuk berbuat apa saja yang mereka inginkan. Bahkan mereka bebas melaporkan suami kepada polisi kalau suami berani meninju wajah mereka, atau bahkan menceraikan suami kalau suami tidak sepaham dengan orientasi berfikir sang istri. Bahkan perempuan bebas untuk menikah atau tidak menikah. Bahkan perempuan bebas untuk menikah dengan pria beda agama, atau menikah dengan pria yang tidak direstui ayahbunda. Kaum perempuan bebas untuk mengenakan busana vulgar sevulgar apapun yang mereka inginkan. Bahkan perempuan bebas untuk pulang larut malam selarut apapun yang mereka inginkan. Bahkan lebih dari apapun, perempuan bebas untuk selingkuh dengan pria manapun yang mereka inginkan, orang lain tidak boleh ikut campur urusan pribadi, bahkan orang-tua pun harus bungkam saja, karena ini semua adalah kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita.

Namun ingat, Emansipasi Wanita ber-efek pada racun kehidupan ini, dan itu sudah menjadi fakta. Justru, kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita adalah daftar racun kehidupan itu sendiri.

Kebalikannya, kalau umat manusia ingin kehidupan ini tidak diracuni oleh daftar racun tersebut, maka tumpaslah Emansipasi Wanita, dan tumpaslah gelagat di mana perempuan diberi kebebasan untuk pemberdayaan (baik berupa akses pendidikan setinggi-tingginya, dan juga akses kepada pekerjaan, karir dan jabatan). Kalau umat ingin kehidupan ini murni, agung dan suci, maka satu-satunya solusi adalah tumpas Emansipasi Wanita.

Anti Emansipasi Wanita, memang pahit untuk kaum perempuan. Tradisi patriarkhat memang memberi kungkungan kepada kaum perempuan, sehingga perempuan lebih tepat dikatakan mahluk kelas dua di tengah masyarakat. Namun, begitu Emansipasi Wanita digelar di muka bumi (sehingga melawan tradisi patriarkhat), maka daftar racun kehidupan langsung pecah di mana-mana.

Singkat kata, apakah makna yang diberikan oleh Emansipasi Wanita? Maknanya adalah, bahwa Emansipasi Wanita memberi daftar racun kehidupan kepada seluruh umat manusia. Setiap kata Emansipasi Wanita disebutkan, setiap kata Emansipasi Wanita diperdengarkan, maka kata tersebut praktis terhubung dengan daftar racun kehidupan. Lain tidak. Tidak ada arti dan makna lain bagi Emansipasi Wanita, selain daftar racun kehidupan yang menyengsarakan seluruh umat.

Kata kuncinya adalah, tumpaslah Emansipasi Wanita sampai ke akar-akarnya. Ingatlah, sepanjang umur dunia ini, tidak ada satu pun ibu dan ayah, yang ingin anak-anak perempuan mereka hancur lebur di dalam perbuatan-perbuatan keji seperti yang termaktub di dalam daftar racun kehidupan. Tidak ada satu pun keluarga yang ingin kehilangan kesuciannya lantaran perempuan-nya bebas selingkuh nun jauh di sana. Emansipasi Wanita sedikit pun tidak memberi manfaat, melainkan hanya menumpahkan mudharat di seluruh kampung umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

2 thoughts on “Kebebasan Dan Pemberdayaan Perempuan Serta Maknanya

  1. Emansipasi wanita memang adalah produk Dari sistem seller Dan atheist.. jadi TDK German klo penganut nya pasti TDK patuh pd agama Allah..
    Wlopun TDK semua wanita yg bkerja itu pasti durhaka pd suami mereka..
    Cthnya istri saya.. dia bekerja ..tp benci dgn sistem feminisme yg menyesatkan..
    Btw.. tulisan yg bagus mbak.. sungguh menginspirasi..👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s