Pentingnya Keberdayaan Bagi Perempuan

daftarpanjang

Biografi Galaila Karen Agustiawan

Galaila Karen Agustiawan, atau akrabnya Karen, merupakan satu dari sekian banyak lulusan ITB yang sukses mengibarkan bendera namanya sendiri dalam bidang industri di Indonesia. Karen mulai menapaki karirnya di sektor energi, khususnya bidang perminyakan, semenjak lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1983 silam. Perjalanan karirnya dimulai dari perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1996 atau ketika perusahaan tersebut di-akuisisi oleh Exxon Mobil.

Bakat kepemimpinan dan pengalamannya di bidang migas mulai mendapat perhatian lebih sejak Desember 2006. Karen diangkat sebagai salah satu staf ahli oleh Ari H. Soemarno, tidak lain adalah Dirut Pertamina saat itu. Maret 2008, ganti pemerintah Indonesia yang mengangkatnya sebagai Direktur Hulu, menggantikan Sukusen Soemarinda. Belum genap setahun menjabat sebagai Direktur Hulu, Karen telah mengampu amanat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Direktur Utama PT Pertamina.

Berkomentar seputar lingkungan kerja yang didominasi kaum adam, Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Sumber, https://m.merdeka.com/galaila-karen-agustiawan/profil/

Annisanation,

ANNISANATIONIslam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain: ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita. Namun faktanya tidaklah demikian.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah di rumahnya, yaitu kodrat domestik. Islam melarang perempuan untuk keluar rumah secara permanen, untuk tujuan apa pun. Untuk ibadah saja, Islam justru mengajarkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan untuk beribadah adalah di rumahnya, bukan di luar rumah. Kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di rumah, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah?

Artikel annisanation membahas dan membuktikan bahwa Emansipasi Wanita merupakan kekejian yang hanya membawa malapetaka bagi umat dunia. Jadi dengan demikian, Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, dan kebalikannya, Islam mengajarkan Domestikalisasi Wanita, yaitu pemahaman untuk terus menempatkan perempuan di dalam rumahnya.

Terdapat berbagai pandangan di dalam kehidupan ini, di mana perempuan sudah saatnya mendapatkan pemberdayaan, di dalam bentuk memperoleh pendidikan hingga setinggi-tingginya, dan memperoleh akses kepada pekerjaan untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan –seperti halnya kaum pria. Maka pada titik inilah terjadi banyak malapetaka yang menyengsarakan umat manusia, tidak saja umat Muslim.

Seperti pada paparan ini yang mengetengahkan tokoh Indonesia yang bernama Karen Agustiawan, yang adalah Dirut Pertamina. Paparan ini mengutip perkataan sang Karen, yaitu “mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerde-kaan finansial bagi perempuan”. Jadi dengan ungkapannya ini, Karen mengesankan bahwa tanpa kemerdekaan finansial, maka kaum perempuan akan terus dirundung kesusahan yang ditimpakan kaum laki-laki tanpa bisa melawan sedikit pun. Hanya dengan kemerde-kaan finansial-lah, maka kaum perempuan bisa membebaskan dirinya dari kesusahan yang disebabkan kaum pria.

Dapat dikatakan, bahwa sebenarnya bukan Karen Agustiawan saja yang mengemukakan ungkapan tersebut. Banyak perempuan lain yang juga berpandangan sama, yaitu bahwa sebaiknya kaum perempuan mempunyai pekerjaan dan sumber keuangan sendiri, demi bisa terbebas dari ketergantungan terhadap kaum pria. Setidaknya, mandiri secara keuangan dapat membebaskan kaum perempuan dari kesewenangan kaum pria.

Benarkah demikian?

Dengan sendirinya, pandangan ini memunculkan dua aspek untuk dibahas, yang pada akhirnya akan memberi pemahaman, bahwa ungkapan tersebut adalah keji dan KELIRU BESAR.

Aspek pertama.

Untuk menuju pemberdayaan perempuan yang berujung pada kemerdekaan finansial, berarti seorang perempuan sejak kecil harus selalu keluar rumah untuk bersekolah dan kuliah, kemudian bekerja. Ini semua berakibat pada terpaparnya kaum perempuan kepada kaum pria di tengah kota secara intens. Mereka, laki-laki dan perempuan, para gadis yang masih suci dan para perjaka yang masih bau kencur, akan selalu bertemu di setiap lini pergaulan di luar rumah.

Apakah hal tersebut tidak akan memicu terjadinya jalinan kemistri antara seorang gadis dengan pria di luar rumah? Apakah ada yang bisa menjamin bahwa hal tersebut tidak akan memicu munculnya jalinan asmara dan saling mencintai, hingga pada akhirnya berakibat pada terjadi hubungan zina dan hamil di luar nikah?

Perempuan, pada segala umur, pada dasarnya adalah mahluk yang identik dengan rasa malu dan jengah kepada pria asing mana saja, dan hal tersebut merupakan fitrah atas kaum perempuan: bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu dan jengah terhadap pria asing. Namun kalau perempuan setiap hari bertemu pria asing di tengah kota, fitrah tersebut otomatis hilang dari psikologi sang perempuan, dan akan berganti dengan bangkitnya rasa suka dan nyaman kepada pria-pria asing mana saja. Maka apakah pemberdayaan perempuan sudah sesuai dengan jalan fitrah kaum perempuan? Jelas fitrah harus dijaga dan dipertahankan, namun Emansipasi Wanita mempunyai metode sendiri untuk meruntuhkan fitrah perempuan tersebut. Kalau perempuan telah kehilangan rasa malu terhadap pria asing mana saja, maka apalagi yang bisa diharapkan? Itulah  awal dari maraknya kasus zina di tengah umat. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!

Supermasif-nya perempuan keluar rumah untuk tujuan pemberdayaan, telah membuat fenomena pacaran sebagai suatu hal yang lumrah, padahal pada masa pra Emansipasi Wanita, umat benar-benar mengharamkan dan menajiskan pacaran, karena hal tersebut adalah gerbang terbesar bagi terjadinya perzinahan. Maka bukankah hal tersebut sekarang memang sudah terbukti, di mana Emansipasi Wanita mencetuskan fenomena pacaran, dan kemudian pacaran ini menyumbang kasus zina secara signifikan? Bagaimana anak muda tidak pacaran, kalau mereka setiap hari bertemu di luar rumah secara intens?

Berapa banyak dilaporkan di tengah masyarakat bahwa perempuan muda yang kehilangan kegadisannya terus meningkat angkanya? Berapa banyak terjadi bahwa anak gadis pulang ke rumah di dalam keadaan sudah ternoda, karena telah menyerahkan kesuciannya kepada sang pria pujaan hati? Berapa banyak terjadi bahwa pengantin perempuan sudah tidak lagi suci pada malam pertama pernikahan mereka? Berapa banyak dilaporkan ditemukannya bangkai bayi di tempat sampah, yang jelas bayi tersebut merupakan hasil zina? Perempuan yang sebenarnya mahluk lembut nan penuh cinta, berubah menjadi mahluk ganas yang gemar membunuh bayinya sendiri? Yang baru lahir? Yang tidak berdaya? Yang tidak mem-punyai dosa? Maka apakah Emansipasi Wanita merupakan manifestasi kebenaran? Dan inikah cara kebenaran diungkapkan?

Kemudian pada babak berikutnya, perempuan-perempuan tersebut menuntut dan / memperoleh pekerjaan, untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan. Artinya, perempuan akan mempunyai sumber uang sendiri, dan ini artinya perempuan akan mempunyai otoritasnya sendiri sebagai pribadi di dalam memandang berbagai hal. Babak ini setidaknya berimbas pada dua hal:

Pertama, mempunyai sumber keuangan sendiri jelas akan mengubah mentalitas dan psikologi sang perempuan di dalam memandang nilai dan ajaran hidup, apalagi ajaran agama. Perempuan yang mempunyai uang sendiri, dan mempunyai karir, berubah menjadi perempuan yang berkuasa atas laki-laki: suaminya, ayahnya, maupun sistem patriarkhat secara lebih luas. Wanita yang mempunyai karir dan sumber keuangan sendiri akan semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin berani menentang doktrin agama. Pada satu aspeknya, latar ini membuat perempuan semakin mudah mengajukan gugat cerai kepada suaminya, karena toh uang sudah ia miliki sendiri tanpa tergantung pada suami.

Terlebih, perempuan karir yang berani menantang doktrin agama, merasa tidak mempu-nyai beban sedikit pun saat pamer aurat dan berkhalwat dengan rekan pria-nya di kantor, dan sering berakhir dengan bentuk selingkuh: dan itu semua diperbuat tanpa merasa bersalah sedikit pun. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!!

Kedua, dengan perempuan bekerja, maka itu artinya akan ada banyak pangker (lapangan kerja) yang direbut kaum perempuan. Dan itu artinya akan banyak laki-laki yang terdepak dari pangker, sehingga mereka terpaksa menganggur seumur hidup. Pangker alaminya adalah milik kaum pria, karena bekerja bagi pria sungguh strategis: menafkahi istri dan keluarga adalah kewajiban agama dan sosial bagi kaum pria, sementara nafkah perempuan sebenarnya sudah ditanggung pria mereka. Bagi perempuan bekerja hanyalah untuk memenuhi ambisi pribadinya, untuk gagah-gagahan saja; dan tidak ada salahnya kalau perempuan tinggal di rumah saja mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Jadi sebenarnya urgensi apa yang mengharuskan perempuan bekerja, yang mana itu artinya merampas pangker dari kaum pria?

Sudah banyak ditemui suami yang menganggur, dan itu masih ditambah satu fakta: istrinya lah yang bekerja, sehingga istrilah yang menafkahi keluarganya, padahal sang suami sehat dan qualified untuk bekerja. Secara psikologis ini berarti ancaman kewibawaan atas para suami dan seluruh pria. Suamilah yang momong anak, masak nasi, mencuci baju, dsb. Dan mengerikan sekali, bahwa kini suamilah yang harus taat kepada istri.

Harus diingat, bahwa menganggurnya para lelaki bukan karena mereka tidak mempunyai nilai jual di bursa tenaga kerja, melainkan karena perempuan telah lebih dulu merebut pangker. Dan atas nama sikap gentleman, tentunya para bos lebih memilih pelamar perem-puan dan membiarkan pelamar laki-laki pulang dengan tangan kosong. Kekuatan Iblis jelas berperan dominan di sini untuk membisiki para bos untuk mendepak pelamar laki-laki, atas nama sikap gentleman.

Apakah jumlah pangker di dalam kehidupan ini begitu melimpah, sehingga sebanyak apa pun perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan mengganggu jatah pangker kaum pria? Namun mana buktinya? Bukankah dengan infiltrasi kaum perempuan ke dunia kerja, akibatnya laki-laki terdepak dari pangker dan mengakibatkan mereka menjadi pengangguran?

Mungkin Emansipasi Wanita merupakan kebajikan dan keindahan hidup, namun bagaima-na dengan fakta keseharian? Apakah Emansipasi Wanita berarti bahwa kaum pria harus menjadi pengangguran saja di rumah, dan perempuan bekerja di kantor dengan begitu banyaknya faktor penyerta: selingkuh, khalwat, kondomisasi, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, marak gugat cerai terhadap suami, istri yang membangkang terhadap suami, dsb? Atau, apakah Emansipasi Wanita merupakan prioritas seluruh dunia demi perempuan bisa gagah-gagahan dan berkelimpahan materi, sehingga demi prioritas tersebut kaum pria dibiarkan saja menjadi pengangguran dengan semua efek kriminalitas kotanya?

Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca ketika perempuan berkuasa atas laki-laki,

)) Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki Dan Melawan Kodrat

Gerakan Emansipasi Wanita dijelaskan dengan beberapa efek ini:

  • Emansipasi Wanita jelas-jelas berparalel dengan runtuhnya kesucian kaum perem-puan secara supermasif di tengah kota: liberal berpakaian, liberal di dalam hal pergaulan, liberal di dalam hal ideologi dan mengkritisi ajaran agama.
  • Emansipasi Wanita berparalel dengan maraknya angka zina, dan lebih dari itu, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan halalisasi pacaran, yang pacaran terse-but merupakan gerbang terluas bagi merebaknya perzinahan. Itu belum ter-masuk aborsi, kondomisasi, freesex, selingkuh, pamer aurat, bangkai bayi di tempat sampah, merebut suami orang, dsb. Halalisasi zina, halalisasi kondom, halalisasi selingkuh, halalisasi pamer aurat, halalisasi khalwat, dsb.
  • Dan pada titik kulminasinya, Emansipasi Wanita selalu berarti tingginya angka gugat cerai melawan suami di pengadilan, karena istri yang berkarir selalu menun-tut ketaatan lebih dari pihak suami; dan kalau suami melawan maka silahkan bercerai.
  • Di tengah beranak pinaknya Emansipasi Wanita, asyik-maksuknya perempuan berkarir berimplikasi pada meledaknya pengangguran di kalangan pria. Dan kaum perempuan sama sekali tidak ambil perduli dengan banyaknya pria pengangguran, padahal menganggurnya kaum pria tidak lain mereka sendirilah penyebabnya.

Kalau umat ingin perzinahan menjadi halal dan dibanggakan, maka megahkanlah Emansipasi Wanita; megahkanlah usaha untuk mengirim anak perempuan ke sekolah sejak dini, dan kemudian bekerja mencari uang, karir dan jabatan: karena itu semua akan berimplikasi pada perzinahan, selingkuh, kondomisasi, freesex, bangkai bayi di tempat sampah, dsb. Namun kalau umat merasa bahwa perzinahan adalah keji dan sataniah, maka tentunya lifestyle untuk membebaskan perempuan keluar rumah setiap hari, harus dihentikan, dan Emansipasi Wanita harus ditumpas.

Intinya, kemerdekaan finansial yang harus direbut kaum perempuan, bukanlah perkara yang dapat dilihat secara an sich. Terlalu banyak yang harus dipertaruhkan umat, kalau Emansipasi Wanita harus dikembangkan, dan kalau perempuan harus membangun kemerdekaan finansialnya.

Aspek kedua.

Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk ‘memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan’. Timbul pertanyaan. Kemerdekaan terhadap apa? Terhadap (kesewenangan) kaum pria-kah? Atau kemerdekaan terhadap doktrin agama yang dinilai selalu mengekang kebebasan kaum perempuan-kah? Atau kemerdekaan untuk terlepas dari jeratan kodrat dan hukum alam-kah? Atau kemerdekaan untuk terbebas dari pelabelan mahluk domestik-kah? Atau kemerdekaan untuk menya-takan pendapat-kah, yang dipastikan pendapat tersebut akan berkontra terhadap ajaran agama, tatanan sosial maupun petuah leluhur? Terlalu banyak kemungkinan -memang …., namun keseluruhan kemungkinan tersebut dipastikan negatif adanya.

Terdapat dua hal yang harus dikemukakan di sini, berkenaan kemerdekaan finansial yang dituntut kaum perempuan -di dalam faham yang dengan Emansipasi Wanita:

Pertama, selama masa Siti Nurbaya di mana perempuan tidak (di)-berdaya-(kan), apakah kaum perempuan senyatanya selalu terpuruk dan terhina, kemudian teraniaya demikian rupa oleh kaum pria, agama dan ketentuan adat? Pada masa ketika tidak ada pember-dayaan perempuan, apakah banyak perempuan kelaparan dan mati bergelimpangan di tepi jalan yang itu semua disebabkan kaum pria yang tidak bersyukur kepada Tuhan? Ketika kaum perempuan belum diberdayakan, apakah terlihat bahwa kaum pria sama sekali tidak memperhatikan kemaslahatan kaum perempuan? Apakah kaum pria secara hukum alam membenci perempuan sehingga perempuan dibiarkan saja terlantar di tengah rimba? Kalau jaman sekarang perempuan menuntut keberdayaan finansial tersebab pentingnya kemerdekaan bagi perempuan, maka di mana letak urgensinya? Kemerdekaan artinya adalah kebebasan: kebebasan dari dan terhadap apa?

Kedua, apakah ide dan fikiran perempuan bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum perem-puan di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi perempuan satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, hukum kepantasan, dsb. Perempuan yang diberdayakan tidak akan pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum perempuan sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut kemerdekaan finansial (entah kemerdekaan tersebut terhadap apa) melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan perempuan, tiba-tiba agama menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum perempuan yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum perempuan, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum perempuan.

Angka Perceraian Meningkat-001

——————————

Angka Perceraian Meningkat-002

Extratext.

Banyak perempuan sophisticated yang berpesan untuk perempuan lainnya, seperti Karen ini, bahwa sudah saatnya kaum perempuan mempunyai kemerdekaan finansial, yang mana itu berarti kaum perempuan harus bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan. Perempuan-perempuan yang mengumandangkan pesan ini, tentunya telah asyik maksuk dengan karirnya di dunia kerja, asyik maksuk dengan uang melimpah yang ia peroleh dari kantornya …. Secara alamiah, itu artinya perempuan-perempuan sophisticated ini telah mencampakkan tugas domestiknya kepada para pembantu di rumah: siapa yang mencuci piring, siapa yang menanak nasi, siapa yang menjaga rumah, siapa yang mencuci pakaian dan menerikanya, dsb seluruh tugas tersebut telah dicampakkan kepada para pembantu …. Dan siapa yang membersihkan cirit anak, siapa yang menyuapi sang anak, siapa yang momong anak, siapa yang menyusui sang anak, keseluruhan tugas tersebut telah dicampakkan kepada babysitter di rumah ….. sehingga perempuan-perempuan sophisticated ini sudah tidak mau lagi perduli dengan segala tetek bengek tugas domestik, karena mereka lebih asyik memilih untuk beralih kepada dunianya para lelaki, yaitu bekerja mencari uang, karir dan jabatan …..

  • keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, mau pun popularitas yang ujung-ujungnya juga mencari uang,
  • memimpin rapat di kantor,
  • mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • menerima gaji,
  • melakukan perjalanan dinas,
  • menerima tamu bisnis,
  • menandatangani dokumen bisnis mau pun perjanjian kerja,
  • memerintah bawahan,
  • pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia,
  • kemudian makan, lalu tidur istirahat,
  • totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Dsb.

Mereka, para wanita modern, yang sudah kenyang dengan berbagai pemberdayaan (akibat disekolahkan dan diberi pekerjaan), akibatnya sudah tidak ingin tahu-menahu soal:

  • dapur,
  • mencuci baju,
  • mengurus cirit sang anak,
  • memandikan sang anak,
  • menyuapi makan sang anak,
  • merapikan rumah dan tempat tidur,
  • mencuci dan menjahit baju,
  • mencuci piring, dsb.

Ketika seorang perempuan berpesan kepada rekan-rekannya soal pentingnya perempuan merdeka secara finansial, maka signifikansi dari pesan tersebut adalah bahwa perempuan tidak lagi perlu menjadi perempuan …. karena sudah saatnya perempuan menjadi laki-laki di sektor publik. Perempuan yang merdeka secara finansial adalah perempuan yang mengutuk tugas domestik, yang mana itu berarti perempuan yang diberdayakan beralih kepada fikiran bahwa tugas domestik merupakan ketertinggalan dan keterbelakangan kaum perempuan, sehingga itu semua harus ditinggalkan untuk mendapatkan hak dan kemajuan.

Bagi perempuan yang diberdayakan, bagi perempuan sophies ini, hak dan kemajuan yang harus diraih perempuan adalah menjalani kehidupan bak seorang pria, yaitu bekerja dan berkarir mencari uang di kantor, kemudian menjadi pemimpin publik, yang sama sekali tidak mau ambil pusing dengan semua tetek bengek urusan domestik di rumah. Itulah siginikansi dari sebuah pesan: perempuan sudah saatnya memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh  tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, kemerdekaan finansial yang didambakan kaum perempuan, justru membuat kaum perempuan semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

One thought on “Pentingnya Keberdayaan Bagi Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s