Dosa Terbanyak Diperbuat Perempuan Di Dalam Emansipasi Wanita

terbanyak
Emansipasi Wanita pada dasarnya adalah kesesatan yang paling keji, karena dari Emansi-pasi Wanita lahirlah berbagai kekacauan dan kesia-siaan yang menghancurkan umat Muslim di seluruh dunia. Islam tidak mempunyai satu nash pun yang mengajarkan Emansipasi Wanita, bahkan banyak ayat maupun Alhadis yang merupakan larangan (atau perboden) Emansipasi Wanita, maka dari itu Emansipasi Wanita dengan sendirinya adalah dosa besar.

Namun lebih dari itu, Emansipasi Wanita itu sendiri juga membuat kaum perempuan semakin terjerumus di dalam jebakan dosa yang lain. Dikatakan jebakan, karena kaum perempuan tidak menyadari bahwa hal-hal yang mereka perbuat sebenarnya adalah dosa, selama mereka perbuat hal-hal tersebut di dalam frame Emansipasi Wanita. Jadi dengan kata lain, kalau mereka semua tidak terlibat di dalam arus Emansipasi Wanita, maka hal-hal yang mereka perbuat tidak akan berakibat dosa.

Pertama. Memakai wewangian.

Islam mengajarkan bahwa wanita terlarang mengenakan wewangian, kalau pemakaiannya untuk luar rumah, atau bepergian. Sebenarnya parfum yang dikenakan perempuan akan bernilai zina kalau semerbak yang ditimbulkannya tercium oleh kaum pria yang bukan muhrim. Berarti perempuan terlarang keluar rumah dengan mengenakan wewangian.

Kalau seorang perempuan mengenakan wewangian sementara perempuan tersebut tetap diam di rumahnya, maka tentulah hal tersebut justru akan mendatangkan pahala sunnah baginya, namun lain ceritanya kalau perempuan tersebut keluar rumah, maka wewangian nya merupakan perbuatan zina, dirinya akan berdosa, dan berdosa juga kaum pria yang mencium semerbak wewangiannya.

Pada kenyataannya, hampir semua perempuan yang keluar rumah untuk bekerja maupun menuntut Ilmu (itu semua merupakan unsur Emansipasi Wanita) selalu mengenakan wewangian, yang bau semerbaknya begitu kuat hingga tercium sejauh perjalanan. Sangat jarang ditemui perempuan keluar rumah yang tidak mengenakan parfum. Akan menjadi pertanyaan, mengapakah kaum perempuan tersebut keluar rumah dengan mengenakan parfum yang begitu kuat sehingga semerbaknya tercium sejauh perjalanan? Apakah mereka tiada faham bahwa agama melarang perbuat hal tersebut? Apakah mereka tidak pernah mendapat pengarahan dari ulama bahwa perempuan yang keluar rumah dengan wewangian maka dirinya telah berbuat zina yang merupakan dosa besar?

Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

“Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian” (HR. Abdur razaq dalam Al Mushonnaf no. 8107).

Riwayat ini dengan tegas menginformasikan bahwa perempuan Muslim TERLARANG keluar rumah dengan berwewangian. Pun terdapat banyak Alhadis yang mengajarkan bahwa Nabi Saw melarang Muslimah mengenakan parfum saat keluar rumah, karena hal tersebut merupakan kekejian, dan setara dengan perbuatan seorang pelacur.

Intinya, Islam menggariskan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, karena perempuan merupakan mahluk domestik, yang nafkah dan rejeki mereka sudah ditang-gung ayah atau suami mereka. Namun, kalau pun mereka ingin keluar rumah untuk tujuan tertentu, Islam mengijinkan, anggaplah demikian, namun dengan syarat, bahwa perempuan tersebut tidak dibenarkan untuk bertabarruj dan berwewangian. Namun kenyataannya?

Kenyataannya, begitu banyak perempuan yang keluar rumah, untuk tujuan yang sebenar-nya tidak perlu. Dan itu pun ketika mereka keluar rumah, mereka berbondong bondong bertabarruj dan berwewangian. Jadi, mereka berbuat tiga lapis dosa, yaitu,

  • Keluar rumah untuk tujuan yang sebenarnya tidak perlu, itu pun mereka keluar rumah nya setiap hari, untuk apa yang dinamakan Emansipasi Wanita.
  • Mereka pun keluar rumah dengan bertabarruj, yaitu berdandan sejadi-jadinya.
  • Mereka mengenakan wewangian, bahkan yang berbau begitu tajam dan kuat, yang semerbaknya bahkan tercium sejauh perjalanan.

Dari isu parfum ini, kaum perempuan begitu gigihnya perbuat dosa setiap hari, dan itu tanpa mereka sadari sama sekali, bahkan ulama dan banyak literatur keagamaan sudah berulang kali memperingatkan bahwa kaum perempuan tidak dibenarkan mengenakan parfum saat mereka keluar rumah. Seolah kaum perempuan tidak mengetahui bahwa mengenakan parfum saat keluar rumah berimplikasi dosa, sehinggalah mereka berlomba-lomba untuk mengenakan wewangian.

Entah azab apa yang akan mereka alami di hari berbangkit kelak, dikarenakan setiap hari mereka mengenakan wewangian saat keluar rumah, dan itu pun mereka TIDAK MENYA-DARI bahwa hal tersebut merupakan dosa ….. karena tampaknya mereka justru berkeyakinan bahwa mengenakan parfum merupakan kebajikan.

Kedua. Bertabarruj saat keluar rumah.

Pertama Islam menggariskan bahwa perempuan tidak dibenarkan keluar rumah, karena alam mereka sebenarnya adalah domestik, mengingat seluruh tugas mereka justru berada di dalam rumah, dan karena nafkah mereka sudah dijamin oleh ayah atau suami. Namun kedua, kalau pun mereka ingin keluar rumah, maka Islam menggariskan bahwa terlarang bagi mereka untuk bertabarruj saat keluar rumah, karena hal tersebut merupakan perbuatan keji. Namun di mana kenyataannya?

Jutaan perempuan keluar rumah untuk tujuan yang tidak perlu (yaitu untuk pendidikan, dan juga untuk bekerja mencari nafkah dan karir), hal tersebut merupakan dosa. Namun kemudian, mereka keluar rumah pun dengan menggigihkan diri untuk berdandan sedemi-kian rupa, seolah mereka keluar rumah harus secantik mungkin. Bukankah hal tersebut merupakan dosa besar yang selalu mereka perbuat?

Sebenarnya untuk apakah mereka keluar rumah dengan mempercantik diri mereka sedemikian rupa terlebih dahulu? Apakah untuk menjerat perhatian para lelaki? Lantas untuk apa mereka ingin mendapat perhatian para lelaki? Apakah mendapatkan perhatian para lelaki, atau mendapat pujian para lelaki, merupakan pahala dan keridhaan Illahi atas mereka? Bukankah mereka seharusnya berusaha untuk mendapatkan keridhaan Illahi Swt saja, dan itu artinya mereka tidak bertabarruj (berdandan) saat keluar rumah?

a. Banyak kaum perempuan Muslim yang keluar rumah (dan sebenarnya hal tersebut tidak perlu, bahkan dosa) dengan tidak menutup aurat sebagaimana mestinya: mereka mengenakan rok selutut, atau berbusana ketat, dan juga tidak berkerudung untuk menutup rambut. Tampaknya mereka tiada sadar bahwa apa yang mereka perbuat merupakan dosa. Dan itu pun mereka mengenakan busana (sekuler) seperti itu, mereka kenakan dengan menggigihkan kecantikan mereka untuk diperlihatkan kepada seluruh pria di tengah kota. Ini lagi-lagi merupakan dosa, dan merupakan perbuatan yang amat jahil: sudah mereka berbusana serba terbuka, pun mereka melakukannya dengan tujuan untuk mempercantik penampilan mereka di depan para lelaki di tengah kota. Bertabarruj yang berlapis-lapis, jelas akan berimplikasi kepada dosa yang berlapis-lapis juga.

b. Di lain pihak, juga terdapat ribuan perempuan Muslim yang keluar rumah (dan sebenarnya hal tersebut tidak perlu, dan bahkan dosa) dengan busana yang berbasis syariah, yaitu berhijab maupun berjilbab, untuk menutup aurat dan rambut. Sungguh pun demikian, mereka mengenakan busana syariah tersebut dengan tetap menggigihkan kecantikan mereka untuk dipamerkan di depan para lelaki di tengah kota: mereka kenakan kain hijab nan cantik dan menawan, ber-warna-warni, berbunga-bunga ….., dsb. Bahkan tidak jarang mereka menyematkan berbagai hiasan di busana jilbab untuk mempercantik penampilan. Dan setelah itu, tidak lupa mereka memoles wajah dengan makeup sedemikian rupa, untuk mempercantik wajah dan penampilan. Hal ini merupakan tabarruj yang lain, yang tidak kalah dahsyat dosanya di sisi Illahi. Mereka fikir, dengan berbusana jilbab, mereka sudah mendatangkan keridhaan Illahi, namun mereka tiada sadar bahwa mereka telah menggigihkan kecantikan mereka, dengan makeup, dengan mengenakan aneka perhiasan, dengan mengenakan kain jilbab nan indah dan mahal, yang tujuan akhirnya untuk diperlihatkan kepada para pria di tengah kota. Itu sudah dosa besar.

Ingatkah mereka bahwa mereka diperintahkan untuk berhias hanya untuk suami mereka saja? ….. dan untuk selainnya merupakan haram dan jahil? Namun kenyatannya mereka berhias untuk publik, bukan untuk suami mereka. Islamkah yang mengajarkan hal tersebut? Pertama mereka keluar rumah, meski berhijab, hal tersebut sudah dosa. Dan kemudian, mereka tambah dengan menggigihkan kecantikan mereka di luar rumah: itu juga merupakan dosa. Dosa yang berlapis-lapis tentunya. Intinya, keluar rumah dengan berjilbab, bukan jaminan bahwa mereka terbebas dari kesalahan syariah.

Jadi tidak ada pilihan, baik (a) maupun (b), sama-sama berdosa besar di mata Illahi, karena tidak mempunyai dasar baik secara syari maupun secara logika.
Riwayat di bawah ini menggambarkan betapa keji dan terlarangnya bertabarruj,

Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

“Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. JIKA KELUAR RUMAH HENDAKNYA MEMAKAI KAIN JELEK YANG BIASA DIPAKAI OLEH BUDAK PEREMPUAN ….”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”, (HR. Abdur Razaq no 8118).

Perhatikan frase yang berhuruf besar: JIKA KELUAR RUMAH HENDAKNYA MEMAKAI KAIN JELEK YANG BIASA DIPAKAI OLEH BUDAK PEREMPUAN ….., artinya perempuan TERLARANG keluar rumah dengan MENSENGAJAKAN kecantikannya. Terdapat kalimat “hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai budak perempuan”, maknanya adalah bahwa TIDAK DIBENARKAN perempuan keluar dengan mensengajakan untuk mendapat perhatian publik, khususnya kaum pria. Dan artinya perempuan tidak dibenarkan dandan saat keluar rumah, karena dandan berarti sengaja untuk mempercantik penampilan. Bayangkan, riwayat tersebut justru menitahkan bahwa perempuan keluar rumah harus mengenakan kain yang jelek, agar dengan demikian tidak menarik perhatian kaum pria.

Sebagai perbandingan, kaum perempuan di Timur tengah, seperti Arab Saudi, Syiria, Irak, Bahrain, dsb, ketika mereka keluar rumah, maka busana yang mereka kenakan hanyalah sebentuk kain panjang berwarna hitam, panjang dari ujung kepala hingga kaki, dan nyaris menutupi wajah kecuali mata. Warna busana mereka semuanya hanya satu, yaitu hitam, tidak ada warna lain yang mereka aplikasikan. Apa maksudnya? Maksudnya adalah, bahwa jangan sampai kehadiran mereka di ranah publik mendapat perhatian khususnya kaum pria. Dengan kata lain, kaum perempuan sengaja keluar rumah sedemikian rupa, agar tidak memenuhi unsur aestetika, yaitu keindahan, karena keindahan tersebut akan memancing perhatian kaum pria.

Kalau keindahan berasal dari estetika gedung, atau estetika lampu taman, atau estetika kolam kota, tidak mengapa. Namun kalau keindahan tersebut berasal dari estetika bentuk tubuh seorang perempuan, maka jelas hal tersebut tidak dibenarkan syariah. Intinya, keindahan yang berasal dari estetika bentuk tubuh seorang perempuan hanya diperuntukkan bagi suami: dan hanya itulah yang adil dan logis. Apakah logis, seorang pria menikmati kecantikan perempuan yang jelas-jelas milik orang lain, yaitu suaminya? Atau mungkin, ada perempuan yang senang jika keindahan dari aestetika tubuhnya dinikmati sembarang laki-laki di sepanjang jalan? Perempuan macam apa? Itu bukanlah perempuan Muslim, juga bukan perempuan waras.

Bertabarruj adalah dosa, dosa atas kaum perempuan. Dan keluar rumah setiap hari, apalagi di dalam rangka Emansipasi Wanita, adalah dosa atas kaum perempuan. Dan sungguh, hal-hal tersebut diperbuat perempuan setiap hari, tanpa mereka sadar bahwa hal tersebut merupakan dosa yang akan menyengsarakan mereka di hari berbangkit.

Ketiga. Berkhalwat di ruang kerja.

Perempuan setiap hari keluar rumah untuk menuntut Ilmu, maupun untuk bekerja mencari uang dan karir. Akibatnya, sangat lazim untuk terjadinya khalwat, antara kaum perempuan dengan pria-pria yang mereka temui di tempat kerja maupun di kampus. Kalau Islam mengajarkan bahwa khalwat adalah dosa, maka ini artinya kaum perempuan secara rutin telah berbuat dosa setiap hari, tersebab mereka terus perbuat khalwat dengan pria-pria rekan kerja atau pun rekan kuliah.

Mereka tiada sadar bahwa mereka telah perbuat khalwat, dan pun mereka tiada sadar bahwa khalwat adalah dosa atas mereka. Fakta melaporkan, bahwa dari khalwat ini telah tercetus banyak kasus zina dan selingkuh yang menjijikkan. Dan tidak jarang khalwat ini mencetus pertengkaran rumahtangga bagi para pelakunya.

Bagaimana mungkin banyak kaum perempuan yang tidak menganggap bahwa khalwat ini sebagai suatu dosa besar, atau sebagai suatu kesalahan di dalam bersosial? Tidak ada logika yang menyatakan bahwa khalwat merupakan kelumrahan, karena bersatunya pria dan perempuan dewasa pada suatu ruangan, alias bersunyi-sunyi, jelas perbuatan yang tiada pantas dilihat dari sudut mana pun. Namun mengapa hal tersebut terjadi acap kali di sektor publik, dan didukung oleh kaum perempuan sendiri? Mengapa tidak ada satu pun perempuan yang merasa jijik dengan aktivitas khalwat tersebut? Di mana nurani mereka sebagai perempuan?

Rugilah mereka kelak di hari berbangkit kelak, karena telah menghalalkan khalwat atas diri mereka, dan mereka perbuat hal demikian dengan keinginan mereka sendiri, tanpa malu sedikit pun. Semudah itu mereka menghalalkan khalwat, maka kelak semudah itu juga mereka akan dihalau ke Neraka, tersebab khalwat yang gemar mereka perbuat setiap hari.

Keempat. Mengambil jasa pembantu rumahtangga.

Setiap hari perempuan pendukung Emansipasi Wanita keluar rumah, untuk menuntut Ilmu maupun untuk bekerja mencari uang dan karir. Kalau mereka pergi meninggalkan rumah, maka siapakah yang akan menyelesaikan tugas rumah? Mereka menyewa pembantu rumahtangga, yang bertugas menyelesaikan seluruh tugas domestik, seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika baju, membersihkan rumah, dan termasuk momong anak. Untuk tugas-tugas tersebut sang perempuan akan menggaji para pembantu tersebut dengan besaran yang disepakati.

Dengan menyewa pembantu, berarti kaum perempuan telah mencampakkan kodrat alamiah mereka, kepada orang lain. Dengan kata lain, perempuan-perempuan emansipasi MENOLAK untuk mengamalkan kodrat mereka, dan kemudian melemparkan kodrat terse-but kepada orang lain.

Apakah kaum perempuan emansipasi tidak pernah menyadari, bahwa menolak kodrat merupakan dosa besar di mata Illahi? Bagaimana mungkin ada anak manusia yang begitu berani menolak kodrat? Bagaimana mungkin ada anak manusia yang berani menantang keputusan Illahi yang telah berlaku sejak jutaan tahun? Demi Emansipasi Wanita, kaum perempuan begitu beraninya menolak kodrat, dan kemudian melemparkannya kepada pembantu rumahtangga?

Atau mungkin, perempuan emansipasi berani untuk berkata, bahwa kodrat domestik sebe-narnya bukan kodrat kaum perempuan, melainkan kodrat kaum pria? Atau juga perem-puan berani berkata, bahwa kodrat domestik merupakan kodrat bersama antara suami dan istri, antara ayah dan ibu, antara anak laki dan anak perempuan? Dan sejak kapan mereka mempunyai keberanian untuk mendebat agama mengenai kodrat?

Setiap hari mereka keluar rumah untuk bekerja, hal tersebut sudah merupakan dosa pertama, pun kemudian mereka mencampakkan kodrat domestik mereka. Hal tersebut merupakan dosa kedua. Dan dosa ketiga, mereka melemparkan kodrat tersebut kepada orang lain, yaitu pembantu. Itulah dosa ketiga yang diperbuat setiap hari oleh perempuan emansipasi. Dosa yang berlapis-lapis, dan hanya Illahi Yang tahu di Neraka mana mereka akan tinggal untuk selama-lamanya.

Untuk lebih jelas mengenai haram dan dosanya menyewa jasa pembantu, silahkan baca artikel “Pembantu Rumahtangga Adalah Haram”.

Setali tiga uang, kaum perempuan emansipasi juga menyewa jasa babysitter untuk momong anak-anak ketika mereka bekerja, atas nama Emansipasi Wanita. Luar biasa!! Kaum perempuan begitu berani menolak kodrat sebagai perempuan untuk membesarkan dan momong anak, dan kemudian mencampakkan kodrat tersebut kepada babysitter.

Anak merupakan karunia yang tidak terhingga nilainya, dan di luar itu, perempuan selalu identik dengan sosok keibuannya yang selalu menyerahkan jiwa raga untuk anak-anak terkasih, 24 jam nonstop. Hanya ibu, hanya perempuan, yang dapat membesarkan dan melimpahkan kasih sayang kepada kanak-kanak, dikarenakan kelembutan dan kesabaran kaum perempuan yang begitu emosional terhadap kanak-kanak. Namun mana buktinya?

Di dalam frame Emansipasi Wanita, kaum perempuan menolak kodrat tersebut, menolak untuk menyerahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk mengasuh kanak-kanak, dan kemudian mencampakkan tugas membesarkan anak tersebut kepada babysitter dengan bayaran uang, sekian dan sekian rupiah. Apakah mungkin, dan apakah logis, kasih sayang seorang ibu dapat digantikan orang lain dengan imbalan uang yang tidak seberapa? Apakah anak sama dengan sekuntum kembang yang pengasuhannya dapat dialihtangankan kepada orang lain dengan imbalan uang? Apakah kehadiran seorang anak begitu menyebalkan, begitu menjengkelkan, sehingga sang ibu memilih untuk meninggalkannya dan memilih seorang babyisitter untuk ganti mengasuhnya siang malam? Dan itu hanya demi mengejar karir dan jabatan, padahal nafkah dan rejekinya sudah dijamin ayah maupun suami?

Setiap hari seorang perempuan keluar rumah untuk bekerja atau menuntut Ilmu, hal tersebut sudah merupakan dosa besar atas dirinya. Dan kemudian, setiap hari seorang perempuan emansipasi perbuat dosa dengan menolak tugas dan kodrat mengasuh anak, dan kemudian mengalih-tangankan kepada orang lain. Hal tersebut jelas merupakan dosa besar, karena menolak kodrat saja sudah begitu besar dosanya. Dosa nan berlapis-lapis, yang pembayarannya adalah Neraka jahanam, yang hanya akan ia terima begitu ia wafat dan jenazahnya dimasukkan ke liang lahat.

Kelima. Merampas kodrat kaum pria.

Perempuan setiap hari keluar rumah dengan tujuan menuntut Ilmu maupun bekerja mencari nafkah, karir atau pun jabatan. Dengan keluar rumah saja perempuan telah berbuat dosa, karena dengan sendirinya perbuatan tersebut telah mengingkari kodrat domestiknya. Di dalam suatu Alhadis disebutkan, bahwa kalau perempuan keluar rumah, maka Iblis memuliakannya, yang berarti perempuan keluar rumah merupakan bentuk kemaksiatan, buktinya Iblis sangat mendukung dan memuliakannya. Pun dengan keluar rumah, maka dilalaikannya-lah seluruh tugas kodratinya, khususnya membesarkan anak-anak. Intinya, ketika perempuan keluar rumah, maka ia telah menampakkan auratnya kepada kaum pria di tengah kota.

Setelah itu, apalagi kemaksiatan yang diperbuat perempuan di luar rumah? Ya, emansipasi yang diperbuat perempuan di luar rumah, merupakan kegigihannya untuk merebut dan menjarah kodrat kaum pria: mencari nafkah, menjadi karyawan, menjadi menteri, dsb. Setelah kaum perempuan mengingkari kodrat keperempuanannya, kemudian perempuan-perempuan tersebut menjarahi kodrat kaum pria di tengah kota. Luarbiasa kekejian yang diperbuat perempuan di jaman Emansipasi Wanita: sudah pun mereka mengingkari kodrat kewanitaan, nah kemudian mereka menjarahi kodrat kaum pria, seolah mereka adalah kaum pria jua adanya, yang mempunyai tugas alami untuk mencari nafkah, memimpin rapat, menjadi Presiden dsb.

Mereka lupa, bahwa mereka terlahir sebagai perempuan, yang kodratnya saja sudah jelas berbeda dari kodrat laki-laki. Atau bahkan mereka menolak untuk mengakui bahwa domestik merupakan kodrat kaum perempuan, karena yang mereka inginkan adalah kodrat laki-laki. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Mengapa Perempuan Gemar Menjarahi Kodrat Pria”.

Dosa pertama, mereka mengingkari kodrat Illahi atas mereka, yaitu domestik. Kemudian dosa kedua, mereka menjarahi kodrat kaum pria, seolah mereka adalah kaum pria jua hakikatnya. Dengan kata lain, mereka tidak ridha kepada kodrat Illahi atas mereka, dan menuntut kodrat kaum pria. Dan tidak lupa, dosa berikutnya adalah bahwa mereka keluar rumah, yang ketika mereka keluar rumah maka Iblis memuliakan mereka. Dosa nan berlapis-lapis yang mereka tanam di dunia, dan kelak akan mereka tuai di akhirat di dalam bentuk hukuman Neraka yang menyesakkan dada. Sekarang ketika masih hidup di dunia mereka tidak merasakan hukuman tersebut, namun begitu mereka wafat, maka alangkah beratnya hukuman yang akan mereka masuki (kecuali Illahi berkehendak lain).

Penutup.

Demikianlah dosa yang banyak diperbuat kaum perempuan, dan mereka perbuat dosa tersebut tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut merupakan dosa di sisi Illahi. Atau bahkan justru mereka memang sengaja perbuat maksiat-maksiat tersebut, yang tujuannya memberontaki hukum Illahi, sehingga mereka dengan mudahnya perbuat seluruh dosa tersebut.

Dan ironisnya, sebenarnya kaum perempuan ketika perbuat maksiat-maksiat tersebut, mereka justru menganggapnya sebagai ibadah, bukannya sebagai maksiat. Bekerja mencari uang misalnya, mereka fikir hal tersebut adalah ibadah, karena di dalam fikiran mereka bekerja mencari nafkah adalah perintah Illahi, bahwa bekerja dan uangnya untuk menghi-dupi anak dan keluarganya adalah kewajiban. Oleh karena itu justru kaum perempuan menganggapnya sebagai ibadah yang akan mendatangkan ridha Illahi dan pahala.

Sungguh luar biasa cara mereka berfikir, dengan melupakan bahwa mencari nafkah adalah dan hanyalah tugas dan kodrat kaum pria, sementara perempuan TERLARANG untuk perbuat hal yang sama. Bekerja mencari nafkah: wajib bagi kaum pria, namun HARAM bagi kaum perempuan. Bagian inilah yang tidak difahami kaum perempuan, atau bahkan kaum perem-puan menolaknya dan memberontakinya sedemikian rupa, tanpa mereka sadar bahwa memberontaknya mereka sebenarnya merupakan bentuk pemberontakan terhadap Firman Illahi.

Begitu juga dengan keluar rumah untuk bekerja, dengan berbusana jilbab: mereka fikir bahwa mereka perbuat tersebut merupakan ibadah yang akan mendatangkan pahala dan ridha Illahi, tersebab mereka mengenakan jilbab. Sungguh luar biasa kejahilan mereka: keluar rumah saja sudah merupakan dosa, dan ketika mereka mengenakan jilbab saat keluar rumah maka hal tersebut BUKAN PEMBENAR untuk keluar rumah dan bekerja. Jilbab tidak diciptakan untuk membenarkan perempuan keluar rumah.

Intinya, ketika mereka keluar rumah, maka siapa yang menyelenggarakan tugas domestik seperti mengasuh anak-anak dan memasak? Pun sudah tersebut di dalam Alhadis, bahwa kalau wanita keluar rumah maka Iblis memuliakannya, TIDAK PERDULI apakah perempuan tersebut mengenakan jilbab atau tidak. Apakah Alhadis tersebut belum jelas bagi seluruh umat dan kaum perempuan?

  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka khalwat di kantor, maka apakah hal itu akan menghilangkan dosa khalwat?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka pacaran, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa pacaran?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka meninggalkan tugas domestik dan tugas mengasuh anak-anak, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa karena mangkir dari kodrat Illahi?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka memakai wewangian, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa mengenakan wewangian?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka bertabaruj (alias berdandan sejadi-jadinya), maka apakah hal itu akan menghilangkan dosa bertabarruj?
  • Kalau mereka keluar rumah kendati berjilbab, maka apakah titah Illahi bahwa perempuan terlarang keluar rumah, jadi tidak berlaku?
  • Kalau mereka keluar rumah kendati berjilbab, maka apakah berarti kodrat domestik atas perempuan dapat dihilangkan atau dapat diingkari?

Berjilbab bukanlah syarat pembenar bagi perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Berjilbab atau tidak, tetaplah perempuan harus senantiasa diam di rumahnya, karena seluruh tugasnya justru berada di rumahnya, khususnya untuk mengasuhi anak-anak, dan yang terpenting untuk menjaga kesucian mereka sebagai perempuan, istri dan ibu.

Daftar dosa yang paling banyak diperbuat kaum perempuan tidaklah terbatas pada paparan di atas, melainkan akan bertambah panjang …. Namun cukuplah kelima point di atas saja yang diperbuat perempuan, jangan ditambah lagi dengan aktivitas dosa lainnya. Terkenang Alhadis Nabi Saw yang sangat termahsyur, yaitu …..

Sebagian besar penghuni Neraka adalah perempuan …..

Paparan ini sudah membuktikan kebenaran akan Alhadis tersebut.
Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s