Pentingnya Keberdayaan Bagi Perempuan

daftarpanjang

Biografi Galaila Karen Agustiawan

Galaila Karen Agustiawan, atau akrabnya Karen, merupakan satu dari sekian banyak lulusan ITB yang sukses mengibarkan bendera namanya sendiri dalam bidang industri di Indonesia. Karen mulai menapaki karirnya di sektor energi, khususnya bidang perminyakan, semenjak lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1983 silam. Perjalanan karirnya dimulai dari perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1996 atau ketika perusahaan tersebut di-akuisisi oleh Exxon Mobil.

Bakat kepemimpinan dan pengalamannya di bidang migas mulai mendapat perhatian lebih sejak Desember 2006. Karen diangkat sebagai salah satu staf ahli oleh Ari H. Soemarno, tidak lain adalah Dirut Pertamina saat itu. Maret 2008, ganti pemerintah Indonesia yang mengangkatnya sebagai Direktur Hulu, menggantikan Sukusen Soemarinda. Belum genap setahun menjabat sebagai Direktur Hulu, Karen telah mengampu amanat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Direktur Utama PT Pertamina.

Berkomentar seputar lingkungan kerja yang didominasi kaum adam, Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Sumber, https://m.merdeka.com/galaila-karen-agustiawan/profil/

Annisanation,

ANNISANATIONIslam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain: ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita. Namun faktanya tidaklah demikian.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah di rumahnya, yaitu kodrat domestik. Islam melarang perempuan untuk keluar rumah secara permanen, untuk tujuan apa pun. Untuk ibadah saja, Islam justru mengajarkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan untuk beribadah adalah di rumahnya, bukan di luar rumah. Kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di rumah, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah?

Artikel annisanation membahas dan membuktikan bahwa Emansipasi Wanita merupakan kekejian yang hanya membawa malapetaka bagi umat dunia. Jadi dengan demikian, Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, dan kebalikannya, Islam mengajarkan Domestikalisasi Wanita, yaitu pemahaman untuk terus menempatkan perempuan di dalam rumahnya.

Terdapat berbagai pandangan di dalam kehidupan ini, di mana perempuan sudah saatnya mendapatkan pemberdayaan, di dalam bentuk memperoleh pendidikan hingga setinggi-tingginya, dan memperoleh akses kepada pekerjaan untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan –seperti halnya kaum pria. Maka pada titik inilah terjadi banyak malapetaka yang menyengsarakan umat manusia, tidak saja umat Muslim.

Seperti pada paparan ini yang mengetengahkan tokoh Indonesia yang bernama Karen Agustiawan, yang adalah Dirut Pertamina. Paparan ini mengutip perkataan sang Karen, yaitu “mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerde-kaan finansial bagi perempuan”. Jadi dengan ungkapannya ini, Karen mengesankan bahwa tanpa kemerdekaan finansial, maka kaum perempuan akan terus dirundung kesusahan yang ditimpakan kaum laki-laki tanpa bisa melawan sedikit pun. Hanya dengan kemerde-kaan finansial-lah, maka kaum perempuan bisa membebaskan dirinya dari kesusahan yang disebabkan kaum pria.

Dapat dikatakan, bahwa sebenarnya bukan Karen Agustiawan saja yang mengemukakan ungkapan tersebut. Banyak perempuan lain yang juga berpandangan sama, yaitu bahwa sebaiknya kaum perempuan mempunyai pekerjaan dan sumber keuangan sendiri, demi bisa terbebas dari ketergantungan terhadap kaum pria. Setidaknya, mandiri secara keuangan dapat membebaskan kaum perempuan dari kesewenangan kaum pria.

Benarkah demikian?

Dengan sendirinya, pandangan ini memunculkan dua aspek untuk dibahas, yang pada akhirnya akan memberi pemahaman, bahwa ungkapan tersebut adalah keji dan KELIRU BESAR.

Aspek pertama.

Untuk menuju pemberdayaan perempuan yang berujung pada kemerdekaan finansial, berarti seorang perempuan sejak kecil harus selalu keluar rumah untuk bersekolah dan kuliah, kemudian bekerja. Ini semua berakibat pada terpaparnya kaum perempuan kepada kaum pria di tengah kota secara intens. Mereka, laki-laki dan perempuan, para gadis yang masih suci dan para perjaka yang masih bau kencur, akan selalu bertemu di setiap lini pergaulan di luar rumah.

Apakah hal tersebut tidak akan memicu terjadinya jalinan kemistri antara seorang gadis dengan pria di luar rumah? Apakah ada yang bisa menjamin bahwa hal tersebut tidak akan memicu munculnya jalinan asmara dan saling mencintai, hingga pada akhirnya berakibat pada terjadi hubungan zina dan hamil di luar nikah?

Perempuan, pada segala umur, pada dasarnya adalah mahluk yang identik dengan rasa malu dan jengah kepada pria asing mana saja, dan hal tersebut merupakan fitrah atas kaum perempuan: bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu dan jengah terhadap pria asing. Namun kalau perempuan setiap hari bertemu pria asing di tengah kota, fitrah tersebut otomatis hilang dari psikologi sang perempuan, dan akan berganti dengan bangkitnya rasa suka dan nyaman kepada pria-pria asing mana saja. Maka apakah pemberdayaan perempuan sudah sesuai dengan jalan fitrah kaum perempuan? Jelas fitrah harus dijaga dan dipertahankan, namun Emansipasi Wanita mempunyai metode sendiri untuk meruntuhkan fitrah perempuan tersebut. Kalau perempuan telah kehilangan rasa malu terhadap pria asing mana saja, maka apalagi yang bisa diharapkan? Itulah  awal dari maraknya kasus zina di tengah umat. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!

Supermasif-nya perempuan keluar rumah untuk tujuan pemberdayaan, telah membuat fenomena pacaran sebagai suatu hal yang lumrah, padahal pada masa pra Emansipasi Wanita, umat benar-benar mengharamkan dan menajiskan pacaran, karena hal tersebut adalah gerbang terbesar bagi terjadinya perzinahan. Maka bukankah hal tersebut sekarang memang sudah terbukti, di mana Emansipasi Wanita mencetuskan fenomena pacaran, dan kemudian pacaran ini menyumbang kasus zina secara signifikan? Bagaimana anak muda tidak pacaran, kalau mereka setiap hari bertemu di luar rumah secara intens?

Berapa banyak dilaporkan di tengah masyarakat bahwa perempuan muda yang kehilangan kegadisannya terus meningkat angkanya? Berapa banyak terjadi bahwa anak gadis pulang ke rumah di dalam keadaan sudah ternoda, karena telah menyerahkan kesuciannya kepada sang pria pujaan hati? Berapa banyak terjadi bahwa pengantin perempuan sudah tidak lagi suci pada malam pertama pernikahan mereka? Berapa banyak dilaporkan ditemukannya bangkai bayi di tempat sampah, yang jelas bayi tersebut merupakan hasil zina? Perempuan yang sebenarnya mahluk lembut nan penuh cinta, berubah menjadi mahluk ganas yang gemar membunuh bayinya sendiri? Yang baru lahir? Yang tidak berdaya? Yang tidak mem-punyai dosa? Maka apakah Emansipasi Wanita merupakan manifestasi kebenaran? Dan inikah cara kebenaran diungkapkan?

Kemudian pada babak berikutnya, perempuan-perempuan tersebut menuntut dan / memperoleh pekerjaan, untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan. Artinya, perempuan akan mempunyai sumber uang sendiri, dan ini artinya perempuan akan mempunyai otoritasnya sendiri sebagai pribadi di dalam memandang berbagai hal. Babak ini setidaknya berimbas pada dua hal:

Pertama, mempunyai sumber keuangan sendiri jelas akan mengubah mentalitas dan psikologi sang perempuan di dalam memandang nilai dan ajaran hidup, apalagi ajaran agama. Perempuan yang mempunyai uang sendiri, dan mempunyai karir, berubah menjadi perempuan yang berkuasa atas laki-laki: suaminya, ayahnya, maupun sistem patriarkhat secara lebih luas. Wanita yang mempunyai karir dan sumber keuangan sendiri akan semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin berani menentang doktrin agama. Pada satu aspeknya, latar ini membuat perempuan semakin mudah mengajukan gugat cerai kepada suaminya, karena toh uang sudah ia miliki sendiri tanpa tergantung pada suami.

Terlebih, perempuan karir yang berani menantang doktrin agama, merasa tidak mempu-nyai beban sedikit pun saat pamer aurat dan berkhalwat dengan rekan pria-nya di kantor, dan sering berakhir dengan bentuk selingkuh: dan itu semua diperbuat tanpa merasa bersalah sedikit pun. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!!

Kedua, dengan perempuan bekerja, maka itu artinya akan ada banyak pangker (lapangan kerja) yang direbut kaum perempuan. Dan itu artinya akan banyak laki-laki yang terdepak dari pangker, sehingga mereka terpaksa menganggur seumur hidup. Pangker alaminya adalah milik kaum pria, karena bekerja bagi pria sungguh strategis: menafkahi istri dan keluarga adalah kewajiban agama dan sosial bagi kaum pria, sementara nafkah perempuan sebenarnya sudah ditanggung pria mereka. Bagi perempuan bekerja hanyalah untuk memenuhi ambisi pribadinya, untuk gagah-gagahan saja; dan tidak ada salahnya kalau perempuan tinggal di rumah saja mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Jadi sebenarnya urgensi apa yang mengharuskan perempuan bekerja, yang mana itu artinya merampas pangker dari kaum pria?

Sudah banyak ditemui suami yang menganggur, dan itu masih ditambah satu fakta: istrinya lah yang bekerja, sehingga istrilah yang menafkahi keluarganya, padahal sang suami sehat dan qualified untuk bekerja. Secara psikologis ini berarti ancaman kewibawaan atas para suami dan seluruh pria. Suamilah yang momong anak, masak nasi, mencuci baju, dsb. Dan mengerikan sekali, bahwa kini suamilah yang harus taat kepada istri.

Harus diingat, bahwa menganggurnya para lelaki bukan karena mereka tidak mempunyai nilai jual di bursa tenaga kerja, melainkan karena perempuan telah lebih dulu merebut pangker. Dan atas nama sikap gentleman, tentunya para bos lebih memilih pelamar perem-puan dan membiarkan pelamar laki-laki pulang dengan tangan kosong. Kekuatan Iblis jelas berperan dominan di sini untuk membisiki para bos untuk mendepak pelamar laki-laki, atas nama sikap gentleman.

Apakah jumlah pangker di dalam kehidupan ini begitu melimpah, sehingga sebanyak apa pun perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan mengganggu jatah pangker kaum pria? Namun mana buktinya? Bukankah dengan infiltrasi kaum perempuan ke dunia kerja, akibatnya laki-laki terdepak dari pangker dan mengakibatkan mereka menjadi pengangguran?

Mungkin Emansipasi Wanita merupakan kebajikan dan keindahan hidup, namun bagaima-na dengan fakta keseharian? Apakah Emansipasi Wanita berarti bahwa kaum pria harus menjadi pengangguran saja di rumah, dan perempuan bekerja di kantor dengan begitu banyaknya faktor penyerta: selingkuh, khalwat, kondomisasi, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, marak gugat cerai terhadap suami, istri yang membangkang terhadap suami, dsb? Atau, apakah Emansipasi Wanita merupakan prioritas seluruh dunia demi perempuan bisa gagah-gagahan dan berkelimpahan materi, sehingga demi prioritas tersebut kaum pria dibiarkan saja menjadi pengangguran dengan semua efek kriminalitas kotanya?

Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca ketika perempuan berkuasa atas laki-laki,

)) Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki Dan Melawan Kodrat

Gerakan Emansipasi Wanita dijelaskan dengan beberapa efek ini:

  • Emansipasi Wanita jelas-jelas berparalel dengan runtuhnya kesucian kaum perem-puan secara supermasif di tengah kota: liberal berpakaian, liberal di dalam hal pergaulan, liberal di dalam hal ideologi dan mengkritisi ajaran agama.
  • Emansipasi Wanita berparalel dengan maraknya angka zina, dan lebih dari itu, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan halalisasi pacaran, yang pacaran terse-but merupakan gerbang terluas bagi merebaknya perzinahan. Itu belum ter-masuk aborsi, kondomisasi, freesex, selingkuh, pamer aurat, bangkai bayi di tempat sampah, merebut suami orang, dsb. Halalisasi zina, halalisasi kondom, halalisasi selingkuh, halalisasi pamer aurat, halalisasi khalwat, dsb.
  • Dan pada titik kulminasinya, Emansipasi Wanita selalu berarti tingginya angka gugat cerai melawan suami di pengadilan, karena istri yang berkarir selalu menun-tut ketaatan lebih dari pihak suami; dan kalau suami melawan maka silahkan bercerai.
  • Di tengah beranak pinaknya Emansipasi Wanita, asyik-maksuknya perempuan berkarir berimplikasi pada meledaknya pengangguran di kalangan pria. Dan kaum perempuan sama sekali tidak ambil perduli dengan banyaknya pria pengangguran, padahal menganggurnya kaum pria tidak lain mereka sendirilah penyebabnya.

Kalau umat ingin perzinahan menjadi halal dan dibanggakan, maka megahkanlah Emansipasi Wanita; megahkanlah usaha untuk mengirim anak perempuan ke sekolah sejak dini, dan kemudian bekerja mencari uang, karir dan jabatan: karena itu semua akan berimplikasi pada perzinahan, selingkuh, kondomisasi, freesex, bangkai bayi di tempat sampah, dsb. Namun kalau umat merasa bahwa perzinahan adalah keji dan sataniah, maka tentunya lifestyle untuk membebaskan perempuan keluar rumah setiap hari, harus dihentikan, dan Emansipasi Wanita harus ditumpas.

Intinya, kemerdekaan finansial yang harus direbut kaum perempuan, bukanlah perkara yang dapat dilihat secara an sich. Terlalu banyak yang harus dipertaruhkan umat, kalau Emansipasi Wanita harus dikembangkan, dan kalau perempuan harus membangun kemerdekaan finansialnya.

Aspek kedua.

Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk ‘memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan’. Timbul pertanyaan. Kemerdekaan terhadap apa? Terhadap (kesewenangan) kaum pria-kah? Atau kemerdekaan terhadap doktrin agama yang dinilai selalu mengekang kebebasan kaum perempuan-kah? Atau kemerdekaan untuk terlepas dari jeratan kodrat dan hukum alam-kah? Atau kemerdekaan untuk terbebas dari pelabelan mahluk domestik-kah? Atau kemerdekaan untuk menya-takan pendapat-kah, yang dipastikan pendapat tersebut akan berkontra terhadap ajaran agama, tatanan sosial maupun petuah leluhur? Terlalu banyak kemungkinan -memang …., namun keseluruhan kemungkinan tersebut dipastikan negatif adanya.

Terdapat dua hal yang harus dikemukakan di sini, berkenaan kemerdekaan finansial yang dituntut kaum perempuan -di dalam faham yang dengan Emansipasi Wanita:

Pertama, selama masa Siti Nurbaya di mana perempuan tidak (di)-berdaya-(kan), apakah kaum perempuan senyatanya selalu terpuruk dan terhina, kemudian teraniaya demikian rupa oleh kaum pria, agama dan ketentuan adat? Pada masa ketika tidak ada pember-dayaan perempuan, apakah banyak perempuan kelaparan dan mati bergelimpangan di tepi jalan yang itu semua disebabkan kaum pria yang tidak bersyukur kepada Tuhan? Ketika kaum perempuan belum diberdayakan, apakah terlihat bahwa kaum pria sama sekali tidak memperhatikan kemaslahatan kaum perempuan? Apakah kaum pria secara hukum alam membenci perempuan sehingga perempuan dibiarkan saja terlantar di tengah rimba? Kalau jaman sekarang perempuan menuntut keberdayaan finansial tersebab pentingnya kemerdekaan bagi perempuan, maka di mana letak urgensinya? Kemerdekaan artinya adalah kebebasan: kebebasan dari dan terhadap apa?

Kedua, apakah ide dan fikiran perempuan bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum perem-puan di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi perempuan satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, hukum kepantasan, dsb. Perempuan yang diberdayakan tidak akan pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum perempuan sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut kemerdekaan finansial (entah kemerdekaan tersebut terhadap apa) melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan perempuan, tiba-tiba agama menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum perempuan yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum perempuan, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum perempuan.

Angka Perceraian Meningkat-001

——————————

Angka Perceraian Meningkat-002

Extratext.

Banyak perempuan sophisticated yang berpesan untuk perempuan lainnya, seperti Karen ini, bahwa sudah saatnya kaum perempuan mempunyai kemerdekaan finansial, yang mana itu berarti kaum perempuan harus bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan. Perempuan-perempuan yang mengumandangkan pesan ini, tentunya telah asyik maksuk dengan karirnya di dunia kerja, asyik maksuk dengan uang melimpah yang ia peroleh dari kantornya …. Secara alamiah, itu artinya perempuan-perempuan sophisticated ini telah mencampakkan tugas domestiknya kepada para pembantu di rumah: siapa yang mencuci piring, siapa yang menanak nasi, siapa yang menjaga rumah, siapa yang mencuci pakaian dan menerikanya, dsb seluruh tugas tersebut telah dicampakkan kepada para pembantu …. Dan siapa yang membersihkan cirit anak, siapa yang menyuapi sang anak, siapa yang momong anak, siapa yang menyusui sang anak, keseluruhan tugas tersebut telah dicampakkan kepada babysitter di rumah ….. sehingga perempuan-perempuan sophisticated ini sudah tidak mau lagi perduli dengan segala tetek bengek tugas domestik, karena mereka lebih asyik memilih untuk beralih kepada dunianya para lelaki, yaitu bekerja mencari uang, karir dan jabatan …..

  • keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, mau pun popularitas yang ujung-ujungnya juga mencari uang,
  • memimpin rapat di kantor,
  • mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • menerima gaji,
  • melakukan perjalanan dinas,
  • menerima tamu bisnis,
  • menandatangani dokumen bisnis mau pun perjanjian kerja,
  • memerintah bawahan,
  • pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia,
  • kemudian makan, lalu tidur istirahat,
  • totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Dsb.

Mereka, para wanita modern, yang sudah kenyang dengan berbagai pemberdayaan (akibat disekolahkan dan diberi pekerjaan), akibatnya sudah tidak ingin tahu-menahu soal:

  • dapur,
  • mencuci baju,
  • mengurus cirit sang anak,
  • memandikan sang anak,
  • menyuapi makan sang anak,
  • merapikan rumah dan tempat tidur,
  • mencuci dan menjahit baju,
  • mencuci piring, dsb.

Ketika seorang perempuan berpesan kepada rekan-rekannya soal pentingnya perempuan merdeka secara finansial, maka signifikansi dari pesan tersebut adalah bahwa perempuan tidak lagi perlu menjadi perempuan …. karena sudah saatnya perempuan menjadi laki-laki di sektor publik. Perempuan yang merdeka secara finansial adalah perempuan yang mengutuk tugas domestik, yang mana itu berarti perempuan yang diberdayakan beralih kepada fikiran bahwa tugas domestik merupakan ketertinggalan dan keterbelakangan kaum perempuan, sehingga itu semua harus ditinggalkan untuk mendapatkan hak dan kemajuan.

Bagi perempuan yang diberdayakan, bagi perempuan sophies ini, hak dan kemajuan yang harus diraih perempuan adalah menjalani kehidupan bak seorang pria, yaitu bekerja dan berkarir mencari uang di kantor, kemudian menjadi pemimpin publik, yang sama sekali tidak mau ambil pusing dengan semua tetek bengek urusan domestik di rumah. Itulah siginikansi dari sebuah pesan: perempuan sudah saatnya memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh  tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, kemerdekaan finansial yang didambakan kaum perempuan, justru membuat kaum perempuan semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki dan Melawan Kodrat

lawankodrat

8 Oktober 2014

Survey tahun ini, kasus gugatan cerai dari pihak istri kepada suami dua kali lebih banyak daripada kata talak dari suami kepada istrinya. Disebutkan bahwa trend tersebut terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Wanita semakin berani protes, semakin suka membantah, dan semakin melawan kepada suaminya.

Di antara faktor penyebab hal ini adalah:

  • Dunia sekarang telah sampai kepada zaman di mana hiburan, bermalas-malasan, dan teknologi yang membuat dunia semakin instan telah menjadi trend utama yang terus diperjuangkan. Faktor-faktor tersebut telah menggerogoti wibawa laki-laki dan menjadikan wanita semakin dikedepankan. Contoh: biduwan (penghibur) justru didominasi oleh penyanyi atau group band laki-laki, sedangkan pekerjaan melinting rokok dan mengisi BBM di pom bensin dikerjakan oleh perempuan.
  • Banyak prestasi yang diraih kaum perempuan dan mengungguli kaum lelaki. Juara kelas, mahasiswa teladan, dan bidang lain yang mengedepankan kemampuan verbal telah didominasi kaum perempuan. Ini yang menjadikan perempuan semakin merasa di atas angin dan semakin meremehkan lelaki. Kemampuan verbal memang secara kuantitatif cukup dibutuhkan di zaman dunia instan ini. Sedangkan kepemim -pinan dan kemampuan non-verbal hanya sedikit dibutuhkan (secara kuantitatif).
  • Persaingan bisnis semakin ketat membuat para pengusaha cenderung meman-faatkan tenaga kerja dari kaum hawa, karena standar upah mereka lebih rendah tetapi etos kerja dan loyalitas mereka lebih tinggi. Akhirnya suami yang tidak laku-laku di dunia kerja harus menjadi tukang ojek bagi istrinya.
  • Dunia yang semakin liberal menjadikan para pemuja dunia semakin getol mempro-pagandakan keadilan gender. Salah satunya dengan memperjuangkan feminisme.

Faktor-faktor di atas merupakan fitnah hebat yang melanda laki-laki maupun wanita. Laki-laki semakin berkurang wibawanya, semakin tidak terpakai kemampuannya, dan semakin tertekan.

Wanita semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin menentang doktrin agama (laki-laki dilebihkan daripada wanita dalam hukum waris, kepemimpinan, syariat poligami, dll.), sehingga pada akhirnya wanita semakin mudah untuk dieksploitasi. Dan,… SECARA TIDAK SADAR wanita (istri) semakin merasa tertekan dan merasa tidak bahagia, justru ketika merasa punya kuasa terhadap laki-laki (suami).

Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai dari melaksanakan shalat gerhana, sebagai bukti pendukung akan hal ini:

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Sumber, https://pengusahamuslim. com /4258-ketika-wanita-berkuasa-atas-laki-laki-dan-melawan-kodrat.html

ANNISANATIONAnnisanation,

Orang bilang, Emansipasi Wanita adalah kemajuan dan kebajikan bagi semua individu, baik laki maupun perempuan. Orang  bilang bahwa Emansipasi Wanita adalah demi kesejah-teraan dan ketentraman seluruh keluarga. Orang bilang bahwa perempuan bekerja adalah hak azazi bagi perempuan itu sendiri, oleh karena itu harus dipenuhi dan dijamin. Orang bilang bahwa Islam dan seluruh agama mengajarkan Emansipasi Wanita, bahwa perem-puan sama dan sederajat kedudukannya dengan kaum pria.

Namun sungguh setelah itu, ternyata Emansipasi Wanita, atau perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, justru telah membahayakan seluruh sendi kehidupan di tengah masyarakat. Dengan mempunyai sumber keuangan sendiri, perem-puan justru menjadi pongah dan tinggi hati, melawan kepada suami, melawan kepada kodrat, kepada fitrah, kepada pesan orang tua-tua, kepada hukum kepantasan, dsb.

Dengan pemberdayaan di dalam Emansipasi Wanita, perempuan menjadi begitu berani melawan agama, bahkan menyusun teori mereka sendiri tentang apa itu agama. Dengan latar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut untuk menjadi kepala rumahtangga bersa-ma suami, dan kemudian menuntut untuk menjadi imam dan pemimpin shalat atas seluruh jemaah laki-laki; perempuan emansipasi begitu lantang menuntut untuk menjadi Paus dan uskup di dalam hierarki Gereja Katholik Roma. Bahkan atas dasar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut hak untuk mengaborsi kandungan tanpa persetujuan suami.

Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar bebas kepada pria-pria asing di tengah kota, telah terjerumus kepada bencana syahwat: selingkuh, pacaran, aborsi, pamer aurat, kondomisasi, dsb. Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar pria asing, telah kehilangan rasa malu mereka sebagai perempuan, padahal bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu.

Paparan di atas secara gamblang membuktikan bahwa ternyata Emansipasi Wanita meru-pakan sumber malapetaka kehidupan, yang menyengsarakan baik pada level individual, keluarga, dan pada akhirnya seluruh masyarakat dan Negara. Meningkatnya angka perceraian tentunya merupakan malapetaka bagi anak-anak, dan itu disebabkan oleh perempuan sendiri, perempuan yang emansipasi. Dan semakin beraninya perempuan menentang doktrin agama, membuat perempuan berani mengajukan gagasan mereka sendiri tentang kebebasan di dalam hal berpakaian, pergaulan, hal membesarkan anak, menghormati keluarga, dsb.

Pada aspek lain, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan merebaknya fenomena laki-laki yang menjadi pengangguran, karena sungguh seluruh lapangan kerja telah diserobot perempuan, tanpa memikirkan bahwa sebenarnya pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, karena mencari nafkah adalah tanggungjawab kaum pria, dan bahwa nafkah kaum perem-puan ada di dalam tanggungan para ayah dan suami. Pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, sementara pekerjaan bagi perempuan sebenarnya hanya untuk gagah-gagahan saja.

Dengan latar ini, maka jelaslah kubu perempuan berkelimpahan uang dan karir, sementara kubu pria serba defisit, menjadi pengangguran dan tidak mempunyai uang dan karir, sehingga lepaslah wibawa dan kehormatannya di depan perempuan. Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa salah satu tanda kiamat adalah seorang ibu yang melahirkan tuan-nya. Ungkapan tersebut sebenarnya adalah analogi, yang artinya adalah bahwa laki-laki yang sebenarnya adalah tuan atas perempuan, terbalik menjadi perempuanlah yang menjadi tuan atas laki-laki, padahal semua kemudahan bekerja, semua bentuk teknologi, semua teori dan sistem tata kerja ditemukan dan diperjuangkan laki-laki, tidak ada satu pun perempuan yang terlibat. Namun akhirnya semua teknologi dan kemudahan bekerja tersebut telah diserobot perempuan dengan cara mendepak seluruh laki-laki. Itulah yang disebut dengan Emansipasi Wanita.

Apakah Emansipasi Wanita menguntungkan? Apakah Emansipasi Wanita merupakan suatu amal saleh? Benarlah Islam, bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, dan jangan sekali-sekali membenarkan atau membiarkan perempuan keluar rumah, apalagi kalau tujuannya untuk pemberdayaan. Kalau Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, maka berarti seluruh umat harus menumpas Emansipasi Wanita, karena hal tersebut justru menyesatkan kaum perempuan itu sendiri. Hanya ada tiga hal yang kentara bagi akal:

  • Emansipasi Wanita itu berbahaya, bukannya bermanfaat dan menguntungkan. Islam dan agama mana pun tidak mengajarkan Emansipasi Wanita.
  • Bukti berbahayanya Emansipasi Wanita sudah ada di mana-mana. Korban pun sudah berjatuhan di mana-mana, baik dari kalangan perempuan sendiri, dari kalangan laki-laki, dan juga anak-anak.
  • Maka tumpaslah Emansipasi Wanita. Jadikan perempuan sebagai mahluk rumahan lagi, mahluk domestik lagi, dengan tidak memberi pemberdayaan atas mereka.

Alam Semesta sejak awal mengajarkan, bahwa laki-laki adalah berkuasa, sementara perem-puan adalah objek kekuasaan laki-laki: pun tidak mungkin perempuan itu berkuasa, karena pada dasarnya perempuan adalah mahluk lemah dan penakut. Maka biarkanlah hal tersebut terus berlangsung, karena Alam hanya memberikan yang terbaik. Artinya, jangan “perbuat suatu hal” yang dapat mengakibatkan perempuan berkuasa atas laki-laki. Sungguh perempuan tidak dapat berlaku amanah kalau diberi kekuasaan (atas laki-laki). Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa perempuan adalah bengkok, dan kalau hendak diluruskan akan patahlah dia. Artinya adalah, perempuan tidak amanah, karena hanya akan  selalu berbuat menyimpang, alias bengkok.

Sebenarnya “perbuat suatu hal” itu adalah Emansipasi Wanita.

Wallahu a’lam bishawab.

Dosa Terbanyak Diperbuat Perempuan Di Dalam Emansipasi Wanita

terbanyak
Emansipasi Wanita pada dasarnya adalah kesesatan yang paling keji, karena dari Emansi-pasi Wanita lahirlah berbagai kekacauan dan kesia-siaan yang menghancurkan umat Muslim di seluruh dunia. Islam tidak mempunyai satu nash pun yang mengajarkan Emansipasi Wanita, bahkan banyak ayat maupun Alhadis yang merupakan larangan (atau perboden) Emansipasi Wanita, maka dari itu Emansipasi Wanita dengan sendirinya adalah dosa besar.

Namun lebih dari itu, Emansipasi Wanita itu sendiri juga membuat kaum perempuan semakin terjerumus di dalam jebakan dosa yang lain. Dikatakan jebakan, karena kaum perempuan tidak menyadari bahwa hal-hal yang mereka perbuat sebenarnya adalah dosa, selama mereka perbuat hal-hal tersebut di dalam frame Emansipasi Wanita. Jadi dengan kata lain, kalau mereka semua tidak terlibat di dalam arus Emansipasi Wanita, maka hal-hal yang mereka perbuat tidak akan berakibat dosa.

Pertama. Memakai wewangian.

Islam mengajarkan bahwa wanita terlarang mengenakan wewangian, kalau pemakaiannya untuk luar rumah, atau bepergian. Sebenarnya parfum yang dikenakan perempuan akan bernilai zina kalau semerbak yang ditimbulkannya tercium oleh kaum pria yang bukan muhrim. Berarti perempuan terlarang keluar rumah dengan mengenakan wewangian.

Kalau seorang perempuan mengenakan wewangian sementara perempuan tersebut tetap diam di rumahnya, maka tentulah hal tersebut justru akan mendatangkan pahala sunnah baginya, namun lain ceritanya kalau perempuan tersebut keluar rumah, maka wewangian nya merupakan perbuatan zina, dirinya akan berdosa, dan berdosa juga kaum pria yang mencium semerbak wewangiannya.

Pada kenyataannya, hampir semua perempuan yang keluar rumah untuk bekerja maupun menuntut Ilmu (itu semua merupakan unsur Emansipasi Wanita) selalu mengenakan wewangian, yang bau semerbaknya begitu kuat hingga tercium sejauh perjalanan. Sangat jarang ditemui perempuan keluar rumah yang tidak mengenakan parfum. Akan menjadi pertanyaan, mengapakah kaum perempuan tersebut keluar rumah dengan mengenakan parfum yang begitu kuat sehingga semerbaknya tercium sejauh perjalanan? Apakah mereka tiada faham bahwa agama melarang perbuat hal tersebut? Apakah mereka tidak pernah mendapat pengarahan dari ulama bahwa perempuan yang keluar rumah dengan wewangian maka dirinya telah berbuat zina yang merupakan dosa besar?

Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

“Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian” (HR. Abdur razaq dalam Al Mushonnaf no. 8107).

Riwayat ini dengan tegas menginformasikan bahwa perempuan Muslim TERLARANG keluar rumah dengan berwewangian. Pun terdapat banyak Alhadis yang mengajarkan bahwa Nabi Saw melarang Muslimah mengenakan parfum saat keluar rumah, karena hal tersebut merupakan kekejian, dan setara dengan perbuatan seorang pelacur.

Intinya, Islam menggariskan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, karena perempuan merupakan mahluk domestik, yang nafkah dan rejeki mereka sudah ditang-gung ayah atau suami mereka. Namun, kalau pun mereka ingin keluar rumah untuk tujuan tertentu, Islam mengijinkan, anggaplah demikian, namun dengan syarat, bahwa perempuan tersebut tidak dibenarkan untuk bertabarruj dan berwewangian. Namun kenyataannya?

Kenyataannya, begitu banyak perempuan yang keluar rumah, untuk tujuan yang sebenar-nya tidak perlu. Dan itu pun ketika mereka keluar rumah, mereka berbondong bondong bertabarruj dan berwewangian. Jadi, mereka berbuat tiga lapis dosa, yaitu,

  • Keluar rumah untuk tujuan yang sebenarnya tidak perlu, itu pun mereka keluar rumah nya setiap hari, untuk apa yang dinamakan Emansipasi Wanita.
  • Mereka pun keluar rumah dengan bertabarruj, yaitu berdandan sejadi-jadinya.
  • Mereka mengenakan wewangian, bahkan yang berbau begitu tajam dan kuat, yang semerbaknya bahkan tercium sejauh perjalanan.

Dari isu parfum ini, kaum perempuan begitu gigihnya perbuat dosa setiap hari, dan itu tanpa mereka sadari sama sekali, bahkan ulama dan banyak literatur keagamaan sudah berulang kali memperingatkan bahwa kaum perempuan tidak dibenarkan mengenakan parfum saat mereka keluar rumah. Seolah kaum perempuan tidak mengetahui bahwa mengenakan parfum saat keluar rumah berimplikasi dosa, sehinggalah mereka berlomba-lomba untuk mengenakan wewangian.

Entah azab apa yang akan mereka alami di hari berbangkit kelak, dikarenakan setiap hari mereka mengenakan wewangian saat keluar rumah, dan itu pun mereka TIDAK MENYA-DARI bahwa hal tersebut merupakan dosa ….. karena tampaknya mereka justru berkeyakinan bahwa mengenakan parfum merupakan kebajikan.

Kedua. Bertabarruj saat keluar rumah.

Pertama Islam menggariskan bahwa perempuan tidak dibenarkan keluar rumah, karena alam mereka sebenarnya adalah domestik, mengingat seluruh tugas mereka justru berada di dalam rumah, dan karena nafkah mereka sudah dijamin oleh ayah atau suami. Namun kedua, kalau pun mereka ingin keluar rumah, maka Islam menggariskan bahwa terlarang bagi mereka untuk bertabarruj saat keluar rumah, karena hal tersebut merupakan perbuatan keji. Namun di mana kenyataannya?

Jutaan perempuan keluar rumah untuk tujuan yang tidak perlu (yaitu untuk pendidikan, dan juga untuk bekerja mencari nafkah dan karir), hal tersebut merupakan dosa. Namun kemudian, mereka keluar rumah pun dengan menggigihkan diri untuk berdandan sedemi-kian rupa, seolah mereka keluar rumah harus secantik mungkin. Bukankah hal tersebut merupakan dosa besar yang selalu mereka perbuat?

Sebenarnya untuk apakah mereka keluar rumah dengan mempercantik diri mereka sedemikian rupa terlebih dahulu? Apakah untuk menjerat perhatian para lelaki? Lantas untuk apa mereka ingin mendapat perhatian para lelaki? Apakah mendapatkan perhatian para lelaki, atau mendapat pujian para lelaki, merupakan pahala dan keridhaan Illahi atas mereka? Bukankah mereka seharusnya berusaha untuk mendapatkan keridhaan Illahi Swt saja, dan itu artinya mereka tidak bertabarruj (berdandan) saat keluar rumah?

a. Banyak kaum perempuan Muslim yang keluar rumah (dan sebenarnya hal tersebut tidak perlu, bahkan dosa) dengan tidak menutup aurat sebagaimana mestinya: mereka mengenakan rok selutut, atau berbusana ketat, dan juga tidak berkerudung untuk menutup rambut. Tampaknya mereka tiada sadar bahwa apa yang mereka perbuat merupakan dosa. Dan itu pun mereka mengenakan busana (sekuler) seperti itu, mereka kenakan dengan menggigihkan kecantikan mereka untuk diperlihatkan kepada seluruh pria di tengah kota. Ini lagi-lagi merupakan dosa, dan merupakan perbuatan yang amat jahil: sudah mereka berbusana serba terbuka, pun mereka melakukannya dengan tujuan untuk mempercantik penampilan mereka di depan para lelaki di tengah kota. Bertabarruj yang berlapis-lapis, jelas akan berimplikasi kepada dosa yang berlapis-lapis juga.

b. Di lain pihak, juga terdapat ribuan perempuan Muslim yang keluar rumah (dan sebenarnya hal tersebut tidak perlu, dan bahkan dosa) dengan busana yang berbasis syariah, yaitu berhijab maupun berjilbab, untuk menutup aurat dan rambut. Sungguh pun demikian, mereka mengenakan busana syariah tersebut dengan tetap menggigihkan kecantikan mereka untuk dipamerkan di depan para lelaki di tengah kota: mereka kenakan kain hijab nan cantik dan menawan, ber-warna-warni, berbunga-bunga ….., dsb. Bahkan tidak jarang mereka menyematkan berbagai hiasan di busana jilbab untuk mempercantik penampilan. Dan setelah itu, tidak lupa mereka memoles wajah dengan makeup sedemikian rupa, untuk mempercantik wajah dan penampilan. Hal ini merupakan tabarruj yang lain, yang tidak kalah dahsyat dosanya di sisi Illahi. Mereka fikir, dengan berbusana jilbab, mereka sudah mendatangkan keridhaan Illahi, namun mereka tiada sadar bahwa mereka telah menggigihkan kecantikan mereka, dengan makeup, dengan mengenakan aneka perhiasan, dengan mengenakan kain jilbab nan indah dan mahal, yang tujuan akhirnya untuk diperlihatkan kepada para pria di tengah kota. Itu sudah dosa besar.

Ingatkah mereka bahwa mereka diperintahkan untuk berhias hanya untuk suami mereka saja? ….. dan untuk selainnya merupakan haram dan jahil? Namun kenyatannya mereka berhias untuk publik, bukan untuk suami mereka. Islamkah yang mengajarkan hal tersebut? Pertama mereka keluar rumah, meski berhijab, hal tersebut sudah dosa. Dan kemudian, mereka tambah dengan menggigihkan kecantikan mereka di luar rumah: itu juga merupakan dosa. Dosa yang berlapis-lapis tentunya. Intinya, keluar rumah dengan berjilbab, bukan jaminan bahwa mereka terbebas dari kesalahan syariah.

Jadi tidak ada pilihan, baik (a) maupun (b), sama-sama berdosa besar di mata Illahi, karena tidak mempunyai dasar baik secara syari maupun secara logika.
Riwayat di bawah ini menggambarkan betapa keji dan terlarangnya bertabarruj,

Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

“Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. JIKA KELUAR RUMAH HENDAKNYA MEMAKAI KAIN JELEK YANG BIASA DIPAKAI OLEH BUDAK PEREMPUAN ….”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”, (HR. Abdur Razaq no 8118).

Perhatikan frase yang berhuruf besar: JIKA KELUAR RUMAH HENDAKNYA MEMAKAI KAIN JELEK YANG BIASA DIPAKAI OLEH BUDAK PEREMPUAN ….., artinya perempuan TERLARANG keluar rumah dengan MENSENGAJAKAN kecantikannya. Terdapat kalimat “hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai budak perempuan”, maknanya adalah bahwa TIDAK DIBENARKAN perempuan keluar dengan mensengajakan untuk mendapat perhatian publik, khususnya kaum pria. Dan artinya perempuan tidak dibenarkan dandan saat keluar rumah, karena dandan berarti sengaja untuk mempercantik penampilan. Bayangkan, riwayat tersebut justru menitahkan bahwa perempuan keluar rumah harus mengenakan kain yang jelek, agar dengan demikian tidak menarik perhatian kaum pria.

Sebagai perbandingan, kaum perempuan di Timur tengah, seperti Arab Saudi, Syiria, Irak, Bahrain, dsb, ketika mereka keluar rumah, maka busana yang mereka kenakan hanyalah sebentuk kain panjang berwarna hitam, panjang dari ujung kepala hingga kaki, dan nyaris menutupi wajah kecuali mata. Warna busana mereka semuanya hanya satu, yaitu hitam, tidak ada warna lain yang mereka aplikasikan. Apa maksudnya? Maksudnya adalah, bahwa jangan sampai kehadiran mereka di ranah publik mendapat perhatian khususnya kaum pria. Dengan kata lain, kaum perempuan sengaja keluar rumah sedemikian rupa, agar tidak memenuhi unsur aestetika, yaitu keindahan, karena keindahan tersebut akan memancing perhatian kaum pria.

Kalau keindahan berasal dari estetika gedung, atau estetika lampu taman, atau estetika kolam kota, tidak mengapa. Namun kalau keindahan tersebut berasal dari estetika bentuk tubuh seorang perempuan, maka jelas hal tersebut tidak dibenarkan syariah. Intinya, keindahan yang berasal dari estetika bentuk tubuh seorang perempuan hanya diperuntukkan bagi suami: dan hanya itulah yang adil dan logis. Apakah logis, seorang pria menikmati kecantikan perempuan yang jelas-jelas milik orang lain, yaitu suaminya? Atau mungkin, ada perempuan yang senang jika keindahan dari aestetika tubuhnya dinikmati sembarang laki-laki di sepanjang jalan? Perempuan macam apa? Itu bukanlah perempuan Muslim, juga bukan perempuan waras.

Bertabarruj adalah dosa, dosa atas kaum perempuan. Dan keluar rumah setiap hari, apalagi di dalam rangka Emansipasi Wanita, adalah dosa atas kaum perempuan. Dan sungguh, hal-hal tersebut diperbuat perempuan setiap hari, tanpa mereka sadar bahwa hal tersebut merupakan dosa yang akan menyengsarakan mereka di hari berbangkit.

Ketiga. Berkhalwat di ruang kerja.

Perempuan setiap hari keluar rumah untuk menuntut Ilmu, maupun untuk bekerja mencari uang dan karir. Akibatnya, sangat lazim untuk terjadinya khalwat, antara kaum perempuan dengan pria-pria yang mereka temui di tempat kerja maupun di kampus. Kalau Islam mengajarkan bahwa khalwat adalah dosa, maka ini artinya kaum perempuan secara rutin telah berbuat dosa setiap hari, tersebab mereka terus perbuat khalwat dengan pria-pria rekan kerja atau pun rekan kuliah.

Mereka tiada sadar bahwa mereka telah perbuat khalwat, dan pun mereka tiada sadar bahwa khalwat adalah dosa atas mereka. Fakta melaporkan, bahwa dari khalwat ini telah tercetus banyak kasus zina dan selingkuh yang menjijikkan. Dan tidak jarang khalwat ini mencetus pertengkaran rumahtangga bagi para pelakunya.

Bagaimana mungkin banyak kaum perempuan yang tidak menganggap bahwa khalwat ini sebagai suatu dosa besar, atau sebagai suatu kesalahan di dalam bersosial? Tidak ada logika yang menyatakan bahwa khalwat merupakan kelumrahan, karena bersatunya pria dan perempuan dewasa pada suatu ruangan, alias bersunyi-sunyi, jelas perbuatan yang tiada pantas dilihat dari sudut mana pun. Namun mengapa hal tersebut terjadi acap kali di sektor publik, dan didukung oleh kaum perempuan sendiri? Mengapa tidak ada satu pun perempuan yang merasa jijik dengan aktivitas khalwat tersebut? Di mana nurani mereka sebagai perempuan?

Rugilah mereka kelak di hari berbangkit kelak, karena telah menghalalkan khalwat atas diri mereka, dan mereka perbuat hal demikian dengan keinginan mereka sendiri, tanpa malu sedikit pun. Semudah itu mereka menghalalkan khalwat, maka kelak semudah itu juga mereka akan dihalau ke Neraka, tersebab khalwat yang gemar mereka perbuat setiap hari.

Keempat. Mengambil jasa pembantu rumahtangga.

Setiap hari perempuan pendukung Emansipasi Wanita keluar rumah, untuk menuntut Ilmu maupun untuk bekerja mencari uang dan karir. Kalau mereka pergi meninggalkan rumah, maka siapakah yang akan menyelesaikan tugas rumah? Mereka menyewa pembantu rumahtangga, yang bertugas menyelesaikan seluruh tugas domestik, seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika baju, membersihkan rumah, dan termasuk momong anak. Untuk tugas-tugas tersebut sang perempuan akan menggaji para pembantu tersebut dengan besaran yang disepakati.

Dengan menyewa pembantu, berarti kaum perempuan telah mencampakkan kodrat alamiah mereka, kepada orang lain. Dengan kata lain, perempuan-perempuan emansipasi MENOLAK untuk mengamalkan kodrat mereka, dan kemudian melemparkan kodrat terse-but kepada orang lain.

Apakah kaum perempuan emansipasi tidak pernah menyadari, bahwa menolak kodrat merupakan dosa besar di mata Illahi? Bagaimana mungkin ada anak manusia yang begitu berani menolak kodrat? Bagaimana mungkin ada anak manusia yang berani menantang keputusan Illahi yang telah berlaku sejak jutaan tahun? Demi Emansipasi Wanita, kaum perempuan begitu beraninya menolak kodrat, dan kemudian melemparkannya kepada pembantu rumahtangga?

Atau mungkin, perempuan emansipasi berani untuk berkata, bahwa kodrat domestik sebe-narnya bukan kodrat kaum perempuan, melainkan kodrat kaum pria? Atau juga perem-puan berani berkata, bahwa kodrat domestik merupakan kodrat bersama antara suami dan istri, antara ayah dan ibu, antara anak laki dan anak perempuan? Dan sejak kapan mereka mempunyai keberanian untuk mendebat agama mengenai kodrat?

Setiap hari mereka keluar rumah untuk bekerja, hal tersebut sudah merupakan dosa pertama, pun kemudian mereka mencampakkan kodrat domestik mereka. Hal tersebut merupakan dosa kedua. Dan dosa ketiga, mereka melemparkan kodrat tersebut kepada orang lain, yaitu pembantu. Itulah dosa ketiga yang diperbuat setiap hari oleh perempuan emansipasi. Dosa yang berlapis-lapis, dan hanya Illahi Yang tahu di Neraka mana mereka akan tinggal untuk selama-lamanya.

Untuk lebih jelas mengenai haram dan dosanya menyewa jasa pembantu, silahkan baca artikel “Pembantu Rumahtangga Adalah Haram”.

Setali tiga uang, kaum perempuan emansipasi juga menyewa jasa babysitter untuk momong anak-anak ketika mereka bekerja, atas nama Emansipasi Wanita. Luar biasa!! Kaum perempuan begitu berani menolak kodrat sebagai perempuan untuk membesarkan dan momong anak, dan kemudian mencampakkan kodrat tersebut kepada babysitter.

Anak merupakan karunia yang tidak terhingga nilainya, dan di luar itu, perempuan selalu identik dengan sosok keibuannya yang selalu menyerahkan jiwa raga untuk anak-anak terkasih, 24 jam nonstop. Hanya ibu, hanya perempuan, yang dapat membesarkan dan melimpahkan kasih sayang kepada kanak-kanak, dikarenakan kelembutan dan kesabaran kaum perempuan yang begitu emosional terhadap kanak-kanak. Namun mana buktinya?

Di dalam frame Emansipasi Wanita, kaum perempuan menolak kodrat tersebut, menolak untuk menyerahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk mengasuh kanak-kanak, dan kemudian mencampakkan tugas membesarkan anak tersebut kepada babysitter dengan bayaran uang, sekian dan sekian rupiah. Apakah mungkin, dan apakah logis, kasih sayang seorang ibu dapat digantikan orang lain dengan imbalan uang yang tidak seberapa? Apakah anak sama dengan sekuntum kembang yang pengasuhannya dapat dialihtangankan kepada orang lain dengan imbalan uang? Apakah kehadiran seorang anak begitu menyebalkan, begitu menjengkelkan, sehingga sang ibu memilih untuk meninggalkannya dan memilih seorang babyisitter untuk ganti mengasuhnya siang malam? Dan itu hanya demi mengejar karir dan jabatan, padahal nafkah dan rejekinya sudah dijamin ayah maupun suami?

Setiap hari seorang perempuan keluar rumah untuk bekerja atau menuntut Ilmu, hal tersebut sudah merupakan dosa besar atas dirinya. Dan kemudian, setiap hari seorang perempuan emansipasi perbuat dosa dengan menolak tugas dan kodrat mengasuh anak, dan kemudian mengalih-tangankan kepada orang lain. Hal tersebut jelas merupakan dosa besar, karena menolak kodrat saja sudah begitu besar dosanya. Dosa nan berlapis-lapis, yang pembayarannya adalah Neraka jahanam, yang hanya akan ia terima begitu ia wafat dan jenazahnya dimasukkan ke liang lahat.

Kelima. Merampas kodrat kaum pria.

Perempuan setiap hari keluar rumah dengan tujuan menuntut Ilmu maupun bekerja mencari nafkah, karir atau pun jabatan. Dengan keluar rumah saja perempuan telah berbuat dosa, karena dengan sendirinya perbuatan tersebut telah mengingkari kodrat domestiknya. Di dalam suatu Alhadis disebutkan, bahwa kalau perempuan keluar rumah, maka Iblis memuliakannya, yang berarti perempuan keluar rumah merupakan bentuk kemaksiatan, buktinya Iblis sangat mendukung dan memuliakannya. Pun dengan keluar rumah, maka dilalaikannya-lah seluruh tugas kodratinya, khususnya membesarkan anak-anak. Intinya, ketika perempuan keluar rumah, maka ia telah menampakkan auratnya kepada kaum pria di tengah kota.

Setelah itu, apalagi kemaksiatan yang diperbuat perempuan di luar rumah? Ya, emansipasi yang diperbuat perempuan di luar rumah, merupakan kegigihannya untuk merebut dan menjarah kodrat kaum pria: mencari nafkah, menjadi karyawan, menjadi menteri, dsb. Setelah kaum perempuan mengingkari kodrat keperempuanannya, kemudian perempuan-perempuan tersebut menjarahi kodrat kaum pria di tengah kota. Luarbiasa kekejian yang diperbuat perempuan di jaman Emansipasi Wanita: sudah pun mereka mengingkari kodrat kewanitaan, nah kemudian mereka menjarahi kodrat kaum pria, seolah mereka adalah kaum pria jua adanya, yang mempunyai tugas alami untuk mencari nafkah, memimpin rapat, menjadi Presiden dsb.

Mereka lupa, bahwa mereka terlahir sebagai perempuan, yang kodratnya saja sudah jelas berbeda dari kodrat laki-laki. Atau bahkan mereka menolak untuk mengakui bahwa domestik merupakan kodrat kaum perempuan, karena yang mereka inginkan adalah kodrat laki-laki. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Mengapa Perempuan Gemar Menjarahi Kodrat Pria”.

Dosa pertama, mereka mengingkari kodrat Illahi atas mereka, yaitu domestik. Kemudian dosa kedua, mereka menjarahi kodrat kaum pria, seolah mereka adalah kaum pria jua hakikatnya. Dengan kata lain, mereka tidak ridha kepada kodrat Illahi atas mereka, dan menuntut kodrat kaum pria. Dan tidak lupa, dosa berikutnya adalah bahwa mereka keluar rumah, yang ketika mereka keluar rumah maka Iblis memuliakan mereka. Dosa nan berlapis-lapis yang mereka tanam di dunia, dan kelak akan mereka tuai di akhirat di dalam bentuk hukuman Neraka yang menyesakkan dada. Sekarang ketika masih hidup di dunia mereka tidak merasakan hukuman tersebut, namun begitu mereka wafat, maka alangkah beratnya hukuman yang akan mereka masuki (kecuali Illahi berkehendak lain).

Penutup.

Demikianlah dosa yang banyak diperbuat kaum perempuan, dan mereka perbuat dosa tersebut tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut merupakan dosa di sisi Illahi. Atau bahkan justru mereka memang sengaja perbuat maksiat-maksiat tersebut, yang tujuannya memberontaki hukum Illahi, sehingga mereka dengan mudahnya perbuat seluruh dosa tersebut.

Dan ironisnya, sebenarnya kaum perempuan ketika perbuat maksiat-maksiat tersebut, mereka justru menganggapnya sebagai ibadah, bukannya sebagai maksiat. Bekerja mencari uang misalnya, mereka fikir hal tersebut adalah ibadah, karena di dalam fikiran mereka bekerja mencari nafkah adalah perintah Illahi, bahwa bekerja dan uangnya untuk menghi-dupi anak dan keluarganya adalah kewajiban. Oleh karena itu justru kaum perempuan menganggapnya sebagai ibadah yang akan mendatangkan ridha Illahi dan pahala.

Sungguh luar biasa cara mereka berfikir, dengan melupakan bahwa mencari nafkah adalah dan hanyalah tugas dan kodrat kaum pria, sementara perempuan TERLARANG untuk perbuat hal yang sama. Bekerja mencari nafkah: wajib bagi kaum pria, namun HARAM bagi kaum perempuan. Bagian inilah yang tidak difahami kaum perempuan, atau bahkan kaum perem-puan menolaknya dan memberontakinya sedemikian rupa, tanpa mereka sadar bahwa memberontaknya mereka sebenarnya merupakan bentuk pemberontakan terhadap Firman Illahi.

Begitu juga dengan keluar rumah untuk bekerja, dengan berbusana jilbab: mereka fikir bahwa mereka perbuat tersebut merupakan ibadah yang akan mendatangkan pahala dan ridha Illahi, tersebab mereka mengenakan jilbab. Sungguh luar biasa kejahilan mereka: keluar rumah saja sudah merupakan dosa, dan ketika mereka mengenakan jilbab saat keluar rumah maka hal tersebut BUKAN PEMBENAR untuk keluar rumah dan bekerja. Jilbab tidak diciptakan untuk membenarkan perempuan keluar rumah.

Intinya, ketika mereka keluar rumah, maka siapa yang menyelenggarakan tugas domestik seperti mengasuh anak-anak dan memasak? Pun sudah tersebut di dalam Alhadis, bahwa kalau wanita keluar rumah maka Iblis memuliakannya, TIDAK PERDULI apakah perempuan tersebut mengenakan jilbab atau tidak. Apakah Alhadis tersebut belum jelas bagi seluruh umat dan kaum perempuan?

  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka khalwat di kantor, maka apakah hal itu akan menghilangkan dosa khalwat?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka pacaran, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa pacaran?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka meninggalkan tugas domestik dan tugas mengasuh anak-anak, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa karena mangkir dari kodrat Illahi?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka memakai wewangian, maka apakah hal tersebut akan menghilangkan dosa mengenakan wewangian?
  • Kalau mereka berjilbab, kemudian mereka bertabaruj (alias berdandan sejadi-jadinya), maka apakah hal itu akan menghilangkan dosa bertabarruj?
  • Kalau mereka keluar rumah kendati berjilbab, maka apakah titah Illahi bahwa perempuan terlarang keluar rumah, jadi tidak berlaku?
  • Kalau mereka keluar rumah kendati berjilbab, maka apakah berarti kodrat domestik atas perempuan dapat dihilangkan atau dapat diingkari?

Berjilbab bukanlah syarat pembenar bagi perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Berjilbab atau tidak, tetaplah perempuan harus senantiasa diam di rumahnya, karena seluruh tugasnya justru berada di rumahnya, khususnya untuk mengasuhi anak-anak, dan yang terpenting untuk menjaga kesucian mereka sebagai perempuan, istri dan ibu.

Daftar dosa yang paling banyak diperbuat kaum perempuan tidaklah terbatas pada paparan di atas, melainkan akan bertambah panjang …. Namun cukuplah kelima point di atas saja yang diperbuat perempuan, jangan ditambah lagi dengan aktivitas dosa lainnya. Terkenang Alhadis Nabi Saw yang sangat termahsyur, yaitu …..

Sebagian besar penghuni Neraka adalah perempuan …..

Paparan ini sudah membuktikan kebenaran akan Alhadis tersebut.
Wallahu a’lam bishawab.

Tidak Sama Laki-laki Dengan Perempuan

bag-of-salt-706x369

Tidak Sama Laki-laki dengan Perempuan, dan Kelebihan Laki-laki atas Perempuan

Al-Qur’an telah menegaskan:

Tidaklah laki-laki itu (sama) seperti perempuan (QS Ali-Imran:36).

Dan firman Allah;

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) (QS An-Nisaa’:34).

Syara’ telah menetapkan beberapa kaidah antara laki-laki dan perempuan tentang ketidaksamaannya dan kebersamaannya yang sesuai dengan hidup dan kehidupan, tabiat dan fitrah mereka, ibadah dan mu’amalah mereka atau dunia dan akhirat mereka. Kaidah-kaidah tersebut apabila dilanggar atau diubah oleh manusia berakibat kehancuran pada diri dan kehidupan manusia, bahkan pada bumi mereka tinggal (1).

:::Kaidah Pertama:

Pada dasarnya Agama Allah, hukum-hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya, sama antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan selain yang telah dikecualikan oleh syara’(Agama), yakni hukum asal di atas menerima pengecualian sebagaimana akan datang perinciannya di kaidah ketiga.

Firman Allah;

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu (kepada Allah) (QS Al-Hujurat: 13).

Firman Allah;

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An-Nahl:97).

Berapa banyak perempuan yang lebih ber-taqwa, lebih beriman dan lebih beramal shalih dari kaum laki-laki. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama.

:::Kaidah kedua.

Berdasarkan dalil-dalil hissiyyah dan musyahadah (2) selain nash Al-kitab dan Sunnah, bahwa laki-laki dan perempuan tidak sama dilihat dari:

  1. Jenisnya.
  2. Jisim-nya atau bentuknya dan rupanya.
  3. Sifat dan tabiatnya.
  4. Suaranya.
  5. Gerak dan tingkahnya.
  6. Kehalusan dan Kelembutannya.
  7. Pemalunya dan selalu menunggu tidak mendahului.
  8. Kekuatan dan kemampuan fisiknya.
  9. Kekuatan dan kemampuan berpikir.
  10. Dan kekhususan-kekhususannya.

Oleh karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan berbeda, maka barangsiapa mengubah ciptaan Allah dan ingin menyamakannya atau yang satu ingin jadi yang lain dengan sengaja, seperti laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya, niscaya mereka akan mendapat laknat Allah dan Rasul-Nya sebagaimana hadits berikut ini:

  • Hadits pertama. Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi melaknat laki-laki yang bersikap (bersifat) menyerupai perempuan dan (melaknat) perempuan yang bersikap (bersifat) menyerupai laki-laki. Beliau bersabda: “Keluarkanlah (usirlah) mereka dari rumah-rumah kamu!”. Berkata Ibnu Abbas: Maka Nabi telah mengeluarkan si fulan dan Umar pun mengeluarkan si fulan (HSR Bukhari7/55). Dalam riwayat yang lain berkata Ibnu Abbas: Rasulullah telah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.
  • Hadits kedua. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan (melaknat) perempuan yang memakai pakaian laki-laki (HSR Abu Dawud no.4098 dan lainlain).
  • Hadits ketiga. Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: Ditanyakan kepada ‘Aisyah, sesungguhnya perempuan memakai sepatu (bagaimana hukumnya, boleh atau tidak ?) (Yakni memakai sepatu / sandal laki-laki). Jawab Aisyah: “Rasulullah telah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki” (Shahih HR Abu Dawud 4099, sekurang-kurangnya Hasan karena ada beberapa hadits yang menguatkannya).

:::Kaidah ketiga.

Sekarang tibalah untuk menurunkan pengecualian dari syara’ bagi kaum hawa dan kelebihan laki-laki atas perempuan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih.

  • Pertama: Allah telah melebihkan laki-laki atas perempuan (baca kembali ayat-ayatnya di atas / di awal).
  • Kedua: Derajat tertinggi manusia adalah ketika Allah meng-angkatnya sebagai nabi dan rasul-Nya atau sebagai nabi saja (3), sedangkan nabi seluruhnya dari Adam sampai Muhammad –alaihimus shalatu wasalaam– adalah laki-laki dan bukan perempuan, dalilnya adalah firman Allah;

Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui (QS Al-Anbiyaa’:7).

Dan firman Allah;

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS An-Nahl:44).

Dan firman Allah;

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri (QS Yusuf:109).

Faidah-faidah yang dapat diambil dari ayat-ayat yang mulia di atas adalah:

  1. Seluruh Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah kepada manusia dan jin, semuanya dari jenis manusia bukan malaikat atau jin. Dan tidak ada satupun nabi dan rasul dari bangsa jin. ini menunjukkan bahwa manusia lebih mulia daripada jin.
  2. Seluruh Nabi dan Rasul adalah laki-laki, tidak ada perempuan.
  3. Nabi dan Rasul adalah laki-laki, yang Allah wahyukan kepada mereka dan Allah angkat menjadi Nabi atau Rasul untuk menyampaikan Risalah-Nya.
  4. Itsbat (ketetapan) nubuwah dan risalah Muhammad. Bahwa beliau adalah seorang nabi dan rasul sama seperti nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau.
  5. Maksud dari Ahli Ilmu adalah orang-orang yang mengetahui wahyu Allah dan perjalanan para Nabi dan Rasul.
  6. Ketinggian dan kemuliaan Ilmu Agama dan ahlinya.
  7. Allah mewajibkan kepada dua golongan manusia, pertama, Ahli Ilmu, kewajibannya mereka menjawab dan menyebarkan ilmunya. Kedua, mereka yang tidak mengetahui, kewajibannya adalah bertanya dan belajar.
  8. Allah mengutus setiap Nabi dan Rasul dengan membawa bayyinat (hujjah dan dalil) di antaranya adalah mu’jizat.
  9. Dan kepada sebagian dari mereka Allah turunkan kitab, Seperti Taurat kepada Musa, Zabur kepada Dawud, Injil kepada Isa dan Al-Qur’an kepada Muhammad –“alaihimus shalaatu wa salaam-.
  10. Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar dari seluruh mu’jizat para Nabi dan Rasul yang Allah turunkan kepada Rasulullah.
  11. Rasulullah sebagai penafsir Al-Qur’an dan yang memberikan penjelasan kepada manusia. Ayat ini adalah sebesar-besar ayat yang menerangkan kebesaran dan ketinggian Sunnah didalam Islam.
  • Ketiga, Laki-laki pemimpin atas perempuan, tidak sebaliknya.
  • Keempat, Khalifah / pemimpin negri adalah laki-laki, bukan perempuan
  • Kelima, Suami adalah pemimpin di rumah tangga, bukan istri.
  • Keenam, Suami berkewajiban memberi nafkah kepada istri dan anaknya

Dan firman Allah;

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (QS An-nisaa’:34).

Sabda Nabi,

Tidak beruntung suatu kaum yang meng-angkat perempuan sebagai pemimpin dari urusan mereka (HSR Bukhari dll dari jalan Abu Bakrah).

Dan Sabda Nabi,

dan suami itu pemimpin pada ahlinya (anak dan istrinya) dan ia akan ditanya (pada hari kiamat) tentang kepemimpinannya… (HSR Bukhari dll).

  • Ketujuh, Laki-laki sebagai imam shalat, tidak sebaliknya.
  • Kedelapan, Allah wajibkan jihad bagi laki-laki, tidak sebaliknya.
  • Kesembilan, Saksi bagi laki-laki seorang, perempuan dua orang 1:2.
  • Kesepuluh, Laki-laki dalam waris mendapatkan 2, wanita mendapatkan satu, yakni wanita setengah dari laki-laki.
  • Kesebelas, Laki-laki boleh menikah tanpa wali, perempuan wajib dengan wali jika tidak maka tidak sah nikahnya secara Agama.
  • Keduabelas, Laki-laki menjadi wali, perempuan tidak boleh menjadi wali.
  • dan lain-lain sebagaimana telah diluaskan dalam kitab-kitab ulama.

 

Sumber, https://abiyazid.wordpress.com/2008/10/29/tidak-sama-laki-laki-dengan-perempuan-dan-kelebihan-laki-laki-atas-perempuan/amp/

Annisanation,

annisanationlogoPaparan di atas yang berasal dari situs termaktub, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sampai kapan pun tidak dapat dipersamakan, dan perbuatan untuk mempersamakan antara laki-laki dengan perempuan merupakan suatu perbuatan melanggar titah Illahi. Dari paparan ini sudah dapat disimpulkan di mana letak dan posisi Emansipasi Wanita? Tidak ada posisi untuk Emansipasi Wanita di dalam logika, ajaran dan kehidupan umat Muslim, karena sejak awal laki-laki dan perempuan jelas berbeda.

Dengan sendirinya, dari artikel ini didapat dua view sebagai berikut:

Pertama.

Secara moral, logika, nurani, filsafat dan syari, tidak mungkin perempuan dapat dipersamakan dengan laki-laki, sampai kapan pun. Tidak ada tempat untuk menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama, dan  terkhusus lagi, tidak ada tempat di dalam Islam, logika dan syari untuk menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama dan dapat saling menggantikan. Semua agama pun menyatakan hal yang sama, yaitu bahwa laki dan perempuan jelas berbeda, maka berbeda pula perlakuannya.

Kedua.

Emansipasi Wanita mempunyai pandangan yang berbahaya, di mana di satu pihak Emansipasi Wanita mengklaim bahwa agama mengajarkan kesetaraan (dan itu semua adalah bohong), maka di pihak lainnya Emansipasi Wanita menolak seluruh ajaran Islam yang membedakan antara laki dan perempuan. Justru Emansipasi Wanita dilancarkan dan diluncurkan untuk memberangus seluruh ajaran Islam yang membedakan antara laki dan perempuan.

Begitu berani dan lancangnya Emansipasi Wanita yang dengan tegas ingin memberangus ajaran Islam yang membedakan antara laki dan perempuan. Banyak risalah Emansipasi Wanita yang mengkritik ajaran Islam mengenai waris, misalnya, yang mengajarkan bahwa perempuan hanya mendapat setengah bagian laki-laki. Emansipasi Wanita juga mengkritik ajaran Islam yang menegaskan bahwa perempuan terlarang untuk menjadi pemimpin.

Emansipasi Wanita juga ingin memberangus ajaran Islam mengenai batas aurat kaum perempuan. Bahkan Emansipasi Wanita ingin memberangus ajaran Islam di mana istri harus patuh kepada suami, karena hal demikian menegaskan bahwa posisi laki-laki di atas perempuan: itu yang Emansipasi Wanita tidak sejalan. Begitu beraninya kaum Emansipasi Wanita!

Kita ingat bahwa Islam secara formal terlahir pada abad VII Masehi, sebagai kelanjutan risalah para Nabi sejak Nabi Adam as. Sementara gerakan Emansipasi Wanita sendiri terlahir paling cepat pada tahun 1700an, yaitu ketika pecahnya Revolusi Industri di Inggris. Jadi ada selisih waktu 10 Abad antara kelahiran Islam dengan kelahiran gerakan Emansipasi Wanita.

Gerakan Emansipasi Wanita yang lahir 10 Abad setelah kelahiran Islam, begitu berani mengkritik Islam!! Islam yang sudah berusia 1400 tahun ingin dikritik oleh gerakan yang baru berusia 3 abad, dan gerakan tersebut adalah Emansipasi Wanita? Menurut Emansipasi Wanita yang baru berusia III abad, Islam membawa ajaran yang salah sehingga harus direvisi oleh gerakan Emansipasi Wanita, demi menjadikan perempuan dan laki-laki sama dan setara. Bagaimana hal tersebut logis menurut nurani?

Penutup.

Benarlah Islam dengan ajarannya bahwa laki-laki tidak akan pernah sama dengan perempuan, dan oleh karena itu gerakan Emansipasi Wanita-lah yang harus diberangus sampai ke akar-akarnya ….. Seluruh umat Muslim harus bersatu-padu untuk memberangus Emansipasi Wanita, bukan saja karena hal tersebut bertentangan dengan Islam, melainkan juga karena Emansipasi Wanita merupakan gerakan dan faham yang berbahaya bagi kehidupan umat manusia.

Pesan: Emansipasi Wanita bukanlah gerakan yang mengklaim bahwa Islam mengajarkan Emansipasi Wanita. Yang benar adalah, Emansipasi Wanita adalah gerakan yang ingin memberangus seluruh ajaran Islam. Itulah sataniahnya Emansipasi Wanita.

Wallahu a’lam bishawab.

Alhadis Nabi Muhammad Saw Mengutuk Emansipasi Wanita

hadisnabisaw

Annisanation – Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Minimal, dengan perempuan keluar rumah untuk menuntut ilmu dan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan, maka kaum perempuan akan terpapar kaum pria di sektor publik (sekolah, kampus, pasar, kantor, tempat kerja dsb) secara intens dan kontinyu. Konsekwensinya, perem-puan yang terus bertemu kaum pria di sektor publik -akan kehilangan rasa malunya sebagai perempuan kepada para pria asing, dan kebalikannya akan membuat perempuan itu mudah merasa suka dan nyaman kepada teman laki-lakinya.

Sebenarnya pada awalnya, perempuan selalu diliputi rasamalu yang luar biasa kalau bertemu pria asing. Hal itu disebabkan perempuan-perempuan tersebut tidak pernah keluar rumah, karena lebensraum mereka hanya di sekitaran rumah: mereka adalah kaum perempuan yang tidak keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, seperti menuntut Ilmu dan bekera mencari nafkah, karir dan jabatan. Mereka senantiasa diam di dalam rumah, karena memang kodrat mereka adalah domestik, yaitu diam di rumah untuk menyelesaikan tugas domestik, seperti masak, mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuh anak dsb. Hal ini sudah sesuai nash Alquran dan seluruh ajaran sunnah Nabi Muhammad Saw.

Dengan setting ini (yaitu senantiasa diam di dalam rumah, untuk menyele-saikan tugas domestik), maka hal ini mengakibatkan kaum perempuan menjadi pemalu terhadap pria asing. Dan hal ini sudah sesuai fitrah mereka, yaitu sebagai @mahluk yang pemalu, dan juga sebagai @mahluk yang domestik. Akibat dari setting ini adalah jelas: kasus zina mustahil terjadi, karena setiap perempuan kukuh di dalam rumah masing-masing, pun laki-laki yang tinggal di dalam rumahnya adalah laki-laki keluarganya sendiri. Pun bagaimana mungkin terjadi kasus zina, kalau setiap perempuan adalah pemalu sangat, di mana keluar rumah sebentar saja sehingga bertemu pria asing, serta-merta bangkitlah rasa malu mereka yang luar biasa.

Dengan kata lain, pemalu-nya seorang perempuan tidaklah datang dengan sendirinya, melainkan sebagai akibat dari sistem yang bekerja atas mereka, yaitu domestikalisasi, di mana mereka senantiasa tinggal di dalam rumah secara intens dan berkepanjangan. Dari hal itulah datang rasa malu mereka terhadap pria asing, dan seperti itulah jalan hidup yang ditempuh leluhur mereka, pada jaman pra-industri (jaman Siti Nurbaya).

Malu adalah fitrah kaum perempuan; bukan perempuan namanya kalau tidak menempuh hidup di dalam balutan rasa malu. Namun sungguh pun demikian rasamalu tersebut haruslah dipertahankan, karena fitrah (secara lebih luas) memang harus dipertahankan. Maka cara mempertahankan balutan rasamalu pada perempuan adalah dengan mempertahankan kedomestikan mereka selama hayat.

Dari point ini sudah jelas, bahwa domestikalisasi perempuan adalah mutlak, baik secara logika mau pun secara syariah ….., karena domestikalisasi perempuan adalah satu-satunya cara untuk mendukung dan mempertahankan fitrah kaum perempuan, dan bahwa Emansipasi Wanita harus disingkirkan dari muka bumi, karena modusnya selalu berpijak pada perempuan keluar rumah secara intens dan kontinyu: Emansipasi Wanita berlawanan dengan domestikalisasi perempuan.

Namun sang petaka akhirnya datang juga kepada umat manusia. Gerakan Emansipasi Wanita yang muncul di Barat, telah mengubah cara berfikir umat -khususnya kaum perempuan. Mereka ingin juga mendapat pember-dayaan, yaitu di dalam bentuk menuntut Ilmu setinggi mungkin, dan mendapat pekerjaan untuk beroleh gaji, karir dan jabatan.

Praktis, hal ini membuat perempuan keluar rumah, dan kemudian mau-tidak-mau terpapar pria asing di sektor publik secara intens. Maka hilanglah rasamalu pada psikologi mereka terhadap pria asing di tengah kota, dan berganti menjadi tumbuhlah rasa suka kepada mereka. Akibatnya sungguh mengerikan: marak-lah pacaran, perzinahan, freesex, kumpul-kebo, selingkuh, aborsi, kondomisasi, bangkai bayi di tempat sampah, hamil dan melahirkan di luar nikah, dsb. Pada era Emansipasi Wanita, karena hilangnya rasamalu, alam melihat kaum perempuan berlomba-lomba untuk memacari laki-laki, pamer aurat, berdiang dengan laki-laki (khalwat), gonta-ganti pacar, bahkan berkelahi dengan perempuan lain di tengah pasar untuk rebutan laki-laki. Benar-benar sudah kehilangan rasamalu mereka sebagai perempuan.

Alhadis Nabi Muhammad Saw Mengutuk Emansipasi Wanita01

Pada jaman Emansipasi Wanita, perempuan sudah tidak malu untuk membuang keperawanan mereka kepada sembarang laki-laki, bahkan sudah tidak malu lagi meminta laki-laki untuk menidurinya semalam suntuk. Pada jaman ini, perempuan tidak memberi harga mahal untuk keperawanan mereka, melainkan untuk dinikmati bersama kekasih-kekasih mereka, dan itu pun tanpa sepengetahuan orang-tua.

Alhadis Nabi Muhammad Saw Mengutuk Emansipasi Wanita02

Sudah banyak ditemukan kasus di tengah masyarakat, di mana perempuan-perempuan, karena sudah kehilangan rasamalu, mempunyai anak tanpa diketahui siapa ayah si anak, atau perempuan yang mengandung namun tidak menikah. Banyak ditemukan para istri yang melahirkan kurang sembilan bulan sejak pesta pernikahan, yang berarti sang istri telah melacurkan diri kepada sembarang pria pada saat pra-nikah. Itulah karena hilangnya rasamalu, dan hilangnya rasamalu tersebut adalah efek lurus dari terpaparnya mereka kepada pria asing di tengah kota.

Intinya, keseluruhan hal tersebut bermula dari keluar rumahnya perem-puan secara intens dan kontinyu untuk menuntut ilmu dan bekerja, yang membuat mereka terpapar pria asing di tengah kota sehingga tumbuh dan bangkitlah rasa suka dan nyaman di dekat mereka. Itu adalah awal dan kunci bangkitnya demoralisasi perempuan, sekaligus demoralisasi umat.

Kembali ke Alhadis Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

Aku takut kepada akhir jaman, karena pada masa itu kaum wanita sudah kehilangan rasa malunya”.

Sekarang ini umat memasuki jaman Emansipasi Wanita, jaman ketika kaum perempuan sudah kehilangan rasamalu-nya, dan tidak ada satu kekuatan pun di dalam kehidupan ini yang dapat membuat perempuan kehilangan rasamalu-nya kecuali Emansipasi Wanita, karena faham ini berbasis pada aktivitas perempuan KELUAR RUMAH secara permanen untuk pember-dayaan, –sehingga mereka terpapar pria asing di tengah kota, sehingga terkuburlah rasamalu mereka terhadap pria-pria tersebut, dan digantikan dengan tumbuhlah rasa suka dan nyaman bersama sembarang pria-pria tersebut, efeknya adalah zina diterabas, kumpulkebo diterabas, gonta-ganti pacar diterabas, kondomisasi massal diterabas, larangan khalwat diterabas, larangan pamer aurat diterbas, aborsi diterabas, membunuh bayi jadah diterabas, dsb.

Itulah moment perempuan kehilangan rasamalu mereka sebagai perempuan, malu terhadap kaum pria, malu atas tubuh dan aurat mereka, malu kehilangan kegadisan mereka, dsb.

Ketika Nabi Muhammad Saw bertitah mengenai perempuan kehilangan rasamalunya pada akhir jaman, maka sebenarnya Nabi saw bertitah mengenai gerakan Emansipasi Wanita-nya, karena gerakan tersebut merupakan satu-satunya penyebab perempuan kehilangan rasamalu. Dan ini berarti baik secara eksplisit mau pun implisit, Nabi Muhammad Saw mengutuk Emansipasi Wanita: karena tidak mungkin Emansipasi Wanita tidak menghasilkan generasi perempuan yang kehilangan rasamalunya. Kalau Nabi Muhammad Saw mengutuk akhir jaman karena generasi perempuan kehilangan rasamalunya, maka itu berarti Nabi Muhammad Saw mengutuk perkara yang mengakibatkan hal tersebut, yaitu Emansipasi Wanita.

  • Nabi Muhammad Saw mengutuk akhir jaman karena pada akhir jaman generasi perempuan kehilangan rasamalunya.
  • Pada akhir jaman terdapat gerakan Emansipasi Wanita.
  • Gerakan Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya gerakan yang membuat generasi perempuan kehilangan rasamalunya.
  • Nabi Muhammad Saw mengutuk Emansipasi Wanita.

Ketika Nabi Muhammad Saw menitahkan Alhadis tersebut, tidak mungkin maknanya adalah langsung ke perempuan, karena apa pun yang terjadi pada perempuan, sejatinya itu hanyalah efek dari suatu perkara. Maka perkara tersebutlah yang sebenarnya dimaksud oleh Nabi Saw, lain tidak. Dan perkara itu di sini jelaslah Emansipasi Wanita, karena tidak ada satu kekuatan pun di dalam kehidupan ini yang dapat membuat perempuan kehilangan rasamalunya kecuali …..

  • Emansipasi Wanita;
  • mengeluarkan perempuan secara permanen dari rumah sehingga terpapar pria asing di tengah kota secara intens dan kontinyu.

Paripurna pesan di dalam Alquran bahwa tempat perempuan hanyalah di dalam rumah: Al Ahzab 33, dan banyak ayat lainnya maupun Alhadis lainnya, yang keseluruhannya bermakna bahwa tidak ada emansipasi bagi perempuan, karena jelas kodrat laki-laki dan jelas kodrat perempuan: jelas fitrah laki-laki dan jelas fitrah perempuan. Oleh karena itu, kalau Nabi Saw telah mengutuk Emansipasi Wanita melalui Alhadis-nya yang agung, maka umat kutuklah juga Emansipasi Wanita.

Terdapat keselarasan antara Alhadis Nabi Saw ini yang mengutuk akhir jaman, dengan seluruh pesan di dalam Alquran maupun Alhadis lainnya, yaitu bahwa Islam hanya mengenal perempuan sebagai mahluk domestik, lain tidak. Islam tidak pernah memposisikan perempuan sebagai mahluk publik, untuk menuntut Ilmu sampai setinggi-tingginya, dan bekerja mencari uang, karir dan jabatan, serta memerintah negara, bangsa dan kaum lelaki di tengah kota.

Penutup.

Nabi Saw di dalam Alhadis telah mengutuk Emansipasi Wanita, karena jelas gerakan ini tidak mempunyai tempat pada semua ayat Alquran maupun Alhadis. Gerakan ini telah mengakibatkan bencana hilangnya rasamalu pada psikologi perempuan, yang begitu fatal akibatnya, yaitu maraknya pacaran, zina, freesex, kumpulkebo, selingkuh, hamil di luar nikah, anak jadah, aborsi, bangkai bayi di  tempat sampah, pamer aurat, khalwat, pembenaran pacaran, gontaganti pacar, marak perceraian, dsb.

Melalui Alhadisnya, Muhammad Saw telah mengutuk Emansipasi Wanita. Maka bagi umat hal tersebut merupakan perintah utama untuk tumpas Emansipasi Wanita, karena selain merupakan perintah agama, Emansipasi Wanita jelas juga mencetuskan bencana paling mengerikan di muka bumi, yaitu hilangnya rasamalu pada psikologi perempuan, yang hal tersebut dengan sendirinya merupakan awal dari berbagai bencana moral.

Emansipasi Wanita tidak mempunyai pembenaran dari Islam, juga tidak mempunyai pembenaran dari segi logika. Cukup Alhadis tersebut dijadikan kunci untuk memulai penumpasan Emansipasi Wanita, demi mengem-balikan kesucian generasi perempuan, dan kesucian umat secara keseluruhan.

Wallahu a’lam bishawab.

Kebebasan Dan Pemberdayaan Perempuan Serta Maknanya

bici-freedom

Revolusi Industri yang pecah di Inggris pada salah satu aspeknya melahirkan gerakan Emansipasi Wanita, karena pada masa itu industri butuh banyak pekerja sehingga perempuan dan anak-anak ikut tersedot ke dalam arus produksi. Namun di lain pihak ternyata para pemodal tidak memberi pekerja perempuan upah yang sama dengan laki-laki, karena para pemodal menganggap perempuan adalah mahluk lemah dan banyak kekurangan. Akibatnya pekerja perempuan menuntut perlakuan yang sama dengan pekerja pria, sama di dalam hal upah, dan sama di dalam hal menentukan kebijakan. Maka lahirlah apa yang disebut Emansipasi Wanita.

Singkat kata, Emansipasi Wanita membuat banyak kaum perempuan menjadi berduit banyak, punya uang sendiri, dan juga mempunyai pekerjaan sendiri, karir sendiri. Pun, emansipasi membuat perempuan mendapat akses setinggi-tingginya kepada pendidikan formal.

Itulah jaman yang membuat perempuan terbebas dari bayang-bayang patriarkhat yang selama ini dirasa membatasi kaum perempuan. Banyak tradisi di muka bumi ini yang secara zahir benar-benar mengekang (kebebasan) kaum perempuan. Dan pengekangan tersebut, sekilas di-sponsori oleh kaum pria dan ajaran agama, agama mana pun. Jalan keluarnya adalah Emansipasi Wanita, dan Emansipasi Wanita menjadi satu-satunya juru selamat bagi kaum perempuan itu sendiri untuk terbebas dari kungkungan dan kecurangan kaum pria yang dilegitimasi oleh agama (begitu pandangan mereka).

  • Dengan Emansipasi Wanita, maka kaum perempuan bebas untuk keluar rumah, karena untuk pemberdayaan kaum perempuan memang harus senantiasa keluar rumah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan dilarang keluar rumah, melainkan kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas berpacaran dengan pria mana pun yang mereka sukai, karena eksis di luar rumah secara berketerusan pasti berefek pada munculnya rasa suka kepada pria-pria di tengah kota. Dan pacaran ini pastilah berefek pada hubungan sex bebas mau pun perzinahan yang terkadang berujung pada hamil di luar nikah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, membuat mereka menjadi segan terhadap pria-pria di luar rumah, dan situasi tersebut menjamin kesucian setiap perempuan, dan dengan sendirinya menjamin kesucian kaum pria juga pada akhirnya.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk bergaya busana yang vulgar dan liberal, karena mereka merupakan individu-individu yang mempunyai uang sendiri, sehingga mereka bebas dan dapat mengenakan apa saja yang mereka inginkan: agama dan petuah leluhur tidak lagi mempunyai tuah untuk mendikte apa yang harus mereka kenakan. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat yang membuat kaum perempuan selalu diam di rumah -sehingga mereka tidak mempunyai penghasilan dan karir sendiri, membuat seluruh perempuan manut dan taat kepada titah agama mengenai cara berbusana.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk menceraikan suami mereka kapan saja mereka merasakan ketidakcocokan dengan sang suami. Dikarenakan mempunyai karir dan uang sendiri, mereka merasa perceraian bukanlah bencana yang mahadahsyat. Terlebih, dengan diberda-yakan sehingga mempunyai uang sendiri berkat Emansipasi Wanita, kaum perempuan menjadi mempunyai kartu truf terhadap sang suami. Bila sang suami tidak manut kepada orientasi berfikir sang istri, maka sang istri melihat perceraian lebih menggembirakan, karena toh mereka dapat hidup sendiri tanpa keuangan sang suami. Dan kalau sang suami tidak ingin perceraian, maka suami harus mengiyakan seluruh orientasi sang istri. Itulah yang dinamakan ketidakcocokan di dalam rumahtangga yang mereka jadikan alasan untuk menggugat cerai suami-suami mereka. Dengan kartu truf ini, maka tidak ada lagi istilah “benar salah harus patuh kepada suami” bagi kaum perempuan yang diberdayakan. Justru kebalikannya: benar-salah terserah keridhaan sang istri, atau suami siap dicerai kapan saja. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan tidak (boleh) diberdayakan sehingga seluruh penghidupan dan nafkah mereka seutuhnya tergantung suami dan ayah, hal mana membuat perempuan manut dan patuh kepada suami, dan benar –salah suami tetap harus dihormati, karena patuh kepada suami adalah di atas segala-galanya. Efeknya jelas: tidak ada marak gugat cerai yang diajukan pihak istri melawan suami-suami mereka, melainkan kepatuhan kepada suami dan keharmonisan rumahtangga untuk mengawal dan membesarkan anak-anak.

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan tidak diracuni oleh …

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat,
  6. bangkai bayi di tempat sampah,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. kondomisasi,
  14. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  15. Pelacur prostitusi,
  16. Pengantin perempuan mengandung bayi di perutnya,
  17. Maha / siswi kehilangan kegadisan,
  18. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  19. Perempuan perebut suami orang,
  20. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  21. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, tidak pandai membesarkan anak dsb,
  22. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  23. anak-anak jadah,
  24. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  25. anak-anak brokenhome,
  26. single parent,
  27. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  28. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  29. kawin lari,
  30. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada angka kriminalitas, dsb.

Buah simalakama.

Emansipasi Wanita ber-efek pada daftar racun kehidupan yang dipaparkan di atas. Memang benar bahwa dengan Emansipasi Wanita, kaum perempuan menikmati kebebasan individual mereka, khususnya terhadap kaum pria, dominasi agama, dan kungkungan tradisi leluhur. Kaum perempuan bebas sebebas-bebasnya untuk berbuat apa saja yang mereka inginkan. Bahkan mereka bebas melaporkan suami kepada polisi kalau suami berani meninju wajah mereka, atau bahkan menceraikan suami kalau suami tidak sepaham dengan orientasi berfikir sang istri. Bahkan perempuan bebas untuk menikah atau tidak menikah. Bahkan perempuan bebas untuk menikah dengan pria beda agama, atau menikah dengan pria yang tidak direstui ayahbunda. Kaum perempuan bebas untuk mengenakan busana vulgar sevulgar apapun yang mereka inginkan. Bahkan perempuan bebas untuk pulang larut malam selarut apapun yang mereka inginkan. Bahkan lebih dari apapun, perempuan bebas untuk selingkuh dengan pria manapun yang mereka inginkan, orang lain tidak boleh ikut campur urusan pribadi, bahkan orang-tua pun harus bungkam saja, karena ini semua adalah kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita.

Namun ingat, Emansipasi Wanita ber-efek pada racun kehidupan ini, dan itu sudah menjadi fakta. Justru, kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita adalah daftar racun kehidupan itu sendiri.

Kebalikannya, kalau umat manusia ingin kehidupan ini tidak diracuni oleh daftar racun tersebut, maka tumpaslah Emansipasi Wanita, dan tumpaslah gelagat di mana perempuan diberi kebebasan untuk pemberdayaan (baik berupa akses pendidikan setinggi-tingginya, dan juga akses kepada pekerjaan, karir dan jabatan). Kalau umat ingin kehidupan ini murni, agung dan suci, maka satu-satunya solusi adalah tumpas Emansipasi Wanita.

Anti Emansipasi Wanita, memang pahit untuk kaum perempuan. Tradisi patriarkhat memang memberi kungkungan kepada kaum perempuan, sehingga perempuan lebih tepat dikatakan mahluk kelas dua di tengah masyarakat. Namun, begitu Emansipasi Wanita digelar di muka bumi (sehingga melawan tradisi patriarkhat), maka daftar racun kehidupan langsung pecah di mana-mana.

Singkat kata, apakah makna yang diberikan oleh Emansipasi Wanita? Maknanya adalah, bahwa Emansipasi Wanita memberi daftar racun kehidupan kepada seluruh umat manusia. Setiap kata Emansipasi Wanita disebutkan, setiap kata Emansipasi Wanita diperdengarkan, maka kata tersebut praktis terhubung dengan daftar racun kehidupan. Lain tidak. Tidak ada arti dan makna lain bagi Emansipasi Wanita, selain daftar racun kehidupan yang menyengsarakan seluruh umat.

Kata kuncinya adalah, tumpaslah Emansipasi Wanita sampai ke akar-akarnya. Ingatlah, sepanjang umur dunia ini, tidak ada satu pun ibu dan ayah, yang ingin anak-anak perempuan mereka hancur lebur di dalam perbuatan-perbuatan keji seperti yang termaktub di dalam daftar racun kehidupan. Tidak ada satu pun keluarga yang ingin kehilangan kesuciannya lantaran perempuan-nya bebas selingkuh nun jauh di sana. Emansipasi Wanita sedikit pun tidak memberi manfaat, melainkan hanya menumpahkan mudharat di seluruh kampung umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Daftar Panjang Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita

daftarpanjang

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan  penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan di muka bumi tidak diracuni oleh …

Daftar Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita ……

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat, eksebisionisme, ahlul tabarruj, pesolek,
  6. bangkai bayi di tempat sampah, bayi merah di tinggal di terminal bus,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami-suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. perawan tua,
  14. kondomisasi,
  15. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  16. Pelacur prostitusi,
  17. Pengantin perempuan yang mengandung bayi di dalam perutnya,
  18. Banyak maha/siswi yang melepaskan kegadisan mereka kepada pacar.
  19. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  20. Perempuan perebut suami orang,
  21. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  22. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, dsb,
  23. Perempuan yang berani galak dan garang terhadap laki-laki, nantangin laki-laki, namun kalau laki-laki tersebut meladeni untuk kekerasan, sang perem-puan malah panggil sekuriti atau pihak berwajib untuk menghadapi laki-laki tersebut,
  24. Istri korban KDRT suami, lantaran istri selalu melawan dan keras tengkuk terhadap suami, nantangin suami,
  25. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  26. anak-anak jadah,
  27. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  28. anak-anak brokenhome,
  29. single parent,
  30. perempuan yang pantang menikah (lagi), karena egoisme, trauma, arogan, tidak butuh laki-laki karena sudah punya nafkah sendiri,
  31. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  32. perempuan anti kepada tugas dapur dan tugas mengurus cirit anak, anti tugas domestik,
  33. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  34. kawin lari,
  35. terciptanya masyarakat mesum, masyarakat cabul, masyarakat yang menganggap remeh kasus zina, zina dianggap sudah biasa dan lumrah,
  36. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada tingginya angka kriminalitas, baik secara kuantitatif mau pun kualitatif. Point ini akan menurunkan daftar tersendiri yang lebih panjang lagi mengenai jenis kriminalitas, lantaran laki-laki (terpaksa) menjadi pengangguran, karena lapangan pekerjaan diserobot perempuan.
  37. Dsb. Dan ini pasti akan bertambah panjang lagi di kemudian hari.

Namun kebalikannya, ketika Emansipasi Wanita beranak-pinak di setiap pemerin-tahan dan sistem sosial, maka seluruh kehancuran tersebut akan merebak di mana-mana. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita mempunyai “daftar ikutan” kemana pun Emansipasi Wanita tersebut pergi.

Semua orang dengan entengnya berfikir, bahwa huruhara dan semua racun kehidupan tersebut tetap akan terjadi pada masyarakat yang tidak mengembangkan Emansipasi Wanita. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita tidak ada hubungannya dengan mewabahnya huruhara dan racun kehidupan. Publik berfirasat, bahwa ada atau tidak ada Emansipasi Wanita tidak memberi pengaruh atas terjadinya berbagai huruhara tersebut.

Benarkah demikian?

Pada masa ketika Emansipasi Wanita tidak dikenal suatu masyarakat dan peradaban, publik kala itu tidak mengenal fenomena perempuan yang berani pulang larut malam. Pun publik tidak mengenal istilah pacaran, apalagi profesi pembantu dan babysitter. Kala itu publik tidak mengenal istilah single parent, dan tidak pernah mengenal istilah perempuan nekat nikah beda agama. Utamanya lagi, apakah pada masa pra Emansipasi Wanita, banyak kaum perempuan yang gemar berbusana vulgar dan liberal seperti pada masa industri sekarang ini? Intinya, seluruh perempuan pada masa pra Emansipasi Wanita manut dan setia kepada tugas domestik, dan mereka semua anti pacaran, apalagi berzina dengan kekasih-kekasih pria. Tidak ada perempuan yang terlibat pada  gejala khalwat yang jelas-jelas keji, karena khalwat adalah perbuatan yang menjijikkan dan paling terlarang di dalam agama. Jelas sekali, bahwa pra Emansipasi Wanita sama sekali tidak berparalel dengan seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dimaksud di atas.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa pada masa pra-Emansipasi Wanita, umat menjalani kehidupan yang suci dan murni, dan keseluruhan tersebut berasal dari kaum perempuan-nya yang menjalani kehidupan nan suci dan murni. Terkenang Alhadis Nabi Muhammad Saw, bahwa “perempuan adalah tiang bangsa; kalau perempuan nya baik, maka baiklah suatu bangsa. Dan kalau rusak kaum perempuan nya, maka runtuhlah bangsa tersebut”.

Baik dan tegaknya suatu bangsa, bukan karena kehebatan para pejabatnya, mau pun melimpah pajaknya, melainkan karena murni dan sucinya kaum perempuan, disebabkan mereka menjalani kehidupan yang suci dan murni pula, yaitu Domestikalisasi Perempuan, yaitu perumahkan perempuan, antitesis dari Emansipasi Wanita. Domestikalisasi Perempuan memberi kaum perempuan jalan kehidupan yang suci dan murni, dan pada akhirnya memberi umat jalan Tuhan yang luhur dan Illahiah. Kebalikannya, Emansipasi Wanita memberi kaum perempuan kehidupan yang sial, bejat, mesum dan keras tengkuk untuk melawan agama, kitabsuci, orang-tua, tradisi leluhur, suami, hukum alam, fitrah dan melawan naluri keperempuanan mereka sendiri.

Penutup.

Dengan Domestikalisasi Perempuan, maka MUSTAHIL seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dipaparkan di atas muncul dan menggejala di dalam kehidupan ini. Dan kebalikannya, seluruh racun kehidupan tersebut hanyalah efek lurus dari Emansipasi Wanita. Di lain pihak, Illahi, melalui Rasul-Nya dan kitabsuci-Nya, tidak memberi pilihan lain kepada umat, KECUALI tumpas habis Emansipasi Wanita, dan tegakkan kembali Domestikalisasi Perempuan, tegakkan kembali tradisi patriarkhat yang agung, karena hanya dengan demikianlah, seluruh huruhara dan racun kehidupan jauh terpendam di dalam tanah, jauh dari perkampungan umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.